Chapter Text
Sunghoon melangkah melewati gerbang besi tempa pada hari pertamanya di Royal Academy. Sepatu botnya berderak di jalan setapak berkerikil, jantungnya berdetak kencang di balik seragam merahnya. Rambutnya yang hitam jatuh ke matanya, sangat kontras dengan kulitnya yang pucat. Memiliki pheromone beraroma pohon pinus dan rumput basah, pangeran bungsu Kerajaan Solara itu adalah alpha dengan wajah sangat tampan serta sifat keras kepala dan pantang menyerah. Dia membetulkan pedang di pinggangnya dan menegakkan bahunya, bertekad untuk membuktikan bahwa dia memang layak.
Royal Academy membentang di dataran tinggi yang hijau, puncak-puncaknya menjulang tinggi seperti gigi-gigi tajam binatang buas. Terletak di wilayah netral, ini merupakan tempat para pewaris dan bangsawan dari banyak kerajaan mengasah keterampilan mereka dalam strategi perang, diplomasi, seni pedang, bela diri, hingga politik. Pertemanan dan rivalitas antar kerajaan sering kali berawal dari akademi ini, begitu pula dengan perjodohan. Karena itulah menjalin koneksi dengan teman-teman yang tepat serta tidak mencari masalah dengan orang yang salah dianggap sangat penting di sini.
Sunghoon mulai tergabung sebagai murid Royal Academy pada usia tujuh belas tahun, lima bulan sebelum ulang tahunnya yang kedelapan belas. Namun alih-alih menjadi murid tahun pertama, ia diterima sebagai murid tahun ketiga dengan persetujuan khusus. Setelah serangkaian tes, dewan akademi sepakat bahwa Sunghoon memiliki kemampuan yang setara dengan murid tahun ketiga dalam wawasan dan bela diri. Dengan demikian, di tahun ajaran baru ini, ia menjadi murid satu angkatan dengan kakaknya, Sungchan, putra mahkota Solara, serta murid-murid tahun ketiga lainnya yang kebanyakan berusia dua puluh tahun seperti kakaknya.
Menjadi yang termuda di antara teman-temannya sedikit membuat Sunghoon khawatir, tapi kehadiran Sungchan, yang berjanji tak akan membiarkan adiknya kesulitan sedikit pun saat belajar di akademi, menenangkannya. Alpha dua puluh tahun itu juga sempat memperingatkan Sunghoon agar berhati-hati dengan Heeseung, alpha sekaligus putra mahkota Kerajaan Lunaris, yang dikenal sebagai rival abadi Sungchan sejak tahun pertama di akademi.
Saat melintasi halaman, Sunghoon melihat Sungchan di dekat air mancur. Tubuhnya yang tinggi tidak sulit untuk dikenali, apalagi dengan seragam merahnya. Menjalani tahun terakhirnya di akademi, alpha dengan pheromone kayu cendana itu tak hanya dikenal lewat wajahnya yang tampan serta sosoknya yang tinggi menjulang tapi juga reputasinya sebagai salah satu murid terbaik di antara teman-teman seangkatannya. Orang-orang tak begitu heran saat mendengar Sunghoon dianggap memiliki kapabilitas untuk langsung bergabung dengan murid tahun ketiga, mengingat kakaknya sendiri adalah salah satu murid terbaik. Saat melihat sang adik, dia melambaikan tangan padanya dengan anggukan singkat.
“Akhirnya kau muncul,” kata Sungchan, suaranya seperti geraman pelan namun terlihat rasa sayang dalam tatapannya. “Kupikir kau tersesat sampai aku hampir menyesal tidak berangkat bersamamu.”
Sunghoon menyeringai, menyilangkan lengannya. “Aku bukan anak kecil lagi. Barang-barangku juga sudah kutaruh di kamar asrama.”
“Kau masih lebih muda dari semua murid tahun ketiga,” balas Sungchan, tatapannya menyapu halaman. “Dan sebagian dari mereka mungkin akan meremehkanmu. Jangan beri mereka sedikit pun kesempatan.”
"Tentu saja tidak ada yang boleh meremehkanku," kata Sunghoon, nadanya tajam. Dia tumbuh dalam bayang-bayang Sungchan. Sebagai adik, sosoknya lebih kecil, lebih kurus, tapi tidak kalah garang. Pangeran bungsu itu menghabiskan waktu bertahun-tahun membuktikan bahwa dia bukan sekadar pangeran yang tidak berguna. "Sebenarnya aku masih tidak percaya mereka menerimaku begitu saja untuk jadi murid tahun ketiga."
Ekspresi Sungchan menjadi gelap, ada sedikit perasaan bangga bercampur khawatir yang melintas di wajahnya. “Sebagian karena ayah yang memaksa. Katanya kau terlalu hebat untuk disia-siakan mempelajari pengetahuan dasar di tahun pertama. Dewan setuju setelah melihat kemampuanmu dan mereka menganggapmu memenuhi syarat, tapi kau tetap harus membuktikannya semester ini. Tidak ada ruang untuk kesalahan.”
Alis Sunghoon terangkat, campuran keterkejutan dan tekad menyelimuti dadanya. “Jadi aku terjebak sekelas denganmu dan si pangeran Lunaris itu.”
Rahang Sungchan mengeras saat nama Heeseung disebutkan. “Ya. Hati-hati di dekatnya. Dia tidak seperti yang lain. Terlalu pendiam tapi sangat politis. Aku tidak percaya padanya.”
“Wow,” gumam Sunghoon sambil merapikan ranselnya. “Pangeran saingan dan kakak yang protektif. Semester ini akan seru.”
Sungchan mendengus, menepuk bahunya dengan cukup kuat hingga membuat Sunghoon meringis. “Kau akan baik-baik saja. Asal jangan mempermalukan Solara, atau aku.”
Sebelum Sunghoon sempat membalas, Sungchan berbalik dan memimpin jalan menuju aula utama, ruangan luas dari batu dan kaca patri tempat para murid berkumpul dalam barisan berjenjang. Sunghoon mengikutinya, indranya menajam saat ia mengamati ruangan. Para alpha mengisi bagian depan, para beta dan omega tersebar di bagian belakang. Udara dipenuhi pheromone yang saling mendominasi. Ia duduk di samping Sungchan di dekat bagian tengah. Posturnya kaku, menyadari tatapan mata yang tertuju padanya.
Profesor yang mengajar mereka hari itu seorang beta kurus yang memberikan pelajaran tentang perjanjian perbatasan, tapi perhatian Sunghoon teralihkan. Ia merasakannya sebelum melihatnya. Aroma yang menembus aroma-aroma lainnya, hangat dan memabukkan seperti cairan manis yang diteteskan ke sesuatu yang lebih gelap, sesuatu yang primitif. Kepalanya menoleh secara naluriah dan di sana, dua baris di depan di sebelah kirinya, duduk Heeseung.
Putra Mahkota Lunaris itu memiliki wajah tampan yang tidak mengintimidasi serta sosok yang tinggi dan ramping, sedikit lebih pendek dari Sungchan dan sedikit lebih tinggi dari Sunghoon. Seragam biru pucatnya tampak bersih, rambut hitamnya disisir ke belakang untuk memperlihatkan wajah yang terlalu lembut untuk ukuran seorang alpha. Meski begitu, ia memiliki kesan tegas dari tulang rahang yang tajam dan kilauan mata cokelatnya. Aroma kayu manis dan praline dari tubuhnya terkesan lembut namun berwibawa yang membuat bulu kuduk Sunghoon berdiri. Heeseung menoleh sedikit seolah merasakan tatapannya, dan pandangan mereka terkunci.
Naluri alpha Sunghoon berkobar. Geraman pelan bergemuruh di dadanya, tapi ia memaksa dirinya kembali fokus pada sang profesor. Ia tidak memerlukan peringatan ulang dari Sungchan untuk mengetahui bahwa Heeseung harus dijauhi—bukan karena dia ancaman yang nyata tapi karena cara kehadirannya menarik sesuatu yang dalam di dalam diri Sunghoon, sesuatu yang tidak dapat ia sebutkan.
Kelas berlanjut dengan pembacaan pakta-pakta sejarah yang membosankan, tapi pikiran Sunghoon dipenuhi pertanyaan. Kenapa Heeseung menatapnya dengan tatapan penasaran seperti itu? Kenapa aromanya masih tercium seperti benang yang tidak bisa dilepaskannya di tengah banyaknya aroma lain di dalam kelas? Dia mencoret-coret catatan tanpa sadar, penanya menancap di perkamen sampai profesor mengakhiri kelas.
Pelajaran berikutnya adalah latihan di sebuah tempat berupa hamparan tanah dan rumput yang luas dan dikelilingi rak-rak senjata dan dinaungi pohon ek tua. Sunghoon mengikuti Sungchan ke area latihan tempat para murid berpasangan di bawah pengawasan ketat seorang instruktur alpha beruban, seorang veteran yang dipanggil Master Kang oleh murid-murid. Dia baru saja menghunus pedangnya ketika instruktur itu memanggil, "Sunghoon, ke depan."
Sunghoon melangkah maju, mencengkeram gagang pedangnya lebih erat dan menyadari bisikan-bisikan yang bergema di antara kerumunan. Sang instruktur menunjuk ke arah Heeseung, dan alpha itu berdiri di dekatnya, bilah pedangnya sendiri berkilau di bawah sinar matahari. “Cobalah berduel dengan Heeseung. Mari kita lihat apakah kemampuan anak berbakat dari Solara sesuai dengan ekspektasi.”
Mata Sungchan menyipit, tapi dia tidak berkata apa-apa. Ia melangkah mundur untuk melihat. Sunghoon menegakkan bahunya dan menatap Heeseung lagi, kali ini dengan tatapan tajam. “Siap kalau kau siap,” katanya, suaranya tenang meskipun denyut nadinya berpacu.
Heeseung mengangguk, senyum tipis mengembang di bibirnya. “Jangan menahan diri.”
Mereka berputar-putar, halaman menjadi sunyi kecuali bunyi tanah berderak di bawah kaki dan suara dentingan tiang-tiang lainnya dari kejauhan. Sunghoon menyerang lebih dulu dengan serangan cepat yang diarahkannya ke sisi tubuh Heeseung. Tapi Heeseung menangkis dengan anggun, bilahnya beradu dengan bilah Sunghoon. Bentrokan itu memicu adrenalin di pembuluh darah Sunghoon. Gerakannya tajam dan tepat, latihan bertahun-tahun meresap ke dalam setiap ayunan. Heeseung menyamainya, gerakannya tenang tapi didukung oleh kekuatan ayunan pedangnya yang mantap.
Pertarungan terus berlanjut dan napas Sunghoon mulai tersengal-sengal. Otot-ototnya menegang saat ia mendorong lebih keras, bertekad untuk membuktikan dirinya. Aroma Heeseung semakin kuat dan membungkus Sunghoon seperti jaring sehingga membuatnya terhuyung sesaat. Pijakannya tergelincir, dan Heeseung meraih celah itu, melucuti senjatanya dengan jentikan pergelangan tangannya. Pedang Sunghoon jatuh ke tanah dan bilah pedang Heeseung melayang tiga senti dari lehernya.
"Menyerah?" tanya Heeseung, suaranya rendah dan matanya menatap tajam ke arah Sunghoon.
Dada Sunghoon naik turun, amarahnya bergejolak karena panas yang menjalar ke lehernya. "Tidak akan," gerutunya, dan Heeseung menurunkan pedangnya, melangkah mundur sambil mengangguk.
“Lumayan,” kata Heeseung sambil mengulurkan tangan. “Untuk murid ‘tahun pertama’.”
Sunghoon mengabaikan uluran tangan itu, mengambil pedangnya dengan cemberut. “Tidak perlu mengasihaniku.”
"Itu bukan kasihan," jawab Heeseung dengan nada datar. "Itu rasa hormat."
Sunghoon melotot, tapi sebelum dia bisa membalas, Sungchan sudah ada di sampingnya. Kehadirannya seperti dinding di antara mereka. “Minggir,” gerutunya pada Heeseung, aroma tubuhnya tercium protektif. “Dia sudah selesai denganmu.”
Heeseung mengangkat tangannya dan melangkah menjauh, tapi tatapannya tetap tertuju pada Sunghoon. Sungchan mengarahkan Sunghoon ke rak senjata, cengkeramannya kuat. "Sudah kubilang dia itu bermasalah," gumamnya. "Jauhi dia."
“Lebih mudah diucapkan daripada dilakukan,” kata Sunghoon sambil menyeka keringat di dahinya. “Kita berada di kelas yang sama.”
“Kalau begitu tetaplah waspada,” kata Sungchan, suaranya keras. “Dia bukan temanmu.”
Sunghoon tidak membantah, tapi saat mereka berjalan kembali ke asrama, aroma Heeseung melekat padanya seperti teka-teki yang tidak dapat dipecahkan. Royal Academiy adalah medan perang, dan dia baru saja bertemu lawan pertamanya yang sebenarnya, seseorang yang tidak bertarung hanya dengan pedang. Dia belum mengetahuinya, tapi duel tadi adalah awal dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang akan menguji kekuatannya, kemauannya, dan inti dari siapa yang dia pikir adalah dirinya.
Hari itu berakhir dengan makan malam yang tenang di aula, Sunghoon mengunyah makanannya sementara Sungchan menceritakan patroli perbatasan Solara baru-baru ini. Para murid yang lebih tua menatapnya dengan waspada, beberapa dengan rasa ingin tahu, yang lain dengan pandangan tidak suka. Dia mengabaikan mereka, pikirannya memutar ulang serangan Heeseung yang lancar, ketenangannya yang tak tergoyahkan, dan aroma tubuhnya yang mengganggu Sunghoon. Dia tidak memahami kegelisahan yang ditimbulkannya serta bagaimana hal itu membuat naluri alpha-nya bergejolak dan denyut nadinya bertambah cepat.
Kembali ke asramanya, sebuah kamar kosong dengan satu tempat tidur tunggal dan meja yang penuh dengan buku, ia menanggalkan seragamnya dan menjatuhkan diri ke kasur dan menatap langit-langit. Akademi itu adalah tempat pembuktiannya, kesempatan untuk keluar dari bayang-bayang Sungchan dan menuju cahayanya sendiri. Namun kehadiran Heeseung tampak jelas seperti bayangannya sendiri dan Sunghoon tidak dapat menghilangkan perasaan bahwa jalan mereka terjerat dalam cara yang belum dapat ia lihat.
Tidurnya datang perlahan, dan saat ia terbangun, ia tahu satu hal yang pasti: Royal Academy tidak akan mudah ditaklukkan, tidak dengan Heeseung di orbitnya, dan tidak dengan tarikan aneh yang telah mulai mengganggunya ini.
===
Minggu kedua di Royal Academy berlangsung seperti badai yang mengumpulkan kekuatan, perlahan pada awalnya, lalu tanpa henti. Sunghoon menavigasi ritmenya dengan campuran tekad dan perlawanan. Usianya yang lebih muda menjadi arus bawah yang konstan di bawah tatapan dan bisikan teman-temannya. Kelas-kelas lanjutan yang telah ia ikuti adalah ujian berat, setiap sesi pelajaran dan sparring merupakan ujian keberaniannya melawan para murid yang telah memiliki waktu bertahun-tahun untuk mengasah kemampuan mereka. Namun, ia mampu bertahan, pedangnya mantap, pikirannya tajam, membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan padanya tidak salah tempat.
Perpustakaan besar menjadi tempat berlindungnya di antara latihan bertarung dan pelajaran strategi. Rak-raknya yang menjulang tinggi membentang hingga ke langit-langit yang melengkung, kaca patri memancarkan kaleidoskop cahaya di atas meja-meja kayu ek yang usang. Udara terasa kental dengan bau perkamen tua dan sedikit bau tinta, tempat perlindungan di mana Sunghoon dapat bernapas tanpa beban harapan yang menekannya. Dia telah mengklaim meja sudut di dekat jendela yang menghadap ke halaman pelatihan. Buku-bukunya bertebaran mulai dari risalah tentang perang perbatasan, peta wilayah yang diperebutkan, hingga catatan sendiri.
Di sanalah, pada suatu sore yang cerah dengan aroma hujan yang akan turun melalui jendela yang retak, Heeseung menemukannya. Sunghoon merasakannya sebelum ia melihatnya. Aroma hangat campuran antara kayu manis dan praline. Kehadirannya seolah menyelinap di bawah kulitnya seperti bilah pisau yang menembus sutra. Naluri alpha-nya bergejolak, dengungan kesadaran yang pelan menegangkan bahunya saat ia mendongak dari pekerjaannya.
Heeseung berdiri beberapa langkah jauhnya, seragam Lunaris biru pucatnya masih bersih meskipun ada latihan hari itu. Buku bersampul kulit terselip di bawah lengannya. Rambutnya yang gelap sedikit kusut seperti tertiup angin dan matanya yang berwarna cokelat keemasan memancarkan intensitas yang membuat denyut nadi Sunghoon tersendat. Meski hanya untuk sesaat, tapi itu cukup untuk membuatnya kesal.
"Keberatan kalau aku duduk?" tanya Heeseung, suaranya lembut, nyaris terlalu santai untuk meredam ketegangan yang terjadi di antara mereka.
Rahang Sunghoon mengeras, penanya berhenti di tengah kalimat. “Masih banyak meja lain,” katanya, sambil mengangguk ke arah kursi kosong yang tersebar di seluruh perpustakaan. “Pilih salah satu.”
Heeseung tidak bergerak, senyum tipis mengembang di bibirnya. “Yang ini punya pencahayaan terbaik. Dan teman terbaik.”
Mata Sunghoon menyipit, aroma rumput basah dan pohon pinus tubuhnya semakin tajam yang merupakan tanda peringatan. “Aku di sini bukan untuk menemanimu.”
Tak terpengaruh, Heeseung memiringkan kepala dan meletakkan bukunya di atas meja lalu duduk di kursi di seberang Sunghoon dengan anggun. “Terserah kau saja. Tapi kau tetap harus bersamaku.”
Sebelum Sunghoon sempat bereaksi, pintu perpustakaan terbuka dan Profesor Song, seorang beta kurus dengan rambut beruban dan papan klip yang digenggam erat seperti senjata, melangkah masuk. Matanya yang tajam menyapu ruangan, menatap kedua alpha itu dengan pandangan puas. “Sunghoon, Heeseung,” panggilnya, suaranya memecah bisikan para siswa yang berhamburan. “Di sini.”
Sunghoon bertukar pandang waspada dengan Heeseung, yang mengangkat bahu dan berdiri, gerakannya luwes. Sunghoon mengikutinya, sepatu botnya menggesek lantai yang dipoles saat mereka mendekati sang profesor. Suasana berubah, murid lainnya menonton dengan campuran rasa ingin tahu dan geli. Anak baru Solara dan pangeran Lunaris, pasangan yang mustahil.
Profesor Song mengetuk clipboard-nya, nadanya tegas. “Kalian berdua berpasangan untuk proyek ini. Analisis historis Perjanjian Terminus. Penyebab, hasil, implikasi. Akan diserahkan dalam empat minggu. Aku mengharapkan ketepatan dan kerja sama. Ada pertanyaan?”
Perut Sunghoon terasa melilit, protesnya membuncah seperti empedu. “Kenapa harus dengannya?” tanyanya, sambil menoleh ke arah Heeseung. “Saya bisa melakukannya sendiri.”
“Kau lompat kelas, Sunghoon,” kata Profesor Song, tatapannya tak teralihkan. “Kau tidak bisa memilih tugasmu sendiri. Heeseung punya pengalaman. Dia murid tahun ketiga dengan nilai tertinggi dalam diplomasi. Kau belajar darinya, atau kau akan gagal. Pilihlah sendiri.”
Bibir Heeseung berkedut, terlihat seringai yang tidak sepenuhnya disembunyikannya. Tangan Sunghoon mengepal di sisi tubuhnya. "Baiklah," gumamnya, ia lalu menoleh ke Heeseung dan berkata dengan suara pelan, "Tapi jangan harap aku akan bersikap baik."
"Tidak akan," kata Heeseung, suaranya rendah, hampir menggoda. Sunghoon melempar tatapan tajam yang bisa membakar perkamen di atas meja.
Profesor Song meninggalkan mereka lalu beralih ke pasangan murid berikutnya. Sunghoon bergegas kembali ke tempat duduknya, Heeseung mengikuti di belakangnya seperti bayangan yang tak bisa ia hindari. Ia menjatuhkan diri ke kursinya, menyingkirkan buku-bukunya ke samping untuk memberi ruang.
Heeseung duduk di hadapannya lagi, membuka buku besarnya yang berisi catatan rinci tentang Perjanjian Terminus, halaman-halamannya menguning karena usia. “Kita harus mulai dengan pertikaian perbatasan,” katanya, nadanya datar. “Di situlah ketegangan dimulai.”
"Aku tahu itu," gerutu Sunghoon, sambil membuka bukunya sendiri, sebuah catatan yang berpusat pada Solara tentang perjanjian yang sama. "Klan Lunaris melanggar rute perdagangan dan memicu pertikaian pertama. Orang-orangmu adalah agresornya."
Alis Heeseung terangkat, sekilas rasa geli terlihat di matanya. “Itu salah satu versi. Versi kami mengatakan tarif Solara mencekik pedagang kami, memaksa kami untuk melawan. Sejarah jarang sekali akurat.”
“Sejarah ditulis oleh pemenang,” balas Sunghoon, mencondongkan tubuhnya ke depan. Aroma tubuhnya penuh tantangan. “Dan Solara yang memegang kendali.”
Heeseung membalas tatapannya. tanpa ragu. Aroma kayu manis itu semakin kuat, menyelimuti Sunghoon seperti tanaman merambat yang hangat dan mengganggu, mengaduk sesuatu yang tidak ingin diakuinya. “Mungkin,” kata Heeseung, suaranya melembut. “Tapi kita di sini bukan untuk berperang lagi. Kita di sini untuk membedahnya.”
Mulut Sunghoon terkatup rapat, harga dirinya bertentangan dengan logika tugas itu. Ia benci ini—benci terikat pada Heeseung, benci bagaimana kehadirannya menggerogoti kendalinya. "Baiklah," katanya lagi, kata itu adalah kata menyerah yang berat hati. "Ayo kita selesaikan ini."
Mereka bekerja dalam keheningan yang menegangkan selama satu jam, hanya goresan pena dan gemerisik halaman yang terdengar di antara mereka. Sunghoon fokus pada perspektif Solara seperti tanggal, pertempuran, tokoh-tokoh penting, sementara Heeseung memeriksa catatan-catatan Lunaris. Catatannya sangat teliti, tulisan tangannya mengalir deras yang membuat Sunghoon kesal tanpa alasan yang bisa ia sebutkan. Sesekali, tangan mereka bersentuhan untuk meraih peta yang sama, dan setiap sentuhan mengirimkan sentakan ke seluruh tubuh Sunghoon.
Heeseung juga menyadarinya, meskipun ia menyembunyikannya dengan lebih baik. Aroma Sunghoon segar dan dingin seperti hutan musim dingin setelah badai, tapi dengan arus bawah panas yang menarik sesuatu yang mendasar dalam dirinya. Ia telah mencium jejaknya selama duel mereka, tapi di sini, di ruang sempit perpustakaan, aroma itu tak terelakkan. Itu bukan sekadar aroma seorang alpha, itu adalah aroma Sunghoon, mentah dan kuat, dan itu menggugah naluri Heeseung dengan cara yang tak terduga. Ia menjaga ekspresinya tetap netral, fokusnya pada pekerjaan. Tapi pikirannya mencatat setiap perubahan dalam postur Sunghoon, setiap pancaran pheromone-nya.
Ketegangan mereda saat pintu perpustakaan terbuka lagi, kali ini dua sosok yang dikenal masuk—Jay dan Jake, sepasang alpha dari kerajaan netral yang selama seminggu terakhir cukup dekat dengan Sunghoon. Jay berjalan santai sambil menyeringai, rambut hitamnya menutupi matanya, sementara Jake mengikutinya dengan seringai yang menerangi ruangan. Aroma mereka menembus suasana yang berat, sebuah pengalih perhatian yang menyenangkan.
"Wah, wah," Jay bergumam, bersandar di meja. "Pangeran es sedang bekerja keras."
“Diam,” gerutu Sunghoon tanpa mendongak, meski bibirnya bergerak-gerak karena menahan diri untuk tidak tertawa.
Jake duduk di kursi di samping Heeseung, mengamati catatan mereka. “Proyek perjanjian, ya? Sial sekali harus terjebak dengan tugas ini,” katanya, sambil mengangguk ke arah Heeseung. “Dia orangnya serius dan tidak asyik.”
Senyum Heeseung tipis tapi tulus. “Seseorang harus mengawasi orang-orang seperti kalian.”
Jay mengambil peta dari tumpukan dan memutarnya dengan santai. "Sungchan mencarimu, Sunghoon. Dia bilang akan mengujimu sendiri di halaman besok."
Sunghoon mengerang, mengusap pelipisnya. “Dia lebih parah dari pengasuh anak. Padahal tidak ada yang salah dengan kemampuan bertarungku.”
"Dia kakakmu," kata Jake sambil mengangkat bahu. "Kakakku juga selalu khawatir. Dia dulu mengikat tali sepatu botku sampai aku berusia dua belas tahun."
"Beruntungnya," kata Sunghoon datar, tapi ada rasa sayang di dalamnya. Sikap Sungchan yang terlalu protektif adalah hal yang konstan. Hal itu membuatnya kesal tapi ia juga memahami sang kakak.
Tatapan Jay beralih ke Heeseung, tajam dan penuh penilaian. “Kau diam saja. Apa pendapatmu tentang anak baru ini?”
“Dia bukan anak kecil,” kata Heeseung, suaranya tenang meskipun matanya terus menatap Sunghoon. “Dia bisa bertahan.”
Kepala Sunghoon terangkat, keterkejutannya tampak sekilas sebelum dia menutupinya dengan cemberut. “Aku tidak butuh pujianmu.”
“Itu bukan pujian,” jawab Heeseung sambil bersandar, aroma tubuhnya terus tercium yang membuat kulit Sunghoon merinding.
Jay mendengus, melempar peta itu kembali. “Kalian berdua payah sekali. Ayo, Jake. Biarkan saja mereka berdua tarik ulur.”
"Bukan begitu—" Sunghoon memulai, tapi mereka sudah pergi. Tawa mereka bergema saat pintu ditutup. Dia melotot ke arah Heeseung, yang mengangkat tangannya pura-pura menyerah.
“Jangan lihat aku,” kata Heeseung. “Mereka kan temanmu.”
“Sayangnya,” gerutu Sunghoon, kembali fokus pada catatannya meski konsentrasinya terpecah.
Mereka bekerja selama satu jam berikutnya dan perpustakaan mulai sepi saat senja mulai menyelimuti akademi. Ketegangan di antara mereka mulai mereda, tak terucapkan tetapi nyata. Kejengkelan Sunghoon, keingintahuan Heeseung, cara aroma mereka berbenturan dan bercampur. Ketika mereka akhirnya berkemas, meja dipenuhi kertas dan peta. Sunghoon berdiri, meregangkan otot-otot yang kaku dan mendapati Heeseung sedang menatapnya. Bukan dengan menantang, tapi dengan sesuatu yang lebih lembut, sesuatu yang membuat dadanya sesak.
“Apa?” tanya Sunghoon, suaranya lebih tajam dari yang dimaksudkan.
Heeseung ragu sejenak, lalu berkata, “Aromamu... kuat sekali. Berbeda dari yang lain.”
Sunghoon membeku, harga dirinya sebagai alpha tersentil. “Aromamu juga. Memangnya apa yang salah?”
“Bukan apa-apa,” kata Heeseung sambil berdiri, bukunya ada di bawah lengannya. “Hanya memperhatikan.”
Ia berjalan pergi, meninggalkan Sunghoon yang menatapnya. jantungnya berdebar kencang karena campuran antara marah dan gelisah. Ia tidak tahu apa maksud Heeseung dan ia tidak ingin tahu, tapi aroma kayu manis dan praline itu masih tercium seperti hantu di udara, dan aroma itu mengikutinya kembali ke kamar asramanya seperti bayangan yang tidak dapat ia hindari.
Malam itu, Sunghoon terjaga. Keheningan asrama hanya dipecahkan oleh suara angin yang menderu di kejauhan melalui pepohonan ek. Kata-kata Heeseung tentang aromanya yang kuat dan berbeda seakan menggerogoti dirinya. Dia benci bagaimana kata-kata itu bergema di benaknya, bagaimana kata-kata itu membangkitkan sesuatu yang tidak dapat dia namakan. Peringatan Sungchan terngiang di pikirannya, dan dia memutuskan untuk lebih menjaga jarak dan lebih fokus pada pelajaran-pelajarannya.
Namun, mau tak mau Sunghoon akan sering bertemu Heeseung di luar pelajaran untuk menyelesaikan tugas dari Profesor Song. Saat ia tertidur gelisah, ia bermimpi tentang kayu manis dan pinus, tentang pertikaian yang bukan perkelahian melainkan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tak terelakkan.
