Chapter Text
Puncak musim panas sangat terik menggigit kulitnya yang mulai kemerahan, Harry mengangkat punggung lengannya yang kotor berusaha melap keringat yang menetes di pelipisnya. Tangan-tangan kecilnya yang tidak bersarung berusaha mencabut rumput liar di sekitar pekarangan. Beberapa hari lalu Harry meminta sarung tangan baru untuk berkebun pada Bibi Petunia, karena sarung tangan lama telah rusak dimakan usia. Tapi Bibi Petunia menolaknya dengan mengomel betapa tidak bergunanya dirinya. Harry menahan air matanya yang hampir tumpah ketika bibinya meneriakinya dengan berbagai macam kata kasar. Setelah kejadian itu, Harry tidak lagi merengek untuk meminta sarung tangan baru, mengorbankan tangannya menjadi lecet dengan beberapa tusukan duri dari rumput tajam menyakiti telapak tangannya. Harry sangat, sangat bersyukur dia memiliki penyembuhan diri yang sangat cepat, sehingga dia tidak merasakan sakit setelah bangun tidur keesokan harinya.
Terlalu sibuk dengan pekerjaannya, seekor ular hijau kecil mulai menghampiri Harry, merayap melalui pergelangan tangan kanan dan duduk manis di bahunya. Senyum menghiasi wajah Harry dan menyapa, "Hai, apakah aku merusak sarangmu?" Ular tersebut mendesis, "Tidak Harry. Apa yang kau lakukan? Disini sangat panas." Hewan itu memiringkan kepalanya tampak sangat kebingungan.
Harry membalas dengan desisan, "Bibi Petunia ingin aku mempercantik kebunnya karena sore ini ada tamu yang akan berkunjung. Bibi tidak mengizinkan aku masuk sebelum tamannya terlihat bersih dari rumput liar." Harry sebisa mungkin untuk mengakhiri penjelasannya dengan tersenyum, dia tidak ingin teman kecilnya khawatir. Ular itu menjulurkan lidahnya ingin membalas, tapi suara bibinya mengejutkan Harry, mengakibatkan temannya melompat turun. Temannya sangat paham bahwa Harry akan mendapatkan masalah bila ketahuan bermain bersama ular, bibinya sangat membenci hewan tersebut, dan Harry tidak ingin kehilangan teman satu-satunya.
Setelah melihat teman kecilnya pergi melalui sela-sela pagar, Harry berdiri menghampiri bibi Petunia, "Aku sudah selesai bibi." Wajahnya bibinya mengerut tidak senang, mengibaskan tangannya untuk mengusir Harry yang pakaiannya penuh dengan kotoran tanah. Harry tau dia tidak dibolehkan untuk masuk sebelum tubuhnya bersih. Kaki kecilnya berlari ke arah keran taman dan membukanya, memegang ujung selang untuk di arahkan ke tubuhnya yang masih berbalut pakaian. Persendiannya sedikit lebih rileks dengan sentuhan air dingin. Dia membuka mulutnya karena sangat haus dan meminum langsung air dari selang, kini tubuhnya tampak lebih segar.
Harry cepat-cepat mematikan keran ketika bibinya mengomelinya untuk tidak membuang-buang air. Menunggu 5 menit hingga pakainya sedikit mengering, pergelangan Harry di genggam dengan kuat. Bibinya menyeretnya melewati lorong ruang tamu dan tubuh kecilnya di dorong masuk ke dalam lemari kecil bawah tangga yang dia anggap sebagai kamar tidurnya. Pintu di banting dengan keras, suaranya sangat memekakkan telinga Harry yang berusaha menutup kedua telinga menggunakan tangannya. Suara gembok di pintu luar membuat Harry duduk di kasur kecilnya, lalu mengambil baju kebesaran bekas sepupunya, dengan cekatan mengganti bajunya yang masih basah dengan pakaian yang lebih nyaman.
Harry hanya bisa duduk menunggu terkurung dalam kesendirian, tidak tahu harus melakukan apa, dia mengambil buku bacaan bergambar yang dia sembunyikan di bawah kasurnya. Harry mengambilnya dari tempat sampah beberapa bulan lalu saat bibinya membuangnya, ada beberapa halaman yang tersobek, namun Harry masih paham dengan isi cerita pada buku tersebut. Dia telah membacanya tiap hari hingga dia hafal alur cerita buku tersebut. Walau Harry tidak pergi sekolah seperti sepupunya, dia beruntung bisa membaca diajari oleh tetangga mereka, Nyonya Arabella Fig.
Tubuhnya berbaring dengan nyaman sambil membaca, tak lama Harry tertidur, bermimpi dirinya berada di taman yang penuh dengan Bunga dan hewan-hewan yang menjadi temannya
Pintu kamarnya di ketuk begitu tidak sabar, di atas, sepupunya Dudley melompat-lompat di tangga, membuat debu berterbangan di ruang kecil tersebut. Mengakibatkan Harry beberapa kali bersin dan terbatuk, lalu mengambil kacamatanya dan membuka pintu. Dia disambut dengan bibi Petunia yang memerah. "Aneh, cepat buat sarapan." Harry berusaha membetulkan kacamatanya yang patah agar tetap menempel di wajahnya. "Baik bibi." Tanpa di suruh dua kali Harry menuju dapur, kakinya berusaha berjinjit mengambil beberapa peralatan masak di lemari.
Tangan-tangannya sibuk memasak ketika dia dikejutkan dengan burung hantu yang bertengger di jendela membawa sebuah surat di paruhnya. Harry melihat bibinya sibuk menyiapkan piring di meja, pamannya membaca koran sehingga menutupi wajahnya, sedangkan Dudley makan dengan lahap Bacon di piringnya. Dengan rasa ingin tau penuh Harry meraih surat tersebut dan mulai membaca, Harry mengedipkan matanya beberapa kali melihat namanya tertera di surat itu. Belum sempat membuka amplop, pamannya menghampirinya dan mengambil surat di genggaman kecilnya. Harry melompat kecil berusaha meraih, dirinya kalah cepat dengan pamannya yang melemparkan surat itu terbakar di kompor yang menyala. Harry meratapi surat miliknya, air mata tidak terbendung menetes menghiasi pipinya. "Cepat buat sarapan nak, aku tidak ingin terlambat berkerja." Buru-buru melap air matanya sedikit kasar, tidak ingin pamannya marah, dengan lesu Harry kembali memasak.
5 menit fokus memasak tiba-tiba rumah berguncang dan ada banyak burung hantu dengan berbagai spesies berada di pekarangan. Terdengar suara ledakan dari arah cerobong asap, surat-surat bertebaran di dalam ruang tamu. Sepupunya memekik ketakutan di pelukan ibunya. Sedangkan pamannya berusaha mengusir burung hantu yang terbang mengelilingi ruang makan. Harry dengan cekatan mengambil 1 amplop yang dia sembunyikan di balik bajunya. Senyuman tersungging di bibir Harry, sangat penasaran dan tidak sabar untuk membaca surat pertama miliknya.
Kembali terkurung di kamarnya yang kecil, Harry menunggu suara gembok yang tekunci dan langkah kaki meninggalkan kamarnya, lalu mengeluarkan surat dari balik bajunya. Harry menelan rotinya hingga habis dan memperhatikan tulisan yang sangat indah tercetak jelas di amplopnya, bertuliskan "Untuk Tn. Harry Potter." Dengan hati-hati jari-jemarinya membuka stempel amplop berlambang logo berwarna merah yang sangat mewah. Harry membuka lipatannya dan mulai membaca dengan pelan.
"Dengan hormat, Tn. Potter,
Kami dengan senang hati memberitahu Anda bahwa Anda telah diterima di Sekolah Sihir Hogwarts. Kami melampirkan daftar buku dan peralatan yang Anda perlukan untuk tahun pertama Anda.
Semester dimulai pada tanggal 1 September. Kami menunggu burung hantu Anda paling lambat tanggal 31 Juli.
Hormat kami,
Minerva McGonagall
Wakil Kepala Sekolah"
Harry perlu membacanya beberapa kali takut-takut dia salah membaca bahwa dia di terima di sebuah sekolah. Sekolah sihir, bukan sekolah biasa seperti sepupunya. Harry tidak percaya bahwa sihir itu nyata, bibi dan pamannya berkali-kali mengatakan tidak ada yang namanya sihir. Tapi setelah membaca surat yang ditujukan kepadanya, membuat Harry yakin bahwa sihir itu nyata. Harry sangat senang akhirnya dia bisa bersekolah, dia ingin berteriak tapi terlalu takut jika bibinya menghampirinya dan merebut suratnya. Air mata menetes kembali untuk kedua kalinya di hari itu, tapi dengan alasan yang sangat berbeda. Hatinya sangat bahagia, dia harus menceritakan ini kepada teman ularnya.
Setelah sekian kali membaca Harry baru menyadari bahwa dia harus segera membalasnya, masih ada tiga hari lagi sebelum tanggal 31 Juli. Tapi dia tidak tahu bagaimana caranya, dan harus menggunakan apa? Dia tidak memiliki alat tulis dan kertas bersih, apakah dia harus meminta pada Ny. Figg? Harry yang bingung hanya bisa duduk untuk menunggu pintunya di buka kembali, dia berharap dia bisa keluar segera.
2 hari telah lewat, Harry tidak memiliki kesempatan untuk bertamu ke rumah Ny. Figg, sehingga dia tidak bisa membalas surat dari sekolah Hogwarts. Harry sedih, apakah dia tidak bisa menghadiri Hogwarts? Dia telah menceritakan semuanya pada teman ularnya, hewan itu ikut sedih mengetahui jika Harry kemungkinan tidak bisa bersekolah. Namun ular itu tidak ingin Harry berlarut-larut dalam kesedihan, Harry sangat menghargai teman kecilnya yang mencoba untuk menenangkannya.
"Hei Greenie, apakah kau sering bertemu dengan manusia yang bisa berbicara ular seperti ku?" Harry bertanya penasaran, ular itu tidak mempunyai nama sebelumnya, Harry lah yang memberi namanya Greenie hanya karna dia berwarna hijau seperti mata indah miliknya. "Tidak, lagipula aku lebih sering kabur daripada tidak ketika bertemu dengan manusia. Mereka sangat menakutkan, aku pernah hampir mati hanya karena lewat di taman mereka." Harry menatap simpati kepada temannya, bagaimana ada manusia yang sangat jahat kepada hewan secantik Greenie.
Dia bertanya-tanya, apakah berbicara bahasa ular termasuk sihir? Apakah banyak penyihir yang bisa berbicara pada ular seperti dia? Sore itu mereka asik mengobrol sebelum suara teriakan bibinya memanggil yang sangat memekakkan telinga.
Harry di bangunkan dengan suara ledakan yang berasal dari pintu depan. Mencoba mengucek matanya dan mengambil kacamata miliknya yang tersimpan di atas meja kecil. Ada suara langkah kaki yang sangat besar dan berat menuju pintu, dibarengi gemerincing gembok pintu kamarnya membuat Harry menunggu. Dia tidak tahu jam berapa sekarang, sepertinya masih terlalu pagi untuk pamannya bangun. Suara gembok terbuka memecahkan keheningan, Harry menyipitkan matanya ketika sinar lampu menghalangi pandangan, menusuk ke retina matanya. Ada sosok tinggi besar menampakkan diri di depan pintu. Harry bergidik takut, tubuhnya mundur untuk menyembunyikan tubuh mungilnya, berusaha menjauh namun dinding sempit menabrak punggungnya. "Hai, Harry jangan takut. Aku Rubeus Hagrid, penjaga sekolah Hogwarts dan utusan dari kepala sekolah, membantumu untuk membeli perlengkapan."
Harry yang masih takut mencoba mencerna perkataan raksasa di depannya, "Sekolah Hogwarts?". Hagrid tersenyum sumringah, "Ya, aku menjemputmu. Oh, aku lupa-" pria besar itu merogoh sakunya untuk mengeluarkan kue bertuliskan Selamat ulang tahun Harry, dengan tulisan sedikit berantakan berwarna hijau, Harry bertanya-tanya bagaimana bisa kue itu tidak hancur jika pria besar itu menyimpannya di saku?
"Selamat ulang tahun, Harry." Harry mengerutkan dahinya dan memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti. "Kau lupa? Hari ini, tanggal 31 Juli adalah hari ulang tahunmu, Harry." Hagrid menjelaskan dengan mengakhirinya dengan tawa bahagia sambil menggaruk jenggotnya. Menerima diamnya Harry, Hagrid yang kali ini mengerutkan keningnya, "Kau tidak suka dengan kuenya, Harry?" Harry menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Aku menyukainya tuan, terimakasih." Harry mencoba berdiri dari kasurnya untuk menerima kue merah tersebut. Dia mencicipi krimnya, sangat manis pikir Harry yang tersenyum senang. Keluarganya tidak pernah memberi tahu kapan tanggal lahirnya, pernah sekali Harry kecil yang masih berusia 6 tahun bertanya pada bibinya. Namun bukan jawaban yang dia dapat tapi tamparan yang membekas merah di pipi tembemnya, membuat Harry trauma dan tidak ingin mengetahui kembali kapan dia di lahirkan.
"Harry, kau bisa memanggilku Hagrid." Hagrid ikut tersenyum menatap Harry yang menyuap dengan lahap kue pemberiannya. "Harry mengangguk kecil, "Terimakasih, Hagrid." Pria besar itu memberi tahunya bahwa kedua orangtuanya adalah seorang penyihir hebat seperti Harry, mereka meninggal karena kutukan dari Pangeran Kegelapan, Dia-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut. Meninggalkan Harry yang masih berumur 1 tahun menjadi Anak-Yang-Bertahan-Hidup membunuh Pangeran Kegelapan entah bagaimana caranya. Harry merenung dalam diam mendengar cerita tentang orangtuanya, sangat berbeda dari penjelasan bibinya yang berkata bahwa orangtuanya yang tidak berguna meninggal karena kecelakaan di bawah pengaruh alkohol. Emosi Harry bercampur satu menjadi marah, sedih, dan bingung karena telah dibohongi.
Langkah kaki menuruni tangga dengan tidak sabar membuat Harry menegang, tak lama paman, bibi dan sepupunya menatap Harry dan Hagrid bergantian. "Dasar anak kurang ajar, apa yang terjadi disini? Pintuku, astaga kau apakan pintuku, aneh?" Pamannya berteriak marah sangat keras. Harry mencoba menghindari dari amukan pamannya bersembunyi di belakang tubuh besar Hagrid.
Hagrid mendengus keras, "Kalian lah kurang ajar menempatkan Harry tidur di bawah sini." Pamannya bergidik melihat Hagrid yang balik membentaknya, matanya menatap jijik pada tongkat yang di arahkan pada keluarganya. "Keluar dari rumahku, orang aneh." Bibinya mencoba bersuara untuk mengusir, tapi Hagrid mengarahkan tongkatnya ke anaknya. Harry mendengar alunan mantra berasal dari Hagrid, tongkatnya bergerak melingkar di udara dan bunyi "pop" dari punggung Dudley muncul sebuah ekor seperti tikus. Dudley yang panik berlarian dengan tangisan, bibinya mencoba menangkapnya untuk menenangkan. Harry ingin tertawa tapi dia tidak berani karena takut pamannya semakin marah. "Tidak, hilangkan buntut sialan itu, orang aneh." Pamannya berteriak.
"Tidak, sebelum kalian berjanji memberikan kamar yang layak untuk Harry, jika tidak aku akan membuat ekor tikus itu permanen di tubuh anakmu." Pamannya menatap tidak senang dengan negosiasi dari Hagrid, muak dengan tangisan anaknya akhirnya dia pasrah menyetujui. Dalam hitungan detik buntut tersebut hilang, namun Dudley masih nangis tersedu-sedu di pelukan ibunya. Hagrid tertawa sangat keras dan menagih janji dari pamannya. Setelah memberikan kamar kedua Dudley, Hagrid menyihir barang-barang Harry melayang untuk dia pindahkan ke kamar baru tersebut. Kamarnya tidak begitu besar namun tetap terlihat lebih nyaman dengan ranjang yang lebih besar dari milik Harry sebelumya. "Terimakasih, Hagrid." Mata Harry berbinar melihat barang-barangnya terbang dan tertata rapi menggunakan sihir Hagrid.
"Setelah ini, kita akan membeli keperluan dan peralatan untuk ke Hogwarts." Hagrid menyerahkan secarik kertas berisi list buku pelajaran, peralatan yang tidak dimengerti Harry, tongkat sihir, jubah dan seragam baru. 10 menit dia selesai beres-beres dan mandi dengan tenang, (Hagrid memberikan ancaman pada bibinya yang awalnya menolak Harry untuk mandi di kamar mandi) Harry memilih baju bekas Dudley yang menurutnya terlihat sangat baik. Siap, Harry dan Hagrid pergi bersama menuju Diagon Alley.
Harry terpana ketika sampai di Diagon Alley, walau masih tergolong pagi toko-toko terlihat sangat ramai pengunjung dengan berbagai usia. Jantung Harry berdetak sangat kencang karena gugup mengekori Hagrid di belakang. "Harry, kita harus ke Gringots Wiazarding Bank sebelum membeli keperluan." Harry mengangguk kepala otomatis tanda mengerti. Setelah memasuki Gringots entah berapa kalinya dia terpana, melihat manusia sangat kecil dari Harry berkerja di Bank tersebut, Hagrid menjelaskan mereka adalah kaum Goblin. Hagrid berbicara pada salah satu Goblin yang memperkenalkan dirinya sebagai Griphook, penjaga bank. Walau Griphook tidak memberikan ekspresi yang berarti, Harry tetap tersenyum ketika dia di sapa dengan Goblin tersebut. "Mari ikuti saya Tn. Potter." Sebelum Harry beranjak pergi, Hagrid memberikan kunci rekening bank milik keluarganya dan pamit undur diri, mengatakan bahwa dia punya urusan penting sebentar dan menyuruh Harry untuk menunggunya setelah selesai. Harry mengangguk tanda mengerti sebagai persetujuan.
Harry hanya mengambil 1 Galleon, 7 Sickle, dan 3 Knut, dia berharap cukup untuk membeli semua keperluan. Harry menyimpan semua uangnya di dompet lusuhnya dan meletakan di kantong celana, sambil berdiri di dekat pintu masuk, menunggu kehadiran Hagrid. Kaki Harry mulai lelah menunggu, dia tidak sadar tubuhnya terlalu condong ke samping, membuatnya terhuyung namun sebuah tangan memeluk untuk menghentikan tubuhnya merosot ke lantai marmer. Dengan reflek Harry hampir mematahkan kacamatanya untuk kesekian kalinya, berhasil menggenggamnya untuk menghindari benturan keras dari lantai. Harry berfikir seharusnya dia menambah sedikit uang untuk membeli kacamata baru.
"Hati-hati dimana kau melangkah, nak." Suara berat pria dewasa menyadarkan Harry dari lamunan, mengerjapkan matanya yang masih linglung di pelukan hangat tubuh seseorang. Wajahnya memerah tanpa dia perintah hingga ke telinganya, sangat malu berusaha berdiri dengan benar dan menundukkan kepalanya tidak berani menatap sosok yang menolong, "M-maaf dan terimakasih, tuan." Merasa tidak sopan Harry mengangkat wajahnya untuk mendapati pria sangat tinggi, tapi tidak setinggi Hagrid, mengenakan jubah hitam dengan rambut pirang panjang yang diikat rendah, sangat kontras dengan pakaian pria tersebut membuat warna rambut indahnya sangat mencolok. Mata hijaunya terus naik hingga dia mendongakan kepalanya agar kontak mata mereka bertemu, abu-abu yang sangat jernih. Ekspresinya tidak terbaca, hanya menatap Harry diam mengakibatkan tubuhnya menggigil, takut membuat marah pria dewasa tersebut.
"Sekali lagi, maaf tuan." Harry kembali meminta maaf, kedua tangan pria dewasa tersebut menggenggam tongkat berkepala ular miliknya dengan tenang. "Lain kali hati-hati." Harry hanya bisa menganggukkan kepalanya terlalu malu untuk bersuara, kedua tangan sibuk meremas ujung kemeja lusuh miliknya karena gugup melanda tubuhnya kembali. Entah kenapa dia sangat takut, dia ingin menangis tapi Harry tidak ingin orang-orang menatap aneh atau mengatai dirinya cengeng. Harry hanya bisa berharap Hagrid cepat datang untuk menolongnya, aura pria di depannya sangat gelap dan mengintimidasi.
"Dimana orang tuamu, nak?" Pria itu bertanya, Harry mendongak dan menjawab dengan terbata-bata, "A-aku pergi bersama Hagrid, tuan. Tetapi Hagrid ada urusan mendesak dan aku sudah menunggu disini, sedikit lebih lama dari perkiraan." Suaranya sangat kecil, dia berharap pria itu mendengarnya. Orang asing itu mengerutkan keningnya tidak senang, Harry bisa mendengar pria itu mencibir pelan. "Makhluk raksasa tidak bertanggung jawab." Ada sedikit nada kemarahan pada kalimat tersebut.
"Siapa namamu, nak?" Pria itu kembali bertanya, Harry mengusap dahinya yang mulai berkeringat dingin mengenakan punggung tangannya. "H-Harry, Harry Potter, tuan." Jawabnya singkat kini meremas pergelangan tangannya dengan gelisah.
"Potter? Harry Potter seperti Anak-yang-Bertahan-Hidup?" Sebuah suara tinggi yang berasal dari samping pria dewasa itu mengejutkan Harry, tidak menyadari bahwa pria itu bersama anak yang mungkin seusia atau lebih tua dari Harry. Harry menatap mencoba menilai, remaja itu lebih tinggi darinya berpakaian gelap dengan rambut pirang di pangkas pendek, wajahnya sangat mirip dengan orang dewasa di sebelahnya, jika Harry bisa menebak, mereka adalah sepasang ayah dan anak.
"Draco!" Pria dewasa menegur remaja di sampingnya, remaja itu berdehem dan menegakkan tubuhnya, memperbaiki postur tubuhnya. "Maafkan atas kelancangan yang disebabkan oleh putraku Tn. Potter. Perkenalkan Lucius Malfoy, Lord dari Keluarga Malfoy. Dan anakku, Draco Malfoy. Senang berjumpa dengan anak yang sangat pemberani seperti anda Tn. Potter." Tangan terarah di depannya dan Harry menerima jabatan tangan tersebut dengan kaku. Perilaku mereka seperti seorang bangsawan yang sangat kaya raya yang pernah Harry lihat ketika bibinya menonton serial kesukaannya di ruang tamu, hanya membuat Harry tergagap dan semakin cemas. "Ti-tidak Tn. Malfoy, a-aku- senang berkenalan denganmu juga, tuan."
Pria itu menganggukkan kepalanya pelan, "Maaf, aku penasaran apa tahun ini tahun pertama anda Tn. Potter?" Harry membalas, "Iya, tuan." Pria itu mengembangkan sedikit senyuman lebih hangat dan bersahabat. "Seusia dengan Draco. Draco, aku harap kau bisa berteman baik dengan Tn. Potter muda." Remaja yang dipanggil Draco menjawab dengan tegas dan senyuman percaya diri. "Tentu saja, ayah."
"Tn. Potter, bagaimana jika ikut bersama kami untuk membeli keperluan sekolah?" Harry hanya menatap tidak percaya dan menundukkan kepalanya, sangat bimbang untuk menerima tawaran tersebut atau menolaknya. Karena dia sudah berjanji pada Hagrid untuk menunggunya disini. "Jika kau khawatir tentang raksasa itu, aku akan memberitahu pada penjaga Bank bahwa kau ikut denganku untuk berbelanja. Bagaimana menurutmu Tn. Potter."
Harry sedikit menilai, sepertinya Tuan Malfoy sangat baik tidak memiliki niat jahat padanya. Tidak ingin memikirkan terlalu lama dan membuat Tuan Malfoy menunggu, Harry menyetujui ajakan tersebut "Draco, temani Tn. Potter muda sebentar, aku akan segera kembali." Pria tersebut mengakhirnya dengan senyuman lembut kepada Harry dan beranjak pergi ke Goblin yang sibuk dengan laporannya.
Merasa canggung ditinggal hanya berdua dengan anak seusia dengannya, Draco memulai percakapan. "Senang bertemu denganmu Harry Potter. Kau bisa memanggilku Draco." Tangan Draco terulur dan Harry menjabatnya, tangan Draco tampak sangat besar dari tangannya, meremasnya dengan lembut membuat Harry menahan malu. "S-Senang bertemu denganmu juga Draco. Kau bisa memanggilku Harry." Draco tersenyum lebih bebas sekarang setelah ayahnya pergi. "Maaf, bolehkah aku melihat... Itu?" Tubuh Draco sedikit condong ke arah Harry, bertanya dengan suara pelan. Harry memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti.
Draco tertawa pelan membuat Harry semakin bingung. "Kau sangat manis. Dan maaf, aku bertanya tentang lukamu. Jika kau memperbolehkannya, aku ingin melihat tanda di dahimu yang sangat legendaris." Harry tanpa sadar mengeluarkan suara rengekan kecil karena malu di puji secara langsung, tangan kecilnya menyingkap poninya yang agak memanjang dan memperlihatkan tanda seperti sambaran petir menghiasi sisi dahinya.
Tanpa aba-aba tangan pucat Draco mengusap dahinya dengan pelan. Membuat Harry memejamkan matanya karena terlalu bingung untuk bereaksi, bukannya dia tidak suka sentuhan tersebut, hanya saja rasanya sangat nyaman dan anehnya hangat. Draco berdehem "Maaf aku- ugh... Aku terlalu penasaran." Lalu menjauhkan tangannya dan memegang lehernya karena malu, merasakan panas menjalar di dalam tubuhnya. Sedangkan Harry membuang wajahnya yang semakin memerah.
Kebetulan Tuan Malfoy datang setelah kejadian Draco mempermalukan dirinya lebih jauh dari hadapan Harry. Tubuhnya kembali tegak dan menggenggam tangan Harry untuk berada di sisi kirinya mendekati ayahnya, sehingga tubuh Harry dihimpit dua Bangsawan Malfoy untuk berkeliling Diagon Alley.
Mereka bertiga telah selesai membeli buku yang dibutuhkan, seragam sekolah, peralatan ramuan dan Harry membeli seekor hewan peliharaan burung hantu berbulu putih salju yang sangat cantik. Dia menamakannya Hedwig, sangat antusias ingin segera memperkenalkan teman barunya pada Greenie. Harry sangat beruntung bertemu keluarga Malfoy, karena Tuan Malfoy membantunya untuk menyihir belanjaannya untuk dibawa lebih ringan.
Sepanjang jalan entah mengapa Draco selalu menggenggam tangan Harry, membuat Tuan Malfoy mengerutkan dahinya tanda tanya. Namun Draco tetap fokus berjalan dengan anggun tidak memperdulikan tatapan ayahnya yang ditujukan kepadanya. Sedangkan tangan kanan Tuan Malfoy sesekali bertengger di bahu atau belakang punggung Harry, dia tidak mengerti mengapa mereka sangat ingin dekat dengannya. Membuat tatapan bertanya-tanya dari para penyihir yang melewati mereka, namun tidak terlalu berani untuk mendekati. Harry berusaha sebisa mungkin untuk berjalan lebih baik tidak ingin mengacaukan ke anggunan keluarga Malfoy.
Toko terakhir yang mereka kunjungi adalah Toko Ollivanders, toko tongkat sihir dimana tempat lahirnya para penyihir legendaris. Mereka disambut dengan pemilik toko yang memperkenalkan dirinya sebagai Garrick Ollivander.
Draco dengan antusias memulai mencoba berbagai tongkat dan berakhir pada tongkat terbuat dari kayu Hawthorn dan memiliki inti yang terbuat dari rambut Unicorn. Dan saat giliran Harry, cukup sulit untuk menemukan tongkat yang cocok untuknya, namun setelah beberapa kali percobaan dan hampir menghancurkan separuh toko Ollivanders, Tuan Ollivander menawarkan sebuah tongkat terbuat dari kayu Holly dan memiliki inti yang terbuat dari bulu Phoenix. Tuan Ollivander menjelaskan bahwa tongkat tersebut memiliki hubungan yang sangat erat dengan tongkat milik Pangeran Kegelapan karena memiliki inti yang sama. Harry menatap dengan takjub ketika tongkat tersebut menerimanya dengan baik, dia terlalu sibuk dengan tongkat tersebut tidak menyadari ekspresi Tuan Malfoy sedikit mengeras menatap tongkat di genggamannya.
Semua keperluan telah di beli, Tuan Malfoy mengajaknya ke sebuah toko pakaian yang sangat mewah. Harry tidak menyangka bahwa Tuan Malfoy mengajaknya ke toko tersebut karena ingin membelikannya sepasang jubah dengan celana panjang untuknya. Awalnya Harry menolak, tapi Tuan Malfoy bersikeras mengatakan bahwa pakaian tersebut untuk hadiah ulang tahun Harry, karena sebelumnya Harry bercerita bahwa Hagrid pagi ini memberikannya sebuah kue ulang tahun. Dengan Draco yang ikut membantu Ayahnya memilihkan pakaian yang sangat mewah dan indah, Harry mau tidak mau menerimanya. Tubuhnya di ukur oleh para designer dan mereka menyuruh Harry untuk mencoba pakaian yang telah selesai mereka jahit. Harry mulai mengenakan kemeja putih gading dengan leher tinggi, dengan mantel berwarna biru Navy yang panjangnya hingga ke lutut, terakhir dengan di padukan celana hitam yang panjang.
Sebelum keluar Harry memeriksa dirinya di cermin, menatap pantulan dirinya dengan terkejut. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa dia akan mengenakan pakaian seperti ini. Dia terlihat tidak buruk, hanya saja rambutnya yang susah di atur mencuat ke berbagai arah, membuat Harry menghela nafas pasrah pada rambutnya. Dengan jantung berdegup lebih cepat dia membuka tirai.
Draco menatap tidak berkedip, sedangkan Tuan Malfoy tersenyum bangga. "Kau tampak sangat baik, Tn. Potter." Pria itu memuji mengakibatkan semburat merah menjalar di pipi Harry. Dengan tenang Tuan Malfoy merapalkan sebuah mantra dengan pelan. Seketika Harry merasakan geli di kulit kepalanya ketika hembusan seperti angin menerpa rambutnya. Draco tersenyum sambil berkomentar, "Hmmm, tidak buruk Harry. Dan sedikit sentuhan." Remaja pirang itu mengambil kacamata Harry tanpa persetujuannya, belum sempat memprotes dia dikejutkan dengan pandangannya menjadi lebih jernih. Tubuh kecil Harry dengan tidak sabar di dorong oleh Draco ke arah cermin besar di belakang mereka, untuk melihat rambutnya yang berantakan telah tersisir rapi depan potongan belah samping, poninya yang agak panjang menutupi dahi berbentuk sambaran petir miliknya. Dan terakhir kacamatanya digantikan dengan kacamata baru yang memiliki model yang hampir sama seperti dia miliki sebelumnya, namun dengan sentuhan ukiran yang lebih teliti dan tampak sangat mewah. Harry merasa sangat berbeda dan... tampan, buru-buru dia berterimakasih pada Tuan Malfoy yang tersenyum bangga.
Tuan Malfoy terakhir membawanya untuk ke restaurant tidak jauh dari Diagon Alley, Harry sedikit canggung memperhatikan kedua Malfoy menggunakan peralatan makan mereka dengan tenang. Harry mencoba menirunya saat ingin memotong daging, melihatnya tidak berhasil Tuan Malfoy berinisiatif membantunya dengan memotong daging hingga 3 bagian. Harry merasa tampak seperti orang bodoh dan tidak bosan-bosannya malu dengan perilakunya. Melihat Harry yang tampak matanya mulai berkaca-kaca, Draco turun tangan mencoba mengajari Harry dengan perhatian dan telaten.
"Maaf, aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya." Harry membuka suara hanya untuk mengatakan maaf untuk kesekian kali di hari itu untuk ditujukan pada mereka. "Aku penasaran, dimana kau tinggal Tn. Potter?" Tuan Malfoy menghentikan makannya, meletakkan peralatan makan dengan anggun agar bisa fokus untuk menatap Harry.
Harry tanpa sadar menggigit bibirnya bimbang ingin menceritakan kehidupannya, Tuan Malfoy dan Draco sangat baik membuat Harry tanpa berfikir panjang menceritakan tempat tinggalnya. "Aku tinggal bersama paman, bibi dan sepupuku. Bibi dari saudara ibuku, dan mereka tidak menyukai sihir." Harry menjelaskan dengan suara yang pelan tampak sangat sedih, sedangkan Tuan Malfoy mencoba mencerna penjelasannya tampak tidak senang. "Kau tinggal bersama para muggle, Harry?" Draco mengerutkan pangkal hidungnya dengan jijik. Tuan Malfoy memperingati putranya, menyuruhnya untuk menjaga ekspresinya lebih baik pada Harry. Sedangkan Harry hanya menatap bingung kedua Malfoy bergantian, "Muggle?"
"Muggle adalah istilah para penyihir gunakan untuk merujuk pada manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan sihir." Tuan Malfoy menjelaskan dengan tenang, "Aku tidak mengerti, bagaimana anak yang memiliki sihir bisa tinggal bersama para muggle? Apa yang dipikirkan kepala sekolah tentang ini?" Tuan Malfoy memijat pelipisnya tampak sangat stress, Harry tidak ingin pria itu stress berlebihan karena mengetahui kehidupannya, Harry berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. "T-tuan, maaf aku kira aku harus pulang. Aku tidak ingin bibi ku marah."
"Tentu saja Tn. Potter mari kita akan mengantarkan mu." Setelah menghabiskan makannya mereka beranjak pergi, Tuan Malfoy mengantarnya sampai depan pintu masuk Diagon Alley. "Sekali lagi terimakasih tuan. Kau sangat banyak membantu ku, dan hadiahnya sangat indah. Aku sangat menyukainya." Harry mendapat anggukan dari Taun Malfoy dan beralih pada Darco, "Dan Draco terimakasih sudah menjadi temanku. Hari ini sangat menyenangkan." Mata hijaunya melebar mendapatkan pelukan hangat dari Draco, tubuhnya yang tegang menjadi rileks detik demi detik. "Senang berteman dengan mu juga Harry Potter, tidak sabar untuk bertemu denganmu lagi. Dan selamat ulang tahun." Harry menundukkan wajahnya yang memerah dari pandangan Draco yang terkekeh sambil menepuk atas kepalanya.
Tuan Malfoy yang menonton adegan tersebut hanya diam menunggu, saat Harry mengangkat wajahnya, mata hijaunya bertemu dengan abu-abu tenang milik Tuan Malfoy. Tangan pria itu terangkat meremas bahu Harry menenangkan. "Tuan, kau bisa memanggilku Harry. Aku sungguh tidak keberatan." Tuan Malfoy berkedip beberapa kali tidak menyangka atas permintaan Harry, dia tersenyum sebagai jawaban, "Tentu Harry, dan selamat ulang tahun." Suara dalam Tuan Malfoy menyebut namanya membuat Harry menggigil. Aneh, namun Harry tidak dapat menyangkal bahwa dia sangat suka Tuan Malfoy memanggil namanya. "Terimakasih, tuan."
Tidak ingin terlalu lama menghentikan kepulangannya, Harry dengan sedikit terburu-buru berlari kecil pergi meninggalkan kedua Malfoy di belakang. Suara Malfoy yang lebih tua terngiang-ngiang di benak Harry hingga dia sampai ke rumah keluarga Dursley. Harry berlari menaiki anak tangga tanpa memperdulikan teriakan bibinya di ruang tamu, mengunci dirinya dari dalam kamar. Barangnya tergeletak di dekat kaki ranjang, lalu dia merebahkan tubuhnya tengkurap. Harry bisa merasakan pipinya semakin panas dan jantungnya berdegup lebih kencang. Dia tidak mengerti mengapa dia merasa seperti ini. Apakah dia terlalu mengagumi Tuan Malfoy? Atau karena dia hanya menginginkan sosok Ayah seperti Tuan Malfoy? Mungkin saja karena hari ini hari istimewa Harry yang untuk pertama kalinya merayakan ulang tahun bersama kenalan barunya? Harry sibuk dengan berbagai pertanyaan di benaknya dan tidak sabar untuk bertemu mereka kembali. Baju pemberian Tuan Malfoy masih dia kenakan hingga dia tertidur lelap malam itu.
Kali ini Harry bermimpi dirinya bersama dua Malfoy tinggal bersama. Hanya mereka bertiga.
