Work Text:
His laugh you'd die for, his laugh you'd die for The kind that colors the sky
Yonghoon tertawa, suara yang selalu bisa membuat Minjae ikut tersenyum. Suaranya menggema di ruangan, ringan seperti angin musim semi. Minjae berpikir, jika tawa itu bisa diabadikan dalam sebuah lagu, mungkin dia akan memutarnya setiap hari. Tawanya ringan, mengalir seperti angin musim semi.
Minjae menghela napas pelan, menyesap kopinya sambil menatap pria di depannya.
"Lo kenapa senyum-senyum?" Yonghoon mengernyit heran, tapi tetap dengan tawa di bibirnya.
Minjae menggeleng, memilih tidak menjawab. "Nggak ada."
Seperti warna senja yang melukis langit, suara itu menghangatkan suasana. Minjae hanya bisa diam, mengamati, berharap dia bisa memiliki keberanian untuk lebih dekat.
Heart intangible, slips away faster than Dandelion fluff in the sunlight
Minjae selalu merasa seperti ini bahwa perasaan yang tumbuh dalam dirinya lebih cepat menghilang daripada bulu bunga dandelion yang ditiup angin.
Dia ingin menggenggamnya, tapi tahu itu percuma. Semakin Minjae mencoba mendekat, semakin ia takut kehilangan apa yang sudah ada.
And he's got swirls of passion in his eyes Uncoverin' the dreams, he dreams at night As much and hard as he tries to hide I can see right through, see right through
Mata Yonghoon selalu berbinar kalau sedang bercerita. Tentang mimpinya, tentang hal-hal kecil yang dia sukai. Minjae mendengarkan, selalu mendengarkan.
"Gue pengen keliling dunia, jae. Lo bayangin deh, jalan-jalan di Paris malem-malem, atau ke Jepang pas musim gugur." Yonghoon bersandar ke kursi, matanya menerawang jauh.
Minjae menatapnya lama, merasa ada sesuatu yang lebih dalam di balik impian-impiannya yang besar. "Kalo lo pergi, lo bakal lupa sama gue nggak?"
Yonghoon tertawa kecil, menggelengkan kepala seakan jawaban itu sudah jelas. "Mana bisa," jawabnya, namun Minjae bisa merasakan ada sesuatu yang tersisa di antara mereka. Suasana itu tetap hening, membiarkan kata-kata yang tak terucapkan tetap menggantung di udara.
Minjae tahu, jauh di dalam hati, Yonghoon ingin lebih dari sekadar teman (atau itu hanya khayalan Minjae). Tapi tetap saja, mereka berdua bertahan dalam batas yang sama.
His voice you'd melt for, he says my name like I'd fade away somehow if he's too loud
"Minjae," panggil Yonghoon dengan suara lebih lembut. Ada sesuatu dalam cara Yonghoon mengucapkan namanya lembut, hati-hati, seakan takut jika ia terlalu keras, Minjae akan menghilang.
"Lo pasti bisa nemuin mimpi lo juga."
Minjae tersenyum kecil. Dia tidak perlu mimpi besar, karena satu-satunya impian yang dia punya saat ini adalah tetap berada di sisi Yonghoon.
What I would give for me to get my feet Back on the ground, head off the clouds
Minjae tahu dia harus berhenti berharap, tapi hatinya tidak bisa bohong. Minjae selalu tersesat dalam pikirannya sendiri. Berandai-andai, membayangkan kemungkinan yang mungkin tak pernah ada—seperti apa rasanya jika mereka lebih dari sekadar teman? seperti apa rasanya kalau Yonghoon juga merasakan hal yang sama?
Dia tahu seharusnya dia kembali ke bumi, berpijak pada kenyataan. Tapi setiap kali berada di dekat Yonghoon, rasanya seperti kepala Minjae terus mengawang, melayang jauh ke angkasa, meninggalkan semua alasan yang membatasi mereka. (Minjae hanya ingin memeluknya, kalian tau?)
I laugh at how we're polar opposites I read him like a book, and he's a clueless little kid
Kata orang- orang, mereka berbeda banget seperti kutub yang berlawanan. Yonghoon cerah dan terbuka, sementara Minjae lebih pendiam dan banyak rahasia.
Namun, Minjae membaca setiap gerakan, setiap tatapan, setiap ekspresi, setiap senyuman seakan Yonghoon adalah buku yang terbuka lebar untuknya.
Minjae tahu lebih banyak tentang Yonghoon daripada yang seharusnya, tapi anehnya, Yonghoon selalu tampak clueless. Seakan dia tidak pernah tahu bahwa Minjae memahami setiap detail tentang dirinya, sementara Minjae sendiri terjebak dalam perasaan yang semakin dalam, tanpa bisa memberitahukan apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya.
Doesn't know that I'd stop time and space Just to make him smile, make him smile
Minjae ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya hanya tertawa kecil.
"Lo kenapa?" Yonghoon bertanya, heran.
"Nggak ada," jawab Minjae lagi, dan kali ini suaranya terdengar lebih pelan.
Yonghoon menatap Minjae, merasa tak bisa memaksakan sesuatu yang belum siap diungkapkan. Namun dalam diam, ia tahu bahkan jika Minjae tak mengucapkannya, dia akan selalu ada di sana, siap menghentikan waktu untuk membuat Minjae tersenyum.
Oh, why can't we for once.. say what we want, say what we feel?
Kenapa mereka selalu menahan diri? Bukankah perasaan itu saling mengalir di antara mereka? Kenapa ada jarak yang tak terucapkan, meski keduanya tahu apa yang ada di hati masing-masing?
— in minjae's mind Kenapa mereka nggak bisa jujur sekali saja? Kenapa Minjae nggak bisa mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan? Dia ga sendiri merasakannya kan?
Dia menggigit bibirnya, menahan kata-kata yang ingin dia ucapkan. Jika saja mereka bisa jujur, jika saja mereka bisa menghapus batasan ini..
Oh, why can't you for once Disregard the world, and run to what you know is real?
— in yonghoon's mind Kenapa ia tidak bergerak? Apa yang akan terjadi jika ia mengungkapkan perasaannya? Apakah Minjae akan merasa sama? Atau justru ia akan kehilangan semuanya? Keraguan itu terus menghantui.
Tapi Yonghoon tetap diam. Mereka tetap berada di tempat yang sama—dua orang yang saling menyukai, tapi terlalu takut untuk mengambil langkah pertama. Seakan dunia di sekitar mereka berhenti berputar, hanya ada mereka berdua yang terjebak dalam kebimbangan yang sama.
Yonghoon menatapnya lama, seakan bisa melihat sesuatu di balik tatapan Minjae, seakan ingin mengatakan sesuatu. Tapi pada akhirnya, lagi dan lagi dia hanya tersenyum, tidak mengatakan apa-apa.
Dan Minjae tahu mereka akan tetap seperti ini.
Take a chance with me, take a chance with me
"Lo tahu... kalau gua selalu ada di sini, kan?" suara Minjae hampir tak terdengar, tapi cukup bagi Yonghoon untuk mendengar.
Yonghoon tidak menoleh, tapi hanya tersenyum kecil. "Iya, gua tahu."
Tapi senyuman itu tak pernah berubah menjadi sesuatu yang lebih. Dan Minjae hanya bisa menghela napas, menyimpan harapan yang tak pernah terucap.
- In the end we only regret the chances we didn't take -
