Work Text:
Di gedung besar yang gelap itu, ada satu ruangan yang masih menyala. Suara hentakan-hentakan kaki juga masih terdengar dengar kerasnya dengan diiringi musik yang sama kencang. Salah satu pemuda di sana berhitung sampai delapan dan mengulangnya terus-terusan.
"Oke, istirahat dulu lima menit!" Seru Junkyu, leader baru mereka. Memerintahkan semua anggota timnya untuk rehat sejenak. Malam ini mereka sedang berlatih untuk beberapa lagu yang akan dibawakan saat konser penggemar mereka di akhir Maret nanti.
Beberapa dari mereka langsung ambruk ke lantai, beberapa lainnya berusaha sekuat tenaga untuk melangkah ke kursi panjang di ujung ruang latihan yang remang-remang. Malam itu tidak ada koreografer, tidak juga dengan manajer-manajer atau produser mereka. Mereka hanya bersepuluh di ruang latihan di dalam gedung besar yang gelap.
Siang hari sebelum ini, produser mereka meminta Asahi untuk mereka berlatih sampai lembur. Alasannya mudah, produser itu belum puas dengan mereka dan dengan seenak jidat meminta mereka lembur di hari yang sama. Asahi hanya tersenyum getir ketika menyampaikan 'pesan spesial' itu ke anggota timnya, yang tentu direspon dengan bermacam-macam oleh mereka. Namun apapun respon mereka, sekarang mereka tetap lembur dan berlatih seperti orang-orang yang gila kerja.
"Bang, udah nggak kuat." Seru Jeongwoo di antara mereka yang saat ini sedang istirahat dalam diam.
"Gue juga, bang." Sahut Jaehyuk yang sedang berbaring.
Junkyu tersenyum getir sebelum ia menjawab, "gue tahu. Tapi ada CCTV di depan, pasti dilihat pulang cepat kalau kita keluar sekarang."
"Sekarang udah jam dua pagi, bang." Seru Doyoung tidak percaya, ia melihat jam pada ponselnya lalu menatap semua anggota timnya dengan horor.
"Satu jam. Gue minta satu jam lagi habis itu kita bebas." Pinta Junkyu lalu mengajak semuanya untuk kembali bangun dan mulai berlatih.
Lagu kembali diputar dan kesepuluh pemuda itu menari dan bernyanyi dengan serius. Mengoreksi yang salah dan membenarkan beberapa detail yang terlewat. Melihat semuanya bekerja keras, ada pemuda manis dengan bahu yang pendek juga memaksa dirinya untuk memberikan seribu persen yang ia punya.
Jihoon menggerakkan badannya dengan lebih semangat, ia menggoyangkan pinggulnya lebih besar, menekan tulang belakangnya lebih dalam sehingga pantatnya yang tembam tampak lebih menonjol. Malam itu, Jihoon terlihat sangat seksi dan kesembilan pemuda lainnya setuju.
Awalnya hanya Junkyu yang tidak bisa memutus tatapan matanya ke badan mungil Jihoon yang bergerak gemulai itu, kemudian bahunya ditepuk oleh Yoshi yang menatapnya licik.
"Gas nggak, malam ini?" Tanya pemuda berdarah Jepang itu dengan seringai, "Bang Hyunsuk udah setuju."
Mendengar itu, Junkyu langsung menatap pemuda pendek yang sedang tersenyum miring ke arahnya, di belakang pemuda itu ada Junghwan dan Haruto yang juga sedang menari sambil tertawa dengan liciknya.
Kenapa mendadak ruang latihan mereka terasa panas?
Di tengah-tengah ruangan, Jihoon masih menari dengan indahnya sampai-sampai tidak sadar kalau ada kesembilan anggota timnya yang sudah siap menerkam dirinya kapan saja. Keringat membanjiri wajah putihnya, memberikan efek kilap di sana. Baju yang dikenakannya hampir seperti transparan karena sudah basah sekali. Pinggang kecil dan dada putihnya sesekali mengintip di balik baju yang tersingkap di tiap geraknya yang heboh.
Junkyu mendadak pusing setengah mati. Ia rasa otak di kepalanya sudah keburu pindah ke kepala yang ada di balik celana dalamnya. Ia langsung mundur dari formasi untuk berpegangan pada dinding kaca di ujung ruangan.
"Junkyu, lo gapapa?" Seru Jihoon dengan khawatir, kemudian menghampiri Junkyu di ujung ruangan.
"Gapapa." Jawabnya pelan, harapnya menatap Jihoon yang khawatir akan melemahkan penisnya yang tegang. Tapi bodoh sekali ia punya pikiran yang seperti itu. Ia malah makin terangsang dan sekarang celananya terasa semakin sesak. Arah tatapnya kini menuju ke belakang pemuda manis di hadapannya, ada Yoshi dan Hyunsuk yang menatapnya galak seakan menginstruksikannya untuk memulai apapun yang ada di kepala mereka.
Junkyu bahkan sudah menangkap Junghwan yang diam-diam mengunci ruang latihan mereka malam itu kemudian berbalik untuk ikut tersenyum seperti orang gila. Ia rasa ia akan ikut gila jika mengikuti otak yang sudah berada di kepala penisnya saat ini.
Namun begitu Haruto melangkahkan kaki panjangnya untuk mendekat ke arah Jihoon, Junkyu kemudian geram sendiri memikirkan rencana diam-diam mereka dilancarkan lebih dulu oleh Haruto dibanding dirinya. Jadi dengan segera ia berdiri tegak dan menarik pinggang kecil milik Jihoon mendekat ke badannya sendiri. Ia mencium bibir Jihoon selayaknya orang yang memang otaknya telah pindah ke kemaluannya sendiri.
Ia mencium Jihoon dengan kasar. Mengulum bibir ranum itu dengan tempo yang berantakan, giginya sesekali bertukar tugas dengan lidahnya untuk mengeksplorasi lawan mainnya. Saat tangan kirinya menahan gerak Jihoon di pinggangnya dengan kuat, tangannya yang lain memegang pipi Jihoon agar pemuda manis itu tidak meronta terlalu buas. Jihoon meronta tapi Junkyu malah mendekapnya makin keras, ciuman kasarnya semakin dalam.
Badannya lelah dan seakan tidak lagi punya kontrol karena semuanya sudah diambil alih oleh nafsu yang ingin membuat Jihoon sebagai tempat pembuangan mani miliknya.
Tapi apa daya kalau Jihoon memang lebih kuat darinya, ia cukup kewalahan menahan Jihoon yang berusaha melepas ciuman kasar Junkyu. Bibir Jihoon sudah digigit kuat-kuat dan pipi kanannya sudah digenggam tapi Junkyu tetap kewalahan. Ketika ia hampir menyerah, Haruto mendekat untuk memberikan kecupan di tengkuk Jihoon yang bebas.
Haruto mengecup dan menjilat tengkuk putih itu dengan sensual. "Bang Jihoon, nyerah aja, sih? Mau dipake rame-rame ngapain ngelawan?"
Junkyu bisa merasakan tubuh Jihoon yang mendadak seperti tidak ada tenaga.
"Wah, begitu denger mau dipake rame-rame langsung nurut gitu, ya?" Ejek Hyunsuk yang kini juga mendekat ke arah tiga orang yang sedang beraksi itu, "udah siap dipake, belum?"
Pemuda tinggi berdarah Jepang itu kemudian memaksa melepaskan baju yang Jihoon kenakan saat itu, yang juga turut membuat Junkyu terpaksa melepas pagutan Junkyu dari bibir Jihoon. Bajunya kemudian dilempar entah ke mana oleh Haruto, kemudian di hadapan Junkyu hanyalah Jihoon yang menatapnya dengan mata sayu yang berbinar dilengkapi bibir merah tua yang telah membengkak ditambah kondisinya yang sudah setengah telanjang. Junkyu seperti tidak pernah merasa tenggelam dalam nafsu ingin bercinta sedalam ini di hidupnya.
Jihoon kemudian ditarik oleh Yoshi untuk kembali diserang di bibirnya dengan penuh nafsu. Haruto masih berkutat pada tengkuk Jihoon sambil sesekali bergerak ke pundak cantik yang putih bersih itu. Sedang tangan Hyunsuk mulai bergerak ke arah puting Jihoon, ia bermain dengan tonjolan berwarna merah muda itu sambil sesekali mencubitnya dengan keras.
"Gausah nangis, sayang. Bukannya suka diperkosa gitu?" seru Hyunsuk ketika melihat ada satu bulir air mata keluar dari pelupuk mata Jihoon.
Melihat semua itu, Junkyu benar-benar sudah gila. Perut dan dadanya seperti bergejolak heboh, tanda adrenalin hadir dalam dirinya. Hatinya senang begitu melihat Jihoon yang seakan tidak punya daya untuk sekadar melawan, nafsunya menjulang tinggi begitu menatap anggota timnya memperhatikan Jihoon yang digerayangi, egonya terpenuhi begitu sadar kalau semua pemuda yang ada di sana ingin turut menggerayangi Jihoon-nya. Miliknya.
Junkyu senang berbagi.
Ia senang ketika ia harus berbagi Jihoon dengan anggota timnya. Ia lebih senang bila nantinya lubang senggama Jihoon dipertontonkan kepada mereka semua. Ia akan bahagia, bahagia karena Jihoon dinikmati oleh semuanya.
Junkyu tidak pernah tenggelam dalam nafsu sedalam ini di hidupnya.
Celana Jihoon sudah dilempar entah kemana, tidak menyisakan satu benang pun di tubuh putihnya. Punggungnya sudah menyentuh lantai, kakinya sudah dilebarkan menyamping dan masing-masing ditahan oleh Junghwan juga Asahi, lalu Jaehyuk sudah berada di lantai dengan wajah yang berada tepat di depan lubang Jihoon. Memakan Jihoon seakan tidak lagi ada hari esok.
Jihoon sudah terlihat sibuk sekali. Penis milik Haruto sudah berada di dalam mulutnya, sedang kedua tangannya masing-masing bermain dengan milik Hyunsuk dan Yoshi. Tidak ada suara darinya, mulutnya sudah terlalu penuh bahkan untuk mengerang dengan lemah. Tidak ada suara dari Jihoon saat itu, hanya ada lagu yang masih terputar dan erangan dari Yoshi, Hyunsuk dan Haruto. Sesekali pemuda lainnya pun turut mengerang karena nafsu melihat Jihoon yang sedang dipakai seperti itu. Junkyu hanya tersenyum puas mendengar semuanya.
"Enak banget sih, lonte ya?" Ejek Haruto di sela-sela erangannya sendiri, tangannya digunakan untuk menahan kepala belakang Jihoon agar tetap tegak supaya kemaluannya mudah masuk ke kerongkongannya. "Udah dilatih ya sama Bang Junkyu supaya gak kena gigi?"
"Mau peju gak, Ji?" Seru Yoshi tidak lama, tangannya yang bebas turut bergerak menstimulasi Jihoon dengan bermain di puting merah mudanya yang sudah menonjol sekali.
"Lonte kayak dia mah gak usah ditanya kali." Balas Hyunsuk, "langsung banjirin aja badannya sama peju. Lonte murah dibayar pake peju juga udah girang."
Kemudian semua pemuda di sana bersamaan tertawa mengejek Jihoon. Tanpa disentuh, mani tiba-tiba keluar dari kemaluan Jihoon tanpa aba-aba. Cairan ejakulasi itu bergenang di perut Jihoon yang tercetak kotak-kotak. Ia terlihat benar-benar binal dan Junkyu hanya bisa tertawa seakan sudah gila.
"Wah tolol juga, diledek lonte malah keluar lo, bang." Seru Jeongwoo.
Haruto menekan kepala Jihoon semakin kuat, ia dapat merasakan penisnya sudah berada di mulut terdalamnya pemuda manis itu. Liur juga turut menetes bersamaan dengan penisnya yang ditarik keluar hanya untuk kembali masuk ke dalam mulut Jihoon. Haruto tahu ia akan keluar jadi ia benar-benar mendorong pinggulnya maju dan menarik kepala pemuda manis itu mendekat. Jihoon tersedak dan itu sebagai waktu yang tepat untuk Haruto memuncratkan maninya di dalam mulut seksi itu.
Kedua tangan Jihoon kemudian sama-sama mencengkeram kemaluan Yoshi dan Hyunsuk saat kejadian itu. Membuat Hyunsuk menggeram lalu mengeluarkan putihnya tepat di dada Jihoon. Di seberangnya, Yoshi hanya tertawa lalu meludahi dada pemuda manis yang sudah banjir mani milik Hyunsuk.
"Tolol, emang tolol ya lonte tuh?" Seru Yoshi kemudian memijat kemaluannya sendiri, lalu mengeluarkan maninya di wajah Jihoon yang seperti sudah hilang sadar.
Mulut Jihoon penuh dengan mani Haruto yang bercampur dengan liurnya, sedang mani Yoshi seakan menutupi seluruh wajahnya. Ditambah mani Hyunsuk di dadanya serta maninya sendiri yang menggenang di perutnya. Jihoon benar-benar seperti tempat pembuangan mani.
Tapi belum selesai. Semua itu belum selesai dan Junkyu semakin bersemangat.
"Bang, gue izin pake ya lonte lo." Teriak Jeongwoo kepada Junkyu. Beberapa saat yang lalu ia mengeluh lelah tapi sekarang ia malah terdengar teramat sangat antusias. Junkyu hanya tertawa, mungkin memang ini bayaran dari kerja kerasnya.
"Pake, pake aja sampe lo puas!"
Mendengar itu Jeongwoo mengusir Haruto, Hyunsuk, Yoshi, Asahi, Junghwan dan Jaehyuk yang mengelilingi Jihoon tadi. Ia berlutut tepat di posisi Jaehyuk sebelum ini, menarik Jihoon dan membalikkan tubuh pemuda manis itu dengan mudahnya. Jeongwoo kemudian menarik pinggul kecil Jihoon ke atas, memaksa Jihoon untuk menungging di hadapannya. Pemuda manis itu menungging dengan lutut, dada dan pipi kanannya sebagai tumpuan.
"Lubangnya udah siap pake nih, makasih ya Bang Jaehyuk." Seru Jeongwoo sesaat sebelum melesak paksa penisnya ke dalam lubang senggama Jihoon yang sedari tadi dipuasi oleh Jaehyuk.
Jihoon kemudian berteriak begitu merasakan penis besar yang memaksa masuk ke dalam dirinya. Ia berteriak kencang sampai air mata ikut turun dari pelupuk matanya. Ia berteriak begitu tapi tidak ada satupun dari pemuda yang ada di sana merasa iba kepadanya.
"Lonte dikasih kontol langsung girang." Ejek Asahi, melihat Jihoon yang kacau seperti itu malah membuat dirinya merasakan kesenangan sendiri, ditambah yang mengacaukan Jihoon adalah Jeongwoo, ia tidak bisa untuk tidak bernafsu melihat adegan indah itu.
Asahi kemudian bermain dengan kelaminnya sendiri, memijat sendiri penisnya yang sudah berdiri tegak sedari tadi hanya karena melihat Jihoon yang kacau. Ia mengurut penisnya naik turun tatkala melihat Jihoon dengan bekas-bekas mani yang sebagian telah mengering di sekujur tubuhnya, ibu jarinya bermain di kepala penisnya untuk menstimulasi cairan maninya sendiri melihat lubang Jihoon dihajar habis-habisan oleh penis Jeongwoo. Asahi mengerang, ia mendesah sendiri akibat masturbasi yang ia lakukan hanya dengan melihat Jihoon seperti jalang yang sedang disetubuhi.
"Langsung teriak gitu, pasti emang doyan kontol deh." Sahut Junghwan menyetujui ejekan Asahi.
Teriakan Jihoon itu kemudian berubah menjadi erangan gila. Pemuda manis itu sekarang sudah mendesah seakan sedang berlomba suara siapa yang paling keras, dirinya atau lagu yang sedari tadi tidak berhenti terputar. Kepalanya pusing sekali, lubangnya terasa penuh. Meskipun pandangannya kabur, ia masih bisa melihat Junkyu yang sedang tersenyum bangga ke arahnya. Astaga, Jihoon rasa ia akan kembali ejakulasi melihat pemudanya bangga dengan dirinya. Ia mendesah seperti saat ini adalah saat terakhir lubang pantatnya diisi penis besar.
"Jeongwoo.. Ah!"
"Oh bisa ngomong ya?" Seru Doyong tiba-tiba, "baru ingat dari tadi diem karena mulutnya disumpal kontol. Ini sumpal lagi aja lah ya?"
Ia tidak menunggu izin dari siapa-siapa, Doyoung mengangkat tubuh Jihoon lalu mengisyaratkan agar pemuda manis itu menopang tubuhnya dengan kedua tangannya sendiri. Sesekali Doyoung menampar pipi Jihoon tiap kali pemuda manis itu goyah.
"Tahan yang benar badannya, Bang Jihoon, kan mau dikasih kontol lagi?" Seru Doyoung pelan tapi tajam. Tangannya menyusuri kepala belakang Jihoon seakan sedang mengelusnya pelan, semuanya terlihat seperti perlakuan lembut darinya sebelum ia menarik rambut yang ada di sana, memaksa Jihoon untuk mendongak ke arahnya.
Doyoung tersenyum senang, matanya berbinar dan dadanya seakan bergejolak. Ia merasa punya kuasa atas Jihoon saat ini, walau ia tahu Jihoon hanya 'dipinjamkan' padanya oleh sang pemilik dengan kuasa penuh, Junkyu.
"Mau emut kontol gak sih? Ayo yang bener dulu posisi badannya. Masa kontol yang nyamperin mulut sampah lo itu, bang?" Bisik Doyoung di depan wajah Jihoon yang ia paksa menghadap ke arahnya. Jihoon sudah terlihat seperti tidak punya akal. Tatapan matanya seakan penuh dengan gairah dan nafsu, nafasnya berderu kencang dan mulutnya tidak bisa mengeluarkan apa-apa selain mendesah hebat akibat hantaman penis Jeongwoo di dalam lubang senggamanya.
Doyoung berlutut dengan satu kakinya, ia mengeluarkan kemaluannya yang sekarang sudah menjulang tinggi di hadapan Jihoon. Dengan sekuat tenaga Jihoon menahan badannya sendiri, berusaha menopang tubuhnya dengan kedua tangannya hanya untuk melahap penis yang ada di depan wajahnya. Semua usaha itu ia lakukan hanya untuk sekadar mengulum penis Doyoung di dalam mulutnya.
Ia sudah gila.
Tapi di antara semua pemuda di sana, Junkyu lah yang paling gila. Ia merasa senang sekali karena miliknya bisa dibagi-bagi ke semua anggota tim kesayangannya. Junkyu merasa bahagia hanya karena ia harus bersabar dulu sebelum menghantam lubang Jihoon miliknya nanti setelah semua sudah dapat giliran.
Pemandangan yang bisa membuat siapa saja teransang. Jihoon tengah menungging tinggi, lubangnya dipenuhi oleh penis Jeongwoo yang sedari tadi melesak masuk hanya untuk kembali ditarik untuk dilesakkan masuk ke dalam, di hadapan Jihoon ada Doyoung yang juga melakukan hal yang sama dengan mulutnya. Semua orang bahkan Jihoon sendiri sudah tidak tahu lagi cairan di wajahnya yang mana yang keringat, yang mana yang air mata dan yang mana yang liur. Satu hal yang pasti, Jihoon masih bersemangat karena ia seperti tidak kelelahan.
Ia hanya sedikit kewalahan menghadapi penis Doyoung yang seakan lebih menuntut daripada sesinya dengan Haruto tadi. Doyoung memang tidak menahan kepalanya, tapi ia menjambaki rambutnya dan menampar pipinya cukup keras. Terus-terusan memberikan distraksi padanya.
"Bang Jihoon, cantik, enak banget lagi mulutnya. Kontol gue bikin lo enak gak?" Tanya Doyoung dengan lembut lalu di detik berikutnya ia kembali menjambak rambut Jihoon dengan kuat-kuat.
"Pasti enak soalnya itu liurnya sampai netes-netes. Gue kasih peju lagi mau ya? Tapi harus ditelen habis, kalau dibuang nanti lo gue hukum, bang." Ucapan Doyoung benar-benar terdengar sangat lembut, Jihoon jadi tidak enak hati untuk menolak kata-kata itu. Jadi ia mempersiapkan diri agar Doyoung bisa melepas maninya di dalam mulutnya.
Doyoung kemudian meraup kedua pipi Jihoon, menahan kepalanya supaya tidak bergerak karena kendali ia pusatkan di pinggulnya sendiri. Maju mundur membuat penisnya keluar masuk mulut Jihoon dengan brutal sebelum akhirnya mengeluarkan putihnya tepat di titik terdalam mulutnya. Memastikan Jihoon menelan semua maninya sebelum mencabut penisnya dari mulut pemuda manis itu.
Jihoon memperlihatkan seisi mulutnya yang tidak bersih-bersih amat itu, tapi ia yakin bahwa Doyoung tahu kalau maninya sudah tidak bersisa. Kepuasan itu tidak berlangsung lama ketika Jeongwoo terus menerjang lubangnya. Mulutnya yang sekarang kembali bebas langsung dialih fungsikan sebagai pendesah yang hebat. Ia kembali berteriak dengan kencang hanya karena penis Jeongwoo berhasil menyentuh titik manis pemuda itu.
"Jeongwoo, gue pengen make dia bareng." Seru Jaehyuk, "gue pikir itu lubang murahan kalo dikasih dua kontol pasti lebih heboh lagi desahnya."
Mendengar ide tolol itu, Jeongwoo hanya bisa tertawa merendahkan. "Gimana Bang Junkyu, boleh gak semisal lontenya kita kontolin bareng-bareng?"
"Kontolin aja, hancurin lubang paling enak itu. Lebarin selebar-lebarnya biar pas nanti gue pake udah lower." Balas Junkyu, "gue doyan kok lubang lonte bekas pake."
Jaehyuk ikut tertawa mendengar pemilik Jihoon malah mengizinkannya memberikan double penetration kepada Jihoon secara cuma-cuma. Gila, Junkyu mungkin ternyata benar adalah seorang pemuda yang dermawan. Jadi ia lekas bergerak mendekat, kemudian membaringkan tubuhnya sendiri di lantai setelah mengusir Doyoung dari sana. Ia berbaring dengan punggung sebagai alasnya, sengaja membiarkan penisnya yang tegak kini terlihat menjulang ke atas.
"Ayo lonte sini cepet, jemput kontol gue." Seru Jaehyuk.
Jeongwoo melepas penisnya dari lubang Jihoon, kemudian ia menuntun Jihoon agar segera menghampiri tubuh Jaehyuk yang berada di bawahnya, menuntun lubang Jihoon agar tepat berada di atas penis milik Jaehyuk. Dalam satu hentakan, Jeongwoo mendorong pinggul pemuda manis itu ke bawah dan dengan sempurna lubang Jihoon langsung menelan kemaluan Jaehyuk. Ia hanya tertawa begitu keduanya bersamaan mengerang.
"Gimana, bang, enak gak lubang lontenya?"
Jaehyuk menggeram, "gila ini sih. Lubang apaan, kok bisa enak banget. Sini cepetan ikut masuk. Kayaknya lonte ini udah gak sabar pengen dapet dua kontol barengan."
Ia segera membawa Jihoon ke dalam pelukannya, memposisikan pantat pemuda manis itu agar menungging sehingga lubang senggamanya yang telah berisi penis miliknya semakin mudah dilihat. Harusnya semua itu sudah cukup untuk memudahkan Jeongwoo memasukkan penisnya ke sana.
Kemudian Jeongwoo seperti tidak berpikir panjang karena langsung memaksa penisnya masuk ke dalam lubang surgawi milik Jihoon. Jeongwoo malah mengerang nikmat ketika kemaluannya itu berhasil masuk setengah, berhimpit dengan penis Jaehyuk yang sudah lebih dulu berada di sana. Ia berpegangan ke pinggul Jihoon dengan kuat, sebelum kemudian dengan pelan-pelan mencicil penisnya masuk sampai seluruh kemaluannya itu hilang ditelan oleh Jihoon.
"Ah! Sakit tapi enak banget!" Teriak Jihoon dengan terbata-bata. Ia seakan tidak sanggup berkata karena desah dan teriakan yang lebih dominan keluar dari bibirnya. Lubangnya terasa penuh, perih, tapi memberikan sinyal kenikmatan maksimal ke otaknya. Ia terus-terusan berteriak dan hanya bercerocos tidak jelas.
"Enak banget, hm?" Bisik Jaehyuk di dekat telinganya, "penuh ya lubangnya sama dua kontol?"
Jihoon menarik kepalanya sendiri ke atas, menghirup udara banyak-banyak sebelum menjawab di sela-sela desahannya sendiri. "Enak banget, dimasukin dua kontol enak banget. Penuh, ah! Penuhin gue pake peju, please!"
Jeongwoo dan Jaehyuk menarik penis mereka bersamaan, kemudian menghujamkan kembali ke dalam Jihoon dengan ritme yang beriringan. Penis mereka bergesekan di dalam lubang yang terasa sempit dan hangat itu. Seluruh batang kemaluan mereka seperti sedang dicengkram oleh rektum Jihoon kuat-kuat. Jeongwoo merasa seperti sedang berada di langit ketujuh.
Pemuda berdarah Jepang yang sedari tadi bermain dengan kemaluannya sendiri kemudian melangkah mendekati tiga orang yang sedang bersenggama bersama-sama itu. Asahi masih mengocok penisnya sendiri karena nafsu melihat kedua sahabatnya, Jeongwoo dan Jaehyuk, malah menggerayangi Jihoon bersamaan.
"Bang, gue udah mau keluar." Geram Jeongwoo, kesepuluh kuku jemarinya seperti ditancapkan ke pinggang Jihoon yang mungil. Berpegangan kuat-kuat karena ritme gerakan pinggulnya sudah berantakan.
"Bareng ayo." Seru Jaehyuk di bawah sana, ia lalu menancapkan penisnya lebih dalam di lubang Jihoon. Membuat sang empu hanya bisa berteriak penuh kenikmatan.
Jeongwoo kemudian menarik penisnya lebih dulu sebelum menembakkan cairan ejakulasinya ke punggung Jihoon yang putih bersih. Membanjiri lengkungan di pinggul si pemuda manis dengan air mani tanda puasnya. Sedangkan Jaehyuk mengeluarkan putihnya di dalam lubang terdalamnya Jihoon. Penisnya berkedut nikmat ditambah dengan rektum Jihoon yang menyelimuti seluruh batang kemaluannya.
"Ah! Hangat banget di pantat gue, diisi peju lo, enak banget, gila." Jihoon berteriak seakan ia gila. Memuji Jaehyuk yang baru saja memenuhi hasrat juga lubang senggamanya dengan cairan kotornya. Begitu Jaehyuk mencabut penisnya, Jihoon tahu kalau air mani itu seakan berebut keluar dari lubangnya sendiri, cairan putih itu menetes seperti keran air yang bocor. Ia tahu kalau kesembilan pasang mata yang ada di sana sudah fokus melihat penampakan lubang Jihoon yang terlihat lengket penuh mani.
Asahi bergerak menghampirinya, menunjukkan penisnya yang sudah merah tanda akan segera ejakulasi. Jihoon dengan senang hati membuka mulutnya lebar-lebar di bawah kemaluan pemuda berdarah Jepang yang sedang dipijatnya sendiri itu. Mata pemuda manis itu berbinar ke arah Asahi, seakan memang meminta mani untuk ditelannya lagi. Tentu saja Asahi tidak tinggal diam, dengan segera ia mengocok penisnya supaya lekas memberikan sesuatu yang memang diminta oleh Jihoon.
"Bang, gue boleh entot Bang Jihoon di depan kaca?"
Junkyu yang sedang asyik menonton Jihoon berlutut meminta dibanjiri mani langsung menengok ke arah sumber suara. Junghwan berdiri di dekatnya dengan senyum yang sulit ia artikan, alisnya naik sebelah karena menunggu Junkyu memberikan respon. Pemuda jangkung itu tertawa. Perutnya mendadak geli setiap kali semua anggota timnya meminta izin untuk bermain dengan Jihoon dan lubangnya yang fantastis. Ia merasa sangat bangga, Junkyu merasa sangat superior dan ego gilanya seakan dipenuhi hanya karena ia tahu miliknya ternyata bisa memuaskan semua orang.
"Silakan, pake aja dia itu. Sedikit tips, kalau main di depan kaca dia suka banget dientot dari belakang sambil berdiri." Serunya pada Junghwan.
Si pemuda bontot itu tersenyum miring ketika dapat izin, lebih-lebih diberikan tips oleh pemilik Jihoon. "Oke, makasih, bang. Gue pake dia sampe lubangnya kelonggaran pas lo mau entot nanti."
Pemuda jangkung itu kembali tertawa, "iya. Please bikin lubang dia longgar. Tuh Asahi udah keluar, langsung geret aja Jihoon ke depan kaca. Siap entot lagi itu dia."
Kembali ke Jihoon, mulut dan wajahnya sudah penuh oleh mani Asahi yang tadi ditembakkan ke arahnya. Jihoon menjilat semua sudut bibirnya kali-kali ada mani yang tertinggal di sana. Sekarang tubuhnya sudah penuh cairan putih yang di beberapa bagian bahkan sudah mengering. Mani Haruto, mani Hyunsuk di dadanya, mani Yoshi, mani Doyoung, mani Jeongwoo di belakang pinggulnya, sisa mani Jaehyuk di lubang pantatnya dan mani Asahi. Tentu saja ia tidak lupakan maninya sendiri yang sudah kering di perutnya. Ia memang gila, tapi ia tidak lupakan mani siapa yang belum membanjiri tubuhnya itu. Kemudian kepalanya sibuk mencari-cari Junkyu, yang kebetulan berdiri di dekat Junghwan.
"Siapa yang belum kasih gue peju?"
Semua orang tertawa mengejek, merendahkan dirinya serendah-rendahnya. Jalang mana yang kepalanya sudah tidak berotak sampai-sampai bisa bertanya seperti itu? Hanya Jihoon, hanya jalang seperti dirinya lah yang demikian. Mereka tahu kalau Jihoon pasti ingat siapa yang belum dapat giliran. Dengan Jihoon bertanya seperti itu, maka mereka semakin paham kalau Jihoon memanglah budak seks mereka yang dipinjamkan oleh Junkyu, si baik hati.
"Lonte lo tolol banget sih, bang!" Ejek Jeongwoo.
"Otaknya bener-bener udah gak bisa dipake mikir selain mikirin kontol, peju, dan dientot brutal. Bener-bener lonte murahan." Seru Hyunsuk kemudian, "cepet pake dia Junghwan. Lonte gak punya akal itu udah minta dientot kasar."
Mendengar itu Junkyu hanya tertawa, kemudian mengangguk ke arah Junghwan sekaligus memberikan izin final atas rencananya tadi. Dengan dukungan semua anggotanya, si pemuda bontot langsung berjalan ke arah Jihoon. Menariknya kasar lalu menggeretnya ke depan cermin yang ada di sepanjang ruang latihan mereka malam itu.
"Ayo berdiri, lonte, lo gue masukin dari belakang sambil berdiri. Katanya, lo suka ya?" Bisik Junghwan di telinga Jihoon setelah ia memaksa si pemuda manis itu untuk berdiri di depannya.
Dari matanya, pantulan Jihoon di cermin sudah kacau sekali. Rambutnya sudah tidak karuan dan wajahnya sudah memerah. Badannya penuh cairan ejakulasi dan keringat, puting merah mudanya menonjol seakan meminta untuk dicubiti kasar. Junghwan tidak tahu kalau Jihoon bisa terlihat senakal ini. Ia bersyukur ia sudah besar sekarang sehingga ia bisa menyaksikan Jihoon yang luar biasa seksi.
Junghwan mempersiapkan penisnya di depan lubang senggama Jihoon yang terlihat lengket dan becek secara bersamaan, ia tidak lagi peduli dengan teriakan ampun dari Jihoon ketika kemaluannya menghentak masuk ke dalam lubang surgawi pemuda manis itu. Ia tidak lagi peduli dengan Jihoon yang terisak karena lubangnya dihajar sekasar itu. Junghwan hanya menggerakkan pinggulnya maju dan mundur sehingga membuat penisnya menumbuk lubang Jihoon sedalam yang ia bisa.
"Tadi abis masuk dua kontol ya? Bang menurut lo lubang longgar lo ini bisa jepit kontol gue gak?" Bisik Junghwan. Tangannya menggapai leher Jihoon lalu mencengkeramnya kuat-kuat, menopang agar kepala si pemuda manis tidak jatuh menggantung. Si bontot mencekik Jihoon seperti ia tidak punya rasa belas kasih tersisa dalam dirinya.
Mendengar si bontot berbisik di telinganya dan mencekik lehernya, Jihoon seakan dibuat kesetanan olehnya. Ia memohon ampun seperti orang gila yang sedang dihukum karena terlalu seksi, walaupun suaranya kini terdengar redam karena cekikan di lehernya. Suaranya seakan kalah dengan musik yang sedari tadi tidak pernah berhenti terputar.
"Lubang lonte murah enak juga ternyata." Junghwan terus menghantam Jihoon dengan penisnya. Tidak sedetik pun mengubah ritme yang sedari tadi dimainkannya. Tapi ia hanyalah seorang pemuda yang baru besar, masih amatir. Ia tidak tahu kalau dengan begitu ia bisa mudah ejakulasi. Maka tubuh Junghwan mendadak merinding ketika maninya keluar dari kepala penisnya tanpa ia minta, mengisi penuh lubang senggama Jihoon dengan tiba-tiba yang sontak membuat yang punya berteriak kaget.
“Enak banget diisi peju terus. Hebat ya, Junghwan.” Puji Jihoon setelah Junghwan mencabut batang kemaluannya dari lubang miliknya. Kembali membiarkan mani menetes dari sana, mengalir ke paha dan betisnya yang putih sampai bercecer ke lantai. Ia menopang dirinya ke cermin di hadapannya, membelakangi semua pemuda dengan mata yang sehat itu.
Junkyu tertawa terbahak, benar-benar performa yang luar biasa. Jihoon sungguhan membuatnya berbangga diri. Ia merasa hebat karena memiliki Jihoon yang bisa memberikan kepuasan ke semua anggota timnya sama rata. Mereka membanjiri tubuh Jihoon dengan cairan ejakulasi mereka. Tidak satupun dari mereka yang tidak menyumbang mani di sana, dan Junkyu sangat berbangga.
Ia melangkah maju, mendekat ke arah Jihoon yang sedang menunggingkan pantatnya tepat di samping cermin ruang latihan mereka. Menggapai Jihoon dan menariknya dalam peluknya yang hangat, mengecup dahinya yang penuh keringat dan mengusap rambutnya dengan lembut. Memberikan afeksi ramah kepada miliknya yang seakan baru saja dihajar habis-habisan oleh delapan anggota timnya sendiri.
“Pinter banget sayangku, udah puas belum?”
Jihoon yang ada di pelukannya menggeleng heboh, “belum! Aku belum dipake kamu, Junkyu. Aku belum dientot kontol kesayangan aku.”
Junkyu tidak pernah tertawa sekencang itu sebelumnya. Ia terlalu puas sampai-sampai ia lupa kalau kelaminnya sendiri belum bersenggama dengan lubang milik Jihoon. Ia terlalu bangga karena penuhnya ego tinggi miliknya. Ia terlalu senang.
“Masih mau dientot, hm?”
“Mau, mau, mau! Mau dipake kamu, tapi boleh gak kalau aku dientot di depan mereka semua?” Seru Jihoon seperti sudah hilang akal, seruan tolol itu hanya dihadiahi senyum penuh arti dari Junkyu.
“Baik banget sih, mau buat badannya sendiri jadi bahan coli orang-orang ya?” Bisik Junkyu lalu mencium Jihoon di bibir dengan lembut sebelum kemudian dengan kasar memutar tubuh dengan bahu pendek itu membelakangi dirinya agar dapat mengarah lurus ke anggotanya sendiri. Setelah mengeluarkan penisnya dari dalam celananya, Junkyu kemudian menggendong kedua paha Jihoon dengan sigap. Membuatnya mengangkang lebar menghadap ke delapan anggotanya. Benar-benar sengaja mempertontonkan Jihoon yang binal kepada mereka semua.
“Nih, bacol buat lo semua!” Seru Junkyu kepada Haruto, Hyunsuk, Yoshi, Doyoung, Jaehyuk, Jeongwoo, Asahi dan Junghwan yang menonton mereka dengan seksama sebelum menancapkan penisnya sendiri ke dalam lubang Jihoon yang ternyata benar sudah lebih longgar dari biasanya.
“Ah, ah, ah. Anjing, Junkyu, enak banget! Kontol kamu enak banget sayang!” Pekikan Jihoon terdengar kotor, ia seakan tidak punya daya untuk melakukan apa-apa selain mendesah dan berteriak keenakan. Kedua kakinya dilebarkan, penisnya sendiri bergerak tidak karuan karena badannya yang dilempar naik turun oleh Junkyu. Lubangnya sedari tadi memang terasa penuh nikmat, tapi begitu penis Junkyu yang menggantikan penis-penis sebelum ini ia seakan baru teringat kalau memang hanya Junkyu yang bisa menciptakan kenikmatan setara surga terhadap tubuhnya.
“Gila, itu Bang Jihoon sampe squirting gara-gara dientot Bang Junkyu?” Seru Haruto kemudian ia tertawa sendiri, “emang beda ya kalau dientot sama yang punya, langsung banjir kayak lonte begitu.”
Suara becek seakan mendominasi ruang latihan mereka saat itu, seakan lagu yang terputar dari tadi mendadak tidak bersuara lagi karena kalah dengan suara kantung buah zakar Junkyu yang bertabrakan dengan kedua belah pantat Jihoon yang sudah terlalu basah. Suaranya benar-benar membuat siapa saja pasti akan kembali terangsang, ditambah teriakan dan desahan nakal dari Jihoon yang memang sedari awal sudah terlalu menggoda. Siapa pun yang berpenis di sana, sudah kembali bermain, memijat, mengocok penis mereka alias masturbasi karena melihat aksi Junkyu dan Jihoon saat ini.
“Enak, enak, dientot kamu emang paling juara sayang. Lubang aku bener-bener keenakan. Kontol kamu paling enak, paling bisa bikin aku enak!” Racau Jihoon berantakan, memberikan afirmasi kepada Junkyu agar terus menghujam analnya yang berkedut buas.
“Kamu lihat itu sayang, delapan orang coli gara-gara kamu padahal tadi udah banjirin badan kamu sama peju mereka. Mereka udah keluar tapi tetap coli karena kamu seksi banget. Coba mana, mana suara desahnya yang seksi itu? Minta peju mereka lagi sayang.” Bisik Junkyu di belakang telinga Jihoon, tidak berhenti melempar Jihoon di gendongannya karena hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menggenjot Jihoon pada posisi seperti sekarang.
“Anjing, ah! Anjing banget, please mau peju kalian lagi. Badan gue tempat buang peju kalian doang, ayo banjirin gue lagi.”
Kedelapan pemuda di sana sekali hanya bisa mengerang sambil bermain dengan kemaluan mereka sendiri. Orang gila mana yang memohon untuk dihujani air mani setelah badannya penuh dengan cairan itu?
“Goblok, dasar lonte tolol. Bener-bener tong sampah buat peju.” Geram Jaehyuk sebelum ia mengeluarkan cairan ejakulasinya.
Kemudian satu persatu pemuda di sana ikut ejakulasi karena mendengar permintaan Jihoon yang seperti tidak berakal itu. Satu persatu juga mereka tumbang karena lemas, ada juga yang langsung jatuh terlelap karena lelah setelah latihan keras lalu ejakulasi dua kali dalam waktu yang berdekatan. Menurut Junkyu, mereka juga sama tololnya karena langsung terlelap dengan kondisi cairan mani yang ada dimana-mana. Tubuh mereka seperti dikontrol oleh adrenalin sedari tadi. Maka ketika adrenalin itu sudah hilang dari diri mereka, tubuh mereka seketika ambruk karena memang kesadaran sudah jauh hilang dari awal.
Lalu dalam hitungan kurang dari dua menit sudah tidak ada lagi yang sadar diri, sehingga hanya tinggal dirinya dan Jihoon yang terus-terusan meracau serta mendesah penuh nikmat. Ia segera mencabut penisnya lalu menurunkan Jihoon dari gendongannya hanya untuk diangkat lagi pada detik berikutnya dan melangkah ke arah kursi panjang di sisi lain dari ruang latihan mereka. Junkyu lalu meletakkan punggung Jihoon di kursi itu, mengangkat kedua kakinya naik agar mempermudah akses menuju lubang senggama yang paten adalah miliknya. Ia merangkak ke atas Jihoon, menatap pemuda manis miliknya yang memanglah sangat indah apabila dilihat dari sisi manapun.
“Sekarang kamu sepenuhnya buat aku, sayang. Aku habisin lubang kamu, aku entot kamu sampai kamu pingsan, cuma kontol aku yang kamu ingat hari ini. Cuma aku, soalnya kamu cuma punya aku, ngerti kan?” Bisik Junkyu sesaat sebelum kembali melesakkan penisnya ke dalam Jihoon pada detik setelahnya.
Jihoon baru akan kembali mendesah tapi Junkyu sudah lebih dulu membungkam pemudanya dengan bibirnya sendiri. Meraup kasar bibir ranum yang fungsinya hanya mendesah dan mendesah. Pinggulnya seakan belum lelah karena terus-terusan menghujam lubang Jihoon, membuat penisnya keluar dan masuk lagi dengan cepat di sana. Suara becek kembali terdengar karena memang hanya Junkyu yang bisa membuat Jihoon kacau seperti saat ini.
Junkyu melepas ciuman kasarnya lalu tersenyum ke arah Jihoon yang tengah memejamkan matanya karena sudah kenikmatan. “Sayang, cape? Aku keluar aja ya, kita istirahat habis itu.”
Ia hanya dapat anggukan sebagai balasan dari pemuda manisnya, sepertinya memang Jihoon sudah cukup lelah untuk bahkan sekadar untuk menjawab Junkyu. Maka pemuda dengan kontrol penuh itu langsung menancapkan penisnya dalam-dalam ke lubang senggama Jihoon. Memberikan seribu persen kekuatan terakhirnya untuk menghujam lubang Jihoon dengan penisnya. Sampai di hentakan terakhir, Junkyu mengeluarkan putihnya di dalam Jihoon sambil mengeluh panjang akibat hasrat yang terpenuhi.
Junkyu kemudian mencium dahi Jihoon yang sudah banjir oleh keringat sebelum mencabut batang kemaluannya dari lubang pemuda manis itu. Ia lalu terkekeh tatkala melihat Jihoon sudah jatuh terlelap. Sepertinya memang benar sudah kelelahan. Maka Junkyu dengan segera mengambil tisu yang bisa digapainya, membersihkan mani dari kepala penisnya sebelum kemudian membereskan sisa mani di tubuh Jihoon. Ia lalu mengambil tisu basah yang tersedia di ujung ruang latihan, membasuh seluruh bagian tubuh Jihoon hingga benar-benar bersih tanpa ada sisa cairan kotor yang memenuhi tubuhnya tadi.
Ia juga memakaikan baju Jihoon yang tadi dibuang ke lantai begitu saja. Junkyu melakukan semuanya dengan lembut sebagai tanda kalau ia memang mencintai pemuda manis yang saat ini sudah terlelap di kursi tempat mereka bercinta tadi. Sentuhan terakhir, ia memakaikan hoodie hitam miliknya sebagai selimut untuk Jihoon gunakan. Junkyu berlutut dengan kakinya sebelum ia tersenyum lalu mengecup rambut Jihoon dengan sangat hati-hati. “Kamu hebat sayang, selamat tidur ya.”
Lalu Junkyu berdiri dan berbalik badan, menatap malas ke arah delapan orang lainnya yang kondisinya seakan mengenaskan karena mani-mani mereka yang berserakan. Ia mendadak kesal karena mau tidak mau, ia harus merapikan mereka semua sebelum orang-orang masuk ke ruang latihan mereka. Jadi dengan bermodalkan tisu basah dan tempat sampah, ia dengan lekas membersihkan semua yang bisa ia bersihkan sebelum menutupi tubuh delapan orang di sana dengan jaket-jaket mereka sebagai selimut. Tidak lupa mematikan lagu yang tidak pernah berhenti berputar.
Sebagai leader yang baik, Junkyu sudah melakukan kerja yang spektakuler karena ia seperti baru saja menghilangkan jejak kalau mereka tadi habis berpesta tanpa akal. Jangan lupakan kalau Junkyu juga adalah pemuda yang meminjamkan miliknya untuk digerayangi bersama. Jadi ia memimpin timnya dengan baik, memberikan hadiah serta imbalan yang luar biasa dan juga mengamankan anggota timnya dengan sempurna.
Kemudian Junkyu mematikan beberapa lampu di ruang latihan mereka. Setelah yakin ruangannya sudah tidak dikunci karena jaga-jaga apabila nanti pagi menuju siang manajer-manajer mereka ingin masuk untuk mengecek mereka, ia langsung mengambil posisi duduk di lantai, tepat di samping kursi panjang yang digunakan Jihoon untuk tidur. Junkyu lalu memejamkan matanya untuk menyusul kesembilan anggotanya yang sudah lebih dulu terlelap.
Pastilah kerja keras mereka, terutama Junkyu, terbayarkan dengan meriahnya konser mereka yang akan datang.
