Work Text:
Yang lebih muda kembali menatap ke arah keramaian yang sedang terjadi di balik pagar. Perutnya yang membesar masih ia elus dengan sayang, buah cintanya bersama sang kekasih. Tanpa sadar ia tersenyum, kekasihnya itu memang sangat cinta sekali kepada dirinya.
“Au!” Erangnya karena sang buah hati menendang perutnya dengan keras, seolah sedang melakukan perlawanan. Padahal apa yang perlu dilawan? Kelak kehidupannya akan terjamin, selama keduanya berada di dalam gedung dengan atap hijau yang menjulang, serta pengawasan ketat dari para anjing milik kekasihnya.
“Dek…” Ucap sebuah suara dari belakang, melingkarkan kedua lengannya pada perut buncit miliknya. “Dek teddy sedang apa?” Tanya yang lebih tua. Teddy menolehkan sedikit kepalanya, mencium sekilas pipi kekasihnya yang paling ia sayang.
“Nggak papa, kok, Mas Wo. Aku cuman ngelihatin keadaan di luar.” Jelas Teddy, merasakan elusan wowo di perutnya membuatnya merasa lebih aman.
“Biarkan anjing-anjing itu menggonggong, mereka hanyalah anjing liar. Kuberi makan makanan sisa milik kita juga pasti mereka akan diam. Jangan melihat mereka terlalu sering, mas nggak mau anak kita kenapa-napa.” Ucap Wowo kepada kekasihnya yang paling ia cinta, sehingga negara pun ia porak porandakan untuknya.
Suasananya begitu romantis, keduanya tertawa karena sang buah hati kembali menendang. Menyerukan perlawanan? Tidak ada yang tahu.
"Setelah ini, apa mas?” Tanya Teddy membuat Wowo tersenyum.
“tinggal UU Polri dan UU kejaksaan, maka semua akan selesai. Kita akan hidup di tempat yang selalu kita impikan, dan aku akan menjadikanmu istri sahku, dan anak kita akan hidup dengan penuh cinta dari semua orang. Anjing-anjing peliharaanku akan menundukkan kepala mereka kepadanya dan menjilatkan lidah mereka ke kaki milik anak kita. Tikus-tikusku akan membawakan persembahan paling lezat dan paling mewah, tidak akan ada yang bisa menandinginya. Tentu saja, akan kupersembahkan kepala garuda yang lezatnya begitu melegenda. Ruang rapat DPR yang begitu megah dan mewah akan kujadikan kamar anak kita, karena disana begitu sunyi, suara dari luar tidak akan terdengar, suara anjing liar itu tidak akan terdengar. Tenang saja, setelah ini, semua ini akan menjadi milik kita, istriku.” Ucap wowo, membuat wajah Teddy merona sempurna. kekasihnya, calon suaminya ini selalu menyayanginya.
Teddy menyandarkan kepalanya di pundak Wowo, kembali memandangi para anjing liar yang masih saja menggonggong.
“Aku cinta sekali sama Mas Wowo.” Ucap Teddy.
Wowo kembali tersenyum, tangan kanannya, mengelus pelan perut besar istrinya, sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan Teddy, mengusapnya dengan perlahan, penuh kasih sayang.
“Mas juga sayang sekali sama kamu.” Ucap Wowo.
Perlahan wajah keduanya semakin mendekat, dan bibir mereka menyatu, ditengah kekacauan diluar sana yang tidak akan pernah masuk ke telinga mereka.
