Work Text:
Anaxa mendambakan pengetahuan dan kebenaran, baik mengenai hamparan bintang yang beredar di luar angkasa maupun rahasia yang tersembunyi di balik puing-puing kehancuran kota di Amphoreus—Castrum Kremnos, kota para pejuang, adalah salah satunya.
Anaxa tahu cukup banyak tentang sejarah Castrum Kremnos berkat panjangnya durasi yang ia habiskan di perpustakaan, pun dirinya pernah menginjakkan kaki ke sana untuk meneliti langsung. Naas memang, kekuatan fisik semata tidaklah cukup untuk melawan pengaruh destruktif dari black tide. Kota yang dibanggakan dan didambakan oleh para prajurit berakhir menjadi reruntuhan terbengkalai.
“Kamu tertarik dengan budaya dan tradisi Castrum Kremnos?”
Darah keturunan Kremnoan mengalir di tubuh Mydei, si pangeran sekaligus calon raja Kremnos terakhir. Tidak ada yang lebih tahu tentang kampung halaman Mydei selain dirinya. Sayang sekali ia cukup sulit diajak beramah-tamah kalau bukan dengan bogem mentah. Anaxa beruntung sebab Mydei dengan santainya menawarkan diri untuk mengungkapkan satu tradisi khas Kremnos yang katanya belum Anaxa ketahui.
“Ini kah tradisi yang kamu maksud?” kening Anaxa menyerngit ketika dihidangkan segelas jus buah delima, pandangannya beberapa kali berpindah dari likuid merah darah dan sosok yang duduk di hadapannya. Ekspresinya jelas-jelas tidak menunjukkan bahwa dirinya terkesan.
“Aku sudah tahu tentang tradisi ini. Para prajurit akan meneguk minuman ini di saat-saat tertentu; sebelum berangkat perang, misalnya. Dan setelah meraih kemenangan.” Anaxa bahkan tidak perlu membuka buku untuk mengingat selembaran penelitian tentang jus delima yang pernah ia baca.
Mydei setia mendengarkan, tersenyum takjub sementara kepalanya ditopang oleh satu tangan. “Pengetahuanmu oke juga.”
Anaxa mendengus, kedua tangan disilangkan di depan dada dengan bangga, “Kamu lupa siapa aku?”
“Haha. Mana mungkin aku lupa titel kebanggaanmu?” Mydei menghembuskan tawa pelan seraya bangkit dari duduknya untuk menghampiri si pelajar. Satu tangan meraih pipi Anaxa supaya mata mereka bertemu, “Orang bijak dari Grove of Epiphany, pendiri Nousprourist, juga… kekasihku. Bukankah begitu, Anaxa?”
“Anaxagoras.” Anaxa mengoreksi. Si manis yang keras kepala.
“Kita ‘kan sudah sepakat kalau aku masuk ke daftar pengecualian.”
“Hah. Nggak ada yang namanya pengecualian walaupun kamu spesial.” Anaxa mengerjap sejenak sebelum berdehem, tersipu menyadari ucapannya sendiri, “Maksudku—”
“Aku spesial?” goda Mydei sambil menahan tengkuk Anaxa supaya tidak bisa berpaling.
“Sebutan kekasih itu hanya untuk orang yang spesial.” untunglah Anaxa terbiasa menghadapi situasi tidak menguntungkan dengan kemahiran bicaranya. “Kamu sendiri yang bilang kalau aku kekasihmu.”
“Betul.” Mydei tersenyum puas mendapati respon menggemaskan dari Anaxa. Ia gunakan ibu jarinya untuk mengusap ranum merah muda kekasihnya, “Nah, tentang tradisi yang aku maksud…”
“Ah, akhirnya. Aku kira kamu membual untuk mendapat perhatianku.” jawab Anaxa. Datang juga yang ia nantikan sejak awal.
“Wah, datang dari mana kepercayaan diri itu?” Mydei memutar sepasang manik emas, namun sama sekali tidak menyanggah perkataan Anaxa.
“Aku akan menunjukkan secara langsung tradisi Kremnos yang sangat ingin kamu ketahui ini,” kedua tangan Mydei diletakkan pada pinggang ramping Anaxa, mengusap-usap halus sebelum mengangkat kekasihnya ke atas meja makan. Wajahnya didorong maju untuk menggigit daun telinga Anaxa sebelum berbisik, “yaitu ritual kawin Kremnoan.”
Pupil Anaxa sekilas membesar, lalu tawa yang terdengar sarkastik lepas dari celah bibirnya, “ternyata kamu benar-benar memiliki niat lain.”
“Dari awal juga aku nggak pernah menyangkal.” Mydei mengendikkan bahu tak acuh. Ia tidak mendengar satu pun kalimat penolakan dari Anaxa—bahkan lengan yang lebih kecil dibanding miliknya sudah bertengger mengelilingi lehernya. Maka ia anggap kekasihnya yang manis itu bersedia ikut serta dalam permainan kecilnya.
“Cepat mulai saja.” desak Anaxa dengan kesabaran yang setiap sekon semakin menipis, timbulkan rasa penasaran di benak Mydei. Apa yang sebenarnya si pelajar paling dambakan saat ini? Pengetahuan baru? Atau sentuhan yang saru? Melihat rona merah muda yang disembunyikan oleh juntaian hijau, Mydei semakin yakin akan tebakannya.
“Sesuai keinginanmu, Princess. ”
Helai demi helai pakaian Anaxa mulai dilucuti tanpa sisa. Mulai dari jubahnya; tak lupa diiringi oleh kecupan ringan di kulitnya yang terekspos. Lapisan bernasib sial yang menjadi korban cabikan Mydei selanjutnya ialah baju sang pelajar yang kini tidak dapat lagi menutupi lekuk indahnya. Semuanya terjadi berulang kali dengan sisa-sisa fabrik yang masih utuh hingga Anaxa terkulai di tengah meja makan tanpa busana menutupi tubuh—menjadikan dirinya sebagai hidangan yang sedap untuk sang pangeran santap.
Mydei tak pandai mengulur waktu kalau sudah bersangkutan dengan Anaxa. Dengan persembahan memukau yang memicu detak jantung, bibir Mydei seolah bergerak sendiri di atas tubuh Anaxa untuk tinggalkan jejak tak terhitung.
“Your body is exquisite.” tutur Mydei di sela-sela jajahan mulutnya. Ah—seharusnya ia memuja si pelajar di atas singgasananya. Ia menggenggam pergelangan tangan Anaxa, sekilas melirik ke arah kekasihnya sebelum mendaratkan ciuman basah di kulit halusnya. Bercak merah yang melambangkan kepemilikan mewarnai setiap inci tubuh Anaxa yang semulanya bersih.
“Mmh,” lirihan manis terdengar dari Anaxa, tengah menikmati sentuhan menggelitik yang diberikan Mydei. Lalu—apa-apaan si pangeran itu? Sejak kapan ia lihai mengungkap kalimat mesra?
“Kamu betulan Mydeimos yang aku kenal?”
Pertanyaan Anaxa dibalas gelak tawa, “Memangnya ada Mydeimos yang lain?”
“Kamu nggak seperti biasanya.” Anaxa mencibir, pun ia tidak bisa menyembunyikan senang yang menjolak. Satu kuasanya meraih kepala Mydei, menyisipkan jemari di antara helaian terang.
“Kita ‘kan sedang melakukan ritual. Aku harus memperlakukanmu dengan baik.”
Anaxa memutar kedua bola mata mendengar jawaban dari Mydei, lalu dengan jahil menarik helaian di genggamannya.
“Aku pikir yang paling penting bagi Kremnoan adalah kekuatan.” ucap Anaxa, mengundang seringai tipis untuk timbul di wajah Mydei.
“Kamu benar lagi.” jawab Mydei sembari membawa kedua tangannya turun, melingkari keseluruhan pinggang Anaxa. “Makanya, ritual ini akan berlangsung sampai fajar; sampai kamu nggak sanggup lagi bergerak, sampai kamu memohon ampun karena kembung pejuku.”
Sial. Anaxa lengah. Ia pikir ialah yang memegang kendali sebab Mydei memperlakukannya dengan amat manis. Nyata, ia tidak lebih dari sekedar mangsa yang sudah menggigit umpan. Sudah terlambat baginya untuk bisa kabur dari genggaman sang pangeran.
“Sekarang, bisa kita mulai pembukaan ritual ini?” tanpa aba-aba Mydei menyingkap area intim Anaxa dengan kedua tangannya, menarik kedua tungkai si pelajar ke arah berseberangan.
“Hah—yang tadi bukan pembukaan? Nnh!” Anaxa mengerang pelan tatkala udara dingin menyapa labianya yang sudah mengkilap karena dibasahi cairan alami. Parasnya dihiasi rona merah yang merekah, tersipu sebab posisi yang memalukan; dirinya terlentang bebas di atas meja, sementara kepala Mydei sudah ditempatkan di tengah-tengah paha.
“Kita baru memasuki langkah pertama, ‘Naxa,” Mydei terkekeh pelan, tangannya meraih segelas jus buah delima yang belum tersentuh. “Tenang saja. Kita hanya akan minum bersama.”
“Tunggu—” Anaxa membelalakkan mata kala rasakan cairan yang menyerupai darah mengaliri tubuhnya; dari dada, turun hingga pangkal paha. Vaginanya sudah cukup lembab—kini semakin basah ketika ditumpahi jus delima. Saat Mydei berucap bahwa mereka hanya akan minum bersama, Anaxa sama sekali tidak mengira bahwa ia akan minum dari bibirnya yang di bawah.
“Mydeimos! Haah—nghh!”
Mydei menjulurkan lidahnya, menggoda kelentit sang terpelajar dengan ujungnya untuk sesaat sembari menikmati alunan desahan yang memanjakan rungu. Merasakan lebih banyak cairan yang memercik dari vagina sang kekasih, akhirnya Mydei menyeret lidahnya turun, menyapu bersih labia Anaxa yang dilapisi tumpahan jus delima.
Celah bibir Mydei terbuka lebih lebar untuk menyesap campuran likuid yang sama manisnya. Berniat untuk meneguk hingga tak ada lagi sisa, namun becek di kemaluan Anaxa tak ada habisnya. Rupanya si pelajar keenakan diperlakukan sebagai hidangan, sampai-sampai vaginanya berkedut tak karuan. Maka Mydei anggap antusiasmenya sebagai undangan.
“Ah! Hngh!” desahan yang sedari tadi tertahan di kerongkongan akhirnya lepas tersuarakan. Tubuh Anaxa menggeliat, pinggul pun terangkat. Lidah Mydei menginvasi liang senggamanya tanpa permisi, dan Anaxa kesulitan mencari cara untuk menyalurkan sensasi nikmat yang membuncah karena diisi. Daging tak bertulang itu bergerak begitu lihai, mengoyak dinding vaginanya bagaikan seorang yang piawai. Mydei masih betah membenamkan wajah di selangkangan sang pelajar, meraup rakus walau tak ada lagi tetesan jus delima yang tersebar.
“Cukup, cukup, aku… ahh! Aku akan—” tidak mendapatkan cukup waktu untuk menuntaskan ucapannya, sebab vagina Anaxa sudah lebih dulu muncrat tak terkendali menodai sebagian wajah kekasihnya. Barulah Mydei menarik wajah sekaligus lidahnya dari area sensitif yang baru saja ia buat berantakan, memandangi hasil perbuatannya sendiri dengan takjub.
Pandangan Anaxa dikelilingi kabut putih akibat pelepasan dahsyat. Ia terengah, terkulai lemas di atas meja dengan area intim yang masih terekspos bebas. Anaxagoras yang bodoh. Dengan kondisi sekacau itu, tak tahu kah kalau ia baru saja membangunkan seekor singa yang siap menyantapnya kapan saja?
“H-hah… tunggu—kita belum selesai?” Anaxa mengerjap beberapa kali ketika tubuhnya kembali diangkat, dibawa Mydei ke dekapan erat.
“Malam masih panjang,” kendatipun begitu, Mydei tampak tergesa saat mengambil langkah panjang menuju kamar. Anaxa dapat mendengar jantung kekasihnya berdegup tak sabar. Satu detik setelah Anaxa mendarat di ranjang, Mydei sudah bertumpu di atasnya. Satu tangan berkutik dengan celananya untuk membebaskan ereksi yang telah lama sesak, lalu Mydei gesekkan kejantanannya pada paha Anaxa. “Bahkan aku belum dapat bagianku.”
Anaxa memiliki firasat bahwa walaupun malam telah berganti hari, Mydei tidak akan membiarkannya lari. Penis sang pangeran terasa amat keras di pahanya, Anaxa tanpa sadar meneguk ludah sementara vaginanya berkedut penuh gairah. Ia sungguh-sungguh tidak bisa kabur, bahkan tatapan lekat Mydei buat dirinya melebur. Namun Anaxa tetaplah Anaxa, mana mungkin ia rela mengaku bahwa dirinya pun ingin cepat-cepat digempur?
“Aku bisa ketiduran kalau kamu terlalu lama menggodaku.” decak Anaxa. Bagaimanapun, ada yang lebih jujur dari mulutnya; kedua kakinya yang melingkari pinggul Mydei seolah memerangkap sang pangeran.
Mydei menyunggingkan seringai tipis, “kalau begitu aku akan buat kamu nggak bisa tidur sama sekali.”
Sepasang manik emas berkilau, namun Anaxa tidak sempat membiarkan dirinya terpukau. Mydei telah lebih dulu memagut bibirnya kasar, mencumbu kekasihnya dalam-dalam didasari nafsu yang kian membesar. Lidah saling beradu, liur membasahi dagu. Batang kejantanan Mydei diselipkan di antara labia Anaxa tanpa betul-betul dimasukkan, ingin menggoda area sensitif si pelajar. Kalau beruntung, mungkin ia dapat mendengar kata-kata memohon dari Anaxa. ‘Please,’ atau ‘Aku mohon…’ . Keduanya akan terdengar sangat manis keluar dari mulut kekasihnya.
“Ah! Hngh…”
Ujung tumpul sengaja dipertemukan dengan salah satu titik Anaxa yang paling sensitif, berulang kali menyapa klitorisnya hingga empunya mengerang di sela-sela cumbuan. Anaxa menggigit bibir bagian bawah Mydei keras-keras sebagai peringatan, sayangnya sama sekali tak diindahkan.
Anaxa frustasi. Padahal liang senggamanya telah secara terang-terangan mengundang Mydei untuk singgah, bahkan beceknya membuat si pangeran dapat bergerak lebih mudah. Namun ia lebih memilih untuk melimpahkan atensi pada titik kecil di atasnya. Nikmat, memang, tetapi begini saja tidak cukup. Anaxa ingin merasa penuh; diisi hingga benih milik Mydei tumbuh.
“Mydeimos,” panggil Anaxa seusai melepas pagutan bibir, setengah merengek. Pinggulnya digerakkan maju mundur, berusaha mendorong batang kokoh milik Mydei masuk. “Cepat, nnh…”
Kesabaran Mydei pun tidak tersisa banyak, namun cukup untuk menggoda si pelajar sekali lagi. Ia menyelipkan ibu jarinya di antara ranum Anaxa yang memerah karena cumbuan kasar, mengusapnya—kini dengan lembut. “Kamu mau apa, Princess? ”
“Mau—aah, mau diisi…” Anaxa memerah hingga ke daun telinga meskipun udara yang menyelimuti ruangan cukup dingin. Ia berbisik dengan amat pelan namun masih dapat Mydei tangkap, “Mau dikontolin…”
Mydei meloloskan tawa pelan, pupilnya menggelap akan nafsu. Meski memiliki gelar tinggi sebagai orang bijak, tutur kata Anaxa benar-benar sulit dikendalikan—tak terkecuali di atas ranjang. “Mau diisi kontolku sampai hamil? Begitukah, Anaxa?”
Tidak mendapat jawaban verbal dari Anaxa, Mydei kembali menekan kelentit si pelajar dengan ujung kejantanannya. “Hmm? Anaxagoras ?”
“Ahh—haa…” Anaxa menahan pekikan, mencengkram erat bahu Mydei lalu mengangguk gesit, pun ia hanya bisa meracaukan kata ‘iya’ berulang kali sambil mendesah.
Tanpa mau membuang lebih banyak waktu, Mydei mendorong kepemilikannya menembus liang senggama yang dirindu, melenguh rendah saat rasakan sensasi dijepit yang setia menjadi lambang candu. “Anaxa…”
“Nghh! Mydeimos—aaah…”
Lantunan desahan yang panjang nan erotis melewati celah bibir Anaxa tanpa permisi. Mata yang tidak disembunyikan ikut tertutup seraya sang empunya dimabuk hasrat yang meletup-letup. Liangnya menjepit erat penis Mydei yang menginvasi sempit—perlahan melonggar mengikuti bentuk kejantanan sang pangeran. Inilah sensasi yang Anaxa tunggu-tunggu sejak tadi; tonjolan urat yang bergesekan dengan dinding vaginanya kala Mydei melesak lebih dalam.
“Sempit. Sudah berapa lama kamu nggak aku pakai?” Mydei menggeram pelan, tak kuasa menahan nikmatnya dipijat oleh dinding velvet nan licin. Cairan bening terus mengalir dari vagina Anaxa, menggemakan bunyi kecipak setiap kali Mydei menghentak.
Sudah berapa lama, ya? Walau berusaha sekuat mungkin, Anaxa tidak akan bisa mengingat apapun dalam kondisinya saat ini; hanya dapat berfokus pada benda kokoh yang bersarang di dalam liangnya. Mulai lemas akibat hujaman keras, Anaxa membebaskan perangkap kakinya dari pinggul si pangeran. Mydei dengan tangkas meraih satu tungkai yang hampir jatuh lalu ia letakkan di atas bahunya sehingga kepemilikannya menumbuk titik sensitif yang lebih jauh.
“Nngh!” kepala Anaxa mendongak ke belakang. Sekujur tubuh bergetar, mata pun memutar. Semua reaksi memalukan ia tayangkan secara cuma-cuma sebab Mydei membuatnya kewalahan. Ketika punggung Anaxa meliuk ke atas, Mydei mencuri kesempatan licik untuk meraup putingnya yang entah sejak kapan sudah mengeras, menghantarkan kenikmatan berlebih sampai-sampai kewarasan Anaxa terkuras. Lidah Mydei menyapu titik cokelat yang mencuat sebelum ia sesap kuat-kuat, dan Anaxa hanya bisa pasrah dilahap sampai jemari kakinya menggeliat.
“Mydei—haah, Mydeimos…”
Nama sang pangeran tak tertinggal di tengah-tengah alunan desahan Anaxa, kepingan akal sehat Mydei pun berkaburan dibuatnya. Penisnya yang kian membesar ditelan rakus oleh liang senggama kekasihnya, tanpa henti memijat batang kejantanannya.
“Anaxa, sayang,” Mydei melepaskan puting Anaxa dari mulutnya—membengkak dilumuri saliva. Atensinya melekat pada figur kecil di bawah kungkungannya; surai panjang yang berantakan nan lembab karena peluh menjelajah sekujur tubuh, ditambah warna favoritnya—merah muda—yang juga merambat ke paras cantik kekasihnya. Bagaimana bisa keindahan Anaxa justru melambung naik dalam kondisi sekacau ini?
“Kamu sangat cantik.” lirih Mydei sambil membubuhi kecupan ringan di wajah Anaxa, satu kuasanya bergerak turun untuk mengusap perut rata sang pelajar. “Lebih cantik lagi kalau sudah hamil pejuku.”
“Nnh…” Anaxa mendesah panjang mendengar ungkapan vulgar si pangeran. Matanya terpejam, tanpa aba-aba percikan air bening sudah bersimbur dari vaginanya. Ah. Ia muncrat, lagi , hanya karena mendengar hasrat yang diutarakan Mydei. Memalukan. Sangat amat tidak mencerminkan perilaku orang bijak yang terpelajar. Namun—siapa juga yang peduli tentang gelarnya jika hanya ada mereka berdua di bawah balutan syahwat?
“Pipis lagi? Sudah nggak sabar aku hamilin, ya?” Mydei terkekeh puas. Penisnya berdenyut semakin keras kala dibasahi tumpahan cairan kekasihnya. Melihat Anaxa yang kesulitan menyalurkan nikmat, Mydei menyelipkan jari-jemarinya di antara milik si pelajar. Tangan Anaxa digenggam erat, ritme hentakan pun meningkat. Diiringi lantunan manis dari mulut Anaxa, berulang kali ujung kejantanannya menumbuk tepat di letak paling dalam.
“Ugh,” pinggul Mydei berhenti bergerak, membiarkan penisnya singgah sejenak untuk menanamkan benihnya. Luapan putih hangat membanjiri kekosongan di dalam liang Anaxa—saking penuhnya sampai mengalir dari letak persenggamaan mereka. Anaxa sepenuhnya yakin kalau kegiatan mereka terus berlangsung perutnya benar-benar akan kembung. Tetapi… bukankah memang itu tujuan sang pangeran?
“Jangan pingsan dulu, Princess.” suara Mydei membuyarkan pikiran Anaxa. Posisi mereka sudah berpindah, pangkuan Mydei menjadi tempat duduk barunya. “Tenagaku masih belum habis.”
Itulah masalahnya. Tenaga Mydei tidak akan habis! Anaxa tidak akan menoreh tentang ritual ini di catatannya.
