Work Text:
┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
Yang memeluk raga kecilku
Yang menyayangi kecilku
Yang memeluk jiwa kecilku
Dan semua-semua aku
Nadin Amizah, Kekal
┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
⋆ ˚。⋆୨୧
Aku bukanlah sosok tenang yang dibayangkan oleh begitu banyaknya orang.
Aku bukanlah sosok pemberi maaf penuh ikhlas yang dapat menerima segala sesuatunya dengan mudah bahkan ketika dunia tidak berpihak pada ku.
Aku bukanlah sosok tegar yang mampu menerima apapun dengan baik bahkan ketika pilu menerpa dan kepedihan datang bertubi-tubi.
Aku tidak kuat. Aku lemah. Aku mencoba untuk menerima setiap keadaan. Aku belajar untuk tidak membenci dan mendendam pada hal yang kurasa tidak adil bagiku.
Juga aku tidak setabah itu.
Aku percaya segala sesuatu yang buruk yang menerpaku akan kembali dengan baik. Doa-doaku akan terbang ke langit dan menjadi pelangi bagi siapapun.
Aku sosok yang tak sempurna.
Tapi aku percaya, ketidaksempurnaan ku ini menjadi ciptaan yang indah bagi kedua buah hatiku.
Dan juga dirimu, sosok yang kucintai.
— dengan penuh cinta,
Choi Jeonghan.
Choi Seungkwan lahir dengan penuh kesempurnaan. Ia adalah anak lelaki jenius yang terlahir dari gen yang luar biasa. Ia adalah pria kecil yang usianya belum genap sepuluh tahun dan sudah memenangkan banyak hati orang-orang dewasa di sekitarnya termasuk gurunya dan juga keluarga besarnya.
Ia begitu pandai dalam bidang apapun. Setiap tahunnya ia akan maju ke depan dan berdiri di hadapan ratusan teman-temannya hanya untuk menerima penghargaan dari sekolahnya. Sosok mungil yang memiliki banyak teman. Kedua orang tuanya tahu bahwa ia adalah anak yang berbakat. Kasih dan cinta dari kedua orang tuanya membentuk Choi Seungkwan menjadi pribadi yang menyenangkan.
Menyenangkan. Hanya ketika hatinya bahagia.
Di samping itu tembok tinggi, kokoh nan tebal milik keluarga Choi mampu menutupi apa yang selama ini Seungkwan lakukan ketika ia sedih ataupun bertanya pada kondisi kelam yang ia rasakan. Ia hanyalah sosok kecil yang dengan terpaksa menerima apapun yang terjadi di hadapannya. Ia hanyalah sosok kecil yang tak tahu apakah itu benar atau tidak. Yang ia tahu keluarganya akan selalu ada bersamanya.
Ayahanda dan Manda akan selalu bersamanya dalam kondisi apapun.
Sekalipun ia tahu karakter kedua orang tuanya tapi yang Seungkwan yakini bahwa kedua orang tuanya akan menjadi bintang di hatinya dan selalu berada dalam tempat terindahnya.
⋆ ˚。⋆୨୧
Satu dari remaja lelaki yang jenius dan memiliki banyak teman itu adalah Choi Mingyu. Ia adalah perpaduan sempurna dari dua gen yang melebur, bertumbuh dalam rahim seorang jenius dan tumbuh besar menjadi sosok yang sempurna. Ia adalah seorang kakak lelaki yang penuh tanggung jawab dan mengemban setiap amanah dari kedua orang tuanya dengan baik. Ia adalah kebanggaan bagi kedua orang tuanya dan keluarga besarnya. Siapa sosok yang ayahnya banggakan? Jawabannya adalah Choi Mingyu.
Mingyu tahu bahwa ia hanyalah remaja yang terkadang bingung harus mengungkapkan apa yang ia rasakan. Ia hanyalah remaja yang bisa saja sedih, bahagia, bingung, kecewa dan banyak hal yang sudah sewajarnya ia rasakan sebagai sosok yang hampir mencapai fase dewasa. Tanggung jawabnya sebagai kakak secara tak langsung mengantarkannya pada tahap di mana ia perlu mengabaikan rasa sakitnya. Baik rasa sakit yang ia terima dari luar maupun dari dalam lubuk hatinya. Ia hanya bisa melampiaskan semuanya dalam permainan biolanya.
Sebuah biola pemberian kedua orang tuanya. Biola yang menjadi saksi perasaan Mingyu di balik dinding kokoh nan tebal milik keluarga Choi. Sebuah biola yang menjadi saksi bagaimana kasih sayang kedua orang tuanya pada Mingyu.
Sebuah biola yang menjadi saksi bahwa Mingyu hanyalah sosok rapuh yang mencoba tegar.
Sepasang mata itu menatap riak air di kolam renang yang terletak di balik dinding kokoh itu. Tubuh mungilnya duduk di tepi kolam renang besar milik keluarganya. Kakinya ia masukan ke dalam air sembari merasakan bagaimana dinginnya air jernih itu. Matanya menatap sesosok tubuh tinggi tegap yang duduk di antara orang-orang penting lainnya yang ia kenal. Ia tidak bodoh untuk mengetahui itu. Beberapa kali orang-orang berpakaian rapi itu datang hanya untuk mengobrol dengan sosok tegap itu maupun makan bersama di meja makan besar milik keluarganya. Ia menghela nafas letih dan kembali menatap bayang kakinya yang bergelombang di dalam air.
“Begitu aja terus,” bisiknya. Bibirnya maju beberapa sentimeter. Menjadi pertanda bahwa sosok itu mulai kesal apalagi ketika matanya menatap sosok tegap yang mulai ikut tertawa mengimbangi beberapa orang yang duduk mengelilinginya. Tanpa sadar ada sosok lain yang berjalan mendekatinya dan ikut duduk di sampingnya sembari bersila.
“Kenapa Adek di sini?” tanyanya dengan lembut. Seungkwan, sosok mungil itu tersenyum dan menatap sosok lain yang duduk di sampingnya. Jemari sosok yang lebih tua bergerak untuk merapikan helaian rambut di wajah adik semata wayangnya.
“Adek bingung harus main apa,” ujarnya dengan wajah sedih. “Tadinya Adek kan mau pergi sama Ayah untuk beli sepatu baru karena Miss Leona bilang Adek perlu sepatu baru untuk berkuda. Tapi Ayah kayanya sibuk, Mas.”
Raut sedih itu sudah sering ia lihat. Yang lebih tua melirik sosok berwibawa di seberang sana. Memperhatikan sosok itu dengan mata jernih nan tajamnya. Mata yang mirip dengan mata sang ayah. Matanya menelisik setiap pergerakan sosok yang hampir menginjak kepala lima itu dengan seksama. Sosok yang menurunkan mata tajam dan mengintimidasi itu kepadanya. Sosok yang kini tengah menikmati pujian dari orang-orang di sekitarnya.
Sosok yang ia dan Seungkwan panggil dengan sebutan ayah.
“Nanti Mas bilang ke Ayah kalau Adek perlu sepatu. Siapa tahu Ayah bolehin Mas temenin Adek beli sepatu,” ujar sosok tinggi itu sembari tersenyum. Kurva di bibir Seungkwan berubah menjadi sebuah lengkungan yang ia suka.
“Makasih, Mas Mingyu,” ujar Seungkwan sembari memeluk sosok yang ia panggil mas. Mingyu tersenyum dan membalas pelukan adik semata wayangnya.
“Adek enggak boleh sedih,” bisiknya.
“Ayah udah lama enggak main sama kita yah Mas semenjak Ayah udah sering ketemu om-om itu,” keluh Seungkwan dengan nada sedih. Mingyu mengerti apa yang Seungkwan maksud. Ia sudah cukup dewasa dan menyadari bahwa apa yang dikatakan Seungkwan dan realita yang ada di depan matanya itu benar terjadi.
Tapi, ia sadar bahwa ia hanyalah anak di rumah besar dan megah ini. Ia tak memiliki kekuatan sekalipun ia adalah anak pertama dan yang paling diandalkan oleh ayahnya. Ia tahu betul bahwa sekeras apapun ia mencoba untuk melawan ataupun membangkang, ia bukanlah siapa-siapa di hadapan ayahnya yang berkedudukan tinggi itu.
“Sekarang kan pekerjaan Ayah bertambah, Dek. Ayah bukan lagi orang yang kerja di kantor. Ayah bukan lagi ayah yang setiap hari Sabtu dan Minggu libur. Kerjaan Ayah makin banyak,” ujarnya seolah memberi pengertian pada sang adik. Ia menjauhkan pelukannya dan menatap sang adik dengan tatapannya yang dalam namun membuat tenang.
“Ayah sekarang udah jadi wali kota?” tanya Seungkwan. Mingyu bersyukur adiknya ini jenius. Di usianya yang sangat muda ia sudah mengerti banyak hal. Mingyu mengangguk dan menepuk kepala adiknya.
“Kita harus bangga punya Ayah yang hebat.”
“Ayah juga bangga punya anak kaya kita, Mas?” tanya Seungkwan dengan kedua mata bulatnya. Ini adalah sebuah pertanyaan konseptual yang Mingyu tidak bisa jawab dengan cepat. Hatinya bergemuruh ketika pertanyaan itu melantun dari mulut adiknya. Helaan nafas terdengar diiringi anggukan dari kepala yang lebih tua.
“Of course. Ayah bangga banget sama Mas dan Adek. Karena Mas dan Adek adalah anak-anaknya Ayah,” ujar Mingyu. Seungkwan tersenyum dan kembali memeluk kakaknya.
“Adek juga bangga sama Mas!”
Mingyu tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada sang adik. Ia begitu menyayangi permata di pelukannya. Ia memiliki permata lain tetapi kini di depan kedua matanya ada satu permata yang ia begitu kasihi. Seungkwan, permatanya. Adiknya.
Kedua kakak adik itu masih setia saling memeluk dan tak menyadari bahwa ada sosok lain yang berjalan mendekati mereka. Menatap mereka dengan penuh cinta dan juga kepedihan yang berbaur menjadi satu. Wajah manis dan ayu miliknya menatap kedua cintanya dengan penuh rasa haru dan juga kelembutan. Kakinya melangkah dan ketika sudah tiba tepat di belakang punggung Mingyu, ia duduk dan memeluk kedua cintanya dengan penuh kasih sayang. Tangannya berusaha untuk memeluk kedua anak itu seolah tak ingin melepaskan keduanya.
Seungkwan yang menyadari hal itu berusaha menolehkan kepalanya dan tersenyum saat sosok itu juga membalas tatapan Seungkwan. Senyuman yang Seungkwan sukai. Senyuman yang dari sosok yang Seungkwan dan Mingyu sayangi.
Manda juga sayang sekali sama Mas Mingyu dan Adek.
Terlahir dari keluarga yang berada, menjunjung tinggi tata krama dan juga moral serta selalu menomorsatukan pendidikan menjadikan sosok Choi Seungcheol lahir sebagai pria yang cerdas, beperilaku baik juga menjunjung tinggi aturan-aturan yang keluarganya bentuk. Ia dikenal sebagai lelaki yang pandai, bertutur kata baik namun kuat dan mendominasi.
Tak ayal banyak orang-orang yang sedang mencari pasangan ingin menjadikan Seungcheol sebagai pasangan mereka. Tak jarang pula ada begitu banyak orang tua di luar sana yang berusaha menjadikan Choi Seungcheol sebagai menantu mereka. Bibit, bebet dan bobotnya terjamin. Menurut mereka siapapun yang akan dinikahi Seungcheol adalah orang yang terpilih dan beruntung karena telah berhasil memenangkan hati lelaki cerdas dan kaya raya itu.
Seungcheol dibesarkan di keluarga yang keras. Ayahnya adalah seorang politisi sekaligus akademisi. Ia mendidik Seungcheol untuk menjadi sosok yang tegar, melindungi, dan tak takut apapun. Ia tak boleh lemah, ia harus kuat karena ia lelaki dan tanggung jawab besar ada di bahunya. Sama seperti nama baik keluarganya yang harus ia bawa di pundaknya. Ayahnya tak ingin Seungcheol gagal dan itu secara tak langsung membentuk Seungcheol menjadi sosok yang perfeksionis dan penuh ambisi.
Berbeda dengan sang ibu yang berprofesi sebagai guru. Ibunya adalah sosok yang lemah lembut dan mengerti bahwa anak lelakinya itu memiliki kelemahan. Ia mengenal betul sosok yang pernah berlindung di dalam rahimnya. Sekalipun Seungcheol mendapatkan didikan keras dari ayahnya, tetapi sang ibu adalah satu-satunya sosok yang akan memeluknya, mengelus kepalanya ketika tidur dan mencium dahinya ketika lelaki itu memikirkan banyak hal.
Masih ingat kan ketika orang-orang berkata bahwa siapapun yang berhasil memenangkan hati Seungcheol maka ia adalah sosok yang paling beruntung dan terpilih. Mari kita sematkan label itu pada Yoon Jeonghan yang berhasil memikat Choi Seungcheol sejak mereka sama-sama menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Seungcheol dan Jeonghan adalah rival. Di fakultas ilmu sosial dan politik keduanya terkenal sebagai sosok yang cerdas dan juga penuh ambisi meskipun keduanya memiliki karakter yang berbeda. Seungcheol yang keras kepala dan Jeonghan yang pintar bersilat lidah. Bertahun-tahun mereka berusaha mengimbangi kelebihan masing-masing sampai mereka tidak menyadari bahwa keduanya sudah terikat dalam benang merah cinta.
Seungcheol menginginkan Jeonghan sebagai kekasihnya begitupula Jeonghan yang ingin memiliki Seungcheol seutuhnya. Pada akhirnya, Seungcheol menyerah dengan egonya dan sebelum mereka menyelesaikan pendidikan mereka di strata satu, Seungcheol sudah meminang Jeonghan. Tentu saja keluarga Choi merestui itu karena Jeonghan adalah sosok terpelajar, jenius, lemah lembut dan juga berasal dari keluarga terpandang.
Seungcheol harus menunda pernikahan mereka selama beberapa tahun karena ia akan menempuh pendidikan magister di tempat yang sudah ia rencanakan. Birmingham, Britania Raya menjadi destinasi akademik Seungcheol selanjutnya. Jeonghan dengan sabar menunggu cintanya di negeri tempat tinggal mereka dan berbekal kepercayaan, ia merelakan Seungcheol untuk meraih cita-citanya.
Sekembalinya dari menggapai cita-citanya, Seungcheol menikahi Jeonghan dan berhasil membangun rumah tangga yang mereka impikan. Itu adalah kisah cinta yang berujung kebahagiaan. Ketika Jeonghan memberi sebuah kejutan pada Seungcheol karena di rahimnya tumbuh janin kecil yang menjadi buah cinta mereka, di waktu yang sama Seungcheol juga direkomendasikan untuk menjadi staff ahli badan eksekutif.
Banyak orang berpikir bahwa posisi sang ayah menentukan karir Seungcheol dan itu fakta. Semua karena bantuan sang ayah sehingga Seungcheol berhasil menempati posisi itu. Jeonghan sebagai pasangan hidupnya sungguh bersyukur karena Seungcheol adalah kepala rumah tangga yang baik dan bertanggung jawab juga yang terpenting tetap mencintainya bahkan ketika mereka dikaruniai dua putra tampan dari pernikahan mereka.
Choi Mingyu dan Choi Seungkwan.
Kedua buah hati mereka yang luar biasa dan memiliki segudang kelebihan. Seungcheol dan Jeonghan mencintai mereka karena merekalah permata yang mereka miliki. Kedua buah hati yang mereka jaga bahkan mereka tak ingin tumbuh kembang kedua putranya mereka lewati dengan penuh penyesalan.
Jeonghan ingin memberikan yang terbaik bagi kedua buah hatinya begitupula Seungcheol yang akan selalu menjadi yang terbaik di pekerjaannya sehingga ia bisa mendapatkan posisi apapun demi nama baik dan juga keluarganya. Yang tak Seungcheol sadari adalah ambisinya yang mampu merusak segalanya. Ambisinya yang mampu melepas kepercayaan dari siapapun. Ambisinya yang mampu menghancurkan segalanya.
Termasuk keluarganya.
Jeonghan terlahir sebagai seseorang yang spesial. Ia memiliki vagina dan rahim yang subur. Seungcheol beberapa kali mengatakan bahwa tubuh Jeonghan adalah sesuatu yang ia puja. Begitu nikmat dan perlambang kesuburan. Bahkan ketika sudah melahirkan kedua anak, ia tak pernah bosan pada Jeonghan. Tubuhnya itu bagai candu dan Seungcheol selalu menginginkannya. Kekasih hati cantiknya itu akan selalu menggoda di matanya. Apalagi ketika Jeonghan dengan sengaja membuka kedua kakinya, melebarkannya dan membiarkan Seungcheol menikmati apa yang memang seharusnya ia miliki.
“Ah! Lebih kenceng aja.. ahh..” desah Jeonghan ketika Seungcheol menumbuk lubang vaginanya dari belakang. Jeonghan mengeratkan pegangannya pada sandaran ranjang mereka dan membiarkan Seungcheol menumbuk dan menghujamkan penis besarnya ke dalam sana. Ia mendesah kembali ketika Seungcheol menggeram dan memainkan putingnya yang sangat sensitif tiap kali suaminya menyetubuhinya.
“Jeonghan,” bisik Seungcheol. “Nikmat. Ini nikmat, sayang…”
Jeonghan tersenyum dan menyampirkan seluruh rambut sebahunya ke bahu kiri dan membiarkan suaminya menghisap bahu kanan polosnya, menggigitnya dan memberi tanda di sana. Ia membiarkan suaminya menginvasi tubuhnya bak boneka. Bahkan ketika Seungcheol mengeluarkan penisnya dan menusukkan ke dalam vagina itu dengan keras.
“Argh! Pelan sayang! Aku enggak ke mana-mana.. Aah.,” desahan Jeonghan menggema di kamar besar mereka. Tidak akan pernah ada yang bisa mendengar mereka karena Seungcheol tahu bahwa kamar mereka berdua adalah kamar yang paling tertutup dari semua kamar di rumah megah ini. Seungcheol tak akan membiarkan anak-anaknya bahkan orang-orang yang bekerja di rumahnya bisa mendengar lolongan suara kekasihnya setiap malam. Seungcheol tak rela. Bahkan ketika orang-orang yang bekerja untuknya bisa mendengar suara indah Jeonghan saja Seungcheol tak rela.
“Argh! Jeonghan!”
“Di dalam aja, sayang,” ujar Jeonghan dengan susah payah sembari memegang paha kokoh suaminya. Membiarkan Seungcheol membenamkan penisnya lebih dalam sembari memainkan klitoris-nya dengan jemari kasarnya. Jeonghan bergetar ketika ia merasakan klimaks-nya kemudian disusul Seungcheol yang memuntahkan seluruh sperma-nya di dalam rahim Jeonghan. Membiarkan bakal anak itu masuk ke dalam rahimnya dan berbuah di dalam sana. Jeonghan tersenyum saat Seungcheol masih mendiamkan penisnya di dalam lubang kawinnya yang hangat. Jeonghan suka sensasi ini. Begitu intim dan juga penuh cinta.
Jemari Seungcheol bergerak ke leher Jeonghan, ia mengeratkan jemarinya di leher jenjang itu. Cengkramannya tidak begitu kuat namun tangannya melingkupi leher itu. Jeonghan yang tengah menghirup pasokan udara sebanyak mungkin pun membuka matanya dan menoleh ke belakang untuk menatap suaminya.
“Kenapa sayang?” tanya Jeonghan dengan lemah. Seungcheol mengecup pelipisnya dan mencumbu lehernya. Cumbuan itu berhasil menciptakan lenguhan lembut dari bibir sosok cantik yang kini masih mengeratkan tangannya di sandaran ranjang luas mereka.
“Aku pernah bilang sama kamu kalau aku enggak suka setiap kali mereka senyum sama kamu dan kamu balas senyuman itu,” ujar Seungcheol dengan berbisik namun Jeonghan bisa merasakan hal lain dari apa yang suaminya katakan.
“Mereka cuma nyapa aku, sayang. Enggak ada hal lain yang mereka lakuin.”
“Berapa kali aku bilang aku enggak suka kamu lakuin itu,” tambah Seungcheol bahkan tanpa sadar eratan tangannya di leher Jeonghan semakin mengerat. Jeonghan membuka matanya dan mulai bergerak panik.
“Sayang—”
“Kamu itu sekarang milik aku dan apapun yang kamu lakuin itu harus di bawah aturan aku,” ujar Seungcheol. Giginya bergemeretak dengan keras. Di telinga Jeonghan itu adalah terompet tanda kegelapan.
“Maaf, sayang. Aku enggak akan lagi — argh!”
Jeonghan menutup matanya ketika Seungcheol menekan lehernya dan membiarkan daun telinganya digigit keras oleh Seungcheol. Menyisakan tanda merah di daging tipis itu. Seungcheol menarik penisnya, memutar tubuh Jeonghan dan mendorongnya dengan keras di atas tempat tidur. Jeonghan tahu bahwa selanjutnya yang ia terima hanyalah rencana yang sudah Seungcheol susun di dalam kepalanya. Rencana hukuman-hukuman yang Seungcheol akan berikan pada dirinya. Tapi, Jeonghan bisa apa? Ia hanya bisa menahan tangisnya dan dengan pasrah membuka kedua kakinya.
Kali ini adalah hukuman yang jarang sekali Jeonghan terima namun setidaknya dari beberapa hukuman yang Seungcheol berikan, ini adalah hukuman yang lebih baik. Mata indah yang hampir menangis itu menatap nanar ketika suaminya membawa seutas tali, mengikat kedua tangannya di sandaran ranjang. Setelah itu memastikan bahwa Jeonghan tak dapat bergerak lagi.
Jeonghan tak ingin melawan. Terakhir kali ia melawan, Seungcheol mencambuk vaginanya dengan ikat pinggang hingga perih menjalar di area sensitif itu. Jeonghan kini hanya bisa pasrah dan membiarkan suaminya membuka satu bungkus lollipop, mengulum permen bertangkai itu sembari menyeringai.
“Adek suka banget sama permen ini,” ujar Seungcheol sembari mengulum permen dan menatap Jeonghan dengan remeh. Ia merapatkan tubuhnya pada Jeonghan dan menatap kekasih hati cantiknya itu. Tubuh Seungcheol yang semakin berusia semakin kekar itu berhasil mengungkung tubuh Jeonghan yang perbandingannya cukup jauh dengan tubuh atletisnya.
“Gimana kalau Adek tahu satu permennya hilang dan ada di dalam lubang Manda-nya ya?”
“Argh!” pekik Jeonghan ketika Seungcheol memasukan paksa permen bertangkai itu ke dalam lubang vaginanya yang basah.
“Adek masih mau enggak ya makan permen ini?’ tanya Seungcheol. Jeonghan menggigit bibirnya. Ia ingin sekali mendesah ketika permen lengket itu masuk menembus saluran kawinnya. Namun ia tak mau jika Seungcheol menyadari bahwa Jeonghan menikmatinya. Lidah Seungcheol menari di atas puting merah muda mencuat milik Jeonghan, menghisap sumber kehidupan kedua anak mereka beberapa tahun silam.
“Seungcheol.. ahh.. udah…”
Dan malam itu ditutup dengan lolongan dan rintihan Jeonghan tiap kali permen lengket itu berhasil membuatnya gila.
Mingyu baru saja kembali ke rumah setelah hari panjangnya di sekolah. Ia menuruni mobil mewah miliknya sendiri karena ayahnya ingin Mingyu memiliki kendaraan mewah itu sebagai bentuk kepedulian sang ayah pada anak sulungnya. Dengan lesu ia keluar dari mobil. Sedikit membanting pintu mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumah mewahnya. Ia bisa melihat beberapa pelayan menunduk dan menyapanya tetapi Mingyu sore itu terlalu letih dan hanya ingin beristirahat sebelum nanti pukul enam sore ia akan kembali belajar bersama dengan guru yang ayahnya datangkan.
“Kemana Ayah?” tanya Mingyu pada salah satu pelayan.
“Pak Seungcheol lagi di dalam ruang meeting , Den. Sama rekan-rekannya,” ujar pelayan itu. “Den Mingyu mau saya ambilin minum atau makanan?”
“Enggak usah,” jawab Mingyu. “Adek belum pulang?”
“Adek di kamar lagi melukis.”
Remaja lelaki itu mengangguk dan berjalan menuju ruangan tempat ayahnya berada. Bagi sebagian orang awam ketika mendengar bahwa rumah ini bahkan memiliki ruang meeting, mereka pasti berdecak kagum. Sebesar apa rumah ini? Siapa orang sukses yang berhasil membangun rumah semegah ini? Ya, betul. Rumah ini sangat besar dan jawaban selanjutnya adalah Choi Seungcheol. Kesuksesan dan nama baik Choi Seungcheol berhasil membangun rumah ini dan memberikan naungan terbaik baik keluarganya.
Mingyu berhenti ketika posisinya tak jauh dari ruangan penuh kaca yang berada di lantai tiga itu. Ia melihat sang ayah duduk di kursinya, menatap orang-orang yang berada di dekatnya dengan serius. Entah apa yang orang dewasa ini diskusikan pikir Mingyu. Lelaki muda itu tak mau memaksa dirinya untuk mengerti apa yang ayahnya dan ajudan-ajudan serta rekannya bicarakan. Mingyu tahu ayahnya adalah seorang wali kota dan tanggung jawabnya besar sekali bagi kota ini. Itu juga berlaku pada Mingyu dan Seungkwan di sekolah mereka. Sebagai anak seorang wali kota, mereka harus menjaga nama baik ayah mereka.
Mingyu letih? Tentu.
Ia ingin seperti dulu. Ia ingin ketika ia pulang sekolah ayahnya akan pulang di sore hari dan memeluk dirinya juga Seungkwan. Ia ingin makan malam bersama Ayah dan Manda seperi dahulu. Sekarang? Meskipun Seungcheol banyak menghabiskan waktu bekerjanya di rumah, tapi bagi Mingyu itu semua percuma. Sekalipun ayahnya hadir di rumah itu tapi ia tak merasa bahwa ayahnya ada.
Ayahnya telah hilang.
Jeonghan menatap sedih putra sulungnya. Ia yang tengah membawa seikat bunga yang baru saja ia petik dari kebun belakang mereka seketika terdiam ketika menyadari bahwa putra tertuanya berdiri menatap suaminya dari jauh. Jeonghan mengetahui perasaan putranya lebih dari apapun. Ia bersyukur bahwa ia setidaknya sosok yang dapat mengimbangi Seungcheol dalam mendidik anak-anaknya. Mata Jeonghan berkabut ketika melihat bagaimana Mingyu berdiri di sana dengan sedih sembari mengeratkan tangannya pada tas ranselnya. Kaki jenjang Jeonghan berjalan perlahan mendekati anaknya. Pakaian putihnya ikut bergerak mengikuti sepoian angin yang masuk melalui celah jendela.
Jeonghan memeluk putranya dari belakang dan mencium kepala lelaki yang tingginya hampir menyaingi dirinya itu. Harum bunga yang cukup familiar bisa Mingyu rasakan ketika Jeonghan memeluk dirinya dengan erat.
“Manda..” bisik Mingyu sembari menutup matanya. Ia tidak bisa menangis. Ia hanya bisa memanggil sosok yang melahirkannya ketika rasa gundah muncul di hatinya.
“Sayangnya Manda,” ujar Jeonghan. “Manda di sini, Mas. Manda sama Mas.”
Mingyu butuh Manda-nya. Mingyu butuh Jeonghan di setiap waktu.
“Istirahat, Pak,” ujar salah satu ajudannya yang kini menatap Seungcheol dengan khawatir. Seungcheol melirik jam dinding di ruang kerjanya. Sudah pukul sepuluh dan ia seharusnya sudah beristirahat di tempat tidurnya.
“Permasalahan bantuan operasional dari pemerintah pusat ke sekolah-sekolah kita lanjutkan besok aja, Pak,” ujar ajudannya yang lain. “Besok juga bapak rapat sama beberapa orang dari dinas.”
“Iya,” jawab Seungcheol. Ia mengusak wajahnya sebentar kemudian tersenyum pada ajudan-ajudannya. “Enggak mudah jadi orang penting yah?” tanya pria itu pada orang-orang yang bekerja untuknya.
“Enggak mudah, Pak,” jawab salah satu lelaki bertubuh tinggi yang menatapnya dengan khawatir. “Tapi, kalau bapak paksa bisa-bisa bapak sakit dan enggak maksimal dalam menjalani tugas ini.”
Seungcheol mengangguk dan menutup laptopnya. Ia menatap ajudan-ajudannya yang juga bekerja di dekatnya. “Iya. Kalian juga istirahat aja. Besok kan harus pagi di sini.”
Mereka mengangguk dan bersiap untuk kembali ke rumah mereka ketika Seungcheol memerintahkan mereka hal tersebut.
“Soonyoung,” panggil Seungcheol pada salah satu ajudannya yang berada di sana.
“Iya, Pak?"
“Mas sama Adek udah istirahat kan?” tanya Seungcheol. “Mereka udah makan? Mas udah selesai les tambahannya? Adek juga udah tidur kan?”
“Sudah, Pak,” jawab Soonyoung dengan tersenyum. “Mas Mingyu kayaknya masih di kamar untuk persiapan ujian, tapi sebentar lagi dia istirahat. Adek Seungkwan juga udah istirahat. Sempat kecapean tapi udah dimasakin sup hangat supaya sehat lagi.”
Seungcheol mengangguk dan berdiri dari tempat duduknya. Ia menatap ajudan-ajudannya yang sudah bersiap pulang.
“Hati-hati di jalan,” ujar Seungcheol. Semuanya mengangguk dan meninggalkan ruangan Seungcheol kecuali Soonyoung yang masih berada di dekat Seungcheol.
“Makan dulu sebelum tidur. Saya mau check anak-anak dan tidur juga,” ujar Seungcheol. Soonyoung mengangguk.
“Saya belum mau tidur, Pak. Mungkin begadang dulu sebentar,” tambah Soonyoung.
“Nonton bola ya?”
Soonyoung menunjukan deretan giginya. Seungcheol terkekeh dan menepuk bahunya. “Asal jangan lupa tidur.”
“Siap, Pak. Selamat istirahat, Pak.”
Seungcheol mengangguk dan berjalan keluar dari ruangannya. Membiarkan Soonyoung mematikan semua listrik dan lampu ruangannya. Soonyoung adalah ajudan kepercayaannya. Ia memberikan satu kamar dengan fasilitas di belakang rumah mereka untuk Soonyoung. Ia tahu dirinya yang kini mengemban tugas sebagai wali kota perlu perlindungan khusus dari ajudan-ajudannya dan Soonyoung adalah salah satu ajudan terpercayanya bahkan sejak ia belum menjabat sebagai wali kota. Soonyoung yang peka dengan kondisi sekitar dan juga dekat dengan keluarganya. Ia juga berhasil melindungi Seungcheol beberapa kali ketika dirinya hampir dicelakai orang. Ya, Seungcheol menghargai apa yang Soonyoung lakukan untuknya.
Kaki itu berjalan memasuki kamar anak bungsunya. Ia membuka pintu dan tersenyum ketika mendapati Seungkwan kecil yang sudah tertidur di atas tempat tidurnya. Seungcheol berjalan memeriksa jendela kamar anaknya, memeriksa kamera CCTV yang ada di atas dinding, memeriksa suhu air conditioner apakah menyala dengan suhu tak terlalu rendah maupun tak terlalu tinggi, kemudian menatap putra bungsunya yang sudah lelap. Ia duduk di tepi tempat tidur dan mengecup dahinya.
“Ayah dan Manda sayang sekali sama Adek,” bisik Seungcheol.
Sebelum meninggalkan kamar, Seungcheol juga sempat melirik beberapa poster yang tertempel di dinding kamar anak bungsunya. Poster anatomi tubuh manusia dan juga hewan. Seungcheol tahu anak bungsunya ini pintar dan ingin tahu banyak hal. Ia akan mendukung apapun yang Seungkwan sukai.
Setelah itu ia berjalan dengan perlahan dan menutup kamar Seungkwan. Tak jauh dari sana ia bisa melihat pintu lain yang tertutup. Seungcheol berjalan menuju kamar itu. Sebelum ia membuka pintu itu, ia menghela nafas dan bersiap untuk mendorong pintu kayu itu. Seungcheol termenung ketika mendapati anak sulungnya tertidur di atas meja belajarnya dengan lampu meja yang masih menyala. Ia berjalan masuk lalu mendekati Mingyu dan menepuk pelan bahunya.
“Mas?” panggil Seungcheol. “Mas, tidur di tempat tidur.”
Mingyu merasakan sentuhan itu dan membuka matanya. Ia menegakan tubuhnya dan mendapati sang ayah yang tengah menatapnya dengan lembut.
“Mas, tidur di tempat tidur. Lanjutin lagi besok belajarnya.”
Mingyu tidak menjawab. Ia bangkit dari tempat duduk dan menoleh sebentar untuk melihat sang ayah yang sedang merapikan bukunya. Mingyu terlalu mengantuk dan letih. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memilih untuk melanjutkan istirahatnya yang tertunda. Seungcheol dengan susah payah membetulkan posisi tidur anaknya. Menggeser tubuhnya hingga Mingyu berbaring dengan posisi yang benar. Ia menarik selimut dan menyelimuti tubuh putranya yang sudah memasuki usia remaja.
“Ayah,” panggil Mingyu. Seungcheol hanya berdeham. Ia mulai memeriksa jendela kamar Mingyu, kamera CCTV juga suhu air conditioner di kamar anaknya. Tiga hal tersebut sudah menjadi hal yang biasa ia lakukan setiap malam ketika mendatangi kamar anak-anaknya.
“Kenapa, Mas?”
“Kenapa Ayah enggak tidur?”
“Ayah ini mau tidur tapi mau check kamu sama Adek dulu,” ujar Seungcheol. Setelah selesai memeriksa semuanya, Seungcheol duduk di tepi tempat tidur Mingyu dan menatap putranya. Mingyu membalas tatapan Seungcheol dengan kedua matanya yang gelap. Meskipun Seungcheol menyadari bahwa putranya ini mirip dengannya tetapi ia tidak bisa menyangkal bahwa gen Jeonghan yang luar biasa menurun pada Mingyu dan juga Seungkwan.
“Kenapa, nak?”
Mingyu menggelengkan kepalanya dan menutup kedua matanya. Seungcheol tersenyum dan mengelus rambut anaknya kemudian mengecup dahinya.
“Ayah sama Manda bangga enggak sama Mas?” tanya Mingyu sembari menatap Seungcheol. Sang ayah tersenyum dan mengusak rambut hitam anaknya.
“Bangga. Ayah sama Manda bangga punya Mas di hidup Ayah dan Manda. Ayah sama Manda juga bangga punya Adek yang lahir setelah Mas.”
Mingyu tersenyum tipis mendengar apa yang ayahnya katakan. Ia tahu ayahnya selalu berkata jujur tiap kali Mingyu menanyakan hal ini. Ia tidak pernah berbohong.
“Tidur yang nyenyak, Mas,” ujar Seungcheol.
Setelah itu Seungcheol berjalan menjauhi tempat tidur Mingyu dan sempat melirik biola yang berdiri kokoh di samping lemari pakaian anaknya. Setelah itu ia berjalan keluar dan menutup pintu kamar anaknya. Memilih menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan tertidur di atas tempat tidurnya.
Tempat tidurnya bersama Jeonghan.
Seungcheol benci sekali ketika ia melihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana Jeonghan membalas sapaan rekan-rekannya di jajaran pemerintahan daerah. Ia muak ketika Jeonghan tersenyum pada mereka dan tertawa ketika beberapa orang itu memuji Jeonghan. Seungcheol tak bodoh untuk tahu bahwa beberapa dari mereka menginginkan Jeonghan untuk dijadikan selingkuhan maupun pasangan ke dua dalam pernikahan mereka. Atau memangnya Seungcheol tidak tahu pikiran-pikiran kotor mereka yang hanya berani membayangkan kemolekan Jeonghan di balik pakaian tertutup yang selalu Jeonghan pakai? Mereka semua hanyalah sekumpulan monster kurang ajar penuh nafsu yang tak tahu diri. Sekalipun mereka tahu bahwa Seungcheol punya kuasa tetapi mereka berani bersikap seperti itu.
Tolol pikir Seungcheol. Apa mereka buta? Apa mereka tidak bisa melihat bahwa Seungcheol adalah suaminya?
Ia berjalan dengan tenang mendekati Jeonghan dan ketika ia sudah berada di samping suami cantiknya, Seungcheol ikut tersenyum menanggapi apa yang kedua lelaki berperut buncit itu bahas dengan Jeonghan. Meskipun ia tidak mengerti.
“Sayang, katanya mereka baru pulang dari Swiss. Di sana ada Pak Presiden juga,” ujar Jeonghan dengan senyum berkembang. Seungcheol mengangguk-angguk. Mencoba untuk bersikap profesional.
“Ya. Bagus kalau begitu,” ujar Seungcheol. Tak lama kedua orang itu pergi dan meninggalkan Jeonghan juga Seungcheol. Lengan Seungcheol melingkar di pinggang Jeonghan dan kepalanya ia dekatkan pada bibir Jeonghan.
“Lama-lama aku lihat kamu kaya pelacur,” bisik Seungcheol. “Berani kamu ketawa sama orang lain disaat suami kamu ada di dekat kamu hm.”
Di situ Jeonghan hanya bisa mengatupkan bibirnya dan merasakan bahwa Seungcheol yang kini berada di sampingnya adalah Seungcheol dengan versi terburuk yang pernah Jeonghan kenal selama belasan tahun mereka membina rumah tangga.
Lelaki yang hampir menginjak kepala lima itu membuka pakaiannya dan memasuki kamar mandinya. Meskipun ia sudah tak muda lagi tapi tubuhnya masih sempurna. Otot-otot itu masih terbentuk dengan baik. Apabila ia berbual mengenai usianya pun pasti semua orang akan percaya.
Ia melangkahkan kakinya tepat di bawah pancuran air. Menarik keran itu dan membiarkan air dingin melingkupi tubuhnya. Kedua tangan kekarnya menumpu pada dinding dan membiarkan air dingin itu membasahi punggungnya. Ia menghela nafasnya ketika menyadari bahwa tubuhnya letih sekali. Satu hari penuh ia menghabiskan waktunya untuk duduk di ruang kerjanya dan berkutat dengan semua kewajibannya sebagai wali kota baru di kotanya. Seungcheol tidak ingin mundur, tapi ia letih. Letih sekali. Ia tahu ketika letih seperti ini hanya ada sepasang tangan yang akan memijat bahunya, mengelus lembut lehernya dan memeluknya.
“Jeonghan,” bisik Seungcheol.
Bisikan itu seolah dapat didengar oleh sosok lain yang kini memasuki kamar mandi. Menatap suaminya yang tengah membasahi tubuhnya tanpa bergerak sedikitpun. Jeonghan melepas pakaiannya sehingga kini ia dan Seungcheol sama-sama tak berpakaian. Jeonghan mulai bergerak untuk masuk di antara tubuh Seungcheol dan dinding. Ia mengalungkan tangannya di leher Seungcheol dan mencium bibir dingin suaminya. Jeonghan tersenyum ketika kedua mata itu terbuka meskipun bibirnya tak membalas ciuman Jeonghan. Dengan menggoda ia mengelus leher suaminya, turun ke dada dan ke kejantanannya yang mulai berdiri. Tangan halus itu bergerak untuk mengurut milik Seungcheol yang besar.
“Seungcheol,” bisik Jeonghan. “Pakai tubuh aku, sayang. Pakai tubuh aku sampai kamu puas.”
“Jeonghan,” lenguh Seungcheol sembari mengelus penisnya yang mulai menegang di bawah siraman air. Jeonghan membantu pergerakan tangan suaminya. Ia mencium bibir Seungcheol dan ikut menggerakan tangannya di penis keras itu. Jeonghan tak merasa terganggu dengan air yang membasahi tubuh mereka.
Seungcheol dapat mencium aroma harum bunga dari tubuh Jeonghan. Seungcheol tahu ini aroma Jeonghan dan ia merindukan aroma ini. Ia semakin mempercepat gerakan tangannya dengan menggengam penisnya dan mencoba mencari kenikmatan dengan itu. Jeonghan meraih penis Seungcheol dan mengapit penis itu di antara selangkangannya. Meskipun penis itu tidak masuk ke lubang vaginanya tapi Jeonghan cukup puas ketika penis itu ia jepit dengan vaginanya.
“Seungcheol… ahh..” lenguhnya dengan manja. Ia bisa mendengar suara kulit dan kulit yang mereka ciptakan. Seungcheol mempercepat gerakan tangan dan pinggangnya. Ia menutup matanya sebelum dirinya menuju pencapainnya.
“Keluarin, sayang,” bisik Jeonghan di telinga Seungcheol. “Meskipun kamu enggak masuk ke lubang aku tapi keluarin sayang.”
Seungcheol semakin cepat menggerakan pinggangnya sedangkan Jeonghan melenguh dan memainkan putingnya yang tidak Seungcheol sentuh sedikitpun. Ketika Seungcheol menembakan sperma-nya, Jeonghan tersenyum puas meskipun masih tetap mengeratkan jepitan pahanya. Ia mengalungkan tangannya di leher Seungcheol dan mengecup bibir suaminya.
“Manda..Manda,” ucapan ini berulang kali Seungcheol katakan ketika ia mendapatkan pelepasannya.
“I love you, Seungcheol,” bisik Jeonghan. “Aku cinta kamu.”
Jeonghan tidak tahu ia akan dibawa ke mana. Yang jelas ia dengan ikhlas menerima apa yang akan suaminya lakukan ketika beberapa jam lalu suaminya mendapati dirinya mengobrol dengan rekan kerjanya. Jeonghan berani bersumpah ia tidak pernah sedikitpun berpikir untuk berpaling pada lelaki lain. Seungcheol satu-satunya lelaki di hidupnya dan ia tidak akan pernah mau mengkhianati suaminya.
Pikiran Jeonghan berkelana ke masa-masa di mana dirinya dan Seungcheol hanyalah pasangan yang menikmati semuanya dengan baik. Ia dan Seungcheol sudah cukup lama menjalani pernikahan mereka tetapi Seungcheol berubah ketika posisinya semakin tinggi. Air mata Jeonghan membasahi kain penutup matanya malam itu. Tubuhnya Seungcheol gendong dan entah ke mana suaminya itu bawa. Jeonghan sudah pasrah. Ia tidak mau melawan karena ia tahu ketika ia melawan, monster di dalam tubuh suaminya akan bangun.
Di dalam gendongan suaminya, Jeonghan bisa merasakan angin dingin yang menusuk tubuhnya. Ia bisa merasakan tubuh bagian atas suaminya yang tak berpakaian bergesekan dengan tubuhnya yang berbalut kimono sutra. Beberapa saat kemudian, Seungcheol mendudukan Jeonghan di atas sesuatu yang kasar, dingin dan basah. Jeonghan menyadari bahwa itu adalah rumput. Ia menahan desahannya ketika sesuatu yang dingin itu menggelitik klitorisnya dan membuatnya basah.
“Ah!”
Pekikan itu keluar dari bibirnya ketika Seungcheol membuka paksa kimononya dan angin dingin menusuk tubuh polosnya yang tak tertutupi apapun. Jeonghan sedikit was-was ketika ia menyadari bahwa ia mungkin berada di taman belakang milik keluarga mereka. Jeonghan takut para pelayan dan pekerja rumah mereka melihat hal ini. Terutama anak-anaknya. Jeonghan tidak mau anak-anaknya melihat Manda mereka dalam posisi seperti ini. Seungcheol membuka penutup mata Jeonghan dan melemparkannya ke atas rumput. Jeonghan memicing sebentar sebelum membuka seluruh matanya. Ia meneguk ludahnya panik ketika ia mendapati dirinya berada di atas rumput kebun belakang mereka, seperti apa yang ia bayangkan. Di hadapannya, Seungcheol berdiri dengan hanya menggunakan celana kain. Jeonghan beringsut menuju pohon dan menundukan kepalanya.
“Aku buat salah apa?” tanya Jeonghan dengan sedih. Seungcheol terkekeh dan berjalan mendekati Jeonghan. Ia masih tetap berdiri dan dengan wajah meremehkannya, ia mematahkan satu ranting dari pohon yang berada di dekat mereka.
“Kamu enggak sadar kalau mereka itu liatin badan kamu dari awal acara?” tanya Seungcheol dengan nada meremehkan. “Kamu enggak sadar kalau mereka itu pengen banget minum dari susu kamu padahal Seungkwan aja lebih butuh susu kamu sekarang.”
Jeonghan menutup tubuh bagian atasnya. Ia ingat bahwa Seungkwan masih berusia satu tahun dan membutuhkan ASI nya dan malam ini Seungcheol membawa nama anak bungsunya dalam pembicaraan mereka.
“Aku enggak pernah sekalipun mau selingkuhin kamu, Cheol! Berapa kali aku bilang aku enggak pernah ada niat kaya gitu!”
Seungcheol menampar pipi Jeonghan hingga pasangannya itu tertelungkup di atas rumput. Seungcheol tidak peduli ketika Jeonghan memekik dan menangis. Ia menarik wajah cantik itu dan menekan wajah Jeonghan. Memaksa Jeonghan untuk menatapnya.
“Kamu enggak tahu kan mata jelalatan itu bayangin bisa jadi aku dan lakuin ini ke kamu?” tanya Seungcheol sembari tangan kanannya bergerak meremas dada Jeonghan dan memainkan puting merah mudanya hingga satu tetes air susu keluar.
“Nggh..”
Jeonghan merasakan tubuhnya dilecehkan. Apalagi ketika Seungcheol dengan kasar memainkan jarinya di putingnya dan meremas dadanya dengan kasar hingga air susu itu memancar ke luar. Jeonghan bergerak gelisah tetapi Seungcheol lebih kuat darinya. Jeonghan seharusnya tahu itu bahwa suaminya jauh lebih kuat dari pada dirinya.
“Seungcheol, please— udah..”
"Mereka pingin kawinin lubang kamu pakai jari mereka," ujar Seungcheol dengan nada bengis.
Seungcheol tidak berhenti. Ia menarik tangannya dan menunjukan satu ranting kecil di tangannya. Jeonghan tahu apa yang suaminya akan lakukan. Ia memainkan ranting itu di puting Jeonghan hingga puting itu sedikit lecet dan perih. Ia membayangkan nanti Seungkwan ketika menyusu padanya pasti perih sekali.
“Seungcheol..”
“Kamu mau desah sekeras apapun tenang aja. Aku udah suruh semua pelayan tidur dan jangan pernah keluar sebelum aku suruh,” bisik Seungcheol. Jeonghan menggigit bibirnya dan menekan jarinya di pahanya hingga memerah.
Seungcheol menggerakan ranting itu semakin ke bawah hingga menuju vagina Jeonghan yang bergesekan dengan rumput. Rasanya aneh sekali ketika bagian sensitif itu bergesekan dengan rumput. Bagi Jeonghan ini sedikit sakit, namun juga nikmat. Apalagi ketika rumput-rumput itu menggelitik klitoris-nya.
“Buka kaki kamu,” perintah Seungcheol. Jeonghan menuruti keinginan Seungcheol dan membuka kakinya. Seungcheol memainkan klitoris Jeonghan dengan ranting itu. Desahan dan lenguhan terdengar dari bilah bibir Jeonghan. Apalagi ketika Seungcheol memasukan ranting itu ke dalam lubang kawinnya yang sudah basah.
“Seungcheol! Ahh! Sakit! Sakit banget!” teriak Jeonghan. Seungcheol tahu Jeonghan bohong. Ia menikmati hal itu namun ia ingin terlihat kesakitan di hadapan Seungcheol. Tangan kekar Seungcheol semakin cepat memainkan ranting itu di dalam lubang Jeonghan. Menikmati bagaimana lenguhan dan desahan kekasihnya dapat ia dengar malam itu. Apalagi wajah kenikmatan Jeonghan yang bisa ia lihat di bawah sinar rembulan. Ranting kering dan keras itu dengan cepat bergerak memasuki lubang vagina Jeonghan yang basah dan licin.
Seungcheol menikmati bagaimana ekspresi Jeonghan malam itu. Ekspresi kenikmatan itu hanya milik Seungcheol. Bukan orang lain. Tak ada yang bisa memiliki Jeonghan. Hanya dia.
Tamparan keras Seungcheol berikan lagi pada Jeonghan. Lelaki cantik itu meringis dan menatap Seungcheol dengan sedih. Air matanya kembali menetes. Menyadari bahwa suaminya bertindak begitu kasar padanya malam ini. Seungcheol membuang ranting itu, menurunkan celananya dan menunjukan penis besarnya yang sudah basah pada Jeonghan. Seungcheol menyeringai dan menarik kaki Jeonghan agar lelakinya itu bisa berbaring di atas rumput. Tangan Seungcheol kembali mencengkram leher Jeonghan dan menekannya ke rumput.
“Seungcheol, please. Jangan — aaargh!”
Jeonghan seakan dibelah dua ketika Seungcheol memasukan penisnya dengan kasar ke dalam lubangnya. Suaminya itu mengaduk lubangnya dengan keras dan tak membiarkan Jeonghan melawan sedikitpun. Ketika Jeonghan berusaha bergerak, Seungcheol akan menampar pipinya dan mencekik lehernya. Jeonghan merasa kotor dan menjijikan sekalipun Seungcheol adalah suaminya. Ia merasa tak berharga ketika Seungcheol memperlakukannya sebagai budak seks. Lubangnya yang lecet bahkan sudah tak ia pedulikan. Ia hanya ingin lepas dari cengkraman suaminya. Ia sudah tak menikmati lagi persetubuhan ini. Bahkan hingga beberapa kali Seungcheol menyetubuhinya dalam berbagai posisi.
Dari mulai ia memerintah Jeonghan untuk naik ke atas tubuhnya, Jeonghan yang harus bergerak di atas tubuhnya sedangkan ia memilih duduk di atas kursi di taman mereka, dan yang terakhir yang berhasil membuat Jeonghan menangis adalah ketika Seungcheol membalikan tubuh Jeonghan agar merapat ke pohon dan ia menyetubuhi Jeonghan dari belakang. Jeonghan meringis ketika dadanya bergesekan ke pohon. Membuat putingnya lecet karena kulit pohon. Apalagi ketika air susunya keluar. Jeonghan menangis melihat itu.
“Arghh — Jeonghan! Jeonghan!” teriak Seungcheol ketika ia mengeluarkan sperma-nya di dalam lubang Jeonghan hingga cairan itu mengalir di pahanya. Seungcheol melepas penyatuan mereka dan seketika itu Jeonghan terduduk lemas sembari memegang batang pohon besar itu. Kakinya bergetar dan bekas air mata menghiasi wajahnya. Jeonghan meringis dan menangis. Ia memegangi perut bagian bawahnya yang sakit dan tegang. Nafasnya memburu dan tak beraturan. Sedangkan Seungcheol memakai celananya dan menatap Jeonghan yang terlihat begitu rapuh. Ada setitik perasaan khawatir ketika ia melihat tubuh itu tak bergerak.
Apakah ia terlalu kasar pada Jeonghan?
“MANDA!!”
Teriakan itu terdengar di telinga Seungcheol dan Jeonghan. Seungcheol merutuki pelayan mereka yang lupa untuk mengunci kamar Mingyu. Anaknya yang berusia sepuluh tahun ini pasti terbangun dan mencari Jeonghan. Seungcheol melihat bagaimana Mingyu berlari mendekati Jeonghan dan memeluk Jeonghan. Tangisan itu terdengar di telinga Seungcheol.
“Manda! Manda kenapa, Manda? Manda!” tangisan Mingyu begitu pilu. Jeonghan mencoba tersenyum dan mengelus wajah putranya. Mingyu memeluk tubuh sang manda dan menangis sembari memeluk sosok yang melahirkannya.
“Mas, Manda enggak apa-apa,” ujar Jeonghan dengan lemah. “Tadi Manda jatuh. Manda lagi bantu Ayah di taman.”
“Tapi kenapa Manda enggak pakai baju? Kenapa Manda mukanya biru?” tanya Mingyu sembari menghapus air matanya.
“Manda jatuh, nak. Enggak apa,” ujar Jeonghan. “Mas kenapa bangun?”
“Mas mau tidur sama Manda. Mas mimpi jelek,” ujar Mingyu. Jeonghan tersenyum dan memeluk anak sulungnya.
“Mas, bantu Manda ke kamar,” perintah Seungcheol dengan dingin kemudian meninggalkan Jeonghan dan Mingyu yang masih menangis di pelukan Jeonghan. Lelaki cantik itu tersenyum sedih mendengar ucapan itu keluar dari mulut suaminya. Ia beralih pada Mingyu yang masih menangis sembari menatapnya khawatir.
“Mas, bantu Manda ya. Kaki Manda sakit,” ujar Jeonghan. Mingyu dengan sigap berdiri dan membantu Jeonghan dengan kedua tangannya. Jeonghan tertawa ketika Mingyu berusaha untuk memapahnya ke kamarnya. Meskipun begitu, Jeonghan bersyukur bahwa kelembutan hatinya menurun pada Mingyu.
Perlakuan seperti itu tak hanya terjadi satu kali. Bahkan hal itu terjadi hingga Seungkwan berusia tujuh tahun. Setiap kali Seungcheol merasa cemburu, ia akan menghukum Jeonghan dengan hukuman-hukumannya yang di luar nalar. Hal ini membuat pribadi Jeonghan berubah. Dari seseorang yang senang bersosialisasi menjadi seseorang yang memilih untuk menjauhkan diri dari keramaian.
Ia trauma dan takut pada semua itu. Bahkan ketika Jeonghan sudah melakukan hal tersebut agar Seungcheol puas dan dirinya bisa terhindar dari hukuman-hukuman yang Seungcheol ciptakan, suaminya itu sesekali akan menghukum Jeonghan hanya karena pikirannya yang takut akan kehilangan Jeonghan.
Satu kali di malam ketika Seungcheol baru saja menyetubuhi Jeonghan selama beberapa jam, Jeonghan memilih untuk meringkuk dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Perutnya sakit sekali dan kepalanya pusing. Ia menggigil dan juga merasakan hantaman di perutnya. Seungcheol yang baru saja keluar dari kamar mandi mendapati hal yang aneh terjadi pada Jeonghan.
“Sayang?” tanya Seungcheol sembari menepuk bahu Jeonghan dengan lembut. Yang ditanya tidak memberikan respon dan semakin meringkuk karena perutnya sakit sekali. Tubuh polos tanpa pakaian itu terlihat menggigil dan itu membuat Seungcheol panik.
Ketika Seungcheol mencoba untuk membalikan tubuh Jeonghan, ia kaget karena mendapati ada bercak darah di bawah tubuhnya dan Seungcheol tahu itu berasal dari vaginanya. Dengan cepat Seungcheol mengambil pakaian Jeonghan dan menggendong suaminya lalu membawanya ke rumah sakit. Pendarahan yang diakibatkan trauma pada endometrium nya, itu informasi yang Seungcheol dapat dari dokter malam itu.
“Sayang,” panggil Jeonghan yang terlihat lemah. Seungcheol mendudukan tubuhnya di atas kursi dan menggengam tangan Jeonghan sembari mengecup punggung tangannya.
“Mana yang sakit?” tanya Seungcheol. Jeonghan menggeleng dan tersenyum.
“Aku mau dirawat di rumah aja,” ujar Jeonghan. “Aku enggak mau Mas Mingyu dan Adek enggak lihat aku. Mereka pasti khawatir."
Setelah itu Seungcheol benar-benar mengabulkan keinginan Jeonghan dan membiarkan para tenaga medis mempersiapkan alat-alat agar dapat merawat Jeonghan di rumah mereka. Mingyu si sulung merasa sedih ketika mendapati Manda-nya harus terbaring di atas tempat tidur dengan pucat dan juga infusan di tangannya. Ia memeluk tubuh Jeonghan dan mengecup pipinya. Jeonghan tersenyum dan mengelus wajah Mingyu ketika mendapati betapa lembutnya lelaki mungil ini memperlakukannya.
“Manda, mana yang sakit? Biar Mas pijit,” ujar Mingyu. Jeonghan terkekeh dan mengelus wajah putranya.
“Sakit nya bukan di badan, Mas,” ujar Jeonghan. “Tapi di sini.”
Telunjuk Jeonghan mengarah pada dadanya sendiri. Mingyu mengerti hal itu. Ia menatap mata indah yang biasanya bersinar penuh cahaya, kini meredup seolah tak ada lagi cahaya yang berbinar di mata itu.
“Mas tahu arti cerai, Nda,” ujar Mingyu dengan sedih. “Kenapa Manda enggak cerai aja sama Ayah?”
Jeonghan menghela nafasnya. Ia menatap Mingyu sedih dan menggeleng. “Manda tahu kalau Ayah bukan benci manda. Ayah cuma enggak mau Manda pergi.”
“Tapi, Manda setiap hari kesakitan? Emang Mas enggak tahu kalau setiap hari Manda nangis?” tanya Mingyu dengan marah. Setetes air mata turun di wajah cantik itu. Ia merapikan rambut putranya dan tersenyum.
“Manda ini pusat kekuatannya Ayah, nak. Kalau Ayah jauh dari Manda, Ayah lemah. Ayah cuma punya Manda di hidupnya.”
Mingyu tak mengerti mengapa Manda-nya bersikap kukuh atas apa yang ayahnya lakukan. Mingyu tak mengerti dengan jalan pikir orang dewasa terutama ayah dan manda nya.
Yang juga tak Mingyu mengerti adalah bagaimana sedari tadi adik semata wayangnya berdiri di balik pintu, mendengarkan apa yang kakak dan Manda-nya bicarakan. Tangannya bergerak tak henti sembari memainkan rubik’s cube di tangannya. Sama seperti otaknya yang bekerja keras.
Siang itu satu mobil mewah mendatangi rumah keluarga Choi. Ketika berhenti tepat di halaman besar rumah itu, supir membukakan pintu dan menunduk ketika menyadari siapa yang berada di dalam mobil itu.
“Siang, Mas Joshua,” sapa salah satu pelayan yang menyapa sosok itu di depan pintu rumah mereka. Joshua, sosok itu. Mengangguk dan tersenyum. Mereka tahu bahwa Joshua adalah sosok yang mereka hormati sama seperti Seungcheol, Jeonghan dan juga kedua buah hati mereka di rumah ini.
“Boleh bawain koper saya di dalam bagasi? Nanti langsung bawa ke kamar,” ujar Joshua dengan ramah. “Ada oleh-oleh juga untuk Mas dan Adek. Nanti bawa ke kamar mereka ya.”
“Baik, Mas.”
Joshua berjalan memasuki rumah besar itu dan menyapa beberapa pelayan yang sudah ia kenal. Matanya bergerak menelisik rumah megah ini. Dahulu sebelum ia menghabiskan masa kerjanya di Amerika, ia sering sekali mendatangi rumah ini. Entah untuk waktu yang singkat maupun waktu yang lama. Ia cukup merindukan setiap kenangan dan hal-hal indah di rumah ini. Bagi Joshua, rumah ini menyimpan beribu kenangan dan ia bersyukur bahwa cat juga furniture di rumah ini tidak ada yang berubah. Semuanya masih tetap sama.
“Kak Joshua!” panggil Soonyoung dari lantai dua. Joshua melambaikan tangannya dan tersenyum. Soonyoung berlari ke bawah dan memeluk tubuh itu.
“Pak Seungcheol udah tunggu di atas,” ujar Soonyoung.
“Iya sudah. Aku langsung ke atas ya,” ujar Joshua. Soonyoung mengantarkan sosok itu ke ruang kerja milik Seungcheol sambil sesekali mengobrol tentang kehidupan mereka dan juga hal-hal yang Joshua lupakan selama ia bertahun-tahun tidak menjajakan kakinya di rumah ini. Ketika Joshua memasuki ruangan Seungcheol, sosok bertubuh atletis itu bangkit dan memeluk Joshua.
“Apa kabar adik ipar?” tanya Seungcheol. Joshua terkekeh dan mengangguk.
“Baik. Aku baik!”
“Gimana Amerika? Senang tinggal di sana?” tanya Seungcheol. Joshua mengangguk kemudian melirik salah satu foto yang tersimpan di meja kerja Seungcheol. Sosok cantik yang tengah berpose di balik figura kayu itu. Joshua mengenal sosok itu karena sosok itu adalah belahan jiwanya.
“Baik. Tapi lebih baik lagi kalau aku tinggal di sini dan urus kedua keponakan aku,” jawab Joshua. Senyum Seungcheol memudar. Ia menghela nafasnya dan menatap Joshua.
“Maaf kalau udah ngerepotin kamu,” ujar Seungcheol.
“Enggak masalah sama sekali,” ujar Joshua dengan raut wajah sedih. “Aku sayang mereka sama seperti anak-anak aku sendiri,” ujar Joshua.
“Jeonghan pasti senang kalau tahu kamu datang kesini untuk jaga mereka,” ujar Seungcheol dengan nada sedih.
“Karena itu udah tanggung jawab aku untuk jaga mereka,” ujar Joshua sembari menatap foto yang berada di atas meja kerja Seungcheol. “Janji aku sama dia untuk jaga mereka.”
Tangisan itu begitu pilu. Tangisan kepedihan yang keluar dari bilah bibir Joshua siang itu. Ia menunduk dan menatap air yang beriak di kolam renang milik keluarga Choi. Air matanya menetes di atas literan air di dalam kolam itu seolah menghantarkan pesan pada apapun yang berada di dalam sana. Joshua menatap dasar kolam itu yang terlihat jelas di matanya.
“Kenapa?” bisik Joshua dengan pilu. Ia menutup matanya dan mencoba untuk merasakan perasaan sedih yang menggerogoti hatinya. Begitu perih. Begitu memilukan dan tak terbendung. Ada banyak perasaan berbaur di dalam lubuk hatinya. Mengenai apa yang sudah terjadi, apa yang ingin ia ketahui dan juga kepedihan yang menggerogoti hatinya. Joshua hanya bisa menangis dan meratapi hal tersebut. Seolah sebagian hatinya hilang dan kini ia berjuang sendiri untuk memulihkan kehilangan itu.
“Uncle Jos!”
Teriakan itu memecah kesunyian. Joshua menghapus air matanya dan mendapati kedua keponakannya yang berlari mendekatinya. Senyum Joshua berkembang seraya merentangkan tangannya untuk memeluk kedua keponakannya. Mingyu dan Seungkwan memeluk paman mereka dengan penuh sayang.
“Uncle kangen banget sama kalian!” ujar Joshua. “ Boys, kenapa kalian cepat banget besarnya sih?”
Mingyu dan Seungkwan melepas pelukan mereka dan ikut duduk di samping Joshua sembari tertawa. Joshua menatap Mingyu dan Seungkwan. Menatap mata, hidung, keseluruhan wajah mereka. Seungcheol dan Jeonghan begitu mencintai kedua anaknya hingga anak-anaknya tumbuh persis seperti mereka berdua. Joshua tersenyum membayangkan bagaimana kedua anak ini dicintai sepenuh hati oleh kedua orang tuanya.
“Uncle bakal lama di sini kan?” tanya Seungkwan sembari memajukan kedua bibirnya.
“Uncle bakal di sini sama kalian,” jawab Joshua. “Ini janji Uncle ke Manda kalian. Uncle enggak akan lagi tinggalin kalian.”
Mingyu menoleh pada Seungkwan. Keduanya tersenyum lebar kemudian memeluk Joshua. Bagi Mingyu dan Seungkwan, Joshua bukan hanya saudara kembar dari Jeonghan, Manda mereka. Joshua bukan hanya saja paman bagi mereka. Tapi, Joshua adalah pengganti orang tua mereka. Mingyu dan Seungkwan akan mengadu apapun pada Joshua ketika Seungcheol maupun Jeonghan melarang mereka melakukan sesuatu. Pada akhirnya, baik Seungcheol maupun Jeonghan akan mengalah ketika Joshua menelepon mereka dan meminta mereka untuk mengizinkan Mingyu dan Seungkwan apapun yang mereka mau.
Joshua adalah sahabat mereka.
“Uncle ingat deh waktu Mas Mingyu lahir juga waktu Adek Kwan lahir. Uncle yang gendong kalian dan bantu Manda gantiin popok dan mandiin kalian,” ujar Joshua dengan lembut. Keduanya tersenyum dan menatap Joshua seolah Joshua adalah orang yang berharga di mata mereka selain ayah dan manda.
“Uncle, boleh enggak kalau sore ini kita main ke taman?” tanya Seungkwan dengan ekspresinya yang lucu. Joshua mengernyit dan menatap Seungkwan penuh tanya.
“Taman? Di mana itu, Dek ?”
“Enggak jauh dari sini,” ujar Seungkwan. “Ayah pasti izinin kalau kita pergi sama Uncle Jos.”
“Adek pengen coba melukis di sana, Uncle,” tambah Mingyu.
“Kalau Mas?” tanya Joshua.
“Mas baca buku aja di sana,” jawabnya sambil menunjukan deretan gigi rapihnya. Joshua tersenyum dan menepuk pelan kedua dahi keponakannya itu.
“Okay! Yang penting kalian ganti baju dulu, makan dan istirahat. Nanti sore kita pergi ke taman ya.”
“Asyik!” ujar keduanya dengan senang. Pertanyaan besar muncul di kepala Joshua. Apakah benar kedua keponakannya ini terkekang di rumah besar ini selama ia pergi ke Amerika? Apakah benar firasat Joshua mengenai hal itu ketika terakhir kali Jeonghan meneleponnya? Joshua ingat betul bagaimana suara Jeonghan ketika meneleponnya. Suara yang sedih. Nada bicara yang menggambarkan kepedihan.
“Kalau nanti berenang. Boleh enggak?” tanya Seungkwan lagi. Joshua seraya berpikir kemudian melirik pada kolam renang di hadapan mereka.
“Di sini?” tanya Joshua.
“Di mana aja,” jawab Seungkwan. “Di sini boleh. Di danau yang dekat dari sini juga boleh.”
Joshua terkekeh dan mencium kedua pipi Seungkwan dengan gemas. “Ya boleh dong, Adek! Masa enggak boleh!”
“Uncle bisa berenang?” tanya Mingyu. Joshua mengangguk.
“Tentu aja. Uncle jago loh berenang!”
“Manda enggak bisa berenang. Makanya Ayah selalu larang Manda berenang sama kita,” tambah Mingyu. Joshua tersenyum dan mengelus rambut Mingyu yang tebal. Jeonghan dan Seungcheol menurunkan gen itu pada Mingyu.
“Hm harum,” ujar Joshua ketika hidungnya dengan cepat menghirup aroma bunga yang begitu kuat di sekitar mereka. Ia menutup matanya dan menikmati aroma bunga itu.
“Uncle belum ketemu Manda ya?” tanya Seungkwan. Joshua dengan cepat membuka matanya dan menatap Seungkwan bingung. Ada perasaan kaget, bingung dan khawatir mendengar itu.
“Maksud Adek?” tanya Joshua seolah memastikan apa yang ia dengar tidak salah.
“Iya,” jawab Seungkwan. “Itu Manda!”
Telunjuk kecil itu mengarah pada satu hal di belakang Joshua. Satu-satunya sosok dewasa di situ menghela nafasnya dan menolehkan kepalanya dengan perlahan ke belakang. Air matanya turun ketika mendapati sosok cantik itu tengah berdiri tak jauh dari mereka. Sosok cantik yang tengah menatap Joshua dengan wajah lembutnya. Hati Joshua ikut perih ketika melihat mata itu menutup dan menciptakan satu tetes air mata dari kedua mata indahnya.
“Jeonghan…”
Mata Joshua memandang kagum bayi kecil yang berada dalam pelukan Jeonghan. Bayi laki-laki berpipi bulat yang menggemaskan. Rona merah tercipta di pipi itu. Bola matanya bergerak untuk menatap Jeonghan yang menatap sosok kecil itu dengan penuh cinta. Di dekat Jeonghan terbaring seorang anak lelaki berambut hitam yang memeluk pinggang Jeonghan dengan erat.
“Mas Mingyu mau dipindahin aja ke kamarnya enggak?” tanya Joshua. Jeonghan melihat Joshua kemudian menoleh pada putra sulungnya.
“Enggak usah. Dia tadi malam ikut begadang nunggu aku nyusuin Adek,” ujar Jeonghan sembari terkekeh dan mengelus rambut anak sulungnya.
“Adek udah tidur?” tanya Joshua. Jeonghan melirik bayi kecilnya dan mengangguk.
“Udah,” jawab Jeonghan. “Mau di simpan di box?”
“Sini sama aku,” ujar Joshua. Jeonghan memberi satu kecupan di dahi bayi kecilnya kemudian dengan perlahan Joshua mengambil alih Seungkwan kecil dari pelukan sang manda. Joshua menimang sesaat bayi itu kemudian menyimpannya di box bayi yang terletak tak jauh dari tempat tidur Jeonghan. Joshua duduk di tepi tempat tidur dan merapikan rambut Jeonghan.
“Kamu belum keramas dari dua hari lalu. Aku bantuin ya? Aku udah beli paket perawatan rambut dan juga body scrub untuk kamu,” ujar Joshua.
“Enggak perlu repot. Aku mandi biasa aja,” respon Jeonghan. Joshua menggeleng dan menepuk punggung tangan saudara kembarnya.
“Beberapa hari ini semua orang fokus sama bayi,” ujar Joshua. “Enggak ada yang fokus untuk tanya kabar kamu, kondisi kamu, dan perasaan kamu. Sekarang mumpung aku masih di sini, aku mau kamu diperhatiin.”
Jeonghan tersenyum penuh haru. Ia ikut menepuk punggung tangan Joshua dan menatap saudara kembarnya itu dengan lembut.
“Terima kasih, ya. Kamu selalu baik sama aku,” ujar Jeonghan. “Terima kasih udah jadi sosok uncle yang sayang sama kedua keponakannya dan anggap mereka anak sendiri.”
“Aku semakin dewasa semakin sadar kalau hidup aku ya hanya untuk keluargaku. Kamu dan anak-anak kamu adalah keluargaku,” tutur Joshua sembari menatap Jeonghan dengan lembut. Sosok yang baru saja melahirkan putra bungsu mereka menarik tubuh Joshua dan memeluknya dengan erat. Joshua membenamkan wajahnya di leher Jeonghan, mengelus punggung saudara kembarnya dengan lembut.
“Kalau nanti aku enggak ada. Aku tahu siapa yang bakal aku percaya untuk jaga mereka.”
Joshua mencium bahunya dan mengeratkan pelukannya. Sudah lama mereka tidak saling memeluk. Joshua dan Jeonghan satu sama lain merindukan interaksi seperti ini. Terakhir Jeonghan memeluk Joshua adalah ketika pernikahannya dengan Seungcheol dan kini ia merindukan pelukan itu.
“Sayangi diri kamu. Karena kalau kamu pergi dunia hanya kehilangan satu mahluknya,” ujar Joshua. “Tetapi anak-anak kamu kehilangan dunia mereka.”
Suara tamparan keras terdengar di ruang makan malam itu. Tak ada satupun orang yang berani mengangkat kepala mereka ketika mendengar hal itu. Suara yang sudah biasa terdengar di rumah megah itu. Seungkwan yang duduk di kursinya menatap takut juga sedih atas apa yang ia lihat di hadapannya. Ia beringsut mundur dan menundukan kepalanya, menatap makan malamnya dengan tak nafsu.
“Kamu ngomong apa tadi Mas?” tanya Seungcheol dengan penuh amarah. “Siapa yang ajarin kamu ngomong begitu sama Ayah?”
Mingyu menghela nafasnya dan menatap Seungcheol dengan berani. Seungcheol bersumpah ia telah membesarkan sosok keras yang sama seperti dirinya dan kini hal itu menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
“Sama kan? Manda juga sama! Manda dikekang hanya karena keegoisan Ayah—”
Ucapan Mingyu terpotong ketika Seungcheol kembali menampar keras pipi anaknya hingga Mingyu terjatuh di lantai. Mingyu dengan tegar kembali menatap Ayah-nya meskipun posisinya berada di lantai dan kesakitan. Bukan hanya pipinya yang sakit tetapi hatinya juga sakit ketika menyadari bahwa sang Ayah telah menorehkan luka yang cukup dalam di hatinya. Joshua yang baru saja datang melihat hal itu. Ia berlari dan memeluk Mingyu yang terduduk di lantai.
“Mas!” panggil Joshua dengan khawatir. “Seungcheol?! Apa maksudnya sih?! Ini kamu tampar dia memang enggak ada cara lain apa untuk selsein masalah?” tanya Joshua dengan marah.
Seungcheol menatap Mingyu dengan bengis kemudian dengan cepat meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju ruang kerjanya. Joshua meringis ketika Mingyu memegang pipinya sendiri.
“Bilang sama Uncle udah berapa kali ayah kamu tampar kamu kaya gini?” tanya Joshua dengan khawatir. Mingyu tetap diam dan tidak menjawab. Ia memilih menunduk seolah tak ingin menatap Joshua.
“Mas Mingyu, Uncle tanya!”
Keterdiaman Mingyu seolah menjawab semuanya. Joshua menghela nafasnya dan memeluk keponakannya itu. Seungkwan berusaha turun dari tempat duduk dan ikut memeluk kakaknya.
“Mulai sekarang enggak ada lagi yang berani nyakitin keponakan-keponakan Uncle. Kalau ada apa-apa kalian harus cerita sama Uncle. Ngerti?” tanya Joshua dengan sedih. Mingyu dan Seungkwan mengangguk kemudian memeluk Joshua.
Tanpa mereka sadari sosok Jeonghan kembali hanya bisa berdiri di sana. Memandang ketiganya dengan sedih. Tak ada yang bisa ia lakukan kali ini. Sekalipun hatinya ikut sakit ketika menyadari bahwa suaminya telah melukai putra sulungnya.
Mas Mingyu, maafin Manda. Maafin Manda yang enggak bisa melakukan apa-apa.
“Kenapa kalian mau tidur di sini?” tanya Jeonghan kaget ketika ia baru saja kembali dari kamar mandi dan mendapati Mingyu juga Seungkwan - si kecil yang baru saja berusia tiga tahun - sudah berbaring di tempat tidur milik dirinya dan Seungcheol. Sang suami hanya tersenyum dan mengusak rambut kedua putranya dengan gemas.
“Katanya di luar hujan. Mereka takut ada petir,” jawab Seungcheol.
Mingyu dan Seungkwan terkekeh ketika sang ayah menjadi juru bicara untuk mereka. Jeonghan menepuk sisi tempat tidur kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dengan penuh cinta ia mengecup pipi kedua anaknya dengan gemas.
“Anak-anak Manda kenapa cepet banget sih gede nya hm? Bayi lagi aja yuk terus masuk ke perut Manda,” ujar Jeonghan sembari terkekeh. Seungkwan si bungsu bergerak mendekati Jeonghan dan memeluk leher sang Manda dengan manja.
“Cium, cium!” pintanya. Jeonghan dengan tak ragu memeluk tubuh kecil itu dan memberi hujan ciuman di wajahnya. Seungcheol menutup pintu dan mematikan lampu kemudian menyalakan lampu remang di kamar mereka. Ia tak lupa memastikan air conditioner menyala dengan suhu yang pas bagi ketiga anggota keluarganya. Sang ayah ikut berbaring di samping Mingyu dan memberi kecupan di kedua pipi anak-anaknya.
“Ayah, lusa jadi kan Ayah datang ke sekolah Mas?” tanya Mingyu. Seungcheol menatap Jeonghan seolah meminta jawaban atas pertanyaan anaknya. Jeonghan mengangguk.
“Iya. Ayah datang,” jawab Seungcheol. “Kan Ayah mau lihat Mas di acara sekolah.”
Mingyu tersenyum dan memeluk sang ayah. Jeonghan memandang keduanya dengan penuh cinta. Ia melirik Seungkwan yang masih membuka matanya, menatap Jeonghan dengan kedua mata bundarnya.
“Tidur ya. Udah malam,” ujar Jeonghan. “Besok Mas kan harus sekolah. Adek juga besok kan harus pergi ke play group."
“Kenapa sih Adek harus sekolah?” tanya Seungkwan. Seungcheol tersenyum dengan gemas kemudian mencubit hidung putra bungsunya.
“Supaya pintar,” jawab Seungcheol. “Anak-anak Ayah dan Manda kan pintar semua.”
Mingyu menatap kedua orang tuanya dengan kedua mata yang diturunkan dari Seungcheol. Jeonghan menyadari hal itu. Ia menatap putra sulungnya dan mengelus rambutnya.
“Kenapa Mas?” tanya Jeonghan.
“Ayah sama Manda bangga enggak sama Mas?” tanya Mingyu. Seungcheol mencium dahi anaknya dan mengusak rambutnya dengan gemas.
“Bangga dong! Kalian kan anak-anak Ayah dan Manda! Mas yang paling hebat di mata Ayah dan Manda!” jawab Seungcheol. Senyum Mingyu melebar mendengar jawaban itu.
“Kalau Ayah sama Manda bangga enggak sama Adek?” tanya Seungkwan. Kedua orang tuanya terkekeh mendengar pertanyaan itu dari mulut si bungsu. Seungkwan belum mengerti apa itu bangga tetapi ia mendengar kakaknya bertanya hal itu. Ia tidak mau kalah dan ingin mendapatkan jawaban yang sama seperti sang kakak.
“Bangga banget! Ayah sama Manda bangga punya Adek! Anak Ayah sama Manda yang paling pintar dan paling bagus gambarnya!” jawab Jeonghan.
Keempat orang berbeda usia tersebut tertawa. Menikmati waktu penuh kasih yang mereka ciptakan. Mingyu yang pertama menutup matanya karena ia sudah mengantuk sekali. Disusul Seungkwan yang memeluk Jeonghan ketika tidur. Seungcheol dan Jeonghan memperhatikan anak-anak mereka yang terlelap. Ketika mereka sudah tidur dengan nyenyak, Seungcheol mengecup dahi Mingyu dan Seungkwan kemudian bangkit dari tempat tidur.
Ia menyimpan bantal di sisi tempat tidur agar Mingyu tidak jatuh. Ia juga menggeser tubuh Seungkwan agar bisa tidur di dekat kakaknya. Sedangkan Jeonghan hanya bisa terkekeh melihat apa yang suaminya lakukan. Jeonghan bersyukur tempat tidur mereka luas sehingga ketika dua anaknya ikut berbaring di sana mereka tidak merasa sempit. Seungcheol berbaring di samping Jeonghan, menatap cintanya dengan penuh kagum. Jemarinya mengelus wajah itu kemudian mengecup bibirnya. Jeonghan tersenyum dan menaruh tangan kanannya di leher Seungcheol.
“Tadi anaknya yang minta peluk sekarang Ayah mereka ya?” tanya Jeonghan. Seungcheol meraih tangan Jeonghan dan mengecup punggung tangannya dengan mesra.
“Aku sayang kamu,” ujar Seungcheol. “Terima kasih, Hani. Kamu udah lahirin anak-anak yang luar biasa. Makasih kamu udah berjuang untuk mereka.”
“Kamu juga punya peranan untuk itu, Seungcheol,” ujar Jeonghan. “Kamu ayah terbaik yang mereka punya. Aku sayang kamu, Seungcheol. Aku sayang kamu.”
Seungcheol yang memulai semuanya. Ia menarik leher Jeonghan dan mencium bibirnya dengan lembut. Tangannya bergerak untuk melepaskan celana dalam Jeonghan dan melemparkannya ke lantai. Ia juga mengarahkan tangan Jeonghan untuk mengelus penisnya yang keras di bawah sana. Jeonghan menahan desahannya karena ia tak mau membangunkan kedua anaknya. Apalagi ketika jemari kasar suaminya mulai membuka lubang vaginanya dan menancapkan jarinya di dalam sana. Malam itu mereka kembali bersetubuh di kasur yang sama dengan anak-anaknya.
Jeonghan memasuki kamar Mingyu. Beberapa menit lalu ia bisa mendengar lantunan biola yang Mingyu mainkan. Jeonghan tahu betul bahwa anak sulungnya tengah kalut dan bersedih. Biola adalah cara yang Mingyu pakai untuk melepaskan rasa sedih itu.
Ia tersenyum sedih melihat anak sulungnya tertidur di atas meja belajarnya. Netranya bergerak memperhatikan anak sulungnya yang setiap hari tumbuh serupa dengan suaminya. Jeonghan mendekatkan tubuhnya pada Mingyu, berlutut di samping anak tertuanya. Tangannya bergerak mengelus rambut tebal itu. Menyisiri rambut bersinar yang sejak bayi sudah ada menghiasi bagian kepalanya. Jeonghan mengecup pelipisnya dan menatap Mingyu dengan penuh cinta.
Manda sayang sekali sama mas. Manda sedih sekali melihat mas tersiksa.
Jeonghan kembali menangis. Ia memeluk tubuh putranya dan mencium kepalanya. Air matanya jatuh, membasahi piyama Mingyu yang terbuat dari kain sutra.
Maaf, Mas. Manda enggak bisa ngelakuin banyak hal untuk Mas.
Jeonghan mengangkat kepalanya, mengelus rambut putranya dengan lembut. Jeonghan rindu menimang putranya seperti dahulu. Seperti pertama kali ia lahir ke dunia. Jeonghan masih mengingat jelas bagaimana Mingyu kecil menerobos rahimnya, lalu menangis keras. Dan ketika Jeonghan menimangnya supaya bayi mungil itu lebih tenang.
“Mas, jangan tidur di sini. Nanti badan Mas sakit,” bisik Jeonghan. “Bangun, Mas.”
Dengan cepat Mingyu tersadar dan mengangkat kepalanya. Ia terdiam beberapa saat, mencerna apa yang baru saja terjadi pada dirinya.
“Tidur di tempat tidur. Nanti badan Mas sakit,” ujar Jeonghan. Mingyu menghela nafasnya dan melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya. Pukul sebelas malam. Ia merapikan buku-bukunya dan memasukannya ke dalam tas kemudian berjalan ke tempat tidur, membaringkan tubuhnya dan memakai selimutnya.
Jeonghan duduk di samping tempat tidur dan mengecup dahi anak sulungnya. Ia tersenyum ketika mendapati Mingyu yang menatap langit-langit kamarnya.
“Mas rindu, Nda,” bisik Mingyu ketika menatap langit-langit kamarnya dengan nanar. “Mas rindu Manda. Rindu sekali.”
Jeonghan tersenyum dan mengelus rambut putranya. Sekalipun kini mungkin Mingyu tidak bisa melihatnya, tapi biarlah Mingyu merasakan bahwa dirinya ada bersamanya.
Manda juga rindu kamu, sayang. Rindu sekali.
Joshua duduk di tepi kolam renang malam itu. Memasukan kedua kakinya ke dalam air, menatap dasar kolam yang gelap tanpa rasa takut sedikitpun. Ia menutup matanya, mencoba untuk merasakan hal lain yang kini datang mendekatinya.
Aroma bunga itu tercium dengan kuat. Joshua tersenyum dan membuka matanya. Ketika ia menoleh ke kiri, ia mendapati Jeonghan yang duduk di sebelahnya dan tersenyum menatapnya. Joshua menatap sosok itu dalam diam. Ia rindu sekali sosok itu. Tangannya terjulur untuk menyentuh wajahnya namun nihil. Ia hanya menggenggam udara sekalipun sosok itu kini berada di sampingnya.
Sosok tak kasat mata yang berusaha berkomunikasi dengannya.
“Jeonghan,” bisik Joshua. “Kamu tahu kalau aku rindu kamu.”
'Aku juga. Aku rindu kamu juga Jos.'
Keduanya saling bertatapan seolah ingin menyampaikan rasa rindu yang selama ini mereka pendam. Jeonghan menggeser tubuhnya dan berusaha untuk menggenggam tangan Joshua yang berada di atas pahanya.
“Kamu tahu kalau anak mu yang bungsu punya kelebihan yang sama kaya aku?” tanya Joshua. Jeonghan mengangguk.
'Aku tahu.'
“Kamu bisa ceritain kenapa kamu bisa meninggal di sini?” tanya Joshua dengan sedih. Ia menoleh sesaat pada kolam renang di hadapan mereka kemudian menatap Jeonghan dengan lirih.
Jeonghan menghela nafasnya dan menatap Joshua dengan pedih. Air matanya kembali turun.
Seperti biasa malam itu setelah selesai bekerja Seungcheol akan meminta Soonyoung untuk beristirahat. Ia tahu hari-hari ke depan akan sangat melelahkan dan ia tak mau sakit hanya karena kurang istirahat.
“Pak, hari ini saya izin pulang ke rumah,” ujar Soonyoung. Seungcheol mengangkat alisnya dengan bingung.
“Tumben. Ada apa?”
“‘Besok ulang tahun ayah saya. Kami sekeluarga rencananya akan makan bersama besok,” ujar Soonyoung. “Tapi, besok malam saya kembali lagi ke sini. Hanya satu malam aja, Pak.”
“Enggak apa-apa,” ujar Seungcheol. “Selama masih ada keluarga, kamu harus banyak luangin waktu sama keluarga kamu.”
“Bapak jadi pergi sama Mas Mingyu dan Adek Kwan minggu depan?” tanya Soonyoung. Seungcheol mengangguk.
“Tiket pesawatnya udah beli. Enggak mungkin enggak jadi,” kekeh Seungcheol. Soonyoung tersenyum senang mendengarnya
“Saya izin pulang, Pak,” ujar Soonyoung.
“Hati-hati,” jawab Seungcheol. Ketika Soonyoung pergi meninggalkan ruangannya, ia menutup laptopnya. Bangkit dari posisinya dan mematikan lampu juga air conditioner di ruangannya. Ia berjalan meninggalkan ruangan dan selanjutnya melangkahkan kakinya menuju kamar Seungkwan.
Anak bungsunya.
Joshua menutup mulutnya ketika mendengar hal tersebut. Ia menatap Jeonghan tak percaya kemudian melirik kolam renang yang berada di hadapannya. Kengerian mulai menggerogoti tubuhnya malam itu ketika Jeonghan menceritakan apa yang sebetulnya terjadi pada dirinya.
“Dan setelah itu kamu enggak sadar?” tanya Joshua. Jeonghan menganggukan kepalanya. Joshua menatap entitas roh di sisinya dengan sedih. Ia ingin sekali memeluk roh itu namun ia tahu itu nihil.
Roh Jeonghan yang berada di sisinya. Roh Jeonghan yang berusaha menyampaikan apa yang sebetulnya terjadi.
“Kamu masih sayang sama dia meskipun dia yang udah bunuh kamu?” bisik Joshua dengan ragu. Jeonghan mengangguk dan menatap Joshua dengan sedih.
“Sekalipun dia yang bikin kamu meninggal dan kehilangan nyawa?”
'Aku masih sayang dia, Jos. Bahkan ketika dia yang hilangin nyawa aku, aku masih sayang dia. Aku tahu alasan dia lakuin itu karena apa.'
“Jeonghan…” bisik Joshua dengan pilu.
'Dia tahu aku tersiksa dan dia mau itu semua selesai. Seungkwan tahu aku tersiksa, Jos. Dia mau aku mengakhiri rasa sedih dan juga penyiksaan ini. Aku masih sayang Seungkwan karena dia darah daging aku.'
Seungcheol melangkahkan kakinya ke dalam kamar Seungkwan. Ia memastikan jendela kamar anaknya tertutup, lampu di kamarnya dalam mode remang dan juga suhu air conditioner yang pas untuk istirahat.
“Ayah?”
Seungcheol menoleh pada putra bungsunya. Ia tersenyum dan duduk di samping tempat tidur. Senyumnya berkembang ketika mendapati putranya menatapnya dengan kedua mata yang mirip dengan mendiang Jeonghan.
“Hei, anak Ayah,” ujar Seungcheol. “Kenapa sayang?”
“Adek enggak bisa tidur,” ujar Seungkwan. “Boleh enggak Ayah tidur di sini?”
“Adek habis nonton film horor ya jadi takut begini?”
“Enggak. Adek lagi ingin tidur sama ayah,” ujar Seungkwan. “Boleh enggak, Yah?”
Seungcheol tidak menjawab tetapi segera menaiki tempat tidur Seungkwan dan berbaring di sisi anaknya. Seungkwan memeluk pinggang Seungcheol dan menyandarkan kepalanya di dada ayahnya. Seungcheol mengelus kepala putranya dan mengecup dahinya.
“Ayah sayang sekali sama Adek,” bisik Seungcheol. “Manda juga sayang sekali sama Adek.”
“Meskipun Manda udah enggak sama kita, Yah?” tanya Seungkwan. Seungcheol mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada Seungkwan.
“Meskipun Manda sekarang udah tenang tapi Manda akan selalu sayang Adek.”
“Ayah sayang Manda?” tanya Seungkwan. Nadanya berubah seolah menuntut Seungcheol untuk menjawab itu. Seungcheol melirik kepala putranya yang berada lebih rendah darinya.
“Tentu aja, nak. Ayah sayang sekali sama Manda.”
“Tapi, kenapa Ayah selalu sakiti Manda?”
Seungcheol mengernyitkan alisnya dan menatap putranya yang berada di pelukannya.
“Ayah enggak—”
“Kenapa Ayah selalu buat Manda menangis? Apa salah Manda?”
“Adek, ada banyak hal yang enggak bisa Ayah jawab sekarang karena —”
Seungcheol terdiam sesaat ketika sesuatu yang aneh menusuk di perutnya. Ia meringis ketika hal tersebut semakin perih dan menyakitkan. Seungcheol terdiam ketika Seungkwan menengadah dan menatap Seungcheol dengan kedua matanya. Seungkwan menggeser tubuhnya dan memperlihatkan dengan jelas bagaimana pisau bedah yang tak tahu berasal dari mana sudah menancap di perut ayahnya.
“Adek—”
Seungkwan tersenyum dan menarik pisau yang menancap di perutnya. Seungcheol luar biasa kaget ketika mendapati anak bungsunya melakukan hal itu padanya.
“Adek— ARGHH!”
Bibir itu tak sanggup berkata dan hanya bisa berteriak ketila tusukan kembali anak bungsunya berikan di perut kirinya. Seungcheol berusaha untuk mendorong pisau itu namun Seungkwan kembali menghunuskan pisau tajam itu tepat di dadanya. Darah keluar, membasahi pakaian keduanya dan juga memberi warna pada tempat tidur milik Seungkwan.
“Tepat di bagian jantung,” ujar Seungkwan. “Ayah lihat kan. Adek udah jago pelajaran anatomi loh.”
“Adek.. stop..” ujar Seungcheol dengan lemah. Kekuatannya seakan hilang karena kesakitan dan juga darah yang begitu hebat keluar dari tubuhnya. Meskipun Seungcheol sudah berada pada kondisi sekarat dan darah sudah banyak keluar dari tubuhnya, namun Seungkwan tidak puas dengan itu. Ia melirik poster yang menempel di dinding kamarnya. Ia berdiri di hadapan Seungcheol dan menatap ayahnya dengan dingin.
“Dan nadi juga terletak di leher. Jadi, kalau adek potong leher Ayah, pasti banyak darah keluar ya?” tanya Seungkwan.
“Adek.. stop.. Argh!”
Dengan santai Seungkwan menyayat leher Seungcheol menggunakan pisau yang ia miliki. Darah menyembur di tempat tidur Seungkwan. Menghiasi selimut, bantal dan juga kasurnya dengan warna merah menyala. Seungkwan menikmati bagaimana sang ayah meregang nyawa di hadapannya.
Ia tersenyum ketika Seungcheol meraup nafasnya dengan kasar. Suara tercekat itu terdengar di telinga lelaki mungil itu dengan jelas seolah menjadi melodi tersendiri baginya. Ia mengelus rambut Ayah-nya dan mengecup dahi sang Ayah dengan lembut.
“Selamat bertemu Manda. Jangan sakiti Manda lagi ya, Ayah.”
Mingyu terbangun. Ia kembali memimpikan Ayah-nya menyakiti Manda-nya seperti apa yang ia lihat beberapa tahun lalu. Mingyu mengelap keringatnya, memilih duduk dan mengambil gelas di meja yang terletak di sisi tempat tidurnya. Ia menyadari bahwa gelasnya tak terisi. Mungkin pelayan di rumahnya lupa untuk mengisi air. Mingyu bangkit dan berniat mengisi air di dapur. Langkah kakinya membawanya keluar dari kamar dan berjalan menuju tangga. Ia menoleh sesaat ketika melewati kamar adiknya. Entah apa yang mendorong Mingyu malam itu, ia ingin sekali melihat kondisi Seungkwan.
Mingyu membuka pintu kamar Seungkwan dan memasuki kamar itu dengan santai. Tetapi, yang kini Mingyu lihat adalah mimpi buruknya yang baru. Mingyu baru saja menemukan hal mengerikan yang mungkin tidak bisa ia lupakan di sepanjang usianya. Gelasnya jatuh ke lantai dan menimbulkan bunyi nyaring di kamar itu sekaligus membuat sosok kecil yang tengah fokus pada sesuatu yang ia kerjakan menoleh dan menyadari bahwa kakaknya hadir malam itu.
“Mas!” pekiknya dengan riang. Mingyu menatap horor pemandangan di hadapannya. Ia tak pernah mengira dan memprediksi bahwa malam itu ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Seungkwan kecil tengah membelah tubuh ayahnya yang bersimbah darah.
Tubuh sang ayah tergeletak di atas lantai dengan kondisi perut terbuka, organ dalam yang keluar dan terlihat jelas. Mingyu ingin muntah melihat ini semua. Ia memandang ngeri Seungkwan yang menunjukan betapa panjang usus ayah mereka.
Seungkwan menunjukan deretan giginya dan menatap Mingyu dengan bahagia. “Adek udah tahu mana usus yang nyata, Mas. Ternyata kayak gini ya.”
Mingyu menatap Seungkwan dengan takut. Namun ketika melihat wajah pucat yang sudah tak bernyawa di atas lantai, kaki Mingyu bergerak mendekati jasad itu. Menatap serius bagaimana wajah sang ayah yang kini sudah memutih dan bahkan sudah tak bisa lagi mendengar apapun yang terjadi di sekitarnya.
“Ayah udah ketemu Manda sekarang,” ujar Seungkwan dengan santai sembari mengulur usus milik ayahnya dan menyimpannya di atas lantai. Mingyu menatap wajah yang ia benci.
Wajah yang bertahun-tahun menemani tumbuh kembangnya.
Wajah yang selalu membuatnya kecewa.
Wajah itu.
Wajah Seungcheol, ayahnya.
“Mas,” panggil Seungkwan. Mingyu menoleh pada Seungkwan dan tersenyum pada adiknya.
“Adek memang pintar."
“Soonyoung?” tanya Joshua malam itu setelah dirinya menghabiskan waktu cukup lama di tepi kolam.
“Eh, Kak Jos,” ujar Soonyoung sembari tersenyum. “Kenapa belum tidur?”
“Belum. Ini mau ke atas,” jawab Joshua. “Ke mana Pak Seungcheol? Tumben udah pergi tidur.”
“Terakhir dia bilang dia mau istirahat. Mungkin lagi cek Mas sama Adek di atas,” ujar Soonyoung.
“Kamu balik lagi? Bukannya pulang ke rumah?” tanya Joshua bingung.
“Ada barang tertinggal di ruangan. Ini mau ambil, Kak.”
Joshua tersenyum dan menepuk bahu Soonyoung. Ketika kedua orang dewasa itu membalikan tubuhnya, mereka terkejut bukan main ketika mendapati Mingyu dan Seungkwan yang turun dari tangga dengan kondisi yang mengerikan.
Tangan keduanya saling terkait dan menatap kedua orang dewasa itu dengan polos. Bukan itu yang mereka takutkan, tetapi kondisi Seungkwan yang penuh dengan darah di piyamanya.
“MAS!”
“ADEK!”
“Halo, Om Soonyoung,” sapa Seungkwan sembari melambaikan tangannya. Joshua berlari ke arah Seungkwan dan menatap kedua keponakannya dengan ngeri dan khawatir. Sama dengan Soonyoung yang menatap kedua bocah itu dengan ngeri dan juga khawatir. Firasatnya berkata ada kekacauan di atas sana.
“Mas?! Adek?! Kalian kenapa?!” tanya Joshua dengan takut. Ia memeriksa kondisi kedua keponakannya dari ujung kepala hingga ujung kaki dan memastikan semuanya baik meskipun darah di pakaian Seungkwan tidak menunjukan bahwa kondisi saat itu baik-baik saja. Ada sesuatu yang terjadi di atas sana.
"Mana ayah?! Di mana ayah kalian?!"tanya Joshua panik.
“Ayah di atas,” jawab Mingyu. Soonyoung segera berlari ke atas.
“Kalian tunggu di sini!” perintah Joshua kemudian berlari menyusul Soonyoung ke lantai dua. Ia membuka kamar Mingyu namun nihil, Seungcheol tak ada di sana. Ia juga membuka kamar Seungcheol dan Jeonghan, sama. Seungcheol tak ada di sana.
Soonyoung berlari menuju ruang kerja dan juga tak mendapati atasannya berada di sana. Nafasnya tak beraturan. Ia berlari ke luar dan mendapati Joshua yang juga baru saja melakukan pemeriksaan di kamar milik atasannya.
“Seungcheol enggak ada,” ujar Joshua panik. Soonyoung menunjuk kamar yang tersisa yang belum mereka periksa. Itu adalah kamar Seungkwan.
Dengan cepat mereka berjalan menuju pintu itu dan membuka pintu itu. Soonyoung menatap hal di depannya dengan kaget. Ia berlutut karena hal tersebut adalah hal yang begitu mengerikan yang pernah ia lihat. Hal yang berhasil melemahkan setiap ototnya. Joshua menatap ngeri sesuatu di depannya dan reflek memuntahkan isi perutnya ketika melihat bagaimana jasad Seungcheol terbujur kaku di sana dengan perut terbuka dan semua organ yang sudah dikeluarkan juga ditata rapi di sisi tubuhnya.
Soonyoung terbujur kaku melihat atasannya dengan kondisi mengerikan. Ia tak akan pernah bisa melupakan ini. Soonyoung tak akan pernah bisa menghilangkan memori mengerikan ini dari kepalanya. Sedang Joshua mengelap bibirnya. Ia menatap jasad Seungcheol dengan ngeri kemudian memperhatikan kondisi kamar itu dengan seksama. Ia tahu bahwa Seungkwan melakukan hal ini.
“Soonyoung,” panggil Joshua. “Bagaimanapun kita harus cari cara supaya kematian Seungcheol terlihat wajar.”
Soonyoung menghela nafasnya dan bangkit berdiri. Ia menatap Joshua dengan takut kemudian melirik atasannya yang sudah terbujur kaku di atas lantai.
“Siapa yang udah lakuin ini?” tanya Soonyoung lemah.
“Seungkwan,” jawab Joshua. Soonyoung menjambak rambutnya sendiri. Ia terlalu letih ketika menerima begitu banyak hal mengejutkan di waktu yang sama.
“Oleh sebab itu, kita coba untuk buat kematian Seungcheol seolah sesuatu yang wajar. Kita enggak mungkin bawa Seungkwan ke polisi dan ngebiarin anak itu mendekam di penjara kan?” tanya Joshua. Soonyoung menghela nafasnya dan mengangguk.
“Kamu pasti bisa, Soonyoung. Kamu adalah orang terpintar yang pernah aku kenal.”
J eonghan duduk di atas kursi yang terletak di dekat kolam renang. Ia memperhatikan bagaimana anak bungsunya berenang ke sana kemari dengan lincah bahkan tanpa pelampung. Senyum ayu itu berkembang tiap kali memperhatikan bagaimana sang buah hati tertawa dan bahagia ketika menggerakan tubuhnya di dalam air. Seungkwan tersenyum pada Jeonghan kemudian naik ke atas dan mendudukan tubuhnya di tepi kolam. Jeonghan mengambil handuk dan melingkarkan handuk itu di tubuh Seungkwan.
“Adek udah lapar belum?” tanya Jeonghan.
“Belum. Adek belum lapar,” ujar Seungkwan. Jeonghan mengecup pipi gembulnya dan memeluk tubuh anak bungsunya.
“Manda, kacamata renang Adek jatuh ke dalam,” adu Seungkwan sembari menunjuk dasar kolam dengan telunjuknya. Jeonghan menunduk dan menatap dasar kolam itu. Sedikit buram karena air yang bergerak. Ia mencoba meihat dari atas sembari memicingkan matanya.
“Manda enggak bisa lihat, sayang,” ujar Jeonghan. “Nanti kita tunggu Om Soonyoung datang ya. Supaya Om Soonyoung yang ambil.”
“Mau sekarang,” rengek Seungkwan. Jeonghan meneguk ludahnya dan menatap Seungkwan ragu.
“Manda enggak bisa, sayang. Manda enggak bisa berenang.”
“Kan ada Adek. Nanti Adek tarik tangan Manda sewaktu Manda mau keluar,” ujar Seungkwan sembari menatap Jeonghan dengan kedua matanya yang berbinar. Jeonghan sempat ragu beberapa saat. Bagaimanapun Seungkwan bertubuh mungil. Apa benar ia bisa menarik Jeonghan dari dalam air?
“Manda enggak percaya sama Adek ya?” tanya Seungkwan. Jeonghan tersenyum dan menggeleng. Ia mengecup dahi anaknya dan tersenyum menenangkan.
“Manda percaya kok,” ujar Jeonghan.
“Adek bakal tarik Manda."
Jeonghan menghela nafasnya kemudian melepas kardigan yang ia pakai sehingga kini ia hanya memakai celana denim dan juga atasan tanpa lengan. Dengan ragu ia memasukan kedua tungkainya ke dalam air lalu menatap Seungkwan dengan lembut.
“Nanti Adek bantu Manda ya kalau kacamatanya sudah dapat.”
“Iya, Manda.”
Jeonghan merasakan air dingin itu membalut kedua kakinya. Apalagi ketika Jeonghan menurunkan seluruh tubuhnya ke dalam air. Ini tidak dalam tetapi tiba-tiba saja udara di rongga paru-parunya berkurang karena dadanya yang berdegup kencang dan juga ketakutan yang melandanya.
“Manda ayo!”
Jeonghan menutup matanya dan menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air. Ia mencoba untuk menurunkan tubuhnya dan mencoba mencari kacamata renang milik Seungkwan. Jeonghan mencoba membuka matanya di dalam air dan menggapai apa yang ia cari. Meskipun matanya perih karena dipaksa untuk membuka mata di dalam air berkaporit itu.
Ketika tangannya berhasil menyentuh karet kacamata milik Seungkwan, Jeonghan bergegas berdiri namun sesuatu yang lain menahan kepalanya. Jeonghan bergerak panik dan mencoba melihat ke atas. Ia mendapati wajah Seungkwan yang dingin tengah menatapnya. Jeonghan menaikan tangannya, mencoba bergerak dan mendistraksi pikirannya dari ketakutan pada air. Tubuhnya bergerak dengan keras dan mencoba untuk berdiri namun entah apa yang menahan kepalanya sehingga ia tidak bisa keluar. Rasa panik menggereogoti, ketakutan juga muncul di dalam hatinya. Lambat laun kepalanya menjadi pusing dan seakan seluruh oksigennya ditarik paksa hingga tak bersisa.
Gelembung udara keluar dari dalam mulutnya dan membuih di permukaan air. Jeonghan tahu bahwa ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menyelematkan diri. Tetapi, ketika ia berusaha untuk keluar dari dalam air, tekanan di atas kepalanya semakin kuat. Jeonghan menutup matanya dan menurunkan tangannya dengan lemah. Seungkwan memperhatikan Manda-nya yang sudah tak bergerak dan kini tubuhnya bergerak perlahan hingga ke dasar air.
“Manda udah enggak disakiti lagi sama Ayah,” bisik Seungkwan. “Manda enggak akan lagi dibuat menangis sama Ayah.”
Secara tiba-tiba, Seungkwan melirik panik ke kanan dan ke kiri kemudian menjatuhkan tubuhnya dan menangis keras hingga berteriak.
“MANDAA!”
Seungcheol yang mendengar teriakan itu segera turun dari ruang kerjanya dan berlari menuju putra bungsunya. Seungcheol mendapati Seungkwan yang menangis keras di tepi kolam renang.
“Adek?!” panggil Seungcheol khawatir kemudian berlutut di samping Seungkwan.
“Manda! Manda!” teriak Seungkwan histeris. Seungcheol melihat sekeliling namun tak dijumpai Jeonghan di sana. Seungkwan menunjuk kolam renang dan saat itu juga Seungcheol dengan cepat meloncat ke dalam kolam renang dan meraih tubuh Jeonghan yang berada di dasar kolam.
Seungcheol dengan cepat menarik tubuh itu, menggendongnya dan ketika keluar dari dalam air, membaringkan tubuh itu di tepi kolam. Soonyoung dan beberapa ajudan mulai turun dan ikut terkejut ketika mendapati hal yang tak mereka pikirkan terjadi. Soonyoung menggendong Seungkwan dan menenangkan anak bungsu keluarga Choi itu dalam pelukannya. Tubuh Jeonghan terbaring di tepi kolam. Terlihat pucat dan juga tak bernafas. Seungcheol menekan dadanya dan juga memberi nafas melalui mulutnya. Berulang kali Seungcheol melakukan itu namun Jeonghan tak urung bergerak.
“Jeonghan! Ayo bangun sayang! Bangun Jeonghan!” teriak Seungcheol sembari menepuk pipi Jeonghan. Ia masih terus memberi tekanan dan juga nafas pada kekasih hatinya. Berusaha untuk memberi nafas pada Jeonghan yang sudah kaku.
Seungcheol terdiam ketika ia tak mendapati respon dari Jeonghan. Air matanya mulai turun dan ia menjatuhkan kepalanya tepat di atas dada Jeonghan.
“Jeonghan,” bisik Seungcheol. Tangisnya pecah menyadari bahwa cintanya tak dapat ia selamatkan. Cintanya pergi dengan tragis siang itu.
“Jeonghan, jangan pergi tinggalin aku…”
“Manda! Manda jangan pergi Manda!”
Dan teriakan Seungkwan seolah menjadi musik pengantar kekelaman siang itu.
Joshua memasukan semua barang- barang mereka ke dalam mobilnya. Ia melirik Seungkwan yang duduk di kursi belakang sembari mendengarkan lagu dengan headset-nya. Joshua menghela nafas mendapati bahwa bocah itu masih terlihat tenang bahkan ketika ia sudah menghabisi kedua orang tuanya. Kini ia beralih pada si sulung yang duduk di kursi depan dan tengah membaca bukunya. Ia menatap Mingyu sedih kemudian ia mendapati Soonyoung yang berdiri tak jauh darinya.
“Semuanya udah siap?” tanya Joshua. Soonyoung mengangguk.
“Sebagian barang nanti akan diantar,” jawab Soonyoung dengan raut muka serius. “Kematian bapak juga sudah dianggap kecelakaan dan pihak kepolisian yang sudah kita bayar berhasil menutup kasus ini.”
Joshua mengangguk dan menepuk bahu Soonyoung. “Makasih banyak, Soonyoung.”
“Sama-sama, Kak. Kalau perlu sesuatu bisa hubungi aku,” ujar Soonyoung.
“Iya, Terima kasih banyak,” ujar Joshua. Ia memandang rumah besar itu dengan sedih kemudian menghela nafasnya. “Titip rumah ini ya. Gimanapun ada banyak kenangan yang terjadi di rumah ini.”
Joshua menoleh ke arah mobil mewah miliknya yang terparkir tak jauh dari dirinya dan Soonyoung. "Rumah ini juga yang jadi saksi bahwa kedua anak itu dibesarkan, dicintai dan dilindungi dengan layak oleh kedua orang tuanya," ujar Joshua dengan sedih.
Soonyoung mengangguk ketika pesan itu keluar dari mulut Joshua. Ia memeluk tubuh Joshua dan menepuk bahu paman dari kedua anak yang berada di dalam mobil itu.
“Kami pergi ya.”
“Hati-hati, Kak.”
Joshua berjalan menuju mobilnya dan membuka pintu pengemudi. Ia duduk di kursi dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Mingyu dan Seungkwan meninggalkan aktifitas mereka dan menatap Joshua dengan penuh harap.
“Kita bakal tinggal bareng ya, Uncle?” tanya Mingyu dengan senang. Joshua menoleh dan tersenyum lebar kemudian mengangguk.
“Tentu!"
“Uncle enggak akan tinggalin kita kan?” tanya Seungkwan sembari mendekatkan tubuhnya pada kursi Joshua.
“Enggak akan, sayang,” jawab Joshua. “Kita mulai hidup baru ya.”
Sebelum melajukan mobilnya, ia melirik kaca spion yang langsung mengarah pada bagian belakang mobilnya. Joshua terdiam sesaat ketika mendapati Jeonghan yang tersenyum padanya dan melambaikan tangannya.
Ia tahu ini yang Jeonghan inginkan. Membiarkan kedua anaknya tinggal bersama Joshua dan hidup bahagia.
Ya, benar. Setelah ini Joshua akan pergi ke kota lain meninggalkan kehidupan lama kedua keponakannya. Tapi sebelum itu, ia akan membawa Seungkwan pada temannya yang ahli dalam menangani kasus seperti ini pada anak-anak dan juga mengurus kepindahan sekolah Mingyu dari sekolah lamanya ke sekolah baru. Joshua berharap bahwa kedua anak ini dapat hidup bahagia bersamanya dan tentu saja ia ingin membesarkan kedua anak ini dengan penuh kasih dan mengubur segala kekelaman dan trauma yang pernah mereka hadapi.
"Ah.. hangat. Hangat banget, sayang!”
Lenguh Jeonghan ketika Seungcheol menembakan sperma-nya ke dalam rahim Jeonghan yang sudah siap menerima bakal benih itu. Seungcheol menjauhkan tubuhnya dan melepas penyatuan mereka. Ia berbaring di sisi tubuh Jeonghan dan menarik kekasihnya ke dalam pelukannya.
Beberapa jam lalu mereka baru saja meresmikan hubungan mereka di hadapan negara dan juga keluarga. Seungcheol memboyong Jeonghan ke rumah baru mereka dan di malam yang sama, keduanya tak sabar untuk saling menyatukan tubuh mereka sebagai tanda penyatuan.
Seungcheol mengecup bibir Jeonghan. Turun ke leher, ke kedua dadanya yang cukup berisi dan terakhir perutnya. Jeonghan terkekeh ketika Seungcheol mengecupi bagian sensitif itu.
“Kenapa sayang?” tanya Jeonghan. Seungcheol mendongak dan menatap Jeonghan dengan lembut.
“Aku percaya sperma ku di sana sudah melebur,” ujar Seungcheol. “Kamu itu subur dan pasti sebentar lagi kita bisa membuat anak-anak yang jenius dan luar biasa.”
“Karena kamu ayah mereka. Pasti kesempurnaan kamu bakal turun ke mereka,” ujar Jeonghan. Seungcheol kembali mensejajarkan kepalanya dengan kepala Jeonghan kemudian mengecup dahinya.
“Kalau aku mati, kamu akan apa?” tanya Jeonghan.
“Aku akan tetap hidup kalau anak kita udah lahir ke dunia ini," jawab Seungcheol. “Tapi, jiwa ku enggak akan utuh. Aku udah kehilangan kamu yang artinya hidupku enggak akan sama. Akan hancur.”
Jeonghan tersenyum penuh haru dan mendekatkan dirinya pada Seungcheol kemudian memeluk suaminya dengan erat.
“Dan kalau aku mati?” tanya Seungcheol.
“Aku juga akan mati sama kamu.”
Seungcheol dan Jeonghan tahu bahwa mereka tidak akan pernah berpisah. Mereka adalah satu dan tidak akan pernah terpisah bahkan hingga kematian berusaha memisahkan mereka.
S e l e s a i
