Actions

Work Header

So Bittersweet, like us?

Summary:

But anything, nothing
Is like the heart of a person
Eyes meeting but hearts apart
So sweet and so bitter

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

      Wonwoo itu menyebalkan, itulah kalimat yang terus berputar acak di kepala Mingyu. Bagaimana tidak, foto hasil jepretan Mingyu dibilang “terlalu amatir”, tolong garis bawahi, dicetak bold dengan huruf kapital, “TERLALU AMATIR. Kalau hanya dibilang “amatir” saja, mungkin, Mingyu bisa menerima meskipun dengan sedikit misuh, tapi tambahan kata “terlalu” itu cukup membuatnya sangat kesal. “Sok si paling senior” itu adalah omelan Mingyu sedari tadi setelah mendapat ulasan dari Wonwoo. Untungnya interaksi mereka saat itu hanya melalui aplikasi chatting, jadi Mingyu hanya misuh dan mengomel didepan layar hp yang menampilkan room chatnya dengan profil nama Kak Wonwoo.

    Entah hari keberapa Mingyu dan Wonwoo menjadi dekat dan mempunyai agenda rutin bersama. Salah satunya adalah mencari spot tempat untuk hunting foto. Kalau diruntut darimana asal-muasal ritual itu terjadi, karena Wonwoo yang menurut Mingyu sok sekali inisiatif menawarkan "bantuan” untuk mengajari perihal fotografi. Bagi Mingyu, Wonwoo itu sangat sok sekali si paling jago, menyebalkan bukan? Ego Mingyu tergores. “kita lihat sejago apa sih Wonwoo itu” adalah gumaman kekesalan Mingyu, sembari mengetik jawaban di room chat untuk setuju ajakan tersebut.

   Sebenarnya agenda hunting foto hari ini adalah merayakan Wonwoo yang purna studi S1 nya. Mereka memang berencana setelah Wonwoo wisuda, esok harinya adalah quality time antara keduanya. Hunting foto adalah “kedok” dari rasa gengsi yang membelenggu mereka untuk mengungkap kebenaran bahwa mereka ingin saling bertemu dan memberikan afeksi. Obrolan bahwa nanti mereka akan kesulitan untuk meluangkan waktu karena kesibukan yang berbeda. Wonwoo yang mulai probation kerja sebagai Beckend developer di sebuah E-commerce, sedangkan Mingyu memasuki semester akhir yang mana harus fokus mengerjakan skripsi dan printilan ujian yang lain untuk memenuhi syarat kelulusan.

 

    Seiring waktu berlalu “agenda belajar” antara Wonwoo dan Mingyu lambat laun berubah menjadi “permainan tarik-ulur". Siapa yang “menarik” dan Siapa yang “mengulur”, mereka juga tidak tahu, mereka yang tidak mau benar-benar mencari tahu, atau tidak perduli. Tetapi yang pasti menjadi rancu dan abu-abu. Barangkali ungkapan “love is complicated, sometimes” benar adanya. Kompleks, untuk mereka yang terlalu “buta” untuk bisa melihat kebenarannya, atau sekali lagi mereka tidak mau mengakui apa-apa. Teman-teman mereka juga lelah cenderung muak melihat tingkah bodoh keduanya.

   Seperti saat ini meskipun saling memegang kamera dan melihat-lihat objek untuk dipotret, pikiran mereka berkelana tanpa arah. Udara disekitar mereka juga seakan mendukung suasana “dingin” diantara keduanya, hanya hembusan angin yang sibuk menabrak tubuh mereka. Wonwoo berdehem untuk melegakan tenggorokannya yang tercekat.

“udah capek belom?”  Tanya Wonwoo mencoba memecahan keadaan kikuk diantara mereka

“kenapa emang?” jawab Mingyu nada datar dengan mata menyelidik, sial, batin Wonwoo. Pertanyaan dibales pertanyaan, itu menyebalkan.

“Siapa tau udah laper mau nyari makan?” Timpal Wonwoo, alibi saja sebenarnya karena Wonwoo sebenarnya bosan sekali. Wonwoo faham sekali, makan dan Mingyu adalah satu kombinasi yang nyaris tidak pernah gagal.

“Udah dapet foto banyak kan? Kalo udah kita pergi nyari makan, gimana?” Tawar Wonwoo yang mencoba mencairkan suasana

“Udah sih, mau makan emang?” lagi, jawaban Mingyu adalah pertanyaan

“ Mau makan apa emang?”

“Apa aja, tapi pengen angkringan lama gak makan itu”  

“Oke, makan angkringan klo gitu” Wonwoo menyetujui tanpa berpikir panjang. 

 

   Motor gede Wonwoo membelah jalanan kota metropolitan di malam hari, dengan tangan Mingyu yang diarahkan untuk masuk ke saku jaket hitam yang Wonwoo pakai. Saat ini sejujurnya Wonwoo tidak faham kenapa Mingyu menjadi diam dan “aneh” tidak seperti biasanya yang selalu talk active dengan obrolan tentang hari-harinya, tidak ada cerita tentang teman-teman absurd Mingyu. Seperti ada yang ikutan date blind ternyata pasangannya adalah bosnya sendiri, atau ada lagi teman Mingyu yang nyari cowok di Tinder yang ternyata Faker, ada juga yang teman Mingyu yang putus karena masalah selera musik yang beda, ada varian teman batal nikah karena si calon suami punya anak dengan perempuan lain. Beragam bentuk teman-teman Mingyu, mengingat Mingyu adalah manusia extrovert yang punya 1001 rencana hang out dengan berbagai macam sirkel.

Sepanjang perjalanan juga tidak ada yang memulai percakapan, Wonwoo sempat bepikir mungkin Mingyu sedang capek atau mungkin lapar. Karena kalau Mingyu lapar makan akan menjadi manusia yang berbeda. Wonwoo sangat faham dengan kebiasaan Mingyu, apa yang membuat Mingyu senang, yang membuat sedih, yang membuat takut, yang membuat Mingyu marah atau kesal. Mingyu tipe orang yang ekspresif, mudah untuk dibaca, mudah untuk diterka. Tapi Mingyu yang “diam” dan menjawab seadanya. Wonwoo kebingungan tanpa petunjuk, Wonwoo punya banyak kemungkinan. Meskipun begitu, Wonwoo tidak merasa luput.

 Bahkan saat makan di angkringan pun tidak ada ekspresi Mingyu yang kegirangan, tidak ada celotehan dengan mulut penuh “bluk-bluk” mengenai rasa makanan, tidak ada Mingyu yang panjang lebar menjelaskan bagaimana resep makanan yang mereka makan, tidak ada Mingyu yang bersemangat mengenai makanan. Alarm berbahaya, radar Wonwoo berkata demikian. Semua kepingan keganjilan hari ini membuat Wonwoo kewalahan sendiri. Sebenarnya Mingyu kenapa?

  Pukul 11 Malam, jalanan mulai lenggang, angin malam semakin riuh menerpa. Masih ada hening diantara meraka, hanya suara nafas yang beradu dengan mesin motor yang melaju. Merasa tujuan semakin dekat, Wonwoo semakin membulatkan tekadnya untuk bertanya mengenai keadaan yang aneh ini. Wonwoo menimbang-nimbang kalimat seperti apa yang akan digunakan, seperti apa harus membuka percakapan kepada Mingyu yang moodnya tidak bersahabat. Apa yang harus Wonwoo lakukan?

Sampai didepan pagar kos Mingyu, Wonwoo berinisiatif membantu melepas helm Mingyu, kaku sekali. Bahkan Wonwoo ikut mengantar Mingyu sampai ke kamarnya, lagi alibi untuk mengulur waktu. Padahal tadi Mingyu memberikan penolakan tapi Wonwoo tetap bersikukuh untuk ikut mengantar Mingyu Ke kamarnya. Wonwoo dengan segala inisiatif, menyebalkan sekali.

“Gyu, kenapa hari ini kayaknya bete banget?” Wonwoo melempar pertanyaan pembuka didepan pintu kamar Mingyu

“Menurut lu kenapa kak?” Jawab Mingyu sembari menatap manik mata Wonwoo. Jebakan, radar Wonwoo siaga

“Jangan kayak anak kecil Gyu, ngomong make cara orang dewasa?" Wonwoo membalas dengan nada yang sedikit meninggi

“Emang di mata lu gua anak kecil yang bisa dibegoin?

“Gyu, gua beneran minta maaf kalo ada salah”

“Kan, Kak lo itu ya selalu kayak gitu minta maaf terus tapi lo bahkan gak tau minta maaf buat apaan”

“Yaudah jelasin lo maunya gimana?

“menurut lu kita ini ngapain?”

Bingung, Wonwoo hilang arah. Matanya mencoba memindai  Mingyu untuk mencari sisa petunjuk yang tersisa.

“Mingyu, lo kenapa sih?”

 Tidak ada suara jawaban Mingyu. Hening. Secepat kilat menarik jaket Mingyu menempelkan bibirnya diatas permukaan bibir Wonwoo, beberapa saat dirasa tidak ada penolakan dengan tergesa Mingyu melumat bibir Wonwoo, dihisap tidak beraturan. Tangan Mingyu mendarat leher Wonwoo untuk memperdalam ciumannya. Sementara Wonwoo hanya mengikuti alur ciuman, semua terlalu cepat baginya.  Wonwoo bisa merasakan “amarah” Mingyu dalam pagutannya dan Wonwoo hanya menutup matanya. 

  Mingyu melepas tautan bibir mereka dengan nafas yang sedikit tersenggal. Wonwoo membuka matanya dan melihat seringai Mingyu muncul detik itu. Wonwoo tidak faham dengan alur permainan ini, namun yang pasti Wonwoo tidak ingin “kalah”. Wonwoo dengan segala egonya memang terkadang membuat Mingyu kelimpungan.

  Entah bagaimana mereka sudah di dalam kamar dengan Wonwoo yang memegang bagian leher belakang Mingyu untuk memagut bibir atas dan bawah Mingyu bergantian dengan tempo sedikit berantakan. Mingyu terhimpit di balik pintu kamar dengan Wonwoo yang mempercepat tempo lumatannya, dengan tangan Mingyu yang mendarat di pinggang Wonwoo. Mingyu dengan konsep gagasan ambisius turut ingin “menang”. Mingyu mulai memainkan lidahnya untuk menerobos mulut Wonwoo. Wonwoo meremat rambut belakang Mingyu. Wonwoo memutus pagutan bibir diantara mereka dan melepas kacatamanya untuk ditaruh di meja yang ada sampingnya dan menekan kepala Mingyu untuk membalas “serangan” Mingyu.

Lumat, hisap penuh khitmad seiring dengan suara cecap ciuman yang mengema dalam kamar. Ciuman yang terlihat putus asa dan penuh frutasi memang membingungkan tapi candu.

Mereka butuh asupan oksigen, Wonwoo yang memutus tautan ciuman mereka. Skor 1-0, Mingyu unggul, batin Mingyu dengan perasaan campur aduk. Mereka bertatapan intens dengan nafas tersenggal. Saling memberikan isyarat melalui kilat mata yang terlihat berkabut nafsu dan kekesalan. Hubungan mereka memang sedikit rumit. Ingin saling mengalahkan tetapi juga saling menguatkan. Ingin saling menundukkan tapi saling menyerahkan diri. Ingin saling mengendalikan tapi saling mengikatkan diri. Mereka juga kesulitan mendefenisikan hubungan mereka sendiri.

“Lo mau gua pulang atau tetap disini” desak Wonwoo dengan tatapan intimitadasi

Mingyu tidak mengerti lagi jenis permainan apa ini, dia hilang arah.

“Jangan pulang” Jawab Mingyu dengan suara pelan dan tatapan memohon. Skor 1-1, imbang. Wonwoo yang memutar mejanya sekarang.

Wonwoo mencium Mingyu dengan rakus, bibir mereka saling adu lumat atas-bawah, Wonwoo membasahi bibir bawah Mingyu dengan diemut sedikit kasar, bibir atasnya juga lumat dengan berantakan. Lidah mereka saling membelit. Mingyu juga melumat dan menghisap bibir bagian atas Wonwoo dengan mengebu.

Jangan tanya sejak kapan tangan Wonwoo sudah berpindah ke pantat Mingyu dengan meremasnya kasar. Disisi lain jaket Wonwoo juga sudah tanggal, tangan Mingyu masuk kedalam kaos dan meraba kulit Wonwoo dari perut ke dada. Desahan dan erangan bersahutan didalam kamar kos Mingyu. Wonwoo mulai bermanuver dengan menyeret bibirnya ke leher Mingyu. Secara otomotis Mingyu mengadah dan menahan desahan dengan mengigit bibirnya.

Wonwoo menjilat jakun Mingyu yang naik turun. Tangan Wonwoo terus mengerayangi tubuh Mingyu secara acak, sekarang dia mengesek puting Mingyu dari luar kaos dengan jari jempolnya, ditekan-tekan membuat Mingyu semakin menggigit bibirnya. Sementara tangan Mingyu berada di kedua lengan Wonwoo. Mata mereka sudah dibutakan hasrat dan gairah yang mengikis kewarasan mereka.

Wonwoo membawa Mingyu ke ranjang samping mereka, mendorong Mingyu untuk berbaring telentang. Wonwoo menaikkan kaos Mingyu, mulai memberikan kecupan dan ciuman di perut Mingyu. Perut berotot hasil gym rutin tiap minggu. Wonwoo fokus sekali memberikan kecupan sesekali dijilat untuk meninggalkan jejak basah. Aksi Wonwoo terus berlanjut hingga ke dada, Wonwoo meremas dada Mingyu secara bersamaan dan setelah itu melirik melihat reaksi Mingyu seperti bocah tolol.

Wonwoo mengesek putting kanan Mingyu dengan jari jempol dan Telunjuk, tangannya yang satu menekan putingnya sebelah kiri. Mingyu kepayahan menerima itu semua.

“Anak pinter suka dibikin enak kan? Goda Wonwoo yang tangannya sibuk bermain mengusap perut bawah Mingyu.

 “Akhhhh,,,,iyaahhh….”

“mau jadi anak pinter kan? Buat siapa?


“buathh..kakhh won”

Mingyu menjawab dengan susah payah

Wonwoo mulai menundukan kepalanya dan meraup puting tersebut untuk dibawa masuk ke mulutnya, untuk dihisap kuat. Hangat. Mingyu merasa hangat dan nikmat, tangannya meremat rambut dan menekan kepala Wonwoo. Wonwoo membasahi puting tersebut membuat gerakan berputar untuk membuat Mingyu merasa semakin nikmat.

Sialan, penis Mingyu mulai keras dan sesak. Mingyu akan merutuki dirinya sendiri kalo bisa keluar hanya karena Wonwoo bermain-main dengan dadanya.

Wonwoo masih fokus menjilati puting dan memberikan kecupan di dada, bisa dibilang ini adalah aktivitas foreplay yang paling dia sukai. Sejujurnya setiap melihat Mingyu habis nge-gym, Wonwoo merasa sange melihat dada Mingyu yang berkeringat, dalam benak Wonwoo “pengen gua jilat anjing”

Kaki Wonwoo yang menekuk tidak sengaja membuat lutunya menyenggol penis Mingyu dari luar celana levisnya. Wonwoo melihat punya Mingyu sudah ngembung. Wonwoo iseng mengusap penis Mingyu dari luar. Digesek dari luar, membuat Mingyu kelinjangan dan mendesah dengan suara rendahnya. Wonwoo hilang kendali, hilang akal. Sekarang diotaknya, cuma mau bikin Mingyu “mohon-mohon” ke dia. Rencana Wonwoo untuk bertanya mengenai kenapa Mingyu mendiamkannya, semua menguap seiring dengan nalar Wonwoo yang menumpul. Sekali Iagi, Wonwoo mau Mingyu. Skor sekarang 1-2, Mingyu mendapat poin lebih unggul, karena membuat Wonwoo ingin selalu memuja-nya.

“Kakak, sesek bangeet?” rintih Mingyu putus asa.

Ingat Wonwoo itu menyebalkan, dia malah semakin mengesek dan mencium penis Mingyu dari luar celana-nya. Frustasi sekali Mingyu dengan keadaan ini. Wonwoo terus memberikan kecupan hingga membuat bagian luar basah dan warnanya berubah. Gila, Mingyu merasa gila. Mingyu sudah tidak sanggup lagi. Mingyu berusaha membuka resleting celananya, dan dicegah oleh Wonwoo. Tangan kanan Mingyu diraih Wonwoo. Dua jari Mingyu telunjuk dan jari tengah, Wonwoo memasukkan jari tersebut ke mulutnya buat dia emut.

Jari-jari tersebut keluar masuk dari mulut Wonwoo yang hangat itu. Mingyu melihat pemandangan tersebut dengan akal sehat yang sudah berserakan entah kemana, Wonwoo dengan sungguh-sungguh membawa jari panjang Mingyu ke pangkal tenggorokan, dia hisap dengan telaten. Setelah itu dia buka kaosnya dan bawa tangan Mingyu ke dadanya dia nuntun jari Mingyu buat mainin putingnya. Jeon Wonwoo itu beneran gila. 2-2. Skor mereka sekarang sama. Mereka sama-sama menyerahkan diri.

Kaos mereka sudah lepas sedari tadi tergeletak tak beraturan dibawah ranjang. Wonwoo mengesek selangkangan fabrik celana mereka yang membuat keduanya menahan desah dan erangan. Mingyu cium leher Wonwoo terus kebawah, dia beri kecupan di tulang selangka putih Wonwoo. Tatapan mereka bukan lagi putus asa dan kekesalan. Tatapan menggebu penuh hasrat untuk saling mempuaskan dan dipuaskan.

Sekarang Mingyu dan Wonwoo sudah telanjang bulat, Wonwoo memimpin permainan dengan mengurut penis mereka bersama. Wonwoo menyatukan ujung batang penis mereka yang mulai mengeluarkan per-cum. Suara saru diantara mereka saling bersahutan di kamar ukuran 25m2.

“Kak, enak banget” ucap Mingyu ditengah desahnya dengan mata yang merem-melek menerima kenikmatan kocokan Wonwoo

“Enak banget ya cantik, lebih enak kalo kayak gini sayang”

 Wonwoo mempercepat tempo kocokannya dari pangkal batang penis Mingyu sampai ke ujung. Gerakan tersebut otomatis membuat Mingyu semakin berisik mendesah.

Setelah beberapa kocokan kedua mengeluarkan sperma bersamaan. Nafas mereka terengah dan Mingyu menatap Mingyu dengan senyum penuh kepuasan. Wonwoo berdiri dan mengambil tisu diatas meja dan membersihkan sisa sperma yang ada di tangannya. Mingyu menatap Wonwoo dengan mata puppy-nya, seakan menunggu sesuatu.

 “Mingyu, anak pinter” Puji Wonwoo.  faham sekali gelagat Mingyu yang ingin selalu dipuji.

“Bukan Mingyu” bantah Mingyu dengan kepala mengeleng pelan dan bibir mencebik lucu

“oh.. salah-nya, harusnya gimana?”

“Harusnya disayang”

“Miguu sayang, sayang, my pretty one” jawab Wonwoo yang memberikan kecupan lembut di bibir Mingyu. Sembari tangannya mengelus paha dalam Mingyu, yang membuat bulu kuduk Mingyu meremang dan perut bagian bawahnya geli bergejolak karenanya.

Ciuman mereka dibawa semakin jauh dan semakin serakah. Wonwoo mencumbu tubuh Mingyu, bak pelukis yang mewarnai kanvas dengan corak warna. Wonwoo pun turut melakukannya, memberikan tanda-tanda kepemilikan, entahlah atau mungkin “tanda ketidakberdayaan”. Wonwoo yang tidak berdaya untuk memberikan tanda arah hubungan mereka, Wonwo yang tidak berdaya untuk memberikan tanda batas hubungan mereka, Wonwoo yang tidak berdaya memberikan tanda mengenai perasaannya kepada Mingyu. Baginya Mingyu adalah adik tingkat yang kebetulan satu UKM. Baginya Mingyu adalah adik tingkat yang akrab dengannya. Baginya Mingyu adalah adik tingkat yang menyenangkan.

Posisi mereka saat ini Mingyu sedang duduk di pingggir ranjang. Wonwoo berlutut dan memberikan kecupan bagian paha dalam Mingyu, Wonwoo melakukanya di paha kanan kemudian di paha kiri, bergantian dengan intens diringi suara cecap yang memabukkan. Mingyu menahan kepala Wonwoo untuk tetap dalam temponya.

Lagi, Wonwoo dengan inisiatif menyebalkan-nya. Wonwoo mengurut pelan batang penis Mingyu dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Mingyu tersentak dibuatnya, Jeon Wonwoo memang sinting.

Wonwoo membuat tempo pelan dengan memaju-mundurkan kepalanya. Wonwoo menghisap batang penis Mingyu yang ukurannya tidak terlalu beda jauh dengannya. Mingyu dibuat nikmat, mulutnya terus mengeluarkan desahan dan rintihan. Wonwoo melepas hisapannya dan melihat penis Mingyu sudah dibaluri dengan salivanya, dengan sekali hentakan Wonwoo memasukkan lagi sampai ke pangkal. Penuh, Wonwoo merasa penis Mingyu semakin membesar dalam mulutnya, mulai keras. Wonwoo mengeluarkan penis Mingyu dan mengurutnya dengan tangannya. Sperma Mingyu muncrat ke dada Wonwoo, sebagian ke wajah dan leher, sialnya Wonwoo mengambil kesempatan itu untuk mengambil tangan Mingyu untuk membersihkan spermanya sendiri yang ada di pipi Wonwoo. Satu jari telunjuk Mingyu digunakan Wonwoo untuk menyapu pipi sebelah kanannya, Setelah itu Wonwoo menuntun jari tersebut untuk masuk ke mulutnya, dihisap pelan olehnya.

 

Ditengah aktivitas tersebut, smartphone Wonwoo berdering menandakan ada panggilan masuk. Wonwoo tergesa mengambil smartphone yang berada di saku jaketnya.


Mingyu memandang dengan kebingungan.

“Gyu, hoshi butuh bantuan gua balik dulu ya. Numpang toilet” Ucap Wonwoo mematikan smartphone-nya

Brengsek, batin Mingyu. Tidak ada sahutan. Mingyu hanya memandang lekat pergerakan Wonwoo dalam diam. Wonwoo yang memungut pakaiannya dengan buru-buru, semua Mingyu liat dengan mata memerah menahan sesak. Mingyu mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya.

“Besok gua kabarin lagi gyu, good night” Pintu kosan ditutup dan Wonwoo hilang sedetik kemudian.

Mingyu tetap mematung dalam diam dengan bulir air mata yang jatuh tanpa bisa dia cegah. Telak. Skor sekarang 0-0, sum zero. Semua kembali ke-tempatnya. Hubungan mereka tidak pernah melangkah kemana-mana.

Notes:

This fancfiction( spin-off) is the creation of a brainrot idea, I had with my friend.
You can check out her twitter acc to see social media AU (@noazip) .