Work Text:
Yanagi merasakan hawa yang tidak biasanya selama berada di ruangannya. Kondisi AC pada suhu yang cenderung hangat. Namun tetap saja, ia merinding merasakan suasana yang semakin dingin. Ia hampir berspekulasi bahwa tempatnya kini diganggu hantu. Itu asumsinya jika tidak menemukan kejanggalan. Nyatanya Yanagi menemukan titik permasalahannya.
Bukan tentang Soukaku yang mendadak lebih diam karena cemilannya habis. Tetapi dua insan yang sejak masuk tadi bergeming dan menampakkan keresahannya masing-masing.
Yanagi menghela nafas, membatin bergantian menatap Miyabi dan Harumasa. Dua rekannya yang menjadi penyebab ketidaknyamanan atmosfer pada ruangannya.
Entah sudah berapa hari mereka tak saling bertegur sapa. Jangankan untuk menyapa, hubungi mata saja keduanya saling menghindar. Yanagi sebenarnya tidak peduli dengan urusan pribadi mereka, tetapi ia berisiko karena profesional mereka dalam bekerja ikut menguap seketika.
"Kak Yanagi."
Ia melirik ke arah Soukaku yang berbisik, meminta mendekat.
"Apa hanya perasaanku saja, Asaba dan Ketua terlihat tidak bersahabat."
Bahkan si adik bungsu merasakan hawa itu.
"Entahlah. Sepertinya mereka ada masalah." jawab Yanagi sekenanya.
"Bukankah itu aneh? Soalnya aku memperhatikan Asaba lebih diam dari biasanya. Sementara ketua entah berapa kali melakukan kesalahan. Termasuk saat rapat. Sangat bukan ketua sekali." tutur Soukaku. Yanagi mencoba mencocokan penuturannya dengan kejadian tenggelam. Begitu valid, ia melihat sendiri bagaimana Miyabi gelagapan dan lebih sering berpikir dari biasanya, dan Harumasa cenderung bergeming hingga ia tidak mendengar pria itu mengeluh akan pekerjaannya.
"Apakah itu masalah percintaan?" Yanagi terkejut mendengar ucapan dari Soukaku.
"Darimana kamu bisa menyimpulkan itu?"
"Hanya perasaanku." jawab Soukaku polos. "Ketua dan Asaba sepenglihatanku gak jarang mereka saling memandang satu sama lain. Bahkan aku pernah memergoki mereka berpelukan."
Pengakuan Soukaku menambah pikiran Yanagi semakin liar. Asumsinya cukup gila, namun dirasa cukup masuk akal. Mengingat keduanya tidak menuntut kemungkinan memiliki perasaan satu sama lain hanya melihat dari binar matanya.
Yanagi terkekeh pelan. Ia sudah menemukan petunjuknya, tinggal menyusun strategi agar kedua rekannya dapat bekerja seperti biasanya.
"Ketua, apakah kau lelah hari ini?” tanya Yanagi. “Dan Asaba, bukankah hari ini harus diperiksa ke dokter?”
Baik Miyabi dan Harumasa memandang rekannya yang tiba-tiba dengan sangat perhatian.
"Aku tidak apa-apa." jawab Miyabi. Namun segera ditepis oleh Yanagi.
"Aku melihatmu seperti tidak sehat ketua. Sedari tadi aku memperhatikan kau sering melakukan kesalahan. Apakah aku harus membawa kalian ke rumah sakit bersama?" tawar Yanagi masih dengan senyum ramah. misalnya dia tak ada yg dia tutupi.
"Baiklah, apa boleh buat." balas Miyabi menyerah. Seakan gerak-geriknya sudah dibaca oleh musuh.
"Aku akan mengantarkan kalian berdua ke rumah sakit." ucap Yanagi final.
"Kak Nagi, bolehkah aku ikut? Kebetulan dekat rumah sakit ada toko kue yang baru buka." pinta Soukaku bersemangat.
"Padahal aku bisa pergi kesana sendirian." ada sedikit penolakan dari Harumasa, tapi wajah menyeramkan dari Yanagi terpancar pada pria itu.
"Baiklah, aku ikut." ia meralat ucapannya, sebelum sang wakil ketua berkomentar hingga memberikan siraman ceramah hingga tak berkutik.
***
Langit New Eridu menjadi gelap begitu Miyabi dan Harumasa keluar dari rumah sakit. Jangan tanyakan dimana Yanagi dan Soukaku. Mereka segera menghilang dari pandangan keduanya bagai ninja ketika berurusan dengan sang dokter. Menyisakan sepasang manusia yang tak saling bicara.
"Aku akan mengantarmu pulang." ujar Miyabi.
"Aku bisa pulang sendiri. Terlebih lagi akan ada seorang wanita aneh yang mengantar pria pulang ke rumahnya." tolak Harumasa.
“Aku khawatir kamu pingsan di tengah jalan.”
"Kau benar-benar menghawatirkan orang lain di atas dirimu sendiri." guman pemuda pemilik manik amber itu. "Tapi apa boleh buat. Aku menghargai kepedulianmu."
Keduanya berjalan melintasi Lumina Square. Malam itu biasanya lebih sepi jika dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Harumasa dan Miyabi berjalan di tengah suasana canggung. Jika ditanya mereka sedang marah, sebenarnya jauh dari itu.
Mereka tengah berkonflik dengan dirinya masing-masing. Harumasa merasa ia salah langkah saat secara gamblang menyatakan perasaan pada bosnya itu. Pria itu terlalu gegabah, hingga membuat semuanya menjadi rumit. Atau yang lebih menyakitkannya adalah semua takkan menjadi sama lagi. Mereka akan menjadi asing kembali.
Sementara itu, di sisi lain Miyabi masih terkejut sekaligus bingung akan perasaannya.
Ia merasakan terakhir kali merasakan cinta saat bersama ibunya. Namun, begitu bertemu Harumasa semuanya telah berubah. Awalnya hanya menaruh kepedulian sesama rekan sejawat. Tetapi entah sejak kapan perasaan aneh muncul dalam ingatan. Gadis rubah itu menyadari jantungnya berdegup kencang ketika didekatnya. Bersamaan, ia bersemangat ketika waktu kerja. Tak sabar bertemu dengan seseorang yang menjadi cahaya dalam kegelapan malam. Seiring waktu berputar, perasaan yang dipupuk terus menerus menimbulkan benih cinta di dalam diamnya.
Ditengah gempuran euforia manis akan cinta, Miyabi sadar bahwa dia tak mungkin bisa bahagia bersamanya. Teringat akan kesalahannya di masa lampau, ia tak pantas mendapatkan cinta yang pada akhirnya berakhir membunuhnya. Baginya waktu itu, cukup mengamatinya dan memastikan pria itu baik-baik saja di balik bayangannya.
Cinta tak harus memiliki, tetapi ketika sang pencipta menggariskan waktu untuk mempertemukan hati mereka satu sama lain. Miyabi bisa apa?
Hari itu seperti biasanya Miyabi dan Harumasa menghabiskan waktu di kantor lebih lama akibat lembur. Kali ini hanya berdua karena Yanagi dan Soukaku sudah menuntaskan pekerjaannya.
Harumasa merenggangkan tubuhnya setelah lama bekerja. Ia butuh istirahat, atau sekadar mengisi energinya ditengah gempuran tumpukan berkas yang tak kunjung menemukan titik akhir.
"Miyabi, kamu mau minum sesuatu?" tawar Harumasa pindah ke pantry. Mengisi kafein demi konsentrasinya terjaga. Miyabi mengangguk sebagai jawabannya. Kembali fokus pada berkasnya.
Suara AC terdengar nyaring berhembus mendinginkan ruangan. Namun ia dikejutkan oleh sensasi panas bersentuhan dengan mug yang diletakan oleh Harumasa.
"Oh maaf kalo kena." Miyabi memicingkan mata rubynya. Ia hampir marah konsentrasinya dibuyarkan begitu saja. Untung saja tidak tumpah mengenai berkasnya.
"Jangan terlalu serius bekerja, ketua. Saking seriusnya aku sungkan untuk bicara denganmu."
“Aku hanya melakukan tugasku sebagai pekerja.” ujar Miyabi menyeruput pelan kopi hitam. "Terima kasih, Asaba."
Pria itu membalas dengan anggukan dan tersenyum tipis.
“Masih banyak kerjaanmu?” tanya Harumasa hanya sekedar basa-basi. Mengusir rasa bosan ketika berada di ruangan tertutup dari luar.
"Lumayan. Meskipun aku ingin cepat selesai." jawab Miyabi.
"Kau butuh istirahat, Miyabi. Bagaimana jika sedikit menikmati angin malam dulu?"
Miyabi tentu akan menyambutnya dengan senang hati
Kondisi malam terbilang sepi. Ditemani oleh lukiskan tabur bintang yang menyorotkan cahayanya. Keduanya menatap langit malam seolah pemandangan itu menghiptonis kedua manik mareka.
"Sesuatu yang dingin memang enak dipadukan dengan kopi hangat." guman Harumasa.
"Mereka dari dulu tak pernah terpisahkan." balas Miyabi.
"Kau benar. Mereka seperti saling melengkapi."
Harumasa menyeruput kopinya. Manik ambernya tak berhenti memandangi wanita rubah itu. Terdapat pesan dalam sorot matanya.
"Aku harap kita juga seperti itu."
Fokus pandangan Miyabi beralih pada si pemilik suara. Manik merahnya meminta penjelasan pada pria itu. Harumasa jadi gelagapan menatap si wanita rubah itu seperti ingin menelannya. Posisinya benar-benar sudah tidak bisa ia tutupi. Atau mungkin ia sengaja?
Harumasa menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Berharap alam sekitar memberikan kekuatan untuknya.
"Tak baik untuk terus berpura-pura. Tapi, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku menyukaimu, Miyabi. Berharap kita bisa saling melengkapi saat menjalani hari-hari yang sulit."
Miyabi termenung, mendengarkan pengakuan dari pria itu. Harumasa menunduk memperhatikan kopi hitam yang semakin dingin diterpa oleh udara. Suasana menjadi gelap, mencapai kondisi liminal. Namun wanita itu tak kunjung membuka suara.
"Aku harus kerja." ucap Miyabi singkat. Meninggalkan Harumasa yang mengutuk tindakannya. Semuanya telah berubah semenjak itu.
Hingga saat ini pun, Miyabi belum bisa cepat memberikan jawaban. Banyak ketakutan yang dimiliki gadis itu. Terutama rasa trauma ketakutan akan ditinggalkan oleh seseorang yang ia cintai. Terlebih lagi mengetahui fakta kelak akan ada waktunya Harumasa akan menjadi ethereal.
Miyabi takut untuk mencinta, meskipun ia disisi lain merasa bersyukur ketika mengetahui cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
"Miyabi."
Seseorang telah memanggil namanya. Ia tau siapa pemilik suara itu.
"Terkait yang kemarin itu. Tolong dilupakan saja yah?" lanjut Harumasa.
Miyabi bergeming. Ia ingin menyangkalnya. Namun dalam dirinya seolah enggan untuk bersinergis satu sama lain.
"Aku tau terlalu gegabah untuk mengutarakan perasaanku. Tanpa memikirkan bagaimana perasaanmu. Hingga membuatmu harus berpikir. Anggap saja sebagai pengakuanku. Aku tak memaksamu untuk membalas—"
Secepat kilat Miyabi memotong ucapan pemuda itu dengan sebuah ciuman. Butuh keberanian, tetapi akhirnya ia berhasil. Harumasa yang belum sempat menyelesaikan kata demi kata terkejut akan aksinya.
Hanya berselang beberapa detik, Miyabi melepaskan tautannya. Deru nafasnya tertangkap oleh rungu pria itu.
"Bolehkah aku mengatakan sesuatu?" tanya Miyabi.
"Sejujurnya sebelumnya aku bingung akan perasaanku sendiri. Aku merasa senang dan bahagia saat berada di dekatmu. Bersyukur bahwa kamu datang ke seumur hidup. Secara bersamaan akupun takut akan kehilangan. Meski tangan ini terbiasa membunuh ethereal, aku takut bahwa suatu hari aku akan membunuhmu sama seperti aku membunuh ibuku."
Harumasa bergeming mendengar pengakuan dari wanita rubah yang dicintainya. Ia tahu bagaimana rasa bersalahnya Miyabi pada ibunya. Beriringan dengan rasa cemasnya selama ini. Tetapi cintanya terhadap wanita pujaannya telah mengalahkan rasa takutnya dulu. Bagai ilusi fatamorgana di padang pasir, kemudian saat didekati ternyata oasis yang menyegarkan dahaga.
Air muka pemuda itu bahagia, menampilkan hangat dan senyumannya sebagai tanda syukur.
"Rasanya lega ketika mendengar semuanya. Beban yang ada di pundakku saat itu juga hilang. Betapa bahagianya aku tidak jatuh cinta sendirian." tutur Harumasa.
“Walaupun tubuhku lemah dan tak berdaya, aku tidak akan menyerah pada kehidupan. Aku pastikan untuk tetap menjadi diriku sendiri, menyayangimu, dan mencintaimu sebagaimana kamu adalah bagian berharga dari hidupku.”
Miyabi merasakan kehangatan darinya mengalir pada dirinya. Sepasang untaian tali merah mengikat sepasang sejoli yang telah menemukan takdirnya. Perasaan senang dan lega mengalir di atmosfer di langit malam. Semuanya berakhir bahagia, meskipun perjalanan cinta mereka baru dimulai.
"Aku tak mengira bahwa ketua yang akan mencuri ciuman pertamaku." goda Harumasa. Miyabi memerah malu, mengingat semuanya sangat tiba-tiba saat dia menciumnya.
Menampakkan pemandangan wajah wanita rubah itu malu membuat Harumasa terkekeh pelan. Tangannya segera menarik tubuh Miyabi mendekatinya.
"Aku akan membayarnya, jadi kita impas." ucapnya sebelumnya mendaratkan ciuman pada gadis itu. Kali ini lebih lembut dan penuh kasih sayang. Seakan tak ada hari esok lagi untuk merasakan bibir manisnya. Kupu-kupu mengepakkan sayapnya menggelitik perut Miyabi, sensasi geli tak dapat dihindari. Sementara itu, Harumasa semakin bergairah untuk memperdalam ciuman mereka. Lidahnya menjulur memaksa masuk ke dalam mulut wanitanya. Lidah Miyabi dengan senang hati menyambut kedatangan tamunya. Kedua tangannya bertumpu pada pundak kokoh Harumasa. Sementara lengan pria itu memeluk tubuh rampingnya. Baiknya seperti ini hingga pasokan oksigen mereka semakin menipis. Menyisakan benang air liur menghubungkan sepasang kekasih yang dimabuk cinta.
"Aku yakin terlalu malam seorang wanita untuk pulang." ucap Harumasa.
"Bilang saja kamu ingin aku menginap bukan?" balas Miyabi sedikit meledek. "Mengajak seorang gadis yang tak ada ikatan jelas bukankah tindakan tidak gentleman?"
"Baiklah, baiklah." Harumasa mengangkat tangannya menyerah. "Aku akan menyatakan lagi. Hoshimi Miyabi, maukah kamu mengarungi setiap perjalanan hidup bersamaku? Maukah kekasih seorang pria lemah sepertiku?"
Miyabi mencium hidungnya, "Sudah kukatakan kau tidak lemah, Asaba. Dan aku mencintai Asaboo-ku."
"Aku juga mencintaimu, Miyaboo."
***
Pada akhirnya Miyabi benar-benar menginap di apartemen Harumasa. Ia mengiyakan ajakan kekasihnya. Tidak ada salahnya hari ini menginap. Tak ada yang lebih istimewa dari malam itu. Mereka tak berhenti saling bertukar dan menyampaikan isi hati masing-masing. Ditutup dengan malam gairah yang tak berkesudahan.
Di tengah sinar matahari sengaja masuk ke dalam sela-sela tirai jendela. Terdapat kesan sejoli saling berbagi kehangatan di balik selimut tebal. Miyabi terlelap pulas dalam pelukan Harumasa. Wajahnya dengan ketenangan tersembunyi dibalik dada bidang pria itu. Sementara itu, Harumasa merasa tenang saat mendengar suara dengkuran lembut dari kekasihnya.
Selama ia hidup baru kali ini bisa terlelap dengan nyenyak. Tanpa ada mimpi buruk yang menyapa.
Gadis rubah itu menggeliat, diusik tidurnya diganggu oleh keisengan sinar matahari. Ia terbangun disambut oleh wajah tampan Harumasa yang masih terlelap dengan damai. Tak henti-hentinya mengagumi paras tampannya dan betapa beruntungnya pria itu menjadi miliknya.
Cukup sampai disini untuk memandangnya.
Miyabi segera melepaskan pelukan kekasihnya tanpa membangunkannya. Melakukan rutinitas seperti yang dilakukan di rumah. Mencuci muka, merapihkan pakaian mereka yang berserakan. Kemudian dilanjut memasak sarapan untuk mereka berdua.
"Selamat pagi, Miyabi." suara serak berat menggelitik pendengarannya. Bersamaan dengan sepasang lengan memeluk tubuh mungilnya. Si empu tersenyum geli, merasakan geli hangat di kulitnya ketika Harumasa mengecup pundaknya.
"Geli." Balas wanita itu.
"Kamu mesti terbiasa, nona."
Miyabi melirik dan terkekeh menyambut senyuman kekasihnya. Walaupun ia masih belum terbiasa melihat penampilan pemuda itu hanya mengenakan celana hitam. Bertelanjang dada.
"Bukankah ini terlalu cepat?"
"Loh semalam kau tidak komplen saat aku membuka bajuku dan memberikannya padamu."
Miyabi kalah telak. Tak salah dengan ucapan Harumasa. Baju yang ia kenakan saat ini adalah kemeja milik pria itu.
"Sengaja sekali yah agar aku salah tingkah." Miyabi memasang wajahnya sambil mencibirnya gadis, meskipun kenyataannya Harumasa lebih merasa itu imut.
"Memang. Aku senang melihatmu tersenyum."
Mendengar pengakuan pacarnya, gadis itu membalas dengan senyuman tipis, tak lupa memberikan ucapan selamat pagi untuk kekasih jailnya itu. "Baiklah Asaba, kamu sebaiknya mandi dan aku akan menyiapkan sarapan dan obatmu."
"Haru." balas Harumasa. "Panggil aku Haru. Aku suka ketika suaramu memanggil nama itu."
"Baiklah, Haru. Saatnya kamu mandi." ucap Miyabi setengah mengusir pria itu. Sebelum mereka akan telat datang ke kantor. Barangkali kedatangan mereka nanti akan menggemparkan Bagian 6. Terlebih Yanagi dan Soukaku, yang tanpa mereka ketahui diam-diam memprediksi kejadian ini.
—fin
