Work Text:
Sepuluh dolar tiga puluh lima sen. Cuma itu. Bahkan dua ratus tiga puluh sen dari jumlah itu terdiri dari uang receh, hasil simpanannya selama ini, yang dia dapatkan dengan cara mendesak tukang daging dan tukang sayur agar mau memberikan harga termurah untuknya, serta meminta penjaga toko untuk tetap memberinya kembalian berupa uang meski hanya satu sen, bukan untuk donasi atau disumbangkan. Proses tawar menawar itu membutuhkan muka badak yang membuatnya tidak disukai para pedagang hingga beberapa kali mendapatkan pandangan sinis dari pelanggan lain.
Sepuluh dolar tiga puluh lima sen.
Lebih buruk lagi, minggu depan mereka sudah harus membayar biaya sewa apartemen.
Konoha Akinori menghela napas dan memasukkan sisa uangnya ke saku jaket. Ia memutuskan untuk pulang. Setidaknya ia berhasil membeli sayuran. Makan malam untuk hari ini aman.
Sembari menyusuri jalanan yang basah setelah hujan, Konoha menghirup napas dalam-dalam. Katakanlah dia sok indie, tapi dia suka bau tanah setelah hujan. Setidaknya sedikit hiburan untuknya meskipun perutnya keroncongan. Ah, ia baru ingat ia tidak makan siang. Sarapan pun hanya sebuah roti sisa kemarin yang didapat dari seminar yang ia datangi.
Konoha menatap ke langit yang mendung, mengingat hal apa saja yang telah terjadi padanya hingga ia berada di keadaan ini.
Belajar di luar negeri adalah hal yang diimpikan banyak orang. Karena itu, sebagai salah satu yang mendapat kesempatan, Konoha sangat bersyukur bisa kuliah di negara impiannya. Pada tahun pertama semuanya sempurna. Ia pergi ke Boston dengan kapten di tim voli SMA-nya, Bokuto Koutarou, yang berhasil mendapatkan beasiswa dalam prestasi olahraga. Sejak saat itu, mereka pun menjadi roommate dan segala sesuatunya menjadi tanggung jawab berdua. Mereka mendatangi tempat-tempat baru dan mendapatkan teman-teman baru. Meskipun harus melewati beberapa kali homesick parah, semuanya benar-benar luar biasa.
Namun, tidak pernah ada yang menyiapkannya untuk hal ini.
Sebulan yang lalu Konoha baru saja dipecat dari pekerjaannya karena alasan yang tidak jelas. Kini, ia menjadi kasir di salah satu kedai yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Dua puluh menit perjalanan menggunakan bus. Dengan gaji yang tidak seberapa itu, terus terang pekerjaannya yang sekarang tidak setimpal dengan waktu dan biaya transportasi yang dihabiskannya. Ditambah lagi, ponsel berikut seluruh uang tunainya baru saja dicuri di salah satu perjalanannya ke tempat kerja itu. Untungnya visa, segala kartu identitasnya, serta kartu kreditnya yang sekarang tidak ada isinya masih baik-baik saja.
Satu-satunya hal lain yang memungkinkan sekarang adalah tidak bekerja sama sekali, yang artinya tidak memiliki pendapatan sama sekali, yang tentu saja bukan pilihan.
Karena itu, sembari mencari kerja di tempat lain, mengerjakan tugas-tugas kuliahnya, Konoha tetap bertahan di keadaan itu.
Mungkin kalian akan bertanya, bagaimana dengan yang disebut roommate tadi? Tidakkah tanggung jawab menjadi milik berdua? Kenapa tidak minta bantuannya saja?
Tentu. Tentu Bokuto akan membantu jika bisa. Tapi entah bagaimana, dia juga jatuh dalam keadaan yang sulit. Sekarang ini semesta seolah sedang bersekongkol untuk membuat mereka berdua menderita.
Konoha merogoh saku, berniat untuk mengecek apakah ada email yang masuk dari profesornya dan langsung mengingat ia sudah tidak punya ponsel.
Cih. Konoha benar-benar membutuhkan ponsel baru.
.
.
.
“What the fuck, are you buying?!” tanya Konoha saat Bokuto pulang sambil membawa dua lusin kain berwarna putih dengan corak hitam sekeranjang penuh. Konoha mengenali kain itu. Setahun yang lalu, Bokuto membelinya untuk mereka berdua untuk mengikuti demo.
“Ini kufiya,” kata Bokuto tanpa rasa bersalah. Wajahnya girang seolah ia telah berhasil melakukan hal besar. Pakaiannya agak basah, gel di rambutnya juga hilang. Tampaknya Bokuto telah lari menerobos hujan. “Seorang ibu-ibu di pasar menjualnya dengan harga murah, jadi aku memborong semuanya! Keranjang anyamannya juga gratis!”
Konoha menatap skeptis. Pertama, dengan kemampuan tawar menawar muka badak, mendapatkan harga murah bukanlah hal besar bagi Konoha. Dan kedua sekaligus yang paling penting, “Benar. Tapi sebelum kau membeli sebanyak ini, tidakkah terbesit sedikit saja dalam otakmu kalau di keadaan kita sekarang, akan jauh lebih baik jika kau memakai uang itu untuk membeli makanan?!” tanyanya emosi.
Kini, Bokuto menatap Konoha sambil tersenyum sedih. “Aki….”
Konoha tahu apa yang akan dikatakan Bokuto. Kalau kita punya niat baik, Tuhan akan datang menolong. Bokuto bukan hanya membantu sang penjual terhindar dari kerugian, tapi juga menunjukkan kepeduliannya pada saudara mereka yang kini masih terus terjajah.
Konoha menghela napas dan duduk di kursi terdekat, sakit kepala. Yah, Bokuto sudah membelinya, tidak ada yang bisa mengubah kenyataan itu. “Apa yang akan kau lakukan dengan semua ini?” tanya Konoha. “Kita tidak bisa menjualnya. Palestina sudah menjadi berita lama.” Alasan yang sama kenapa ibu penjual di pasar itu menjualnya dengan harga murah. Benda ini sudah tidak laku.
Saat mengatakan itu, Bokuto kelihatan sangat sakit hati.
“Itu kenyataannya, Kou. Masyarakat kian diam. Lihat sekelilingmu. Tidak ada lagi yang membahas mereka.” Konoha tidak bisa bilang dia tidak peduli. Dia peduli. Dia ingin membantu. Tapi untuk sekarang, dia lebih memilih untuk mengurusi masalahnya sendiri.
Terjadi keheningan singkat di antara mereka.
“Sudah satu tahun,” gumam Bokuto.
“Maaf?”
“Kau bilang mereka berita lama. Tentu mereka adalah berita lama, sebab sudah satu tahun sejak penyerangan itu! Satu tahun!” ulang Bokuto, jauh lebih lantang. “Tapi, hanya karena mereka berita lama, apa artinya mereka sudah tidak menderita? Apa mereka sudah bebas? Apa mereka sudah tidak membutuhkan bantuan? Tidak! Mereka masih bertahan. Kita juga masih harus terus bertarung! Mereka masih membutuhkan kita!” teriak Bokuto.
“Aku tahu!” Konoha balas berteriak. “Aku tahu.” Ia mengulang dengan lebih lembut. Ia menghela napas. “Jadi apa yang akan kau lakukan? Membagikan semua ini secara gratis dan mengajak demo sekali lagi?” tanya Konoha.
Konoha bersumpah itu hanya ungkapan. Ia tidak serius. Tapi, Bokuto menjadi Bokuto, tentu saja tidak memahami ungkapan.
“Ya. Aku akan membuat semua orang kembali mengingat Palestina.” Bokuto mengambil sebuah kufiya dari keranjang dan memakainya di kepala, sebelum kemudian tergesa-gesa keluar.
Dammit.
.
.
.
Berbeda dengan Konoha, Bokuto tidak harus bekerja di hari biasa. Seluruh kebutuhannya sudah tercukupi. Ditambah lagi, harus terus mempertahankan nilai di kelas beserta ketatnya jadwal latihan untuk menjaga prestasi olahraga yang sangat menyita waktu membuatnya tidak punya ruang untuk bekerja seperti Konoha. Tapi, dia akan mengambil part time saat masa liburan tiba. Sekali lagi bukan keharusan, sebab ia melakukannya hanya untuk menghabiskan waktu.
Namun pada bulan-bulan ini, keuangan juga sedang mencekik. Di rumah, orang tuanya sedang membangun sebuah bisnis makanan untuk persiapan pensiun, sehingga uang bulanan Bokuto dikurangi. Salahkan saja pemerintah yang tidak sanggup mensejahterakan rakyatnya, sehingga di masa tua pun mereka masih harus berjuang. Dengan pendapatan minimum yang sekarang, yang sering tidak ditepati juga, siapa yang bisa menabung untuk masa tua?
Oke, selain masalah uang bulanan yang dikurangi, ia akan segera memasuki musim turnamen, yang sekali lagi banyak hal yang harus dibayar.
Yeah, sayangnya beasiswa yang didapat Bokuto hanya dapat meng- cover seluruh biaya kelas per semester dan separuh biaya latihan dan pertandingan. Kalau mereka harus memakai transportasi udara untuk datang ke tempat turnamen misalnya (seperti juga sekarang ini), ia masih harus membayar.
Satu hal lagi, Bokuto bersumpah semesta memang sebercanda itu, beberapa hari lalu laptop tua yang ia gunakan untuk kuliah dan berisi tugas-tugasnya tersiram air minum dan tidak bisa menyala.
Bokuto langsung membawanya ke tempat service tentu saja, dan bagusnya masih bisa diselamatkan, tapi karena itu juga kini dia tidak memiliki tabungan.
Jadi… Konoha dan Bokuto sama-sama tidak memiliki uang sekarang. Karena itulah Bokuto paham kenapa Konoha marah. Hanya saja, Bokuto tidak bisa menahan hatinya untuk tidak melakukan hal yang menurutnya benar.
Sembari menatap kufiya di keranjang, Bokuto menghela napas. Pemerintah dari tempat asalnya memang tukang korupsi dan haus kekuasaan. Tapi pemerintah di sini juga sama buruknya karena merekalah satu-satunya alasan tidak terjadinya gencatan senjata.
Atau setidaknya itulah yang terjadi sebelumnya. Sekarang, pemerintah dari tempatnya sama buruknya, dan bahkan lebih buruk, sampai Bokuto bahkan tidak ingin membicarakannya.
Sekarang Bokuto sedang berada di halte bus terdekat. Tidak ada tujuan ingin ke mana, tapi setidaknya dia bisa bertemu banyak orang.
Bokuto mulai berpikir, haruskah ia cari pekerjaan? Dia takut nilainya bisa dalam bahaya, tapi apa dia punya pilihan? Lagipula hanya untuk bulan ini, kan? Setidaknya sampai uang yang terkumpul bisa untuk membayar biaya sewa apartemen. Harusnya tidak akan berefek besar….
“Tentu, Bu. Iya, aku akan makan dengan benar. Tidak usah khawatir,” kata seseorang di sebelah Bokuto.
Bokuto menoleh dan mendapati seorang laki-laki seumurannya sedang bicara di telepon. Hal yang menarik perhatian Bokuto adalah karena laki-laki itu menggunakan bahasa dari tempat tinggalnya.
“Permisi,” Bokuto menyapa dengan Bahasa Inggris setelah laki-laki itu menutup telepon.
Si laki-laki menoleh. Ia menatap Bokuto yang masih memakai kufiya di kepalanya, lalu beranjak ke kumpulan kufiya yang ada di keranjang Bokuto.
Bokuto sadar fungsi kufiya sendiri digunakan untuk melindungi dari panas matahari beserta menunjukkan dukungan untuk Palestina, jadi memakainya di musim hujan beserta redamnya berita tentang genosida itu seperti sekarang pasti membuatnya sangat mencolok.
Sebenarnya Bokuto sejak tadi mendapat pandangan heran dari orang-orang, tapi ia tidak menggubrisnya.
“Ya?” kata si laki-laki.
“Uh, kau… orang Asia?” tanya Bokuto.
Si laki-laki tersenyum. “Iya, dari Zamrud Khatulistiwa.”
Oh, saudara sebangsa dan setanah air!
“Aku juga! Kenalkan, aku Bokuto Koutarou!” Bokuto mengulurkan tangannya dengan semangat, tersenyum lebar.
“Akaashi Keiji.” Akaashi menjabat tangan Bokuto. “Apa yang kamu lakukan di sini Kak Bokuto?”
“Kuliah,” jawab Bokuto. “Kau?”
“Sama,” jawab Akaashi. “Aku baru mulai tahun ini.”
Oh, seorang adik tingkat.
“Akaashi,” Bokuto merentangkan kedua tangannya, “selamat datang di Boston!”
“Terima kasih, Kak Bokuto.”
Mereka pun membicarakan banyak hal, mulai dari asal masing-masing, di mana mereka tinggal, studi apa yang mereka ambil, hingga kenapa memilih Boston untuk melanjutkan pendidikan.
“Suatu saat datanglah ke tempatku, Akaashi,” ajak Bokuto. “Roommate-ku akan senang bertemu saudara sebangsa juga.”
Akaashi tertawa. “Tentu, Kak Bokuto.”
Lalu, Bokuto pun menceritakan tentang Konoha.
“Kedengarannya dia teman yang baik ya,” komentar Akaashi. “Pasti senang ada yang familiar di sini.”
“Baik sekali!” Bokuto setuju. “Dan jangan khawatir, Kaashi, kalau kau sedang rindu rumah, kau bisa menghubungiku kapan saja!”
“Terima kasih Kak Bokuto,” Akaashi tersenyum. “Omong-omong, Kak Bokuto,” ia menunjuk kufiya di keranjang Bokuto. “Apa ini dijual?”
Bokuto tidak menduga pertanyaan itu akan datang. Ia mengusap lehernya dengan canggung. “Ah, kurasa tidak, Akaashi… aku tidak yakin ada yang mau membeli—”
“Kalau dijual, aku mau membeli semuanya,” Akaashi menyela.
Oke, kini Bokuto bingung. “Eh?”
Akaashi menghela napas. “Jadi, perkumpulan mahasiswa di tempatku mau mengadakan seruan lagi soal Palestina. Kami ingin memakai kufiya untuk simbolisasi, tapi sudah tidak ada orang yang menjualnya sekarang,” jelasnya. “Jadi kalau boleh, kami mau membeli kufiya milikmu.”
Perlahan, mata Bokuto membelalak. Ia bahkan ingin memukul dirinya sendiri untuk memastikan ini bukanlah mimpi. Bukan hanya kufiya-nya terjual, dia juga menemukan kelompok yang juga masih peduli pada saudara mereka di Timur Tengah sana.
“Tentu saja boleh Akaashi!!!” Bokuto berteriak dengan sangat antusias. “Boleh aku ikut perkumpulan itu? Boleh ya? Boleh??”
.
.
.
Malam harinya, setelah menyelesaikan makan malam dan mencuci seluruh peralatan dapur, Bokuto berniat beres-beres. Ia tanpa sengaja menemukan sebuah kotak kayu seukuran dua telapak tangan yang mencurigakan di lemari ruang tamu mereka.
“Uh… Aki? Apa yang kau simpan di kotak ini?” tanya Bokuto sambil menunjukkan kotak itu ke arah kamar Konoha.
Konoha yang sudah berada di kamar untuk menyelesaikan tugas hanya menyahut, “Kotak apa? Buka saja dan lihat isinya!”
“Oke…” kata Bokuto sambil membuka kotak.
Mata Bokuto membelalak melihat isi kotak itu.
Semesta memang suka bercanda. Tapi semesta juga sangat tahu cara memberi kejutan manis tidak terduga.
Kupon.
Banyak sekali kupon.
“Aki, lihat!” Bokuto buru-buru masuk ke kamar Konoha dan menunjukkan yang ia temukan.
Konoha yang menatapnya dengan ekspresi terganggu langsung berubah begitu melihat yang dibawa Bokuto. Ia mengambil kotak itu dan memeriksa isinya. “Demi Tuhan. Aku lupa aku mengumpulkan ini.”
Konoha pun tertawa. Tawa lega yang sudah lama tidak terdengar sejak ia dipecat dari pekerjaannya.
“Dengan kupon sebanyak ini, kita tidak perlu khawatir untuk makan sebulan ke depan!”
Tampaknya, membeli kufiya itu memang bukan keputusan yang buruk. Bokuto percaya, masalah mereka akan segera selesai satu per satu.
