Work Text:
Masa kuliah memang bukan waktu yang ingin kembali dirasakan oleh setiap orang. Bukan maksud untuk menggeneralisir, tetapi memang begitu kenyataan nya. Tentu banyak hal yang indah dan dapat dipetik pelajaran nya dari semester-ke semester. Tapi kalau ditanya apakah ia akan kembali lagi ke jenjang kuliah? Sepertinya tidak.
“Jadi, langsung masuk bagian engineer nya?” Wonwoo tertawa, menghembuskan asap rokok itu dari hidungnya, “Emang enak ya kalo punya orang dalem. Bisa langsung dapet kerja.” Jeonghan mendengus, melayangkan kaki untuk menendang belakang paha tetangganya itu. “Nggak usah lebay. Lo juga bakal kerja di jenis kantor yang nggak ada bedanya,” Wonwoo hanya tertawa, mengacungkan ibu jari kepada teman nya itu, “Nikmatin dulu hidup nggak ada beban kuliah, bang. Tiduran di rumah. Kata bunda di rumah gue ada pembantu baru sih. Barengan sama bunda lo. Gue belum sempet ketemu.”
Jeonghan tidak mengetahui itu, sudah lama pula sejak terakhir kali ia pulang ke rumah. Membuang batang rokok itu ke tempat sampah, sang tuan pun mengangkat tasnya ke punggung. Jangan bertanya mengapa alasan Jeonghan lebih memilih untuk mampir ke rumah Wonwoo terlebih dahulu. Berapa jam harus ia lewati merasakan perjalanan pulang dari daerah rantau, Jeonghan membutuhkan batang rokok yang sudah lama tidak dihisap selama menggarap skripsi itu.
Mengetuk pintu rumahnya beberapa kali seraya menunggu dibukakan, Jeonghan menatap ke arah layar ponselnya. Membaca beberapa notifikasi yang dibiarkan tidak terbaca selama beberapa jam, bahkan dari berhari-hari lalu juga. Kiriman foto dari waktu wisuda pun diterima oleh Jeonghan. Senyuman kecil terukir dan sebelum ia menyimpan foto-foto itu, pintu rumahnya terbuka.
“Cari siapa – oh, mas Jeonghan,” ujar suara yang tidak pernah didengar oleh Jeonghan sama sekali. Kepalanya didongakkan, menemui perempuan asing di hadapan nya. “Lo siapa?” tanya Jeonghan seraya mengedipkan kedua matanya kebingungan, “Maaf, ini beneran rumah gue bukan, sih?” perempuan itu menahan tawanya sedikit dan menganggukkan kepala, “Bener, bener. Itu bunda lagi di dalem. Oiya, aku Seungcheol, mas. Pembantu barunya mas.” Jeonghan terdiam sejenak, menatap paras wanita itu dari atas sampai bawah.
Tentu, momen nya akan dihancurkan seketika oleh sang ibunda. Mendengar namanya dipanggil dengan lantang, Jeonghan mendengus pelan sebelum membiarkan beliau bergegas memeluk tubuhnya erat-erat. Seperti mereka tidak terakhir bertemu beberapa hari lalu di acara wisuda. Tapi Jeonghan sendiri tidak bisa berbuat apa-apa.
Selama menginjakkan kaki kembali ke rumah, Jeonghan terdiam sejenak. Presensi Seungcheol di rumahnya tentu merupakan suasana yang baru. Jeonghan terlalu terbiasa hanya tinggal dengan kedua orang tuanya saja yang juga sibuk bekerja sejak ia kecil. Semenjak Jeonghan memutuskan untuk kuliah di luar kota, pembantu keluarga yang lama dibiarkan kembali ke rumah demi melanjutkan kehidupan pribadinya.
“Bunda dapet rekomendasi dari bundanya Wonwoo, mas. Katanya kalo dari organisasi itu, pembantunya bagus-bagus. Seenggaknya bisa ngurus rumah yang gede kayak punya kita,” tutur sang bunda dengan semangat, “Bunda juga udah ngenalin mas ke Seungcheol kok. Soalnya foto-foto mas dari kecil juga masih kepajang di dinding. Iya kan, Seungcheol? Suka ngeliatin foto mas tuh, ganteng katanya.” Dari samping, Jeonghan bisa melihat betapa merahnya pipi perempuan itu. Memeluk nampan setelah menempatkan 2 gelas minum di meja, Seungcheol hanya bisa menahan malu. “Maaf, mas. Nggak bermaksud begitu,” Jeonghan hanya tertawa halus, tidak terlalu memikirkan hal itu, “Nggak apa-apa. Emang ganteng kok.”
Sepertinya ia harus banyak belajar menggoda perempuan lagi semenjak hidup sendirian di perantauan. Walaupun demikian, Jeonghan menerima presensi Seungcheol di rumahnya. Tidak begitu mengusik keseharian nya sebagai seorang pengangguran menunggu hari pertama bekerja. Namun ada hal lain yang membuat Jeonghan begitu nyaman tinggal di rumah.
Postur tubuh Seungcheol sangat sempurna. Terkadang perempuan itu hanya memakai kaos ketat dan celana pendek. Memperlihatkan belahan payudaranya setiap melakukan kegiatan bersih-bersih di rumah. Menyapa Jeonghan dengan suara lembutnya sembari menawarkan untuk dibuatkan kopi di pagi hari.
Kapan terakhir kali Jeonghan merasa terangsang dengan penampilan seorang wanita? Ia sendiri tidak ingat. Mengetahui seisi masa kuliahnya hanya ditimpali oleh perasaan stress saja. Jeonghan menghela napas panjang, menurunkan celananya seraya menggenggam kontol itu di tangan. Membayangkan paras Seungcheol sedang menungging di hadapan nya, memperlihatkan belahan pantat besar nan kenyal itu.
“Fuck…” gumam Jeonghan pelan, semakin cepat mengocok kontolnya sendiri di kamar mandi. Jeonghan sempat mendapati Seungcheol hanya memakai branya saja. Payudara besar yang memikat pandangan dan hawa nafsu sang tuan semakin meningkat. Jeonghan mendesah semakin keras, merasakan kontolnya menegang di genggaman tangan nya, “Ah – anjing –” peju kental pun keluar dari kepala kontol besar tersebut.
Deru napas terdengar menggema di kamar mandi itu. Jeonghan bersandar di atas kloset toiletnya, dada masih bergerak naik-turun atas sensasi orgasme yang baru saja dirasakan. Pandangan nya sedikit mengabur, hanya diisi oleh fantasi liar dengan apa yang mau ia lakukan kepada perempuan itu. Hasrat Jeonghan sudah tidak bisa ditahan lagi.
Keesokan harinya, di mana Jeonghan masih menjadi pengangguran, keduanya kembali ditinggal oleh orang tua sang pemilik rumah. Jeonghan mendengar sang bunda meninggalkan beberapa pesan kepada pembantunya. Seungcheol terlihat sangat menuruti perintah-perintah yang diberikan. Tidak lupa berucap terima kasih saat sang bunda memberinya uang lebih untuk membeli cemilan.
Saat Seungcheol sedang membersihkan sofa, Jeonghan menghembuskan napas pelan. “Seungcheol,” panggilnya pelan, menatap ke arah perempuan itu yang menoleh mengambil atensi sang tuan, “Iya, mas? Mas mau kopi? Aku belum sempet rapi-rapi makanan buat makan siang nanti.” Lugu, pikir Jeonghan di dalam benaknya, cantik banget. Seungcheol menatap Jeonghan dari di balik bulu mata lentik berkibas beberapa kali, kaos ketat yang dikenakan nya memperlihatkan payudara besarnya dengan jelas, “Mas? Kok ngeliatin akunya gitu banget? Kayak aku mau dimakan.”
“Emang mau kalo dimakan?”
“Tergantung makan nya kayak gimana dulu.”
Seungcheol terkesiap saat tubuhnya disandarkan di ujung sofa. Tinggi tubuh mereka tidak terlalu jauh, bahkan setara dari perspektif orang lain. Namun di posisi seperti ini, Seungcheol merasa lebih kecil dari sang tuan. Ditambah dengan tangan hangatnya mulai meraba paha dan pantat perempuan itu.
Jeonghan mempertemukan kedua bibir mereka dalam satu ciuman lembut. Mendengar lenguhan-demi lenguhan yang lolos dari bilah bibir Seungcheol. Perempuan itu menarik tubuh Jeonghan agar lebih mendekat ke tubuhnya. Menerima segala sentuhan yang diberikan kepadanya.
“Mas –” Seungcheol duduk di tepi sofa dengan kedua kaki terbuka lebar. Kaosnya diturunkan hanya untuk Jeonghan bebas mengeluarkan payudara besarnya dari balik pakaian itu. “Ah! Hhah! Mas, mas –” Jeonghan menghisap kedua payudara Seungcheol bergantian; menjilat, mengulum, dan menggigit dua pentil menegang itu. Kedua mata Seungcheol sudah berguling ke belakang, lidah terjulur keluar merasakan hisapan-demi hisapan yang diberikan oleh sang tuan, “Hhah! Ahhh! Enak, enak, enak – mas, mas, mas, aku mau lebih. Lagi, lagi, lagi.”
Tidak lugu, Jeonghan tersadarkan, menyaksikan celana pendek yang dikenakan Seungcheol mulai basah akan cairan orgasmenya sendiri, pelacur, fuck, dia ternyata lonte. Jilatan dan hisapan itu semakin liar. Apakah karena Jeonghan belum menyantap sarapan hari ini? Mungkin itu salah satunya. Sarapan Yoon Jeonghan hari ini adalah Choi Seungcheol sendiri.
Seungcheol melenguh pelan saat celana pendeknya ditarik lepas. Membiarkan lelaki itu menjamah selangkangan nya dengan meninggalkan beberapa kecupan-kecupan lembut. Saat lidah Jeonghan bertemu dengan memeknya, Seungcheol menjerit. Semua mimpi basah dan imajinasi liar yang selama ini ia bayangkan akhirnya terjadi di dunia nyata.
Jeonghan menggesekkan hidungnya di bibir memek sang puan sebelum memberikan tamparan keras di sana. Alhasil, Seungcheol hanya bisa memekik keras, menggigit bibir bawahnya manja merasakan perilaku kasar dari yang lebih dominan. “Nnnh! Hhhn… mas, mas, mas,” bibir Seungcheol bergetar, tubuhnya menegang sempurna merasakan kenikmatan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Tidak bisa dibandingkan dengan jemari-jemari lentiknya saja.
Tidak butuh waktu lama bagi Seungcheol untuk memuncratkan cairan orgasmenya. Tubuh terkulai lemas di sofa itu, membasahi wajah dan mulut lelaki yang berada di antara kedua kakinya. Jeonghan membuka mulutnya lebar-lebar, membiarkan cairan itu mengotori wajahnya. Bergegas Jeonghan menjilat area selangkangan dan mengulum itil sang puan sampai membengkak; memastikan tidak ada yang tersisa.
Tubuh Seungcheol terkulai di sofa dengan Jeonghan yang menyeka sisa cairan orgasme di mulutnya. Tanpa berpikir dua kali, ia melepas celananya untuk mengocok kontol sejenak. Seungcheol melenguh pelan, mengangkat kedua kakinya seraya merasakan kontol besar itu bergesekan dengan bibit memeknya. Jeonghan mendapati Seungcheol menatapnya dengan penuh nafsu, bibir merekah merah sempurna layaknya buah ceri.
“Pertama kali?” bisik Jeonghan dengan suara lembutnya. Jemari diangkat untuk mengusap bibir bawah Seungcheol, membiarkan perempuan itu mengulumnya pelan sebelum mengangguk, “Iya, iya… mmmh. Aku perawan, mas. Tapi nggak apa-apa, ambil aja, aku rela. Jangan pake kondom, biar aku hamil anak mas aja.” Deru napas berat pun lolos dari hidung sang tuan. Jeonghan mendekatkan wajahnya ke Seungcheol, menjilat bibirnya sebelum mendorong masuk kontol itu ke dalam tubuh perempuan nya, “Makasih, ya. Mas janji bakal jagain Cheollie.”
“Makasih, makasih, makasih banget, mas. Ewe aku, ewe Cheollie – ah! Hhah!”
“Fuck – kamu sempit banget, Cheollie. Lebih sempit dari yang mas bayangin.”
“Mas juga gede banget. Ah, ah… lebih gede dari yang aku bayangin setiap colmek sendirian di kamar.”
Jeonghan rasanya ingin berteriak, ia tidak sendiri. Seungcheol merasakan hal yang sama; Seungcheol melakukan hal yang sama. Jeonghan pun mengubur kontol besarnya dalam-dalam di liang sempit itu, membuat sang puan melenguh kencang. Desahan keduanya menggema di ruang tamu sepi tanpa pemilik rumah yang sebenarnya.
Tubuh Seungcheol ditarik untuk melingkarkan kedua kakinya di pinggang Jeonghan. Mempertemukan kedua bibir mereka kembali dalam satu ciuman lembut nan sensual. Penuh nafsu yang sudah dibelenggu lama di dalam benak masing-masing. Keputusasaan untuk menyentuh satu sama lain, Jeonghan merasa dahaga yang selama ini dirasa seketika terpenuhi.
“Mas, mas – mas Jeonghan,” air mata jatuh di pipi perempuan cantik itu. Wajahnya sudah semerah buah ceri, deru napas Seungcheol terdengar lebih berat dari biasanya. “Kenapa, sayang?” tanya Jeonghan dengan lembut, menyeka air mata yang jatuh di kedua pipi Seungcheol. Perempuan tersebut mengecup telapak tangan sang tuan, menggesekkan pipinya ke sentuhan yang diberikan, “Mas ganteng banget.”
Harusnya apapun yang terjadi sekarang tidak membuat Jeonghan urgensi untuk tertawa. Namun mendengar pernyataan itu, ia tidak bisa menahan dirinya. Kekehan kecil pun lolos dan senyuman lebar terukir di bibir Seungcheol. Agar tidak merasa malu dalam waktu yang lama, Jeonghan mencium bibir Seungcheol lagi seraya mengusap tiap lekukan tubuh sempurna bak dewi Yunani itu.
Ciuman mereka terpaksa harus terlepas saat Jeonghan mulai menggerakkan pinggangnya. Menghentakkan titik kenikmatan Seungcheol pelan-pelan, berniat memberikan suatu hal yang luar biasa untuk senggama pertama bagi perempuan itu. Walaupun Jeonghan sudah pernah melakukan nya, tetapi ia merasa ini juga pertama kali untuknya. Seungcheol mengusap tengkuk Jeonghan dengan lembut, mendesah setiap kepala kontol sang tuan menumbuk titik kenikmatan nya di dalam sana.
“Enak, cantik? Kasih tau mas ya kalo kesakitan,” bisik Jeonghan seraya menarik tubuh Seungcheol semakin mendekat. Seungcheol membalas dengan anggukan kecil, melepas kaos ketat itu sebelum dilemparkan ke lantai. Tubuhnya kini telanjang bulat, memberi kontrol sepenuhnya kepada lelaki yang berada di depan nya, “Kalo di bokep yang sering aku tonton, bukan nya makin sakit itu makin enak ya, mas? Kayak dicekek gitu,” Seungcheol mengecup pipi Jeonghan lembut, “Aku mau dicekek gitu, mas.” Mendengar permintaan tersebut, Jeonghan sampai tersedak air liurnya sendiri, “Nggak semua di bokep itu bisa dilakuin di dunia nyata, sayang,” bibir Seungcheol mengerucut manja, harapan nya hancur seketika, “Tapi bisa sih kalo dicoba. Nanti, ya? Aku mau ambil keperawanan kamu dulu.”
Alhasil, raut wajah Seungcheol langsung kembali sumringah. Perempuan itu meremas payudara besarnya seraya menerima tiap sodokan keras dari sang tuan. Mendesah terbata-bata merasakan kontol besar yang bergerak di bawah perutnya. Kedua mata berguling ke belakang, tubuh dibiarkan mengikuti hentakan-demi hentakan keras yang dikerahkan oleh sang dominan.
Jeonghan melenguh merasakan kontolnya semakin membesar di dalam liang sempit itu. Tanpa ampun ia menggerakkan kontol semakin kencang. Menumbuk titik kenikmatan sampai buah rahim milik perempuan itu. Mengejar puncak orgasme di mana ia akan membuahi Seungcheol; menghamili Seungcheol, membuat perempuan itu mengandung anak kandungnya.
Sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh Jeonghan pada awalnya, namun jika bersama Seungcheol? Semuanya terlihat mudah seketika.
“Mas! Mas! Mas!” Panggil Seungcheol berkali-kali, kukunya ditanamkan dalam-dalam di pundak ramping milik Jeonghan, “Mas! Hhahh! Nggak kuat, nggak kuat, nggak kuat –! Mau muncrat!” geraman pelan lolos dari bibirnya. Jeonghan mencengkram pinggang Seungcheol kuat-kuat, memberikan sodokan-demi sodokan kencang yang membuat perempuan itu hilang akal seketika. “Mau keluar –! Hhah! Mas mau keluar sayang –” Seungcheol mencoba menggerakkan pinggangnya berlawanan arah mengerahkan energi yang tersisa. Pandangan nya sudah semakin sayu, lidah terjulur keluar seraya mengusap pipi Jeonghan dengan lembut, “Di dalem –! Mmmnh! Di dalem, di dalem – di dalem aku, mas. Di dalem rahimku – sampe aku buncit. Sampe aku hamil anak kamu! Mmmh!” cengkraman itu semakin memerah meninggalkan tanda kepemilikan.
Seungcheol menjerit kencang saat puncak orgasmenya tercapai. Mencakar pundak dan punggung lelaki itu sampai meninggalkan bekas. Jeonghan tidak berhenti begitu saja, masih menyodok liang memek yang sangat sempit milik Seungcheol. Masih mengejar puncak orgasmenya, membuahi rahim sang puan.
Saat puncak orgasmenya tercapai, tubuh Jeonghan menegang. Pita suara Seungcheol terasa dicabut tiba-tiba, tidak ada lenguhan yang lolos dari mulutnya. Merasakan tiap tetesan cairan kental itu memenuhi rahim dan juga liang memeknya untuk pertama kali. Seungcheol merengkuh tubuh Jeonghan erat-erat, membiarkan lelaki itu mengubur kontolnya lebih dalam di tubuhnya.
“Seungcheol! S-seungcheol –”
“Jeonghan! Jeonghan! Ahh! Penuh!”
Seungcheol memeluk tubuh Jeonghan semakin erat. Membiarkan kedua tubuh mereka bersatu selayaknya sepasang kekasih. Jeonghan membiarkan kontolnya memenuhi liang memek perempuan itu sampai tidak ada yang tersisa lagi. Beberapa bahkan sampai menetes keluar, membasahi sofa dan lantai yang sedang dibersihkan oleh Seungcheol awalnya.
Bibir Jeonghan langsung ditautkan oleh Seungcheol ke dalam ciuman lembut. Mendesah di rongga mulut sang tuan seraya mendesak lidahnya masuk untuk menjamah lebih leluasa. Kedua tangan Jeonghan dikerahkan untuk memeluk Seungcheol lebih dalam di dekapan nya. Membalas tiap lumatan yang diberikan oleh perempuan cantik itu.
“Mas, mas,” panggil Seungcheol dengan suara seraknya, “Mas Jeonghan.” Kedua mata Jeonghan terbuka kembali, membiarkan andangan nya perlahan berubah menjadi lebih bersih dan menatap perempuan di hadapan nya. “Hai,” sapa Jeonghan yang kini merasakan lelahnya bersenggama lagi, “Enak banget ngentotin kamu, sayang. Nggak bakal puas kalo sekali doang.” Seungcheol tertawa kecil, mengusap kontol Jeonghan yang terasa di bawah perutnya, “Jangan sekali aja makanya, mas. Ngentot lagi, yuk?” Lelaki itu hanya bisa tertawa kecil dan menarik tubuh Seungcheol mendekat ke tubuhnya, “Yuk. Sampe kamu pingsan, ya. Mas nggak kasih ampun kalo sekarang.”
Sebagai laki-laki tentu harus menempatkan janjinya. Alhasil, Seungcheol pun pingsan di ruang tamu setelah mereka bersenggama beronde-ronde hingga jam makan siang pun tiba.
Keduanya bersenggama setiap waktu. Semenjak hari itu, Jeonghan tidak bisa jauh-jauh dari presensi Seungcheol. Tentu saat perempuan itu terlalu lemas untuk melanjutkan pekerjaan nya, Jeonghan yang menggantikan. Walaupun Seungcheol enggan majikan nya untuk melakukan hal itu semua, Jeonghan tetap mengerjakan nya.
Setidaknya sebagai alasan terbesar mengapa Seungcheol tidak melanjutkan pekerjaan nya, ia harus bertanggung jawab. Menemani Seungcheol yang sedang memasak makan siang untuk mereka berdua, Jeonghan meninggalkan kecupan-demi kecupan di leher perempuan itu. Mendengarkan tawa kecil yang lolos dari bilah bibir sang puan membuat benak Jeonghan terasa lebih lega. Terakhir ia merasakan hal ini saat skripsinya dinyatakan lulus dengan revisi yang tidak terlalu banyak.
Semenjak mereka bersenggama pertama kali, Jeonghan membiarkan Seungcheol berbaring di kasurnya. Walaupun kedua orang tuanya sedang berada di rumah, di kamar mereka, tentu Jeonghan masih tetap mencari cara agar bisa menghabiskan waktu bersama perempuan itu. Pastinya ia memastikan Seungcheol sudah menyelesaikan segala pekerjaan rumah. Agar sampai sore, sesuai dengan apa yang Seungcheol beritahu bundanya kalau ia sedang tidur siang, mereka bisa bermesraan di kamar.
“Kamu emang beneran sering liatin foto aku?” tanya Jeonghan di sela waktu istirahat mereka setelah bersenggama untuk kesekian kalinya. Tubuh Seungcheol sendiri sudah didekorasi oleh banyak gigitan dari lelaki itu; tentu, ia sama sekali tidak keberatan dengan hal tersebut. Dengan malu-malu, Seungcheol mengangguk, “Tapi bunda emang suka ceritain kamu, mas. Kalo dulu kamu suka ngejailin mbak pembantu yang lama.” Jeonghan tersedak, mendengus kesal dan Seungcheol tertawa lepas, “Tapi aku nggak nakal, ya. Emang iseng aja.”
Seungcheol bergumam pelan, “Terus, aku bakal diisengin juga nggak?”
Lelaki itu menggelengkan kepalanya tanpa jeda, “Nggak bakal. Kalo kamu mah aku entotin terus.”
Keduanya kembali berciuman dan menyentuh tubuh satu sama lain. Sampai matahari terbenam dan kesadaran Seungcheol kembali untuk melanjutkan pekerjaan nya. Waktu mereka berdua lebih lengang saat kedua orang tua Jeonghan pergi untuk melakukan agenda masing-masing. Biasanya, kalau kata bunda, Jeonghan lebih memilih untuk berleha-leha di luar rumah, setidaknya setiap ia saat libur kuliah.
“Semenjak ada temen nya di rumah jadi males keluar. Wonwoo juga kata bundanya males keluar tuh, di kamar terus katanya masih nyari kerja,” tutur sang bunda saat mereka sedang makan malam bersama. Jeonghan melirik ke arah dapur di mana lorong menuju kamar pribadi Seungcheol berada. “Jeonghan,” lelaki itu menoleh saat ayahnya memanggil, “Tapi kamu aman kan sama pembantu yang sekarang? Soalnya lumayan deket banget kamu sama yang lama. Sampe nangis-nangis waktu pisah.” Jeonghan terdiam sejenak, ujung matanya mendapati Seungcheol yang sedang menaruh piring kotor di wastafel, “Aman kok. Nggak ada apa-apa, aku sama Seungcheol udah temenan juga.”
Aman banget, Jeonghan mengingat ekspresi Seungcheol saat rahimnya kembali dibuahi oleh peju kental saat bersenggama di kamar pembantu di dekat dapur. Makan malam terlewati dengan lancar, Seungcheol sudah memberitahu Jeonghan sebelumnya kalau ia harus bangun pagi di esok hari. Mereka tidak pernah bermesraan di malam hari, karena staminanya sudah dikuras habis sejak pagi sampai sore. Maka dari itu, Jeonghan hanya bisa menunggu hari esok untuk sampai.
Setiap pagi, Jeonghan akan menemui Seungcheol sedang membuat kopi dan teh untuk kedua orang tuanya. Sembari menunggu mereka pergi, Jeonghan akan pergi keluar untuk membeli sarapan sendiri. Jeonghan baru kembali saat kedua orang tuanya sudah pergi dan meninggalkan dirinya bersama Seungcheol saja. Mengeluarkan batang rokok dari kantong celana, menyalakan ujung tembakau itu sebelum menghisap asapnya di pagi hari.
“Mas,” suara Seungcheol membuat atensi Jeonghan ditolehkan ke samping, “Mau kopi susu?” pakaian yang dikenakan perempuan itu hanya daster tipis yang memperlihatkan payudara besarnya. Jeonghan tersenyum kecil sebelum mengangguk, “Susunya pake susu kamu, ya. Kayak biasa.” Seungcheol tertawa sebelum mengecup pipi Jeonghan dengan lembut, melenguh pelan saat sang tuan menghisap payudaranya dari luar daster. “Aku lepas aja kali, ya? Bunda sama ayah udah pergi ini,” Jeonghan mengangguk, mengusap paha Seungcheol seraya membantu perempuan itu agar melepas dasternya, “Nggak apa-apa. Nanti juga ngentot lagi sama aku.”
Kopi dengan campuran susu payudara Seungcheol merupakan minuman yang kerap diminum oleh Jeonghan di setiap pagi. Kedua orang tuanya tidak mengetahui soal ini. Jeonghan hanya pernah mengingat bundanya memberitahu betapa suburnya tubuh Seungcheol. Sebagai perempuan di umur hampir menyentuh 30, tubuh Seungcheol masih terlihat subur dan bugar.
Seungcheol kembali ke halaman belakang dengan hanya memakai celana dalam dan bra saja. Menempatkan nampan dengan kopi di atasnya di meja sebelum bersimpuh di antara kedua kaki Jeonghan. Perlahan memijat kontol lelaki itu dari luar celana seraya menjulurkan lidahnya manja. Membantu sang tuan untuk melepas celana itu dan membiarkan nya mengocok kontol besar itu pelan-pelan.
Jeonghan meneguk kopi susu yang sudah disuguhkan dengan nikmat. Melenguh pelan saat rongga mulut Seungcheol yang hangat itu kembali mengulum kontolnya sampai dalam. “Hahh… enak banget punya pembantu lonte. Sukanya makanin kontol majikan nya terus, ya?” tangan Seungcheol dikerahkan untuk menyisir surai legam milik sang puan seraya menghembuskan asap rokok itu ke udara. Seungcheol menggerakkan kepala maju-mundur, kedua matanya berguling ke belakang saat kontol besar itu menyentuh tenggorokan nya. “Good girl. Pinternya mas,” puji Jeonghan yang kembali membuat memek Seungcheol meneteskan cairan di bawah sana, “Pinternya mas – hnnhh… lontenya mas. Entotin Cheollie lagi, mas. Kosong banget, nggak kuat.”
Tubuh Seungcheol ditarik untuk duduk di pangkuan sang tuan. Melepas branya untuk disuguhkan bersamaan dengan kopi susu Jeonghan. Meremas payudaranya pelan saat pentilnya masih basah karena diperas hanya untuk mengeluarkan susu sebelumnya. Jeonghan membiarkan kepalanya tenggelam di belahan payudara besar itu, menghisap kedua pentil basah itu untuk meneguk tiap cairan susu yang membasahi tenggorokan nya dalam sekejap.
Seungcheol mengenyampingkan celana dalamnya untuk digesekkan ke kontol besar itu. Perlahan mendorong kontol Jeonghan agar masuk kembali ke dalam liang memeknya. Mendesah pelan di pagi hari merasakan betapa penuhnya kembali disumpal oleh kontol besar milik sang tuan. Jeonghan menampar pantat Seungcheol, membuat perempuan itu memekik kencang dan bibirnya bergetar pelan.
“Lagi, lagi, kasarin lagi, mas,” bisik Seungcheol di telinga lelaki itu, “Ah –! Aku… aku ngebayangin ditampar terus-terusan sama mas. Sampe kencing… kotor banget kamarku cuman bayangin ditampar sama masku.” Geraman berat lolos dari dalam tubuh Jeonghan, fuck, sange banget kalo sama dia. Seungcheol menjerit saat Jeonghan menyodok memeknya lebih kencang, tubuhnya tersungkur ke depan seraya memeluk erat tubuh sang tuan. “Sesange itu ngebayangin dientotin mas, sayang? Padahal udah mas entotin terus dari pagi sampe sore. Pas masih ada bunda sama ayah di rumah juga mas entotin. Belum puas?” Seungcheol merengek pelan, menggelengkan kepala seraya mendesah bersamaan dengan Jeonghan mulai menyodok memeknya lebih kasar, “Hah! Ah, ah, ah –! Nggak, nggak, nggak –! Nggak bakal puas, mas. Cheollie – Cheollie cuman mau disumpel sama kontol mas! Hhhah… enak banget, enak, enak, enak. Lagi, lagi, lagi! Lebih dalem lagi!”
Seungcheol menggerakkan tubuhnya naik-turun. Membiarkan Jeonghan semakin meremas payudaranya lebih keras. Merasakan cairan susu itu mengalir sampai rongga mulut Jeonghan penuh. Kedua matanya berguling ke belakang, merasa mabuk dengan berapa liter susu yang diteguknya di hari ini.
Lenguhan pelan lolos dari bilah bibir sang puan. Semakin kencang ia menggerakkan tubuhnya di pangkuan Jeonghan. Saat Jeonghan menghentakkan kontolnya, Seungcheol hanya bisa menjerit kencang. Kekuatan yang dikerahkan lelaki itu lebih besar dari dirinya.
“Pejuin – nnnh… pejuin, mas,” Seungcheol mendesah putus asa di bibir sang tuan, “Aku mau hamil. Hamil anak mas… mau jadi ibu dari anak-anak mas.” Jeonghan mencengkram pinggang Seungcheol sebelum semakin menyodok memeknya kencang. Membuat perempuan itu melengkungkan tubuhnya di pangkuan, membiarkan Jeonghan mengambil alih kegiatan senggama mereka. “Hah! Ah! Ah! Ah! Nnnhah! Hhaaahhh!” Seungcheol hanya bisa melolongkan desahan sampai cairan orgasme bercampur air mani itu keluar dari memeknya.
Tidak lama Jeonghan pun menyusul, memenuhi rahim Seungcheol dengan peju kentalnya sesuai permintaan sang tuan putri. Seungcheol melenguh panjang, semakin memeluk erat tubuh ramping sang tuan di hadapan nya. Mempertemukan kedua bibir mereka dalam satu cumbuan lembut, tidak lupa untuk mengusap pipi Jeonghan menggunakan jari-jemari lentiknya. Kedua insan itu saling melumat bibir satu sama lain, seperti dunia hanya milik berdua.
Seungcheol menghembuskan napas pelan, tertawa kecil saat cumbuan Jeonghan berpindah ke leher dan dadanya. Kembali menggerakkan tubuhnya naik-turun seraya meremas payudara untuk kembali dihisap oleh lelakinya. Tamparan keras pun diberikan di payudaranya, meninggalkan bercak merah yang akan selalu membuat dirinya meringis setiap disentuh. Seungcheol menginginkan nya lagi; ia ingin dikasari sampai kesakitan.
“Bisa ngentotin sendiri, sayang?” tanya Jeonghan seraya bersandar ke tempat duduknya. Menghisap ujung batang rokok itu sebelum dihembuskan ke rongga mulut sang puan. Seungcheol melenguh sebelum mengangguk, “Bisa, bisa. Nnnh… mas, enak banget kontolnya.” Jeonghan mengecup dagu dan rahang sang puan, mengusap lembut pinggang maupun pantatnya, “Satu ronde lagi, ya? Abis itu kita sarapan bareng. Mas udah beli 2 nasi padang buat kamu makan juga. Udah capek kerja terus dientot.”
“Mmmh… iya, iya. Makasih mas, makasih banget. Cheollie sayang sama mas.”
“Mas juga sayang sama Cheollie.”
Seungcheol berakhir kembali mempersilahkan Jeonghan memenuhi rahimnya dengan cairan orgasme untuk kedua kalinya di pagi hari ini. Tubuhnya terkulai lemas di pangkuan sang tuan, deru napas terdengar lebih berat dari biasanya. Jeonghan mengusap punggung perempuan itu dengan lembut, mengecup pundak maupun pipi beberapa kali penuh afeksi. Kedua bibir mereka bercumbu kembali, kali ini lebih pelan namun tetap sensual.
Sesuai janjinya, Jeonghan membiarkan Seungcheol duduk bersama di meja makan. Mempersiapkan sarapan mereka dan menunggu perempuan itu kembali dari memakai dasternya. Bekas-bekas gigitan di pundak maupun leher masih terlihat jelas. Bukti mereka bersenggama dari beberapa hari lalu juga masih tertinggal.
“Mas kapan mulai kerjanya? Aku lupa bunda pernah ngasih tau atau mas ya yang ngasih tau,” tanya Seungcheol seraya melahap sarapan nya. Jeonghan mengunyah makanan itu di dalam mulut, “Minggu depan, cantik. Mas yang ngasih tau ke kamu pas kamu lagi mabok disodok kontol. Ronde ke berapa deh waktu itu, mas juga lupa.” Seungcheol pun mendengus, menghiraukan saat kedua pipinya memerah mengingat memori senggama mereka yang tidak ada hentinya. “Mas mah emang sengaja ngasih info krusial pas aku lagi nggak sadarin diri,” Jeonghan tertawa sebelum beranjak berdiri hanya untuk mencubit pipi Seungcheol yang memerah, “Gemes banget sih. Mas tetep pulang kok, tapi bakal nggak sesering biasa aja kalo kita ngewe sama berduaan. Nanti mas kalo ada uang lebih bakal kasih kamu jajan kok. Tolak aja jajan dari bunda, bilang kalo jajan nya dari mas sekarang.”
Sudah beberapa minggu hubungan mereka berjalan dan Jeonghan masih belum memberitahu kedua orang tuanya. Apakah perlu? Sebenarnya kalau dari sisi Jeonghan, ia tidak begitu peduli dengan opini mereka. Namun, kesempatan Seungcheol untuk bekerja di rumah ini bisa dibilang terancam. Melihat bagaimana orang tuanya sangat mempercayai Seungcheol dan dibuktikan dengan berapa lama mereka mempertahankan perempuan itu untuk menjaga rumah ini saat keduanya pergi.
Setelah sarapan, Jeonghan membantu Seungcheol membersihkan bekas sarapan mereka dan beberapa pekerjaan rumah. Walaupun di tengah-tengah Jeonghan harus menjawab panggilan telepon, Seungcheol membiarkannya. Karena memang hubungan mereka hanya sebatas majikan dan pembantu. Tidak ada kewajiban bagi Jeonghan untuk membantunya dari awal.
Lalu bagaimana mereka berbagi afeksi saat kedua orang tua Jeonghan berada di rumah? Seungcheol awalnya ragu, menunggu di kamarnya sampai instruksi diberikan oleh sang tuan. Ponselnya bergetar, memperlihatkan notifikasi dari Jeonghan.
mas han❤️: ke kamar aja sayang
mas han❤️: bilang aja mau beres2 kamarku
seungcheol: beneran?
seungcheol: aku takut mas…
mas han❤️: gapapa sayang kan ada aku di kamarnya juga
mas han❤️: aku tunggu ya
seungcheol: okeee
Kamar pribadi Jeonghan berada di lantai 2. Posisi kamarnya langsung menghadap ke halaman depan rumah ditambah balkon yang cukup luas. Biasanya Jeonghan menghabiskan waktu di balkon untuk merokok dan kadang membiarkan angin sejuk itu masuk ke dalam kamar. Namun untuk hari ini, ia ingin bermesraan dengan perempuan nya.
“Mmmh… mas,” Seungcheol melenguh pelan setelah tubuhnya kembali ditarik ke pangkuan sang tuan saat baru saja menginjakkan kaki di kamar luas ini, “Mas haus banget, ya? Sampe harus manggil aku ke kamar.” Daster tipis itu diturunkan sampai pinggang hanya untuk mengekspos payudara besar yang tidak ditutupi oleh bra. “Aku lebih kangen kamu aja, sih. Nggak enak kalo ada bunda sama ayah di rumah, nggak bisa sayang-sayangan. Belum kalo nanti aku udah kerja,” Jeonghan mendengus pelan seraya menjilat pentil tegang itu. Tubuh Seungcheol merinding seketika, menyisir surai legam bergantung setara dengan leher milik Jeonghan, “Nanti mas kalo kerja aku bekelin juga. Aku peres susuku terus dimasukin botol buat mas minum pas kerja, ya? Biar nggak harus nyari susu lain di kantor.”
“Kamu mikirnya aku bakal nyari cewek lain buat dikenyot gitu toketnya?”
“Ih, nggak. Aku nggak bermaksud gitu, mas.”
Namun, raut wajah Seungcheol memperlihatkan maksud lain. Ia memang bermaksud seperti itu, tapi kembali mengingat posisinya di rumah ini. Seungcheol hanyalah pembantu dengan gaji lumayan dan setengahnya dipakai untuk membayar kuliah daring yang sudah berlangsung lama. Harga dirinya tidak akan setara dengan Jeonghan yang lulus sebagai lulusan teknik dan juga bekerja di perusahaan negeri.
Ekspresi Jeonghan melembut, mengecup bibir Seungcheol sekali, dua kali, berkali-kali sampai perempuan itu tertawa kecil. Mengusap pipi Seungcheol pelan-pelan agar kedua pandang mata mereka bertemu di tengah-tengah. Jeonghan sudah sadar kalau bola mata Seungcheol berwarna coklat gelap. Sangat cantik jika berada di bawah sinar matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat.
“Aku sama sekali nggak apa-apa kalo kamu mau cemburu, sayang. Toh, aku bakal balik lagi ke rumah. Ketemu kamu, sayang sama kamu, jagain kamu juga,” ujar Jeonghan mengecup punggung tangan perempuan itu, “Kuliahnya gimana, cantik? Masih pusing sama tugas-tugasnya?” Seungcheol mengerucutkan bibir, “Baru selesai presentasi tadi. Lancar sih, cuman banyak beban kelompok aja. Makasih ya mas udah dibantuin nyari jurnal-jurnalnya, padahal kita beda jurusan.” Jeonghan tertawa kecil sebelum mengangguk, memeluk pinggang perempuan itu erat-erat. “Sama-sama, sayang. Ngebantuin nyari jurnal mah gampang. Masih lebih susah ngerjain skripsi nanti, tapi ujung-ujungnya langsung lewat gitu aja sih,” Seungcheol mengangguk, “Kira-kira aku pas skripsian masih kerja sama keluarga kamu nggak, ya? Atau kita udah pisah?” Jeonghan mendengus kembali, mencubit pipi perempuan nya sampai ia meringis kesakitan, “Sembarangan banget kalo ngomong. Pas kamu skripsi, kamu tidurnya udah sama aku. Kita pacaran, terus bebas jalan-jalan berduaan. Tenang, aku beneran bakal ngomong ke bunda sama ayah soal hubungan kita. Aku sayang sama kamu, Seungcheol. Lebih dari nafsu doang.”
Terkadang Jeonghan juga sering memikirkan perasaan nya terhadap perempuan itu. Selain mereka bersenggama – bercinta, lebih tepatnya, Seungcheol memang selalu hadir di sebelahnya. Kalau komplek rumah sedang senggang, mereka makan bersama di warung. Jeonghan juga membelikan banyak setelan pakaian yang memeluk tubuh Seungcheol dengan sempurna saat dipakai.
Bagaimana Seungcheol memberikan kehangatan di ruang dada Jeonghan yang sudah lama kosong. Sesuatu yang terdengar dramatis dan dilebih-lebihkan, namun Jeonghan merasa cukup melakukan hal itu semua bersama Seungcheol. Maka dari itu, ia akan tetap mempertahankan hubungan ini. Namun tentu saja, Jeonghan akan meminta izin kepada Seungcheol terlebih dahulu.
“Kamu –” kalimat Jeonghan terhenti, “Kamu mau kan pacaran sama aku?” Seungcheol tertegun, air mata sudah terkumpul di matanya. Perempuan itu mengangguk, menempatkan dahinya ke dahi sang tuan, “Mau, mas, mau. Aku mau jadi pacarnya mas.”
Bukan pertama kalinya Jeonghan memulai hubungan dengan melewatkan beberapa langkah, tetapi ia tidak terlalu peduli. Toh, Seungcheol akan selalu tinggal bersamanya.
Semalam sebelum Jeonghan memulai pekerjaan nya, ia memberanikan diri untuk mengajak Seungcheol jalan-jalan. Saat meminta izin kepada bundanya, wanita itu mempertanyakan esensi anaknya sendiri. Tentu Jeonghan harus mendekorasi jawaban sepintar mungkin agar tidak terdengar kalau dirinya berbohong. Walaupun esensinya tetap berbohong, Jeonghan meyakinkan diri kalau dirinya tidak melakukan itu.
Namun kembali lagi dengan firasat seorang ibu. Ditambah dengan Jeonghan yang memang menghabiskan waktu bersama Seungcheol lebih dari seorang majikan dan pembantu. Jeonghan bukan anak laki-laki manja yang ingin ditemani kemana saja oleh pembantu rumah. Ia sudah cukup dewasa untuk memilih pasangan yang menurutnya cocok.
“Kamu nggak ngegangguin Seungcheol kuliah, kan?” tiba-tiba pertanyaan itu dilontarkan oleh sang bunda. Kedua mata Jeonghan mengejap kebingungan, “Kok bunda tau?” Bundanya mendelik, “Emang apa yang bunda nggak tau? Bunda lebih lama kenal Seungcheol daripada kamu. Orang bunda yang kasih kerja dia. Gimana sih kamu.” Jeonghan masih terdiam, menunggu tambahan dari beliau. Bundanya menghembuskan napas pelan, “Bunda terserah soal kamu mau milih pasangan sama siapa, Han. Asal jangan sampe ganggu hidup masing-masing aja. Sama kalo kamu pisah rumah juga Seungcheol tetep kerja sama bunda.”
“Ih, kok gitu.”
“Lah, kan Seungcheol pembantu rumah bunda. Bukan rumah kamu.”
“Ih, ih, bunda apa sih.”
“Bunda? Ada manggil saya?” Tiba-tiba Seungcheol muncul di ruang tamu, mendapati bunda dan anaknya sedang berseteru, “Oh, maaf. Aku kira namaku dipanggil.” Bunda hanya membalas dengan acungan ibu jari, “Nggak ada apa-apa, nak Seungcheol. Ini, bunda mau hukum mas dulu soalnya dia berani-beraninya mau ngambil kamu dari rumah bunda.” Beberapa detik perempuan itu terdiam sebelum kedua pipinya memerah setelah menyadari apa yang dimaksud oleh sang bunda. Jeonghan mendengus, “Udah, aku mau izin ajak Seungcheol jalan-jalan dulu. Iya, aku yang bayar. Besok aku bangun pagi kok, kan mau kerja. Pamit ya, bunda. Hani sayang Bunda.”
Dengan begitu, kedua orang tuanya menerima hubungan anak mereka bersama pembantu rumah. Jeonghan juga tidak berekspektasi mereka langsung menerima begitu saja. Ia harus membuktikan dengan kinerja sebagai orang dewasa untuk tidak bergantung kepada harta dan kekayaan keluarganya. Termasuk untuk memastikan Seungcheol tidak akan menyesal menerima ajakan nya untuk berpacaran.
Tidak akan ada yang percaya dengan bagaimana hubungan nya dan Seungcheol dimulai. Kecuali Wonwoo; tetangganya itu malah merupakan orang yang mengerti perasaan Jeonghan saat ini.
wonwoo tetangga bunda jeon: ngapain bang
jeonghan: [sent a photo]
jeonghan: abis ngewe
jeonghan: enak udah direstuin bisa ngewe di kamar sepuasnya
wonwoo tetangga bunda jeon: ih enak amat
wonwoo tetangga bunda jeon: [sent a photo]
wonwoo tetangga bunda jeon: sama sih minus direstuin doang
jeonghan: pacaran ngga tapi?
wonwoo tetangga bunda jeon: zaman kah pacaran?
jeonghan: najisssssss hoek
jeonghan: ditinggal nangis
jeonghan: ngga deng kata cheollie si mingyu sering cerita enaknya disodok lo katanya
wonwoo tetangga bunda jeon: emang jago gue mah
jeonghan: dah ah males ngobrol ma lo
Beberapa minggu awal Jeonghan bekerja, energinya terkuras. Tidak sebanding dengan saat bercinta pastinya, karena apa yang didapatkan adalah kenikmatan dan rasa cinta. Kalau bekerja, Jeonghan hanya merasakan stress. Tekanan-tekanan yang sudah lama tidak dirasakan kembali menggerogoti tiap tulang belulang nya.
Setiap Jeonghan pulang, Seungcheol sudah memastikan ada teh dan makan malam tersedia untuk kekasihnya agar tinggal dimakan saja. Raut wajah Jeonghan terlihat kelelahan, ditambah harus melewati jalanan macet saat dengan motor beat kesayangan nya itu. Jeonghan tetap mengukir senyum kecil dan duduk di kursi halaman belakang untuk menyantap makan malam yang disediakan Seungcheol. Membiarkan perempuan itu memijat dan mengecup pipinya berkali-kali.
“Mas, mas, aku baru aja selesai UAS tau,” ujar Seungcheol dengan nada lembut, “Tinggal nunggu hasil doang. Doain ya buat semester ini IP-nya bagus. Nanti gantian aku yang jajanin mas kalo kita jalan-jalan.” Jeonghan menggelengkan kepalanya, mengecup dahi sang puan, “Kenapa harus gantian? Mas nggak pernah keberatan buat ngejajanin kamu. Cuman seberapa juga kok.” Tetapi sepertinya untuk kali ini, Jeonghan harus mengalah, “Nggak apa-apa. Aku juga mau ngasih mas hasil kerja aku. Iya, aku tau mas selalu nggak mau aku ngomong kayak gini, tapi aku juga masih jadi pembantu di rumah kamu, mas. Walaupun kamu pacar aku, bunda sama ayah masih jadi yang mempekerjakan aku.” Senyuman tipis terukir di bibir Seungcheol, “Dengan kamu nggak ngerasa malu pacaran sama pembantu juga udah cukup buat aku. Sekarang, aku fokus nyari duit buat aku, keluargaku, sama nyelesain kuliah juga. Temenin aku terus, ya?” Raut wajah Jeonghan tiba-tiba menjadi sedih, “Loh, mas kok sedih? Kenapa?” Lelaki itu menggelengkan kepala, “Jadi inget pas ngerjain skripsi. Mas cuman sendirian waktu itu.”
Terkadang juga Seungcheol ingin menoyor kepala Jeonghan. Bukan karena kasar, ia suka dikasarin kok. Hanya saja lelaki itu kadang suka asal bunyi. Humornya tidak sampai ke Seungcheol, tetapi akan selalu dimaafkan karena disusul oleh kecupan manis di wajah berkali-kali.
Selain makan malam dan teh, Jeonghan juga pulang ke rumah dengan mendapati Seungcheol sudah memakai lingerie tipis di ruang tamu. Perempuan itu menarik dasi Jeonghan pelan-pelan agar ikut duduk dengan nya di sofa. Membiarkan Seungcheol melucuti kemeja dan dilipat rapi sebelum ditempatkan di meja. Jeonghan pun duduk di antara kedua tungkai kaki ramping milik sang puan, meninggalkan kecupan-kecupan lembut di kulit pucat bak seorang malaikat.
“Kamu sendirian dari tadi sore?” tanya Jeonghan pelan, menjilat bibir memek Seungcheol yang tidak ditutupi oleh sehelai kain pun. Bibir perempuan itu bergetar dibuat, membiarkan jemari Jeonghan mengusap pipinya lembut. “Iya, iya,” jawabnya dengan anggukan kecil, “Aku nungguin mas pulang lama banget. Udah siap buat dimakan padahal.” Tawa renyah lolos dari mulut Jeonghan, meninggalkan satu kecupan lembut di selangkangan perempuan itu seraya mengangkat pandang mata ke atas, “Maaf ya, sayang. Nanti mas kasih tau lagi kalo misalnya macetnya ternyata panjang banget.”
Jilatan basah itu pun diberikan di bibir memek Seungcheol. Membuat sang puan menengadahkan kepalanya ke belakang, bersandar ke sandara sofa. Jemari dikerahkan untuk menjambak helai rambut Jeonghan yang sudah hampir panjang. Tidak sepanjang surai rambut Seungcheol tentunya, tapi ia sama sekali tidak keberatan.
Jeonghan melahap makan malamnya dengan rakus. Lapar, satu kata yang pantas untuk mendeskripsikan perasaan nya sekarang. Sudah lama mereka tidak mendapati waktu hanya untuk berdua. Seungcheol tidak ingin membuat Jeonghan semakin lelah demi memuai nafsu mereka masing-masing.
Menyeka air liur yang jatuh di dagu, Jeonghan menghembuskan napas kasar melalui hidung, “Fuck, kamu enak banget, sayang.” Seungcheol memekik kencang saat tamparan keras diberikan di memeknya. Air mata jatuh ke pipi yang sudah merah merona itu, “Nnnh! Hhhh… lagi, lagi. Ditampar lagi mas.” Erangan keras memenuhi ruang tamu itu saat Jeonghan memberikan tamparan di memek Seungcheol berkali-kali.
Perlahan Seungcheol menggerakkan pinggangnya, menggesekkan memek itu di wajah sang tuan di antara kedua kakinya. Jeonghan membiarkan nya, menikmati setiap gesekan di mulut dan hidungnya. Mendesak lidahnya masuk ke dalam liang memek itu yang semakin sempit. Segera ia melepas celana untuk mengocok kontolnya cepat, merasakan dirinya menegang menikmati perlakuan dari sang kekasih.
“Ahh! Hhah! Enak, enak –” Seungcheol merasa tenggorokan nya dicekik. Meremas payudaranya seraya semakin menggesekkan memeknya di wajah Jeonghan. Kaki kirinya sampai diangkat ke udara, sedikit berjongkok di atas sofa demi menggesekkan memeknya ke wajah lelaki itu. “Mas! Mas, mas, mas! Mau muncrat – mau muncrat, mau muncrat – oh! Ohhh!” Tubuh Seungcheol bergetar hebat sebelum akhirnya memuncratkan cairan orgasmenya.
Jeritan nya semakin kencang seraya mengucek itilnya tanpa henti. Membiarkan cairan itu mengalir deras keluar sampai membasahi wajah kekasihnya. Deru napas Seungcheol terdengar lebih berat dari sebelumnya. Tubuh terkulai lemas di sofa, namun Jeonghan baru saja memulai.
Menarik tubuh Seungcheol agar kembali mengangkang di sofa sembari menggesekkan kontol besarnya, perempuan itu hanya bisa memandang Jeonghan dengan tatapan sayu. Mulutnya terbuka lebar untuk mengulum jemari-jemari Jeonghan. Menggerakkan kepalanya maju dan mundur sampai ujung jari sang tuan menyentuh tenggorokan. Kedua matanya berguling ke tengah, menjulurkan lidahnya keluar menggoda lelaki di hadapan nya.
“Kamu lonte banget, sayang. Maunya dientot terus sampe nggak tau waktu, ya?”
“Mau.. hahh.. mau dientot sampe tolol sama mas. Hahh… aku – aku cuman kelinci tolol mas.”
“Kelinci pinter dong, sayang. Nurut banget soalnya sama cowoknya, ya? Udah sabar banget nunggu mas pulang. Harus dihamilin sampe besok pagi berarti.”
Seungcheol merasa sekujur tubuhnya langsung merinding. Ditambah dengan perasaan penuh di dalam tubuh saat Jeonghan mulai mendorong masuk kontolnya. Kembali mempersatukan kedua tubuh mereka layaknya seekor binatang. Seungcheol menggulingkan matanya ke belakang, mencengkram bantal sofa itu kuat-kuat sampai hampir robek.
Gerakan pinggang Jeonghan digerakkan secara perlahan. Mengusap perut sampai leher Seungcheol yang kini hanya bisa bersandar lemas ke sandaran sofa. Seungcheol menggenggam jemari Jeonghan sebelum kembali dikulum lembut. Melenguh pelan merasakan titik kenikmatan nya ditumbuk oleh kontol besar sang tuan.
“Cantik,” puji Jeonghan di sela geraman nya, “Cantiknya mas.” Pipi Seungcheol semakin memerah, bibirnnya basah karena air liur yang tidak berhenti menetes keluar saking rakusnya menjilat tiap sela jari panjang Jeonghan. “Cantiknya mas, cantiknya mas – ah, ah,” erang perempuan itu yang akal sehatnya sudah dibalut oleh nafsu. Tangan Jeonghan melingkar di leher Seungcheol, menekan tenggorokan kekasihnya sampai membuat perempuan itu memutar matanya ke belakang, “Hahh! Hhah – ahhh… mas, mas, mas. Mas Jeonghan –” menjulurkan lidah keluar seraya mengabulkan fantasi liar kekasihnya itu.
Jeonghan semakin mempercepat hentakan kontolnya di dalam. Membiarkan tubuh Seungcheol bergerak sesuai irama yang dia tentukan. Kedua payudara besarnya bergerak cepat menyamakan hentakan Jeonghan yang semakin keras dan cepat. Menumbuk rahim perempuan itu di dalam tubuhnya.
Jemari lentik Seungcheol hanya bisa mengusap perutnya sendiri. Merasakan kontol Jeonghan bergerak maju-mundur di bawah kulit perutnya. Mendesah keras saat tekanan di tenggorokan semakin keras. Meminimalisir saluran pernafasan nya sendiri sampai kepalanya terasa lebih ringan.
Seungcheol merasa dirinya sudah mabuk kepayang. Mabuk akan kenikmatan yang diberikan membuat mulutnya hanya bisa terbuka lebar-lebar. Mengangkat kedua kakinya agar Jeonghan semakin kasar menyodok kontolnya. Kembali mengejar orgasme agar rahimnya dipenuhi oleh cairan peju kental dari sang tuan.
Tubuh Seungcheol bergetar saat puncak orgasmenya tercapai. Menggeliat di sofa tanpa henti merasakan sekujur tubuhnya bergetar tidak bisa menahan cairan orgasme itu mengalir keluar dari memeknya. Hal itu tentu tidak membuat Jeonghan berhenti begitu saja. Melainkan berhenti, lelaki itu lebih cepat menyodok memek kekasihnya.
“Hahh! Ahhh!” Jerit Seungcheol mencengkram lengan Jeonghan kuat-kuat, “Jeonghan! Jeonghan! Ahhh!” Geraman sang tuan pun terdengar, menggigit bibir bawahnya merasakan kontol besar itu semakin menegang di dalam sana. Gerakan nya berantakan, tidak beraturan. Melingkarkan lengan di pinggang kekasihnya, Jeonghan menyodok liang sempit itu. “Sayang, sayang, sayang, mas mau bucat –”
“Bucat! Bucat! Ahh! Di dalem aku, mas!”
“Seungcheol! Seungcheol!”
“Jeonghan! Jeonghan!”
Jeonghan menenggelamkan kontolnya dalam-dalam saat orgasmenya tercapai. Memenuhi buah rahim Seungcheol dengan cairan kentalnya. Tanpa berhenti menyodok liang sempit kewanitaan sang kekasih, memastikan tiap tetesan pejunya tidak ada yang menetes keluar. Seungcheol menjerit, mencakar pundak sang kekasih sampai berdarah, meninggalkan bekas di kulitnya yang tidak bisa ditutupi oleh apapun.
Saat nafsu mereka perlahan turun, Seungcheol hanya bisa berbaring lemas di sofa. Mengusap selangkangan nya lembut dan melenguh pelan saat Jeonghan harus menarik kontolnya keluar. Seungcheol sigap memasukkan cairan peju yang menetes keluar kembali ke dalam memeknya. Menjilat sisa-sisanya di sela jari-jemarinya juga.
“Enak?” tanya Jeonghan lembut seraya ikut berbaring di sebelah perempuan nya, “Enak, mas. Nggak pernah nggak enak kalo sama pacarku.” Seungcheol mencium bibir Jeonghan dengan lembut, memeluk tubuh lelaki itu dari samping. “Aku mau lagi, tapi di kamar kamu aja mas gimana? Mas capek nggak?” Jeonghan menggesekkan hidungnya di pipi Seungcheol, “Boleh, sayang. Tapi istirahat dulu, ya? Kaki mas lemes abis nyodok calon istti mas yang cantik ini.” Seungcheol mendengus, menahan rasa malu yang menggerogoti benaknya, “Ih, udah dibilang jangan bercanda soal itu.”
Jeonghan tertawa kecil dan menautkan kedua bibir mereka kembali. Mengecup dan melumat bilah bibit Seungcheol yang tebal seperti buah ceri itu. Ia sadar kalau Seungcheol merias wajahnya hanya untuk sang tuan. Walaupun sudah sering sekali Jeonghan tetap menyukainya tanpa atau sedang memakai rias wajah.
Seungcheol beranjak sejenak untuk membawa teh dan roti di dapur. Memberikan segelas teh itu kepada kekasihnya dan mengoles selai stroberi kesukaan Jeonghan di dua selai roti tersebut. Jeonghan membuka mulutnya untuk menerima suapan roti dari Seungcheol, mengunyahnya lahap. Ia tidak lupa juga untuk mengeluarkan kotak bekal yang dipersiapkan oleh kekasihnya tadi pagi.
Keduanya menghabiskan malam bersama di kamar Jeonghan. Bercinta, berbagi afeksi sampai kedua orang tua Jeonghan pulang dari agenda mereka. Jeonghan merengkuh tubuh Seungcheol erat-erat sebelum membiarkan perempuan itu kembali ke kamarnya. Merasa sedih, tetapi besok mereka masih harus kembali bekerja.
“Aku sayang banget sama kamu, mas,” tutur Seungcheol sembari mengecup bibir Jeonghan dengan lembut. Lelaki itu tersenyum tipis, “Mas juga sayang sama kamu.”
Selama bekerja, hal yang paling dirindukan adalah kebebasan di hari libur. Sebenarnya hari libur sendiri juga dinilai terasa terlalu jauh. Bagaimana seorang pekerja memiliki 5 hari kerja dan 2 hari libur? Perbandingan yang aneh. Jeonghan jadi tidak bisa menghabiskan waktu bersama kekasihnya di rumah.
“Apa aku keluar kerja aja, ya?” Pertanyaan bodoh itu tiba-tiba dilontarkan saat mereka sedang berbaring bersama pada suatu Jumat malam. Seungcheol alhasil mencubit pipi lelaki itu sampai ia meringis kesakitan. “Jangan asal kalo ngomong. Gaji udah gede juga, masa gitu aja lemah sama kerjaan,” Seungcheol mendengus, “Tapi, bisa dimengerti juga sih.” Jeonghan bertepuk tangan keras-keras, “Iya, kan? Udah mah jalanan macet banget lagi. Kadang orang-orang kantor suka ngomong apa maunya apa. Kan, bingung ya. Ditambah klien dari kantor lain yang maunya banyak. Aku udah pernah cerita belum sih soal orang arsitek?” Seungcheol menggelengkan kepala, “Apa? Apa? Aku mau denger juga, mas.”
Di hari libur, Jeonghan memastikan dirinya mengambil waktu istirahat yang cukup. Walaupun kembali lagi, 2 hari libur itu sangat tidak cukup. Tapi apa boleh buat? Negara ini saja sudah berantakan. Jeonghan hanya bisa geleng-geleng kepala sembari menggulir laman sosial media untuk mempelajari diskursus apa yang sedang ramai di minggu ini.
Selama keduanya sudah memberitahu bunda dan ayah soal hubungan mereka, Jeonghan tidak malu untuk memperlihatkan afeksi kepada sang kekasih. Saat Seungcheol dan bunda sedang memasak, Jeonghan mengecup kedua pipi wanita kesayangan nya itu sebelum memeluk kekasihnya erat-erat. Walaupun Seungcheol masih malu dengan melakukan afeksi fisik di hadapan sang bunda, wanita itu tidak terlalu memusingkan. Mungkin hal yang tidak bisa ditahan oleh Jeonghan adalah menyentuh Seungcheol kapanpun ia bisa melihat kesempatan.
Saat keduanya ditinggal berdua di rumah, Seungcheol bebas melakukan apa saja dengan sang empu rumah. Termasuk telanjang dan hanya memakai apron seraya memasak makan siang untuk mereka berdua. Setelah membukakan pagar untuk kedua majikan nya pergi kencan, Seungcheol melucuti semua pakaian nya dan memutuskan untuk memakai apron saja. Memastikan payudaranya masih terlihat besar dan penuh akan susu untuk Jeonghan nantinya meneguk porsi di hari Sabtu ini.
Selagi memasak makan siang mereka, Seungcheol mendapati kedua lengan panjang Jeonghan melingkar di pinggangnya. Alhasil ia terkesiap, merasakan remasan di payudara dari luar apron tipis itu. Seungcheol mengerang pelan, memiringkan kepala ke kiri untuk membiarkan lelaki itu mengecup lehernya. Mencium bekas-bekas gigitan bercinta berapa ronde mereka tadi malam sampai pagi menjelang.
“Kamu telanjang kayak gini nggak takut dimarahin bunda, kah?” bisik Jeonghan dengan suara seraknya di pagi hari. Seungcheol menggelengkan kepala, dua tangan masih sibuk memasukkan dan menggoreng masakan di wajan itu. “Tadi – ahh… tadi aku pake baju kok buat bukain pager bunda sama ayah. Abis itu langsung lepas lagi. Nggak suka, gerah banget kalo pake baju,” jemari Jeonghan bergerak semakin ke bawah untuk bergesekan dengan bibir memek sang puan, “Ahhh… mas, aku masih masak. Nanti nggak makan loh kita.” Kekehan kecil pun lolos dari bibir sang tuan, “Masak aja, sayang. Aku mau makan bool kamu dulu.”
Dengan itu, Jeonghan pun bersimpuh di belakang tubuh Seungcheol. Mengenyampingkan apron itu hanya untuk mencium pantat besar nan kenyal milik kekasihnya. Seungcheol hanya bisa mendesah, sedikit menungging seraya melebarkan belahan pantatnya. Desahan nya semakin keras saat Jeonghan mulai melahap lubang pantat yang disodok semalaman oleh lelaki itu.
Setelah memastikan makanan nya selesai dimasak, Seungcheol mematikan kompor. Ia memfokuskan untuk menggerakkan pantatnya agar semakin dilahap oleh sang kekasih. Jilatan dan hisapan itu membuat kepalanya melayang seketika. Mencengkram ujung konter meja dapur seraya meremas payudaranya yang keluar dari dalam apron.
“Hahh! Mas, mas, mas,” desah Seungcheol berkali-kali, menggesekkan pantatnya ke wajah Jeonghan, “Enak banget, mas. Masih sensitif bool aku disodok sampe penuh tadi malem. Disodok lagi aja mas. Aku mau dientot lagi boolnya.” Jeonghan menyeka air liur di dagunya, menampar pantat kenyal itu sampai bergoyang. Alhasil Seungcheol hanya bisa membungkukkan badan, menungging untuk sang dominan. “Mau disodok lagi, sayang? Mas belum sarapan padahal,” Seungcheol mengerang pelan, melebarkan lubang pantatnya, “Sarapan aku aja – ahhh… sarapan aku aja. Jangan sarapan yang lain. Makan aku sampe habis, mas.”
Menurunkan celananya untuk mengocok kontol besar itu pelan-pelan. Jeonghan meludahi lubang pantat dan kontolnya agar semakin licin. Seungcheol mengeluarkan payudaranya dari balik apron, meremas-remas kuat seraya memilin pentil tegang itu. Perlahan meneteskan susunya keluar, merasa nikmat dengan perlakuan yang diberikan oleh Jeonghan saat ini.
Seungcheol melolongkan desahan panjang saat Jeonghan mendorong masuk kontolnya lagi ke dalam lubang pantat nan sempit itu. Menarik kedua lengan nya agar ditempatkan di punggung. Jeonghan mulai menyodok pantat sempit itu dengan cepat, membuat ikatan pita di surai panjang Seungcheol sampai melemas. Ikat pita berwarna merah muda yang dipasangkan oleh Jeonghan sebelum mereka bercinta tadi malam.
“Ahh! Hahh! Ah, ah, ah –” tubuh Seungcheol menungging sempurna bersandar ke meja dapur. Tubuhnya bergerak melawan arah dengan pergerakan pinggang kekasihnya. Kontrol sepenuhnya dipegang oleh Jeonghan, Seungcheol hanya bisa mendesah dan menjerit sesuai kemauan dari dominan nya itu. “Sempit banget – fuck –” geram Jeonghan kembali menampar pantat kenyal itu, “Enak banget punya pacar lonte. Disodok terus malah makin mau, ya? Udah seksi, lonte, lacur.”
“Hahh! Ah, ah – lontenya mas. Lontenya mas Jeonghan –!”
“Pinter. Lagi ya, sayang? Sampe penuh peju mas doang.”
“Lagi, lagi! Lagi –! Ahhh! Enak banget!”
Kaki kanan Seungcheol diangkat untuk ditempatkan di meja dapur. Memperluas sodokan Jeonghan yang semakin cepat di dalam lubang pantat sempit itu. Kedua tangan dikerahkan untuk meremas payudara besar Seungcheol, memilin pentil tegang tersebut sampai sang puan mendesah semakin keras.
Tidak butuh waktu lama bagi Seungcheol untuk memuncratkan cairan orgasmenya. Kepala ditempatkan di meja dengan mulut terbuka lebar. Air liur keluar dari ujung mulut dengan sodokan yang tidak berhenti diberikan. Sodokan Jeonghan semakin keras, kontolnya menegang di dalam merasakan betapa penuhnya tubuh Seungcheol sekarang.
“Mas, mas, mas,” panggilan itu saja yang bisa dilontarkan oleh Seungcheol berkali-kali. Air maninya mengalir deras membasahi lantai dapur sampai menggenang. Semakin menunggingkan tubuh hanya untuk dipersembahkan kepada kekasihnya. “Mas, mas, mas – pejuin… pejuin –” desah Seungcheol menoleh ke belakang, air mata sudah jatuh ke kedua pipi memerahnya, “Pejuin, mas. Tolong, tolong – hahh… pejuin.”
Tanpa berpikir dua kali, Jeonghan kembali memenuhi liang sempit itu dengan cairan kentalnya. Jeritan lantang lolos dari bilah bibir Seungcheol, disusul oleh suara tangisan merasakan tiap tetesan itu memenuhi tubuhnya. Tubuh Jeonghan bergetar pelan seraya merengkuh Seungcheol erat-erat. Membiarkan sang puan bersandar ke dadanya seraya ia menenggelamkan kepala di leher Seungcheol.
Mencium aroma parfum buah-buahan yang khas miliknya. Tercium di semua baju Jeonghan yang sebelumnya kerap dipakai oleh Seungcheol di waktu luang. Seungcheol menolehkan kepala untuk mencium bibir sang tuan. Membiarkan kedua bibir mereka berdansa dalam ciuman panas nan sensual di Sabtu pagi ini.
“Aku nggak kuat –” desah Jeonghan di sela ciuman mereka, “Kamu seksi banget. Sumpah, maaf, sayang. Aku nggak bisa nahan.” Seungcheol mengangguk kecil, membuka mulutnya sedikit saat Jeonghan menampar kedua payudaranya keras-keras. “Satu ronde – ah… nggak, beronde-ronde. Di mana aja, mas. Sodokin aku lagi,” rengek Seungcheol merasakan air matanya jatuh ke pipi, “Ewein aku lagi, mas. Sepuasnya sampe aku pingsan.” Jeonghan menggeram pelan sebelum mencumbu bibir tebal Seungcheol lagi.
Kedua insan itu kembali bercinta di ruang tamu sampai waktu menjelang siang. Seungcheol dibuat mabuk kepayang dengan dua lubangnya dipenuhi oleh cairan kental milik Jeonghan tanpa henti. Wajahnya pun dimuncratkan peju sang tuan saat kedua lubangnya sudah penuh. Mengotori tubuh telanjang nan seksi sang kekasih yang cantik itu.
Berbaring lemas di sofa, Seungcheol membiarkan lubang pantatnya disumpal oleh plug. Membiarkan peju Jeonghan terkubur dalam-dalam di lubang pantatnya sampai mengering. Keduanya kembali bercumbu mesra dengan jemari Jeonghan mendesak masuk ke dalam memeknya. Menuruti perintah sang puan yang tidak ingin merasa kosong sedetik pun.
“Mas capek, ya?” tanya Seungcheol jahil seraya menggerakkan pinggangnya maju-mundur. Pandangan Jeonghan pun menjadi sayu, tawa renyah lolos dari bilah bibirnya. “Hmmm… kamu sangean banget. Udah berapa ronde padahal kita tadi malem, sayang,” Seungcheol tertawa kecil sebelum mengecup bibir kekasihnya, “Kontol mas enak banget sih. Udah penuh banget nih rahim aku. Tapi enak banget beneran, aku cerita banyak ke Mingyu soal ini. Dia juga dientotin sama majikan nya, mas.” Jeonghan mengangguk, mengusap punggung kekasihnya dengan lembut, “Mas tau kok. Wonwoo, kan? Kamu ngobrol apa aja emang sama Mingyu, cantik?” Lelaki itu menarik jemarinya dari dalam memek Seungcheol sebelum dijilat sampai bersih.
“Ngomongin mas-mas kita aja, sih. Selain ngentot, aku suka muji mas soalnya suka banget manjain aku. Sama suka bantuin tugas kuliah juga! Maaf ngerepotin mas.”
“Ya, nggak apa-apa. Mas selalu dapet memek sama susu abis bantuin kamu nugas.”
“Buat mas doang memek sama susu aku. Mingyu juga sering banget pincang kalo beli sayur bareng. Kayaknya kasar banget juga si mas-mas Wonwoo itu.”
Bah, dia lagi, balas Jeonghan dalam hati. Saat Seungcheol melanjutkan mengerjakan tugas rumahnya, Jeonghan membuka ponsel untuk mendapati notifikasi dari si tetangga.
wonwoo tetangga bunda jeon: katanya ada yang diundang jadi speaker seminar
jeonghan: ngapain jadi alat
wonwoo tetangga bunda jeon: itung2 ngajak jalan2 si mbak bang
jeonghan: akrab banget lo gue liat2
jeonghan: jangan lah ngentot terus won kasian mingyu sampe pincang
wonwoo tetangga bunda jeon: lah cewek lo juga pincang2 anying
wonwoo tetangga bunda jeon: terus lo ke kampus nggak? mayan dapet duit jadi pembicara
jeonghan: males banget nanti gue malah makin jauh sama ayang
wonwoo tetangga bunda jeon: diajak lah ayangnya
wonwoo tetangga bunda jeon: mayan check in
jeonghan: ngga usah check in juga gue ngentot bebas terus
jeonghan: ngga tau deh gue bakal dikasih cuti apa ngga
wonwoo tetangga bunda jeon: coba aja dulu
wonwoo tetangga bunda jeon: kapan2 double date kita
jeonghan: yeu confess aja belom udah double date aja
“Mas Jeonghan,” Jeonghan menoleh untuk mendapati Seungcheol yang kini hanya memakai daster tipis, “Mau makan sekarang atau nyusu dulu?” Kedua matanya berbinar langsung. Jeonghan melempar ponselnya tidak acuh, “Mau nyusu. Mau nyusu, sayang.” Seungcheol tertawa kecil sebelum duduk kembali di sofa, menurunkan dasternya untuk meremas payudara besarnya. “Nyusu, mas. Sampe kenyang, nya? Bayinya Cheollie emang rakus banget,” Jeonghan menghisap payudara Seungcheol dengan rakus, membiarkan aliran susu itu membasahi tenggorokan nya yang sudah kering, “Mas Jeonghan lucu banget. Aku izin rekam, ya? Buat bahan colmek aku kalo ditinggal kerja. Suka gatel banget pentil aku mas – aw! Aw… digigit mas. Sakit.”
Tawa renyah lolos dari bibir Jeonghan. Lelaki itu memijat, meremas, dan menjilat kedua payudara besar nan kenyal milik kekasihnya. Sedangkan Seungcheol merekam perlakuan itu semua menggunakan ponsel miliknya. Menengadahkan kepala Jeonghan sejenak seraya membuka mulut lebar-lebar, memperlihatkan susu yang tergenang di dalamnya sebelum ditelan sampai habis.
Seungcheol terkekeh kecil dan mengecup bibir Jeonghan berkali-kali. Di galeri ponselnya terdapat banyak rekaman bercinta mereka. Sebuah memori yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Foto-foto mereka berdua saat berkencan dan melakukan kegiatan lain selain bercinta tersimpan dengan nyaman di galeri maupun ruang penyimpanan milik perempuan itu.
“Seungcheol,” panggil Jeonghan, “Hm? Kenapa, sayang?” balas Seungcheol dengan merapihkan helai rambut lelaki tampan itu. Jeonghan terdiam sebelum melanjutkan intensinya, “Kamu mau ikut aku ke kampus nggak? Ada acara seminar gitu, terus aku diundang.” Pertanyaan itu membuat Seungcheol tertegun, raut wajah memperlihatkan dirinya sedang berpikir sejenak, “Hm? Kok ngajak aku? Emang kenapa kalo sendirian?” Sekarang ekspresi Jeonghan yang memelas, “Buat ditemenin dong. Ngapain punya pacar kalo nggak nemenin pacarnya jadi pembicara seminar? Ih, aku udah ngomong belum kalo aku dulu ketua himpunan.” Seungcheol tertawa lepas sebelum menepuk pelan pipi tembam milik Jeonghan, “Pernah, pernah. Ketua himpunan yang bro banget itu, kan?”
“Nggak juga sih.”
“Kalo di fanfiksi yang sering aku baca biasanya Libra tuh bro abis, mas.”
“Sayang, aku di sini. Bukan cowok idola kamu yang alpha male sigma itu.”
Kelakar Seungcheol semakin keras, karena memang tidak sekali saja ia bercerita tentang fanfiksi-fanfiksi kesayangan nya itu kepada sang tuan. Walaupun Jeonghan sama sekali tidak mengerti, lelaki tersebut berusaha keras untuk mencoba mengerti. Seungcheol bahkan pernah membuat presentasi untuk memperkenalkan karakter-karakter fiksi kesukaan nya. Lucunya lagi, Jeonghan mencatat nama-nama karakter itu di catatan ponselnya.
“Bunda udah tau? Aku kan kerjanya sama bunda kamu, sayang. Siapa nanti yang ngurus rumah?” tanya Seungcheol yang kini tubuhnya ditempatkan di pangkuan sang kekasih, “Sebelum ada kamu juga mereka berdua udah bisa jaga rumah sendiri kok. Nggak lama juga, cuman beberapa hari. Minggu paling pulang, Senin nya kan aku balik kerja. Acaranya pas hari kerja, aku juga masih nggak tau sih bakal dikasih cuti atau nggak. Doain aja si arsitek itu nggak bawel lagi sama orang-orang divisiku.” Seungcheol mengernyit, “Aku juga belum bilang kalo mau ikut apa nggak, mas. Tiba-tiba udah rencanain sendiri aja.” Jeonghan mendengus, meremas pantat Seungcheol kuat-kuat sampai perempuan itu meringis kesakitan campur nikmat. “Ayo jalan-jalan ih. Nanti aku aja ke warteg tempat aku makan, mau ngenalin kamu ke mbaknya. Aku pernah godain dia sih waku itu, terus baper beneran. Tapi kita jadinya temenan aja gitu, lucu juga kalo diinget-inget,” Seungcheol tersenyum dan mengecup bibir sang tuan, “Tapi ujung-ujungnya sama aku, kan? Mas berhasil aku pelet pake susu toket aku.”
Bisa dibilang seperti itu, walaupun sepenuhnya tidak benar. Namun Jeonghan merasa dirinya memang benar-benar dipelet. Rasa cintanya kepada Seungcheol sangat bergebu-gebu. Menghiraukan status perempuan itu yang masih menyandang posisi sebagai pembantu rumahnya.
Kedua bibir mereka bertemu kembali dalam cumbuan lembut. Seungcheol mengusap tengkuk Jeonghan seraya membuka mulutnya perlahan, memberi izin kepada lelaki itu untuk melesakkan masuk lidahnya ke dalam. Lenguhan pelan pun terdengar, bersamaan dengan suara jam memberitahu kalau waktu sudah memasuki jam makan siang. Namun kedua tangan Jeonghan berkata lain.
Seungcheol mendesah di sela ciuman mereka saat jemari Jeonghan kembali menggesek bibir memek telanjangnya. Ia memang hanya memakai daster saja tanpa bra maupun celana dalam, memberi akses lebih mudah bagi kekasihnya untuk mereka bercinta di waktu senggang.
“Becek banget,” bisik Jeonghan sebelum menampar memek basah itu. Seungcheol memekik pelan, bibirnya bergetar, “Hahh… mau lagi, mas? Udah berapa ronde tadi. Masih siang.” Jeonghan menggesekkan hidungnya ke hidung perempuan itu, menjilat pelan bibir Seungcheol yang membuka mulutnya lebar-lebar. “Nggak mau? Mas nggak bakal maksa kamu, sayang,” balas Jeonghan yang membuat Seungcheol terlihat ragu dengan keputusan nya sendiri, “Satu ronde, ya? Abis itu mas makan. Terus kita bobo di kamar mas. Aku mau ngerjain tugas juga, sih,” kepala lelaki itu dianggukan berkali-kali, tentu saja ia tidak akan menolak permintaan kekasih jelitanya, “Iya, iya, sayang. Mas temenin terus kamu biar nggak boleh jauh-jauh. Nanti mas bantuin cuci piring juga.”
Dengan demikian, Seungcheol menggerakkan tubuhnya naik-turun di pangkuan Jeonghan sampai rahimnya penuh oleh peju kental kesukaan nya. Sampai hari berakhir, Seungcheol hanya berada di dekat Jeonghan secara fisik maupun mental; seperti sebagaimana harusnya bagi seorang tuan putri bersama pangeran nya.
Jeonghan berhasil mendapatkan izin kedua orang tuanya untuk mengajak Seungcheol kembali ke kota perantauan. Ia juga mendapat izin cuti dari perusahaan, walaupun baru berapa bulan bekerja. Namun sebelum hari cuti itu datang, Jeonghan bersikeras untuk menyelesaikan semua pekerjaan agar tidak ada yang harus dipikirkan saat liburan nanti. Ia kembali berkomunikasi dengan para adik tingkat yang sudah lama dilupakan, namun untuk kelancaran acara, dirinya juga harus membuat presentasi sesuai topik seminar.
Untung saja, Seungcheol ingin membantu Jeonghan mengenai pembuatan presentasi itu. Perempuan itu juga sibuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan nya sampai tidak ada yang harus dikerjakan saat mereka ke luar kota. Untuk perkuliahan daring, Seungcheol hanya menunggu waktu nilainya keluar satu-persatu. Bisa dibilang ia sudah memasuki bulan-bulan libur semester.
“Topiknya apa sih ini, mas?” tanya Seungcheol kini sedang memainkan laptop Jeonghan. Membuka aplikasi khusus membuat halaman-halaman presentasi, memilih desain yang cocok dengan warna jurusan Jeonghan sendiri. “Buat LDK sih, nggak jauh-jauh dari tanggung jawab waktu. Klasik banget, ya?” Seungcheol tertawa kecil seraya menganggukkan kepalanya, “Jadi inget waktu masih maba, sebelum harus cabut kuliah. Aku masih sempet ikutan kayak gitu.” Jeonghan mengulum bibir bawahnya, raut wajah tiba-tiba berubah setelah mendengar informasi itu, “Kenapa mukanya tiba-tiba kayak gitu, mas? Kan aku udah cerita soal masalah itu. Sekarang udah bisa kuliah lagi sambil kerja. Nggak usah sedih-sedih lah, aku aja udah selesai sedihnya dari kapan tau.”
Informasi awal selain nama saat Jeonghan pertama kali mengenal Seungcheol adalah mereka seumuran. Maka dari itu, alur hidup Seungcheol seharusnya tidak terlalu berbeda dengan Jeonghan. Namun, hidup masing-masing orang pasti ada bedanya. Kalau sama semua juga membosankan sih.
Semua kekesalan Jeonghan tentang masa kuliahnya sedikit hilang saat bertemu Seungcheol. Perempuan yang harus terpaksa mundur dari bangku kuliah favorit hanya untuk bekerja demi mengangkat ekonomi keluarganya. Seungcheol sudah bekerja dari saat Jeonghan menginjakkan kaki di gedung kuliah. Keduanya menjalani hidup dengan alur yang berbeda namun berujung bertemu di bawah atap rumah sang tuan.
Terkadang Jeonghan memeluk Seungcheol tiba-tiba saat mereka sedang berduaan. Seringnya juga saat di hadapan kedua orang tuanya, walaupun Seungcheol langsung melepas pelukan itu. Jeonghan tahu kekasihnya masih belum berani melakukan afeksi di hadapan mereka, namun sebenarnya orang tua Jeonghan juga tidak terlalu peduli. Toh, mereka hanya menjalin kasih di sela kehidupan bekerja.
“Seungcheol,” panggil Jeonghan, “Apa, Jeonghan?” balas Seungcheol yang sedang menyiram tanaman di halaman depan. Dahi lelaki itu mengkerut, “Kok manggilnya Jeonghan, sih? Kakanda dong.” Selanjutnya Jeonghan langsung dilempar dengan sendal terdekat oleh perempuan itu. “Apa, sih? Lagi kerja aku ini,” dengus sang puan yang tidak bisa menahan telinganya untuk memerah, “Nggak apa-apa. Mau bilang aku sayang kamu aja, sih. Semangat ya kerjanya.”
Terkadang juga Seungcheol ingin menjoroki Yoon Jeonghan ke gorong-gorong terdekat. Namun sedikit takut kalau pas keluar tiba-tiba Jeonghan menjadi presiden. Bukan hal yang buruk juga sih sebenarnya. Seungcheol bisa menjadi istri presiden yang baik.
Hari liburan mereka pun tiba. Sesuai jadwal, kedua insan itu pergi ke kota perantauan dengan menggunakan kereta. Duduk bersebelahan seraya memasang buds di kuping kiri untuk Jeonghan dan kanan untuk Ssungcheol. Keduanya sibuk dengan agenda masing-masing sembari mendengar lagu dari putaran galeri lagu bikinan Jeonghan semalam sebelum keberangkatan.
“Jadi, aku nggak usah ikut kamu pas acara?” tanya Seungcheol yang sedang berada di tengah agenda membaca novel fiksi. Jeonghan mengangguk, wadah plastik berisi cimol dan laptop yang ditempatkan di tempat khusus makan di kereta itu dibuka. “Kamu jalan-jalan aja sendiri, nggak apa-apa. Malemnya atau pas aku selesai baru ketemu lagi. Tapi tergantung kamu mau gimana, aku mah bebas. Karena kamu lagj liburan, aku nggak terlalu mau ganggu,” jawab Jeonghan seraya memakan cimolnya itu. Seungcheol mengukir senyum lebar, “Makasih ya, mas.”
“Makasih buat apa?”
“Buat semuanya.”
Jeonghan tidak membalas apa-apa lagi sehabis itu. Karena Seungcheol sudah kembali tenggelam di dunia literasi fiksinya, memberi waktu luang personal untuk sang kekasih. Sesuatu yang kerap mereka lakukan untuk satu sama lain. Tentu Jeonghan ingin selalu melakukan apa saja bersama Seungcheol, tetapi sebelum menjadi sepasang kekasih mereka merupakan individu masing-masing.
Acara seminar itu akan dilaksanakan esok hari. Sesampainya di stasiun tujuan, Jeonghan tidak lupa untuk memberitahu adik tingkatnya tentang informasi kedatangan tersebut. Beberapa ajakan untuk berbincang ala tongkrongan yang sering dilakukan Jeonghan dahulu ditawarkan. Namun Jeonghan harus menolak, karena ia ingin mengenalkan kota ini terlebih dahulu kepada Seungcheol.
Alhasil saat mereka sudah menempatkan barang-barang di kamar hotel, keduanya melanjutkan misi petualang untuk berkuliner. Seungcheol memakai pakaian pemberian dari Jeonghan. Sebuah kaos polos dan kardigan, tidak lupa dengan celana panjang ketat yang memperlihatkan pantat kenyalnya. Jeonghan mengecup leher sang puan saat mereka sedang berdekatan di tempat publik, menghiraukan pandangan yang diberikan oleh orang lain.
“Mas, kita lagi di luar loh,” peringat Seungcheol saat mereka sedang berbaris untuk mengantri membeli makanan. Jeonghan berdehem sejenak, memeluk pinggang ramping kekasihnya. “Kalo aku cipok kamu brutal sekarang, kamu marah nggak?” Jeonghan kembali dengan pertanyaan retorisnya itu. Seungcheol menahan diri untuk tidak malu di hadapan publik, ditambah dengan tangan Jeonghan mulai mengusap perutnya lembut, “Jangan di tempat rame kayak gini tapi. Nanti aja kalo ketemu tempat sepi, ya? Aku cari tempatnya nanti.”
Saat berada di toko busana yang lumayan besar, Seungcheol menarik tangan Jeonghan untuk memasuki salah satu ruang ganti. Bersandar di dinding ruang sempit itu, Seungcheol membiarkan Jeonghan membuka resleting celananya. Menurunkan sampai menggantung di dengkul hanya untuk melesakkan ketiga jari panjang itu ke dalam memeknya. Menahan desahan keluar dengan menutup mulut, Seungcheol hanya bisa memutar matanya ke belakang saat Jeonghan menyodok memeknya sembari menghisap kedua payudaranya dari luar kaos itu.
Keduanya berakhir bercinta dengan Seungcheol menungging menyandarkan tangan di kaca. Menerima sodokan-demi sodokan kencang di dalam memeknya dari belakang. Kedua kakinya melemas saat orgasme mereka tercapai bersamaan. Menarik kedua tangan sang kekasih untuk memeluk erat pinggang rampingnya seraya berciuman lembut sebelum melanjutkan kencan malam mereka.
Setelah membeli dan melahap banyak makanan maupun minuman, ditambah berpose beberapa kali di bilik foto sebagai sepasang kekasih, mereka pun memutuskan untuk kembali ke hotel. Kedua insan itu berciuman lembut sampai tubuh mereka jatuh ke kasur empuk di kamar. Melepas kardigan yang dipakai oleh Seungcheol sebelum dilempar ke lantai. Jeonghan membaringkan tubuh kekasihnya tanpa melepas ciuman mereka.
“Mas, mas, mas,” panggil Seungcheol di sela deru napas berat. Dadanya bergerak naik-turun karena ciuman sensual yang baru saja dilakukan oleh keduanya. Jeonghan berdehem pelan, masih mengecup bekas gigitan bercinta mereka di pundak maupun leher Seungcheol. “Nggak mau mandi dulu? Aku gerah banget nih. Kamu juga katanya mau cukur dulu,” ujar Seungcheol seraya mengusap lembut pipi Jeonghan, “Iya, kah? Kapan aku ngomongnya?”
“Suka tiba-tiba amnesia deh kalo udah ngentotin aku.”
“Emang. Enak banget soalnya.”
Cengiran lebar terukir di bibir sang tuan, alhasil Seungcheol hanya bisa melempar bantal ke wajahnya. Keduanya melucuti pakaian mereka masing-masing seraya masuk ke kamar mandi. Seungcheol sendiri tidak memiliki kegiatan lain sebelum ritual mandinya. Ia lebih memilih untuk duduk di meja wastafel seraya memperhatikan Jeonghan yang sedang mencukur dagu dan bagian bawah wajah.
Seungcheol mengeluarkan ponselnya untuk merekam Jeonghan. Alhasil lelaki itu mengernyit kebingungan di sela kegiatan mencukurnya. Ditambah dengan Seungcheol yang tidak memakai sehelai kain pun. Telanjang bulat, siap disantap oleh sang tuan.
“Kamu lagi ngapain, sayang?” tanya Jeonghan seraya mencukur rambut-rambut kecil yang tidak terlihat di wajah. Seungcheol terkekeh pelan, masih merekam kekasihnya itu menggunakan ponsel, “Ngerekam kamu aja, emang nggak boleh? Mau pamer kalo kamu pacar aku.” Jeonghan memutar matanya sebelum mendekatkan wajah ke wajah Seungcheol di balik ponsel itu. Mengecup bibir sang puan lembut, mengusap paha Seungcheol perlahan untuk membukakan kakinya di atas wastafel itu.
Masih dalam posisi merekam, Seungcheol melenguh pelan saat jemari Jeonghan kembali melesak masuk ke dalam memeknya. Menggunakan tangan kiri untuk mencukur sedangkan jemari kanan nya bergerak keluar-masuk di dalam tubuh Seungcheol. Jeonghan terkadang memiliki bakat yang tidak pernah diperlihatkan sebelumnya. Beberapa kali Seungcheol seperti sedang membuka tiap kotak pandora selama menjalin kasih dengan lelaki ini.
“Ah, ah, ah… mas Jeonghan,” lenguh Seungcheol pelan sembari merekam semua perlakuan yang sedang berlangsung. Jeonghan tertawa kecil, mengucek itil Seungcheol yang masih sensitif dan merah itu karena kegiatan bercinta mereka beberapa jam lalu. Seungcheol mendesah terbata-bata, hampir menjatuhkan ponselnya ke wastafel. Namun genggaman nya diperkuat, ia tidak bisa berhenti merekam begitu saja.
Setelah menyelesaikan agenda cukurnya, Jeonghan membungkuk untuk melahap memek Seungcheol sebagai santapan makan malamnya. Seungcheol hanya bisa mendesah keras, menjambak tiap helai rambut milik sang tuan menggunakan tangan kirinya. Ia masih merekam itu semua untuk memori yang tidak akan pernah dilupakan. Memori di mana Jeonghan melahapnya sampai kedua kakinya bergetar, merasakan orgasme akan tercapai tidak lama lagi.
Jeonghan menyeka air liur yang jatuh ke dagunya. Melebarkan bibir memek becek itu untuk melesakkan lidahnya masuk ke dalam. Seungcheol langsung menyelesaikan rekaman nya sebelum tubuhnya melengkung sempurna. Tidak bisa ditahan cairan orgasmenya untuk mengalir keluar membasahi wajah kekasihnya itu.
“Ahh! Hahhh! Jeonghan –” tenggorokan nya terasa dicekik merasakan sensasi orgasme yang menjalar ke sekujur tubuh. Jeonghan menjilat tiap tetesan itu di selangkangan maupun memek Seungcheol. Memastikan tidak ada sisa yang tertinggal; semuanya habis dilahap olehnya. “Fuck, kamu enak banget. Masih manis, asin dikit tapi manis banget. Emang cuman buat aku makan, ya?” kepala Seungcheol hanya bisa dianggukan, membiarkan lelaki itu menarik tubuhnya mendekat, “Cuman buat kamu, mas. Aku maunya dimakan terus sama mas.”
“Mau disodok terus juga, sayang? Sambil mandi?”
“Mau, mau, mau. Sodok memek aku lagi – ahh… dua-duanya. Memek sama bool, mas. Sampe penuh, sampe kering di dalem.”
Lalu apa yang harus dilakukan Jeonghan saat ini? Tentu saja menuruti tiap permintaan tuan putrinya. Tidak ada orang lain yang berhak melakukan perintah dari sang tuan putri. Hanya Jeonghan dan akan selalu Jeonghan di akhir hari. Kalau ada orang lain juga, Jeonghan akan memastikan orang itu hilang.
Sembari menyalakan shower dan membiarkan air itu membasahi kepala sampai pangkal kaki mereka, keduanya berciuman mesra di bilik bilas kamar mandi kamar hotel mewah itu. Seungcheol melingkarkan kedua tangan nya di leher Jeonghan, memperdalam ciuman mesra mereka. Kedua lengan ramping lelaki tampan itu melingkar di pinggang Seungcheol. Bibir mereka saling beradu satu sama lain, memproduksi irama dan bahasa kalbu yang hanya dimengerti oleh keduanya saja.
Ciuman Jeonghan bergerak semakin ke bawah. Seungcheol bersandar ke dinding kaca bilik bilas itu untuk menempatkan payudara besarnya di mulut sang tuan. Membiarkan Jeonghan menghisap porsi susu untuk malam ini setelah berjam-jam hanya meneguk susu payudaranya dari botol yang sudah mereka siapkan dari rumah. Lenguhan pelan yang lolos dari bilah bibir perempuan cantik itu pun mulai memenuhi tiap sudut kamar mandi.
“Hahh… enak, enak… kenyot lagi, sayang,” lirih Seungcheol seraya merapikan helai rambut Jeonghan agar tidak mengganggu kegiatan nya, “Ganteng banget masku. Pinter, pinter banget bayiku suka nyusu sama pacarnya, ya? Suka minum susu toket pacarnya. Kalo nggak minum nanti sekarat.” Memang terdengar berlebihan, namun Jeonghan merasa seperti itu jika ia melewati waktu menyusu ke payudara kekasihnya sendiri. “Mas udah pinter buat kamu kan, sayang? Bakal dapet susu sampe mas tidur malem ini?” tanya Jeonghan seraya mengangkat pandang matanya mengarah ke sang puan di depan nya. Seungcheol tertawa kecil sebelum menganggukkan kepala, “Iya, sayang. Sampe kamu bobo, terus besok nyusu lagi sebelum berangkat. Pokoknya nyusu terus, aku nggak bakal nolak buat nyusuin kamu.”
Tubuh Seungcheol diputar untuk membelakangi Jeonghan. Posisi yang sama saat di ruang ganti sebelumnya. Pantat Seungcheol ditampar keras-keras, membuat perempuan itu meringis kesakitan campur nikmat. Setiap rasa sakit yang dirasa akan berubah menjadi kenikmatan seketika; suatu hal yang aneh, tapi nyata dirasa oleh Seungcheol sendiri.
Desahan Seungcheol semakin keras saat merasakan kontol Jeonghan mendorong masuk ke dalam lubang pantatnya. Tanpa menunggu, ia mulai menggerakkan kontolnya pelan di dalam tubuh sang kekasih. Seungcheol mengerahkan kedua tangan nya agar bertumpu ke dinding kaca itu. Membiarkan hembusan napasnya berubah menjadi embun di dalam kamar mandi tersebut.
“Hahhh – ah, ah, ah. Lagi, lagi, lagi, lagi mas. Enak banget –” Seungcheol semakin membungkukkan tubuhnya, menggerakkan pinggang berlawanan arah dengan gerakan yang diberikan Jeonghan, “Gede banget. Ahhh… aku pusing. Gede banget kontolnya nyodokin bool aku, mas.” Tamparan keras kembali mendarat di pantat kenyal itu. Diremas kuat-kuat sebelum ditampar lagi oleh Jeonghan. Sedangkan sang empu tubuh hanya bisa mendesah pelan, pipinya sudah menempel di dinding kaca bilik bilas itu saking sudah merasa lemas, “Hnnnh… nnnh. Mas, mas, mas – ah! Lagi, lagi, lagi. Sodok terus, lebih kenceng, lebih kenceng – hnnnnh!”
“Kamu – fuck, kamu sempit banget.”
“Ah, ah, ah! Buat mas, buat mas – sempitnya cuman buat mas.”
“Jepit lagi kontol mas, sayang. Anjing – fuck –”
Erangan berat pun lolos dari bilah bibir Jeonghan. Merasakan betapa sempitnya liang pantat milik Seungcheol, walaupun mereka sudah sering bercinta di manapun. Gerakan pinggang Jeonghan semakin berantakan. Tidak beraturan, mencoba untuk mencapai puncak orgasmenya.
Sedangkan Seungcheol sudah dibuat mabuk kepayang. Mulut terbuka lebar dengan pipi bersandar di dinding kaca, melolongkan desahan-demi desahan yang sudah terdengar lemas. Saat hentakan kencang diberikan oleh Jeonghan, Seungcheol pun menjerit keras. Membuat tubuhnya kembali mengalirkan cairan orgasme campur air mani membasahi lantai bilik bilas itu.
Jeonghan menarik kontolnya keluar dari lubang pantat untuk kembali dimasukkan ke liang memek. Seungcheol terkesiap, merasakan tubuhnya kembali penuh oleh kontol besar nan panjang itu. Menumbuk titik kenikmatan nya tanpa jeda, mengejar orgasme untuk membuahi rahimnya lagi. Seungcheol hanya bisa mengusap perutnya pelan, merasakan pergerakan kontol Jeonghan dari bawah kulit tubuhnya sendiri.
“Sayang – fuck – aku mau bucat –” Jeonghan merasa napasnya tercekat di tenggorokan. Terbata-bata merasakan kenikmatan yang menjalar di sekujur tubuhnya. Seungcheol mendesah kencang, tubuhnya semakin menungging ke depan. “Bucat – ahhh –! Bucat di dalem aku, mas. Di dalem – tolong, tolong, tolong hamilin aku! Hhhah! Jeonghan!” jeritan lantang yang lolos dari mulut Seungcheol merupakan titik terakhir pertahanan untuk Jeonghan.
Erangan pelan nan erotis menyusuri tiap sudut kamar mandi itu saat Jeonghan memenuhi liang memek Seungcheol dengan peju kentalnya. Kembali membuahi rahim sang kekasih sesuai permintaan tuan putri. Tubuh Jeonghan bergetar pelan, memeluk tubuh Seungcheol yang kini bersandar ke tubuhnya. Mereka berdua hanya bisa menghembuskan napas pelan seraya menunggu nafsu masing-masing turun di tengah uap udara di kamar mandi.
Tentu setelah itu mereka bilas tubuh masing-masing sampai bersih. Walaupun Seungcheol merasa dirinya sepertinya tidak bisa berjalan di esok hari, berniat untuk bangun siang saat Jeonghan bersiap-siap pergi ke acaranya. Setelah mandi, Jeonghan menggendong Seungcheol keluar dari bilik bilas. Sudah memakai pakaian tidur mereka masing-masing, keduanya berbaring di kasur.
Saat Seungcheol memperhatikan ke langit-langit kamar, Jeonghan terlalu sibuk menatap ke arahnya.
“Mas, ngeliatin akunya jangan gitu banget. Kayak mau dimakan lagi.”
“Aku sayang kamu.”
Seungcheol menoleh ke kiri, mendapati pandangan Jeonghan yang terfokus ke arahnya. “Aku sayang kamu,” ujar Jeonghan lagi tanpa merubah intonasi dari keyakinan nya. Seungcheol terdiam sejenak, keduanya sadar dengan topik pembicaraan ini yang menarik mereka ke beberapa bulan lalu. Perempuan itu tertawa kecil sebelum mengukir senyum tipis di bibir, “Aku juga sayang sama kamu, Jeonghan.”
Keduanya berakhir tertidur pulas dengan memeluk satu sama lain. Jeonghan membiarkan Seungcheol memeluknya saat tidur, karena posisi itu lebih nyaman dibanding sebaliknya.
