Work Text:
Haechan membuka pintu kamar mereka dengan hati-hati, segelas susu hangat di tangan. Cahaya lampu yang temaram mengungkapkan sosok Mark yang tertidur di meja setelah berjam-jam mengerjakan tugas kuliah. Wajahnya terlihat lelah, napasnya terdengar pelan dan teratur. Haechan tersenyum lembut, menatap suaminya yang begitu damai meski tubuhnya menunjukkan kelelahan. Setelah meletakkan gelas susu di samping meja, Haechan mendekat dan berusaha mengambil pulpen dari tangan Mark.
Saat ia mencoba menggeser pulpen tersebut, Mark hampir terbangun, menggumam tak jelas dengan mata yang setengah terbuka. Haechan menahan napas, menunggu sampai Mark kembali terlelap, dan pada usaha kedua, berhasil mengambil pulpen tanpa membangunkannya. Setelah itu, Haechan merapikan buku-buku dan alat tulis di atas meja, memastikan semuanya tertata rapi.
“Mark, bangun, sayang,” bisik Haechan sambil mengelus lembut kepala Mark. Ia membungkuk sedikit, membangunkan suaminya dengan penuh kasih sayang. Mark bergerak pelan, masih dengan mata setengah terpejam, dan alih-alih berjalan menuju kasur, ia malah memeluk pinggang Haechan, menenggelamkan wajahnya di perut suaminya.
“Mami…” rengeknya manja, suaranya serak dan pelan. “Nggak mau, masih ngantuk.”
Haechan tertawa kecil, membelai rambut Mark yang berantakan. “Ayo minum susu dulu,” ucap Haechan sambil membujuknya. Tapi Mark menggeleng pelan, wajahnya masih menempel di perut Haechan. “Nggak mau, maunya peluk kamu aja...” katanya, suaranya terdengar semakin manja.
Dengan senyuman penuh kesabaran, Haechan terus membujuk. “Kalau kamu minum dulu, baru aku kasih peluk lagi.” Mendengar itu, Mark akhirnya menyerah, meski wajahnya terlihat merengut seperti anak kecil. Haechan memberikannya segelas susu dan menunggu Mark minum. Saat Mark selesai, sisa susu belepotan di sekitar bibirnya.
Haechan tertawa pelan, mengambil tisu untuk mengelap sisa susu di bibir Mark, lalu menunduk memberikan kecupan singkat di bibir suaminya yang setengah mengantuk. Mark langsung merajuk lagi, memeluk pinggang Haechan lebih erat. “Mami...”
Haechan terkekeh pelan saat mendengar rengekan manja Mark yang masih setengah tertidur. "Nggak mau, masih ngantuk," gumam Mark, wajahnya tetap menempel erat di perut Haechan. Dengan lembut, Haechan mencubit pipi suaminya itu, membuat Mark sedikit meringis.
"Ayolah, Mark. Tidur di kasur lebih nyaman," kata Haechan, tetap lembut meski ada sedikit tawa di suaranya. Cubitan kecil itu cukup untuk membuat Mark akhirnya melepaskan pelukannya, meski dengan langkah gontai, ia menyeret kakinya menuju kasur. Wajahnya bersungut-sungut seperti anak kecil yang tidak rela disuruh pindah tidur. Melihat itu, Haechan tak bisa menahan tawa yang keluar dari bibirnya, gemas melihat tingkah suaminya yang seperti bayi.
Setelah sampai di kasur, Mark langsung merebahkan tubuhnya dengan mata yang masih terpejam rapat. Tangan-tangannya merentang lebar ke arah Haechan, yang masih berdiri di tepi kasur, "Mami, peluk," rengeknya lagi, semakin manja.
Haechan, yang dari tadi menahan tawa, akhirnya tak bisa menahannya lagi. Ia tertawa geli melihat betapa lucunya Mark saat seperti ini. "You’re such a baby," ucapnya penuh kasih sayang. Baru saja Haechan hendak naik ke kasur, Mark sudah mulai menggeliat lebih manja, terus merentangkan tangannya dengan mata tetap tertutup.
“Aku di sini, sabar dong,” Haechan masih terkekeh saat naik ke kasur dan akhirnya memenuhi permintaan Mark. Begitu tubuh Haechan merapat, Mark langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya, memeluk erat dengan tubuh yang sedikit menggeliat untuk mendapatkan posisi yang nyaman. Haechan tersenyum hangat, merasakan kehangatan yang begitu akrab dari Mark. Ia lalu meraih lengan Mark dan menjadikannya bantalan untuk kepala Mark, membiarkan suaminya menyandarkan wajahnya di dadanya.
Mark, masih dengan mata terpejam, bergerak sedikit lebih dekat, mendekap erat seolah tak ingin ada jarak di antara mereka. Hidungnya menempel pada dada Haechan, menghirup dalam-dalam aroma khas Haechan, lalu mendesah pelan dengan nyaman. Setiap napas yang keluar dari bibir Mark terasa lembut dan hangat, memenuhi suasana dengan ketenangan.
Haechan perlahan menepuk dan mengelus punggung Mark dengan lembut, seolah-olah memberikan rasa aman dan kenyamanan yang dibutuhkan. Tanpa berpikir panjang, Haechan menunduk sedikit dan mencium puncak kepala Mark dengan penuh kasih sayang, bibirnya menyentuh rambut yang sedikit acak-acakan.
Dengan suara pelan dan penuh kelembutan, Haechan mulai menyanyikan lagu pengantar tidur, liriknya seperti mencerminkan seluruh rasa cintanya pada Mark. “Close your eyes, my love, rest in peace tonight. I'll hold you near, under the moonlight. Safe in my arms, no need to fear. My heart beats for you, forever you're here.”
Mark, meski masih mendengar suara lembut Haechan, tetap merespons dengan rengekan kecil, "Mami..." Suaranya serak dan pelan, seperti anak kecil yang manja. Ia semakin mempererat pelukannya, menarik Haechan lebih dekat, seolah takut Haechan akan pergi.
Haechan tersenyum lembut, terus menepuk punggung Mark dengan ritme yang tenang dan teratur. "Sstt... iya, aku di sini," bisiknya, memastikan bahwa Mark merasa aman. Haechan memeluk suaminya dengan erat, melanjutkan nyanyiannya dengan suara penuh kasih, berharap Mark bisa tidur dengan nyaman di sisinya.
As they both drifted off to sleep, their love felt sweet and simple—quiet, but deeply understood. Every touch, every breath they shared reminded them how perfect they were together. In that warm embrace, they didn’t need big words or gestures. It was enough just to be there, holding each other close, safe in their own little world.
Sleep well, soulmate!
