Actions

Work Header

Latihan

Summary:

Akito tidak pernah menyangka akan menemukan benda seperti ini di kamar partner-nya.

Benda berbentuk vulgar dan berwarna oranye mencolok, dilengkapi sebuah kabel yang terhubung dengan seperangkat tombol yang… jelas sekali fungsinya apa.

Akito menghela napas, ia mengalihkan pandangan dari benda di tangannya pada sosok sang partner sekaligus kekasih tercinta yang terduduk kikuk di hadapannya.

“Bisa jelaskan?”

Notes:

tolong dibaca ulang tagnya sebelum lanjut! also i think they're kinda ooc so yeah read at ur own risk!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Akito tidak pernah menyangka akan menemukan benda seperti ini di kamar partner-nya.

Benda berbentuk vulgar dan berwarna oranye mencolok, dilengkapi sebuah kabel yang terhubung dengan seperangkat tombol yang… jelas sekali fungsinya apa.

Akito menghela napas, ia mengalihkan pandangan dari benda di tangannya pada sosok sang partner sekaligus kekasih tercinta yang terduduk kikuk di hadapannya.

“Bisa jelaskan?”

.

Sebenarnya awal dari kejadian itu biasa saja, sama sekali tidak terbersit dalam pikiran Akito hal seperti ini akan terjadi. Akito memutuskan untuk berkunjung ke rumah Toya untuk menyusun lirik lagu baru mereka. Biasanya hal seperti ini mereka lakukan bersama dengan anggota tim mereka yang lain di Weekend Garage atau di Sekai, namun An dan Kohane berhalangan hadir.

“Kami mau kencan dulu!” An berseru senang dengan nada pamer, kemudian dengan cepat ia meninggalkan SMA Kamiyama demi menjemput Kohane.

Akito, yang jadi kesal sendiri, akhirnya mengusulkan untuk “menyusun lirik” tersebut berdua saja dengan Toya di rumah sang partner. Kenapa bukan di rumah Akito? Karena mereka pasti akan diganggu oleh Ena (sang sulung Shinonome senang mengajak Toya mengobrol meski ia tahu adiknya ingin berduaan saja dengan pacarnya, memang tidak tahu malu). Selain itu, saat ini di rumah Toya tidak ada siapa-siapa. Kedua orangtuanya sedang pergi ke luar negeri.

Senja berganti malam ketika mereka sampai di rumah Toya. Akito dipersilahkan masuk ke kamar pacarnya itu sementara Toya pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman dan sedikit makanan ringan. Ini bukan pertama kali Akito berada di kamar itu, sehingga ia bisa dengan santai duduk di kasur Toya seraya menaruh tasnya di lantai. Akito hendak mengeluarkan buku catatannya ketika ia melihat sebuah kabel dari bawah ranjang, entah terhubung ke mana. Ia mengernyitkan dahi, bukan kebiasaan Toya untuk membiarkan sebuah benda terletak sembarangan seperti ini. Akito menarik kabel tersebut tanpa banyak pikir dan matanya membelalak ketika ia mendapati benda apa yang terhubung pada kabel tersebut.

Sepertinya Akito menghabiskan beberapa waktu untuk mencerna apa yang ia temukan karena begitu ia sadar, terdengar suara pekikan kecil sebelum ia mendongak dan melihat Toya melesat ke arahnya. Sayangnya, Akito jauh lebih cepat dari Toya, sehingga ia bisa menjulurkan benda di tangannya dari capaian sang rambut biru sedangkan tangan yang lain mendekap pinggang pacarnya, menahannya di tempat.

Toya meringis, wajahnya memerah hebat.

“A-akito…!!”

.

Dan itulah mengapa mereka berakhir seperti ini.

“A-ah, anu, bisa tolong… berikan ‘itu’-nya padaku dulu…?” pinta Toya dengan nada memelas. Biasanya Akito akan luluh dengan tatapan Toya yang seperti itu, namun rasa penasaran dan amarah (lebih tepatnya cemburu) yang memenuhi dadanya membuat Akito menggeleng.

Toya memajukan bibir bawahnya, pipinya merah dan matanya agak berkaca-kaca. Akito mendengar suara degup jantung yang kencang, entah darinya atau dari Toya.

“Itu… itu dildo…” lirih Toya sambil membuang muka, merah di pipinya merambat hingga telinga. Pemandangan tersebut membuat hasrat yang familiar muncul dari dasar perut Akito, namun ia masih harus menahan diri.

“Tahu kok, tapi tidak pernah kusangka kau punya benda semacam ini,” balas Akito dengan datar. Kejengkelan pada suaranya yang membuat pemuda yang lebih tinggi tersentak, tapi dengan cepat ia menurunan bahunya lagi.

“Memang… masih baru…”

“Oh? Jadi beli setelah jadian denganku? Apa aku sendiri tidak cukup untukmu?”

Toya terperanjat dan mendongakkan kepala, wajahnya membelalak kaget. Begitu kalimat itu meninggalkan mulutnya, Akito tahu betul bahwa itu tidak benar. Rasa bersalah dengan cepat menjalari hatinya karena sudah mengatakan hal kejam seperti itu.

Dengan panik Toya setengah berseru, “B-bukan! Aku pakai itu bukan untuk menggantikan Akito, tapi untuk latihan—"

Ha?

Jelas sekali bahwa Toya tidak bermaksud mengatakan sebanyak itu karena ia langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan, wajahnya memucat dan ia menundukkan kepalanya.

Berbeda dengan Toya, jantung Akito berdegup kencang oleh adrenalin.

“Latihan apa?”

“Aku—”

“Latihan apa, Toya?”

Toya menelan ludah. Ia menggigit bibir bawahnya, wajahnya masih berpaling ketika ia menjawab pelan, “Latihan… biar Akito enak…”

HA???

Akito menjatuhkan dildo dari tangannya.

Tidak menyadari bahwa otak Akito korslet sementara, Toya melanjutkan, “Aku tahu kalau aku masih kurang soal urusan ranjang, jadi… aku mencari tahu banyak hal dan beli beberapa barang untuk latihan—”

“Tunggu!” otak Akito akhirnya berfungsi kembali setelah diberhentikan sementara oleh perkataan Toya tadi. “Kurang? Kurang dari mananya?”

Kali ini Toya yang memberikannya pandangan bertanya. Ia menatap Akito bingung seraya memiringkan kepala, “Terakhir kali kita berhubungan badan, Akito tidak keluar sama sekali kan? Aku tahu kok Akito lanjut lagi sendirian di kamar mandi. Terus… itu sudah hampir sebulan lalu… dan Akito tidak pernah mengajakku untuk melakukannya lagi.”

Perkataan Toya bagaikan serangan beberapa bilah pedang yang menusuknya beruntun.

Masalahnya adalah, Akito selalu menyadari bahwa Toya memiliki stamina yang rendah, sehingga seringkali ia sudah keluar meskipun milik Akito masih semangat melanjutkan. Selain itu, sebulan terakhir mereka disibukkan banyak hal, dan hanya sempat berkencan beberapa kali yang selalu diakhiri ciuman singkat. Bukan berarti Akito tidak menginginkan lebih, namun ia takut menyakiti Toya jika ia membiarkan nafsu menguasainya.

“Toya… maafkan aku. Bukannya aku tidak mau, tapi…” perkataan Akito tercekat, seribu kata yang memenuhi kepalanya terjebak tanpa arah keluar.

Toya menggelengkan kepala, “Tidak apa, Akito. Aku memang… kurang memuaskan. Akito sudah memilihku saja sudah sangat beruntung bagiku, meskipun Akito lebih menyukai perempuan—”

Kalimat itu bagaikan sambaran petir bagi Akito.

“Siapa yang bilang--?!” Akito menaikkan suaranya dengan berang, ia terperanjat sebelum ia bisa mengendalikan dirinya lagi. Akito tahu betul sifat Toya seperti apa, dan sang partner tidak akan berkata seperti itu tanpa alasan. “…maksudku, kenapa kau berpikiran seperti itu?”

Pemuda di depannya memberi tatapan nanar dengan senyum tipis, dan Akito dapat menemukan kesedihan di matanya.

“Akito kan… punya majalah perempuan…”

“Majalah??”

“Itu, anu, tidak perlu malu, Akito…” Senyuman tipis Toya tidak mencapai matanya. “Beberapa minggu lalu, di Sekai… Akito menyuruhku mengambil sesuatu dari tasmu kan… waktu itu aku melihat majalah perempuan yang… seperti itu di tasmu.”

Kali ini seribu umpatan Akito limpahkan dalam hati kepada temannya di klub sepakbola.

Akito tahu persis apa yang dimaksud Toya. Majalah perempuan—atau majalah tidak senonoh yang menampilkan perempuan yang hampir telanjang di setiap halamannya. Iya. Majalah porno.

Sekitar dua minggu yang lalu, Akito membantu klub sepak bola yang kekurangan anggota lagi untuk bermain. Di akhir pertemuan itu, seorang kakak kelas menggoda Akito yang kelihatan tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun meski ia termasuk siswa yang populer di sekolah. Kemudian ia memberikan majalah terkutuk itu pada Akito (siapa pula yang membawa barang begituan ke sekolah?!). Kakak kelas tersebut mencegat Akito sebelum pulang dan melesakkan majalah tersebut ke tasnya, dan Akito tidak bisa menolak jika tidak mau membuat keributan.

Ia berencana membuangnya begitu ada kesempatan, namun ia dengan cepat melupakan keberadaan majalah tersebut ketika ia bertemu Toya dan berangkat ke Sekai untuk latihan.

“Awalnya aku kaget Akito punya yang begituan… tapi kalau sampai di bawah ke sekolah… apa mungkin Akito segitu tidak puasnya…”

Akito mendekati Toya dengan tergesa, ia mencengkeram kedua bahu partner-nya, ia tidak tahu wajahnya seperti apa tapi ia merasakan matanya memanas. “Toya, ini semua hanya salah paham—”

“Tidak perlu berbohong seperti itu Akito—”

“Tidak! Dengar!”

Toya menutup mulutnya. Tatapannya bertumbukan dengan Akito sebelum yang disebut belakangan menghela napas dan menurunkan kedua tangannya dari bahu sang partner ke kedua tangannya. Akito mencengkeram tangan Toya yang lebih pucat dan lebih ramping darinya dengan lembut, seolah-olah takut sedikit tekanan saja akan membuatnya remuk.

“Majalahnya bukan milikku.”

“Mh-hm.”

“Serius tahu, jangan meragukanku begitu,” Akito berdecak, meski ia tidak bisa menghentikan kekehan yang lolos dari mulutnya.

Keduanya terduduk di ranjang kamar Toya dengan tangan saling terpaut, Akito menceritakan bagaimana ia bisa memiliki majalah porno tersebut di tasnya hari itu.

Toya tidak banyak bicara saat mendengarkan penjelasan Akito. Namun, begitu kekasihnya selesai bicara, Toya membalas, “Tapi tetap saja Akito tidak puas denganku kan?”

“Itu—”

“Staminaku selalu kurang, padahal biasanya Akito yang lebih banyak bergerak. Aku tidak pernah bertahan lebih dari seronde, jadi memang aku harus latihan.”

Akito meringis mendengarnya.

“Tidak begitu juga, Toya…”

“Memang begitu.”

“Kau ini…” Akito menghela napas, gemas. Ia mencubit pelan sebelah pipi sang kekasih, sebelah tangan ia gunakan untuk merengkuh leher Toya dan mendorongnya mendekat. Toya mengaduh, namun membiarkan Akito menuntunnya hingga dahi mereka menempel satu sama lain.

Tidak bisa dipungkiri bahwa yang Toya katakan memang benar (secara objektif), tapi Akito tidak senang ketika pacarnya itu mengungkapkannya dengan begitu entengnya. Seolah-olah itu semua salahnya sendiri dan Akito tidak ambil andil meskipun dirinyalah tidak bisa mengkomunikasikan yang ia rasakan dengan baik.

“Lagipula, aku melakukan ini semua karena egoku sendiri,” ungkap Toya, mengalihkan matanya dari tatapan Akito. Yang disebut belakangan hendak menyangkal—egois dan Toya dalam satu kalimat sangatlah janggal—namun Toya mendahuluinya, “Kupikir, tidak apa-apa jika Akito lebih menyukai perempuan. Tapi saat ini Akito adalah kekasihku, dan aku akan melakukan apapun agar Akito tetap menjadi kekasihku. Itulah kenapa aku… latihan…”

Semu merah yang sempat hilang dari wajah Toya kembali mewarnai pipinya dengan pekat. Ia masih menolak bertemu pandang dengan Akito yang kehilangan kata-kata.

“Aku memang tidak punya dada yang besar… dan perlu usaha lebih agar aku bisa bersatu dengan Akito. Jadi, kupikir, setidaknya aku harus membiasakan diri sendiri agar bisa menerima Akito dengan lebih mudah…”

Akal sehat Akito putus seketika.

Toya mengeluarkan seruan kecil ketika Akito tiba-tiba mendorongnya hingga punggungnya menyentuh permukaan kasur. Lelaki berambut oranye itu menopang tubuhnya dengan kedua tangan dan kaki, wajahnya tepat berada di atas wajah sang kekasih hingga ujung hidung mereka bertemu. Napasnya berat, tinggal menunggu waktu hingga nafsu yang selalu ia kekang untuk lepas kendali.

“Latihannya seperti apa?”

“Eh?”

“Toya bilang kan, latihan,” Akito menekankan. Satu tangan mulai menggerayangi tubuh Toya. Ia gunakan ujung setiap jarinya untuk menyusuri pipi hingga berhenti di perut rampingnya, tanpa kata menyelipkan tangannya ke sela-sela kancing kemeja Toya.

“Tadi bilangnya beli beberapa barang kan? Aku baru lihat dildo saja, ada yang lain?”

Wajah Toya yang sudah memerah bertambah merah lagi. Akito sempat khawatir Toya akan pingsan saking merahnya. Ia menurunkan wajahnya demi menanamkan ciuman lembut pada sebelah pipi Toya, kemudian menenggelamkannya di lekuk leher sang kekasih. Tangannya mulai melepaskan kancing kemeja Toya satu persatu.

“Itu… aku… ah!” Toya memulai, namun perkataannya terpotong ketika Akito mencubit pucuk merah di dadanya yang sensitif. “Ada… uh… vibrator…”

“Hm, dipakai di mana?” Akito mendesak. Ia sukses melepaskan kemeja Toya dari empunya, dan mengalihkan perhatiannya pada ikat pinggangnya.

“D-di, uhh, dada…”

“Sebelah mananya dada?”

Ngghh, Akito kan sudah tahu…”

“Yang mana?”

Seolah menekankan pertanyaannya, Akito menggigit leher Toya, memastikan taringnya melesak kuat ke dalam kulit polos sang terkasih. Toya meringis, namun tidak melawan.

“Di… puting…”

Toya menjawab kewalahan. Tangannya mencengkeram bagian depan jaket Akito, namun tidak mendorong maupun menarik sang ginger darinya. Seolah ia hanya memerlukan pegangan agar tidak tersapu oleh arus nafsu yang bernama Akito Shinonome.

“Begitu,” Akito memberikan senyuman penuh arti. Dilepaskannya ikat pinggang Toya dari celananya. “Terus?”

“Ah, ah… Akito—”

“Jawab, sayang.”

Tetesan air mata mulai membasahi pipi Toya, sentuhan Akito yang bertubi-tubi pada tubuhnya membuat Toya kelimpungan. Sudah sebulan sejak terakhir kali mereka seintim ini, dan Toya masih belum terbiasa dengan kenikmatan yang disebabkannya. Namun, ia merasakan ada yang kurang…

“Akito, Akito…. Mau— mau cium dulu…”

Kekasihnya membelalakkan mata sejenak. Tangannya yang tadi bergerak untuk melepaskan celana Toya terhenti. Ditatapnya pemuda berambut biru itu dengan penuh cinta, sebelum ia tertawa kecil dan menempelkan kedua bibir mereka.
Tidak butuh waktu lama bagi ciuman itu untuk melibatkan lidah keduanya. Toya tidak banyak melawan dan membiarkan Akito mendominasi mulutnya. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Akito, tanpa kata meminta lebih, untuk menciumnya lebih dalam. Ketika bibir mereka akhirnya berpisah, sehelai saliva menghubungkan lidah yang tadinya saling terpaut itu.

“Jadi, apa lagi?” Akito tidak menghabiskan waktu. Ia mengembalikan tangannya ke celana Toya dan melepaskannya dari sang kekasih, memaksa kedua kakinya agar tetap terbuka lebar dan memberikan ruang untuknya.

Toya melenguh ketika Akito menjilat air mata di pipinya. “Uh, ah, b-butt plug…”

“Oh? Di mana—"

Akito langsung menemukannya. Tangannya yang ia selipkan di selangkangan Toya menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya ada di situ.

Ia harus menjauhkan tubuhnya dari Toya agar bisa melihat bagian intim kekasihnya dengan lebih jelas. Kemaluan Toya berdiri karena perhatian yang didapatnya, kemudian Akito menurunkan pandangannya ke lubang yang seharusnya kosong itu—

Dan menemukan handle silver yang mengkilap dan dihiasi permata imitasi berwarna biru tua. Bagi anak SMA seperti Akito, ia tahu betul handle itu terhubung pada sesuatu yang bentuknya seperti apa.

“…Toya.”

“A-ah, ya…?”

“Jangan bilang tadi di sekolah kau menggunakan ini seharian?”

Toya menutup wajahnya dengan kedua tangan, mencoba untuk menutup kedua kakinya namun sia-sia karena cengkeraman Akito di kedua lututnya.

“Toya.”

“I-iya… Kupikir… kupikir kalau aku membiasakan diri dengan cara itu… Akito tidak perlu waktu lama lagi untuk menyiapkanku—”

Jantung Akito berdegup semakin kencang.

…Seberapa beruntungnya Akito bisa mendapatkan kekasih bak malaikat seperti ini?

Namun Akito tidak menyuarakan isi pikirannya. Alih-alih, ia malah memegang ujung handle yang muncul dari lubang Toya tersebut dan menariknya secara paksa. Toya memekik kaget, tubuhnya menegang dan kakinya memberontak. Akito memegang kedua sisi pinggang Toya dan membalikkan tubuh kekasihnya tanpa banyak kata. Kemudian—

“Akito—?! Apa yang—”

Pemuda berambut oranye itu memegang dua belahan kenyal milik Toya dengan gemas, memisahkan keduanya demi menunjukkan lubang merah menggoda yang berkedut karena kekosongannya.

“Ini salahmu, Toya.”

Toya menjerit ketika lidah Akito melesak masuk ke lubangnya.

.

Beberapa menit berikutnya terasa bagaikan berjam-jam bagi Toya.

Tangannya meremas seprai kuat-kuat, dengan susah payah mengendalikan suaranya meski tidak ada orang lain yang bisa mendengar. Sebelah tangan Akito memeluk pinggangnya, mencegah Toya untuk bergerak menjauh dari wajahnya. Tangan yang lain memegang kemaluan Toya, bergerak naik turun namun selalu berhenti ketika Toya sudah mendekati puncak sebelum melanjutkan lagi.

Tanpa Toya sadari, Akito sudah melucuti semua bajunya sehingga kini ia sudah telanjang bulat. Sementara Akito hanya menanggalkan jaketnya saja, seragamnya masih terpasang utuh. Meski begitu, tidak bisa diragukan lagi bahwa Akito sama terangsangnya, jika dinilai dari kejantanan yang menonjol dari balik celananya, membentuk gundukan yang tidak bisa dibilang kecil.

“Ah, ah, ah, Akitoo—!” Toya merengek, karena meskipun lidah Akito bergerak dengan begitu ahlinya, Toya menginginkan titik terdalamnya untuk disentuh juga. Ia ingin… ia ingin lebih…

Namun otaknya sudah terlalu dibuai oleh kenikmatan sehingga sulit untuk membentuk kata-kata.

“Hmm?” sahut Akito, setengah menggoda lelaki yang kini berada di bawah belas kasihannya itu. Akhirnya ia menarik lidahnya dari liang penuh hasrat tersebut. “Toya mau apa?”

Yang disebut namanya berusaha untuk menaikkan wajahnya dari ranjang, tidak memusingkan seprai yang ia basahi oleh air mata dan saliva. Ia memberikan Akito tatapan memohon, “Akito… mau punya Akito…”

“Apanya punyaku?” tanya Akito dengan senyum tipis. Kali ini ia memasukkan salah satu jari ke lubang Toya, yang diterima dengan begitu antusiasnya hingga ke dasar jarinya. Akito menyeringai puas sebelum memasukkan satu jari lagi. Setelah seharian memakai butt plug, tidak heran jarinya bisa masuk dengan mudahnya.

Toya melenguh protes, tangannya meraih pergelangan tangan Akito yang memainkan lubangnya, menggenggamnya seolah ingin menariknya keluar tapi dia tidak cukup bertenaga.

“Ugh, ahh…!”

“Hmm? Coba bicara yang lebih jelas, sayang,” bujuk Akito seraya melesakkan jarinya ke titik paling sensitif yang berada di dalam. Toya berjengit, kemudian pekikan kencang lolos dari mulutnya ketika Akito menambah tekanan ke titik tersebut.

Lelaki berambut biru itu meronta, pinggangnya bergerak maju mundur, entah ingin menjauh atau mendekati rangsangan yang diberikan sang kekasih tanpa ampun. “Ng- nggak adil! Ah- ah, pelan-pelanh Akito…!”

“Adil dong. Ini hukuman buat Toya yang masukin benda lain ke sini,” ucap Akito santai. Ia memasukkan dua jari lagi secara bersamaan, menikmati desahan binal yang dikeluarkan kekasihnya. “Toya gak usah pakai yang asli punyaku dulu ya? Kan sudah enak dengan yang palsu.”

“Ng-nggakk, mau punya Akitoo…!”

“Bohong, buktinya tadi aku nemu dildo-nya di bawah kasur. Tadi malam habis main, kan?”

“B-bukan main, la-latiha—ah!”

Akito mendecak, ia melebarkan keempat jari di lubang Toya sejauh yang ia bisa. Dinding-dinding hangat yang menyelimuti jarinya malah terasa semakin sempit.

“Dasar lonte, sudah main dengan dildo, pakai butt plug seharian dan dimasukin empat jari saja masih ketat begini.”

Toya merengek protes, airmatanya bercucuran, “Bukan lontee! T-toya punya—ah, ah, punya Akito seorang…!”

Sesuatu di dada Akito melambung tinggi oleh ekstasi. Ia mengeluarkan jarinya dari bagian intim Toya, membuat yang disebut belakangan mendesah tidak keruan. Akito membalikkan tubuh Toya lagi, kemudian menarik tangan kekasihnya dan mendudukkannya di pangkuan Akito. Toya yang sudah lemas membiarkan Akito memposisikan tubuhnya sedemikian rupa. Ketika wajah mereka hanya terpisahkan beberapa senti, Toya mendapati Akito menatapnya dengan penuh sayang.

“Akito…” Toya kembali memohon. Tangannya meraih selangkangan sang kekasih, berusaha mengeluarkan benda yang ia inginkan sedari tadi. Akito terkekeh ketika tangan Toya berkutat dengan resleting celananya, ia membiarkan Toya bekerja sementara tangannya sendiri ia gunakan untuk meremas kedua dada kekasihnya.

“Hhng!” Toya terlonjak, gerakan tangannya terhenti.

“Lanjut, sayang. Katanya mau yang asli?” goda Akito, ia memijit dada Toya sebelum memasukkan salah satu puting ke mulutnya.

Toya mengeluarkan desah-desah kecil ketika lidah Akito memainkan putingnya, namun ia berusaha kembali fokus pada tujuan utama. Dengan tangannya yang gemetaran, ia melepas resleting celana Akito dan menurunkan pakaian dalamnya. Tidak perlu waktu lama bagi kejantanan yang ukurannya hampir sepanjang dan setebal lengan bawah Toya itu untuk keluar dari kekangnya. Ujung benda itu menampar perut Toya, membuat keduanya mendesah pelan.

Meski ini bukan pertama kali Toya melihat milik kekasihnya, ia tidak pernah tidak terintimidasi oleh ukurannya yang masif itu, jauh lebih besar dari milik Toya sendiri. Ini juga yang menyebabkan Toya merasa ia perlu berlatih.

Toya menelan ludah, ia meletakkan satu tangan di pundak Akito, sementara tangan yang lain memposisikan ujung kejantanan kekasihnya ke lubang Toya. Napasnya berat, ditambah rangsangan yang diberikan Akito pada dadanya membuat Toya hampir hilang akal. Tapi, ia sudah latihan, ia serharusnya sudah bisa memasukkannya sendiri.

Ia sudah mulai terbiasa memasukkan dildo miliknya dengan mudah, kenapa yang asli terasa begitu berbeda…? Apa mungkin karena ukuran asli Akito hampir dua kali lipat dildo itu?

“Toya, kok berhenti, sayang?” tanya Akito. Tangannya masih memainkan dada Toya dengan telaten. Ia menatap kekasihnya yang matanya berkaca-kaca.

“Sebentar, Akito…”

“Mau dibantu?”

“Nggak, bisa sendiri…!”

Akito tersenyum mendengar jawaban penuh dekat itu. “Boleh, coba sini sambil dicium dulu.”

Tidak pernah bisa menolak ajakan tersebut, Toya membiarkan lidah Akito menjelajahi mulutnya lagi. Menggunakan ciuman itu sebagai distraksi, Toya mencoba menurunkan pinggulnya hingga ujung kejantanan Akito akhirnya melesak masuk ke lubangnya.

Desahan menggoda Toya hampir tenggelam oleh ciuman mereka. Akito membisikkan “kerja bagus, sayang” pada bibir Toya.

“Hng, ahh, mm-hmm,” Toya mengangguk-angguk. Pelan-pelan ia berusaha memasukkan kejantanan Akito lebih dalam. Akito juga tidak sabar ingin segera memasukkan seluruh miliknya ke dalam liang penuh kehangatan itu, namun ia berusaha menahan diri.

“Ah, ugh, punya Akito… besar sekali…”

Akito gagal menahan diri.

Ia mencengkeram kedua sisi pinggang Toya dan tanpa banyak kata menarik kekasihnya turun hingga pinggulnya menyentuh pantat Toya. Kekasihnya itu memekik kaget, tangannya mencengkeram bahu dan tangan Akito kuat-kuat, jika tidak dihalangi oleh seragam pasti sudah meninggalkan bekas cakaran.

“Aki—ah, ah, Aku bilang—m-mau sen—AHH!”

“Maaf, Toya… ahh, mana tahan…”

Lelaki berambut oranye itu mendorong Toya hingga ia berbaring, memegang bagian bawah lutut kekasihnya sebelum menekannya ke kasur, sehingga ia lebih leluasa menggerakkan pinggulnya. Toya mendesah ketika kejantanan Akito menghujam lubangnya tanpa ampun. Sekuat apa pun ia berlatih, berhubungan intim dengan Akito jauh lebih intens. Toya tidak pernah bisa menggerakkan dildo-nya seliar yang Akito lakukan saat ini dengan punyanya sendiri.

“Ah, ahh— pelan-pelan—ngh, Akito—gak kuat—”

“Kuat sayang, kan sudah latihan?”

Akito memberinya seringai penuh arti sebelum menekankan ujung miliknya pada titik paling sensitif kekasihnya.
Toya menjerit kepayahan, air mata dan saliva membuat wajahnya tampak acak-acakan, namun bagi Akito itu adalah pemandangan paling merangsang. Akito meletakkan kedua lutut Toya pada pundaknya dan mencium kekasihnya dalam-dalam. Toya memeluk lehernya erat, tubuhnya melonjak setiap kejantanan Akito bertemu dengan prostatnya, tapi kakinya menyilang di punggung sang kekasih seolah ingin menariknya semakin dekat.

“Sayang—udah mau keluar?”

Hhngghh…”

“Bareng ya?”

Toya mengangguk-angguk, dan beberapa detik kemudian, Toya mengeluarkan cairan putih kental dari miliknya. Di saat bersamaan, rasa hangat memenuhi bagian bawah perutnya. Sensasi itu membuat Toya terperanjat, dan sepertinya Akito sama terkejutnya.

“Ah…” Akito mendesah kecil. Ia mengeluarkan kejantanannya dari lubang Toya, dan benar saja, cairan putih yang sama ikut keluar dari liang yang berkedut itu. “Aku lupa pakai kondom…”

Beberapa hal terjadi dengan cepat.

Pertama, Toya yang menarik Akito ke dalam pelukannya. Ia mendorong kekasihnya hingga kini Akitolah yang terbaring sementara Toya memeluknya dari atas. Kedua, Toya memegang kejantanan Akito yang masih setengah keras, dan tanpa banyak kata memasukkannya lagi ke dalam dirinya sendiri.

Akito memekik, secara refleks ia mencengkeram pinggang Toya, mencegahnya bergerak lebih jauh. “T-toya! Apa yang—?!”

“Mau lanjut,” jawab Toya. Ia meletakkan tangannya di perut Akito, tubuhnya bergetar karena masih menyesuaikan diri dengan kejantanan Akito yang tertanam lubangnya meski ia sendiri baru ejakulasi. “Aku, aku sudah latihan. Akito bisa temani sampai malam, kan?”

Lelaki berambut oranye itu terbelalak mendengar perkataan vulgar kekasihnya, namun rasa kagetnya segera digantikan seruan tertahan ketika Toya mulai menggerakkan pinggulnya dengan cekatan.

.
.
.

Beberapa jam kemudian, Akito mengeluarkan kejantanannya dari lubang Toya. Ia lepaskan kondom yang sudah dipenuhi air mani itu sebelum mengikatnya dan melemparkannya sembarang ke arah tempat sampah di sisi lain ruangan. Ditatapnya Toya yang terengah-engah di bawahnya, dan Akito menciumnya lembut tepat di ujung hidung.

“Hnn…”

“Sudah puas?”

Toya mengangguk lemas.

Rupanya, setelah lebih dari seminggu ‘berlatih’ dengan beragam mainan dewasa yang dimilikinya, Toya kini tidak puas hanya dengan satu ronde. Ia mengakui bahwa ia bisa bermain dengan dildo-nya sampai ia lemas setelah berejakulasi beberapa kali (yang mana membuat Akito cemburu sendiri dan menerkam Toya lebih ganas lagi). Toya sempat merajuk ketika Akito memaksa untuk menggunakan kondom di tengah-tengah percumbuan mereka (“Berdasarkan sumber yang kubaca, melakukannya tanpa kondom lebih nikmat—“), namun Akito membujuknya dengan gigitan dan ciuman gemas di bagian dalam pahanya.

Bisa dibilang, hasil latihan Toya memang benar-benar membuahkan hasil.

“Tapi lain kali tidak perlu latihan dengan mainan lagi.”

“Hm?” Toya memberikan tatapan bertanya. Akito sudah membersihkannya dari segala cairan yang mengotori mereka, bahkan ia sudah menyelimuti diri sendiri dan tampak setengah mengantuk.

“Kalau Toya mau latihan lagi,” Akito menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil berkacak pinggang. Ia membuang muka, tidak dipungkiri dirinya merasa sedikit malu. “Ajak aku.”

Wajah Toya kembali memerah padam mendengar perkataan Akito. Ia menarik selimut menutupi wajahnya, “T-tidak mau. Malu.”

“Kok malu, aku ini pacarmu loh,” balas Akito gemas. Ia mendekati Toya, menarik tangan kekasihnya agar ia bisa melihat wajah bersemu cantik itu. Toya menolak menatapnya, alih-alih malah memalingkan wajahnya dari pandangan Akito.

“Nanti Akito tidak suka denganku lagi kalau melihatku seperti itu,” Toya berucap pelan. Suaranya hampir tidak terdengar seandainya Akito tidak berada sangat dekat dengannya.

“Tidak mungkin. Kayaknya mau Toya seperti apa pun, aku bakal tetap suka kok.” Akito menarik Toya ke pelukannya, menenggelamkan wajahnya di leher kekasihnya yang dihiasi bercak merah bekas ciuman dan gigitannya. “Lagian, aku juga mau lihat Toya pakai mainan-mainan itu.”

“…mesum.”

“Iya, mesumnya buat Toya saja.”

Akito mengaduh ketika Toya memberinya gigitan kesal di leher, namun kekasihnya itu segera menyembunyikan wajahnya di pundak Akito. Tangannya meremas punggung kaos yang digunakan sang kekasih, malu tapi tidak mau jauh-jauh.

“Tapi aku serius. Aku akan terus suka dan cinta pada Toya yang apa adanya. Tidak ada yang lain. Mau ada perempuan atau lelaki yang berkali-kali lebih cantik pun, aku tidak tertarik karena aku sukanya ya Toya.”

Toya tidak menjawab apa pun, tapi genggamannya di punggung Akito mengerat.

“Meskipun rasanya tidak ada yang lebih cantik dari Toya, sih. Pacarku paling cantik dan menawan sedunia.”

Lelaki berambut oranye tertawa kecil ketika Toya seruan protes. Tapi ia sama sekali tidak berbohong, baginya Toya tiada duanya.

“Aku juga sayang Akito.”

“Mm-hm.”

“Sangat sayang. Bahkan kalau Akito nanti suka dengan orang lain, akan kubuat Akito suka padaku lagi.”

Mendengar nada posesif dari pacarnya itu membuat jantung Akito berdegup kencang. “Jangan bilang gitu, sayang. Nanti aku semangat lagi.”

Toya melepaskan pelukannya demi memberikan tatapan tidak percaya pada pacarnya itu, sebelum menciumnya singkat dan berbaring di tempat tidur.

“Sayang?? Malah dicium, jadi makin mau loh?”

“Sudah malam, selamat tidur.”

“Toyaa~~”

Akito merajuk, namun pada akhirnya ia bergabung dengan kekasihnya di bawah selimut dan memeluknya dari belakang. Tidak perlu waktu lama bagi keduanya untuk terbuai ke alam mimpi.

Notes:

this is a fluke i don't think i'll write more fic. hmu at twt @/longhairshouto