Chapter Text
Malik awalnya kesal ketika tahu akan dipindah tugaskan ke kantor kelurahan di pinggiran kabupaten. Bukannya apa, tapi Malik cowok yang suka kelayapan. Sekarang mana bisa? Ia dipindahkan ke daerah kabupaten, pelosok pula. Malik yakin kehidupan masyarakat sana setidaknya berhenti saat jam sembilan malam.
Tapi, Malik ternyata salah. Ada yang lebih menarik daripada kelayapan di tengah ibu kota saat malam hari. Nongkrong di warung yang terletak di ujung desa, sebelah rumah dinas yang diberikan kepada Malik ternyata lebih menyenangkan, lebih menyegarkan.
Malik ingat betul pertama kali ia menginjakkan kaki di warung itu. Saat pertama kali sampai, Malik belum sempat untuk membeli bahan makanan. Jadilah ia berkunjung ke warung sebelah rumahnya, mencari makanan. Dilihat dari luar, warung tersebut terlihat sangat nyaman. Bangku yang tersusun rapi, gorengan yang terlihat baru saja keluar dari dalam penggorengan dan tidak lupa aroma masakan yang menguar dari dalam warung.
“Misi, Mbak! Mau beli.”
Setelah memanggil empunya warung, tak lama kemudian keluarlah sesosok wanita yang bisa mengalihkan nafsu lapar Malik ke bawah perutnya.
“Iya, Mas? Mau beli apa?”
Malik seharusnya tidak begitu. Ia sudah terbiasa melihat berbagai paras serta lekuk elok di kota tempat sebelumnya ia bekerja. Tapi Malik yakin, yang ini berbeda. Daster yang panjangnya hanya di atas lutut yang wanita ini gunakan jauh dari kata baru apalagi seksi. Namun entah mengapa ini terlihat puluhan kali lebih menggoda daripada lingerie yang mantan mantannya gunakan. Rambut panjang yang dicepol asal-asalan menambah daya tarik wanita yang sedang berdiri di depannya.
“Mas?”
“Eh, anu. Di sini ada jualan makanan berat apa saja ya, Mbak?”
Malik melihat bagaimana cara wanita tersebut memandanginya dari atas sampai ujung kaki.
“Oh, Mas yang baru pindah ke sebelah ya? Di sini ada nasi goreng, soto, sama mie mie an, Mas.”
Malik mengerjap. Itu kalimat panjang pertama yang dilontarkan wanita tersebut. Ahh, kali ini Malik tidak bisa mengelak. Wanita itu punya daya tarik yang tidak bisa ditolak lelaki mana pun. Caranya berbicara sambil tersenyum. Dan yang paling membuat Malik pusing, ia bisa mengetahui kalau wanita di depannya ini centil, sangat menggemaskan.
“Mas mau pesen apa?”
“Yang menurut Mbak paling enak saja.”
“Oh kalau menurut saya sih, saya yang paling enak Mas.” Jawabnya sambil terkekeh genit.
Malik yang tak tahu harus merespon apa hanya tersenyum sambil mengulurkan tangan.
“Saya Malik, salam kenal ya Mbak.”
“Panggil saja Echa, Mas. Salam kenal juga Mas Malik.”
Melalui tangan mereka yang bersentuhan, Malik tahu kalau ia telah terpikat pada tetangganya, pemilik warung, Mbak Echa.
...
Setelah kurang lebih sebulan di desa tersebut, Malik mendapatkan beberapa informasi mengenai Echa, tetangganya. Ternyata dulunya dia merupakan kembang desa. Iya, dulu. Echa ternyata adalah seorang janda. Dia sempat menikah tiga tahun yang lalu. Namun ditinggal oleh (mantan) suaminya setelah setahun masa pernikahan. Kabarnya si mantan suami menghamili biduan yang sering manggung di desa itu.
Malik agak kaget mendengar kabar tersebut. Menurutnya Echa sama sekali tidak terlihat seperti janda. Kalau kata bapak-bapak yang suka nongkrong di warung sih masih singset, masih kenceng.
Ya bagaimana tidak? Setiap hari si Mbak Echa ini hanya menggunakan daster yang Malik taksir harganya lima puluh ribuan. Harusnya daster dengan harga tersebut terlihat jelek karna bahannya yang tipis. Namun di mata lelaki seperti dirinya dan bapak-bapak desa, itu lebih bagus.
Lekukan tetek bulat Echa yang mengkal terlihat jelas. Apalagi kalau sedang tidak memakai bh, beeuh. Rampingnya pinggang Echa serta pantatnya yang sintal membuat siluet dibalik daster tipis itu terlihat sangat sangat menggairahkan. Echa masih muda, sekitar 28 tahunan kalau Malik tidak salah, satu tahun lebih muda dari dirinya. Janda muda bahenol inilah yang menjadi alasan mengapa warung ini selalu ramai hingga tengah malam.
“Duh, Mas Malik tahu saja mana yang seger seger di sini.”
“Ada satu lagi Mas, kembang di desa sini. Kerjanya juga di kelurahan kaya, Mas. Mbak Sinta itu mas masih perawan dia. Cocok-lah untuk Mas Malik.”
Malik tahu siapa Sinta. Sejak Malik pindah ia sering menangkap basah Sinta sedang menatapnya namun kemudian tersenyum malu.
“Ah tapi si Sinta itu sombong, Pak Kamto. Kalau disapa Cuma senyum tipis.”
“Benar itu, Pak Tono. Beda sama Dek Echa ini, saya suka genit genitnya.”
Lalu kumpulan bapak-bapak itu tertawa. Tentu saja pembicaraan ini tanpa dihadiri Echa yang sepertinya sedang sibuk sedang mencuci piring di bagian belakang warung.
“Enak ya jadi Mas Malik bisa tetanggan sama si geulis.”
Malik hanya tersenyum sopan, “Ah biasa saja, Pak Dody. Enakkan bapak lah sudah ada istri di rumah yang mengurusi.”
Bohong. Malik sepenuhnya bohong. Tentu saja enak menjadi tetangga janda cantik. Malik setiap pagi nya selalu melihat pemandangan indah. Biasanya sekitar pukul tujuh sebelum Malik berangkat kerja, ia akan bertukar sapa dulu dengan Echa yang biasanya menjemur pakaian atau sedang menyapu teras.
Tapi yang bikin enaknya bukan bagian itu. Echa melakukan aktivitas itu biasanya hanya menggunakan handuk. Iya, handuk yang hanya melilit setengah tetek bulat Echa sampai sejengkal di atas lututnya. Malik harus menghadapi pemandangan yang membuat tegak kontolnya. Belum lagi sapaan genit yang dilontarkan Echa tiap paginya.
“Pagi, Mas Malik. Nanti pulang mampir ke Echa ya, Mas.”
“Mas Malik seksi banget deh pakai seragam kaya begitu.”
“Hati-hati di jalan ya, Mas. Echa bakal nungguin Mas Malik pulang.”
“Mas Malik wanginya sampai kesini, loh.”
Mas Malik. Mas Malik. Mas Malik. Aduh.
Belum lagi gestur-gestur genit yang kadang janda itu berikan. Pernah beberapa kali Malik harus kembali ke rumah untuk menidurkan kembali kontolnya. Tidak mungkin dia berangkat kerja dengan keadaan seperti itu, kan?
...
Malam ini Malik tidak sengaja terbangun dari tidurnya, pukul 2 dini hari. Malik tidak lagi mendengar suara obrolan dari warung sebelah. Oh berarti Echa uda tutup.
Saat ingin tidur Malik iseng mengintip dibalik tirai, ke arah jendela kamar Echa. Baru beberapa hari yang lalu ia mengetahui bahwa kamar mereka bersebelahan. Tidak sengaja setelah beberapa hari lalu Echa yang sepertinya lupa menutup rapat gorden dan mematikan lampu. Jangan tanyakan apa yang Malik lakukan waktu itu. Tentu saja coli sambil menatap Echa yang sedang tidur.
Namun kali ini berbeda. Malik benar-benar terkejut. Bukannya lupa menutup rapat, kali ini gorden kamar Echa terbuka sempurna. Dan sepertinya bukannya tidak sengaja karena jelas-jelas Malik melihat Echa di sana, belum tidur.
Malik menyipitkan matanya, melihat dengan seksama, tidak percaya. Echa, si janda bahenol itu sedang duduk telanjang di atas kasurnya. Tapi ada yang aneh dengan posenya. Echa sepertinya sedang menduduki sesuatu. Lalu bergerak seperti seseorang yang sedang... bersenggama.
Anjing.
Malik bisa melihat dengan jelas tetek bulat besar Echa yang memantul indah bebas tanpa hambatan apa pun. Malik benar benar ingin meremas serta menampar dua gundukan indah itu. Dan tentu saja, goyangan Echa yang aduhhhh siapa yang kuat jika melihat pemandangan indah seperti ini? Dari jauh, terlihat ekspresi keenakan sang janda.
Ah, anjing. Ngocok lagi gue hari ini.
...
Hari ini Jumat. Malik sengaja berangkat ke kantor lebih cepat. Pukul setengah tujuh sudah sampai kantor. Dia tidak ingin bertemu dengan Echa. Dia yakin tidak akan bisa menghindari godaan sang janda dan tidak ingin terlambat.
Pulangnya, mau tak mau dia pasti bertemu Echa. Dan benar saja, pukul lima saat memarkirkan motornya, Echa sudah berada di belakangnya. Seperti sengaja, sedang menunggu Malik pulang.
“Mas Malik tadi pagi gak keliatan. Aku kira Mas Malik sakit tapi waktu aku ketok pintunya ga ada yang buka.”
“Eh, itu tadi pagi Mas buru buru mau nyiapin kerjaan. Makanya berangkat rada pagi. Ada apa, Cha?”
Nah, mulai dari momen itu Malik tidak bisa fokus sama sekali. Echa sedang manyun, memajukan bibir, ngambek? Otak Malik tidak bisa berpikir jernih.
Kontol gue kalau diciumin bibirnya enak kali, ya?
“Aneh saja biasanya ketemu Mas dulu pagi-pagi. Aku kira mas kenapa napa. Aku khawatir banget.”
Di mata Malik, Echa terlihat seperti seorang pacar genit yang sedang ngambek. Minta untuk dibujuk. Dikasi afeksi. Malik benar benar tidak tahan.
“Besok-besok Mas ketok pintu rumah Echa dulu deh pamitan.”
Malik menjawab dengan senyum sopan. Echa membalas dengan senyuman malu-malu. Saat itu juga Malik salah fokus ke bagian bawah lengan Echa. Daster yang ia gunakan bolong, memamerkan lekukan bulat teteknya. Dan lagi, bayangan Echa meliuk indah di atas gulingnya tadi malam melintas di benak Malik.
Wah anjing ini cewek beneran cari gara-gara.
“Mas nanti malem makan di warung saja ya? Echa masak opor ayam. Mas pasti uda lama ga makan kaya begitu?”
Malik mengiyakan, kemudian pamit ke dalam. Ada yang harus segera dia tuntaskan sebelum janda itu sadar. Tapi sebelum masuk rumah Malik menatap Echa sekali lagi merendahkan suara, takut ada yang mendengar.
“Dek Echa, maaf... sebelum bapak-bapak datang nongkrong di warung, bagusnya kamu ganti baju dulu deh. Nanti habis isya Mas ke warung kamu.”
Malik berbalik kemudian menutup pintu sambil merutuki hasrat dan keposesifan yang tiba-tiba muncul dari dirinya. Dia berharap kalimat yang dilontarkannya barusan cukup sopan tanpa menimbulkan kesalahpahaman di antara mereka berdua. Dia hanya tidak ingin bagian favoritnya itu dilihat oleh orang lain.
Namun, tanpa malik sadari Echa diam-diam tersenyum. Sepertinya Mas Malik sudah terpikat oleh dirinya.
...
Malik menepati janjinya. Dia datang ke warung Echa sekitar pukul tujuh malam. Malik tersenyum saat menemukan Echa telah mengganti daster bolongnya yang tadi.
“Beneran kamu ganti?”
Echa memukul pelan lengan Malik, “kan tadi mas yang suruh.”
Entah kenapa Malik merasakan sesuatu menggelitik perutnya. Echa benar benar melakukan apa yang ia pinta.
“Mas duduk saja dulu di sana. Nanti aku anterin makannya.”
Dengan patuh Malik mengikuti pinta Echa sambil mengawasi wanita itu mengambil makanan untuknya. Malam ini Echa memakai daster berbahan satin berwarna gading. Sebenarnya Malik agak sangsi, dengan bahan seperti ini tubuh molek Echa menjadi lebih terekspos.
Ini cewe memang suka pamer kali, ya? Tahu kalau body-nya cakep.
Setelah memberikan sepiring nasi dengan lauk opor ke hadapan Malik, Echa duduk di samping pria itu. Menatap mas mas yang sebenarnya sejak pertama kali bertemu sudah ia taksir.
“Bagaimana, Mas? Enak, ga?”
Malik mengangguk.
“Cobain sambel nya deh, Mas. Enak, ga?”
Malik kembali mengangguk. Sudah lama sejak terakhir kali dia dimasak kan seseorang seperti ini.
“Aku ngulek sendiri loh Mas cabenya.”
“Pinter Dek kamu nguleknya.”
“Aku juga pinter loh Mas ngulek yang lain.”
Malik tersedak namun Echa hanya tertawa.
“Mas Malik nanti abis makan jangan langsung pulang dulu, ya? Tolong Echa nutup warung boleh ga? Besok Mas ndak kerja, kan?”
Mungkin ada sejumput ramuan di makanan yang sedang ia makan, Malik menangguk walaupun sebenarnya ia ingin beristirahat setelah bekerja seharian. Setelah mengerlingkan sebelah matanya, Echa meninggalkan malik untuk membuat segelas kopi pesanan Pak Kamto dan kawan kawan yang baru saja datang.
...
Pukul 11 malam, Echa memutuskan untuk menutup warungnya. Lebih cepat satu jam dari biasanya. Lagi ga enak badan,katanya. Malik iya iya saja. Kemudian melepas bapak bapak yang sebulan ini menjadi teman mengobrolnya.
“Mas bantuin aku angkatin kursi sama meja, ya? Aku mau beres beres dulu di dalam.”
Setelah selesai di depan, Malik menyusul Echa ke dalam warung. Berniat membantu.
“Aku sudah selesai, kok. Mas mau mampir ke rumah ga?”
Ga ada salahnya kan mampir ke rumah tetangga yang janda dan tinggal sendirian tengah malam begini. Kan?
Dan di sinilah Malik, sofa ruang tamu milik Echa. Echa dengan telaten menjamu tamunya. Menyediakan teh serta camilan dan kemudian duduk di sebelah Malik. Sepertinya sang tuan rumah ingin mengobrol lama.
“Mas bagaimana disini? Sudah kerasan?”
Malik mengangguk, “Sudah. Aku kan dapet tetangga cakep kaya kamu.”
Echa tertawa renyah. Malik jelas melihat semburat merah di pipi wanita itu. Pujian sekecil itu sudah bisa membuatnya senang. Bagaimana kalau Malik beri lebih?
“Aku juga seneng tahu Mas dapet tetangga cakep kaya kamu. Aku kira yang pindah bapak bapak umur 50an begitu.”
“Emangnya kenapa kalau dapet bapak bapak?”
“Ga seru ah Mas. Pasti sudah punya istri, ga bisa digodain.”
Malik menaikkan sebelah alisnya. Percakapan ini mulai menarik.
“Oh jadi kamu suka ngodain orang?”
Echa terkekeh malu.
“Ga godain yang gimana gimana sih, Mas. Kaya aku ke Mas tiap pagi.”
“Yang tadi malem itu ga masuk hitungan, dong?”
Seketika Echa terdiam, menunduk sambil menggigit bibir. Dia ketahuan?
“Dek Echa?”
“Eh yang mana, Mas?”
“Tadi malem Mas ga sengaja liat kamu waktu liat ke jendela. Kenapa gordennya engga ditutup?”
Echa sempurna memerah. Dia tidak menyangka akan ditanya secara langsung begini. Terlebih, ia kira Mas Malik selama ini hanyalah bujang yang tidak akan berbuat apa apa jika ia pancing.
“Dek Echa sengaja, ya?”
Echa diam, mengangguk pelan.
“Kenapa engga minta langsung ke Mas?”
Kali ini mata Echa sempurna membulat.
“Mas ih ga mungkin Echa minta kaya begitu.”
“Tapi telanjang sambil gesekin memeknya ke guling sambil liatin jendela kamar Mas gapapa?”
Aduh percakapan kotor seperti ini membuat darah Echa mendidih. Tanpa ia sadari, sedari tadi pentil yang ada dibalik daster satinnya sudah tercetak sempurna menonjol menggoda Malik yang keimanannya hanya setipis tisu. Melihat itu, Malik mendekati Echa membisikkan sebuah kalimat seduktif.
“Cantik kaya kamu engga boleh main sendirian.”
Malik mengelus pelan pipi Echa yang telah memerah. Kemudian tangannya turun perlahan melalui dagu, leher, kemudian berhenti tepat di atas puting Echa yang telah mengeras sempurna.
“Shh- Mas Malik.”
“Kenapa, Dek? Udah lama ya ga disentuh cowo putingnya? Masi ngobrol udah keras banget?”
Echa tahu, malam ini dia akan melakukannya dengan Mas Malik. Lelaki incarannya sejak sebulan lalu. Namun yang benar-benar Echa tidak tahu, Malik sangat suka melihat ekspresi mendamba wanita yang ingin disentuh seperti dirinya.
Echa memegang tangan Malik saat jemari pria itu mengelus pelan tete sebelah kirinya.
“Mas Malik-hhh Echa udah ga taha-aahhn”
Malik memberikan cubitan kecil diantara dua jarinya. Sekarang ia tahu, tetek bulat ini merupakan kelemahan wanita di depannya.
“Adek mau pindah ke kamar tidak? Atau mau disini aja?”
Echa menelan ludah. Mencoba menemukan suaranya.
Malik masih berdiri disana. Dengan wajah tepat di depan Echa. Sepasang matanya nya mengunci tatapan Echa, bermaksud mengintimidasi.
Jantung Echa berdebar sangat keras sekarang. Bahkan ia bisa merasakan memeknya mulai basah saat ia merasakan bagaimana bibir Malik menelusuri lehernya. Ia nyaris saja luruh ke lantai saat Malik berbicara –nyaris berbisik tepat di belakang cupingya. Rasanya panas. Membakar Echa hingga wajahnya yang pucat mulai memerah.
