Work Text:
Pagi di hari Senin memang selalu istimewa setiap minggunya. Walaupun beberapa kalender menetapkan hari Minggu penentu minggu baru, namun bagi para pekerja dan murid sekolah tentu berbeda. Hari Senin memiliki esensinya sendiri, tidak mungkin ada yang merasa panik dan riang gembira di hari Minggu, kecuali kalau mereka telat di agenda masing-masing. Lalu, apakah hari Senin juga memiliki orang-orang yang telat di agendanya sendiri? Tentu saja.
Kediaman Choi berada di salah satu perumahan elit di Jakarta. Bangunan yang memiliki 2 lantai layaknya perumahan lain itu merupakan kepemilikan sang kepala keluarga seutuhnya. Dengan jerih payah bertahun-tahun mengabdi di bawah kaki suruhan ayahnya, ia bisa membeli rumah tersebut sebelum menikah dengan sang mantan istri. Betul, mantan istri, sudah masuk ke tahun ketiga semenjak perceraian mereka lebih tepatnya.
Suara langkah kaki terdengar di dalam rumah tersebut. Berasal dari kamar tidur seorang anak laki-laki menuju kamar utama yang memiliki luas lebih besar. Kasur tidur lebih besar tentunya, kamar mandi, terdapat ruang kerja kecil juga di kamar tidur itu. Sangat tipikal seorang pekerja keras yang tidak tahu tempat dan waktu.
“Papa,” panggil seorang anak laki-laki yang kini berdiri di depan kasur, “Papa, bangun.” Jemari kecilnya dikerahkan untuk menarik selimut yang menutupi sang ayah di bawah benda empuk itu, “Papa, udah pagi.” Sebuah erangan kecil terdengar, kedua kelopak mata lelaki dewasa di kasur mulai terbuka sebelum terbelalak lebar. “Ryu – ya ampun,” Ryu, sang anak, menatap ayahnya dengan datar, “Masak sarapan. Aku mau mandi.”
Lelaki dewasa yang seharusnya berperan sebagai seorang ayah itu langsung bangun dari tidurnya. Kantung mata bekas lembur tadi malam, walaupun di hari libur, masih terpatri di wajah. Setelah mengecup pipi anak lelakinya dengan gesit, sang tuan langsung bergegas berlari menuju dapur. Sempat langkahnya terhenti di tengah karena sadar wajahnya masih belum merasakan air di pagi hari ini untuk setidaknya menyegarkan diri.
Namanya Choi Seungcheol, seorang ayah mandiri yang sudah 3 tahun bercerai dengan mantan istri. Alasan nya? Keduanya memiliki ideologi berbeda semasa menjalani pernikahan. Mengapa mereka bisa menikah di awal? Karena cinta satu-sama lain tentu saja. Namun keduanya sadar bahwa cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah pernikahan.
Semenjak perceraian, keduanya memutuskan agar Ryu diasuh sepenuhnya oleh Seungcheol. Tidak ada perseteruan panas antara mereka, terlebih karena memang Seungcheol terlihat lebih mampu untuk mendidik Ryu. Mungkin dikurang dengan bagaimana pekerja kerasnya dia hingga lupa kewajiban sebagai seorang ayah yang harus mempersiapkan bekal dan sarapan di pagi hari. Tentu Seungcheol memiliki banyak akses dan juga kenalan untuk bertanya mengenai gizi seorang anak berumur 7 tahun, namun terkadang dia harus memikirkan gizinya sendiri di setiap hari.
“Kakak! Papa udah taro telornya di meja makan, ya. Papa mandi dulu bentar,” seru Seungcheol dari luar pintu kamar tidur sang anak. Ryu membalas dengan tidak kalah semangatnya, “Okeee.” Seungcheol berlari kembali ke kamar tidurnya. Melihat beberapa kali layar ponselnya bergetar, memunculkan notifikasi penting di pukul 6:30 pagi hari.
Wonwoo Sekretaris: bang
Wonwoo Sekretaris: jangan telat please
Wonwoo Sekretaris: meeting ada 3 sampe sore terus jangan ganggu gue mau ngajarin anak baru
Seungcheol : anak baru?
Wonwoo Sekretaris: kan
Wonwoo Sekretaris: ryu lo anter sendiri kan?
Seungcheol: iya ini mau mandi
Seungcheol: jangan suruh minghao ke rumah nanti anak gue bete nggak dianter gue lagi
Wonwoo Sekretaris: siapa suruh telat bangun mulu
Seungcheol: iya iya ah bentar mandi dulu
Gawai pintar itu dilempar ke kasur sebelum mengambil handuk yang tertinggal di gantungan jemuran. Sebuah Senin pagi yang amat indah. Hanya butuh sekitar 10 menit untuk Seungcheol menyelesaikan bebersih tubuhnya dan mulai memakai pakaian kerja. Tidak lupa memasang dasi secara mandiri, sudah hampir 3 tahun ia memakainya sendiri, tidak keberatan sama sekali jika setiap hari Seungcheol memakai mentalitas bahwa ia bisa melakukan ini semua dengan lancar.
Tidak selalu lancar pastinya tapi setidaknya ia tidak meninggal di tengah-tengah perjuangan sebagai seorang ayah yang baik bagi Ryu. Seungcheol bukan lah ayah yang sempurna di mata orang-orang, tapi setidaknya ia sempurna bagi Choi Ryu.
“Kakak udah sarapan nya?” Seungcheol menempatkan tas kerjanya di atas meja. Ryu menganggukkan kepala, mengelap sisa makanan di area bibirnya. “Yaudah ayo berangkat –” lengan Seungcheol ditahan oleh Ryu, “Papa makan dulu.” Pandangan Seungcheol teralih ke arah sisa telur yang dimasak sebelumnya di piring sarapan anaknya sendiri, “Papa nggak sarapan dari kemarin. Soalnya tidur terus kata tante Minghao.”
“Tapi nanti telat –”
“Makan di mobil. Ryu yang pegangin piringnya.”
Ryu turun dari kursi makan nya sembari menggenggam piring sarapan untuk dimakan oleh Seungcheol nantinya. Tangan nya semakin mengerat menggenggam jemari ayahnya. Membuat Seungcheol sendiri tidak bisa menolak tawaran itu. Semuanya berujung ke fakta bahwa Ryu yang mengerti gizi ayahnya sendiri.
Selama di perjalanan, Seungcheol membiarkan Ryu menyuapi sarapan nya itu. Ia juga berjanji akan membeli sarapan nanti setelah mengantar Ryu ke sekolah. Sampai saat keduanya sampai di sekolah, Seungcheol menyempatkan diri untuk turun dari mobil. Mengantarkan Ryu ke gerbang sekolah hingga memastikan anak satu-satunya itu benar-benar masuk ke sekolahnya sendiri.
Setelah itu, tinggal Seungcheol berlomba dengan waktu untuk sampai ke kantornya tanpa telat lagi. Sebenarnya kantornya masuk di jam 8 pagi. Namun akhir-akhir ini Seungcheol bisa datang di jam 8:30, 9, dan bahkan menyentuh ke 10. Wonwoo dan Minghao pernah harus menghampiri rumahnya agar memastikan Ryu tidak terlambat sekolah.
Sesampainya di kantor, Seungcheol meminta pegawai kebersihan untuk mencuci piring bekas sarapan Ryu tadi sebelum masuk ke ruangan nya. Di dalam ruang kerjanya sudah terdapat Wonwoo yang sedang menggulir sesuatu di layar ponselnya. Seungcheol menghela napas panjang saat pandangan nya bertemu dengan sekretarisnya itu. Bakal mantan sekretaris sebenarnya, karena Wonwoo akan pindah ke Jepang beberapa minggu lagi.
“7:30,” ujar Wonwoo sembari memperlihatkan layar ponselnya ke arah Seungcheol, “Impressive.” Seungcheol membiarkan tubuhnya dihempaskan ke kursi kerja, menyandarkan dinding yang sudah mulai menua itu. “Lo bisa cariin gue sarapan nggak? Meeting pertama jam berapa? Gue kok lupa ya,” Wonwoo memperbaiki kacamatanya di ujung hidung, merasa prihatin dengan bagaimana atasan nya itu bekerja, “Jam 9, masih lama. Bentar lagi paling anak baru itu dateng kok.” Dengan pandangan masih berfokus ke kalender pekerjaan, Seungcheol bertanya, “Anak baru mana, sih? Gue pernah ketemu, kah?” Wonwoo mengutak-atik sesuatu di ponselnya sebelum kembali menatap lelaki di depan nya itu, “Udah gue forward reminder semua wawancara dan track record si anak baru. Gue mau ke Minghao dulu nanyain soal sarapan terus balik ke sini bawa anak baru itu buat tanda tangan kontrak sama lo. Rapihin dasinya jangan lupa.”
Setelah Wonwoo meninggalkan ruangan, Seungcheol melepas dasinya yang terasa mencekik lehernya sendiri. Sembari masih mengatur napas sembari membuka kiriman surel dari Wonwoo. Membuka beberapa dokumen terlampir, menunjukkan identitas dari anak baru yang dimaksud Wonwoo sebelumnya. Sebagai sekretaris baru, penggantinya nanti untuk posisi penuh waktu.
“Yoon Jeonghan,” bisik Seungcheol pelan. Menggulir ke bawah, perempuan ini hanya lebih muda 2 bulan saja dari Seungcheol. Perlahan ingatan nya tentang mewawancarai Yoon Jeonghan mulai kembali muncul di pikiran. “Oh, dia,” Seungcheol bergumam lagi, “yang cantik itu.”
Atensi Seungcheol kembali buyar karena beberapa pesan penting mengenai pekerjaan mulai masuk mendekati jam 8. Dengan itu, laman yang menunjukkan biodata Yoon Jeonghan pun ditutup. Seungcheol kembali memasang dasinya dengan rapi, setidaknya sampai selesai menandatangani perjanjian kontrak pekerjaan dan basa-basi dengan Yoon Jeonghan. Sebagai atasan yang baik, setidaknya Seungcheol memiliki rasa keingintahuan kepada calon karyawan nya atau tidak ia akan dimarahi Minghao lagi.
Choi Seungcheol kembali larut ke dalam pekerjaan nya. Mempersiapkan bahan-bahan untuk pertemuan pekerjaan nanti sesuai pengingat di kalender. Suara ketukan di pintu ruang kerjanya pun terdengar. Tanpa melihat orang yang mengetuk, Seungcheol membiarkan siapa pun masuk.
“Pak Seungcheol,” kepala Seungcheol terangkat dari fokus ke arah laptop pribadinya, bertemu dengan Wonwoo yang sudah merubah pesonanya menjadi profesional. Keduanya sudah harus berada di mode kerja sekarang. “Oh iya, silahkan masuk,” Seungcheol memperbaiki postur duduknya di kursi selagi Wonwoo mempersilahkan seorang wanita masuk ke dalam ruang kerjanya. Rambut perempuan itu dibiarkan mengurai menggantung sedikit melewati leher duduk di hadapan Seungcheol, sang tuan baru dapat melihat wajahnya dengan jelas.
Jika di ruangan ini tidak ada Wonwoo, mungkin Seungcheol akan menghabiskan waktu hanya untuk tertegun sejenak. Menikmati keindahan di hadapan nya yang perlahan membara di benak. Perasaan aneh yang sudah lama tidak dirasakan selama 3 tahun terakhir. Atensi Seungcheol kembali pecah saat Wonwoo sedikit menghibaskan beberapa kertas dokumen di hadapan nya berisi kontrak kerja untuk si sekretaris baru itu.
Setelah memastikan semua dokumen sudah lengkap di atas meja, Wonwoo izin pergi keluar ruangan. Meninggalkan Seungcheol bersama sekretaris barunya itu untuk entah sampai kapan sang puan dapat bekerja. Perbedaan nya dengan Wonwoo, Seungcheol sudah mengenal lelaki itu sejak mereka masih di kuliah. Bahkan saat sebelum Wonwoo ikut bekerja dengan nya, Seungcheol lah yang membantu mantan adik tingkatnya itu beberapa pekerjaan sebagai pengalaman awal setelah lulus kuliah.
“Yoon Jeonghan,” ucap Seungcheol sekali lagi, seperti sebuah kebiasaan dituai dari ujung lidah. Jeonghan, yang memakai pakaian formal warna hitam dan kemeja putih bak pekerja kota pada umumnya, hanya membalas dengan anggukan kecil, “Iya, pak. Itu saya.” Seungcheol membuka beberapa lembar kertas di hadapan nya sebelum kembali menatap ke depan, “Ada yang mau ditanyain soal kontraknya? Paling sebagian besar deskripsi pekerjaan kamu bakal dijelasin sama Wonwoo nanti. Terus dikenalin ke divisi-divisi lain juga, saya pastiin nggak terlalu bikin kamu kerepotan karena kamu juga harus ngerjain yang lain dan itu berurusan sama saya juga. Saya cuman mau kamu jujur sama tekun aja ngerjain pekerjaan, sisanya bebas.” Jeonghan menganggukkan kepalanya lagi, Seungcheol sudah tidak ada topik basa-basi sekarang.
Jadi dia memutuskan untuk menumbalkan Jeon Wonwoo.
“Wonwoo resign karena mau pindah ke Jepang.”
“Oh, gitu pak.”
“Mau nikah dia sama calon nya.”
“Wah, masih muda padahal,” tutur Jeonghan dengan kedua matanya sedikit membulat. Seungcheol menahan diri untuk tidak lompat dari jendela terdekat. “Umur udah 30-an kamu kira masih muda?” Seungcheol bertanya balik yang dijawab dengan anggukan lagi dari Jeonghan, “Saya mau 33 tahun juga masih dapet kerjaan baru. Bukaan nya umur 30-an itu bisa aja mulainya hidup buat beberapa orang? Mungkin itu pemikiran Wonwoo sama calon nya juga. Memulai hidup baru bersama.” Seungcheol terdiam sejenak, “Oh, maaf pak. Bukan maksudnya tiba-tiba ngomongin umur –” Jeonghan seketika terlihat gugup dan lelaki itu menggelengkan kepala sembari tertawa kecil, “Nggak apa-apa kok. Saya sengaja bawa topik itu karena basa-basi aja, cuman nggak nyangka dibales serius dan lumayan berat juga. Terima kasih sudah memperlihatkan bagaimana kamu berpikir, ya.”
Keduanya pun menandatangani kertas kontrak masing-masing. Satu kumpulan dokumen dipastikan disimpan oleh Jeonghan sebagai arsip sendiri dan satunya diminta oleh Seungcheol untuk diberikan kepada Wonwoo sebagai arsip kantor. Jeonghan sendiri bukan pertama kalinya bekerja sebagai sekretaris, maka karena itu nominal gajinya hanya selisih sedikit saja dengan Wonwoo. Ditambah dengan umurnya juga yang lebih setara dengan Seungcheol, Wonwoo pun berharap agar keduanya bisa lebih mengerti satu sama lain.
Wonwoo pun kembali masuk ke ruangan untuk menjemput Jeonghan. Setelah memberitahu Jeonghan di mana letak meja kerjanya, Wonwoo menoleh ke arah Seungcheol. Atasan nya itu sudah kembali larut ke dalam tumpukan tanggung jawab. Menunggu agar Seungcheol sadar akan presensi Wonwoo yang masih berada di ruangan sebelum angkat bicara lagi.
“Jadi gimana?” tanyanya, “cocok?” Seungcheol menghela napas pelan, melepas ikatan dasi yang melingkar di kerah baju, “Lumayan. Gue suka cara dia berpikir aja.” Wonwoo mengerucutkan bibir, menandakan bahwa semua rencana terselubungnya dapat terjadi di waktu dekat. Seungcheol melepas dan menempatkan dasinya di atas meja, “Kenapa masih berdiri di sini? Katanya mau ngajarin anak baru.” Wonwoo mengerutkan hidungnya untuk mengejek mode profesional Seungcheol yang sedang diperlihatkan saat ini, “Iye, iye. Jangan lupa jam 9 meeting. Invoice nya jangan lupa, nanti Minghao marah-marah lagi,” Seungcheol menganggukkan kepala sembari mengusir sekretarisnya itu keluar dari ruang kerjanya.
Tepat 30 menit menuju jam 9, Seungcheol sudah pergi meninggalkan kantor untuk pertemuan bisnis di luar. Kembali mengulang waktu pekerjaan seperti ini selama 5 hari berturut-turut. Bahkan bisa sampai 7 hari jika memang dirinya sedang ingin mengejar sesuatu. Namun yang seperti itu tidak terlalu sering terjadi, karena Seungcheol sendiri masih memiliki Ryu yang butuh untuk ditemani oleh ayahnya.
Selama beberapa hari pertama Yoon Jeonghan bekerja untuknya, Seungcheol merasakan bahwa perempuan itu perlahan sudah mengikuti ritme pekerjaan di kantor. Beberapa pekerjaan seperti meminta tanda tangan Seungcheol di dokumen penting juga dikerahkan olehnya. Salah satu hal yang ditemukan oleh Seungcheol tentang Jeonghan adalah pemilihan pakaian kerjanya. Memang tidak ada aturan berbusana yang kental di kantor, beberapa karyawan nya juga masih bisa memakai sneakers layaknya anak muda zaman sekarang, bahkan Seungcheol kadang masuk kerja dengan menenteng tas olahraganya.
Hal lain yang menjadi fokus atensinya adalah bagaimana Jeonghan menata rambut. Beberapa kali rambutnya dibiarkan terurai, lalu esok hari dikuncir kecil. Tidak sekali Seungcheol menjadi bahan ejekan beberapa karyawan kantornya. Tentu bukan yang jauh lebih di bawah, namun orang-orang yang sudah menyaksikan bagaimana ia bisa duduk di posisi sekarang.
“Yoon Jeonghan?” Suara Minghao lumayan terdengar keras dan menggema di ruang pertemuan. Seungcheol pun panik, meminta sang kepala divisi keuangan itu untuk diam. Soonyoung masih melahap ramen nya, “Lah, sekretaris baru? Sinetron macam apa ini. Gue kira cuman dari berita-berita Twitter soal perselingkuhan doang.” Seungcheol mengerang, “Perselingkuhan apa sih? Gue aja udah cerai 3 tahun lalu. Nggak usah bikin gosip,” Wonwoo menyeruput teh hangatnya dengan diam, menikmati keseruan yang sedang berlangsung di kantor sampai ia pindah negara nanti.
Apakah Seungcheol pernah disuruh untuk mencari pengganti sang mantan istri? Pastinya. Bahkan mantan istrinya juga meminta Seungcheol agar tidak terlalu tenggelam dengan pekerjaan nya saja. Bukan hanya untuk kehidupan nya saja, namun untuk Ryu juga. Walaupun beberapa kali Seungcheol meyakinkan diri dia bisa membesarkan Ryu sendiri, namun jauh di lubuk hatinya ia sadar tentang fakta bahwa dia tidak bisa melakukan ini semua sendirian.
Hari begitu cepat berlalu hingga sampai ke waktu di mana Wonwoo harus benar-benar meninggalkan kantor. Melihat hubungan Jeonghan dan Wonwoo yang semakin hari semakin dekat membuat Seungcheol tidak terlalu khawatir dengan bagaimana kinerja sekretaris barunya. Karena memang sampai sekarang tidak ada yang bisa dikomplain juga. Beberapa kesalahan minor tentu tidak bisa dijegal jika memang takdir, Seungcheol hanya percaya Jeonghan bisa mengambil ilmunya.
Pesta perayaan perpisahan Wonwoo diadakan di salah satu restoran Jepang di pusat kota. Sebelumnya Seungcheol sudah memastikan Ryu pulang ke rumah ibu kandungnya. Tentu sesuai persetujuan dari mantan istri. Tidak sering terjadi bagi Seungcheol memperbolehkan Ryu bermain ke kediaman mantan istrinya, namun karena kemungkinan malam ini ia akan pulang lebih malam dari biasanya, lelaki itu tidak memiliki opsi lain.
Meneguk minuman beralkohol dari ujung gelas, Seungcheol menghela napas pelan. “Lo ngundang Jeonghan nanti?” tanyanya kepada Wonwoo, “Iya. Mingyu juga oke-oke aja gue nambah tamu. Masih lama ini nikahnya.” 2 minggu lagi menurut Wonwoo masih tergantung lama. Wonwoo sedikit melirik ke arah Seungcheol, “Kenapa? Lo mau bawa dia?” Seungcheol pun mendelik, sedikit menoleh ke pemandangan Jeonghan yang sedang berbisik-bisik dengan Minghao di seberangnya, “Nggak. Gue mau bawa Ryu aja udah cukup.”
Sebenarnya bahkan Seungcheol masih tidak tahu apakah ia bisa hadir di pernikahan Wonwoo atau tidak. Tapi sepertinya harus datang juga sebagai salah satu pembantu mempelai pria. Nanti Wonwoo akan berujung menerornya walaupun dia sudah pindah negara. Waktu sudah menunjukkan pukul sekitar 10 malam, Seungcheol beranjak berdiri untuk berpindah ke ruangan merokok yang masih dialaskan oleh karpet tatami dan sebuah jendela terbuka mengarah keluar.
Menyalakan ujung puntung rokoknya, Seungcheol menghembuskan napas pelan. Ia masih memiliki beberapa sisa cuti di tahun ini. Bahkan beberapa yang belum dipakai di tahun kemarin. Sepertinya ide bagus nantinya untuk membawa Ryu liburan beberapa hari.
“Oh, ada bapak,” pintu ruangan itu bergeser dan memperlihatkan Jeonghan. Seungcheol sedikit tersentak, “Loh, kamu ngapain?” Wajah Jeonghan sudah terlihat memerah, sedikit sempoyongan saat duduk di atas karpet sembari bersandar ke dinding, “Mau ngerokok. Dingin banget di tempat makan tadi.” Rok yang digunakan Jeonghan lumayan pendek, namun dengan posisi kakinya bersimpuh ke samping agar mempermudah untuk bersandar ke dinding, “Bapak kenapa di sini? Kedinginan juga?” Seungcheol tertawa kecil, membuang abu rokok itu ke tempatnya, “Nggak. Saya mau ngerokok juga. Lumayan capek kerjaan akhir-akhir ini, kan? Mau ngambil cuti kayaknya saya,” Jeonghan mengangguk kepala setuju, “Berarti saya cuti juga.”
Mungkin karena umur mereka yang sama, Seungcheol lebih bisa sedikit santai jika berdiskusi dengan Jeonghan. Awalnya dia juga sempat bertanya mengapa Wonwoo memilih Jeonghan dibanding kandidat lain. Dengan alasan: abang kan kesepian itu tidak termasuk ke nilai tambahan, Wonwoo mempertimbangkan pengalaman dari Jeonghan sendiri. Seungcheol juga mengekspektasikan Jeonghan akan mulai berlagak seperti dirinya dan bukan sebagai anak baru di kantor, karena di bawah kepemimpinan nya tidak terlalu ada senioritas yang berlangsung, asalkan tiap individu memiliki sifat sopan dan tekun setiap bekerja.
Jeonghan terlihat sedang mencari sesuatu. Menghembuskan napas kasar saat yang dicari itu tidak ketemu.
“Kamu nyari apa?”
“Rokok saya. Nggak ketemu.”
“Yaudah pake rokok saya aja sini.”
Kepala Jeonghan terangkat, menatap ke arah Seungcheol dengan wajah kaget. Seungcheol hanya mengangkat kedua pundaknya ringan, bergeser sedikit untuk memberi ruang bagi Jeonghan agar ikut bersandar ke dekat jendela. Perempuan itu mengambil puntung rokok di genggaman sang tuan, perlahan menghisap ujungnya sebelum dihembuskan ke angin malam. Seungcheol sendiri tidak sadar bahwa ia sedang menatap perempuan itu untuk beberapa saat.
Rambut Jeonghan kini dibiarkan tersanggul rendah. Beberapa helai rambut tidak ikut tertarik ke sanggulan tersebut, tapi hal itu sama sekali tidak menurunkan kecantikan nya. Bisa dibilang malah menambahkan aura cantik nan anggun di mata Seungcheol. Jeonghan menoleh ke samping, saat tangan Seungcheol bergerak bermain dengan beberapa helai rambutnya, perempuan itu masih terdiam.
Entah siapa bergerak duluan, namun hal selanjut yang Seungcheol rasakan adalah kepulan asap dari mulut Jeonghan mengenai bibirnya. Tangan nya pun perlahan bergerak turun melingkar di pinggang perempuan itu. Seketika kedua bibir mereka bertemu di satu ciuman lembut. Dengan Jeonghan yang mulai membuka mulutnya pasrah, membiarkan lidah Seungcheol masuk ke rongga mulut hangatnya.
“Hhah –” napas Jeonghan tercekat, genggaman nya terhadap rokok di jemari mulai melemah, “Pak –” Seungcheol menghisap bibir bawah sekretarisnya itu dengan rakus, memaksa perempuan tersebut agar semakin lebar membuka mulutnya, “Ahh – fuck.” Puntung rokok itu pun terjatuh ke tempat pembuangan. Membuat Jeonghan melingkarkan kedua tangan di leher atasan nya, “Pak – hhah… Seungcheol –” Seungcheol menghembuskan napas pelan di bibir Jeonghan, merah merona dan tebal dibuat dari ciuman sebelumnya, “Jangan panggil saya itu.” Jeonghan mendesah pelan saat tubuhnya ditarik ke pangkuan lelaki itu, merasakan celana dalamnya bergesekan dengan gundukan keras di balik celana kerja Seungcheol, “Mmmh… ahh – mas, mas, mas – oh fuck… gesekin lagi mas.”
Cumbuan Seungcheol berpindah ke ceruk leher Jeonghan. Menghisap tiap titik di atas kanvas putih pucat bak pelukis handal. Jeonghan mendongak, perlahan melepas beberapa kancing kemejanya untuk memberi ruang lebih bagi lelaki itu. Roknya ditarik hingga pinggang, merasakan tiap gesekan dari aktivitas keduanya berdampak ke bibir memeknya.
Seungcheol mencengkram kuat pinggang Jeonghan hingga sepertinya akan meninggalkan bekas. Perempuan itu mendesah keras, merasakan cairan pre-orgasmenya mulai menetes keluar dari bibir memek. Semuanya hanya karena sentuhan dan hisapan bibir Choi Seungcheol di tubuhnya. Seperti sudah ditunggu beberapa tahun untuk merasakan sentuhan itu.
“Jeonghan –”
“Hani – ahh.. panggil Hani aja –”
“Hani, kamu mau –”
“Kobelin memekku, mas,” rengek Jeonghan perlahan membawa jemari besar nan panjang Seungcheol ke bibir memeknya. Seungcheol menggeram berat saat merasakan betapa basahnya liang kewanitaan milik sekretarisnya itu, “Anjing, Hani –” Jeonghan merengek kembali, “Please, please, please. Nggak ada waktu kalo mau lebih tapi please bikin aku muncrat mas seenggaknya.” Air mata Jeonghan mulai menetes jatuh ke pipi, semakin mendesah kencang saat jemari Seungcheol menggeser celana dalamnya ke samping untuk menyentuh bibir memeknya langsung, “Ahhh – fuck, fuck, fuck. Mas, mas, mas – enak, enak banget.”
Sudah berapa tahun semenjak Seungcheol menghirup ekstasi dari ceruk leher seorang perempuan? Tiga, jika ingin jawaban logis. Seungcheol lupa bagaimana aura seks dapat merangsang dirinya setelah sekian lama. Bagaimana perasaan itu bisa membuat kepalanya pusing dibuat. Kembali memiliki seorang perempuan di pangkuan nya setelah sekian lama membuat Seungcheol menggeram pelan di dalam dada.
Jeonghan memeluk leher Seungcheol erat-erat. Mendesah di daun telinga lelaki itu setiap jemari panjang Seungcheol mulai melesak masuk ke liang memeknya. Perlahan bergerak memperlebar liang sempit itu yang hanya kerap dilesakkan oleh dildo panjang kesayangan nya di rumah. Mengangkat kepala lelaki itu agar pandangan mereka bertemu, Jeonghan mencium kembali bilah bibir merah merona milik Seungcheol dengan penuh nafsu.
“Mas –” suara Jeonghan tercekat di tenggorokan, “Tangan mas panjang banget. Mentokin lagi mas di memekku.” Rona merah pun terlukis jelas di wajah perempuan itu. Saat Seungcheol menyodok dua jarinya semakin dalam di liang sempit di bawah sana, Jeonghan terkejut, melolongkan jeritan seperti tercekik di ruang merokok itu. “Nnh! Nnnh – mmmh! Mas – mas… hahh.. hhahh,” Seungcheol mendesah di ceruk leher Jeonghan, “Kamu sempit banget, Hani. Sayang, aku nggak bisa ngentotin kamu malem ini,” kedua mata Jeonghan pun berguling ke belakang, merasakan kini tiga jari lelaki semakin menyodok mentok ke ujung liang sempitnya, “Nanti – nanti mas. Fuck, mau muncrat – mmmh… mau muncrat mas!”
Seungcheol semakin mempercepat pergerakan ketiga jarinya di dalam tubuh Jeonghan. Membiarkan wanita itu semakin melebarkan kedua kaki di pangkuan nya. Kemeja yang dipakai sudah melorot dari posisi awal. Pemandangan kedua bongkahan daging payudara itu menggoda akal sehat Choi Seungcheol sendiri.
Tidak lama bagi Jeonghan untuk membiarkan puncak orgasmenya tercapai. Cairan nya menyembur keluar seraya Seungcheol mengucek itil sang puan tanpa henti. Jeonghan bahkan sampai berbaring di lantai beralaskan tatami itu. Tubuhnya bergetar hebat seraya melewati tiap setruman puncak orgasme yang dirasakan lebih intens dari biasanya.
“Mas – oh, mas, mas, mas,” Jeonghan kembali menjerit saat Seungcheol memposisikan diri menghadap ke liang memeknya. Jilatan pertama yang sukses membuat Jeonghan mendesah kencang pun terdengar. Bagian samping roknya sudah mulai robek sedikit, menandakan betapa lebarnya ia membuka kaki untuk atasan nya sendiri. “S-seungcheol – hahhh…” tangan nya dikerahkan untuk meremas helai hitam legam milik lelaki itu, “Mas, mas – jangan, jorok banget,” Seungcheol mengeluarkan suara tidak setuju akan pernyataan itu, mendongak untuk menatap ke kedua manik Jeonghan, “Kamu enak, cantik. Aku mau bikin kamu muncrat lagi. Kita masih punya sisa waktu sebentar aja, sayang.”
Panggilan manis yang hanya dipanggil hanya untuk perempuan nya itu membuat tubuh Jeonghan melengkung sempurna. Tidak butuh waktu istirahat baginya untuk kembali memuncratkan cairan orgasme bersamaan dengan Seungcheol yang sedang mengulum itil kemerahan Jeonghan. Perlahan cumbuan Seungcheol bergerak dari bibir memek Jeonghan menuju selangkangan nya. Meninggalkan kecupan-kecupan lembut penanda bahwa ialah yang terakhir menjamah tiap titik kanvas putij milik sang puan.
Tiap kecupan itu diberikan di setiap titik kulit milik Yoon Jeonghan. Selangkangannya, paha belakang, perut, pinggang, pucuk payudara di luar bra Jeonghan yang perlahan dihisap pentilnya. Jeonghan merasakan merinding mulai menjalar ke sekujur tubuh. Ditambah dengan gesekan kontol besar Seungcheol yang menegang di balik celana menyentuh bibir memeknya.
Jeonghan menarik tangan Seungcheol agar tubuh sang tuan tepat berada diatas tubuhnya. Menangkup wajah Seungcheol dengan sentuhan lembut dari jemari-jemari lentik itu sebelum mempertemukan kembali kedua bibir mereka yang kini sudah sama merahnya. Seungcheol membalas ciuman Jeonghan layaknya bernapas setiap hari. Menyadari bahwa Jeonghan setara dengan oksigen di kehidupan nya.
“Aku kayaknya mau mati –”
“Kamu nggak bakal mati, Hani.”
“Hamilin –” rengek Jeonghan, “Mas, hamilin aku. Mas, mas, mas tolong.” Seungcheol mengecup bibir Jeonghan dengan lembut. Memeluk pinggang ramping wanita itu dengan hati-hati, jangan sampai terjatuh dari pelukan nya. “Hey, sayang. Cantik,” tiap panggilan manis keluar dari bilah bibir Seungcheol sukses mengambil atensi Jeonghan yang mulai semakin kalut di bawah alam sadarnya, “Masih ada besok, ya? Masih ada hari besok-besoknya lagi. Kamu masih kerja sama aku, sayang.”
Seketika Seungcheol terdiam setelah mengutarakan kalimat itu. Fuck, kedua matanya terbuka lebar, gue ngapain anjir? Pikiran nya kembali buyar mendengar suara rengekan Jeonghan. Sekretarisnya itu kini sudah merah padam wajahnya, beberapa kancing kemeja terbuka memperlihatkan bra dengan daging payudara besar sesuai selera Seungcheol. Jeonghan sendiri sedang mengatur napasnya hingga dada bergerak naik-turun, bekas air mata masih tertinggal di pipi.
Seungcheol menarik tubuh Jeonghan agar kembali duduk di pangkuan nya. Ia memanfaatkan kesempatan ini untuk mencium bibir Jeonghan. Melumat bilah bibir merah merona dengan lembut sembari merengkuh tubuh perempuan lebih ramping dan kecil itu. Jeonghan melenguh pelan di tengah ciuman mereka, membiarkan kedua kakinya memeluk pinggang Seungcheol erat-erat.
“Masih ada besok?” bisik Jeonghan di ruang kosong antara kedua bibir mereka. Jemari lentiknya digerakkan untuk mengusap pipi dan dahi Seungcheol. Beberapa detik keheningan menyelimuti keduanya di ruangan khusus merokok itu hanya untuk menatap wajah satu-sama lain. Seungcheol mengangguk, entah mau dibawa kemana topik pembicaraan ini, “Masih ada besok, terus besok, terus besok-besok lagi, Hani. Aku nggak bakal kemana-mana.”
Jeonghan mengerucutkan bibirnya, menahan diri untuk tidak meneteskan air mata lagi. Sebenarnya Seungcheol sudah berekspektasi kalau Jeonghan tidak akan mengingat apa yang terjadi hari ini di esok hari. Semenjak ia menginjakkan kaki masuk ke dalam ruangan, Seungcheol sudah tahu kalau Jeonghan sedang mabuk. Persentase perempuan itu bisa mengingat apa yang terjadi hanya sekitar 30%.
Pesimis sekali? Tidak, ini namanya realistis. Ditambah baik untuk keseharian Seungcheol dimulai dari besok karena hanya dia yang menanggung memori malam ini. Beberapa menit Seungcheol tidak mendengar balasan dari Jeonghan hanya untuk mengetahui sekretarisnya itu tertidur di pundaknya. Seungcheol dengan pelan-pelan merapikan pakaian Jeonghan kembali ke semula dan menuntun perempuan itu keluar dari ruangan.
Saat pintu ruangan terbuka, Seungcheol menemukan Wonwoo, Soonyoung, dan Minghao sedang berdiri di depan nya.
“Oh, I fucking told you all,” tutur Wonwoo mengejek sembari memberi tos kepada Soonyoung yang berdiri di sebelahnya. Seungcheol ingin berujar sesuatu tapi dipotong oleh Minghao, “Biar gue aja yang bawa dia pulang. Gue bawa mobil.”
Perjalanan hidup Choi Seungcheol sebenarnya baru mulai sekarang; di umur 30-an.
“Kayaknya gue yang harus mecat diri sendiri.”
“Hm, betul. Untung sadar.”
Sudah beberapa hari setelah pesta perpisahan Wonwoo. Hal itu sama dengan sudah beberapa hari terlewat setelah kejadian yang mengikutsertakan seorang pemilik perusahaan, Choi Seungcheol, berhubungan intim dengan sekretarisnya sendiri, Yoon Jeonghan. Kejadian tersebut diakhiri oleh beberapa kolega dekatnya yang tidak sengaja berdiri menunggu di depan ruangan itu. Sebenarnya Seungcheol masih ragu dengan bagian tidak sengajanya, namun nasi sudah jadi bubur.
Lalu, bagaimana dengan hubungan profesionalnya dengan Jeonghan sendiri? Sebenarnya Seungcheol hampir ingin tidak masuk di keesokan harinya. Ia tidak ingin membiarkan Jeonghan melihatnya lagi di kantor. Namun, saat hal itu tidak bisa dihindari, Jeonghan berlagak seperti semula. Masih tersenyum lebar setiap Seungcheol datang ke kantor, menawarkan ingin dibuatkan kopi atau teh di pagi hari.
“Dia nggak inget kayaknya. Lo beneran mastiin dia sampe ganti baju di kamar, kan?” tanya Seungcheol dengan wajah frustasi. Minghao masih melipat kedua tangan nya di dada, wajah terpatri ekspresi datar. “Iya. Soalnya berantakan banget bajunya gue nggak tega. Lagian juga lo tuh kalo ciuman yang bener aja deh, bang,” tutur Minghao yang dibalas dengan hembusan napas pelan dari Seungcheol, “Ya, gimana. Udah lama nggak ciuman.” Minghao memutar matanya malas, menerima dokumen yang sudah ditandatangani oleh atasan nya itu, “Gue sebenernya nggak ngelarang lo mau pacaran atau gimana sama sekretaris lo sendiri. Cuman kalo emang belum mau serius, jangan main-main. Perasaan orang yang baru kerja sebulan sama lo itu masalahnya. Lo berdua bakal nempel terus kemana-mana.”
Apa yang dikatakan Minghao adalah benar. Salah satu tugas sekretaris, setidaknya yang bekerja untuk Seungcheol, adalah menemaninya kemana-mana. Wonwoo bahkan bisa kenal dengan beberapa petugas resepsionis hotel di beberapa kota karena sering menemani Seungcheol trip bisnis. Hal yang sama akan dilakukan juga oleh Jeonghan.
Karena dunia memang sedang tidak berpihak kepada Seungcheol, tidak lama setelah kejadian itu, ia harus ditugaskan pergi ke luar kota selama seminggu. Tentu trip itu harus ditemani oleh Jeonghan, karena Seungcheol tidak bisa fungsional jika mengurus sesuatu di luar kerjaan sendirian. Sebelum trip bisnis itu mulai, Seungcheol menghabiskan hari libur bersama Ryu. Membawa anak semata wayangnya itu pergi ke tempat-tempat yang dia sukai.
“Om Wonwoo udah nggak kerja lagi sama papa?” tanya Ryu seraya melahap es krim vanilanya. Seungcheol mengangguk, memakan es krim rasa stroberi di genggaman nya. “Om Wonwoo mau nikah akhir bulan nanti sebelum pindah ke Jepang. Nanti kita dateng bareng-bareng, ya. Harusnya kamu nanti ada temen nya buat main,” ujar Seungcheol. Ryu berdehem sebentar, “Nikah, ya? Sama siapa? Nggak bakal pisah kan kalo udah nikah?” Pertanyaan anak kandungnya itu membuat Seungcheol tersedak dan menggelengkan kepala, “Nggak, nggak,” Wonwoo nggak bakal secemen itu untuk kabur dari pernikahan nya sendiri.
Setelah memastikan Ryu akan menginap seminggu di rumah orang tuanya, Seungcheol pun mempersiapkan diri untuk bisnis trip bersama Jeonghan itu. Semua persiapan administrasi sudah diselesaikan, termasuk tiket-tiket pesawat maupun pesanan hotel. Seungcheol hanya fokus ke persiapan pekerjaan yang akan dilakukan nantinya. Tidak ada obrolan basa-basi yang terlalu dibicarakan di antara keduanya, karena Seungcheol sendiri lumayan sibuk.
Sesampainya di kota tujuan, Seungcheol langsung diarahkan ke tempat pertemuan bisnis bersama Jeonghan. Perempuan itu memastikan pula semuanya berjalan lancar dan tidak ada hambatan sedikit pun. Tentu, semuanya tidak mungkin berjalan lancar. Jeonghan bahkan terlihat stress saat estimasi waktu yang sudah dia tentukan sebelumnya tidak sesuai jadwal.
Seungcheol merasa iba, mengusap punggung Jeonghan pelan-pelan di lobi bandara, “Hey, jangan marah-marah terus. Napas dulu.” Jeonghan mendengus, hampir mengeluarkan emosinya di depan atasan nya dulu. “Maaf mas –” Seungcheol terdiam, “eh, maksudnya pak. Saya udah estimasi sampe rinci soal waktu ini, tapi masih aja telat dari prediksi.” Seungcheol sendiri mencoba menghiraukan semburat merah di pipi Jeonghan. Ingin menanyakan panggilan sebelumnya yang menunjukkan apakah sebenarnya Jeonghan mengingat malam itu? Namun pertanyaan nya harus ditahan beberapa jam terlebih dahulu karena mobil jemputan mereka sudah datang.
Keduanya baru bisa berbincang tentang kehidupan masing-masing saat pertemuan bisnis kedua di hari pertama itu selesai. Mereka sedang makan siang menuju sore di salah satu restoran murah di pinggir jalan. Awalnya Jeonghan merekomendasikan tempat yang lebih bagus dan harganya mahal juga, namun Seungcheol sedang ingin yang murah-murah terlebih dahulu. Toh, cuman mau mengisi perut.
“Bapak punya anak?” Jeonghan bertanya di sela sesi makan siang mereka. Seungcheol mengangguk, “Dari pernikahan saya dulu. Saya yang ngurus dia jadinya.” Mendengar kata dulu yang tentunya akan menarik perhatian banyak orang, Seungcheol selalu menjelaskan itu dahulu sebelum ditanyakan kembali, “Iya, saya udah pernah nikah. Sekitar 7 tahun lalu, masih naif, masih nggak mikir ke depan kalo nikah itu cuman nggak butuh cinta doang.” Jeonghan menganggukkan kepala pelan-pelan, “Tapi nggak yang parah banget kan hubungan nya sama mantan istri?” Seungcheol menggelengkan kepala, “Kalo dari saya sih aman-aman aja. Asal dia masih mau ngobrol sama anak saya dan setidaknya mikirin anak kita dulu di sela kesibukan nya, saya aman. Dia juga ibu kandungnya anak saya, nggak bisa diapus fakta yang itu.”
Seungcheol sendiri bukanlah seseorang yang bisa membaca ekspresi wajah orang lain dengan handal. Mungkin ini penyebab dia dulu sering berargumen dengan mantan istrinya tentang hal sepele; atau mungkin memang keduanya sudah berpisah secara ideologi, dia tidak tahu. Namun mendapati wajah Jeonghan sedikit murung saat mengetahui dia memiliki anak membuat Seungcheol termenung sejenak. Apa Jeonghan ingin bertemu dengan Ryu? Ia tidak tahu serinci apa Wonwoo bercerita tentang kehidupan Seungcheol, karena pasti orang itu akan memberitahu banyak hal tentangnya.
Setelah makan siang, keduanya akhirnya pulang ke hotel. Seungcheol sendiri akan makan malam di luar bersama klien. Dia sudah meminta Jeonghan untuk tidak ikut bersamanya, karena sudah malam juga. Di tengah perjalanan ke hotel, ponsel Seungcheol bergetar.
“Papa!” Ryu berseru dari panggilan video itu, “Papa udah boboan? Udah nggak kerja lagi?” Seungcheol menahan tawa malu dan meminta maaf kepada Jeonghan atas panggilan dadakan dari anaknya itu. Ryu sudah tidak memakai seragam sekolahnya lagi, kini tubuh kecilnya dibalut satu stel piyama dinosaurus yang dipersiapkan sang ayah sebelumnya. “Belum, sayang. Papa masih di jalan bareng tante Jeonghan ini,” Ryu terlihat kebingungan dan bertanya kepada neneknya yang berada di luar kamera, “Tante Jeonghan siapa, nek? Mama baru?” Seungcheol langsung ingin mengubur dirinya sendiri dalam-dalam. Sedangkan Jeonghan, perempuan itu hanya tertawa kecil dan melambaikan tangan ke arah kamera untuk menyapa Ryu, “Halo, Ryu! Ini tante Jeonghan. Panggil aja tante Hani nggak apa-apa kok. Tante yang gantiin om Wonwoo buat kerja bareng papa kamu.” Tiba-tiba layar ponsel Seungcheol memunculkan orang di sebelah Ryu, “Eh, cantiknya sekretaris baru si adek. Halo Jeonghan, saya mamanya Seungcheol.”
Yep, Seungcheol sangat yakin di saat ini, gue nggak selamat nanti pulang. Selama beberapa menit mama Choi berbincang dengan Jeonghan. Menggerutu tentang bagaimana anaknya itu sudah lama tidak beristirahat demi kesehatan nya sendiri. Berakhir ke beliau yang meminta Jeonghan untuk menjaga Seungcheol agar tidak semakin rapuh staminanya.
Setelah panggilan video itu selesai, Seungcheol rasanya ingin bersujud minta maaf kepada Jeonghan. Sedangkan perempuan itu hanya menggelengkan kepala sembari tertawa kecil. “Nggak apa-apa, mas. Ryu lucu soalnya,” balas Jeonghan dengan senyuman manis di bibir. Saking manisnya, Seungcheol tidak sadar kalau Jeonghan memanggilnya dengan panggilan mas tanpa koreksi seperti sebelumnya.
Mereka tentu tidur di kamar masing-masing dengan pintu yang mengkoneksikan kedua kamar itu. Saat Seungcheol izin pergi makan malam, ia hanya mengetuk pintu koneksi itu untuk memberitahu Jeonghan. Keduanya melangsungkan kerja dengan membatasi batas privasi masing-masing seperti itu. Seungcheol sedikit ingin membicarakan tentang kejadian malam sebelumnya dengan Jeonghan, namun selalu diingatkan oleh dirinya sendiri bahwa mereka sedang trip bisnis, bukan liburan biasa.
Sampai saat Seungcheol merasakan temperatur tubuhnya sedikit lebih panas dari sebelumnya. Walaupun sudah berada di luar kota, Seungcheol masih harus mengurus pekerjaan yang berlangsung di kantornya. Beberapa laporan yang dikirimkan oleh Soonyoung dan Minghao harus diperiksa terlebih dahulu. Jeonghan juga sempat membantu memeriksa beberapa dokumen.
Puncaknya di malam ketiga, di mana Seungcheol sudah bersandar lemas di papan kasur berukuran king size itu. Seungcheol meraih ponselnya, waktu sudah menunjukkan sekitar jam 9 malam. Ia baru saja pulang dari pertemuan bisnis terakhir di hari ini. Lelaki itu mengirimkan pesan kepada Jeonghan sebelum melempar ponselnya ke sembarang arah.
Pintu koneksi itu terbuka menunjukkan Jeonghan yang kini sudah memakai gaun tidur tipis memperlihatkan lekukan tubuh dan juga pakaian dalamnya. “Mas sakit?” raut wajah Jeonghan memperlihatkan kekhawatiran. Seungcheol hanya bisa mengangguk lemas, “Lupa bawa obat kemarin. Udah banyak minum tadi cuman karena minum es terus kemarin-kemarin – iya, please, jangan ngikutin apa kata mama.” Jeonghan mencibir, ia pun kembali ke kamarnya sejenak untuk mengambil beberapa obat cadangan yang sudah dipersiapkan tanpa sepengetahuan atasan nya itu. Menempatkan diri untuk duduk di sebelah lelaki itu, Jeonghan perlahan menuntun Seungcheol agar meneguk obat dan air putih secara teratur, “Besok aku ikut aja meeting malem-malem, mas. Beneran nggak bisa kerja kamu kalo sendirian.”
“Hmmmm. Maaf.”
“Nggak dimaafin.”
“Kok gitu?” Seungcheol merengek, menjatuhkan dahinya di pundak Jeonghan, “Kamu manggil saya mas terus dari kemarin.” Jeonghan mengusap punggung Seungcheol lembut, melipat jas lelaki itu agar terlihat rapi di meja sebelah kasur. “Bukan nya emang manggilnya mas dari kemarin?” Seungcheol mengangkat kepalanya untuk menatap ke wanita cantik itu, “Dari malem waktu mas bilang mau ngentotin aku?” Jeonghan menolehkan kepalanya ke arah sang tuan. Keduanya bertatap-tatapan sejenak sebelum Jeonghan menggesekkan hidung mereka ke satu sama lain, “Aku nggak lupa tau, mas. Nggak bakal lupa kalo soal itu.”
Kalau sekarang, keduanya bergerak di waktu yang sama. Seungcheol menangkup wajah Jeonghan seakan hanya dialah yang dibutuhkan di hidupnya. Perempuan itu menghela napas panjang, mencengkram kerah kemeja Seungcheol seraya memposisikan tubuhnya untuk duduk di pangkuan sang tuan. Merasakan tiap usapan lembut yang diberikan di paha menuju pinggang, mendesah pelan saat diberi cengkraman kuat di tubuh rampingnya.
Jeonghan membuka mulutnya, membiarkan lidah Seungcheol melesak masuk. Gaun tidurnya itu perlahan diturunkan hingga memperlihatkan kedua payudara besarnya bergesekan dengan dada Seungcheol. Melepas tiap helai pakaian yang masih melekat di tubuh lelaki itu. Jeonghan menghembuskan napas pelan di bibir Seungcheol, mengusap tengkuk lelaki dambaan nya dengan lembut.
“Mas –”
“Hani –”
“Mas mau nyusu?” bibir Jeonghan sudah merah merona dihisap oleh Seungcheol. Wanita itu meremas payudaranya seraya menggesekkan pentilnya di ujung bibir lelakinya, “Toket aku bisa ngeluarin susu buat mas. Biar mas makin sehat kerjanya, tapi harus janji aku dibawa kemana-mana sama mas mulai sekarang.” Tatapan Seungcheol menandakan betapa laparnya ia sekarang. Sekejap lelaki itu menghisap kedua pentil payudara Jeonghan bergantian, meneguk tiap cairan susu kental yang keluar dari daging besar tersebut, “Ahh! Hhahh – fuck, fuck. Mas –! Mas.. mas rakus banget. Hhhahh.. mas enak. Lagi, mas, nyusu lagi.”
Gaun tidur itu sudah menggantung di pinggang Jeonghan. Suara kecipak pun menggema di kamar tidur sang tuan. Seungcheol menghisap kedua pentil Jeonghan dengan sangat rakus. Menjilat, memilin, dan mengulum pentil tegang itu yang mengalirkan cairan susu kental berwarna putih.
Jeonghan perlahan melepas celana dalamnya. Membantu Seungcheol pula untuk melempar sisa pakaian nya asal ke lantai kamar tidur. Rambut yang kini disanggul asal itu mulai berantakan. Jeonghan perlahan menggesekkan kepala kontol Seungcheol ke bibir memeknya, mengusap tengkuk sang tuan dengan lembut seraya semakin mendesah kencang saat lelaki itu menampar kedua payudaranya keras-keras.
“Hani –” Jeonghan mengusap bekas cairan susu di sekitar mulut Seungcheol, “Sayang, aku nggak bawa kondom.” Pernyataan nya pun hanya dibalas dengan gelengan kepala dari perempuan di pangkuan nya. “Nggak apa, aku – mmh… mau hamil, mas,” rengek Jeonghan sembari mendesah saat kepala kontol Seungcheol bergesekan dengan bibir memeknya, “Hamilin aja lonte kamu, mas. Mau hamil anak kamu. Mau hamil adiknya Ryu.” Seungcheol menghembuskan napas kasar, bibirnya sedikit bergetar karena gugup dan juga takut yang dirasakan, “Mas, mas,” Jeonghan memanggil agar mendapat atensi lelakinya itu, “Aku yang hamil kok, mas. Nanti aku nggak ganggu mas –”
“Nggak, sayang. Jangan ngomong gitu.”
“Mas –”
“Kalo emang mau hamil anak mas, berarti mas juga yang harus tanggung jawab,” Seungcheol memeluk pinggang Jeonghan dengan erat, “Ryu juga mau punya adik buat nemenin main.” Jeonghan mengulas senyum kecil, mengecup bibir Seungcheol dengan lembut. Membiarkan lelaki itu melumat bibirnya penuh afeksi. “Ekspektasi kamu cuman dapet sekretaris baru,” Jeonghan memekik pelan saat tubuhnya dibaringkan di kasur, merasakan itilnya mulai dikucek dan ditampar pelan oleh sang tuan, “Tapi berakhir dapet calon istri baru lagi kayak aku.”
Seungcheol mencium bibir Jeonghan perlahan. Sensual, romantis, dan magis bercampur di benak dua insan itu. Jeonghan mengalungkan kedua tangan nya di leher Seungcheol. Menarik tubuh lelaki itu agar lebih mendekat ke suhu tubuhnya.
Membiarkan tiap titik kulit mereka bersentuhan satu sama lain tanpa sisa. Ciuman Seungcheol kembali digerakkan menuju ceruk leher dan dada Jeonghan. Meninggalkan sang puan menghela napas panjang penuh kenikmatan. Kedua kakinya terbuka lebar memberi ruang cukup untuk sang tuan, meremas bantal di bawah leher saat Seungcheol mulai menggesekkan kepala kontolnya ke bibir memek merah merona itu.
“Ahhh…” lenguhan pelan pun lolos saat kontol Seungcheol mulai melesak masuk ke dalam liang kewanitaan sekretarisnya. Mencengkram pundak Seungcheol dengan pelan, Jeonghan merasa tubuhnya bagai dibelah dua dengan seberapa besar ukuran kontol atasan nya itu. “Hhah! Gede… gede banget mas… hhahh….” Jeonghan mengusap pipinya ke lengan kekar Seungcheol, “Sodok lagi, sodokin lagi sampe mentok mas. Sampe masuk rahim Hani.” Kedua mata Jeonghan langsung terbuka lebar saat setengah kontol Seungcheol sudah masuk ke dalam liang memeknya, “Nnh! Oh – oh fuck… fuck, fuck, fuck. Mas, mas, mas gede banget.”
Saat seluruh batang panjang nan besar itu melesak masuk ke dalam liang memek Jeonghan, Seungcheol hanya bisa menghembuskan napas panjang. Merasakan betapa sempitnya lubang memek sekretarisnya itu. Sudah berapa lama sejak Seungcheol bersenggama dengan seseorang, baik laki-laki maupun perempuan. Semenjak disibukkan dengan kewajiban sebagai kepala keluarga dan figur ayah untuk Ryu, Seungcheol tidak pernah sekalipun memikirkan hasrat dan syahwatnya miliknya sendiri.
Namun setelah bertemu Jeonghan, pemikiran nya mulai berubah. Dari bagaimana Jeonghan mengutarakan pikiran nya, wajah cantiknya, bahkan sifatnya yang kadang memang melebihi kapasitas energi Seungcheol sendiri. Mungkin memang semua ini terlalu cepat dan egois dari perspektif Seungcheol. Tetapi jika boleh jujur, Seungcheol pun menunggu waktu seperti ini akhirnya kembali dirasakan olehnya.
Perasaan di mana bisa merengkuh seseorang yang disayang di pelukan selain sosok Ryu.
“Jeonghan –” suara Seungcheol tercekat di tenggorokan, “Fuck. Kamu sempit banget.” Jeonghan mendesah keras, mengangkat kedua kakinya seraya ditempatkan di atas perut, “Ahh… udah lama nggak dientot aku, mas. Baru dientot lagi sama kamu. Mas, mas, mas – sodokin aja mas sampe pingsan. Buang semua peju kamu di rahim aku.” Air mata perlahan jatuh ke pipi perempuan cantik itu yang sekejap langsung diusap oleh ibu jari Seungcheol. “Sssh, cantiknya mas. Sabar ya, kita masih punya berapa hari lagi di sini,” Seungcheol mengecup bibir dan menyeret lidahnya di pipi Jeonghan, membiarkan perempuan itu merinding dibuatnya, “Masih ada besok, terus besok lagi, dan besok-besoknya lagi.”
Tiap janji manis yang diutarakan sang tuan membawa Jeonghan ke langit ketujuh. Entah karena euforia setara ekstasi yang sedang dirasakan nya membuat hati Jeonghan berdebar kencang. Ritme yang ditentukan oleh Seungcheol dimulai pelan. Menggenjot liang memek perempuan itu seperti memberitahu bagaimana Seungcheol melakukan senggama dengan seseorang.
Jeonghan sendiri hanya bisa merintih kesakitan campur nikmat. Merasakan dinding memeknya semakin menyempit dan meremas batang kontol panjang di dalam tubuhnya ini. Tubuhnya benar-benar seperti dibelah dua dengan sebesar apa kontol Seungcheol itu. Jauh lebih besar dari semua sex toys yang Jeonghan miliki di rumah.
“Yes, yes, yes – mas, mas, genjot lagi –” tubuh Jeonghan ikut mengikuti ritme yang ditentukan Seungcheol, meremas kedua payudaranya pelan sembari mengusap sisa cairan susu dari pentilnya, “Nnnh! Seungcheol – S-seungcheol! Ahh! Dalem, lebih dalem lagi.” Rengekan manja pun menggema di ruangan. Dinding yang setebal itu mungkin masih bisa menampung jeritan syahwat yang lolos dari bilah bibir sang jelita. “ Oh… oh my…” kedua kaki Jeonghan terangkat ke atas, jemari lentik milik perempuan itu mengusap daerah selangkangan nya, menatap bibir memeknya sendiri yang menerima setiap hentakan keras dari kontol lelakinya, “Hhhah… mas… mas sensitif banget. Ahhh! Ahhh… perih. Perih tapi enak mas.”
“Mau aku berhenti, sayang?”
“Nggak! Nggak, nggak mau. Jangan berhenti mas, tolong.”
Racauan Jeonghan semakin berantakan saat laju yang diberikan Seungcheol semakin cepat. Hentakan-hentakan keras itu membuat kasur berukuran king berdecit mengikuti lantunan desahan dari kedua insan di atas tempat tidur. Seungcheol menggenggam kedua tangan Jeonghan seraya menempatkan nya di atas kepala si sekretaris. Semakin mengubur dalam-dalam batang kontolnya itu di dalam rahim Jeonghan.
Kedua mata Jeonghan berguling ke belakang. Tubuhnya bergetar hebat seraya melengkung sempurna di bawah tubuh Seungcheol. Remasan yang diberikan ke bantal alas kepalanya semakin menguat. Merasakan titik puncak orgasmenya mendekat.
“Mas! Mas – mau muncrat,” lirih Jeonghan sembari berbisik kecil. Bibirnya sudah merah merona, semakin tebal dihisap oleh Seungcheol beberapa menit yang lalu. “Mas… mas biarin aku muncrat dulu. Biar makin licin,” Jeonghan mengucek itilnya sendiri sembari tetap menerima tiap hentakan kencang di titik kenikmatan nya, “Please, please, mas. Mas, aku nanti jadi istri yang nurut buat mas. Biarin aku muncrat dulu – ahh.. ahh.” Seungcheol tertawa kecil setiap mendengar rengekan Jeonghan; menikmati betapa submisif perempuan itu untuknya, “Kamu bisa muncrat terus-terusan sampe aku hamilin nanti?” Alhasil Jeonghan langsung mengangguk cepat, “Aku bisa muncrat banyak buat mas. Buat mas doang – mas! Mas, fuck, fuck –!”
Jeritan Jeonghan terdengar sangat kencang di kamar tidur Seungcheol. Sama sekali tidak mengejutkan jika mereka mendapat komplain di hari esok. Namun itu masih hari esok, sedangkan Seungcheol hidup di hari ini. Di malam ini tepatnya di mana ia memadu cinta dan kasih dengan perempuan dambaan nya.
Tidak lama bagi Jeonghan untuk mencapai puncak orgasmenya. Sesuai apa yang Jeonghan katakan sebelumnya, ia dapat memuncratkan orgasmenya lebih dari sekali. Bahkan di sela hentakan Seungcheol yang masih belum mencapai orgasmenya, Jeonghan sudah memuncratkan cairan nya hingga tiga kali. Kedua matanya sudah mulai sayu, air liur mendekorasi area bibirnya, dan suaranya serak karena menjerit tiada henti.
Namun dapat dibilang stamina Jeonghan saat bersenggama tidak bisa diragukan. Ia kembali duduk di pangkuan sang tuan, membiarkan dirinya sendiri menggenjot kontol besar di dalam tubuhnya seraya menyusui Seungcheol.
“Hhah! Ahh! Enak banget mas,” lenguh Jeonghan kembali saat kepala kontol Seungcheol menumbuk titik kenikmatan nya, “Mas! Mas! Aku mau muncrat lagi.” Seungcheol mendesah panjang saat mulutnya kembali diisi oleh cairan susu Jeonghan. “Aku juga mau bucat, sayang. Mau hamilin kamu,” Jeonghan semakin merengek kencang, mempercepat laju genjotan nya hingga tubuhnya bergetar hebat, “Hamilin! Hamilin, mas. Mas, mas, mas – ahh! Ahhh!” Jeritan kembali terdengar saat Seungcheol akhirnya memuncratkan pejunya di dalam rahim sekretarisnya itu. Kepala Jeonghan terasa semakin ringan, tubuh hampir terkulai lemas di pelukan sang tuan, “Hamil… hamil anak mas… aku hamil anak mas.”
Apakah mereka selesai begitu saja? Oh, tidak. Jeonghan kembali mempersilahkan Seungcheol untuk menyodok lubang memeknya dari belakang dengan ia memposisikan diri menungging di kasur. Mencengkram papan kasur tidur kuat-kuat hingga tidak ada energi yang tersisa. Memuncratkan cairan orgasme hingga ketujuh kalinya di sprei tidur milik Seungcheol.
Liang memek dan rahim Jeonghan hanya dipenuhi oleh cairan peju Seungcheol. Membuat dirinya terasa penuh pertama kalinya selama seumur hidup. Seungcheol juga tidak pernah sampai memuncratkan pejunya hingga tiga kali di tubuh seseorang, termasuk mantan istrinya. Namun Jeonghan memang berbeda – malaikat bak incubus yang disenangi oleh Seungcheol.
“Mas masih sakit? Istirahat abis ini, ya. Nanti pagi minum susu toket aku lagi,” bisik Jeonghan setelah keduanya berganti pakaian memakai jubah tidur pemberian hotel. Seungcheol hanya bisa tersenyum kecil sembari mencium bibir Jeonghan dengan lembut, “Istirahat bareng-bareng terus, ya? Mas maunya sama kamu, Hani.” Jeonghan membalas lumatan lembut bibir Seungcheol itu. Membiarkan ujung jemari lentiknya mengelus pipi lelaki pujaan nya, “Hani juga maunya sama mas aja.”
Semenjak itu, trip bisnis berubah menjadi sebuah liburan sejenak dari penatnya kantor untuk kedua insan tersebut. Sesuai janji Seungcheol, Jeonghan akhir dibawa ke setiap pertemuan bisnis hingga larut malam. Jika ada waktu senggang di pagi hari atau siang, Seungcheol biasanya hanya ingin memeluk Jeonghan di kasur. Mencium pundak dan leher wanita pujaan nya itu saat mentari pagi mulai masuk ke dalam kamar tidurnya.
Seungcheol juga menyisakan waktu untuk membawa Jeonghan makan berdua di sebuah restoran mahal. Menandakan awal mula hubungan romantis mereka dimulai. Menyempatkan diri untuk membeli bunga kesukaan Jeonghan juga yang membuat perempuan itu menitikkan air mata. Menggenggam tangan Seungcheol selama keduanya melangsungkan kencan makan bersama itu.
Tapi tentu saja Jeonghan akan memprioritaskan profesional di atas segalanya. Sebagai sekretaris, Jeonghan tetap melakukan pekerjaan nya, walaupun di tengah cumbuan sensual yang diberikan oleh sang kekasih. “Mas – mas, ada meeting bentar lagi,” bisik Jeonghan di bibir Seungcheol saat keduanya bersembunyi di bilik toilet hotel tempat pertemuan atasan nya dan klien. Seungcheol meremas pantat Jeonghan keras-keras sebelum menampar bongkahan daging itu, membuat sang puan melenguh kencang, “Annh! Tamparnya di hotel aja, mas. Kerja dulu, nanti boleh pake Hani semaleman lagi. Beronde-ronde lagi sampe Hani pingsan.”
“Beronde-ronde?”
“Iya – mmh.. pake aja Hani, mas. Biar mas nggak usah nyari orang lain lagi.”
Sebelum meninggalkan bilik toilet, Seungcheol menggigit ceruk leher dan bagian dada Jeonghan yang terekspos di publik. Bercak-bercak merah yang baru mekar dan bekas warna keunguan beberapa malam lalu masih terlihat di kanvas putih pucat itu. Walaupun sudah dicoba untuk disembunyikan oleh rias wajah Jeonghan, namun tanda-tanda itu masih dapat terlihat oleh mata telanjang. Tetapi hal itu tidak membuat Jeonghan malu tentunya; ia malah bangga sudah dimiliki oleh Choi Seungcheol.
Di hari terakhir sebelum keduanya pergi ke bandara, Jeonghan memutuskan untuk menikmati fasilitas hotel untuk terakhir kalinya. Ia dari awal sudah berencana untuk berenang, membawa satu stel bikini yang sepertinya juga terlalu kecil untuk menutupi payudara besarnya. Tidak pernah diekspektasikan bagi Jeonghan setelah pulang dari trip bisnis ini ia akan menyandang titel sebagai kekasih dari Choi Seungcheol. Dengan kemauan Jeonghan untuk berenang, alhasil Seungcheol pun harus ikut juga.
“Aku baru sadar baju kamu tuh seksi-seksi ya,” gumam Seungcheol saat dia sudah berada di kolam renang. Jeonghan tertawa keras sebelum mencipratkan air kolam itu ke arah kekasihnya. “Aku pake baju seksi juga buat aku sendiri tau. Enak kalo jadi seksi, aku kan juga cantik, iya nggak mas?” Seungcheol sendiri tidak bisa mengelak pertanyaan itu, “Cantik sayang, cantik banget.” Jeonghan tersenyum manis, mengalungkan kedua tangannya di leher sang kekasih, “Cantiknya mas. Udah milik mas sepenuhnya.”
Kedua bibir mereka pun kembali bertemu. Setelah beberapa hari dipenatkan oleh pekerjaan, baru pertama kali Seungcheol merasakan rileks di suatu trip bisnis ini selain berbaring di kasur rumah. Sebelumnya juga Ryu ada telepon, meminta oleh-oleh untuknya dan beberapa titipan orang tuanya yang lain. Saat itu, Seungcheol masih tertidur pulas dan telepon diangkat oleh Jeonghan.
Bangun tidur untuk mendapati pemandangan kekasih barunya sudah bercanda panjang lebar dengan anaknya itu tentu membuat hati Seungcheol berbunga-bunga.
“Harus nyari titipan Ryu dulu sama orang tua kamu. Baru kita ke bandara ya, mas,” ujar Jeonghan mengecup bibir Seungcheol lagi, “Makan nya di bandara aja kayaknya. Aku juga mau nyari oleh-oleh buat keluarga deh kalo ada.” Seungcheol mengangguk, mengusap punggung Jeonghan dengan lembut. “Nanti pake duit aku aja,” sebelum Jeonghan protes, Seungcheol mendistraksi perempuan itu dengan meremas pantatnya di bawah air, “Mmmh. Nggak boleh protes. Kamu udah tanggung jawab aku soalnya.” Jeonghan ingin mengeluarkan protesan nya lagi sebelum berubah menjadi lenguhan kecil saat Seungcheol menggesekkan kontolnya ke memeknya dari luar celana bikininya itu, “Mmhhh – di sini, mas? Tadi udah ngentot pagi-pagi muncratin aku dari belakang.”
“Kamu mau nggak?”
“Mau – mmmh.. mau banget.”
Tubuh Jeonghan disandarkan ke dinding kolam renang. Situasi kolam renang saat ini tidak terlalu ramai karena masih pagi juga. Bra bikini yang Jeonghan pakai diturunkan untuk dihisap payudara besar dan kenyal itu oleh Seungcheol. Karena barusan mereka sudah bersenggama, kontol Seungcheol dengan mudah kembali melesak masuk ke dalam tubuh sang kekasih.
Jeonghan mendesah pelan, melingkarkan kedua kakinya erat-erat di pinggang lelaki itu. Semakin terkubur dalam-dalam batang panjang nan besar kesukaan nya di dalam liang memek sempit tersebut. Saat Seungcheol mulai menggenjot pelan, Jeonghan mendesah di telinga sang kekasih. Memberitahu betapa nikmatnya setiap mereka bersenggama terus-menerus tanpa henti.
“Big.. so big, baby,” desah Jeonghan kencang sembari meremas payudaranya sendiri untuk mengeluarkan cairan susu tanpa henti ke mulut Seungcheol, “Ahhh… yes, yes. Enak banget. Sodokin lagi mas.” Rambut Jeonghan disanggul sempurna agar tidak menutupi pandangan nya saat saat menyusui Seungcheol. Setiap hisapan dan sodokan yang diberikan membuat Jeonghan semakin dekat ke langit ketujuh. “Ah, ah, ah – mmmh… ewe aku kenceng, sayang. Nnnh! Hahh… iya, iya, kayak gitu. Oh! Ohhh!” Jeonghan berpegangan ke ujung kolam renang, perlahan salah satu kakinya diangkat untuk mempermudah genjotan Seungcheol di bawah air, “Hamilin! Hamilin aku lagi, mas. Mas! Ahh! Mmmh! Fuck, fuck, fuck!”
Seungcheol menggeram pelan di ceruk leher sang puan. Menggenjot kencang liang memek kekasihnya itu hingga meninggalkan bekas cengkraman merah merona di pinggang Jeonghan. Kekuatan yang dikerahkan sampai membuat Jeonghan meringis kesakitan di sela desahan sensualnya. Tidak butuh waktu lama untuk Seungcheol kembali memuncratkan peju kental itu di dalam rahim Jeonghan.
Selisih sekitar 1 jam saja dari senggama terakhir mereka di pagi hari ini. Tubuh Jeonghan bergetar di rengkuhan sang kekasih. Memuncratkan orgasmenya tanpa henti hingga terkulai lemas. Seungcheol kembali merapikan bra bikini yang dikenakan perempuan itu hingga menutupi payudaranya, walaupun tidak terlalu membantu saking besarnya.
“Aku sayang banget sama mas,” bisik Jeonghan di telinga Seungcheol, “Sayang banget.” Seungcheol memeluk tubuh rapuh Jeonghan erat-erat, mencium leher, pipi, dan bibir perempuan itu lembut, “Aku juga sayang banget sama kamu, Yoon Jeonghan. Hani-ku,” Jeonghan terkekeh kecil saat lelaki itu menambahkan sesuatu sembari berbisik di depan bibirnya, “Choi Jeonghan.”
Sekali lagi, mungkin apa yang Jeonghan katakan ada benarnya, bahwa hidup Choi Seungcheol memang baru dimulai di umur 30-an.
Tidak ada yang berbeda di suasana kantor setelah pasangan pemilik perusahaan dan sekretarisnya itu kini menjalin hubungan romantis. Karena dasarnya tidak ada yang tahu aja. Apakah ada perjanjian di antara mereka? Sebenarnya tidak. Seungcheol juga tidak keberatan jika Jeonghan ingin menciumnya di depan karyawan lain, cuman karena mereka sudah kembali ke kantor, beban pekerjaan itu membuat keduanya lupa dengan rencana cium-mencium di publik.
Di sela kembali ke realita pekerjaan, Seungcheol membawa Jeonghan untuk menemui Ryu dengan embel-embel memberikan titipan oleh-oleh permintaan anak semata wayangnya itu. Seungcheol sendiri menghabiskan beberapa malam stress memikirkan pertemuan keduanya. Karena ia sendiri tidak ingin memberitahu Ryu dahulu tentang hubungan baru ayahnya. Seungcheol memiliki opsi orang lain untuk menjadi yang pertama mengetahui fakta baru ini.
“Yoon Jeonghan? Sekretaris baru kamu yang kemarin itu?” tanya mama Choi di tengah makan malam bersama kedua anaknya itu. Seungcheol sengaja mengajak kakaknya juga untuk mengetahui informasi baru ini. “Iya dia,” ujar Seungcheol dengan tatapan sendu, “Maaf, adek bukan nya mau ngebet punya istri lagi –” gelengan kepala dari papa Choi menghentikan runtutan kalimat anak bungsunya itu, “Nggak, kalo papa sendiri mah nggak mikirin kamu emang mau nikah lagi atau nggak. Udah ditemuin sama Ryu belum?” Seungcheol menganggukkan kepala, “Ryunya gimana?” ayah dari satu anak laki-laki itu menoleh ke samping. Menemukan Ryu sedang bermain dengan tantenya, kakak ipar perempuan dan istri dari kakaknya sendiri. “Dia nggak apa-apa sih,” jawab Seungcheol, “Yaudah kalo papa emang nggak mikirin gimana mental anaknya setelah cerai 3 tahun, biar aku yang nanya,” Seungmin pun ikut serta dalam konservasi ini, “Lo-nya gimana? Ngerasa buru-buru dan nggak profesional pacaran sama sekretaris lo sendiri?”
“Seungmin –”
“Bentar dulu, ma. Dia cerai kemarin juga karena nikahnya buru-buru.”
Selain teman-teman nya, tentu hanya kakaknya sendiri yang bisa menampar Seungcheol kembali ke realita. Tidak ada yang salah dengan pernyataan Seungmin, karena memang benar alasan nya begitu. Seungcheol sendiri juga sadar kalau semua ini berlalu begitu cepat. Apakah Seungcheol sendiri ada niat untuk menikahi Jeonghan? Tentu saja, karena perasaan yang dia punya akan perempuan itu tidak bermula dari malam di restoran tersebut.
Solusi yang Seungcheol lakukan adalah menjalani hubungan romantis itu untuk beberapa bulan. Seungcheol juga membicarakan ini kepada Jeonghan, bahwasanya ia memang merasa terlalu terburu-buru. Untungnya Jeonghan mengerti dan lebih memilih untuk mengikuti laju hubungan yang diinginkan sang tuan. Toh, yang mengganggu kehidupan Seungcheol dia juga.
“Kamu sekali lagi ngomong kalo kamu ganggu hidup aku, aku tinggalin di pinggir jalan ya,” ancam Seungcheol saat keduanya masih berada di kantor. Jeonghan hanya bisa tertawa kecil sembari duduk di meja kerja sang tuan. “Emang aku ngapain selain ngeganggu kamu?” tanya Jeonghan menarik dagu Seungcheol agar mendekat ke wajahnya, “Kamu sama sekali nggak pernah ngeganggu aku, sayang. Kamu kan kerja, ngingetin aku ini-itu, kadang ngebangunin tidur juga biar nggak telat masak sarapan buat Ryu. Udah cocok jadi istri aku, kamu mah.” Tentu wacana pernikahan itu selalu dibawa ke topik pembicaraan keduanya, entah serius atau bercanda saja, namun Jeonghan sendiri bahagia mendengarnya, “Calon istrinya mas.”
Kedua bibir mereka pun kembali bertemu di lumatan lembut nan sensual. Seungcheol beranjak berdiri dari duduknya untuk menangkup wajah sang kekasih. Mengusap tengkuk perempuan itu dengan lembut, perlahan mengusap pinggang dan paha dalam Jeonghan di bawah rok ketat dan pendek yang digunakan oleh sang sekretaris. Jeonghan terkesiap di sela ciuman itu, mencengkram kerah baju Seungcheol seperti hidupnya hanya bergantung kepada lelaki itu; ada benarnya juga sebenarnya.
Legging yang digunakan oleh Jeonghan pun dirobek paksa oleh Seungcheol. Mengekspos kulit putih pucat milik sang puan. Cumbuan nya pun perlahan berpindah dari bibir menuju leher. Jeonghan mengerahkan kedua tangan nya untuk melepas ikat pinggang Seungcheol dan menurunkan celana tersebut agar membebaskan kontol besar kesukaan nya.
“Sayang –” desah Seungcheol saat kontolnya mulai dikocok pelan oleh Jeonghan, diarahkan ke bibir memeknya setelah rok pendek itu disingkap sepenuhnya dan posisi Jeonghan sudah mengangkang lebar di ujung meja kerja atasan nya, “Ewe aku, mas. Ewe lagi – hhahh… kangen. Kita nggak ngewe tadi pagi di kantor.” Kepala Jeonghan perlahan mendongak ke belakang saat kontol Seungcheol mulai kembali mendorong masuk ke dalam tubuhnya. “Ahh –! Nnhh… enak… sodok lagi –” kemeja yang dikenakan Jeonghan sudah dilempar asal ke lantai, mengekspos kedua payudaranya yang besar nan kenyal itu, “Nyusu, mas. Mas belum nyusu-nyusu lagi dari tadi pagi. Kasian mas lemes banget pas meeting.” Seungcheol mendesah seraya menggigit dagu Jeonghan dengan lembut, membiarkan jemari perempuan itu menarik ujung rambut belakangnya saat sodokan yang dikerahkan mulai meningkat kecepatan nya, “Mas –! Mas, mas, mas – lagi, lagi, sodok lagi mas. Mentokin di rahimku mas, hamilin lagi.”
Bersenggama di kantor hingga larut malam merupakan sesuatu yang normal bagi keduanya. Beberapa bulan terlewati, Jeonghan masih tidak ingin bersenggama di rumah Seungcheol. Karena takut mengganggu jam tidur Ryu juga. Keduanya biasanya hanya meningkatkan tagihan listrik lewat jam operasional gedung demi memadu kasih hingga keduanya puas (mereka sama sekali tidak merasa puas setelah itu semua berlalu).
Lalu bagaimana dengan hubungan Jeonghan dan Ryu? Seungcheol selalu memikirkan bagaimana mereka berdua bercengkrama satu sama lain agar tidak terlalu stress saat bekerja. Ryu terlihat lebih senang saat Seungcheol menugaskan Jeonghan untuk menemani anaknya di rumah sejenak sampai dia selesai bekerja lembur. Entah apa yang mereka berdua lakukan, Ryu selalu bilang ia ingin memakan masakan Jeonghan saat sarapan. Memakan makanan Jeonghan untuk bekal juga, karena Seungcheol selalu memasak dengan menu-menu yang sama.
Sampai di mana Ryu pernah mengambil jepitan berwarna merah muda dari Hikari, anak perempuan sulung Hong Jisoo (atau Lee Jisoo, untuk tujuh tahun sekarang). “Ryu! Jangan ngambil jepitan Hi-chan dong, kak,” panggil Seungcheol saat Jisoo dan Seokmin datang untuk bermain sebentar. Sebenarnya alasan Seungcheol mengundang mereka karena ia ingin berbicara dengan Jisoo perihal hubungan nya bersama Jeonghan. Ryu menggerutu, menggenggam jepitan rambut merah muda itu erat-erat, “Aku ambil buat mami.”
Seungcheol menganga, Jisoo mengerutkan dahi, dan Seokmin langsung beranjak berdiri untuk membawa kedua anak berumur 7 tahun itu bermain di halaman belakang daripada di ruang tamu.
“Mami?”
“Nggak tau –”
“Siapa mami?”
Seungcheol ingin lompat dari jendela terdekat. Jisoo merupakan teman kuliah Seungcheol dan mantan istrinya. Sampai sekarang mereka masih berteman dekat. Tentu Jisoo juga tahu tentang ambisi sang mantan istri yang kini sedang persiapan melanjutkan studi di luar negeri, namun memberitahunya tentang hubungan baru Seungcheol dengan perempuan lain ada sedikit perasaan berat di dalam hati.
Namun hal itu tidak menahan Seungcheol untuk tetap jujur. Ia berakhir menceritakan serinci-rincinya tentang hubungan nya dengan Jeonghan. Bahkan Seungcheol sampai menangis saking emosionalnya. Sedangkan Seokmin mencoba menahan Ryu agar tidak menemui ayahnya sedang menangis di ruang tamu.
“Udah ah jangan nangis buset. Cuman cerita sama gue doang juga,” Jisoo mencibir namun kedua matanya juga merah, “Gue tuh seneng banget lo akhirnya mau nyari pacar. Soalnya gue kira lo bakal jadi duda sampe mati, Cheol. Sampe dimarahin Seokmin gue gara-gara mikir gitu.” Tangisan Seungcheol semakin deras, “Emang gue menyendirikan diri itukah sampe orang-orang mikir gue nggak bisa suka sama orang?” Jisoo menganggukkan kepala tanpa rasa salah, “Banget. Keliatan banget.” Rencana Seungcheol yang juga mempersiapkan dirinya untuk menikah dengan Jeonghan nantinya, Jisoo hanya mendengarkan dalam diam. “Kalo kata gue ya, Ryu sampe manggil dia mami tuh udah nerima sih. Emang belum dibawa ketemu ke ortu lo?” lelaki itu menghela napas panjang, “Belom sih. Baru ke Ryu doang, tapi mereka udah tau. Jeonghan aja nggak berani nginep di sini soalnya takut ganggu,” pernyataan itu membuat kedua mata sahabat perempuan nya memicing tajam, “Ngentot 10 ronde, ya?” dan Seungcheol menjawab tanpa jeda, “Iya.”
Karena keinginan Ryu juga yang ingin Jeonghan tinggal sejenak di rumah mereka, Seungcheol pun berakhir meminta kekasihnya itu untuk menginap.
🐰: sayang
🐰: ke rumah aja nanti pas pulang ya
🐰: mbak harusnya udah siap2 pulang sih jam segini
🍒: ini aku beneran nginep di rumah?
🐰: yaiya masa becanda sih😭
🍒: nanti ryu keganggu sayangg
🐰: soundproof ko serius
🐰: emang alesan aku sering bangun telat tuh apa sayang
🍒: lembur?
🐰: ga salah
🍒: yaudah aku nanti pulang sekalian ambil baju dulu ya
🐰: bakal pake baju emang?
🍒: ngga❤️
🍒: love you so much sweetheart
🐰: love you most baby girl
Karena besoknya juga hari libur, Seungcheol merencanakan agenda jalan-jalan untuk mereka bertiga. Agar Jeonghan juga bisa lebih dekat dengan Ryu di hari libur tanpa ada waktu yang mengejar. Karena Jeonghan akan menginap hingga hari Senin pagi. Walaupun Seungcheol sendiri ada niatan untuk mengajak perempuan itu tinggal tetap di rumah 2 lantainya, namun itu bisa dilakukan nanti.
Di pukul menuju 9 malam, Seungcheol masih bekerja di kantor. Beberapa kali Jeonghan mengirimkan video saat Ryu sedang mencoba memisahkan bahan-bahan masak agar mempermudah wanita itu memasak nantinya. Sesekali juga video berisikan Ryu meminta Seungcheol untuk pulang, karena ia sudah mengantuk dan nanti Jeonghan tidak ada yang menemani. Tidak lama dari kiriman video itu, Seungcheol sudah bergegas menuju parkiran mobil.
Sesampainya di rumah, langkah kaki Seungcheol diarahkan menuju letak kamar tidur Ryu. Memastikan anak semata wayangnya itu apakah sudah benar-benar tertidur, karen besok energinya akan terkuras lumayan banyak. Membuka pintu kamar itu, hati Seungcheol langsung hangat melihat Ryu sedang tertidur pulas di kasur sembari memeluk gulingnya erat. Sang ayah menyempatkan diri untuk mengecup kening Ryu, mengucapkan selamat malam dengan bisikan kecil di telinga jagoan kecilnya.
Tujuan selanjutnya adalah kamar tidurnya sendiri. Tidak lupa untuk mematikan beberapa lampu yang tidak berguna lagi di malam hari selain menjadi penerangan rumah. Membuka pintu kamar, pandangan Seungcheol langsung mendapati Jeonghan yang sedang duduk di depan meja rias kamarnya. Dengan sama sekali tidak memakai sehelai pakaian tidur seperti biasa, rambutnya dibiarkan mengurai dan beberapa jepitan rambut juga terpasang.
“Sayang,” sapa Seungcheol sembari memeluk tubuh Jeonghan dari belakang, memberi kecupan lembut di pipi dan leher perempuan nya, “Aku pulang, cantik.” Jeonghan meregangkan lehernya agar kembali ditinggalkan bercak-bercak kepemilikan oleh sang empu rumah. “Welcome home, daddy. Ahh – langsung dikucek memeknya,” perempuan itu mendesah pelan, melebarkan kedua kakinya di kursi meja rias, “Daddy, mas Ryu tadi ngasih aku jepitan rambut. Cantik, nggak?” Seungcheol mengecup pucuk kepala Jeonghan sebelum menolehkan kepala kekasihnya agar kedua bibir mereka bertemu di lumatan lembut, “Cantik, cantik banget. Kamu nggak pernah nggak cantik, sayang. Tiap hari aku harus nahan diri biar nggak meninggal kalo liat kamu tiap pagi dateng ke kantor saking cantiknya.” Semburat merah pun terpapar di kedua pipi sang puan, “Ih, gombal,” Jeonghan menggigit bibir bawah Seungcheol seduktif, perlahan melepas kemeja yang dikenakan oleh lelaki itu, “Kelinci mau nyepong daddy, please. Gonna be your good bunny to breed.”
Seungcheol menutup kedua matanya sejenak. Entah bagaimana Jeonghan selalu berlagak seperti perempuan kotor seperti ini. Lonte, lebih tepatnya, lonte kesayangan Seungcheol. Sesuai dengan keinginan nya ingin sekali dicap sebagai lonte milik Choi Seungcheol seorang.
Perlahan Jeonghan menarik lepas celana dan bokser yang digunakan Seungcheol. Dilemparkan ke sembarang arah di lantai kamar. Mulut Jeonghan bergerak mulai menghisap kepala kontol Seungcheol. Kedua matanya terangker untuk menatap ekspresi sensual Seungcheol yang kini sedang diberi kenikmatan oleh kekasihnya itu.
“Gede banget, mas. Memek aku masih sempit kan ya kalo disodok sama kontol gedenya mas?” tanya Jeonghan dengan centil sambil mengocok kontol besar itu di genggaman nya. Kepala Seungcheol sampai mendongak ke belakang. Tangan nya mengusap area bibir Jeonghan yang kini perlahan membuka mulutnya, menjilat tiap jemari besar itu dengan lidahnya. “Muat, sayang. Memek kamu sempit terus, makanya mas suka,” Jeonghan menjulurkan lidahnya, menghisap jemari dan kontol Seungcheol bersamaan.
Rongga mulut Jeonghan dibiarkan melebar. Melahap kontol panjang dan besar itu hingga menyentuh tenggorokan nya. Seungcheol memastikan agar tiap helai rambut perempuan itu yang mengurai tidak menghalangi aktivitasnya. Air mata sudah mengumpul membuat pandangan nya memburam, Jeonghan menarik kepalanya dan kembali menjilat kontol Seungcheol dengan lahap.
Yoon Jeonghan lahir hanya untuk memuaskan Choi Seungcheol. Titik puncak orgasme Seungcheol sendiri sudah hampir tercapai. Ditambah dengan gerakan mengocok perempuan itu yang semakin cepat. Menggesekkan kepala kontol Seungcheol ke pentil tegangnya yang sudah diremas-remas hingga meneteskan cairan susu kesukaan sang kekasih.
“Fuck – Hani, aku mau bucat.”
“Bucatin di toket Hani, mas. Kotorin kelinci kamu.”
Jeonghan semakin mempercepat gerakan kocokan nya. Merasakan kontol di genggaman nya itu semakin menegang dan membesar. Saat Seungcheol akhirnya memuncratkan cairan peju kental dari lubang kencingnya, cairan-cairan itu mengenai wajah dan payudara Jeonghan. Perempuan itu kembali membuka mulutnya, membiarkan muncratan peju tersebut juga mengenai lidah dan bibir.
Menjilat tiap cairan peju di jemarinya hingga bersih, Jeonghan amat sangat menikmati cairan kekasihnya itu. Pemandangan yang berada di hadapan Seungcheol saat ini sangat berdosa. Entah, seperti ia dulu pernah menyelamatkan suatu kerajaan atau bagaimana sampai memiliki perempuan seperti Yoon Jeonghan. Seorang malaikat dan iblis pemuas nafsu di saat bersamaan.
Seungcheol menarik tubuh telanjang Jeonghan untuk berbaring di kasur. Memagut bibir merah merona perempuan nya dengan lembut nan sensual. Jeonghan mengalungkan kedua tangannya di leher sang kekasih. Membiarkan kedua tubuh mereka kini bersentuhan dari kulit ke kulit.
“Ewe aku sampe lemes lagi mas,” rengek Jeonghan yang dibalas dengan kekehan kecil kekasihnya, “Iya, sayang. Kamu mau diapain malem ini? Mas ngikut kamu aja.” Jeonghan perlahan menjilat dan mengulum jemari-jemari milik Seungcheol, membiarkan kedua matanya menjuling ke belakang saat kontol lelakinya bergesekan dengan bibir memeknya. “Mau dientot lubang boolnya mas. Mau anal – ahh… mau dipejuin semua lubangnya,” desahan pelan lolos dari bilah bibir Jeonghan, “Makan pantat aku, mas. Lebarin sampe muat kontol gede kamu.” Jemari Jeonghan mengusap tengkuk Seungcheol lembut, mendongakkan kepalanya sedikit untuk menatap kedua manik berbinar milik lelakinya itu, “Claim me, breed me, make me yours, daddy. Milikku selamanya di hidup kamu, Seungcheol.”
Sering sekali Jeonghan selalu mengingatkan Seungcheol tentang mengapa ia bisa sejatuh cinta ini kepada perempuan ini. Jeonghan itu lebih dari sekedar sekretaris bagi Seungcheol. Selama keduanya bekerja bersama, Jeonghan selalu memberikan beberapa cara berpikir dan solusi yang tidak pernah terpikirkan oleh Seungcheol di awal. Karena mungkin ia juga bodoh, tapi memang Jeonghan lebih pintar darinya; lebih, lebih, dan lebih dari martabat Seungcheol.
Seungcheol kembali memagut mesra bilah bibir Jeonghan. Menangkup wajah perempuan itu dengan hati-hati, takut jika suatu hari ia akan melukai malaikatnya itu. Namun Seungcheol sadar bahwa ia ingin sekali memperjuangkan apa yang dirinya punya sekarang bersama Jeonghan. Mengetahui jika hubungan ini selesai, Seungcheol tidak akan bisa menggapai seseorang seperti perempuan itu.
Jeonghan menghembuskan napas pelan di rongga mulut Seungcheol. Membiarkan jemari-jemari lentiknya itu meninggalkan jejak-jejak sentuhan atas kepemilikan nya di pipi dan wajah sang tuan sepenuhnya. Pandangan yang diberikan Jeonghan kepada Seungcheol penuh dengan kasih sayang dan afeksi tidak bisa disusun oleh hanya kata-kata. Jeonghan tidak terlalu bisa memperlihatkan kasih sayang melalui kalimat, namun aksi yang dia berikan menunjukkan betapa sayang dan cintanya ia kepada lelaki tersebut.
“Aku ngancurin momen ya tadi tiba-tiba bilang gitu,” bisik Jeonghan di tengah keduanya sedang menatap mata satu sama lain. Seungcheol tertawa kecil sebelum menggelengkan kepala, “Nggak, sayang. Aku juga sayang sama kamu. Banget, banget, banget. Aku mau kamu yang miliki aku selamanya.” Jeonghan tersenyum lebar, senyuman nya sangat besar hingga menyentuh ke ujung kedua matanya. “Bertiga sama Ryu. Aku mau ngejaga Ryu juga mas, kalo diizinin,” Seungcheol mencubit pinggang Jeongha, membuat perempuan itu meringis dan tertawa di waktu yang sama, “Kamu tinggal di rumah juga nggak bakal diprotes Ryu sama sekali. Kamu maminya Ryu juga.”
“Maminya Ryu aja?”
“Ini mau pake kink yang mana, sih?”
“Daddy, daddy, daddy. Please, daddy.”
Jeonghan tertawa lepas saat Seungcheol berakhir menggelitik tubuhnya. Tawa itu pun berubah menjadi desahan saat kedua payudara Jeonghan mulai dihisap kembali oleh sang kekasih. Seungcheol meminta Jeonghan untuk menungging dan sebagai kelinci yang turut akan pemiliknya, Jeonghan pun merubah posisi sesuai perintah yang diberikan. Jilatan pertama di lubang pantatnya membuat tubuh Jeonghan semakin melemas, energinya sudah terkuras habis namun tetap mempertahankan posisi menunggingnya sebagai seekor kelinci cantik milik Choi Seungcheol.
Tubuh si sekretaris semakin melengkung sempurna saat Seungcheol mulai menghisap lubang pantatnya rakus. Melahap dan melesakkan lidahnya masuk dengan lahap. Tubuh Jeonghan mulai merinding, kedua kakinya tidak bisa ditahan untuk tetap berdiri tegak, namun kekuatan Seungcheol sendiri saja bisa membuat kaki ramping kekasihnya tetap berada di posisi. Air mata mulai menetes ke pipi dan jatuh ke bantal saking nikmat nan jorok yang dirasa oleh Yoon Jeonghan.
“Daddy –” Jeonghan menjerit kencang, mengulurkan tangan nya ke belakang agar digenggam kuat-kuat oleh Seungcheol, “ Daddy –! Ahh! Udah, udah – jorok banget, daddy. Fuck, fuck, fuck.” Jeritan semakin kencang saat Seungcheol melayangkan tamparan keras ke kedua bongkahan pantat Jeonghan yang kenyal dan padat itu. Tangisan mulai menggema di sela senggama keduanya, hidung dan wajah Jeonghan sendiri sudah memerah karena menangis, “Daddy, daddy, I’m sorry – ahhh! Ahhh – daddy, fuck me. Fuck me, please. Sodok bool Hani, daddy.” Lubang pantatnya pun dilebarkan oleh kedua tangan Jeonghan sendiri, membukanya hanya untuk kontol besar milik Seungcheol, “Daddy –! Daddy, please. Daddy ewe Hani. Pake badan Hani sampe pingsan, daddy.”
Seungcheol mengocok kontolnya sejenak sebelum menggesekkan nya ke lubang pantat Jeonghan. Sensasi yang diberikan membuat Jeonghan mendongakkan kepalanya ke belakang. Kedua mata berguling dan rongga mulut terbuka lebar. Hanya ada racauan tidak teratur kata-katanya yang lolos dari bilah bibirnya.
Perlahan Seungcheol mendorong masuk kontol besar nan panjang itu kembali membelah dua tubuh kecil dan ramping milik kekasihnya. Membuat Jeonghan kembali menahan napas di sela sesi memadu kasih mereka. Jeonghan meringis kesakitan di sela desahan kencangnya, namun lebih banyak merasa kenikmatan yang dirasa saat ini. Saat Seungcheol sudah sepenuhnya mengubur kontol di dalam pantat sang kekasih, Jeonghan menghela napas panjang, menggenggam kedua tangan si tuan yang melingkar erat di atas perutnya.
Merasakan bersama kontol Seungcheol yang bergerak di bawah perut Jeonghan. Setiap Seungcheol mulai menumbuk titik kenikmatan nya, Jeonghan hanya bisa melolongkan racauan tidak koheren di telinga manusia yang masih memiliki akal sehat.
Sayangnya, Yoon Jeonghan tidak mempunyai akal sehat jika bersama Choi Seungcheol.
“Ah! Ah! Mas –” hentakan yang diberikan membuat Jeonghan tidak bisa mendesah dengan lancar. Tubuhnya ikut mengikuti ritme hentakan yang ditentukan oleh sang kekasih. Tiap hentakan itu membuat Jeonghan semakin hampir jatuh tersungkur di kasur, namun kekuatan Seungcheol lebih besar darinya, menarik kedua tangan sang kekasih agar tetap berada di posisi yang sama. “Dalem –! Dalem banget, mas – ah! Ah! Ah! Fuck, fuck, fuck – daddy, daddy, lebih dalem lagi –!” racauan Jeonghan semakin mengeras tiap katanya, tubuhnya ditarik agar bersandar ke dada Seungcheol, membiarkan tangan lelaki itu melingkar di lehernya, “Hhah! Ah! Dalem! Dalem banget! Nyeplak di perut aku mas – ahhh! Ah! Lagi, lagi, lagi.”
Tanpa aba-aba dan kesadaran diri, Jeonghan mencapai puncak orgasmenya. Memuncratkan cairan orgasme itu hingga mengotori sprei kasur milik si empu rumah. Tubuhnya bergetar hebat karena rasa sensitif yang dirasa, namun hal itu tidak membuat Seungcheol untuk memperlambat gerakan nya. Karena ia tahu Jeonghan juga tidak ingin dia berhenti.
Maka dari itu, Seungcheol semakin mempercepat laju sodokan nya. Membiarkan Jeonghan terjatuh di kasur dan pantatnya yang diangkat tinggi-tinggi di kasur. Jeonghan menjerit kencang saat hentakan di lubang pantatnya semakin cepat dan keras. Tangisan pun mulai turun deras di wajah, membasahi bantal yang menjadi alas empuk untuk kepalanya.
“Hhahh – kamu enak banget – fuck,” desah Seungcheol sembari melayangkan tamparan-tamparan keras di pantat Jeonghan. Membuat perempuan itu semakin menjerit kencang di kamar tidur lelaki itu, “Ahh! Lagi – tampar lagi – ah! Ah! Ah! Ahhh – enak, enak, enak daddy.” Jemari-jemari Jeonghan dikerahkan untuk meremas bantal dan sprei kasur yang berada di bawah tubuhnya. Menerima tiap hentakan yang diberikan ke tubuhnya serta merasakan semakin membesar kontol kekasihnya itu di dalam pantatnya, “Hhah! Pejuin mas – mas, mas pejuin –”
“Mau muncrat – Hani –”
“Muncrat mas! Mas – ahh!”
Desahan panjang pun menggema di kamar tidur saat Seungcheol memuncratkan cairan peju kentalnya di dalam lubang pantat Jeonghan. Tubuhnya bergetar hingga hampir jatuh menimpa tubuh Jeonghan yang semakin terkulai lemas di kasur. Namun Seungcheol langsung mengerahkan kedua tangan nya di samping kanan dan kiri kekasihnya, menahan tubuhnya sendiri agar tidak terjatuh. Muncratan peju itu tidak berhenti sekejap saja, mengisi hingga penuh selaput daging lubang pantat kekasihnya sesuai permintaan sang puan sebelumnya.
Seungcheol berakhir memeluk tubuh Jeonghan sembari berbaring di kasur bersama. Jeonghan menggenggam tangan Seungcheol erat-erat di atas tubuhnya. Walaupun masih sangat sensitif dirasa, lebih baik merasakan sensitif setelah senggama daripada harus jauh dari suhu tubuh kekasihnya itu. Seungcheol mengecup wajah Jeonghan dengan lembut, menyeka bekas air mata di wajah cantiknya itu sembari membisik kata-kata maaf karena sudah membuat perempuan nya menangis.
“Ini nangis enak tau,” cibir Jeonghan dengan mengerucutkan bibirnya, “Gila banget diewe kamu, mas. Mau lagi.” Seungcheol mencubit hidung Jeonghan jahil yang membuat perempuan itu kembali meringis kesakitan, “Kamu aja pasti nggak bisa duduk. Udah tau mau jalan-jalan sama Ryu besok.” Jeonghan semakin mengerucutkan bibir yang menunjukkan kalau ia sedang kesal, namun Seungcheol mendapati pemandangan itu dengan penuh cinta dan kasih sayang, alias Jeonghan sangat lucu walaupun sedang telanjang. “Yaudah masukin ke memek, mas. Mau tidur sambil disumpel,” rengek Jeonghan lagi, “Mas mau nyusu? Nyusu aja sini, aku mau tidur sambil meluk mas.”
Seungcheol awalnya ingin menolak karena tubuhnya sudah dipenuhi oleh keringat. Ditambah ia baru saja pulang dari kantor. Maka dari itu, ia harus tegas dengan pendirian nya. Walaupun kadang selalu goyah dengan rengekan manja Jeonghan, seperti sekarang, tapi kembali lagi dia harus tegas dengan pendirian sebagai kepala keluarga kecilnya ini.
Mereka berdua berakhir berendam di bathtub dengan posisi pangku-pangkuan. Karena Jeonghan sama sekali tidak ingin lepas dari pelukan Seungcheol. Dengan perempuan nya kini duduk di pangkuan sembari menghadap ke lelakinya, Jeonghan mengelus wajah Seungcheol dengan lembut. Beberapa menit mereka hanya menghabiskan waktu dalam kesunyian sembari menatap kedua manik masing-masing.
“Kamu ngajak aku mandi biar nggak telanjang soalnya Ryu bakal bangunin kita besok, ya?” bisik Jeonghan di ruang kosong antara kedua bibir mereka. Seungcheol tidak mempunyai jawaban lain selain menganggukkan kepala. “Dia pasti bakal minta tidur bareng pas pagi soalnya besok libur. Ditambah ada maminya, pasti mau nyusu juga tuh pasti,” jawab Seungcheol. Jawaban itu membuat Jeonghan terkekeh kecil, meremas payudaranya pelan sembari digesekkan ke dada kekasihnya, “Ayo ke kasur, sayang. Mommy mau nyusuin bayinya sampe tidur.”
Semburat merah pun muncul di wajah Seungcheol. Ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jeonghan, meremas pantat perempuan itu jahil untuk membuatnya berhenti menjahilinya. Jeonghan hanya bisa tertawa keras di kamar mandi itu. Walaupun begitu, Jeonghan masih dibantu mengeringkan tubuh dan juga rambut sebelum keduanya sudah memakai pakaian tidur masing-masing lalu berbaring di tempat tidur lagi.
Gaun tidur satin yang dikenakan Jeonghan harus diturunkan sejenak untuk menyusui Seungcheol. Membiarkan lelaki itu mengisap kedua pentilnya dengan rakus setelah beberapa jam sejak terakhir Seungcheol meneguk cairan susu payudara milik kekasihnya. Kontol Seungcheol juga sudah kembali masuk ke dalam liang memek Jeonghan, membuat perempuan itu kembali mendesah pelan saat pinggang kekasihnya mulai menggenjot dinding memeknya. Menemukan langsung di mana letak titik kenikmatan di dalam tubuhnya.
“Bayinya mommy, ya? Bayinya mommy tuh Seungcheol atau Ryu sih?” tanya Jeonghan sedikit jahil sembari mengusap rambut hitam legam milik Seungcheol. Lidah lelaki itu menjilat dan mengulum rakus kedua pentil coklat menegang Jeonghan, menghisap tiap aliran cairan susu yang keluar dari payudara besar kesukaan nya tersebut. “Cheollie – mmh… bayinya mommy itu Cheollie. Soalnya Cheollie udah jadi bos yang baik selama nerima mommy jadi sekretaris, kan?” lantas Jeonghan langsung tertawa renyah mendengar pertanyaan itu. Mengecup dahi Seungcheol dengan lembut sembari membiarkan lelaki itu mulai menggenjot memeknya lagi di malam ini, “Ahh – mmh… iya. Cheollie udah baik banget jadi bosnya mommy. Ngentotin mommy tiap pagi sampe malem di kantor padahal masih ada karyawan nya yang kerja bolak-balik depan ruangan nya sendiri,” Jeonghan mendesah pelan, merasakan genjotan Seungcheol semakin keras menumbuk rahimnya, “Lagi, lagi – sodok mommy lagi, sayang. Hamilin mommy lagi sampe pagi.”
Rahim Jeonghan kembali diisi oleh cairan kental orgasme milik Seungcheol untuk beberapa kali di malam ini. Hingga jam dinding sudah menunjuk pukul lewat 12 malam, hari sudah berganti namun kedua insan itu masih memadu kasih dan afeksi di atas kasur. Sesuai perkataan Seungcheol, Jeonghan terbangun di pagi hari saat merasa selimut yang menyembunyikan memeknya disumpal oleh kontol besar sang kekasih ditarik beberapa kali dari samping. Matanya langsung terbuka lebar saat menemukan Ryu sudah berdiri di samping kasur tidur.
“Ryu –”
“Mami, kakak mau tidur di sini.”
Alhasil Jeonghan langsung mendorong lepas kontol Seungcheol dari memeknya yang membangunkan lelaki itu juga. Sekitar hanya satu jam, Ryu tertidur di tengah badan keduanya di pagi hari sebelum keluarga kecil itu sarapan bersama nantinya.
Semua orang menanyakan bagaimana reaksi dari pihak keluarga Seungcheol tentang informasi hubungan romantis barunya. Lalu bagaimana dengan reaksi keluarga Jeonghan? Seungcheol sendiri belum pernah bertemu langsung dengan keluarga kekasihnya itu. Sejak mereka mulai bekerja, di sela pertanyaan basa-basi personal tentang kehidupan masing-masing, Seungcheol tahu kalau Jeonghan merupakan anak perempuan sulung di keluarganya. Sudah bekerja keras sejak masih SMA demi mengumpulkan duit untuk dirinya sendiri agar tidak merepotkan kedua orangtuanya.
Saat momen di mana Seungcheol akan bertemu keluarga Jeonghan, ia menghabiskan waktu menangis di kamar mandi semalam sebelumnya. Bukan – bukan karena takut tidak direstui. Itu salah satunya, namun ia lebih tidak bisa terlihat sebagai pria yang dapat membahagiakan Jeonghan di mata kedua calon mertuanya. Mengingat dahulu dengan mantan istri Seungcheol masih terlihat seperti lelaki naif ingin menikah di umur yang sudah ditentukan sejak dulu dan lihatlah hasil akhirnya sekarang.
Namun pertemuan itu berlangsung dengan lancar. Seungcheol yang membawa hadiah khusus untuk kedua orangtua Jeonghan tidak mengekspektasikan hal yang sama dilakukan oleh keduanya saat mereka datang. Malam itu juga pertama kalinya Seungcheol bertemu dengan adik dari Jeonghan. Kecantikan natural memang mengalir di DNA keduanya, bahkan Seungcheol sampai harus tertegun sejenak karena keduanya hampir mirip dengan satu sama lain.
“Terus itu maksudnya kalo kamu ketemunya sama Soobin, kamu maunya sama dia bukan aku gitu?” Jeonghan tiba-tiba bertanya saat Seungcheol memberi opini dari perspektifnya setelah mereka pulang dari rumah keluarga sang kekasih. Mendengar itu, Seungcheol bahkan tidak bisa merangkai kata-kata saking kelu lidahnya. “Kamu asal bunyi sekali lagi aku suruh tidur di sofa ya,” balas Seungcheol yang hanya dibalas dengan tawa keras dari Yoon Jeonghan. Seungcheol memutar matanya malas namun hatinya cepat luluh saat Jeonghan mengecup pipinya berkali-kali, “Masku, tinggal cincin nya aja, ya? Aku kayaknya bakal lebih cantik kalo pake cincin nama kamu deh.”
Sebenarnya kedua belah pihak keluarga mereka sudah merestui hubungan ini. Ditambah Jeonghan juga sudah bertemu beberapa teman-teman dekat dari Seungcheol, termasuk mantan istri kekasihnya itu. Awalnya Seungcheol tidak ingin mempertemukan mereka karena mengetahui mantan istrinya juga masih sibuk mengurus kepindahan kewarganegaraan juga ke luar negeri. Namun dia sendiri yang ingin bertemu Jeonghan karena mungkin setelah pindah negara, ia tidak bisa bertemu Ryu sesering saat di Indonesia.
Untuk Ryu sendiri, tidak bisa dipungkiri kalau anak lelaki itu sudah cukup besar untuk mengerti apa yang terjadi di sekitarnya. Seperti sebentar lagi Jeonghan akan menetap secara permanen di rumah 2 lantai yang bertahun-tahun hanya diisi oleh dia dan Seungcheol saja. Ryu sendiri sudah sangat terbuka dengan Jeonghan, menceritakan ke banyak orang termasuk guru-guru di sekolahnya bahwa ia sekarang sudah mempunyai seorang mami. Jeonghan juga kadang datang ke sekolah Ryu untuk menjemput murid SD kelas 1 itu dan membiarkan anak laki-laki yang tidak ada bedanya dengan Seungcheol bagaimana mereka selalu memamerkan kecantikan Jeonghan di depan publik setiap ada kesempatan.
“Jadi, papa sama mami kapan acara gede kayak om Wonwoo kemarin?” tanya Ryu di tengah makan malam mereka bertiga. Seungcheol tersedak dan Jeonghan mengernyitkan dahinya kebingungan. “Acara gede? Kayak gimana maksudnya kak?” Ryu mengedipkan kedua mata penuh keingintahuan, “Itu loh, apasih namanya kemarin Hi-chan ngasih tahu – oh! Resepsi! Nikah! Nikah maksudnya,” wajahnya kini berubah menjadi bingung, “Atau nggak usah nikah? Soalnya mami kan udah jadi mami. Udah tinggal sama kita juga. Barang-barang mami udah di sini juga bareng sama papa.” Jeonghan pun menoleh ke arah Seungcheol, melirik sekilas ke Ryu dengan kedua matanya untuk meminta ayah kandung dari anak itu menjelaskan tentang hubungan mereka. “Nikah mah pasti ada kak cuman kayaknya belum di deket-deket ini sih,” jawab Seungcheol dan Ryu menerimanya dengan berujar ohhhh yang memicu kegemasan dari kedua orang dewasa di hadapan nya itu, “Yaudah nggak apa-apa sih kalo nggak nikah juga. Mami kan udah jadi maminya kakak, udah main juga sama tante Jisoo sama tante Minghao! Jadi kakak udah seneng sekarang rumah jadi rame.”
Bohong jika ada yang bilang kalau Seungcheol tidak ingin membuat acara besar dan megah memperingati pernikahan nya dengan Jeonghan. Bukan karena finansial juga jika membicarakan tentang mengapa pernikahan mereka masih belum bisa terjadi di dalam waktu dekat. Lebih tepatnya fokus dari kedua insan itu yang masih terpecah belah. Bukan di hubungan mereka, namun di pekerjaan lebih tepatnya.
Melihat Seungcheol yang masih stress karena pekerjaan membuat teman-teman dekatnya kasihan. Namun namanya juga sebagai pemilik perusahaan. Setiap Seungcheol dan Jeonghan harus lembur bersama, keduanya langsung menyisakan waktu di hari libur hanya untuk membalas waktu-waktu di mana mereka harus meninggalkan Ryu sendirian di rumah. Karena semenjak Jeonghan kini tinggal permanen di rumah, pembantu yang biasa menjaga Ryu sudah tidak dipekerjakan lagi.
Suatu malam, Jeonghan mengutarakan tentang kekhawatiran nya dengan meninggalkan Ryu sendirian di rumah. “Aku nggak usah kerja lagi kali ya,” saran Jeonghan tiba-tiba yang membuat Seungcheol sedang fokus ke arah laptop pribadi perlahan menoleh ke arahnya, “Hah? Maksudnya?” Jeonghan terlihat gelisah terpancar di raut wajahnya, “Nggak tau juga kenapa mikir gini. Tapi aku nggak tega ninggalin Ryu sendirian kalo kita harus lembur.” Jeonghan baru saja bekerja kurang dari setahun dan umur hubungan mereka juga tidak terlalu jauh dari itu, namun kalau sedang membicarakan tentang pekerjaan pasti berbeda dari hubungan personal. “Kadang nggak enak banget kalo kerja terus tau kalo si kakak udah di rumah sendirian. Aku takut dia kenapa-kenapa –”
“Kenapa-kenapa gimana maksudnya?”
“Kalo dia mikir aku bukan calon ibu yang baik –”
“Hey, hey, kenapa mikirnya gitu, cantik?” Seungcheol menutup laptopnya dan bergerak mendekat ke Jeonghan, “Kenapa coba mikirnya gitu? Kakak bukan nya udah nerima kamu sepenuhnya jadi ibunya dia sekarang?” Jeonghan menghela napas panjang, “Iya sih, aku juga sama sekali nggak ngelak fakta itu. Cuman takut dia mikir kalo aku sama aja gitu.” Seungcheol tahu ia tidak harus memperpanjang topik pembicaraan ini. Hal yang dia lakukan adalah menangkup wajah Jeonghan agar wanita itu menatap matanya lekat-lekat. “Yoon Jeonghan,” panggil Seungcheol dengan tegas, “kamu itu diri kamu sendiri. Nggak harus nyamain jadi orang lain. Kamu itu, ya, kamu, bukan orang lain. Jadi maminya Ryu aja, bukan jadi orang lain. Jadi calon istri aku, bukan jadi orang lain. Nggak usah jadi orang lain kalo aku sama Ryu udah nerima diri kamu sendiri di rumah ini, ya? Kamu sama sekali nggak terlihat kurang di mata kita berdua, sayang. Seriusan. Aku malahan yang beruntung bisa ketemu kamu di masa-masa kayak gini. Kamu udah jadi wanita yang baik dan keibuan buat Ryu, ngisi posisi di mana Ryu sendiri nggak berani buat ngungkapin ke aku kalo misal dia butuh sosok ibu di hidupnya selama ini. Jadi presensi kamu udah sangat membantu Ryu untuk ngelanjutin hidupnya. Ditambah sekarang kita udah bertiga di rumah ini, udah rame lagi rumahnya karena bareng-bareng. Jangan mikir kayak gitu lagi, ya? Aku sedih dengernya.”
Yoon Jeonghan langsung menangis mendengar kalimat itu keluar dari mulut Seungcheol. Memang seharusnya ia tidak berpikiran seperti itu. Mengetahui Ryu sudah menerimanya secara lapang dada, mengakuinya sebagai ibunya di depan teman-teman nya. Memang Jeonghan tidak terburu-buru itu ingin memegang titel secara legal sebagai seorang ibu dari Choi Ryu dan istri Choi Seungcheol, namun terkadang pikiran-pikiran buruk tidak bisa dikontrol juga olehnya.
Sedangkan Seungcheol sendiri, dari sejak itu, ia sedikit memberi fokus kepada rencananya menikahi Jeonghan. Mencoba membagi-bagi berat pekerjaan nya dengan waktu personal. Jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan sampai malam, berarti kapan ia harus menghabiskan waktu dengan keluarganya. Selain itu, Seungcheol sudah mengajak diskusi Jeonghan bersama kedua orang tua mereka untuk membicarakan kapan acara pernikahan keduanya akan dilakukan.
Keduanya akan menikah tepat setahun sejak hubungan mereka terbentuk. Persiapan mencari tempat nikah dan administrasi tentu harus dikerjakan dari jauh-jauh hari. Apakah mereka melakukan nya tanpa berargumen? Tentu saja tidak. Walaupun keduanya sangat mencintai satu sama lain, mereka tetap individu yang memiliki cara berpikir berbeda-beda.
Namun tentu mereka tidak membiarkan rasa kesal masing-masing mengendap lama-lama. Ditambah dengan keduanya yang tidak bisa tidak bertemu di kantor. Toh, Jeonghan masih menyandang posisi sebagai sekretaris pribadi kekasihnya. Seungcheol sendiri juga tidak bisa tidak menerima kecupan manis dari sang kekasih sehari saja.
“Sayang maaf –”
“Harusnya aku yang minta maaf.”
“Nggak, nggak,” Seungcheol menggelengkan kepala, “Aku yang salah. Aku seharusnya nggak ngomong gitu ke kamu. Maaf.” Jeonghan tertawa kecil dan memeluk leher Seungcheol erat-erat. Posisinya kini sedang duduk di pangkuan kekasihnya, keduanya berciuman lembut sambil melumat bibir satu sama lain penuh kerinduan. Seungcheol menghembuskan napas pelan di bibir Jeonghan, “Masih sayang kan sama aku?” Mendengar pertanyaan itu, sang tuan menerima pukulan manja di dadanya, “Yaiyalah masih. Rasa sayang aku nggak bakal ilang cuman karena kita berantem soal kerjaan sama nikahan, ya. Aku masih mau nikah sama kamu, nggak mau sama yang lain.”
Apa yang dikatakan Jeonghan sama sekali tidak salah. Karena Jeonghan sendiri tidak mau mencari orang lain yang pantas menyandang titel sebagai suaminya. Hanya Choi Seungcheol dan Seungcheol seorang hingga akhir hayatnya. Keduanya kembali berciuman hingga melepas kain pakaian masing-masing di kantor yang masih menunjukkan waktu bekerja.
“Masih jam segini –” desah Seungcheol sembari meremas bongkahan pantat Jeonghan di genggaman nya. Jeonghan mendesah, kemejanya sudah dilucuti sempurna hanya meninggalkan payudara besarnya yang siap dihisap kembali oleh calon suaminya, “Nggak apa-apa – hahhh… entot aja, mas. Sodokin memek aku lagi.” Disandarkan punggung Jeonghan di ujung meja kerjanya sembari melebarkan kedua kakinya, memperlihatkan sang puan yang sedang tidak memakai celana dalam itu. “Oh! Oh! Fuck – enak, enak – sodok lagi mas. Mentokin –” mencengkram ujung meja itu hingga jemarinya memutih seraya merasakan kontol besar tersebut perlahan masuk sepenuhnya ke dalam liang memeknya, “Ahhh! Hhahhh – yes, yes, yes. Fuck me, fuck me daddy.”
Jeonghan berakhir membiarkan kekasihnya itu menyenggamainya hingga tubuhnya terkulai lemas. Setelah memeknya dimuncratkan peju di dalam rahim, Jeonghan langsung menungging di meja kerja. Melebarkan memeknya kembali untuk dilesakkan masuk oleh Seungcheol. Membiarkan tubuhnya lemas dihentak kencang-kencang hingga mencapai puncak orgasme ketiga dan keempat kalinya.
Syahwat senggama Jeonghan tidak selesai begitu saja. Saat Seungcheol harus kembali bekerja, Jeonghan merengek ingin tetap bersama sang kekasih. Dengan demikian, ia duduk di lantai, menempatkan memeknya tepat di atas sepatu atasan nya itu. Mulutnya kembali dipenuhi oleh kontol besar Seungcheol yang perlahan menyodok rongga mulut perempuan nya hingga menyentuh tenggorokan.
Kedua mata Jeonghan sampai berguling ke belakang saking nikmatnya. Ditambah kucekan yang diberikan ujung sepatu Seungcheol menggoda bibir memeknya hingga membuat perempuan itu memuncratkan orgasme kelima hingga tidak terhitung sampai dirinya puas. Saat Seungcheol harus mengikuti pertemuan daring, Jeonghan masih duduk di lantai. Sibuk mengulum dan menjilat tiap muncratan peju di kontol Seungcheol serta menelan tiap tetesan dengan rakus.
“Kamu jangan berisik, bunny,” perintah Seungcheol sebelumnya yang langsung dipatuhi benar-benar oleh sang kelinci. Jeonghan kini hanya bisa melebarkan kakinya layaknya seekor kelinci ingin kawin. Membiarkan ujung sepatu Seungcheol menggosok bibir memeknya, bahkan sampai sempat melesak masuk ke dalam liang sempitnya itu. “Mmmhh! Mmmh – hhahh… daddy… ” lenguh Jeonghan manja hingga berbaring di lantai saking sensitifnya, “Oh! Oh… daddy… daddy lagi. Sodok lagi – ah! Ah! Dipukul – oh! Ohhh! Fuck, fuck, fuck.”
Tubuh perempuan itu melengkung sempurna saat kembali memuncratkan cairan orgasme kesekian kalinya di hari ini. Beberapa cairan nya mengenai sepatu, kaos kaki, dan celana kekasihnya. Seungcheol sendiri masih harus menemui klien di luar kantor. Tapi apakah ia akan membersihkan bekas cipratan orgasme kekasihnya sendiri? Tentu tidak.
Setelah pertemuan daring itu selesai, Seungcheol memposisikan Jeonghan kembali duduk di meja kerja. Mengangkat kedua kakinya hingga tubuhnya berbaring di sana sebelum melesakkan kembali kontol besarnya itu masuk ke dalam liang memek sang puan. Jeonghan hanya bisa menahan desahan sekuat tenaga karena masih di waktu bekerja. Kedua matanya sejenak berubah menjadi putih saking nikmatnya disenggama oleh kekasihnya sendiri.
“Hhah! Lagi, lagi – sodok lagi daddy,” racau Jeonghan yang kini sudah tidak bisa berbicara apa-apa lagi selain menjadi lacur bagi Seungcheol, “Hamilin kelinci kamu, daddy. Oh! Oh! Fuck. Gede, gede banget.” Kembali dimuncratkan cairan orgasme yang tanpa aba-aba itu. Semakin membuat tubuh Jeonghan mudah dikendalikan di bawah kontrol dari Choi Seungcheol. “Gonna breed you so fucking good bunny,” desisan Seungcheol membuat Jeonghan semakin bergairah, mulutnya terbuka seraya menerima genjotan kencang di memeknya, “Yes! Yes! Breed me! Breed me, daddy! Ahhh! Ahhhh!”
Tubuh Jeonghan bergetar hebat di meja kerja Seungcheol saat cairan peju itu kembali memenuhi rahimnya. Kakinya bergetar ingin menutup dari posisi mengangkang namun kekuatan Seungcheol lebih besar untuk menahan tubuhnya agar tetap di posisi yang diinginkan. Cairan orgasme Jeonghan juga ikut muncrat keluar. Beberapa menetes ke lantai ruang kerja Seungcheol seperti biasa.
“Hhahh – hamil… aku mau hamil mas,” lirih Jeonghan saat tubuhnya kembali ditempatkan di pangkuan Seungcheol, “Kata Jisoo kalo hamil bisa ngewe juga.” Dahi Seungcheol langsung mengernyit, “Jangan dengerin apa kata dia. Suka aneh orangnya.” Jeonghan mengerucutkan bibirnya, mendesah pelan saat lelaki itu harus menarik keluar kontolnya dari memek sang kekasih karena harus pergi dalam beberapa menit. “Aku mau hamil pas nikah nanti… kasian Ryu udah cemburu soalnya Hi-chan udah mau punya adek,” informasi itu membuat Seungcheol terdiam sejenak, “Jisoo hamil?” Jeonghan mengangguk, “Baru berapa minggu sih. Dia kemarin nelpon kan pas kita lagi ngewe. Dia juga lagi ngewe sih katanya. Aku juga mau hamil.”
Ryu memang sudah vokal ingin mempunyai adik. Walaupun nanti akan memiliki selisih 7-8 tahun dengan adiknya, tetapi hal itu tidak akan menahan Ryu sebagai seorang kakak yang baik. Mengapa Seungcheol tidak tahu tentang ini? Karena Ryu selalu bercerita banyak kepada Jeonghan. Dengan embel-embel tidak ingin mengganggu pekerjaan ayahnya.
Seungcheol sendiri juga ingin mempunyai anak lagi. Untuk sektor finansial, ia sudah mengamankan biaya pendidikan sampai Ryu kuliah nantinya. Sedangkan untuk calon anak kedua sudah disiapkan beberapa jika memang ia ingin nanti di masa depan. Jeonghan juga tahu tentang ini, maka dari itu ia kadang membantu keuangan khusus anak-anak mereka dengan menambahkan dari tabungan personalnya.
Suatu hari, sekitar beberapa minggu menuju hari pernikahan, Seungcheol mendapatkan notifikasi dari orang yang harus berdiri di paling depan saat ia menikah lagi nanti.
Wonwoo: ini akomodasi disiapin kan
Wonwoo: rumah saya di jepang bang
Seungcheol: lo doang yang minta akomodasi selain keluarga anying
Wonwoo: loh kan gue keluarga gimana sih
Wonwoo: baek2 ama gue coba jadi kan sampe nikah
Seungcheol: berisik
Seungcheol: mingyu udah berapa bulan? denger2 cewek gue telponan mulu tuh dari kemarin
Wonwoo: baru 5 bulanWonwoo: gue ama dia gamau tau dulu jenis kelamin nya apa sampe lahiran
Wonwoo: dia udah hamil aja bikin gue khawatir banget mau nangis bang rasanya
Seungcheol: nangis lah
Wonwoo: tai
Wonwoo: mending lo tanya calon istri lo dah sana udah hamil blm dia
Wonwoo: kemaren telponan lama banget sama mingyu sampe dia mukanya khawatir banget
Seungcheol: hm?
Seungcheol: maksudnya?
Seminggu belakangan ini, Jeonghan memang meminta izin untuk bekerja dari rumah. Sebagai atasan nya, Seungcheol tentu mengizinkan. Karena sebelum-sebelum ini juga mereka sudah bekerja lembut hingga meninggalkan Ryu sendirian di rumah. Mungkin calon istrinya itu juga ingin lebih dekat dan menemani Ryu sebelum acara pernikahan mereka.
Untung saja Seungcheol pulang sesuai jam kerja di hari itu. Sesampainya di rumah, Seungcheol mendapati Jeonghan dan Ryu sedang duduk di sofa ruang tamu. Anak lelakinya yang sudah mau menginjak umur 8 tahun itu memeluk Seungcheol erat-erat. Membuat sang ayah terlihat kebingungan karena ekspresi senang dan ceria terpancar dari wajah Ryu.
“Papa! Papa! Sini, mami mau ngeliatin sesuatu,” ujar Ryu dengan menarik tangan Seungcheol untuk mengikutinya ke ruang tamu. Jeonghan menatapnya dengan ekspresi yang tidak terbaca, perempuan itu sangat pandai melakukan ini. “Kenapa? Kamu sakit? Kita dapet uang dadakan?” pertanyaan Seungcheol membuat Jeonghan mencibir keras, “Aku doain aja kalo dapet rezeki dadakan. Tapi kamu udah kaya banget sih.” Seungcheol menggerutu dan kekasihnya itu masih tersenyum lebar sebelum menunjukkan test pack positif ke arahnya, “Aku hamil.”
Seketika dunia di sekitar Seungcheol melambat. Jika Jeonghan itu pandai menyembunyikan ekspresinya, Seungcheol sama sekali tidak pandai tentang ini. Tentu ekspresi wajah lelaki itu sekarang sedang menunjukkan bahwa ia terkejut. Tatapan nya kosong sembari memegang hasil tes kehamilan yang biasa para wanita itu gunakan.
Ryu yang tadinya sudah berseru dan lompat-lompat pun terdiam. Memeluk tangan Jeonghan sembari menunggu reaksi Seungcheol selanjutnya. Jeonghan juga yang tadi sudah tersenyum lebar langsung jatuh ekspresinya. Karena beberapa detik Seungcheol hanya menatap hasil test pack itu dan dua orang paling penting di hidupnya secara bergantian.
“Mas nggak suka aku hamil?”
“Sebentar aku mau bengong dulu.”
“Papa nggak mau ngasih kakak adik?” pertanyaan Ryu membuat Seungcheol tersedak, “Nggak, bukan gitu, sayang. Cuman ini –” helaan napas panjang dan perlahan lelaki itu baru tertawa kecil, “Sumpah, baru kebobolan sekarang?” Jeonghan mengernyitkan dahi sebelum mendorong tubuh Seungcheol hingga terjatuh di sofa, “Ihhh ngeselin banget. Kak, pukul tuh papanya udah ngeledekin mami.” Tentu Ryu langsung menuruti apa kata ibunya untuk menyerang Seungcheol. Air mata Seungcheol baru terjatuh beberapa menit setelah mendapat kabar gembira itu. “Punya anak ya kita,” gumam Seungcheol sembari masih menatap hasil tes di genggaman nya itu, “Iya, sayang. Anak kita ini di perut aku nanti.”
Lelaki itu pun memeluk tubuh kekasih tercintanya erat-erat. Bersamaan dengan Ryu juga yang ingin dipeluk oleh kedua orangtuanya. Berita itu tentu langsung diberitahu kepada orangtua mereka, termasuk ke teman-teman dekat dan mantan istri Seungcheol juga yang sudah berada di luar negeri. Jeonghan menghabiskan waktu berbincang panjang dengan mantan istri kekasihnya bersama Ryu juga, meninggalkan Seungcheol yang heran dengan pemandangan di depan nya.
Saat keduanya berbaring di kasur, Seungcheol tiada henti mengusap perut Jeonghan yang memang belum terlalu memperlihatkan benjolan layaknya ibu kamil. Namun setidaknya ada anaknya nanti tumbuh besar selama 9 bulan di dalam sana. Seungcheol sendiri sudah lama tidak merasakan euforia ini selama mengurus Ryu yang kini ingin menginjak umur 8 tahun. Dinamika kakak-adik antara kedua anaknya nanti pasti berbeda, tapi Seungcheol yakin ia dan Jeonghan bisa menyediakan lingkungan yang baik untuk mereka tumbuh besar.
“Jadi makin sayang nggak sama aku pas udah tau aku hamil anak kamu, mas?” bisik Jeonghan kini menegakkan kepala Seungcheol agar pandangan mereka bertemu, “Kamu waktu belum hamil aja aku udah sayang banget. Jangan ngomong yang aneh-aneh deh.” Jeonghan terkekeh kecil, membiarkan kaki Seungcheol bergesekan dengan memeknya sembari kedua bibir mereka larut dalam ciuman lembut. “Besok ke rumah sakit ya. Aku mau nanya sesuatu ke dokter kandungan,” Seungcheol berdehem, menanyakan intensi calon istrinya itu, “Buat nanya kalo hamil masih boleh ngewe nggak.” Alhasil kedua mata Seungcheol terbuka, menatap ekspresi Jeonghan dan mencari apakah perempuan itu sedang bercanda atau tidak, “Serius?” Jeonghan menganggukkan kepala dengan yakin, “Serius. Aku nggak mau kosong terus berapa bulan ih. Harus dimanja ibu hamil tuh. Kamu harus nyembah aku terus selama 9 bulan.”
“Itu mah gampang.”
“Iyalah orang dienakin terus.”
“Hmmm. Sayangku, istriku, cantikku.” Jeonghan tersenyum lebar, membuka mulutnya membiarkan lidah Seungcheol melesak masuk ke dalam mulutnya, “Gantengku, masku, suamiku.” Seungcheol menurunkan gaun tidur Jeonghan hingga mengekspos kedua payudaranya. Meremas daging besar itu di genggaman nya pelan-pelan, “Mami dari anak-anakku, kan?” Jeonghan mendesah pelan seraya semakin cepat menggesekkan kontol Seungcheol ke bibir memeknya, “Hmmm – maminya anak-anak kamu.” Sang puan memposisikan pentil tegangnya itu ke bilah bibir Seungcheol, perlahan kembali dihisap nikmat oleh calon suaminya, “Mommy nya kamu, sayang. Nyusu terus – ahhh… lagi, sedot lagi sayang.”
Berita tentang kehamilan Jeonghan memang sudah tersebar luas. Ditambah dengan posisinya sebagai ibu tirinya Ryu. Namun hal itu tidak terlalu mengganggu pasangan tersebut. Toh, sebentar lagi mereka akan menikah dan resmi menjadi pasangan suami istri di bawah hukum negara.
Persiapan pernikahan juga termasuk dengan proses dipingit. Jadi, Jeonghan harus menginap di rumah keluarganya beberapa hari hingga hari pernikahan. Ryu sendiri masih disuruh untuk tinggal bersama keluarga Seungcheol saja, Jeonghan juga meminta hal ini. Sedikit dramatis melihat keduanya harus berpisah rumah sejenak, Ryu juga tidak ingin berpisah dengan Jeonghan namun sang ibu berjanji tidak akan berpisah lagi setelah hari pernikahan nanti.
Walaupun ini pernikahan keduanya Seungcheol, tetapi rasa gugup itu masih ada. Sejak pagi di hari pernikahan, raut wajah sang tuan terlihat sama sekali tidak luput dari kekhawatiran. “Harusnya dia nggak khawatir nggak sih? Kan udah pernah nikah,” Soonyoung bertanya di kamar rias khusus mempelai pria yang langsung disikut perutnya oleh Wonwoo, “Kalo lo inget alesan cerainya sih wajar aja khawatir.” Seungcheol melirik ke arah Hansol, “Gue udah ganteng belum, dek?” Hansol yang tadinya sibuk menggulir sesuatu di layar ponselnya harus mengangkat kepala karena namanya dipanggil, “Rileks coba, bang. Lo udah direstuin juga nikahin cewek baru.”
Apa yang dikatakan Hansol memang tidak salah. Bahkan benar sekali, ia tidak mungkin menikah lagi tanpa ada restu orang tuanya dan juga Jeonghan. Namun kekhawatiran dibalut oleh gugup tetap menggerogoti dirinya dari dalam. Gugupnya Seungcheol perlahan sedikit pudar saat melihat Ryu memakai jas sesuai ukuran nya dengan desain yang sama dengan ayahnya.
Melihat ayahnya yang sudah keluar dari ruang rias, Ryu langsung berlari ke pelukan nya. Memeluk leher Seungcheol erat-erat, sedangkan sang tuan memeluk Ryu di pelukan nya sembari berbincang dengan beberapa anggota keluarga besarnya.
“Kakak udah ketemu mami tau, pa,” ucap Ryu di pelukan ayahnya, “Demi apa? Ih, papa belum ketemu mami dari kemarin.” Ryu tertawa mengejek, masih memeluk lengan Seungcheol erat-erat. “Mami cantik banget beneran. Kakak seneng papa sama mami akhirnya nikah. Jadi rumah bakal rame selamanya,” tutur Ryu saat keduanya berjalan menuju aula letak di mana acara akan berlangsung. Mendengar itu, Seungcheol menahan tangisnya agar tidak merusak momen.
Waktu saat pandangan Seungcheol akhirnya bertemu dengan Jeonghan yang memakai gaun pernikahan berjalan menuju altar membuat napasnya tertahan di tenggorokan sejenak. Entah karena sorotan lampu yang membuat Jeonghan semakin cantik atau memang orangnya yang sudah cantik, Seungcheol tidak tahu. Namun beberapa menit Seungcheol harus menahan napas untuk mensyukuri takdir yang mempertemukan keduanya di satu kesempatan tidak dipungkiri jika ada orang yang bertanya di mana mereka bertemu. Jeonghan dituntun oleh ayahnya berjalan di lorong menuju altar, sesekali menoleh ke kanan dan kiri untuk menyapa beberapa tamu undangan yang sebagian juga teman-teman dekat dan keluarga besarnya.
Sesampainya di altar, Seungcheol membuka kerudung pengantin yang menutupi wajahnya. Jeonghan tersenyum lebar saat akhirnya bisa menatap calon suaminya lagi setelah beberapa hari. Sedangkan Seungcheol sudah menitikkan air mata dari tadi. Membuat para pengiring mempelai laki-laki yang berdiri di belakangnya sedikit malu karena kelakuan Seungcheol sendiri.
Pengucapan sumpah pernikahan pun berlangsung dengan kedua mempelai berhadapan satu sama lain. Jeonghan masih menggenggam bunga yang ada di genggaman nya. Setelah itu pintu aula terbuka lagi memperlihatkan Ryu yang berjalan menyusuri lorong dengan membawa keranjang kecil berisi cincin pernikahan kedua orangtuanya. Jeonghan bahkan rela berjongkok demi memeluk anak lelakinya, membiarkan Ryu mengecup pipi ibunya seraya memberi cincin-cincin itu ke kedua orangtuanya sebelum berlari kembali ke tempat duduk di bagian keluarga besar mempelai laki-laki.
Memakaikan cincin pernikahan ke jemari masing-masing, Seungcheol mengecup dahi Jeonghan dengan lembut. Menggenggam kedua tangan istrinya itu selagi mengucapkan sumpah pernikahan. Membiarkan janji menerima satu sama lain sebagai sepasang suami istri hingga maut memisahkan. Setelah selesai, kedua bibir mereka pun memagut mesra di depan barisan para undangan yang berseru akan perayaan ini.
Seungcheol membiarkan air matanya turun di tengah ciuman lembutnya dengan Jeonghan. Membuat perempuan itu sedikit panik dan menyeka air mata suaminya di pipi. Setelah itu keduanya dikerumuni oleh para pengiring pengantin masing-masing. Seungcheol bahkan memeluk Wonwoo erat-erat.
“Won, demi apapun makasih,” ujar Seungcheol di tengah tangisan nya yang membuat teman-teman nya juga ikut tertawa. Sedangkan Wonwoo harus menahan air matanya juga karena dia yang membuat pasangan ini akhirnya bisa bersatu, “Sama-sama. Gue cuman mau minta rumah doang di Indonesia kalo bisa.” Seungcheol juga memeluk Junhui, Soonyoung, Seokmin, dan Hansol. Setelah itu dia berlari ke bagian di mana pengiring pengantin perempuan berada, menerima cubitan keras di lengan dari Jisoo, “Ih, lo nikah beneran anjing,” ujar Jisoo di tengah tangisan derasnya, “Aduh gue nggak boleh nangis nanti kasian anak gue di perut.”
Seungcheol dan Jeonghan pun berjalan melewati lorong dari di mana altar pernikahan mereka berada. Harusnya mereka hanya berdua saja, namun Jeonghan langsung memanggil Ryu agar mereka berjalan bertiga. Dengan lemparan bunga dari kanan dan kiri, keluarga kecil itu berjalan menuju halaman baru hidup mereka bertiga bersama-sama. Ryu menggenggam erat kedua tangan orang tuanya, sesekali memeluk perut Jeonghan yang nantinya akan mengandung calon adiknya.
Sesi resepsi secara formal sebenarnya tidak ada. Di jadwal hanya bertuliskan makan siang bersama keluarga besar dan tamu-tamu undangan. Karena Jeonghan tahu dirinya tidak bisa memiliki cukup energi untuk menyapa tiap tamu yang datang dan Seungcheol sangat menghargai itu. Lebih nyaman jika menyapa tamu sembari makan siang juga.
Setelah makan siang, mereka akan kembali ke penginapan sebelum acara after party yang memang diminta oleh kedua mempelainya langsung. Ryu sendiri juga diminta untuk tidak datang ke acara itu karena akan berakhir di tengah malam yang notabenenya sudah lewat dari jam tidur. Maka dari itu, mereka bertiga menghabiskan waktu istirahat bersama setelah makan siang. Dengan Ryu yang membiarkan kepalanya berbaring di perut Jeonghan hingga ia tertidur.
Saat waktu sudah mendekati malam, Ryu pun kembali ke kamar kakek dan neneknya yang sudah bersiap untuk pulang ke rumah. Meninggalkan kamar tidur khusus kedua mempelai menyisakan mereka saja. Seungcheol mengecup pundak Jeonghan dengan lembut, memeluk tubuh ramping istrinya itu erat-erat. Keduanya berjanji akan kembali bertemu saat acara malam sudah mulai, Seungcheol sendiri tidak tahu alasan nya mengapa namun Jeonghan sendiri yang meminta seperti itu.
“Kamu mau pake baju seksi, ya?” bisik Seungcheol di telinga istrinya. Jeonghan hanya tertawa renyah, melenguh pelan saat kedua payudaranya kembali diremas dari luar gaun tidur yang kini dikenakan, “Mmmh… iya, sayang. Biar nanti diewe lagi sama kamu.” Kepala perempuan itu di dengakkan sekilas untuk dicium bibirnya oleh Seungcheol. Membiarkan kedua bibir mereka melumat lembut dengan mesra dan membuat Jeonghan mengerang kecewa saat Seungcheol melepas ciuman itu, “Aku mau ketemu anak-anak dulu, sayang. Nanti ketemu pas di acara, ya? Aku sayang sama kamu,” Jeonghan masih menggerutu, namun tetap mengecup bibir suaminya sekali lagi, “Aku juga sayang kamu.”
Sebenarnya Seungcheol hanya menghabiskan waktu untuk tidur di kamar hotel Wonwoo dan Mingyu. Karena Mingyu harus bertemu dengan keluarganya di Indonesia, jadi Wonwoo ditinggal sendiri. Keduanya berbincang hingga dua-duanya merasa kantuk mulai menggerogoti diri masing-masing. Tidak lupa juga Wonwoo mengirim pesan ke Mingyu untuk bersiap-siap di kamar Jeonghan saja, daripada harus terganggu dengan suara tidur dirinya dan Seungcheol secara bersamaan.
Saat waktu menuju acara malam sudah dekat, Seungcheol bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Ia hanya berujung memakai jas dan kemeja seperti pakaian kantor seperti biasa. Awalnya ia tidak ingin memakai pakaian ini, namun Jeonghan lebih suka jika Seungcheol hanya memakai jas dan kemeja biasa. Entah mengapa, perempuan itu selalu punya seleranya sendiri.
“By the way, Won, lo ada ngewein Mingyu pas dia hamil nggak?” tanya Seungcheol seperti topik yang baru saja diangkat sangat tabu jika ditanyakan di lorong kamar hotel. Wonwoo merapikan jas yang ia kenakan sebelum menekan tombol lift menunjuk ke lantai bawah, “Ngewe aja. Dianya yang mau dan gue suka ngewein dia. Jadi aman aja.” Saat pintu lift terbuka dan kedua lelaki itu masuk ke dalam moda transportasi yang membawa mereka ke lantai di mana aula itu berada. Yaudah kalo gitu, ujar Seungcheol saat lift sudah sampai di lantai yang dituju.
Hampir seluruh teman-teman nya sudah sampai di aula dengan memakai pakaian yang berbeda jauh dari yang dikenakan tadi siang. Pandangan Seungcheol langsung berfokus untuk mencari di mana Jeonghan berada. Wonwoo sendiri sudah sibuk dengan membalas ciuman istrinya itu yang memakai gaun pesta lumayan pendek menggantung di paha. Berbeda dengan Jeonghan, benjolan Mingyu lebih terlihat di perut karena umurnya juga berbeda dengan umur kehamilan istrinya.
Beberapa menit dibutuhkan di sela dentuman musik yang menggema di ruangan untuk Seungcheol menemukan di mana Jeonghan berada. Mendapati perempuan dengan sanggul rambut sempurna, memperlihatkan punggung putih pucatnya hingga gaun yang dikenakan lebih pendek dari yang biasa Jeonghan pakai sehari-hari. Jeonghan sedang berdansa dengan Jisoo dan Minghao, menikmati lantunan musik yang diputar di acara malam ini saat Seungcheol melingkarkan tangan nya di pinggang. Awalnya Jeonghan terkejut merasa ada seseorang berdiri di belakangnya, namun rasa takut itu langsung pudar saat Seungcheol mulai mencium lehernya sensual, memberitahu bahwa hanya suaminya yang bisa melakukan itu kepadanya di depan publik.
“Hey,” sapa Seungcheol yang kini menarik tubuh Jeonghan lebih dekat di dekapan nya, “Seksi banget sih bajunya. Nanti kalo yang meluk bukan aku gimana.” Jeonghan hanya tertawa renyah mendengar perkataan itu keluar dari mulut Seungcheol. “Hmmm.. aku cuman ngebolehin kamu doang buat nyium leher aku kalo di luar,” balas Jeonghan kini membalikkan tubuhnya, melingkarkan kedua tangan di leher suaminya itu, “Mas, ewe aku.” Seungcheol mengusap pinggang dan pantat Jeonghan dari luar gaun satin berwarna putih tersebut, membuat perempuan itu terkesiap seketika saat satu tamparan keras melayang di pantatnya, “Ah! Hhah.. ada ruang menyusui kok di sini. Mas belum nyusu hari ini, susunya buat Ryu tadi.”
Apa yang harus Seungcheol lakukan di situasi seperti ini? Betul, mengikuti apa perintah istrinya. Karena yang sebenarnya berperan besar di keluarga kecil mereka adalah sang kepala negara, Yoon Jeonghan. Maka dari itu, Seungcheol menarik tangan Jeonghan menuju ruang menyusui terdekat. Meninggalkan teman-teman mereka di tempat acara yang sepertinya juga mengetahui rencana keduanya.
“Mas –”
“Hani –”
“Ahh! Masukin aja – masukin langsung –” ujung gaun itu disingkap untuk memberi ruang bagi Jeonghan melebarkan kedua kakinya di atas alas khusus ibu menyusui yang ada di ruangan tersebut, “Hhahh – aku sodok terus dari kemarin sama dildo, mas. Biar kontol kamu muat terus di dalem memek aku.” Jeonghan menurunkan gaun yang dikenakan untuk mengeluarkan kedua payudaranya. Meremas pelan saat Seungcheol mengocok kontolnya sebelum digesekkan kembali ke bibir memek istrinya, “Nnnh! Ahhh – mas, mas, mas… mas sodok aja – ah! Ah! Dalem, dalem banget.” Kontol besar itu akhirnya kembali dikubur sedalam-dalamnya di liang memek sempit milik Yoon Jeonghan, Seungcheol menggeram pelan sembari mencium bilah bibir istrinya dengan lembut, menangkup wajah perempuan itu sampai air liur mereka masih tersambung saat ciuman mereka berpisah sejenak, “Nyusu ke mommy, sayang. Susunya masih banyak banget buat kamu hari ini. Please, please, milk me up until I’m dry, baby.”
Sesuai permintaan Yang Mulia, tentu Seungcheol hanya bisa menuruti perintahnya. Perlahan ia mulai menggenjot liang memek Jeonghan yang masih sempit itu. Membuat perempuan di atas alas dengan kedua kakinya diangkat lebar-lebar. Tubuhnya ikut bergerak sesuai hentakan yang diberikan oleh Seungcheol, sedangkan mulut lelaki itu sudah dipenuhi oleh cairan susu dari payudara istrinya sendiri.
Dengan sangat rakus Seungcheol menghisap, mengulum, dan menjilat kedua payudara besar Jeonghan bergantian. Membiarkan istrinya itu mulai terkulai lemas di hadapan nya. Mulut terbuka hanya untuk meloloskan desahan-desahan serak saking nikmat rahimnya kembali disodok berkali-kali oleh sang suami. Tidak butuh aba-aba untuk Jeonghan kembali memuncratkan cairan orgasmenya di sela hentakan kencang Seungcheol dan pastinya itu tidak akan menjadi yang terakhir untuk hari ini.
“Lagi –! Ahh! Lagi sayang –” kedua kaki Jeonghan dilingkarkan dengan erat di pinggang Seungcheol, “Ahh! Ahh! Enak – sodok lagi – ahh… nnnh.” Jeonghan kembali menjerit saat pantatnya ditampar kembali oleh suaminya. Tubuhnya merinding dan bergetar hebat saat puncak orgasme keduanya pun tercapai hanya dalam selisih detik yang pendek dari puncak terakhir. “Mas – mas… lagi… sodok lagi,” bisik Jeonghan dengan manja, “Pake aja badan aku mas. Pejuin terus sampe pingsan.”
Seungcheol berakhir memuncratkan pejunya di dalam rahim Jeonghan hingga ronde kesekian. Tidak ada yang tahu juga mereka keluar dari ruang menyusui itu pukul berapa. Tapi apakah mereka benar-benar keluar sebenarnya? Tidak ada yang tahu. Setelah Seungcheol memuncratkan pejunya kembali di dalam tubuh Jeonghan, keduanya sudah dipenuhi oleh peluh bercucuran dari pelipis.
Hal itu tidak menghentikan Jeonghan untuk mencium bibir Seungcheol dengan lembut. Menarik tubuh suaminya agar lebih mendekat ke suhu tubuhnya. Membiarkan tubuh mereka masih tetap bersatu secara intim. Jeonghan menitikkan air mata yang membuat Seungcheol sedikit panik, menyeka air mata di pipinya di sela isak tangis dari bibir sang istri.
“Aku sayang kamu,” ujar Jeonghan, “Aku sayang banget sama kamu, mas.” Seungcheol tertawa kecil mendengar ujaran Jeonghan, mengecup bibir istrinya dengan lembut sebelum membalas pernyataan tersebut, “Aku juga sayang kamu, Hani. Sampai maut memisahkan, ya?” dengan itu Jeonghan menganggukkan kepala, “Sampai maut memisahkan, mas.”
