Work Text:
saudade (n.) a nostalgic longing to be near again to something or someone that is distant, or that has been loved and then lost; "the love that remains.”
Miku mengangkat wajahnya, menatap langit malam berbintang—pemandangan yang jarang dilihat, padahal sebenarnya bisa diraih dari atap apartemennya yang hanya berjarak tujuh lantai. Orang yang menyarankan ide ini adalah asistennya, pemilik rambut biru yang sedang duduk di sebelahnya. Mereka berdua bersandar di bangku kayu panjang.
"Terima kasih, Kaito."
Ucapan itu membuat Kaito menoleh ke idolanya, "untuk apa?" jawabnya.
"You were a wonderful experience," jawab Miku, masih menatap bintang-bintang di atas.
"You were… everything." Kaito langsung menjawab tanpa memberikan jeda, membuat Miku beralih menatap Kaito dengan mata melebar. Pupil mereka bergerak-gerak, mencoba menangkap pantulan wajah masing-masing. Setelah itu mereka tertawa bersama.
Wajah bahagia Kaito perlahan menghilang, seperti menguap ke langit yang sekarang menumpahkan air kesedihannya dengan deras. Bintang-bintang tidak bersinar, seolah menghormati gadis bersurai biru kehijauan yang memeluk batu nisan berukir nama "Shion Kaito". Miku tidak lagi menangis; air matanya kering. Air yang menghiasi wajahnya hanya tetesan hujan, hingga payung hitam menghalangi kontak.
Lelaki dengan rambut merah muda adalah orang yang memegang payung tersebut. Dia menatap Miku muram. "Berapa lama kamu akan tetap seperti ini?"
Miku tidak bergerak sedikit pun. Ekspresinya kosong. Rambutnya yang indah berantakan. Gaun hitamnya tampak lusuh dan penuh debu. Mulutnya terbuka, bergumam dengan gagap, "he is my everything."
fin.
