Work Text:
Angin laut berhembus tenang, masuk ke sela jendela yang tak tertutup, seolah membiarkan lembutnya cahaya jingga dari langit sore hari menerangi kamar dua sejoli yang kini sibuk memadu kasih.
"ahnnn Morhhh" desah lembut si puan, yang menyengkram lembut rambut suaminya yang berada di antara kedua pahanya.
"Hmm?" Yang dipanggil hanya bergumam. Ia masih fokus melahap kemaluan istrinya sambil sesekali menggoda klitoris yang mulai berkedut lembut.
"Sayang, sebentar. Biarin aku keluar." suara Hertha berubah mendayu, seakan memohon pada suaminya untuk memberi jeda. Ia tak sanggup karena sesapan Mora pada kemaluannya terasa terlalu nikmat.
"Hmm, go on. Come for me, tha. I wanna see you trembling." Mora mengangkat kepalanya, tersenyum sejenak sambil menatap telak kedua mata istrinya, tanpa mengurangi rangsangan yang kini digantikan oleh kedua jarinya.
"Ahhh hngggn" kalimat Mora layaknya mantra bagi Hertha. Yang Mora lakukan, tak lebih dari memilin lembut klitorisnya, namun mampu menghantarkan Hertha pada pelepasan hingga tubuhnya bergetar hebat.
Mora tersenyum kagum saat melihat lendir bening merembes dari liang kemaluan istrinya. Tanpa ragu, ia kembali mendekat dan mulai menjilati cairan itu, menyesap liang yang kini berkedut lembut, sebelum akhirnya ia tenggelamkan wajahnya dalam selangkangan istrinya.
Hertha memang luar biasa. Sudah dua hari berturut-turut Mora menyesap kemaluan istrinya, dan belum ada tanda-tanda ia bosan mengecap manis kemaluan Hertha yang begitu basah, mengingat hari ini masih dalam fase ovulasi yang selalu mereka berdua nantikan.
Mora terkekeh dalam hati. Sesapan yang barusan ia berikan, malah memancing lendir manis itu semakin merembes, seolah mengundang Mora untuk masuk ke dalam liang istrinya yang bisa ia pastikan begitu hangat dan basah. Seolah menyatakan betapa siap rahim sang istri menerima benih darinya. Pikirannya barusan membuat kelaminnya berkedut antusias.
"Sayang, I'm gonna put it in." bisik Mora lembut sebelum ia mendekat dan mulai menciumi leher Hertha yang tersenggal saat merasakan ujung kelamin suaminya mulai masuk ke bibir kemaluannya.
"Morhh, go deeperhh" protes Hertha karena merasakan tusukan dangkal Mora dalam kemaluannya.
Mora terkekeh gemas. "Say please?" ucapnya lembut namun sarat akan godaan.
"Hnnn pleasee??" Hertha tak fokus, tusukan dangkal Mora memang selalu nikmat. Namun tujuan mereka bersetubuh ini bukan hanya untuk mencari nikmat seperti saat mereka hanyalah sepasang kekasih.
"Say it properly, sayang. Let me hear what you want." ucap Mora sesaat setelah mensejajarkan wajahnya tepat di hadapan wajah Hertha.
Jujur saja, sebenarnya Mora tak bisa menahan diri lebih lama. Namun melihat ekspresi menggemaskan Hertha membuatnya bertahan. Mora yang gemas mengecupi kedua pipi Hertha sambil terus menggodanya dengan tusukan dangkal, namun dengan tempo yang sedikit lebih cepat.
"Morhh.." "Mi amore~ please go deeper inside me." "Hnnhhh" "I need you to fill my womb.." "Please Morhh" ucap Hertha kewalahan.
Mi Amore
Panggilan sayang dari Hertha selalu membuat hatinya berdegup kencang. Mora langsung menyambar bibir mungil istrinya untuk ia bawa pada ciuman dalam, tak lupa ia kabulkan keinginan Hertha tanpa mengurangi tempo tusukannya.
Berbanding terbalik dengan cepatnya tempo tusukan Mora, ciuman mereka berdua begitu pelan dan lembut. Seolah Mora ingin menikmati bibir istrinya secara perlahan. Mora bersumpah, sebisa mungkin ia ingin Hertha tau betapa Mora mencintainya. Kedua tangan yang bertumpu di sisi tubuh Hertha menangkup tepat di puncak kepala Hertha, seolah melindungi kepala Hertha agar tak terantuk headboard mereka, mengingat hentakan cepat yang Mora berikan padanya.
Tak butuh waktu lama, ciuman mereka terpaksa Mora hentikan. Hertha menyengkram pundak Mora, lalu dengan suara mendayu, mengatakan bahwa ia sudah dekat pada pelepasannya.
"Me too, sayang. I'm close." ucap Mora sebelum akhirnya ia letakkan kepalanya di ceruk leher Hertha.
Hertha sampai. Lelehan lendir hangat yang melingkupi kelamin Mora, menghantarkannya pada pelepasan. Mora tetap mengeluar-masukkan kelaminnya yang masih menyemburkan benihnya pelan, seolah memastikan semua benihnya masuk dalam rahim Hertha.
Puas dengan pelepasannya, Mora mencabut tautan kelamin mereka, lalu berbaring disamping Hertha yang masih mengais nafas. Mora raih Hertha kedalam rengkuhannya, lalu mengelus rambut hitam Hertha, berusaha memberi kenyamanan pada Hertha yang masih larut dalam nikmat pasca pelepasan mereka berdua.
Cukup lama mereka berpelukan. Hertha yang terlalu nyaman dalam dekapan Mora, telah memejamkan matanya dan mendengkur halus sejak beberapa menit lalu. Mora tersenyum saat menyadari Hertha yang kini tertidur. Tanpa membuat gerakan yang menganggu tidur Hertha, ia lepaskan rengkuhannya sejenak, lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri, Mora kembali dengan membawa sebuah baskom berisi air hangat dan sebuah handuk kecil. Perlahan, ia mulai membersihkan tubuh Hertha yang masih terbaring lelap. Seolah Hertha adalah porselen, Mora mengusap sekujur tubuh Hertha selembut mungkin. Setelah tubuh Hertha bersih, Mora mendekatkan wajahnya ke perut bawah Hertha, mengecup lembut tepat di atas tulang kemaluan istrinya.
"Kali ini, tolong jadilah dan tumbuh dengan baik." bisik Mora sebelum ia selimuti tubuh Hertha.
Seorang gadis mungil yang terlihat belum fasih berbahasa menggumam menggunakan bahasa yang hanya dipahaminya sambil menarik-narik ujung baju Hertha.
"Mmaa maa~" celoteh gadis itu lucu karena sudah mendapatkan perhatian ibunya.
"Okey, ayo kita jemput papa! Mama lap dulu bibirnya ya nak.." ucap Hertha pelan, mengangkat gadis mungil itu dari babywalker, dan membersihkan remahan biskuit yang terlihat di sekitaran mulut si gadis kecil.
Hertha menggendong si kecil sambil berjalan menuju pintu rumahnya, bermaksud keluar dan menunggu suaminya pulang dari dermaga. Baru saja ia buka pintu, terlihat Mora yang berjalan tenang sambil tersenyum saat bertemu pandang dengannya.
"Eh.." "iyaa nak, itu papanya masih jalan" ucap Hertha menegur si kecil yang menggeliat antusias, seolah ingin turun dan berlari menyambut papanya.
Melihat si kecil dalam gendongan Hertha bergerak riang, dari jauh Mora melambaikan tangannya antusias sambil berlari kecil, seakan ia adalah bocah sd yang menyapa sahabatnya sepulang sekolah.
"I'm home!!" ucap Mora riang sebelum ia kecup kening Hertha lembut, dan mengambil alih si gadis kecil kedalam gendongannya.
Menggandeng tangan Mora, Hertha menuntun suami yang kini menggendong anak mereka untuk masuk ke dalam rumah. Hati Hertha menghangat, ia lihat putrinya tertawa riang saat Mora mengecupi pipi gembilnya yang mulai memerah.
Hertha terkekeh, ia berjalan menuju island table dan mulai menyeduhkan teh untuk Mora. Sesekali, ia melirik interaksi Mora dan putri mereka yang kini berada di sofa ruang depan.
"Papa kangen sekali, nak. Kamu ditinggal dua minggu kok sudah sebesar ini?"
"Nyaa. Ppa giii"
"Hmm iyaa. Papa lama ya perginya? Maaf ya sayang."
"Nyaaa!!"
"Iya, iya. Minggu depan papa ga akan ikut papi Jo biar bisa main sama kamu."
"Hhe hehehe"
Hertha yang mendengarkan percakapan Mora dan putri mereka hanya bisa tersenyum gemas. Saat ia menuangkan air mendidih, tanpa sengaja air itu menyiprat pada tangan kirinya. Namun, Hertha tak merasakan apa-apa.
Hertha termenung.
Tidur Hertha terusik. Perlahan ia kerjapkan matanya, dan ia temukan kamar tidurnya yang gelap. Tangan Mora melingkari pinggangnya, terdengar dengkuran halus dan ia merasakan hembusan nafas di tengkuknya. Hertha melirik nakas, jam masih menunjukkan pukul dua pagi.
Selalu seperti ini.
Tanpa sadar, air mata menggenang pada pelupuk matanya. Inilah yang Hertha benci. Perasaan berat dan kehilangan selalu ia dapatkan setiap ia terbangun, dan menyadari bahwa yang ia alami barusan hanyalah mimpi. Saat setetes air mata jatuh mengalir melewati pipinya, Hertha mengusak wajahnya kasar.
Perlahan, Hertha lepaskan pelukan Mora pada tubuhnya. Tak mau mengusik Mora yang terlelap, Hertha bangkit sepelan mungkin, memakai kembali bajunya dan berjalan keluar, menuju island table di dapur mereka. Hertha menyeduh teh Chamomile.
Tidak. Hertha tidak berharap teh itu dapat membantunya tidur. Sudah bisa Hertha pastikan ia tak akan melanjutkan tidurnya malam ini.
Hertha bawa teh itu menuju sofa ruang depan, meletakkannya pada meja, sebelum akhirnya bergelung pada kedua lututnya yang tertekuk. Hertha berusaha sebaik mungkin untuk tidak bersuara. Usaha terbaiknya adalah membungkam isakannya dalam-dalam pada kedua pahanya.
"Aku mohon. Kali ini jadilah."
"Aku mohon, siapapun, tolong kami."
Hertha memohon, ia berbisik pada siapapun yang mau mengabulkan permintaannya. Tangannya tak berhenti mengusap perut bawahnya, seolah dengan begitu, kesempatan untuk benih Mora menjadi bayi bisa lebih cepat menjadi nyata.
Lima Tahun.
Lima Tahun sudah sejak Hertha resmi diperistri Mora. Lima Tahun sudah rumah mungil mereka sepi tanpa ada suara celoteh bayi. Lima Tahun sudah Hertha melihat Mora yang begitu sabar menanti kehamilannya lagi.
Lagi?
Hertha sudah pernah hamil. Dua kali ia kehilangan bayi dalam kandungan. Dua kali Hertha dan Mora kehilangan kesempatan untuk menjadi orang tua. Kehilangan yang mereka alami, bukanlah salah siapa-siapa.
Kehamilan pertama Hertha terjadi saat usia pernikahan mereka menginjak satu tahun. Saat itu, Hertha baru berusia 22 tahun. Hertha yang begitu muda, kehilangan bayinya yang baru bersamanya tiga bulan, karena rahimnya yang belum terlalu kuat menampung calon anak mereka.
Kehamilan kedua, Hertha berusia 24 tahun. Calon bayi itu gugur karena Hertha mengalami kecelakaan saat mengemudikan mobil menuju rumah orang tuanya. Gugurnya kandungan kedua inilah yang membuat Hertha selalu menyalahkan dirinya sendiri.
"Hksss" isakan lolos dari bibirnya yang kini bergetar. Hertha mengambil nafas, dan mulai menata segala perasaannya. Ia tak mau terlalu larut dalam kesedihannya dan berakhir membangunkan Mora karena isak tangisnya.
"Aku mohon, biarkan kami punya anak."
"Aku mohon, biarkan Mora menjadi seorang Ayah."
"Aku janji akan jauh lebih hati-hati. Aku janji akan melakukan apapun untuk melindungi bayiku kali ini."
Masih berusaha menahan isakan, Hertha berbisik pelan namun sarat akan permohonan. Tak henti-hentinya ia berdoa, meminta kemurahan hati Tuhan untuk menghadirkan bayi dalam kehidupannya bersama Mora.
Mora mengerjapkan matanya saat ia mendengar isak tangis. Ia mengumpulkan kesadarannya, dan mendesah resah karena tak menemukan Hertha disampingnya. Mora tahu, istrinya pasti sedang kacau sekarang.
Mora ubah posisi berbaringnya menjadi terlentang. Satu lengannya menyangga kepalanya, sedangkan satu tangannya mengusak wajahnya kasar. Mora mendengus.
Sayup-sayup, terdengar suara Hertha yang sedang memohon dan merapalkan doa. Dalam hati, Mora mengamini segala permohonan yang terdengar olehnya, dengan hati yang mencelos sakit.
Mora selalu ingin punya anak. Sebisa mungkin, ia tahan keinginannya agar tak membebani Hertha yang masih berduka. Sudah tiga tahun sejak kehamilan kedua yang gugur, namun Mora bersumpah, demi Hertha, ia masih bisa menunggu lebih lama. Bahkan jika akhirnya mereka tak dikaruniai anak, Mora pun dengan ikhlas hati akan menerima.
Mora larut dalam pikirannya sendiri. Ia masih berbaring di ranjang, masih mendengar sayup-sayup isakan Hertha di ruang depan. Mora tak bergerak, posisinya masih sama. Sesekali, ia hanya menghela nafas panjang.
Mora membiarkan Hertha menghadapi rasa sedihnya sendiri. Bukannya Mora tega. Mora tahu, di detik Hertha sadar Mora terbangun karenanya, Hertha akan semakin merasa bersalah. Mora tak mau Hertha yang merasa bersalah malah menyembunyikan segala kesedihannya. Mora tak mau Hertha berpura-pura bahwa ia baik-baik saja seperti yang sudah-sudah.
Yang Mora inginkan hanyalah Hertha melepaskan kesedihannya dengan caranya sendiri. Mora ingin Hertha terbuka padanya, saat Hertha siap. Seperti yang sudah-sudah, pada akhirnya, Hertha akan datang padanya saat siap menceritakan apa yang Hertha rasakan dan pikirkan, dan Mora akan menyambutnya dengan hangat dan berakhir selalu menenangkan Hertha. Itulah cara mereka saling mencintai sejak mereka masih menjadi sepasang kekasih.
Waktu terasa begitu cepat saat mereka berdua larut dalam pikiran dan perasaan mereka masing-masing. Tau-tau, mereka berdua berjengit kaget saat mendengar alarm dari ponsel Hertha yang tergeletak di nakas. Dengan sigap, Mora langsung memejamkan matanya seolah ia masih tertidur saat ia dengar langkah kaki Hertha mendekat ke arah kamar.
Suara alarm sudah tak terdengar. Hertha berjalan mendekat kesamping Mora yang terlihat masih memejamkan mata, lalu mulai mengelus pundak Mora lembut sambil sesekali ia kecup pipi suaminya.
"Mor, wake up~" "udah jam 6, sayang. Kemarin katamu harus ke dermaga kan?"
"Hmm" jawab Mora dengan suara yang ia buat-buat, agar Hertha tidak curiga.
"Ayo, mor. Nanti telat~" ucap Hertha lembut. Dengan usil, Hertha meniup-niup telinga Mora yang ia lihat masih memejamkan mata.
"Mor~" "Mi Amor-AAAA" Hertha berteriak kaget saat tiba-tiba Mora menarik tubuhnya hingga terbaring membelakangi Mora.
"Shhh give me ten minutes." Bisik Mora tepat di belakang Hertha yang kini ia dekap erat membelakanginya.
"Ten minutes are too long!" ucap Hertha terkekeh sambil mengelus lengan Mora yang melingkar erat di perutnya.
Tak ada jawaban dari Mora. Yang Hertha dapatkan hanyalah tepukan lembut pada perutnya, dan kecupan kecil pada puncak kepalanya. Punggung Hertha menempel nyaman tepat di dada Mora. Terlalu nyaman hingga tanpa sadar Hertha mulai menguap dan semakin menyamankan diri dalam rengkuhan suaminya.
Tak sampai sepuluh menit, keduanya berakhir terlelap sambil berpelukan. Biarlah. Biarlah kali ini Mora tak datang ke dermaga. Ia butuh istirahat. Istrinya butuh istirahat.
Hari itu, mereka habiskan setengah hari dengan tertidur lelap sambil secara tak langsung saling memberi ketenangan pada diri masing-masing.
Hertha mengenal Mora pertama kalinya saat ia harus menemani Jonathan untuk hadir pada upacara kelulusan Mora, menggantikan Thea yang harus membawa Jordan menemui orangtua Thea di kota tetangga.
Mora yang merupakan junior kesayangan Jonathan di kampus, memohon pada Jonathan untuk menggantikan kedua orangtuanya yang sudah tiada, untuk menghadiri upacara kelulusannya. Jonathan yang membawa Hertha, membuka jalan mereka berdua untuk saling mengenal, setelah sebelumnya Hertha hanya melihat Mora yang sesekali mampir bermain ke rumahnya tanpa adanya interaksi selain bertukar senyum sapaan.
Hubungan Mora dan Hertha berjalan mulus. Hertha yang sebelumnya selalu dikelilingi lelaki yang berusaha mendekatinya, kini jauh lebih tenang setelah bersama Mora. Tak ada lelaki yang berani mendekatinya setelah tau bahwa Hertha menjadi kekasih Mora.
Mora jauh dari kata menakutkan. Mora hanyalah pria tampan yang selalu membuat pria manapun berkecil hati saat tau sebaik apa pribadi Mora jika mereka harus bersaing dengannya. Mora tak hanya tampan, ia cerdas, panjang sabar, dan selalu bisa menempatkan dirinya sebaik mungkin. Di kota kecil pinggir pantai yang mereka tinggali ini, tak ada seorangpun yang tak mengenal Mora.
Mora yang dasarnya menyukai Hertha sedari dulu, hanya butuh setahun untuk menjadi kekasih Hertha, sebelum akhirnya ia lamar kekasih manisnya itu.
"If you're going to be with him, I'm okay kid. I trust him. He lived by his name, the healer. But not only that. I know you'll safe and sound if you're end up with him." "Trust me, you'll both live happily for the rest of your life." ucap Jonathan saat meyakinkan Hertha untuk menerima lamaran Mora.
Hertha mengerti maksud kakaknya. Usia hubungan mereka baru setahun, namun Hertha tau dan yakin bahwa Mora adalah pribadi yang baik. Hanya saja, Hertha butuh diyakinkan bahwa tak apa baginya untuk menikah secepat ini.
"Jo, kayanya kecepetan ga sih? I mean, we're both young. We still have so many times to experience things before married." balas Hertha resah, seolah kembali tak yakin untuk menerima lamaran Mora.
"Heh bocah! At least kalian berdua ga nikah setelah Mora graduate kemaren ya. Lagian, kalo mau bilang kecepetan itu gue sama Thea dong! Beres Graduation, lusanya nikah. Ga ada tuh bingung mau experience things sendiri-sendiri?!" balik Jonathan sedikit kesal atas pemikiran adiknya.
"Ya gimana mau kaya lu, Jo?! Kenal Moranya aja baru pas dia Graduation?! Ga masuk akal lu." Dengus Hertha sebal. Namun, sadar bahwa kakaknya kesal, Hertha malah berubah jahil. "Lagian kalo waktu itu lu undur nikah lu, keburu lahiran itu kak Thea." lanjut Hertha jahil.
"Mulai ngeselin lu, tha." Alih-alih semakin kesal, Jonathan malah terkekeh karena adiknya mulai membahas masa lalunya. Jonathan tak menyesali apapun, karena memang pada dasarnya Jonathan secinta itu pada Thea. Hadirnya bayi dalam kehidupan mereka sebelum menikah, tak mengubah apapun pada Jonathan dan Thea.
Hertha dan Jonathan tertawa terbahak mengingat paniknya Thea dua minggu sebelum upacara kelulusan Thea dan Jonathan yang datang dalam keadaan kacau dengan membawa testpack yang menunjukkan hasil positif.
"Shh masih aja dibahas." ucap Thea gemas pada dua kakak beradik yang kini semakin terbahak melihat wajah Thea yang kesal.
"Jordan udah bobo, hon?" tanya Jonathan lembut
"Udah. Tolong bikinin teh dong, biar aku yang ngomong. Ini harusnya tuh girls talk ya, Jo!"
"Iyaa, iyaa" ucap Jonathan sambil terkekeh geli atas pernyataan istrinya. Thea tak menggubris Jonathan. Ia menghela nafas pelan, sebelum akhirnya meyakinkan ipar cantiknya yang kini menatapnya seolah menunggu.
"Tha, ga kecepetan. You know him, he know you. He loves you, he loves all of us. He's a great man, and you know that. Kalau cuma buat experience things before marriage, emang those things yang mau kamu lakuin ga bisa kalo udah married?" ucap Thea panjang sambil menggenggam tangan Hertha.
"Ya bis-"
"Nah yaudah. Lagian, lebih enak kalau dijalanin berdua. Lebih enak kalau dirasain berdua loh, Tha." Thea potong cepat jawaban Hertha. Thea tau, alasan Hertha hanyalah ungkapan kebingungan Hertha yang tak berdasar.
"Ya tap-" belum sempat Hertha selesaikan sanggahannya, Thea memotong kalimat yang akan ia ucapkan.
"Can you live without him?" tanya Thea serius
"Ya bis-" Hertha menjawab yakin. Pada dasarnya, Hertha tau bahwa ia dididik dengan baik oleh kedua orang tuanya. Tak mungkin ia mati hanya karena seorang lelaki.
"Mau, hidup ga sama dia?" tanya Thea tenang
"Eh, ya gamau. Maunya sama Mora."
"Marry him, then."
Semudah itu, Thea meyakinkan Hertha untuk menerima lamaran Mora.
Tiga minggu setelah masa ovulasinya, Hertha mulai berharap-harap cemas. Berarti, sudah seminggu ia telat datang bulan. Jantung Hertha bertalu-talu saat memikirkan kemungkinan - kemungkinan alasan telatnya fase datang bulannya. Walaupun masih terlalu dini untuk mengecek penyebabnya, Hertha melesak menuju minimarket dan membeli sebuah testpack.
Sebelum ia gunakan testpack yang baru ia beli, Hertha memejamkan matanya dan dengan sungguh-sungguh merapalkan doa layaknya mantra, seperti yang sudah-sudah. Setelah dirinya cukup tenang, Hertha gunakan testpack itu, lalu termenung beberapa saat.
Bayangan hanya satu garis tertera seperti yang sudah-sudah membuatnya cemas. Ia putuskan menyembunyikan testpack itu tanpa melihat hasilnya di belakang cermin kamar mandi mereka. Hertha takut kecewa. Biarlah nanti ia lihat hasil testpack itu bersama Mora.
Mora yang baru saja kembali dari dermaga, tersenyum lembut pada Hertha yang baru saja keluar dari kamar mandi. Hertha menghambur dalam pelukan Mora. Seperti biasa, Mora mengecupi seluruh wajah istrinya yang begitu manis dalam pelukannya.
Beberapa saat setelah makan malam, Mora bersandar pada headboard mereka dan mulai melanjutkan buku yang belum sempat ia selesaikan. Hertha menyandarkan kepalanya nyaman pada sisi lengan Mora, berusaha fokus melihat tayangan televisi di depannya. Hertha gagal fokus. Dalam dirinya, ia masih menimbang-nimbang haruskah ia mengganggu Mora yang begitu fokus dalam bacaan ditangannya. Tanpa Hertha sadar, ia menghela nafas panjang.
"Sayang, is there something bothering you?" ucap Mora sejenak melirik Hertha yang kini beralih memainkan jari-jarinya tak fokus.
"Nothing. Aku cuma mikir sebentar."
"Mikir apa sayang?" Mora tutup bukunya dan meletakkannya di nakas tepat di sisi ranjangnya.
"Aku telat." Jawab Hertha.
"Berapa hari?"
"Seminggu." cicit Hertha ragu
"Hmm okay."
"Okay?" Hertha bingung, atas jawaban Mora yang terkesan begitu tenang, seolah tak peduli.
"Iya okay, sayang." Mora masih menjawab dengan tenang.
"Kok okay sih?!" Nada Hertha meninggi.
"Ya okay. Aku harus jawab apa?" Mora tak terpancing. Dengan tenang ia balik bertanya. Mora mengerti arah pembicaraan Hertha. Ketenangan Mora tak lebih dari usahanya untuk menahan diri agar tak mengecewakan Hertha jika apa yang mereka harapkan tak sesuai dengan kenyataan, seperti yang sudah-sudah.
"Ya ga harus jawab yang gimana-gimana. Tapi kamu ga excited? Ga khawatir?" Bulir-bulir air mata mulai menggenang di pelupuk mata Hertha.
"Sayang, hey, kok jadi gini?" Mora kini benar-benar bingung saat melihat genangan air mata di pelupuk mata Hertha. Ia tak berharap reaksi tenangnya malah membuat Hertha sesedih ini.
"Mor, okay mu tuh kaya selempeng itu." "Kamu beneran nyerah?" ucap Hertha dengan suara bergetar.
"Sayang, nyerah?" "Aku ga nye-" jawab Mora begitu lembut, berusaha menenangkan Hertha.
"I know you gave up when you sold our baby's shoes." Setetes air mata yang tak berhasil Hertha tahan, mengalir menuruni mata kirinya. Mora menghela napas panjang saat mendengar ucapan Hertha. Ia tak menyangka, tindakannya dua tahun lalu membuat Hertha menyembunyikan kesedihannya.
"Sayang, listen. It's not because I gave up." "If I could, I want to keep it as much as you want to. Tapi ga bisa sayang." "It breaks my heart every time i see you crying, holding that shoes.""How can I see you that way?" Mora berusaha setenang mungkin memberi penjelasan pada Hertha walau suaranya bergetar menahan kesedihannya, mengingat betapa kacaunya Hertha saat itu.
"Aku minta maaf. Aku bener-bener minta maaf atas sepatu bayi itu, Tha." "Aku tau betapa senengnya kamu pilih sepatu itu. Aku tau kamu mau keep it as part of our memories." Gagal. Mora gagal menahan kesedihannya sendiri. Ia genggam kedua tangan Hertha, mengecupinya lembut seolah menghantar segala penyesalannya atas tindakannya saat itu.
"Tapi maaf aku gabisa, sayang. Aku tau betapa hancurnya kamu setiap liat sepatu itu. Aku gamau kamu punya memori buruk. Aku gamau kamu makin nyalahin dirimu sendiri setiap liat sepatu itu." Walaupun tak terisak, air mata cukup deras mengalir dari mata Mora yang kini memerah.
"Demi apapin, aku ga pernah nyerah. Aku masih mau mengusahakan bayi kita di masa depan, as long as it doesn't make you sad." Mora hapus air matanya, lalu membawa Hertha pada dekapannya dan mulai mengelus punggung itu lembut.
"Mor.. maafin aku. Maafin aku.." ucap Hertha yang menangis kian deras setelah mendengar segala ucapan Mora.
"Shhh aku juga minta maaf, sayang. Aku terlalu lama ya ngebiarin kamu hadapin ini semua sendirian?" Bisik Mora lembut sambil tak berhenti menenangkan Hertha. Hertha hanya menggelengkan kepalanya cepat, membantah pertanyaan Mora.
Cukup lama mereka berpelukan. Sadar bahwa Hertha sudah tenang, Mora bertanya pada Hertha.
"Tadi, waktu aku pulang, kamu habis test?" Pertanyaan Mora hanya dijawab anggukan pelan oleh Hertha.
"Udah tau hasilnya?"
"Belum. Aku takut kecewa." cicit Hertha
"Kita liat berdua ya?" "Kita hadapin sama-sama." ucap Mora tenang, mengelus lembut rambut Hertha
"Okay."
Perlahan, Hertha bangkit menuju kamar mandi untuk mengambil testpack yang tadi ia sembunyikan. Setelah itu, tanpa melihat hasilnya ia menuju ranjang, dan duduk di ujung, cukup jauh dari Mora.
"Hey, I wanna see it too." kata Mora geli melihat Hertha yang takut-takut. Mora mendekat pada Hertha yang menunduk dalam. Tanpa Mora tau, Hertha mengintip hasil testpack itu.
"What if it's positive?" ucap Hertha takut
"We'll be the happiest couple, and loving parents, i guess." jawab Mora bingung atas pertanyaan Hertha yang begitu retoris.
"But, what if it's not?" tanya Hertha berubah sedih.
"Then we'll try again next month." ucap Mora lembut, sambil memeluk pundak Hertha dari samping.
"Don't worry, sayang. We're young. I'm still able to do you as much as we have to bring our baby to us." bisik Mora jahil, berusaha membuat Hertha tertawa atas ucapan penuh nafsunya di akhir kalimatnya.
Hertha mendesah sedih.
"It's such a shame."
"Have you seen it?" Mora mengubah posisinya berlutut di depan Hertha, seolah menyiapkan diri untuk menguatkan Hertha saat melihat hasil negative testpack dalam genggaman.
"It's such a shame, you'll have to please yourself for months.." kata Hertha pelan, menyodorkan hasil positive pada testpacknya tepat didepan Mora yang kini termenung.
"Oh my God!" "Oh Lord! Thank you so much!" "Thank you" ucap Mora sambil melompat kegirangan, sesaat setelah ia mencerna perkataan Hertha dan hasil testpack yang kini beralih pada tangannya.
"Sayanggg, thank you so much! I love you!" Dengan suara bergetar, Mora menerjang tubuh Hertha untuk memeluknya erat-erat, tak bisa membendung kebahagiaan yang kini mereka rasakan.
"My baby, please be well" Mora, terisak. Masih dalam posisi memeluk Hertha, tangan kanannya menjulur untuk meraba perut bawah Hertha lembut, dan berakhir menangis dalam pelukan Hertha.
Hertha tertidur di sofa ruang depan dengan perutnya yang mulai membuncit. Kehamilannya sudah memasuki bulan kelima. Menurut pada ucapan Mora sebelum kembali mengeksplorasi lautan, Hertha pastikan ia selalu memakai pakaian yang hangat.
Entah mengapa, belakangan ini Hertha tak bisa tidur di kamar. Hertha mengerjapkan matanya saat ia mendengar suara.
"Did I wake you up?" "I'm sorry sayang." ucap Mora lembut.
Melihat hari yang sudah gelap, ia bangkit, membawa teh chamomilenya yang sudah dingin menuju kamar dan mulai berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.
"Sayang, you're getting thinner and thinner.." bisik Mora prihatin. Rindu pada bayi di dalam perut Hertha, Mora mengelus lembut perut Hertha, seolah memberi kenyamanan lebih pada istrinya.
Mengambil posisi berbaring di samping istrinya, Mora berbisik pelan. "I'm sorry, sayang. Harusnya aku ga berangkat kalau akhirnya kamu jadi begini."
Suara alarm membangunkan Hertha yang kini menggeliat resah, merasakan bahwa ia tak memiliki energi lebih untuk menjalani hari. Namun, Hertha memutuskan untuk bangkit perlahan setelah menarik nafas panjang. Hertha langkahkan kakinya menuju kamar mandi, membasuh dirinya dengan air hangat, sebelum bersiap di depan cermin.
Hertha yang duduk di depan cermin riasnya, mulai memoles wajahnya senatural mungkin, berusaha menyamarkan kantung mata yang kian terlihat menggelap. Ia berusaha mencerahkan pucat kulitnya dengan bubuhan blush lembut, tanpa mengurangi kesan natural pada riasannya.
Hertha mengambil dress yang tergeletak di sisi ranjang, ia terdiam sejenak. Hertha tak sanggup memakainya. Lagi, ia menarik napas panjang, berusaha menahan segala sesuatu yang ia rasakan. Perlahan tapi pasti, akhirnya dress hitam selutut yang selalu menjadi favorit Mora, terpasang rapi pada tubuhnya.
Hertha mual. Buru-buru ia melesak menuju kamar mandi, dan memuntahkan isi perutnya, yang tak lebih dari air dan sedikit teh chamomile sisa kemarin. Mora buru-buru melesak kedepan pintu kamar mandi.
"You should eat, sayang. You have to keep our baby safe and healthy." ucap Mora lembut sambil menepuk- nepuk pelan punggung Hertha.
Selesai membersihkan dan merapikan dirinya untuk kedua kali, Hertha bangkit, berjalan pelan seakan tak siap untuk keluar dari rumahnya.
"I'll guide you, sayang. Keluar, hirup udara segar. Tapi kali ini jangan lama-lama, ya." ucap Mora lembut sambil berjalan disamping Hertha.
Hertha sampai di halaman belakang rumah. Dari situ, ia bisa melihat hamparan lautan yang membentang sejauh mata memandang.
Bau laut.
Begitu asin, terkadang sarat akan bau besi.
Begitu memuakkan.
Hertha mual.
Hertha tak pernah membenci laut seperti ini. Biasanya, ia hanya kagum, tanpa ada rasa mendamba dan mencinta laut sebagaimana Mora yang selalu gembira hanya dengan mencium samar bau asin lautan. Hertha dulu menyukai laut, ia suka melalui cara Mora menceritakan segala hasil eksplorasinya dengan antusias, layaknya bocah yang bercerita tentang cinta pertamanya.
"In the end, you love the ocean so much more than you love me, Mi Amore.." bisik Hertha lembut, tanpa sadar air matanya menetes.
"Sayang, I love you more than anything else." "I'm sorry. I'm so sorry I leave you this way." Dada Mora begitu sesak. Ia menangis, berlutut memohon ampun pada Hertha yang kini memandang jauh ke lautan.
"Tha, ayo masuk. Udah mulai panas." ucap Thea dari jauh, baru saja sampai di depan rumahnya, sambil menggandeng Jordan.
"Hmm.." balas Hertha singkat, ia mulai berjalan pelan untuk masuk, diiringi Mora yang mulai bangkit dan mengikutinya dari belakang.
"Packingnya nanti aja, Tha. Sepulang dari pantai, kalau kamu ga cape. Kalau butuh bantuan, bilang ya."
"Iya, Jo.." balas Hertha singkat.
"Tha, i have something for you." ucap Thea singkat sebelum ia membawa dua kotak kecil untuk diberikan ke arah Hertha.
Air mata Hertha menggenang. Ia kenal salah satu kotak kecil yang Thea berikan.
"I'm sorry. I should give it to you sooner. But, Mora told me to wait until you delivered them." "I always feel it's unfair to keep this away from you." bisik Thea lembut sambil mengelus perut Hertha.
Dua kotak kecil itu masing-masing berisi sepasang sepatu bayi. Satu yang begitu ia kenal, sepasang sepatu yang selalu ia genggam saat ia berduka. Sepatu yang ia kira telah Mora jual dulu.
"Yang satu lagi, Mora baru beli langsung titip di rumah, dua hari sebelum dia berangkat explore. Kata Mora, sekalian aja dikasih sama yang ini." Kata Jonathan menimpali.
Hertha hanya bisa diam. Hatinya begitu sakit. Ia memang sedikit senang saat tau sepatu bayi yang dulu ia tangisi ternyata hanya dititipkan di rumah kakaknya. Tapi, apa gunanya sekarang? Yang ia butuhkan bukan lah Thea ataupun Jonathan yang memberikannya padanya.
"Maaf aku sembunyiin di rumah Jo ya, sayang." "Ini satunya buat Nono. Yang lama buat Nana aja gapapa ya?" ucap Mora terkekeh walaupun ia kini sedang menangis. "I didn't know that you carry twins in you." lanjut Mora sambil menatap kosong pada perut Hertha.
"Maaa!!!" "Mamaaa" teriak seorang gadis kecil dengan rambut dikuncir dua, berlari ke arah mamanya yang sedang memasak makan siang.
"Na, mama disini, nak. Ga perlu teriak." ucap Hertha lembut.
"Ma, ayo jemput papa." ucap Nana memohon sambil menarik-narik ujung baju Hertha.
"Nono udah mandi belum?" tanya Hertha pada Nana
"Ya belom?! Kan Nono masih bobo siang." kata Nana dengan suara yang terdengar kesal.
"Ih yaudah, gausah jemput papa."
"Hhhrrhhhh NONO!!!" teriak Nana sambil menghentakkan kakinya menuju kamar kembarannya.
Hertha terkekeh. Kadang ia begitu heran dari siapa Nana mencontoh sikap yang begitu penuh emosi.
"Sayang, I'm home~" ucap Mora lantang, mengagetkan Hertha yang baru saja mematikan kompor. Mora berjalan mendekat pada Hertha setelah meletakkan bawaannya di ruang depan. Baru saja ia mengulurkan tangan untuk memeluk istri yang begitu ia rindukan, langkahnya terhenti tepat di samping istrinya.
"KAN?! NONO SIH GA BANGUN-BANGUN!"
"ISHH NANA BERISIK!"
Terdengar sahutan teriakan dari kamar Nana dan Nono. Mora hanya melongo. Tak menyangka kali ini anak laki-lakinya berani membalas teriakan kakak kembarnya.
"Mor, pisahin itu, keburu Nono dibanting sama Nana." ucap Hertha terkekeh.
Buru-buru, Mora melangkah menuju kamar anak kembarnya, menggendong Nono yang masih sesekali menguap sementara Nana berlari mengejar Mora yang kini berlindung dibalik tubuh Hertha.
"Na. Berapa kali mama harus bilang Nana buat belajar sabar?" ucap Hertha serius, menghentikan langkah Nana.
"Nana mau jemput papa. Nono ga bisa diajak kerja sama. Nana kesal, mama." cicit Nana menahan tangis.
"Papa udah disini, Na. Kali ini ga jemput papa kan gapapa, sayang?" tanya Mora lembut pada putri kecilnya. Nono yang masih dalam gendongan Mora, kembali terlelap karena merasa begitu nyaman menyandarkan kepala pada pundak lebar Mora.
Nana yang masih menahan kesal malah menangis, ia menghambur memeluk kaki papanya, melewati mamanya yang hanya bisa menatap interaksi mereka sambil menahan tawa.
"Ga mau, Papa. Nana maunya jemput Papa." cicit Nana dengan suara memelas.
"Hngg yaudah kita ulang ya. Papa jalan ke depan, Nana sama Nono jemput papa kaya biasa ya?." Rasa-rasanya, Mora selalu punya cara aneh untuk menenangkan putrinya.
"Huhuhu tapi itu Nono bobo lagi." sanggah Nana sambil menangis, menujuk pada kembarannya yang tertidur dalam gendongan Papanya.
"Iyaa, iyaa mama gendong. Ayo kita jemput papa." ucap Hertha sambil terkekeh.
Dengan begitu, Mora menyerahkan Nono untuk digendong Hertha, lalu ia berjalan keluar rumah. Cukup jauh sampai ia berada di ujung jalan menuju rumahnya. Saat ia berbalik, terlihat keluarga kecilnya yang menyambutnya pulang.
Seperti biasa, Mora melambaikan tangan antusias lalu berlari kecil mendekati rumah, sementara Nana yang begitu senang karena keinginannya dikabulkan ayahnya, berlari kencang agar bisa menghambur dalam pelukan papanya.
"Papa pulang." Kata Mora gemas sambil tak berhenti mengecupi pipi Nana yang kini berada di gendongannya.
"Selamat datang, papa." Balas Nana sambil terkekeh riang.
Hertha menggelengkan kepalanya sambil terkekeh melihat interaksi Mora dan Nana. Sementara dalam gendongannya, Nono hanya mengucek matanya malas, lalu menggumam
"Oleh-oleh buat Nono mana, pa?" tanpa peduli pada drama yang papa dan kembarannya buat barusan.
Keluarga kecil Hertha menutup drama siang hari itu dengan makan siang. Selepas makan siang, dengan sigap Hertha membawa piring-piring kotor untuk segera dicuci. Mora, yang baru saja membawa kedua anak mereka untuk melanjutkan tidur siang, membantu Hertha merapikan meja makan.
"Sayang, kamu masih simpen sepatu bayi Nana sama Nono?" tanya Mora pada Hertha yang masih fokus mencuci piring.
"Masih, Mor.." "I'll keep it forever." "Kenapa?" balas Hertha
"Gapapa" "aku tiba-tiba kepikiran aja." "Misal nanti aku pergi duluan, jangan lupain aku ya, sayang?" "I don't have tiny little shoes kaya bayi kita dulu buat kamu kenang. But, can you please keep me in your memories forever?" tanya Mora begitu tenang
"I will." "Udah jangan dilanjutin. Aku gasuka pembicaraan kaya gini." jawab Hertha lembut, namun sarat akan nada tak suka
"Sorry, sayang." bisik Mora sambil memeluk Hertha dari belakang.
"No, it's okay." "Aku cuma takut kalau kata-katamu jadi nyata." cicit Hertha.
Mora terdiam.
"Kamu tau ngga, dulu waktu kamu lamar aku, aku sempet ragu." kata Hertha memecah keheningan.
"Terus apa yang bikin kamu yakin?"
"Thea tanya, bisa ga, aku hidup tanpa kamu?"
"Kamu jawab apa, sayang?"
"Ya ku jawab bisa. Tapi aku gamau." "Aku gamau hidup kalo ga sama kamu, Mor.." ucap Hertha sungguh-sungguh.
"Sayang, sekarang udah gaboleh gitu ya. Sekarang, walaupun aku gaada, kamu harus tetep hidup. Kita udah punya Nana sama Nono. Apa pun yang terjadi, kamu harus bisa dan mau hidup demi mereka ya, sayang.."
"I'll try" Hertha menunduk dalam. Ia menahan tangis saat baru saja sebilah pisau menggores ujung jarinya. Hertha seketika sadar, bahwa ini semua hanyalah mimpi.
"Kalau aku gaada, dan kamu sekangen itu sama aku, genggam sepatu bayi Nono aja. It was the very last thing I gave to you, right?" ucap Mora tenang, seolah sudah tau sadarnya Hertha bahwa ini semua hanyalah mimpi. Hertha masih menunduk dalam saat berbalik menghadap Mora.
"Hkss." "Mor.." Hertha terisak. Terlalu sesak rasanya mendengar Mora yang berusaha menenangkan dirinya seperti saat Mora masih berada di sisinya.
"It's okay, sayang. You know I'll always be with you. In your heart, in your memories, or even like now, in your dreams." ucap Mora sambil mengelus lembut pipi Hertha.
"Aku gamau bangun, Mor.." "Can we stay like this?"
"Harus bangun, sayang. Besok mau pindah, kan?" "I want you to start your life tanpa sedih kaya kemarin-kemarin."
"Tap-"
"Jangan takut, aku ga kemana-mana." "Kemanapun kalian pergi, aku bakal terus ada di dalam hati kalian, kan?"
"I love you, Mor." "Kalau aku ga kuat, tolong doain aku supaya terus kuat buat anak-anak ya."
"Pasti, sayang. I love you. I love you more than I love the ocean."
Keduanya tersenyum geli setelah mendengar kalimat akhir Mora.
"Sweet dreams, sayang" ucap Mora lembut, sambil mengecup kening istrinya pelan.
Untuk pertama kalinya, Hertha tersenyum dalam tidurnya.
Hertha merasakan rengkuhan melingkari perutnya sebelum berganti menjadi elusan lembut. Hertha terusik, namun ia tetap memejamkan matanya. Ia masih tak memiliki energi untuk membuka mata demi melihat dunia yang tak ada Mora di dalamnya.
"Tha, wake up. We have to go." Bisik Thea lembut sambil memindahkan tangannya yang tadi mengelus perut Hertha, menuju lengannya dan menepuk-nepuknya pelan.
"Tha, I know you're awake already. Take your time. Barang-barang udah aku masukin mobil." "We'll wait outside" ucap Jonathan pelan, begitu prihatin pada kondisi adik kecilnya.
Thea yang sadar akan kode suaminya, keluar dari kamar Hertha. Jonathan yang baru saja akan menyusul Thea, menghentikan langkahnya saat mendengar isakan Hertha.
"Jo, I saw him last night. He was here. My love, Mi amore." Tangis Hertha semakin deras.
Jonathan mendekat dan memeluk adik kecilnya yang terlihat begitu memilukan. Jonathan tak bisa berkata apa-apa. Yang bisa ia lakukan hanyalah memeluk adiknya untuk sekedar memberi ketenangan.
"Can I stay here?" "Aku gabisa pindah, Jo." "What if he fades away after I go?" "What if i couldn't see him anymore?" "Aku mau disini." "Please, let us stay." Hertha meracau. Pikirannya begitu kacau, seolah lupa akan pesan Mora semalam.
Thea yang hanya mendengar tangisan dan racauan Hertha, kembali ke kamar Hertha untuk mengambil alih situasi.
"Tha, Mora ga akan bahagia liat kamu yang kaya gini." "I know you told me you don't wanna live without him, tapi sekarang harus, Tha." "Ada twins yang harus lahir. Anak kamu, anak Mora."
"Kamu ga pernah kehilangan Mora, Tha." "Ada bagian dari Mora yang menunggu buat dilahirkan." Lanjut Thea sambil menangkupkan telapak tangannya pada perut Hertha
"Kita pindah ya, nanti saat semua udah baik-baik aja, kamu boleh balik lagi kesini, Tha." "Kita tunggu di ruang depan ya. You can take all the time you need. Tapi, kita harus pindah." ucap Thea pelan, sebelum akhirnya ia raih lengan Jonathan untuk ikut keluar, bermaksud memberi waktu pada Hertha.
Setelah terdiam beberapa saat, Hertha menghapus air matanya. Ia bangkit dan berjalan pelan untuk membersihkan diri. Hertha mengemas barang terakhir yang tersimpan di bawah ranjangnya.
Dua pasang sepatu bayi.
Sepatu bayi untuk Nana dan Nono.
Setelah memastikan tak ada barang penting yang tertinggal, Hertha mengunci pintu. Ia terdiam sejenak, menyandarkan dahinya pada pintu rumahnya bersama Mora.
"I'll come back later, Mi Amor" bisik Hertha pelan sambil memejamkan mata.
"I'll wait for you" bisik Mora lembut, terbawa angin yang berhembus meniup rambut Hertha menjauhi wajahnya.
Hertha menarik nafas panjang, lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke mobil Jonathan. Jonathan mengemudikan mobilnya pelan. Duduk di kursi belakang, Hertha memangku dua pasang sepatu bayi, sambil menahan air matanya akibat rasa sesak yang membuncah dalam dadanya.
Tepat di ujung jalan menuju rumahnya, sekelebat ia melihat bayangan lelaki yang melambaikan tangan pelan, diiringi senyuman lembut menenangkan. Itu Mora. Batin Hertha menjerit rindu. Kepala Hertha menoleh kebelakang, berusaha melihat dari kaca belakang mobil Jonathan. Bayangan itu menghilang, tepat saat mobil mereka berbelok ke tikungan, seakan bayangan itu hanya akan menunggu di ujung jalan tempat Mora melambaikan tangan padanya dan anak-anaknya dalam mimpi-mimpi Hertha.
Tak mampu membendung air matanya, bulir demi bulir menetes, selagi ia menggenggam sepasang sepatu bayi yang lebih baru.
Tiny little shoes, the very last gift from Mora.
