Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-04-15
Words:
7,457
Chapters:
1/1
Comments:
23
Kudos:
611
Bookmarks:
75
Hits:
46,063

Rumah Nini

Summary:

Hani, anak tunggal kesayangan Papa dan Mama kabur ke rumah nenek karena Papa menjodohkannya dengan salah satu sepupu Mama. Hani harap berkat aksi kaburnya itu, hati Papa dan Mama melunak dan membatalkan perjodohan itu.

Notes:

Hani - Haechan
Runa - Renjun
Jian- Jisung
Melvin - Mark

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Nak, papa ga mau tau. Udah dari dua tahun lalu loh, kamu bilang mau kenalin calon kamu ke Papa sama Mama." "Papa bingung deh, sebenernya ada ga sih calon kamu?!" kata Papa dengan nada kesal sambil berkacak pinggang.

Duh mampus. Gue harus ngelak gimana lagi?!- batin Hani menjerit.

"Ya ada kok. Tungguin aja sih Pa. Hani tuh ga semp-"

"Banyak alasan. Udah lah. Kalo memang ada dan sampe sekarang ga pernah ke rumah, berarti dia ga serius sama kamu. Ga usah dilanjutin. Mending sekarang kamu nurut sama Papa." potong Papa tanpa membiarkan Hani menyelesaikan ucapannya.

Apanya yang mau dilanjut?! Orangnya aja ga ada.- Hani mulai kesal. Ia benar-benar tak tau cara apa untuknya membela diri.

"Tapi Pa. Aku tuh ga mau dijodohin. Aku ga kenal orangnya." "Lagian sepupu Mama?" "Tua banget pa. Ya kali, aku dijodohin sama om-om?!"

"Kalau kamu ga kenal, ya coba kenalan dulu, sayang." "Orangnya baik kok. Mama rasa juga kamu bakal cocok sama dia." "Lagian, dia ga tua kok. Kamu belom tau orangnya, kok udah nolak?" Mama berusaha menenangkan Hani

"Ya tapi Hani gamau, Mama. Hani masih muda, masih bisa cari yang sepantaran, kan?" "Lagian Hani gamau ya nikah sama orang bangkotan." Hani yang tak bisa menyembunyikan kekesalannya, mulai mencebikkan bibirnya.

"Huss mulutmu. Kalo udah tau yang mana orangnya juga bakal nyesel kamu pernah bilang kaya gitu." kata Mama sambil terkekeh gemas

"Kamu ini susah banget nurut sama Papa Mama ya. Kamu muda dari mananya? Tahun ini kamu umur 26, keburu ketuaan kalo nunggu calonmu yang ga jelas eksistensinya itu!" "Dijodohin juga nikahnya ga langsung besok. Kamu boleh kenalan dulu, mencocokan diri dulu." "Kamu dijodohin tuh karena Papa sama Mama kenal orangnya. Kami tau dia yang terbaik buat kamu." ucap Papa tegas. Sial sekali Hani, biasanya Papa akan luluh saat ia mulai menampakkan ketidaksukaannya pada sesuatu, apalagi jika ia mulai mencebikkan bibir mungilnya.

"Hani gamau. Pokoknya gamau." Hani bangkit dari duduknya dan menghentakkan kaki seiring langkahnya menuju kamar, meninggalkan Papa dan Mama yang masih duduk di ruang keluarga.

 

Hani namanya, wanita cantik, pintar, dan periang, yang entah kenapa selalu gagal dalam urusan percintaan. Walau sudah berusia 26 tahun, terhitung baru sekali ia membawa pasangannya ke rumah untuk dikenalkan pada Papa dan Mama. Jika diingat, pertemuan orang tua dengan pacarnya yang kini sudah menjadi mantannya itu, terjadi saat ia berusia 22 Tahun.

Sebenarnya, Hani tak menyalahkan kegelisahan Papa karena Hani tak kunjung membawa pasangannya untuk menemui orangtuanya. Hani tau, ia sudah masuk di usia yang seharusnya siap untuk menikah. Namun, Hani harus apa? Setelah putus dengan mantan terakhirnya, Hani benar-benar malas untuk berkenalan dengan orang baru. Hani malas memulai hubungan baru. 

Hani tau, akan ada waktunya ia dijodohkan. Mengingat sifat Papa yang selalu ikut campur dalam pilihan hidupnya. Hani tak keberatan, sebetulnya. Hani benar-benar tau bahwa pilihan Papa tak pernah salah. Hanya saja, Hani tak menyangka bahwa yang akan dijodohkan dengannya adalah sepupu Mama.

Selama Hani hidup, interaksi dengan keluarga Mama benar-benar minim. Hani hanya dekat dengan Nini, ibunya Mama yang kini tinggal di desa untuk menghabiskan masa tuanya di tempat yang tenang dan kondisi udara yang lebih baik daripada di rumah sebelumnya. Hani mana tau sepupu Mama yang Papa maksud?!

Berusaha menerka-nerka sepupu Mama yang tak ia ketahui itu, Hani bergidik saat terbayang pria tua dengan rambut beruban, perut tambun, dan keriput terlihat sana-sini yang benar-benar tak memanjakan mata. Hani langsung menggelengkan kepalanya heboh, berusaha menghilangkan bayangannya atas orang yang tak pernah ia temui sebelumnya.


Hani raih ponselnya, cepat-cepat ia mengetik pesan singkat bagi sahabat karibnya yang tega meninggalkan status lajangnya tiga bulan lalu.

Run, mampus gue. Papa akhirnya jodohin gue. -Hani

Gausah pake mampus, deh. Lebay lu. -Runa

Lagian kemarin-kemarin juga lu santai aja tuh ngebohongin Papa Mama lu tentang pacar bayangan lu itu. -Runa

Kualat lu. Mamam tuh konsekwensi bohongin Papa Mama lu. -Runa 

Ih anjing. Kok lu malah merepet ke gue sih?! Ga supportif lu jadi temen. -Hani

Gue kurang support apa lagi sih? Gue kenalin ke temen-temen laki gue, lu nolak. Gue ingetin mulu buat jujur aja ke Papa Mama lu, lu bantah. Gue harus apa lagi?! -Runa

Ya tenangin gue kek, nasehatin gue buat terima aja pilihan Papa kek, bukannya malah merepet anjir. -Hani

Nah, yaudah terima aja. Pilihan Papa lu harusnya mantep, sih. -Runa

Ah gamau anjir. Yang dijodohin ke gue tuh sepupu Mama. Gue gatau orangnya yang mana. Kayanya tua banget anjir, Run. Gue gamau nikah sama om-om bangkotan. -Hani

Kan, anjing lu emang. Baca ulang chat lu, deh. Tadi minta dinasehatin buat nerima, lu bantah sekarang kan? Udahlah gausah minta gue nasehatin lu lagi. -Runa

Udah gausah dibales lagi. Laki gue udah ngereog, udah jamnya dia dapet jatah. -Runa

Tai banget emang pasutri baru. -Hani

Ya lu buruan nyusul. Nikah sana sama om-om bangkotan lu itu. -Runa

Kesal karena balasan terakhir Runa, Hani memilih untuk mengunci ponselnya tanpa membalas pesan itu. Hani menghela napasnya. Ia memutar otak untuk mencari cara agar ia bisa terbebas dari perjodohan yang diatur Papa dan Mama.

Kabur aja ga sih? Pikir Hani sesaat.


Dan disinilah Hani, berdiri mematung sambil menjinjing tas berisi baju bawaannya setelah mikrolet yang ia tumpangi dari terminal ke desa Nini berhenti di jalanan sempit tepat di sebelah gapura penanda masuk desa. Hani bingung, jalanan ini begitu sepi.

Udah jam sembilan, masa iya orang desa pada belum bangun ya? ujar Hani dalam hati karena kebingungan.

Hani tak tau jalan menuju rumah Nini. Bahkan sebenarnya, Hani tak tau yang mana rumah Nininya. Terakhir ia bertemu Nini, rumah Nini masih di kota. Selepas itu, ia hanya berkomunikasi dengan Nini melalui telepon, yang dalam dua tahun ini, komunikasi mereka bisa dihitung jari.

Hani mulai menyalahkan dirinya sendiri. Harusnya, ia menelpon Nini sebelum memutuskan untuk kabur dari rumah. Kedatangannya yang mendadak dan tanpa kabar, malah membuatnya repot setengah mati. Ponsel yang kini ada di genggaman tangannya tak dapat membantunya, karena mau berapa kalipun Hani tekan tombol power ponselnya, ponselnya tak menyala karena kehabisan daya.

Hani yang bingung harus berbuat apa, mulai berjalan tak tentu arah. Dibawah sinar matahari yang sebenarnya belum terlalu panas, Ia masuk jalanan sempit desa itu, berharap segera menemukan penduduk desa untuk menanyakan arah menuju rumah Nininya.

Baru lima belas menit ia berjalan menyusuri jalanan desa itu, Hani sudah bersimbah keringat. Wajar saja, selama di rumah ia sangat jarang berolahraga. Jika di ingat, kehidupannya terlalu santai. Kemanapun ia pergi, selalu ada supir pribadi yang mengantarnya. Apapun yang ia mau, ia hanya perlu mengatakannya pada Mama, dan semua sudah siap tersedia. Jika ia memiliki pertanyaan tentang sesuatu, selalu ada Runa, sahabat karibnya sekaligus asisten pribadi Mamanya yang siap membantunya mencari jawaban atas pertanyaannya. Hani jadi merindukan Runa. Ia bersumpah, saat ia sampai di rumah Nini, Runa akan menjadi orang pertama yang mengetahui keberadaannya.

Hani masih berjalan dengan bersungut-sungut. Berbagai sumpah serapah atas kondisi yang dialaminya ia lontarkan dengan dongkol. Ia tak tahan lagi. Wajahnya sudah berminyak. Penampilannya kucel dan berantakan. Keringat dimana-mana, bajunya juga sudah benar-benar basah. Linen tipis yang ia kenakan saat ini terasa tak membantu. Bukannya memberinya sedikit rasa sejuk pada kulitnya, bajunya kini malah menempel pada kulit basahnya, memperjelas bentuk pinggang rampingnya dan mencetak jelas dada ranumnya.

"Mbak cantik~"

Hani mendengar suara motor dari arah belakang ia berjalan. Hani heran, setaunya pemuda desa biasanya sopan. Ia semakin kesal. Dengan kondisinya yang cukup menyebalkan baginya, sempat-sempatnya ada pemuda yang kurang ajar catcalling padanya.

"Mbak, dipanggil kok diem aja?" ucap pemuda itu saat motornya berhasil menyamai posisi Hani yang berjalan.

Hani menghentikan langkahnya. Dengan kesal, ia menatap wajah pemuda itu nyalang.

"Widih cantik-cantik galak banget mukanya, mbak." "Mau kemana sih mbak? Bawaannya berat gitu kok jalannya cepet-cepet?" ujar pemuda itu sambil terkekeh.

Hani masih bergeming. Walaupun menatap nyalang pada pemuda yang kini matanya fokus ke arah dadanya yang tercetak dibalik bajunya, sebenarnya ia sedang menimbang haruskah ia bertanya arah rumah Nini pada pemuda mesum dihadapannya.

"Mbak, mau ke rumah Mas Melvin?" ucap pemuda itu bertanya. "Kalo iya, naik sini mbak, saya antar."

Melvin siapa njir? Hani malah merasa geli dalam hati, karena mendengar nama yang tak biasa untuk orang desa.

Hani masih menilai pemuda dihadapannya, walaupun kesannya mesum, tutur bicaranya cukup sopan. Dan dari segi penampilan maupun rupa wajahnya, pemuda ini terlihat begitu muda dan tak terlihat berbahaya.

"Mbak cepetan ayo, saya udah telat. Kalo mbak lama naiknya, saya nanti kena marah." kata pemuda itu, berusaha menyadarkan Hani yang tampak melamun.

"Dek, saya mau ke rumah Bu Hardini." "Kalau mau anter, tolongin saya anter ke rumah bu Hardini ya."

"Ya elah mbak, dari tadi dong bilangnya." "Bu Hardini ada tiga mbak. Yang ngurus ternak bebek, atau yang ngurus kebun tebu nih mbak?"

Waduh, Nini ngurus yang mana nih? pikir Hani kebingungan

"Saya kurang tau dek, Bu Hardini yang punya anak namanya Gita yang mana?"

"Mbak Gita yang jadi designer di kota?"

"Nah iyaa, itu Bu Hardini yang ngurus apa?"

"Duh mbak, kalo mamanya mbak Gita mah, yang punya ternak bebek sama kebun tebu." "Yaudah cepet naik mbak, saya anter."

Hani yang cukup bingung atas penjelasan pemuda dihadapannya, lantas naik ke motor agar pemuda itu segera mengantarnya ke rumah Nininya. Hani bingung saat pemuda itu malah memutar balik motornya berlawanan arah dari jalan sempit yang ia lewati. Ia semakin kesal saat ia sadar bahwa dari tadi ia salah jalan. Belum lagi, sepanjang perjalanan pemuda yang kini menggoncengnya malah tak berhenti bicara.

"Mbak, nanti kerjanya santai aja mbak. Ibuk baik kok, suka ngasih sarapan sebelum disuruh bersihin kandang bebek." "Nanti mbak yang sabar aja ya, walaupun berat, namanya kerja ya apapun harus dijalanin." "Mbaknya jangan memaksakan diri mbak. Kalau capek, bilang aja, nanti biasanya disuruh istirahat sambil minum es degan."

Ini bocah ngomongin apa sih? batin Hani kesal. Hani yang malas menanggapi ocehan pemuda yang mengantarnya hanya iya-iya saja sepanjang perjalanan menuju rumah Nini.

Beberapa menit kemudian, Hani sampai di depan rumah dengan pagar kayu sederhana yang memiliki halaman luas. Terlihat, Nini sedang menyapu teras saat Hani turun dari motor.

"Buk, ini yang mau angon bebek udah dateng." "Jian pamit ya Buk, keburu kena semprot Mas Melvin." ucap pemuda itu cepat saat berbalik arah, dan melesat gesit dengan motornya.

 

"NINI~" panggil Hani manja, agar Nini menyadari keberadaannya.

"Astaga, Hani!!!" "Kok ga bilang mau ke sini?" ujar Nini sambil buru-buru menuju Hani yang berdiri di depan pagar.

"Hani kangen Nini. Hani mau disini aja sama Nini~" kata Hani sambil memeluk Nininya setelah Nini membuka pagar.

Setelah menceritakan betapa lelahnya ia berjalan di jalan yang salah saat menuju rumah Nini, Nini menyuruh Hani untuk istirahat di kamar tamu. Nini tak terlalu banyak bertanya mengenai maksud kedatangannya. Nini hanya memberitahu Hani untuk mencari Nini di kebun tebu di ujung desa, jika Hani selesai beristirahat dan membutuhkan sesuatu.


"Kamu ini kebiasaan ya, Jian. Telat terus tiap hari." ucap seorang pria yang berkacak pinggang saat melihat Jian yang mengendap-endap menuju kandang bebek tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Mas, maaf. Tadi Jian nganter orang ke rumah Ibuk." kata Jian meminta maaf pada Melvin

"Saya gamau tau. Ini udah jadi kebiasaan buruk." "Mau dilaporin ke Papi sama Mami biar disini aja gausah balik ke rumah?" ancam Melvin main-main

"Duh Mas ni ga ngertiin Jian, deh. Mending Mas hukum Jian aja kaya biasa. Jangan ancem Jian kaya gitu ah." kata Jian memelas sambil mulai mengangkut pakan bebek yang teronggok di depan kandang.

Melvin tertawa, akhirnya menyuruh Jian menyelesaikan pekerjaannya pagi itu.

 

Pukul 2 siang, setelah Melvin dan Jian selesai mengurus ternak bebek, mereka beristirahat di gubuk yang disediakan bagi para pekerja untuk beristirahat. Melvin dan Jian makan siang dengan santai sambil bercakap-cakap.

"Tadi nganterin siapa sih? Lama banget." kata Melvin sambil mengambil minum di kendi yang ia bawa dari rumah.

"Twadi duh gini loh Mas-" kata Jian sambil mengunyah makanannya.

"Ngomong yang jelas. Telan dulu itu makananya." potong Melvin sebelum Jian lanjut berbicara.

"He'eh. Tadi tuh, Jian udah berangkat agak pagi. Pas di bawah, ada cewe jalan sendirian bawa tas besar gitu Mas. Nah kan kasian ya, Jian pikir tuh temen Mas Melvin. Ya udah Jian tawarin lah buat Jian anter."

"Sekarang, mana cewenya?"

"Ya gajadi kesini Mas, soalnya ternyata mau ke rumah Ibuk." ujar Jian malas

"Siapa?"

"Ya cewe itu, Mas"

"Lah iya Jian, cewe itu tuh siapa?" Melvin mulai kesal.

"Ya Jian mana kenal Mas?! Jian cuma anter ke rumah Ibuk, terus buru-buru ke sini." jawab Jian sewot

Melvin mendengus kesal. Bicara dengan Jian menguras kesabarannya. Jian yang suka seenaknya memang menjadi sumber permasalahan yang sering mereka ributkan.

"Eh tapi kan Mas, cewe tadi tuh bodynya mantep banget. Susunya astaga, mengkal banget Mas. Mana pantatnya juga sekel. Kayanya enak tuh kalau tiap kerja bisa cuci mata kaya gitu."

"Kamu ini kecil-kecil udah kotor pikiranmu."

"Duh, wajar kali Mas. Kalo besok dia mulai kerja, Mas juga bakal sange ngeliat badannya."

"Emang dia bakal kerja disini juga?"

"Kayanya sih gitu ya Mas."

"Cakep ga?"

"Ga terlalu perhatiin mukanya, Mas. Mata Jian tadi gabisa lepas dari susunya." "Duh, jadi pengen nenen." kata Jian mesum sambil mengingat dada ranum yang tadi pagi menjadi objek cuci mata baginya.

"Sompral banget mulutmu" kata Melvin diiringi tawa sambil menepuk belakang kepala Jian.


Hani membuka matanya saat ia mendengar suara kompor yang dinyalakan. Perutnya keroncongan, sejak pagi ia hanya makan roti sebelum berangkat ke rumah Nini. Hani mencari ponselnya yang ia charge sebelum tidur, baru ia sadari bahwa hari sudah gelap. Setelah ia mendapatkan ponselnya, ia melihat banyaknya notifikasi pesan dari Runa.

Lu siap-siap, gue jemput abis ini. -Runa

Gue udah di depan, buruan deh. -Runa

Hani anjing lu pergi ga bilang-bilang ya tolol. -Runa

37 Missed Calls from Runa

Han, plis secepatnya lu hubungin gue. -Runa

"Ck- Bawel." kata Hani saat membaca notifikasi dari ponselnya.

"Hal-"

"Lu darimana aja sih?! Udah gue telpon dari tadi gabisa-bisa." potong Runa cepat sebelum Hani selesai bicara

"Sstt bacot banget deh, Bu." "Gue ga di rumah."

"Ya gue tau, lu ga di rumah. Sekarang lu di mana?"

"Lagi healing, gue."

"Serius dulu, Han. Ntar kalo Papa Mama lu panik, gue yang repot."

"Ya biarin aja. Kalo perlu sampe nyesel sekalian. Gue ga bakal balik sebelum perjodohannya dibatalin."

"Ah anjir lu, main kabur-kaburan kaya bocah SMA. Pulang yuk, gue kenalin sama sepupunya Niel deh."

"Makasih, ga dulu."

"Ih sumpah gemes banget gue pengen gebuk lu kalo ketemu. Moga-moga ntar kalo gue punya anak, ga kaya lu."

"Anjing. Kok jadi gitu bahasan lu?"

"Ya gue kesel anjir. Lu tuh ya, hidup udah enak. Ga perlu kerja, apa-apa ada. Kerjaan lu selama ini cuma foya-foya pake uang Papa Mama, cuma perkara dijodohin lu kabur? Ga waras lu."

"Ya kalo jodoh kan harusnya pilihan gue dong?! Apaan main jodoh-jodohin. Lu rela gue nikah sama orang yang gue ga sreg?! Run, ini doang yang bisa gue lakuin buat batalin perjodohan yang ga jelas itu."

"Duhhh yaudah iyaa, lu mau kabur ya udah gapapa. Ini lu kaburnya kemana? Gue cari di tempat Nenek lu, lu ga ada."

"Lu ga perlu tau ah. Ntar lu cepu ke Mama."

"Janji ga bakal cepu. Plis ngomong ke gue, ya. Gue cuma mau tau lu di tempat yang aman."

"Di rumah Nini."

"Oh yaudah, oke."

"Kok lu ga khawatir?"

"Ya ngapain khawatir? Kalo di tempat Nini lu mah, paling-paling cuma seminggu doang terus balik lagi."

"Nyepelein gue, lu?"

"Hngg ngga. Lu puas-puasin deh acara kabur lu yang ga bakal bertahan lama itu."

"Kok lu bilang gitu njir?"

"Ya lu jalanin aja dulu." ucap Runa sebelum telepon ditutup sepihak oleh Runa.

Kesal karena ponselnya dimatikan sepihak, Hani meletakkannya sembarang, lalu melangkahkan kakinya menuju sumber suara yang tadi ia dengar.

"Vin, awas jangan ngebut ya, nanti tumpah." "Ini yang satu lagi, jangan lupa dikasih ke Jian."

"Buk, ini kebanyakan. Aku bawa satu aja ya, nanti dirumah langsung ku bagi dua sama Jian."

"Udah bawa aja."

Hani mendengar percakapan itu. Saat ia mengintip ke arah dapur, terlihat Nini sedang menyerahkan dua rantang pada seorang Pria yang tengah memunggunginya.

"Han, sini. Kamu belum ketemu Om Melvin kan?" Nini yang melihat Hani, lantas mengajak Hani untuk mendekat pada Nini dan Melvin.

"Ini Hani anaknya mbak Gita, Buk?" tanya Melvin pada Nini sambil membalik badannya ke arah Hani.

"Iyaa yang dulu kecil teriak-teriak tiap liat kamu." ucap Nini sambil terkekeh.

"Duh cepet banget besarnya. Terakhir ketemu, kayanya Hani masih kecil loh, Buk"

"Ya abis itu kan kamu pindah. Hani nya juga ga kangen Nininya tuh, ga pernah nengokin. Wajar kalo ketemunya baru sekarang."

Sementara Hani terdiam sambil menatap Melvin cukup lamat. Ini yang namanya Melvin? Ternyata cocok namanya. Ga keliatan kalo orang desa. pikir Hani melantur.

"Heh, malah ngelamun." tegur Nini pada Hani.

"Eh, iyaa. Halo Mas Melvin." kata Hani canggung sambil menerima uluran jabat tangan Melvin.

"Hah? Eh iyaa deh gapapa boleh kok kalo mau panggil Mas" balas Melvin tak kalah canggung.

Hani kembali termenung. Ia sadar bahwa pria di depannya ini terlihat tampan. Tapi, saat menjabat tangan hangat Melvin, Hani cukup tercengang saat menyadari bahwa Pria di hadapannya ini benar-benar sesuai dengan tipenya.

Hani merasa pipinya mulai panas daat ditatap dalam oleh Pria dihadapannya. Tak mau terlihat aneh, Hani buru-buru melepas jabat tangan itu.

"Hani, mulai besok ikut kerja sama Om Melvin di kandang bebek ya." ucap Nini tiba-tiba memecah keheningan

"Hah?" Hani yang bingung, menanggapi Nini sekenanya.

"Buk, jangan di kandang bebek. Kasian Haninya, kandang bebek kan kotor, bau. Biar di kebun tebu aja ya, biar bantuin bu Dini." kata Melvin pada Nini

"Ngga. Hani mau kan bantuin Om Melvin di kandang Bebek?" ucap Nini meminta jawaban dari Hani.

 

 

"Ninii~ kok Hani di suruh kerja sih??" ucap Hani kesal sambil menyendokkan makan malamnya ke dalam mulutnya.

"Katanya mau disini, mau sama Nini. Kalo mau di sini, kamu harus nurut sama Nini." balas Nini cuek.

"Ihh kan Hani kangen, maunya nemenin Nini aja." kata Hani setelah menelan makanannya.

"Shh Hani udah gaboleh bohong sama Nini." "Nini udah tau semuanya."

Hani terdiam. Ia tak menyangka kebohongannya terlalu cepat diketahui Nini.

"Hmm kamu ini." "Tadi siang, Mamamu telpon. Mama mu nangis karena cariin kamu ga ketemu-ketemu." "Kamu kabur dari rumah kan?" nada suara Nini berubah tegas.

"Iyaa, Ni." Hani mencicit sambil mencebikkan bibirnya. Ia kesal, masa belum sehari kabur, Mamanya langsung tau dimana lokasinya?!

"Nini ga bilang kalo kamu disini. Nini cuma tenangin mama kamu."

Hani mengangkat kepalanya dan tersenyum cerah menatap Nininya, merasa bahwa Nini berada di pihaknya.

"Tapi, kalau kamu mau terus di sini, kamu harus nurut sama apa kata Nini." "Mulai besok, kamu bantu Om Melvin sama Om Jian di kandang bebek."

"Hmm iyaa, Ni." dengus Hani karena membayangkan kandang bebek yang kotor.


Seminggu lamanya Hani habiskan hari-harinya di desa dengan berkutat membantu Melvin dan Jian mengurus kandang bebek. Karena Melvin dan Jian sama-sama terbiasa mengurus kandang bebek berdua, Hani hanya mendapat pekerjaan-pekerjaan ringan seperti menggiring bebek untuk mandi di aliran irigasi sawah, atau sesekali membantu mengumpulkan telur bebek yang siap untuk diambil.

Walaupun rutinitas Hani terasa monoton, Hani tak terlalu bosan. Jian yang supel dapat memeriahkan suasana setiap mereka bekerja dengan segala tingkahnya yang sembrono berujung pertengkaran kecil Jian dengan Melvin, yang sering kali membuat Hani tertawa.

"Huhh hari ini kok panas banget ya, Ji?" ucap Hani sambil mendengus.

"Ya wajar, udah bulan Juli juga. Lagian panas gini, kamu malah pake kaos tebel." jawab Melvin sekenanya.

"Ya gimana mas, takut gosong hehehe" balas Hani yang memerah karena tak menyangka Melvin yang membalas ucapannya.

Wajar, karena Mas Melvin jarang sekali berinteraksi dengannya. Walau setiap hari tetap mengurus kandang bebek, Mas Melvin hanya mengurus kandang sampai jam makan siang, lalu ia akan pergi entah kemana.

"Gausah takut gosong mbak, walaupun hawanya panas, ga bikin item kok. Tuh liat Mas Melvin, tiap hari ngurus bebek sambil singletan juga putih putih aja tuh kulitnya." Kata Jian yang mendekat ke arah Hani dan Melvin

Hani melirik Melvin dari ujung matanya. Benar kata Jian, hampir setiap kali mereka mengurus bebek, Melvin memang hanya menutupi tubuh bagian atasnya dengan kaus tanpa lengan. Tak jarang, saat udara benar-benar panas, Melvin akan melepas kausnya, dan bekerja sambil bertelanjang dada.

Pipi Hani memerah. Pikirannya selalu melantur setiap melihat Melvin tanpa atasan. Otot lengan Melvin terlihat padat dan kekar. Dada bidang dengan perut yang terpahat sempurna, tak lupa urat-urat tegas yang terukir di sepanjang tangan Melvin, selalu berhasil membuat pipi Hani bersemu karena tak bisa mengalihkan pikiran kotornya.

"Kalo ga tahan panas, buka aja bajunya~"

Hani terlonjak saat Jian tiba-tiba berbisik di telinganya. Sontak, Hani memukul lengan Jian yang kini tertawa terbahak-bahak. Hani yang merasa diledek, mengejar Jian yang berlari menuju sawah, melewati Melvin yang tersenyum aneh, dengan tatapan yang tak lepas dari Hani yang berlari mengejar Jian.


"Hnnn nghh eumhh" Hani mendesah tertahan ditengah kegiatan sorenya kali ini.

Hani telanjang bulat. Ia baru saja selesai mandi, setelah kembali ke rumah dari kandang bebek. Hani berbaring di ranjang dengan kaki mengangkang lebar, memunggungi jendela namun mempersembahkan vaginanya ke arah pintu kamarnya yang terkunci.

Ia melirik jam di atas pintu kamarnya. Jam setengah 6. Biasanya Mas Melvin akan datang untuk mengambil rantang berisi makan malam Melvin dan Jian.

Tangan Hani mulai pegal mencolek itilnya yang kini sudah membengkak. Jari tangannya yang lain ia arahkan ke mulutnya dan mengemutnya sebentar, lalu ia sentil-sentil putingnya yang memerah dengan jarinya yang basah. Pikiran Hani terputar pada bayangan tangan Melvin. Ia bayangkan yang mencolek manja itil bengkaknya adalah ujung jari panjang Melvin. Ia bayangkan ujung kuku yang kini menggaruk puncak putingnya adalah ujung kuku Melvin yang selalu terpotong rapi.

"Buk, Melvin mau ambil rantang"

Terdengar suara Melvin di luar pintu rumah Nini. Pikiran Hani makin cabul. Hani bayangkan kalau Melvin tanpa sengaja membuka pintu kamarnya dan memergokinya masturbasi dengan posisi seakan mempersembahkan dirinya untuk digagahi Melvin saat itu juga.

Hnhh anjingg pengen dientot Mas Melvin. pekik Hani dalam hati.

Dua jarinya yang semula memainkan itilnya, kini sudah bersarang di lubang vaginanya. Ia putar dua jari itu sambil membayangkan tatapan Melvin menatap matanya dalam, tanpa berhenti mengobrak-abrik liang vaginanya yang kini sudah dibanjiri cairan yang menetes membasahi kasurnya.

"Ibuk?"

Terdengar suara Melvin yang kini mendekat. Adrenalin makin terpacu dalam tubuh Hani, terlihat dari seberapa cepat dua jarinya kini mengocok liangnya sendiri keluar masuk, membuat cairan yang tadinya hanya menetes, kini terciprat-ciprat membentuk titik-titik air di dekitar paha dalamnya.

Hani butuh lebih. Ia rasa tak mungkin ia bisa orgasme hanya dengan mengandalkan jarinya. Maka dengan cepat, ia buka lemari bajunya, mengambil sebuah dildo yang ia sembunyikan di tumpukan baju dalamnya.

Dildo favoritnya kini, sudah mengisi liang basahnya. Hani berbaring dengan posisi yang sama seperti tadi, mempersembahkan vagina yang kini terisi dildo yang ia gerakkan dangkal, namun cepat.

Di luar kamarnya hanya terdengar langkah kaki Melvin yang sedang mencari Nininya. Sepertinya Nini tak memberi tau Melvin bahwa Nini tak akan ada di rumah. Nini pergi ke desa tetangga untuk mengambil pesanan barang.

Hani tak peduli, masih ia gerakkan cepat dildo di genggaman tangannya. Di otaknya hanya terputar bayangan Melvin menggagahinya dangkal, bermaksud menggoda Hani agar Hani mengemis untuk disetubuhi sedalam yang Melvin bisa.

"Hani?" tok- tok-

"Hngggahhh" Hani yang kaget karena dipanggil, tak sengaja memasukkan dildonya terlalu dalam. Suara ketukan pada pintunya mengiringi orgasme nya yang cukup membuat tubuhnya lemas.

"Hanii, kamu kenapa?" suara Melvin terdengar khawatir

"Gapapa mas, kepleset habis mandi." "Nini ga dirumah, Mas. Rantangnya di meja makan." ucap Hani lemas, masih berusaha sadar dari orgasmenya yang membuatnya pusing

"Oh oke, makasih." terdengar langkah Melvin menjauhi kamarnya

"Hani ga keluar ya mas, masih ganti baju." ucap Hani beralasan. Tak mungkin ia keluar dengan penampilan se kacau ini.

"Iyaa gapapa. Mas pamit ya." kata Melvin sebelum keluar dari rumah.

"Iyaa Mas hati-hati." balas Hani cepat.

Njirr cepet banget gue muncrat cuma karena denger suara Mas Melvin. pikir Hani sambil masih berusaha mengais nafas dan menyadarkan dirinya sendiri.

Tapi masih basah, lanjut aja ah. Nini juga baru sampe rumah maleman. lanjut Hani menimbang-nimbang untuk melanjutkan masturbasi setelah ia colek vaginanya yang masih terasa basah.

Hani tenggelam dalam fantasinya digagahi Melvin. Ia gerakkan lagi dildo yang masih bersarang dalam vaginanya sambil sesekali mendesahkan nama Melvin, tak khawatir akan terdengar karena ia hanya sendiri. Setelah cukup lama mengeluar masukkan dildo dalam liangnya dan meremas-remas payudaranya mandiri, Hani sampai pada orgasmenya hingga pinggulnya terangkat dan kepalanya terlempar ke belakang. Ia lemas bukan main. Orgasme yang di dapatnya sambil membayangkan Melvin, benar-benar terasa nikmat.

Seksi banget mukanya pas muncrat-muncrat. batin Melvin yang kini mengintip dari celah jendela Hani yang lewat dari selubung korden. Niat hati ingin mengintip Hani yang sedang ganti baju, Melvin malah disuguhi pemandangan Hani masturbasi sambil mendesahkan namanya. Melvin beranjak dari tempatnya mengintip dengan penis yang menegang keras, cepat-cepat pulang ke rumah sebelum hari semakin malam.


Pagi berjalan seperti biasa. Seperti hari-hari sebelumya, Jian tetap pada kebiasaanya telat datang ke kandang. Melvin tetap pada kebiasaanya mengomel pada Jian dan fokus bekerja tanpa ada interaksi lebih dengan Hani. Yang tak biasa, sebelum Melvin pergi, Melvin mengajak Hani untuk berkeliling desa selepas Hani menyelesaikan pekerjaannya di kandang bebek.

"Nanti Mas jemput disini, ya. Mas pulangin sekalian ambil rantang." ujar Melvin sebelum pergi.

Melvin benar-benar menepati ucapannya. Beberapa menit Hani menunggu Melvin sendirian setelah menyelesaikan pekerjaannya, Melvin menjemput Hani. Hani kira, Melvin akan membawa motor seperti biasa. Nyatanya, Rubicon putih mengkilap baru saja berhenti di hadapannya. Melvin mempersilakan Hani naik ke mobil, lalu mengendarai mobilnya pelan, mengarah ke luar desa mereka.

"Mas, ini kita mau kemana?"

"Ke kota, Ni. Sebentar aja kok. Temenin saya anter barang ya."

"Oh oke, Mas."

Tak ada pembicaraan antara mereka setelah itu. Hani yang baru kali ini berdua saja dengan Melvin, mendadak gugup. Tubuhnya kaku, duduk pun terasa tak nyaman bagi Hani. Pikirannya yang melalang buana pada kegiatannya kemarin sore, membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Berusaha tenang, Hani memilih untuk menyamankan posisi duduknya, sambil sesekali melirik Melvin yang fokus menyetir.

Melvin sadar bahwa ia sedang diperhatikan, namun ia berusaha terlihat tetap fokus pada jalanan tak rata dihadapannya sambil mengulum senyum geli.

"Kamu ngeliatin apa sih?"

Tak mendengar jawaban dari Hani, Melvin menoleh dan mendapati Hani yang menatap tangannya pada kemudi. Pandangan terlihat kosong, namun Melvin bisa melihat dengan jelas semu merah pada pipi Hani.

"Hani~" panggil Melvin lembut, tak mau mengagetkan Hani yang sedang melamun

Honey~ 

"Yeah, love?" balas Hani lembut tanpa sadar.

"Eh?" Melvin bingung. Ia terdiam sesaat lalu tertawa gemas daat menyadari bahwa Hani benar-benar tak fokus.

"Kenapa, Mas?"

"Gapapa, cantik." "Saya cuma mau manggil, kamu dari tadi ngelamun." jawab Melvin sambil tersenyum

Gapapa, cantik

Cantik

Jawaban Melvin terulang-ulang di otak Hani. Pipi Hani semakin memanas dan ia hanya bisa meminta maaf karena tak fokus sambil tertawa gugup. Tak mau terlihat tak fokus, Hani memulai percakapan dengan menanyakan banyak hal pada Melvin sepanjang perjalanan menuju kota.

 

Dari percakapan itu, Hani jadi tau bahwa Melvin dan Jian adalah saudara tiri. Ayah Melvin menikah kedua kali sesaat setelah ibunya meninggal. Usia Melvin 20 tahun saat itu. Perbedaan jarak umur yang cukup jauh membuat Jian seperti anaknya daripada adik tirinya. Jian yang kini berumur 18 tahun, sengaja dititipkan pada Melvin karena ayah mereka sedang menghukum Jian.

"Ih Mas, ga keliatan loh kalo udah hampir 40"

"Hahaha masa sih?"

"Iya masih seger. Kalo Mas bilang masih 25-an mah orang-orang juga percaya."

Melvin hanya tersenyum menanggapi ucapan Hani.

"Kalau boleh tau, Jian dihukum kenapa sih Mas?"

"Jian bandel, Han. Ga mau kuliah. Pas ditanya maunya apa, dia juga gatau. Karena Papi saya kesal, ya sudah dititipkan disini, biar berguna" ujar Melvin sambil terkekeh

 

"Kamu tunggu di mobil saja ya, sebentar saja kok ini." ucap Melvin yang dibalas anggukan oleh Hani.

Dari dalam mobil, Hani melihat Melvin menemui dua orang yang nampaknya orang asing. Mereka tampak berbincang sebentar, sebelum Melvin kembali ke mobil.

"Ini buat kamu." ujar Melvin memberikan bingkisan pada Hani sesaat setelah ia duduk di kursi pengemudi.

"Eh apa ini, Mas?" tanya Hani sambil menatap Melvin

"Temen saya tadi bawa oleh-oleh. Kata dia barter sama flashdsik yang saya kasih." jawab Melvin

Hani membuka kotak itu. Sebuah gelang rantai dengan hiasan emas berbentuk bebek, terlihat di kotak tersebut.

"Ih lucu banget. Bebek banget nih mas?"

"Hahahaha, iya kok bebek ya? Ngeledek tuh temen saya." Mereka berdua tertawa atas absurd nya hiasan gelang tersebut.

 

Melvin menghentikan mobilnya saat mereka sampai di bukit belakang desa mereka. Hani yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di bukit itu, langsung turun dari mobil, dan melihat pemandangan yang tersaji dihadapannya dengan kagum.

"Itu yang dibawah, rumah Nini." "Kalo itu, kebun tebunya Nini." "Nah, kalo itu kandang bebek." Melvin menyebutkan satu persatu tempat yang ia tunjuk.

Hani tak menggubris, pandangannya tak lepas dari pemandangan dihadapannya. Melvin yang tak mendapat jawaban, menoleh pada Hani, lalu terpukau pada manisnya rupa Hani yang sedang terkagum-kagum.

Melvin tersenyum lembut. Tanpa sadar, ia mengusak lembut puncak kepala Hani. Hani yang terusik, langsung menoleh pada Melvin. Yang Hani dapati adalah tatapan teduh dan senyum lembut dari Melvin, membuatnya terpaku.

"Kamu manis." ucap Melvin yang tangannya kini berpindah mengusap pelan pipi Hani.

Hani hanya diam, ia malu diperlakukan selembut itu.

"Can I kiss you?" ucap Melvin lembut

Hanya dengan anggukan, bibir Hani dikecup Melvin. Kecupan yang membuat Melvin tau betapa manis bibir Hani, yang berubah menjadi ciuman dalam saat lumatan yang ia berikan berbalas.

"mhh" desahan halus Hani terdengar saat Melvin menggigit pelan bibir Hani. Lumatan-lumatan dan ajakan bermain lidah yang Melvin berikan disambut baik dengan Hani, Melvin menahan seringai saat lidah Hani masuk kedalam mulutnya, mengabsen giginya, dan tanpa malu menyembunyikan keinginannya untuk mencecap rasa Melvin lebih jauh.

Melvin melepaskan ciuman mereka. Tak tahan melihat pipi Hani yang bersemu, ia kecup pula pipi itu sebelum mengajak Hani pulang karena matahari sudah tenggelam.

 

 

Rumah Nini tampak gelap. Hani yang membawa Melvin masuk ke rumah, menyalakan lampu, sementara Melvin langsung menuju dapur untuk mengambil rantang. Hani heran karena rumah terlihat kosong, tak ada tanda-tanda keberadaan Nininya.

"Ninimu kayanya pergi lagi deh." ucap Melvin saat Hani sampai di dapur.

"Kayanya malem ini ga pulang, Mas." ucap Hani setelah ia melihat kertas yang di letakkan di meja makan.

Nini ada urusan. Kunci pintu, lampu depan dinyalakan. Jangan lupa makan malam.

Hani memberikan kertas itu pada Melvin. Mereka berdua terdiam beberapa saat.

"Mas mau nginep?"


Ciuman basah dan dalam langsung Hani dapatkan setelah ia menutup pintu kamarnya. Ciuman itu begitu menuntut dan berantakan. Kedua tangan Melvin menahan pipi Hani, sambil sesekali turun ke payudaranya dan meremasnya lembut. Hani hanya bisa mendesah tertahan, kedua tangannya hanya bisa meremas lengan Melvin, melampiaskan rasa nikmat dan hasrat yang ia tahan.

Lembab ia rasakan diantara kedua kakinya. Hani tak tahan, ia lepas ciuman mereka dan mendorong Melvin pelan. Hani buka seluruh bajunya, membiarkan Melvin hanya menatapnya dengan lapar seiring ia menjauh dan mulai membaringkan dirinya di ranjang.

"Mas, kok bengong? Gamau buka baju?"

Melvin yang terdiam mendadak sadar. Melvin bergegas membuka kancing-kancing bajunya, tangan kekarnya dan jari-jari panjangnya ditatap memuja oleh Hani, yang kini bisa Melvin lihat gadis itu mulai mengangkangkan kakinya dan mencolek-colek itilnya kasar. Melvin tak mau berlama-lama, segera ia telanjangi dirinya agar ia bisa menggantikan jari Hani untuk memainkan itil yang mulai memerah itu.

"nghhh mas melhh~" Hani menggoda Melvin dengan meremas payudaranya saat Melvin mendekat. Melvin yang sudah terbawa nafsu, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Hani, meninggalkan kecupan kecupan sembari satu tangannya turun membelai liang basah Hani.

"Shh tangan mu diem. Mas aja yang ngenakin, ya." ujar Melvin sambil menyingkirkan tangan Hani dari itil yang mulai ia gosok lembut.

Fokus Melvin kini terpaku pada payudara Hani yang sedikit memerah karena Hani remas kasar. Ia kecupi daging payudara yang nampak memerah itu, sebelum lidahnya terulur untuk membelai areola Hani tanpa menyentuh puting yang perlahan mulai mengacung.

Hani tarik tangan Melvin yang kini sudah dibasahi lendir vaginanya menuju bibirnya seiring Melvin yang masih menggoda payudaranya. Hani hisap jari-jari itu, seakan mencontohkan Melvin cara untuk menghisap putingnya yang butuh rangsangan.

Melvin paham, ia hisap puting Hani sambil menjilatinya lembut di dalam mulut. Sesekali ia jilat memutar, mengigitnya lembut, dan ia hisap kuat sampai pipinya mencekung.

Hani merasakan batang penis Melvin yang kini menyundul paha dalamnya. Dengan inisiatifnya, ia raih batang keras Melvin, merabanya pelan dari bola kembar Melvin sampai pucuk penisnya, sebelum ia kocok perlahan hingga ia rasakan precum mulai meluber di lubang penis itu.

"Mas, udahan dulu nyusunya. Aku mau ngisep kontol kamu." ucap Hani sambil mendorong pelan Melvin agar posisi mereka berbalik.

Hani mulai mengecupi pucuk kepala penis Melvin. Ia bawa lidahnya untuk menjilat dari pangkal hingga ujung penis itu, sesekali ia bubuhkan kecupan pada bagian bawah batang Melvin. Hani kulum dan hisap lembut pelir Melvin, sebelum ia masukkan penis itu kedalam mulutnya, dan ia gerakkan keluar masuk.

"Kok jago nyepongnya?" Melvin terdengar menahan geraman, dengan satu tangannya menahan rambut Hani agar tak mengganggu kegiatan Hani kali ini.

"Udah training sama mantan, Mas." jawab Hani sambil mengerlingkan matanya nakal.

Melvin menahan kepala Hani, Melvin tak mau keluar hanya karena kelaminnya di hisap. Hani yang paham, melepaskan penis Melvin dari mulutnya, dan memposisikan dirinya di atas pangkuan Melvin.

"Kalau yang ini, udah di training, belum?" ucap Melvin mengarahkan dua jarinya untuk menyolok vagina Hani

"Masukin aja dulu, Mas. Kalau enak berarti udah."

Melvin gemas. Perempuan dipangkuannya ini benar-benar tak seperti yang ia pikir. Tanpa menunggu lama, ia gantikan kedua jarinya dengan penisnya yang sudah kepalang tegang.

"Hnnnmmh" desah Hani saat penyatuan mereka.

Hani terdiam. Pinggulnya sedikit terangkat karena penis Melvin masuk begitu dalam. Melvin yang tak sabar, menyodok vagina Hani dari bawah. Ia sodok pelan namun dalam, membuat Hani yang terangsang mulai menggerakkan pinggulnya berlawanan arah.

Posisi mereka bertahan beberapa menit sebelum Hani keluar saat Melvin mulai meremas pinggangnya sambil kembali menyusu. Hani yang lemas, hanya bisa pasrah saat tubuhnya terlonjak-lonjak di pangkuan Melvin.

Merasa posisi mereka mulai tak nyaman, Melvin baringkan tubuh Hani tanpa melepas penyatuan mereka. Melvin kecupi seluruh wajah Hani tanpa mengurangi tempo sodokan penisnya di dalam tubuh Hani.

Hani yang baru saja keluar, meremas pundak lebar Melvin karena vaginanya masih begitu sensitif. Katakan Hani maruk, karena bukannya meminta Melvin untuk berhenti, ia malah menarik wajah Melvin untuk kembali menyusu padanya, sambil tangannya ia arahkan untuk mengucek itilnya sendiri.

Segala rangsangan yang tubuh Hani terima membuat liangnya semakin berkedut memijat batang Melvin yang semakin menyodok dalam. Liang hangat itu semakin basah, lendir hangat merembes di sela-sela penyatuan mereka.

Hani meraih satu tangan Melvin, menjilatinya kembali sambil ia hisap sesekali. Tangan yang kini kembali basah itu, ia arahkan pada payudaranya tang menganggur tak terhisap, mengisyaratkan Mekvin agar meremasinya.

Melvin tak tahan. Kedutan yang ia terima dari liang hangat Hani membuatnya pusing. Penisnya benar-benar dipijat dan dimanjakan oleh lingkupan lendir hangat Hani.

Beberapa tusukan dalam Melvin berikan, sebelum cepat-cepat ia keluarkan penisnya, menyemburkan maninya di atas payudara Hani.

"eumhhh Mas Melhh" desah Hani sampai pada pelepasan keduanya, karena itilnya tersenggol penis Melvin.

Napas mereka berdua terengah pelan. Melvin yang lebih dulu sadar, meraih tissue untuk membersihkan payudara Hani. Baru saja ia arahkan tangannya, Hani menahannya. Hani raih tangan Melvin, mencolekkan jari Melvin pada payudaranya yang dilumuri peju, lalu menyuapkannya ke dalam mulutnya sendiri. Melvin terkekeh saat menyadari keinginan Hani. Melvin usap seluruh pejunya dengan tanganya, lalu menyuapkannya pada Hani. Ia lakukan itu beberapa kali sampai payudara Hani bersih.

Melvin baringkan tubuhnya disebelah Hani yang kini dalam dekapannya, ia elus punggung Hani sambil membiarkan Hani bergelung nyaman pada dada bidangnya.

"Hani, jadi istri saya, mau?"

"Hah? Gimana, mas?"

"Saya udah pikir panjang. Saya sudah ga muda lagi, Han. Ga akan ada waktu buat pacar-pacaran. Saya suka kamu. Saya rasa kamu juga suka saya, kan?"

"Tapi, mas-"

"Saya cocok sama kamu, Hani. Saya kenal keluarga kamu, keluarga kamu juga kenal saya. Ga langsung nikah, Han. Kita bisa saling mengenal lebih jauh dulu."

"Mas, aku mau aja sih. Tapi ga bisa."

"Ga bisa kenapa?"

"Aku udah dijodohin, Mas."


Hani tidak bisa tidur. Posisinya kini memunggungi Melvin yang kini memeluknya dari belakang. Pikirannya kalut. Ia menimbang-nimbang ajakan Melvin untuk menikah.

Hani mau-mau saja, sih. Sedari awal ia bertemu Melvin, Hani sudah suka. Melvin juga terlihat bertanggungjawab. Hani cukup yakin, jika menikah bersama Melvin, mungkin menjadi pilihan yang tepat.

Hanya saja, bagaimana menyampaikan pada Papa dan Mama bahwa kini ia mempunyai calon. Kini ia benar-benar punya calon untuk dibawa ke rumah. Tapi bagaimana dengan perjodohan?

Hani memang menolak, tapi Hani bimbang. Hani yakin pilihan Papa pasti tepat untuknya. Belum lagi, yang akan dijodohkan dengannya adalah sepupu Mama. Hani tak mau hubungan keluarga mereka menjadi rusak karena ulahnya menolak perjodohan. Hani bingung setengah mati. Ia mulai menyesali kebohongannya yang menyebabkan ia terjebak disituasi ini.

Andai dari awal gue jujur

Andai dari awal gue rajin nyamperin Nini

Andai dari awal gue ketemu Mas Melvin

Banyaknya andai-andai yang kini Hani sesali membuatnya pusing. Akan ia pikirkan cara untuk menyampaikan pada Papa Mama bahwa ia ingin menikah dengan Melvin. Besok. Besok saja, karena kini ia mulai mengantuk. Pelukan Melvin benar-benar membuatnya nyaman. Tak lama, Hani terlelap dengan nyaman.

 

Lain Hani, lain pula Melvin. Melvin juga tak bisa tidur. Penisnya terhimpit diantara tubuhnya dan belahan pantat Hani yang kini tak menunjukkan pergerakan, pertanda bahwa ia sudah tidur.

Melvin frustasi. Ia baru keluar sekali. Tapi, ia harus menahan diri karena percakapan terakhirnya bersama Hani. Ia tak mau dinilai buruk karena menyetubuhi Hani saat Hani tidur. Melvin tak mau merusak momen romantis dimana Hani terlelap begitu nyaman dalam pelukannya.

Pikirannya tak henti-hentinya memutar jawaban Hani bahwa Hani dijodohkan. Melvin meringis. Ia bingung harus berbuat apa saat mendengar jawaban Hani. Melvin mendengus malas, berusaha memejamkan mata dan merengkuh Hani dalam pelukannya lebih dalam. Ia tak mau memikirkan apapun untuk saat ini. Biarlah besok ia pikirkan apa yang bisa ia lakukan.

Tapi, gimana cara ngomongnya ya?


Matahari belum seutuhnya terbit saat Melvin terbangun karena rasa haus yang tak tertahankan. Melvin lepaskan pelukannya pelan, lalu memakai boksernya dan keluar dari kamar Hani untuk mengambil minum. Nyawanya masih belum terkumpul, Melvin melangkah gontai menuju dapur, melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah 6 pagi.

Sesampainya di dapur dan mengisi gelas sampai penuh, ia teguk air itu sampai habis setengah gelas, tak lama ia dengar suara pintu depan terbuka, diiringi suara asing yang terdengar sedang berdebat.

Pagi-pagi udah berisik aja.

Melvin yang masih mengumpulkan nyawanya, meneguk habis air yang tersisa, sebelum memalingkan badannya.

"MELVIN?!" Melvin kaget. Air yang belum sempat tertelan tersembur sampai ia terbatuk-batuk saat ia dapati pintu rumah terbuka, menampilkan empat orang yang memandangnya dengan tatapan penuh tanya.

"Mbak Gita?" ucap Melvin gugup sambil tertawa canggung.

 


Hani mengerjapkan matanya malas saat ia mendengar suara berisik di luar kamarnya. Hani kesal, tidurnya kurang mengingat persetubuhanmya dengan Melvin terjadi hingga larut malam. Hani yang kesal buru-buru mengambil asal baju yang tergeletak di lantai, dan memakai celana tidurnya yang ia ambil dari lemari. Ia membuka pintu kamar dan berdiri sejenak mengumpulkan nyawa yang tertinggal.

"Masih pagi, bisa ga berisiknya nanti aja?" ucap Hani kesal sambil mengucek mata.

Hening

Hani yang malas membuka mata, berbalik masuk ke kamar.

"Hani"

Eh, kaya suara Papa

"Hani, sini. Duduk"

Yang ini, kaya suara Mama

Otak Hani seakan mengirimkan alarm tanda bahaya. Tiba-tiba, Hani merasa segar dan nyawanya langsung terkumpul saat itu juga. Dengan cepat, Hani duduk di sebelah Melvin yang kini menunduk di hadapan Papa dan Mama.

Hani sudah siap kalau Mama memarahinya habis-habisan. Ia bahkan sudah siap kalau Papa mencoret namanya dari Kartu Keluarga. Hani takut. Ia juga malu. Walaupun umurnya sudah legal untuk melakukan hal dewasa, tetap saja dipergoki habis menghabiskan malam panas bersama seorang pria terasa memalukan bagi Hani.

"Mel, gak gini juga dong caranya." "Dimana-mana tetep harusnya nikah dulu, Mel." Nini membuka suara.

"Maaf Buk, Melvin kelepasan." balas Melvin sarat akan rasa malu.

"Halah, Ma, ini sih kayanya Hani yang godain Melvin duluan." ucap Mama pada Nini tanpa beban.

Hani menoleh tak terima. Ya memang Hani yang duluan mengangkang sih, tapi masa iya mama sesantai itu menjelekkan Hani di depan Nini?

"Udah terlanjur. Kamu udah bicarain sama Hani, Mel?" ucap Papa terlihat cuek

"Belum nentuin tanggal, Mas. Baru mau tahap mengenal lebih jauh." jawab Melvin takut-takut 

"Ah kelamaan. Toh udah tidur berdua kan. Di percepat aja. Nanti aku yang bilang Papimu." timpal Mama terdengar begitu tenang

Hani bingung dengan pembicaraan mereka. Ia bingung karena Papa hanya terdengar kesal, dan Mama yang terlihat biasa saja. 

"Ini Jian perlu telpon Papi buat ke sini ga sih mbak?" ucap Jian sambil tertawa

"Telpon aja, bilang ke Papimu, besok ke sini bawa seserahannya." jawab Mama

"Ini ngomongin apa sih?" tanya Hani masih heran

"Ya perjodohan mu sama Melvin. Gausah bahas perjodohan. Lusa langsung lamaran aja." kata Papa malas

"Hah? Gimana?" Hani makin bingung

"Han, jangan bilang kalo kamu gatau kalau kamu dijodohin sama Melvin?" tanya Mama tak kalah bingung

"HAH?!"


Hari dimana Hani kabur, Mama yang awalnya panik berubah tenang setelah menelpon Nini. Keberadaan Hani di rumah Nini membuatnya tenang, sekaligus tertawa geli mengingat Melvin yang dari awal ia jodohkan dengan Hani, tinggal tak jauh dari rumah Nini.

Melvin adalah sepupu kesayangan mama yang paling bungsu. Usianya memang sudah 38, tapi masih berjiwa muda. Melvin tak kunjung menikah karena selalu disibukkan oleh pekerjaannya. Bukan. Bukan mengurus kandang bebek. Melvin seorang Sound Mixer yang bekerja pada Post-production untuk Production House di luar negeri.  Melvin pindah ke desa karena ia suntuk kalau harus tinggal di kota. Menurut Melvin, terlalu banyak distraksi suara yang membuatnya tak fokus bekerja. Tinggal di desa menjadi pilihan yang tepat, karena suasana tenang membuatnya fokus. Mengurus bebek awalnya hanya menjadi distraksi dikala Melvin jenuh. Kebiasaan itu malah berkembang menjadi rutinitas, sebelum akhirnya ia kembali ke pekerjaannya setelah jam makan siang.

Ide perjodohan sebenarnya datang saat Mama mengeluh pada Nini atas ketidakhadiran calon yang dijanjikan oleh Hani. Nini yang tau betapa Hani kecil memuja Paman termudanya, iseng menawarkan perjodohan pada Mamanya. Ide itu disambut baik, karena Mama mengenal sosok Melvin yang dari kecil pembawaannya dewasa dan penuh tanggung jawab. Papa juga setuju, karena mengenal Melvin yang merupakan anak dari mendiang sahabat Ibunya.

Kedatangan Papa dan Mama ke rumah Nini, sebenarnya tak terencana. Awalnya, Papa dan Mama akan membiarkan Hani pulang sendiri, karena yakin bahwa Hani akan turut membawa Melvin ke rumah. Namun, dua minggu terasa begitu lama. Papa yang tak terbiasa berpisah dengan Hani tanpa kabar, memaksa Mama untuk datang ke rumah Nini untuk bertemu putri kesayangannya.

 

"Ya kalau kamu gamau dijodohin sama Melvin, ya gapapa sih." "Mel, kalau ga jadi, kamu sama anak temen aku aja." ucap Mama menahan tawa

"Ih apaan sama anak temen mama. Hani mau kok." kata Hani sewot

"Katanya gamau sama om-om tua bangkotan?!" ucap Mama meledek

Hani terdiam. Ia termakan kata-katanya sendiri sebelum mengenal Melvin.

"Hahahaha makasih, mbak. Tapi, aku sama Hani aja." ucap Melvin gemas.

"Udah. Kamu pulang, mandi Mel. Nanti kesini, makan siang bareng aja kita." potong Nini sebelum pembicaraan semakin melantur.

"Iya, Buk." ucap Melvin sambil mengajak Jian pulang.


Hari itu, setelah huru-hara lamaran dari keluarga Melvin yang diterima oleh Papa dan Mama, Hani dan Melvin berjalan mengitari desa. Tahap mengenal lebih jauh, baru benar-benar mereka lakukan.

Hani akhirnya menginjakkan kaki di rumah Melvin. Jalanan sempit di sebelah gerbang masuk desa yang dulu ia lalui, membawanya menuju rumah yang cukup besar, dengan hamparan taman asri di halaman rumah itu.

Hani baru tau, bahwa Jian tinggal sementara di rumah Melvin. Selama ini, Hani kira mereka tinggal terpisah. Selepas lamaran, Papi Melvin membawa Jian kembali ke rumah, dengan iming-iming pekerjaan di tempat kolega bisnisnya, untuk sementara sembari Jian memikirkan apa yang mau ia lakukan.

Hani yang kini melangkah masuk ke rumah Melvin, cukup kaget saat melihat kondisi rumah yang terlalu rapi untuk ukuran bujangan yang tinggal sendiri. Ia kelilingi rumah itu, dan menemukan studio rekaman yang terlihat berantakan. Menandakan bahwa Melvin lebih sering menghabiskan harinya di studio daripada bagian lain di rumah itu.

"Mas, flashdisk yang kemarin diantar tuh, berarti flashdisk kerjaan kamu?"

"Iya. Lama banget tuh ngerjainnya. Nyerahinnya ga sampe 10 menit." "Tapi syukur deh. Karena flashdisk itu, saya jadi bisa jalan-jalan sama kamu."

"Kan ga cuma jalan-jalan, Mas."

"Hahaha iya, sampe nginep ya?"

Hani tersenyum malu. Pikiran Hani jadi terlempar ke malam panasnya bersama Melvin.

"Kok malah melamun?" "Mikir yang jorok-jorok ya?"

"Kok jorok?" "Aku cuma mikir yang enak-enak."

Melvin gemas. Calon istrinya ini mulutnya enteng sekali. Tidakkah Hani berpikir kalau kata-katanya barusan bisa memancing nafsu Melvin untuk menyerangnya?!

Melvin raih tangan Hani, menyeretnya menuju kamarnya dengan terburu-buru. Hani yang diseret bukannya melawan, malah ikut dengan sukarela sambil menertawakan Melvin yang terlihat tidak sabaran. Sesampainya di kamar, Melvin cium bibir calon istrinya dengan menuntut seakan siap Hani saat itu juga.

Hani membalas ciuman itu tak kalah dalam. Ia menyeringai geli saat Melvin yang tak sabaran berusaha melucuti pakaian mereka berdua. Baru saja hendak membuka celana dalam Hani, Melvin tiba-tiba mendesah kecewa.

"Hehe ga bisa sekarang, Mas." "Tahan dulu ya, paling ngga sampai kita nikah."

"Kamu kenapa ga bilang dari tadi sih?" Sambil menoel bagian tengah celana dalam Hani yang memperlihatkan perekat pembalut.

"Soalnya Mas lucu, ga sabaran gitu."

Melvin yang kesal hanya mendengus malas.


Hani terbangun dari tidurnya. Hani singkirkan tangan Melvin yang merengkuh perutnya perlahan, sebelum ia keluar dari kamar Melvin. Hani melangkah menuju balkon, menghirup udara segar di pagi hari.

Dari balkon ini, Hani bisa melihat rumah Nini yang lampu depannya masih menyala. Menandakan Nini yang mungkin belum bangun dari tidurnya. Hani tertawa geli. Ia cukup bersyukur bahwa keputusannya kabur ke rumah Nini membawanya pada Melvin. Walaupun jika Hani tak kabur, ia tetap akan bertemu Melvin, ia tetap tak menyesali keputusannya untuk kabur. 

Kabur 

Kabur ke

Rumah Nini.

Notes:

Halo~

Redwodtrunk kembali dengan oneshoot yang agaknya kepanjangan 😅
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan dan detail yang membosankan 🙏🏻
Terimakasih sudah membaca 🤍