Work Text:
Pada malam-malam tertentu. Waktu masih remaja dan hidupnya masih menyedihkan. Kaiser akan menghabiskan malam bersama susunan lilin dan sepotong kue, merayakan hari jadi yang berkawan dengan kesendirian. Tak ada yang duduk menemani. Orang tuanya terlalu sibuk untuk menghabiskan waktu panjang bersamanya, lebih-lebih lagi jika hanya untuk memirsa dirinya menghembus pijaran api lilin.
Hidupnya tidak lagi sesederhana itu. Kini dia harus mengelola banyak hal. Sehingga tak ada waktu untuk mengingat dengan tepat hari apa yang mengisi tanggal spesialnya tahun ini. Malam ini unsur itu seperti telah digusur kembali semena-mena. Dalam upaya mencatat hari ini, yang merupakan hari kelahiran kekasihnya. Serta untuk menjadi seorang yang lebih romantis katanya, dia harus mengirim kejutan.
Kaiser kesulitan. Sejujurnya hingga kini Kaiser tak pernah memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal tersebut. Tahun-tahun sebelumnya pun dia tak pernah kesulitan. Salah satu penyebab Kaiser mengeluh saat ini adalah kenyataan bahwa dia baru saja disadarkan oleh keadaan, yang mana, Kaiser betulan sudah berada pada tahap memiliki seorang kekasih—yang justru menciptakan perasaan campur aduk pada relung hatinya.
Segala ketidakmampuan untuk merealisasikan diri sebagai lelaki romantis telah dimanfaatkan dengan begitu antusias oleh tiga orang rekan kekasihnya. Mereka merencanakan sesuatu yang Kaiser berasumsi akan sangat berlebihan. Untuk pria yang teramat tidak serasi dijuluki sosok yang romantis, Kaiser tentu menentang acara mencari perkara dengan segala siasat di dalamnya tersebut.
Hubungannya selama sepuluh bulan berpacaran dengan Isagi terlampau kaku. Meski Isagi tidak akan keberatan jika hari kelahirannya hanya dirayakan dengan kegiatan menonton atau makan-makan biasa, untuk alasan yang Kaiser tidak mengerti, segala kepuasan tiga orang itu yang justru merasa terbebani.
Hampir seharian penuh Isagi terabaikan. Perihal permintaannya untuk dijemput, atau kiriman iMessage yang datang berturut-turut. Akibatnya, tak ada secuil kesempatan baginya untuk bertatap muka dengan kekasihnya sampai detik ini.
Saat ini mungkin tak ada yang peduli dengan kegelisahan yang beruntai-untai pada kepalanya. Kaiser tak sedikit pun memiliki keinginan untuk mengacuhkan kekasihnya. Sungguh.
Kaiser mulai paham apa yang sedang terjadi saat malam tiba; ketika tiga orang itu menerobos masuk apartemennya. Dengan arahan sang ketua perencana, alias Hiori, ada dua orang pengikut yang hari ini sama menggondokkannya, yaitu Kurona dan Yukimiya. Ketiganya seharian penuh melancarkan aksi mencegah Kaiser menghubungi Isagi. Kaiser hanya bisa bersikap wajar meski dalam hati memaki. Barangkali begini tradisi merayakan hari jadi dalam pertemanan yang telah mereka bangun selama kurang lebih lima tahun.
"Sekarang buka atasanmu." Namun, ketika kata-kata itu keluar dari mulut Hiori, Kaiser benar-benar berhenti berpikir jernih tiba-tiba dan menggeleng, menggosok tangan bebas pada keningnya sendiri.
"Buat apa?"
"Buat hadiah utamanya, kamu harus tidur di sebelah Isagi, telanjang. Terus nanti—"
"Tunggu!" Kaiser memijat keningnya sekali lagi. Dia benar-benar mengatakan semuanya dengan nada serius. Baik Yukimiya dan Kurona saja sudah tertegun mendengarnya. Membuka baju sebenarnya tidak ada dalam pengecualian di rencana yang mereka bertiga rencanakan sebelumnya, tapi itu sangat ekstrim bukannya?. Terlebih saat mengatakannya kepada seseorang dengan kepribadian monoton, yang mengdeskripsikan dirinya sebagai orang yang tidak akan memanifestasikan pengalaman seksual dengan Isagi.
Suara deheman Kurona memecah keheningan. Kaiser terlalu banyak berpikir. Sehingga dia tak menyadari posisi tiga orang itu sudah duduk melingkar di hadapan. Dengan segulung pita satin pada masing-masing saku, Yukimiya bermain-main di area tangan Kaiser. Mengikat kedua pergelangannya oleh pita berwarna merah dengan simpul mati.
Kurona juga, seseorang yang bahkan kesehariannya hanya diam seribu bahasa dan selalu tampak seperti orang yang tak berada di tempat ia sedang berada, kali ini justru sangat aktif, ikut andil dalam mengaplikasikan pita satin dengan bahan sifon yang sudah melingkar di pergelangan Kaiser untuk dijadikan sebuah renda.
"Tolong jelasin, ini ngapain?" Kaiser benar-benar jengkel, menerawang membayangkan nasib sialnya dengan mengikuti rencana aneh ini. Terlebih kepada Hiori, seorang sumber dari ide tersebut.
"Diem aja!"
Pikirannya dipenuhi rencana akrobatik melalui sofa dan tangga. Namun usaha Kaiser dalam tujuan melepaskan diri terlampau gagal total sebelum bertindak. Sebab, Yukimiya menarik kakinya, lalu dengan gerakan cepat mempertalikan pita pada kedua pergelangan kaki dengan simpul yang sama erat.
"Woy—"
"Jangan berisik!" Kurona meletakan telunjuk pada belah bibir sebagai petunjuk teguran. Lalu meraih salah satu helai pita, menoleh pada ruang pandang Yukimiya untuk menugasi kecil-kecil melalui gerakan kepala agar segera mengikat tubuh Kaiser.
"Ah." Kaiser terperanjat, sebab di hadapannya ada sosok Hiori. Dua puluh tahun. Laki-laki paling menjengkelkan di ruangan ini. Potongannya jangkung melengkung. Seringainya sangat terlihat licik sarkastik, sedang memusatkan gunting ke arah wajah Kaiser. Hiori adalah orang yang dalam dirinya dijejali hasrat bertingkah. Begitu melihat wajahnya yang tampan, seseorang tidak akan menyadari jika dia menyimpan segala bentuk ide sadis dan unik yang sangat amat cerdik terlampau licik.
Tubuhnya berada dalam dominasi Hiori. Kaiser nyalang memandang jemari yang mulai mendorong dadanya. Semuanya menjadi tak terkendali, dua anak yang tadi hanya fokus pada pita mulai ikut membantu menggulingkan tubuh jangkung Kaiser, mengekang pergerakan sang tuan jangkung.
Suara cekikikan mengudara. Disertai jeritan Kaiser yang seketika terputus sebab Kurona membekap mulut Kaiser yang kini terbaring di atasnya. Pergerakan Kaiser benar-benar telah dikunci sepenuhnya. Pita merah itu sudah membelit seluruh tubuhnya. Menjadikan semuanya tak mudah bagi Kaiser untuk berontak sekali lagi. Posisinya tidak terlalu jelas untuk Kaiser perhatikan karena matanya hanya menatap lurus; mengintimidasi Kurona—sekalipun sorot yang tajam tersebut tidak akan memicu Kurona untuk berpikir meloloskannya.
Sepersekon kemudian, tujuannya adalah melayangkan protes ketika tangan Kurona yang membekap mulutnya mulai bergerak, akan tetapi usaha tersebut terlampau sia-sia. Sigap, solasi lakban kain berwarna hitam berhasil merekat oleh Yukimiya. Melihat seringai penuh makna jahil milik Yukimiya, Kaiser membatin. Yukimiya, ini bukan saatnya untuk bermain adegan sebuah drama action, oke?
Lebih parah lagi ketika matanya menangkap Hiori yang kini asik melucuti pakaian atasnya menggunakan gunting. Merobek kausnya asal tanpa peduli dengan kegelisahan Kaiser yang mencapai maksimal. Hal itu menciptakan empat macam bentuk cemas yang melandanya. Pertama, akan adanya kelalaian Hiori dalam aksi merobek sembarangan. Kedua, rasa kebas mulai terasa pada bagian pergelangan tangan. Ketiga, Kaiser yang terlampau pasrah dengan tindakan mereka. Ke empat, bingung. Kaiser selalu mempelajari segala bentuk perilaku manusia kecuali perilaku mengirim dirinya telanjang; untuk meningkatkan gairah seksual. Sesungguhnya, Kaiser adalah pria yang saat ini benar-benar tidak berdaya.
Hiori duduk di atas tubuhnya, merobek bagian terakhir baju yang dikenakan agar memaksimalkan Kaiser telanjang bulat. Hanya setelah itu Kaiser menghela napas. Meskipun alas keramik mulai bersentuhan pada kulit bertatonya hingga tubuh spontan bergetar akibat suhu, setidaknya dia merasa lega. Kaiser tidak benar-benar telanjang bulat, hanya setengah tubuh bagian bawah yang masih dilapisi celana abu-abu. Lantas, Kaiser melirik tajam ke arah Hiori, yang dibalasnya langsung dengan muka konyol.
"Sisa pitanya ikat sembarangan aja." Hiori mengatakan itu setelahnya, dengan nada serius seperti orang yang amat memimpin. Dua sejoli mengangguk dan Kaiser hanya menatap pasrah.
"Itunya mana?" Tanya Kurona berbisik, entah pada siapa. Begitu pelan sehingga Kaiser berasumsi bahwa ketiganya akan melakukan hal yang lebih gila lagi. Hiori membulatkan mata, bentuk respon seolah baru saja mengingat atau diingatkan tentang sesuatu.
Hiori berdiri, secepat kilat berlari menuju kamar Kaiser. Dalam kurun waktu belasan menit; Hiori hilang entah melakukan apa. Menyebabkan ruangan menjadi hening.
"Aman. Langsung aja." Hiori menyembul dari balik pintu kamar Kaiser. Kemudian tubuh Kaiser diangkat oleh Yukimiya dan Kurona menuju kamar Isagi. Kaiser ditempatkan dengan hati-hati. Tanpa berontak sebab Kaiser tidak ingin kekasihnya tertanggu dengan rencana konyol ini. Apalagi ketika Kurona yang ceroboh tidak sengaja menendang sisi meja di samping ranjang, menyebabkan Isagi-nya sedikit mendesah terusik, Kaiser dongkol setengah mati.
Menit berikutnya Kaiser berhasil berbaring. Memutar kepalanya. Hiori tahu-tahu sudah tampak berdiri beberapa inci di sisi ranjang. Kedua tangan berpegangan pada siluet nyata kertas ukuran besar. Keingintahuan Kaiser impas ketika Hiori menaruh pada tubuhnya. Kertas karton. Berwarna putih dengan rupa huruf hitam hasil microsoft bertulis Eat Me. Coretan simbol bintang di sekitar tulisan utama memberi impresi berkilau, yang mana hal itu seakan menambah daya tarik visual. Semua tercetak sangat kontras.
Pada detik itu, Kaiser berhenti menanggapi seringai penuh makna yang entah pula maknanya baik atau buruk milik Hiori. Pikirannya berkecamuk, terlebih ketika tiga orang itu mencampakkannya di ruangan bersama Isagi. Tiga pemuda berpergian satu persatu dengan aksi tubuh yang amat konyol, entah untuk memperolok-olokkan atau memberi dorongan tak kentara. Kurona justru sempat komat-kamit, mengeja kalimat Good Luck sebelum wajahnya sedikit demi sedikit menghilang di balik pintu yang perlahan dia tutup.
Kaiser panik, dia tak pernah melakukan kegiatan seperti ini sebelumnya. Memangnya ada orang yang mau sengaja melakukan hal seperti ini?. Kaiser membatin. Heran.
Maniknya mencari-cari jam tembok yang kini menampilkan angka duapuluh tiga lebih lima puluh menit. Tubuhnya menggigil, bukan karena mesin temperatur yang sejuknya menyapa tubuh telanjang dada. Melainkan oleh pergerakan seseorang yang singgah di sampingnya, memutar tubuh ke arahnya perlahan.
Menyadari pembaringan yang sempit semakin membuat rasa panik menggebu-gebu. Kaiser menahan diri setengah mati. Hingga pada saat napas lembut sehangat papermin menerpa pipinya, Kaiser tercenung seketika. Memperhatikan perawakan Isagi yang tersembunyi di balik selimut. Rambutnya mencuat tak beraturan. Dengkuran halus memecah sepi. Yang mana membuatnya memahami satu hal, sesuatu kasat mata, pada diri Isagi, yang tidak semua orang tahu.
Dalam jarak sedekat itu, Kaiser mampu mendapati wajah terlelap Isagi dalam kegelapan. Isagi Yoichi yang belakangan ini diketahui banyak orang sebagai salah satu primadona Blue Lock memang memiliki paras yang tampan. Isagi mempunyai kulit seputih porselen dengan surai alami hitam yang diganti warna biru gelap. Sangat menawan dipadu manik yang kerap memandangnya dengan teduh. Setiap potong tubuhnya mendiktekan kata sempurna, ditambah dengan bakat dan pemikiran luasnya yang sangat dewasa.
Kaiser tidak mencoba untuk menjadi hiperbolis, namun bisa dibilang kata sempurna tidak memiliki jalur yang selaras dengan Isagi. Figurnya terlalu tanpa cela, bagai sebuah entitas yang telah menciptakan jaraknya sendiri di antara manusia.
Pukul sebelas lebih lima puluh enam menit, barangkali tiga sekawan itu sedang mempersiapkan sesuatu untuk mereka lakukan pada waktu dua puluh empat. Kaiser mulai menjernihkan pikirannya, memikirkan sesuatu yang lebih rinci, menyingkirkan rasa frustrasinya dan mulai berpikir dengan hati-hati. Yang pertama terlintas dalam benaknya adalah seks. Rasa malu mulai menyeruak. Dari semua hal yang pertama terlintas adalah tindakan tak senonoh. Kesekian kali Kaiser mengeluh. Sejujurnya dalam hal ekstrim seperti itu, kemahiran Kaiser tidak terlalu setimpal untuk dinyatakan piawai, meskipun di berbagai kesempatan masa lalu Kaiser sering melakukannya, ia tidak begitu aktif. Tidak diragukan lagi, jika di hadapan Isagi, Kaiser benar-benar tak berdaya sekalipun adegan Isagi mendesah dan memohon belas kasihan di bawahnya selalu terfragmentasi dalam mimpi. Sesungguhnya Kaiser seratus persen memiliki kesadaran, bahwa bahkan tidak ada sedikit pun keengganan dalam dirinya. Hanya saja, dia tidak mau menghadapinya secara langsung.
Mengamati keadaan, jika dipikir lagi. Sesuatu seperti telanjang bulat dengan tulisan karton yang tersirat. Bukankah mereka bertiga memang berniat menjeratnya dalam situasi untuk menghasilkan percikan seksual?. Kaiser semakin sulit berpikir jernih, lalu tiba-tiba suara lantunan musik dari musisi terkenal menggema di seluruh ruangan.
Mata Kaiser menangkap sebuah pergerakan. Benar saja. Isagi memang mudah sekali terbangun dari tidurnya jika usikan adalah sebuah kebisingan. Tangannya meraih sesuatu; sakelar. Berbarengan dengan suara klik, pedar sinar dari lampu kristal yang bertengger pada nakas memulas ruangan dengan warna kuning lembut, remang-remang. Sinarnya memulas wajah Isagi, sehingga Kaiser benar-benar terpukau seberapa kalipun tatapan mereka berjumpa. Matanya menatap dalam diam, kerutan pada dahinya menampak dan rambutnya bergoyang kala kepalanya mendekat. Sesuatu seperti ini adalah definisi menggemaskan yang lebih dalam dan mutlak.
Tidak ada keterkejutan, Isagi hanya mendekat untuk memastikan sekiranya jika lelaki yang tidak berdaya itu betulan Kaiser.
"Loh?" Suara khas bangun tidur. Kaiser spontan mengeluh payah ketika Isagi perlahan menggerakkan tangan mendekat, mengusap peluh keringat yang berceceran pada dahi Kaiser menggunakan ujung pakaian. Kaiser memberi tanda intruksi dalam bentuk tak bersuara pada Isagi; agar kesediaannya dalam membantunya melepas balutan ketidaknyamanan.
"Ngapain?" Dengan gerakan lamban, sesuatu yang membekap mulut akhirnya dikelupas. Kaiser mengatur napas pelan-pelan.
"Ini rencana Hiori." Kaiser berkata, suaranya agak serak. Isagi sekali lagi menunduk, menemukan mata Kaiser.
"Ketebak, sih. Kamu dipaksa?"
"Iya." Celetukan Kaiser lebih terdengar seperti merengek. Sesaat, perhatian Isagi beralih pada tubuh dengan kertas karton dan sebagainya. Suasana hening menyelimuti begitu putaran lagu selesai, sehingga gelak pelan itu berhasil menyapa gendang telinga Kaiser. Mungkin Ness akan menghina dan menyamai dirinya dengan sampah organik jika Kaiser mengatakan di hadapannya. Namun tak peduli seberapa banyak—seratus persen bagi Kaiser, hal seperti ini jauh lebih romantis dari Emotional Melodies mana pun. Isagi Yoichi dan tawanya. Kaiser memuja dalam diam.
"Can I open the gift now?"
Kaiser mengangguk canggung, memperhatikan gerak-gerik tak biasa sang kekasih. Riuh dalam pikiran kemungkinan-kemungkinan Isagi geram pada tindakan yang justru membuat tidurnya terganggu.
Tubuh kurusnya menjauh, mengambil alat penggunting pada laci. Tepat di atasnya bertengger lampu. Sehingga entah sinar lampu yang terlalu menyorot sebab Isagi mendekatinya atau bagaimana, kini wajah rupawan itu semakin telihat begitu menawan. Tanpa alasan yang Kaiser ketahui; barangkali saat ini Kaiser ingin mengetahuinya, sesuatu yang menjadi penyebab kedua pipi itu memoleskan samar-samar rona merah. Semakin menggemaskan, semakin Kaiser bertanya-tanya. Tidak ada alasan masuk akal selain penyejuk ruangan yang mungkin Isagi lupa turunkan suhunya.
Isagi mendekat, meraih helai demi helai pita dan perlahan mengguntingnya. Kaiser bisa melihat pergerakan mata Isagi yang terus teralihkan pada kertas karton yang sudah tergeletak di sekitar kaki ranjang. Hal itu membuat Kaiser merasa aneh.
"Kalian kurang kerjaan banget."
"Aku nggak ikut-ikutan, cuma dipak—."
"Iya tau. Tapi aku seneng kok."
Ah. Kaiser yang payah. Ada rasa yang terlalu sukar dijelaskan setelah Isagi berujar, yang membuat suatu pada relung hatinya sedikit terkoyak kasar, pada seluruh kemampuan dalam diri yang redup tak bersinar.
Tidak ada perintah tersampaikan untuk melakukan sesuatu setelah ini dari Hiori adalah alasan yang membuat Kaiser semakin menyadari bahwa dirinya masih jauh dari kata sempurna. Perayaan ulang tahun dan pengalaman membahagiakan seseorang yang minim membuat segala sesuatunya menjadi sebuah kesusahan. Perasaan bersalah mulai menggabu-gebu, sebab Kaiser menyambutnya dengan cara yang terlalu konyol dan tidak mewah. Untuk seseorang seperti Isagi, mungkin akan lebih serasi dengan konsep mewah seperti menggelar acara terbuka, duduk pada singgasana, mengenakan kostum pangeran di hadapan seluruh kerabat yang mampu mendoakannya pada waktu menghembus lilin. Oleh karena Isagi Yoichi terlihat seperti pemeran utama, dan Michael Kaiser hanya seorang nonpemain, maka kalimat pertama yang terucap adalah:
"Happy birthday."
Kaiser memancing sebuah hembusan napas tertahan. Hening menyelimuti. Keduanya tidak menatap satu sama lain meski berjarak sangat dekat. Helai demi helai pita sudah terlepas dan Isagi menghentikan kegiatannya untuk segera mencari tatapan Kaiser.
"Oke." Intonasi jengkel pula obsidian jelaga menyalang. Tatapan yang ia inginkan tetap hilang sebab sang hadiah menyembunyikannya.
"Aku kurang pengalaman kasih kejutan ulang tahun. Makanya temen-temen kamu yang bikin rencana konyol kaya gini. Maaf seharian nggak balas pesan. Maaf juga nggak bisa jemput, itu termasuk rencana mereka."
Canggung.
"Aku pulang sama Nagi tadi, jadi ya it's fine. Aku paham kenapa mereka suruh kamu kaya begitu." Mendengarnya Kaiser mulai bergerak menurunkan kaki dari ranjang. Memunggungi Isagi lalu meletakan sikut pada lututnya.
Sementara Isagi bermain-main dengan kukunya acuh. Salah satu kaki sebelah kanan bergerak, meletakan telapaknya pada figur telanjang Kaiser. Sebagai penanda larangan jika sewaktu-waktu Kaiser berniat meninggalkannya.
Gumam umpatan terdengar gendang telinga, dan Kaiser meringis ketika sentuhan hangat mulai menyerang punggung. Isagi hanya meletakan telapak kakinya di sana, tidak mendorong atau bahkan menendang.
"Aku bahagia sama kamu, Yoichi." Kaiser tidak bisa melihat reaksi sebab dia tak terlalu memiliki nyali besar. Jeda memakan waktu yang lama sebelum akhirnya bersuara kembali. "Dari dulu nggak ada orang yang bisa bikin aku sebahagia ini. Aku pengen egois, aku pengen kamu selalu sama aku karena kamu bawa sesuatu tentang aku yang orang lain nggak tau. Bukan karena aku pengen selalu ada di samping kamu, tapi karena aku butuh kamu buat kebahagiaan aku."
Isagi tertegun. Sepenuhnya terkejut dengan seluruh pernyataan. Tidak menyela atau menjawab. Hanya diam menatap tak tentu arah, salah tingkah, sesekali menggigiti kukunya.
"Makanya aku minta maaf udah jadi egois padahal harusnya aku masih perlu banyak belajar buat bahagiain kamu. Kaya Nagi, Reo, Chigiri yang selalu tau apa yang kamu mau. Aku pengen kaya mereka. Aku harus banyak belajar biar bisa penuhin ekspetasi kamu kedepannya. Kalau kaya gini penyebab awal bosen, mungkin aku nggak akan bisa terus di sisi kamu, 'kan?" Jeda, Kaiser memijat keningnya pelan. "Aku minta maaf juga karena aku yang payah. Aku harusnya ajak kamu makan ke tempat mewah, tapi malah konyol begini."
Tidak ada jawaban. Kaiser merasakan pergerakan tak kentara dari belakang. Sesaat punggungnya tidak merasa apa-apa. Hanya beberapa sekon. Kemudian telapak itu mengenainya kembali. Kaiser mulai bertanya-tanya dan kini dia mulai berpikir bahwa pernyataannya mungkin dianggap terlalu berlebihan.
"Kamu terlalu sempurna, buat aku. I haven't ever wanted something so bad as I want you. Maaf, lagi nggak bisa mikir jernih. Bahkan udah ganggu kamu tidur sebegininya, aku bakal balik ke kamu—" Kaiser terkesiap. Tubuhnya menegang, timbul rona pada kedua pipi sebab kaki itu menyerang titik sensitifnya. Melingkungi lingkar pinggang. Cekatan Kaiser meraih salah satu dari kedua pergelangan kaki di pangkuan dengan tangan kanannya. Reaksi itu sangat amat cepat bagai kilat, tubuhnya spontan berdiri dan berbalik.
"Yoichi kamu eh— celana kamu mana?" Tangannya masih mencengkram kaki sang pelaku, tapi gerakannya menjadi kaku.
"Ngeselin." Isagi berujar skeptis.
Kaiser tidak pernah membayangkan akan adanya kesempatan memandang Isagi dalam watak ini. Sesuatu menyemburat pada pipi Kaiser, sesaat wajahnya padam oleh rona. Salah satu ihwal Isagi; sebuah situasi di mana hanya Kaiser sendiri yang menikmati adalah pemandangan di bawahnya saat ini. Isagi berbaring dengan tatapan teduh mengintimidasi. Hanya menggunakan underpants yang celana panjangnya sudah tergeletak di sisi kepala. Kaki kiri menggantung pada cengkraman, sementara kaki kanan menapak perut Kaiser. Di sekitar dadanya, jari lentik berputar membuntuti utas yang menjuntai pada sweater.
Terpesona oleh sang kekasih, Kaiser memperlihatkan gelagat canggung sekejap, pula caranya membuang pandang yang justru terlihat kaku.
"Selalu khawatir tentang mereka. Kalau aku hangout sama mereka memangnya ganggu kamu?" Menemukan Kaiser menganggukan kepala Isagi lantas menggerutu.
Kaiser kalem menanggapi. "Ya, kamu ganggu. Tolong pakai lagi celanamu dan tidur. Ini malam, suhu dinginnya nggak baik."
Gigi Isagi menggemertak, menatapnya tak berkedip. Kaiser tidak sempat melihat wajah terkejut pria itu lantaran dia menolak pada keinginannya sendiri untuk melihat.
"Michael Kaiser, look at me!"
Eksistensi yang terabaikan bukan satu di antara soal kebiasaan bagi Isagi. Maka Isagi frustrasi sebab Kaiser begitu konsisten, memalingkan wajah ke sembarang arah. Gelagat yang kaku dan suhu tubuh yang tinggi. Isagi paling tidak sedang melebarkan seringai tipis pada saat menentukan kemenangannya sendiri.
Sementara pihak atas merenung, Isagi dan suaranya bagai getaran dari sengatan listrik yang menggertak segala kewarasan. Menyetrum aliran darah. Menyebabkan desiran pula debaran jantung yang kian brutal. Isagi seolah menggenggam seluruh kewarasannya, tanpa ampun mengabaikan Kaiser yang kewalahan. Kaiser ingin mengeluh, oleh seluruh keindahan yang tak mungkin amblas dalam benak meski menghindar dari tatapan sang mata bengkak.
"Pake celanamu, Yoi—et." Kaiser cukup gesit untuk meraih pergelangan kaki yang sedikit demi sedikit bergerak menurun, menyangkut pada celana yang membalut pinggang Kaiser.
Isagi berdecak, sesaat memalingkan wajahnya. Kaiser lepas cengkeraman, hendak mengambil celana Isagi yang bebas tergeletak.
"Wah." Penyerangan tiba-tiba. Dengan begitu pula secepat kilat Isagi bangkit, menarik pergelangan tangan Kaiser sehingga tubuh jangkung itu kelimpungan jatuh pada tubuhnya. Kedua kaki cekatan bergerak di udara, melingkar pada pinggang, menimbulkan rona pada wajah kian memekat. Tangan memeluk pundak Kaiser. Tak bergerak. Kaiser tak berkutik. Takut menggesek sesuatu yang tabu di bawah, yang bersinggungan langsung dengan garis vertikal celananya. Jarak dekat ini kisaran lima senti, mungkin kurang sebab napas hangat itu terasa menyerang wajah. Tatapan Kaiser melurus tepat pada pandangan Isagi, seketika dia mulai merasakan adanya hawa dingin dan tajam pada cara pujaan hatinya memandang.
"Finally the idiot's looking my way."
"Yoichi—"
Isagi menyela terburu-buru. "Aku bahagia sama kamu, oke? Kamu udah segalanya banget buat aku lebih dari siapapun. Kalau cemburu tuh bilang makanya. Mana ada pengen kaya orang lain, nggak boleh. Kamu tetep harus jadi kamu yang ini, yang aku mau!"
Pelukan Isagi mengerat. Kedua hidung mulai bersentuhan. "By the way, aku nggak akan marah kalau kamu cemburu, aku seneng banget he-he-he."
"Oh iya satu lagi. Don't ever look away from me. Can you do that?" Bisik Isagi; yang mungkin hanya perasaan Kaiser saja, terdengar lebih sensual dari bisikan-bisikan sebelumnya.
Kaiser tidak tahan lagi, maka dia palingkan pandangan ke mana saja asal tak berjumpa dengan mata dan lapisan bulu mata lentik di hadapannya. "Can— can you stop staring me?"
"Are you still jealous?"
"Stop teasing me!"
"I'm not teasing you!" Intonasinya terdengar seperti jalang, Isagi mengaku. Kaki dengan balutan kaus kaki putih yang berada pada pinggang kini menelusup bagian bokong.
Tubuh Kaiser menegang. Spontan bangkit. Menarik pergelangan kaki itu untuk diletakan pada pundak telanjangnya.
"Yoichi, boleh emang?" Pertanyaan konyol itu keluar dari mulut Kaiser sendiri, yang pada awalnya terkejut juga mungkin dirinya sendiri.
Respon anggukan, Kaiser yang sepenuhnya diberi persetujuan lantas dengan telaten mengecup paha mulus itu. Diperhatikan, dengan sederhana caranya perlahan mengecup, lalu menjilat dan berakhir menggigit.
"Serius gak nih, boleh?"
Tatapan Isagi yang teduh spontan berubah menjadi delikan tajam. "Bego lu ya!"
Nafsu tersulut lebih cepat sebab mata pria itu menggelap sedemikian rupa. Selepas menggesek bagian tubuh sensitif Kaiser menggunakan telapak kakinya yang bebas, Isagi berbaring di bawahnya sementara Kaiser menikmati pemandangan tubuh sang kekasih di atasnya. Hasrat tersembunyi timbul. Isagi sangat antusias dan penasaran.
Hanya beberapa detik mata mereka beradu tatap, lalu Kaiser menyerang leher Isagi dengan mulutnya. Kedua kaki yang bermain dengan miliknya dilebarkan dan Kaiser menindih pelan di atasnya. Isagi dipeluk erat sampai punggung melengkung. Frustrasi yang sudah lama tertahan kini meletup. Isagi bisa merasakannya tanpa perlu Kaiser berbicara.
Isagi paham, Kaiser menahan diri. Tidak ada waktu untuk memikirkan seberapa lama Kaiser menahan. Maka dia meremat rambut pirangnya, sebagai tindakan memberi persetujuan pada Kaiser agar dia bisa melakukan dengan leluasa.
Jantungnya berdegub sangat cepat, kakinya berdenyut ketika tangan besar Kaiser mulai meraba seluruh tubuhnya. "Wow—"
Mendengar suara itu Kaiser tersadar di dadanya. Lantas mengangkat kepala sebagai bentuk keinginannya untuk saling menatap. Ekspresi pun sulit diartikan. Terlihat sangat tersiksa dan rapuh. Isagi menunduk untuk menemukan mata Kaiser. Hangat napas mereka terikat.
"Kalau mau lebih, boleh banget. Aku nggak akan nolak juga."
"Gimana?"
"Ciuman?"
"Where?"
"Lips—"
Dengan kecepatan yang memabukkan, kedua bibir itu lantas melekat halus bagai kuncup api yang kian berkobar, menyulut ciuman panjang. Tubuh mereka bersinggungan. Bergesekan. Denyut nadi yang kian tinggi serta aroma tubuh yang saling memasuki satu sama lain. Kaiser terlena dan Isagi semakin menikmati.
Gerakan tangan Isagi pada lehernya menyadarkan Kaiser kembali. Sejenak menarik wajahnya. Dengan napas terengah, Kaiser berbisik. "Berhenti sekarang?"
Ada delusi yang tertahan dari caranya Kaiser menatap Isagi saat ini. Mata itu tangguh di balik manik biru yang terang. Kaiser tersisipi panas dan Isagi kini mulai memahami rasa lapar Kaiser yang tak berujung, terlihat bringas seperti hewan buas. Percikan nafsu di matanya seolah semakin berkobar namun Kaiser menahannya. Situasi saat ini adalah salah satu dasar hidup Kaiser yang terbilang monoton, sebab dia menganggap bahwa Isagi adalah sosok yang bernilai tinggi dari apapun, sehingganya Kaiser selalu menyembunyikan keinginan tanpa tahu Isagi juga menginginkannya. Isagi merasa tidak ada alasan untuk berhenti saat ini maka dia memeluknya erat, menelusupkan kepala Kaiser ke dalam potongan lehernya. Kemudian berbisik pelan.
"Please do, Michael."
"Please do apa, Chi? Yang jelas. Aku gak tahu apa yang kamu mau." Isagi membelalak dan mengerang frustrasi sesaat Kaiser berbisik di sekitar telinganya, merengek. Kemaluannya mulai ngilu dirajam denyut. Kaiser menyeringai tatkala suara rintihan sumpah serapah yang setiap makian diakhiri dengan namanya terdengar. Sebab Isagi masih mampu menyadari intonasi nakal pada ucapan pemuda tersebut. Kaiser menggodanya. Sebuah peningkatan dalam watak cabul yang barangkali jika keadaannya tidak seperti ini dia akan bertepuk tangan dengan begitu keras.
"Just fuck me, Micha. Just do everything we can do!"
Lantas perlahan Kaiser meraba sisi pinggang Isagi. Mengusap pelan dadanya. Naik ke leher jenjang. Mengecup. Membuka mulut, menjilati telinga Isagi. Memberikan sesuatu yang dipinta dengan cara yang begitu rewel menuntut.
Berwarna biru, sweater itu ditarik naik melewati dada, sehingga Kaiser bisa melihat torso telanjang dengan otot yang kencang, bentuk dada dan sedikit otot di dada itu. Kaiser menyentuh dan membelainya secara langsung, saat melihat lebih dekat, tubuh Isagi bergetar hebat. Lembab dan kenyal, Kaiser mulai mengulum pangkal dada. Menyebabkan Isagi yang mengejang kala lidahnya bergerak-gerak; terkadang memutar, menekan, menggigit dan menghisap. Turut menciptakan sebuah karya ukiran pada kulit tubuhnya yang putih.
Isagi mengerjap. Mengevaluasi kembali keinginan dalam pikirannya sekali lagi.
"He—hey Michael, cium!"
Isagi mungkin haus. Maka Kaiser mendekat dan menyatukan bibir keduanya. Mengembalikan ciuman Isagi sekali lagi, Kaiser mengusapkan tangannya pada bokong Isagi. Tangan lain dalam sepanjang jalan menurun. Sebelumnya pun celana panjang ikut menyelimuti bagian gundukan tersebut. Gerakan tangannya di sana tak kalah konsisten; mengelus, memijat, melingkar berulang, sehingga Isagi tersentak dan mengeluarkan erangan keras ke dalam ciuman mereka.
Tangan Isagi mengudara, mencengkeram punggung telanjang Kaiser dan mengeluarkan serangkaian suara inkoheren yang tak berujung. Tiba-tiba Kaiser menarik diri dari ciuman dan mendekatkan bibir ke telinga Isagi, menggigit pelan daun telinga yang menimbulkan sebuah rengekan.
"Maaf, Yoichi." Kaiser berbisik, dengan caranya menyebutkan nama sudah cukup untuk membuat Isagi semakin mencengkeram tangan kekar Kaiser, frustrasi dengan ereksi yang kian mengencang.
"Kamu gapapa gak?"
"Anjing. Kamu sengaja ya." Isagi terengah-engah, jemari kakinya melengkung saat tangan Kaiser bersentuhan langsung dengan kemaluannya. Menelusup tanpa aba-aba seperti itu, cukup membuat Isagi menderita dalam kenikmatan.
"Jawab dong." Sekali lagi Isagi mengumpat. Matanya kabur, kegelisahan tersembunyi sebab dia tak bisa melihat wajah tampan itu dengan jelas. Tubuhnya penuh dengan peluh dan dia bisa merasakan Kaiser bergerak mendekatinya. Lelaki itu berniat menghancurkan staminanya yang tersisa sebab dia menghisap tanda di leher jenjang Isagi.
Kini Isagi mendesah panjang, menutup mata, sesekali mengusap air mata menggunakan lengan bajunya. Tangan Kaiser terulur pada tisu yang tergeletak pada nakas. Melihat Isagi yang terlihat sangat berantakan, dia menyingkirkan lengan yang menutupi wajah dengan raut penuh nafsu tersebut—dengan telaten mengusap air matanya. "Gak mau jawab?"
Isagi ingusan, dan dia mendelik tajam. Sengaja pahanya menekan selangkangan Kaiser, keras, dan Isagi bisa mendengar erangannya. "Ah, galaknya.."
"Jangan berhenti! Kamu bisa keluarin ini kalau kamu mau." Isagi menggerakan kaki kanannya ke bokong Kaiser. Mendorong ke pahanya lebih kuat, dan Isagi bisa merasakan Kaiser bergetar.
"Pervert."
Kaiser lantas membungkuk, untuk kembali ke leher Isagi. Menutup mata Isagi menggunakan telapak tangannya selagi dia mengeluarkan sesuatu yang sudah mengeras dalam balik celananya. Isagi ingin protes, namun desah tak tertahan melolong kala Kaiser menyatukan ereksi mereka, melingkarkan tangannya di sekitar penis mereka bedua.
Isagi mengerang. Tangan kanan Kaiser mengurut ereksi keduanya. Dua penis yang menegang dikombinasikan dengan gesekan tangan besar Kaiser membuat Isagi kelimpungan oleh nikmat. Tubuh Isagi tersentak, menggelinjang berat hingga dadanya membusung. Ujung kakinya bergetar akibat rangsangan yang tak kunjung berhenti. Isagi yang begitu berantakan kini memeluk pundak Kaiser saat keduanya mencapai tepi. Kaiser menarik tangannya, lalu mencium bibir Isagi. Dengan begitu mereka mendesah ke dalam mulut masing-masing.
Sebab matanya tertutup, kakinya kesusahan selagi menendang celana dalam yang semakin melorot. Kaiser membantu melepasnya sesaat Isagi merengek. "Pengen lihat kamu, please." Sesenggukkan, dengan racauan yang begitu berantakan. Setelah itu Kaiser mengangguk, lalu menarik diri. Membersihan cairan yang berceceran di atas tubuh Isagi menggunakan tisu.
"Udahan?" Isagi bertanya dengan intonasi yang terdengar begitu kacau. Maka Kaiser menatapnya penuh kelembutan. Mengecup pelan wajahnya yang kini basah oleh peluh.
"Kan—"
"Aku punya lubrikasi" Isagi menggebu-gebu. Begitu tubuh mungilnya berdiri perlahan menuruni ranjang. Mengobrak-abrik laci. Tangan itu terulur lalu menunjukan lubrikasi beserta kotak kondom pada Kaiser. Menampilkan cengiran khasnya. "He‐he-he."
"Kamu sekongkol sama Hiori?"
"Nggak, aku emang udah siap gini dari lama. Biar kamu nggak ribet." Celotehan tak terduga itu membuat Kaiser membelalak.
"Eh kamu tau caranya kan?" Lanjut Isagi seraya mendudukkan tubuh setengah telanjang di hadapannya. Satu lagi perbuatan Isagi dengan unsur provokasi; yang hanya dia tunjukan kepada Kaiser. Seringai tak kentara, sesungguhnya pria nakal itu telah mempersiapkannya dengan matang. Dengan begitu, tanpa sadar Kaiser telah mengumpulkan ide jahil pada benaknya.
Kaiser mengangguk paham. Telunjuk mengacung. "Aku basahi jariku pake cairan lubrikasi." Kalimat Kaiser dibalas Isagi dengan gumaman setuju.
Tangannya meraih lubrikasi dari tangan Isagi untuk dia tuangkan pada tangannya sendiri. Kemudian Kaiser mendorong tubuh Isagi tiba-tiba, membawanya berbaring lalu menarik pahanya agar berbaring pada pangkuannya. Isagi dan keterkejutannya hanya memperhatikan. Dalam sunyi matanya penuh dengan hasrat penasaran, sibuk menanti sesuatu yang lebih ekstrim setelah ini.
"Satu dulu masuk ke pantatmu."
"Ah." Isagi membulatkan mata. Setelah Kaiser membawa jemarinya perlahan masuk kian dalam, mencoba mencapai ujungnya tanpa henti. Isagi meracau. "Michael, sebentar"
Kaiser menarik kaki kiri Isagi, meletakan pada lengan atasnya. Sedangkan kaki lain dia buka lebar ke arah berlawanan. Kaiser berbisik. "Maju mundur." Sehingga saat itu juga jemari Kaiser mulai bergerak pelan. Keluar dan masuk. Begitu puas memutar jemarinya perlahan sebab Isagi sudah mulai terlihat kacau.
Isagi menatapnya dengan teduh. Tangan mungilnya berpegangan pada tangan kanan Kaiser seakan menuntut entah untuk apa. Kaiser tersenyum. Mengangkatnya lebih tinggi untuk mengusap pelan pipi Isagi. Sensasi geli muncul kala hembus desahan Isagi mengenai tangannya. Kaiser mengeluarkan satu jarinya yang sudah basah di bawah.
Kemudian Kaiser membuat salam dua jari. "Kemudian aku tambah jari dua."
"Ah." Dua digit jemari Kaiser dimasukan. Akal sehat Isagi meremang. Tubuhnya membusung. Kepalanya menusuk bantal. Gerak jemari Kaiser dalam tubuh Isagi begitu lembut, namun terlampau berhasil membawa nalar Isagi di pangkuannya pecah. Isagi begitu kewalahan dengan bagaimana jemari-jemari itu bergerak keluar dan masuk. Tubuhnya kini diaduk oleh kedua ruas jari Kaiser yang membuatnya tergempur dalam kenikmatan. Erangan demi erangan terus terdengar kala jemari itu berputar atau saat Kaiser memposisikan jemarinya membuka dan menutup; menggunting, mengacak-ngacak seisi prostat Isagi. Begitu berantakan dan semrawut, desahan Isagi dengan halus mengetuk gendang telinga Kaiser
Nafsu, kali kedua melihat Isagi ereksi. Kaiser tak henti-hentinya menampilkan sebuah senyum tanpa arti.
"Jangan. Ah."
"Jangan apa?"
"Jangan dua."
Kaiser tertawa renyah. Isagi mengatakan hal itu sembari menarik-narik tangan Kaiser. "Kenapa? Atau mau aku pangku?" Lantas dia menggeleng dan menggumam lemas. Sungguh sesuatu yang elok dan cantik untuk Kaiser lihat.
"Ah, ah, pelan aja." Isagi menangis, sebab kini dua jari itu kembali bergerak masuk dan keluar. Membawa pemuda itu kembali melenguh panjang. Seisi tubuhnya dieksekusi oleh jari Kaiser yang panjang dan besar. Kaiser tak dapat menahan rasa puas kala Isagi menyelipkan namanya dalam desahan tak beraturan tersebut. Terlebih ketika pada akhirnya, Isagi mencapai klimaksnya dengan tubuh yang bergetar kuat. Cairannya menyembur keluar, membasahi kulit mulusnya sendiri.
Tubuhnya melemas seusai ejakulasi. Kembali pada kebiasaan tanpa sadarnya, Isagi menatap Kaiser yang jemarinya dalam tubuh Isagi sudah dia tarik keluar.
"Kok nangis." Kaiser bertanya, sembari membawa tisu untuk dia usapkan pada tangannya. Lalu mengusap perut Isagi yang napasnya masih terengah. "Yang tadi itu buat merenggangkan otot." Kaiser membawanya berbaring. "Kamu udah cukup longgar, sih. Aku tinggal masukin penisku. Rileks aja. Aku celupin pelan—"
"Time out!" Wajah Isagi merah. Kaiser setengah berdiri mengukung. Mempertontonkan tubuh atletis di atas Isagi.
"Terus, mau apa sekarang? Tidur lagi?" Kaiser menangkup wajah Isagi, memperhatikan Isagi yang pelupuknya kini tergenang oleh air mata. Semburat merah memulas pada pipi serta hidungnya. Bibirnya bengkak dan kini bergerak mengeluarkan intonasi tinggi dengan lemas.
"Just fuck me already!"
"Ho-ho, galaknya."
Isagi seperti menghadirkan hal-hal baru yang tak pernah tercicipi oleh hidup Kaiser. Pada bagaimana kini ketika nafsu telah menguasai tubuh rampingnya. Pada setiap desahan sebab ujung jemari menumbuk ujung prostatnya. Pada bagaimana bayangan-bayangan mustahil yang sebelumnya hanya hinggap dalam fragmen mimpinya kini terealisasikan. Sepenuhnya Kaiser merasa spesial. Meski seluruh kejadian terkendali berkat perannya sebagai hadiah, perasaannya justru berputar haluan sebagai insan yang diberi. Isagi barangkali adalah hadiah baginya dari semesta, tetapi dia tidak, Kaiser tidak terlalu bernilai untuk memerankan diri sebagai hadiah untuk Isagi. Sebab Isagi terlalu mewah. Terlalu sukar disangkut pautkan dengan kesederhanaan. Maka saat rengekan Isagi terdengar elok oleh gendang telinganya, tubuh Kaiser mendekat. Mengecup seluruh inci wajah Isagi. Serta kecupan yang setiap kecupnya diselipkan dengan gumaman Happy Birthday. I Love You. Happy Birthday.
Isagi senang bukan main. Tangannya pun memeluk pundak Kaiser. Berbisik pelan. "Michael."
"Ya."
"Sebenernya aku nggak punya pengalaman." Buru-buru Isagi meraih pergelangan tangan Kaiser. Menggelengkan kepala dengan sesenggukan, "Tapi aku nggak takut selama sama kamu. Maksudnya, aku nggak pengen berhenti sekarang."
Pandangan teduh Kaiser memandang Isagi terseguk di bawahnya. Tidak sedikit pun ada reaksi tanda terperangah dalam ekspresi terkejut meski perihal ini adalah sesuatu yang baru Kaiser ketahui tentang Isagi. Sesuatu yang baru; yang hanya bisa dia nikmati seorang diri, tentang Isagi, yang kian bertambah, dan mungkin akan terus bertambah.
"Sayang." Ucap Kaiser serak. "Tarik rambut aku kalau sakit."
Isagi mengangguk antusias, sangat antusias sehingga tak yakin dengan apa yang diucapkan Kaiser. Tubuhnya begitu panas, penisnya kembali sesak. Meraba-raba punggung Kaiser seakan menuntut lebih, mendamba sentuhannya, mencari-cari letak ternyaman ketika Kaiser mengikis jarak, menindihnya, lalu mencondongkan kepala untuk menyapu lehernya dengan lidah yang basah. Pelan dan lamban, seakan Kaiser tahu cara paling terbaik untuk membuat rasionalitasnya hancur.
Kaiser menarik diri sekadar sangat suka memeriksa sosok di bawahnya. Menggertakan gigi. Pandangannya menggelap. Menyaksikan betapa porak-poranda kekasih di bawah kuasanya. Kaiser belum membawanya benar-benar pada tahap penetrasi, namun dia berhasil membuat kekasihnya menjadi sangat rewel. Rona merah yang menjalar di seluruh wajah, liur yang menetes dari sudut bibir, juga air mata yang memenuhi pelupuk. Isagi begitu mengganggu akal sehatnya sebab selama hidupnya, Kaiser tak pernah merasa sejangar ini. Meski kekasihnya hanya terbaring submisif, dengan tatapan yang sama laparnya, hal itu cukup menimbulkan sebuah pergerakan kecil di balik kain fleece yang dia kenakan. Sehingga Kaiser memaki, tapi tak kunjung frustrasi lenyap sebab sang kekasih kini menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya. Kaiser lantas tersenyum sebelum akhirnya dia membawa bibirnya ke dalam ciuman.
Dari caranya yang membuat Isagi semakin kelimpungan, maka tersimpulkan bahwa ciuman itu bukanlah ciuman dengan penuh hati-hati. Begitu kasar. Begitu terburu-buru. Lidah Kaiser kian agresif, menjejali mulut Isagi sehingga menimbulkan sebuah bunyi kecipak di tengah-tengah sunyi kamar Isagi.
Dorongan pelan pada bahu menyadarkan Kaiser. Perkelahian bibir itu terhenti sesaat Kaiser langsung melebarkan kaki Isagi perlahan, sontak dengan spontan Isagi meremat bagian atas lengan Kaiser. Napasnya yang terputus-putus menjadi penanda bahwa dari seluruh keinginan penuh hasratnya, masih ada sedikit rasa takut yang memenuhi akal sehatnya. Menjadi penanda pula perihal Isagi yang tidak pernah melakukan hal yang lebih jauh setelah ini, juga kebenaran tentangnya yang tak pernah mempunyai pengalaman sebagai pihak penerima. Perkara itu adalah mutlak. Sehingga tanpa alasan rinci Kaiser merasakan emosi dalam dirinya, mencondong rasa bersalah pada Isagi yang barangkali hanya penasaran dengan hal-hal ekstrim seperti ini.
"Mau berhenti nggak?" Isagi menggelengkan kepalanya, terseguk isakannya melolong. "Kalau sakit bilang, oke? Kalau aku kasar—"
"Cium."
"Hm?"
"While you're doing that, cium aku."
"Oh, harusnya tadi gak lepas gitu?" Celetukan Kaiser dibalas dengan pukulan lemah pada pundaknya. Kaiser tersenyum. Manik birunya menubruk pandang, mengecup singkat kedua mata yang kini penuh dengan air mata. Isagi hanya memperhatikan, bagaimana tangan besar itu meraih kotak kondom yang tergeletak, lantas bergerak mengeluarkan isinya, merobek sembarang dengan giginya sebagai aksi praktis. Serupa atraksi dalam sebuah adegan yang tak asing bagi Isagi.
"Kamu bukannya mau ceritain manga?" Kaiser bertanya, sembari tangannya mengeluarkan kemaluan dari celananya. Ereksi membuat bentuk penis Kaiser terlihat lebih besar. Sesaat dia membungkusnya dengan silikon tersebut di hadapan Isagi, yang mana cukup membuat si kecil penuh dengan rona merah.
Membuang wajah seketika, Isagi berdongeng. "Manga yang cowoknya pake kacamata."
"Iya, aku harus pake kacamata nggak nih sekarang?"
"Eng...enggak usah."
Kaiser tertawa, disertai dengan celetukan oke di akhir. Lalu dengan sigap tangannya meraih potongan leher Isagi, membawanya ke dalam ciuman. Seketika Kaiser bisa merasa napas Isagi tercekat di sela ciuman ketika dia mendorong perlahan kejantanannya masuk ke dalam tubuh Isagi; melakukan penetrasi. Menuntun ereksinya ke dalam diri Isagi. Begitu subtil, tidak ingin membebaninya dengan rasa takut. Sepenuh keinginannya adalah menonton wajah penuh nafsu Isagi tapi tidak diizinkan sebab Isagi mengeratkan pelukan. Menekan tengkuk Kaiser dengan tangannya yang bergetar. Isagi bahkan mulai memimpin ciuman seakan tak mau terlepas. Begitu berantakan dan menyiksa. Kaiser mengusap pelan pipinya, penuh air mata. Maka saat penisnya berhasil masuk sepenuhnya, Kaiser memaksa menghentikan ciuman untuk menatap Isagi penuh.
Sangat cantik tetapi terlihat berantakan. Kaiser mengumpat dalam diam. Eksistensi Isagi malam ini menambah warna baru pada malamnya. Isagi dan segala desahan mengacaunya memecah sepi dalam porsi yang bisa Kaiser nikmati seorang diri.
"Ayo ceritain manga yang kamu baca." Kaiser bersuara pelan. Kesulitannya bergerak sebab Isagi masih menahannya. Kepalanya menggeleng, kesana kemari tak tentu arah. Akibatnya, surai hitam yang kini basah oleh keringatnya telihat begitu awut-awutan.
"Jangan sekarang!"
Kaiser menahan kepala Isagi. Mengusap peluh yang menetes pada pelipisnya serta memberi sebuah kecupan lembut selama beberapa saat. Menyingkirkan helai rambutnya ke belakang daun telinga.
"Gimana tuh yang senpai sama kouhai kamu cerita kemarin. Senpai ketahuan masturbasi di kamarnya." Kaiser masih mengusap kepala Isagi, sembari mulai bergerak memainkan pelan tempo naik turun pada tubuh bawahnya.
"Bukan senpainya."
"Siapa dong?"
Tempo yang awalnya pelan kian meningkat, meski tersendat-sendat sebab Isagi masih menahannya.
"Kouhai."
"Terus gimana?"
Kewarasan Isagi sepenuhnya telah terkoyak. Namun tanpa sadar dia masih menjawab pertanyaan pada bahasan yang dituntut Kaiser.
"Wanna watch."
"Gimana?"
Isagi mulai rileks. Tempo kian meningkat. Semakin kencang, naik dan turun, menjadi penyebab napasnya yang kembali kacau.
"Katanya." Kerongkongan Isagi tercekat, membuatnya semakin berantakan pada bagaimana Kaiser mengoyak dalam tubuhnya. "Jangan tanya." Isagi kesakitan. Yoichi-nya kesakitan. Sehingga Kaiser terus bergumam dalam geraknya, memohonkan permintaan maaf sembari terus mebubuhi perpotongan wajah Isagi—dari kening, kelopak mata, hidung, pipi, serta bibir ranumnya, seakan tak ingin melewatkan satu inci pun.
"Sakit, ya?" Isagi menggeleng begitu kuat, dengan tangis yang tak kunjung berhenti dia berdenguk menahan napasnya. Tindakkan yang justru berbanding terbalik dengan apa yang dia rasa.
Kaiser sedang mengisinya. Kaiser berada dalam tubuhnya. Kaiser miliknya. Maka Isagi menggeleng untuk mempercayai Kaiser, membiarkan tangan itu membelai cembung pipinya setiap kali Isagi meringis merasa sakit. Membiarkan Kaiser menenangkannya dengan cara subtil, memberikan kecupan singkat pada bibir bengkaknya setiap kali Isagi mendesah. Membiarkan Kaiser menyanjungnya tinggi, mengatakan bahwa Isagi terlihat sangat cantik di bawahnya. Serta mengecup puncak kepalanya sembari mengatakan bahwa dia tak perlu berbohong sebab Kaiser tidak akan meninggalkannya. Isagi begitu mempercayai Michael-nya sehingga tanpa sadar ia telah menciptakan sesuatu imajiner yang menggerak dalam hati Kaiser.
"Gigit bahu aku." Kaiser membungkuk, memeluk pundak Isagi yang bebas bergerak, memajukan bahunya di hadapan mulut Isagi.
Isagi tak menjawab, melainkan menggeleng, dia menolak mentah-mentah tawaran kekasihnya. Sibuk menengadahkan kepalanya kala dia mulai merasakan sebuah kenikmatan. Kaiser dan ritmenya yang mulai beraturan sangat konsisten, berhasil membawanya ke puncak, berkelana tanpa akal sehat. Pahanya bergetar, akibat hantaman beruntun pada dorongan yang diciptakan Kaiser. Hal ini tentu tak pernah tercicipi olehnya selama hidup sehingga matanya kerap kali menutup dan membuka menikmati, serta tangannya yang meremat tak tentu arah.
"Ah. Mana?" Semakin meracau, Kaiser membawa kedua tangannya pada wajah Isagi, meluruskan mata dengan wajahnya agar keberadaannya tertangkap oleh pandang Isagi, sebagai bentuk dari perbuatan menenangkan, petunjuk bahwa dia ada di sana tidak dengan niat menyakiti Isagi. Air matanya semakin deras, seolah Kaiser paham bahwa apa yang di cari adalah dirinya. "Mau tangan, kamu, tolongin. Ah. Pegang tanganku!"
"Rewelnya." Kaiser tetap berujar meski dia terkesiap. Hatinya berdesir kala mendengar permintaan tersebut. Lantas Kaiser mengangguk patuh, lalu membiarkan jemari-jemarinya bertautan dengan milik Isagi, membiarkan Isagi meremat jari yang bertautan dengan ruas jari miliknya. Sehingga begitu pula Isagi yang kini dengan aman dapat merasa eksistensi Kaiser mengisi celah kosong dalam dirinya.
"Michael, cium aku."
Mematuhi perintah Isagi, Kaiser mendekat. Pelukannya menguat serta kecupannya begitu antusias. Melancarkan aksi mengulum lidahnya dan menghisap, namun Isagi dengan sigap memalingkan wajahnya. Liur berceceran. Selepasnya Kaiser keheranan sebelum akhirnya Isagi mendesah, terengah kecil.
"Cium leherku juga."
Kaiser tergelak. Isagi dengan segala tingkah tak terduganya memang selalu berhasil melemahkan seluruh bentuk kewarasan yang terbangun kokoh dalam dirinya. Tampak luar biasa. Mengagumkan. Sangat rewel dan manja.
Bibir Kaiser hangat, lembut, tipis, tak berhenti mengecup potongan wajahnya. Menurun lantas melahap leher Isagi yang terekspos. Napas berat audibel Isagi membuka mulutnya. Mendesah. Kaiser membubuhkan ciuman pada keseluruhan ceruk lehernya, berhenti pada kulit terlunak di samping, menghisap dan menggigit. Suara desahan dari ranum tebal Isagi terus terdengar kacau, sehingga Kaiser semakin semangat menumbuk tanpa henti ke dalamnya melalui spot yang kerap kali menimbulkan sebuah intonasi tinggi.
Dalam benaknya, Kaiser seperti memiliki labolatorium pribadi dengan aturan bermain sendiri. Tempat di mana dia dengan bebas meracik bermacam-macam ramuan fantasi, berbahan nyata Isagi serta khayal tanpa batas. Namun malam ini, kenyataan telah membawanya pada tahap kontemplasi; bahwasanya Isagi bukan sosok yang pantas disamaratakan dengan khayal. Isagi miliknya adalah konkret. Kaiser telah dipercayai akan selalu menjadi pemegang teguh hati. Serta pembuktian tak kentara oleh tindakkan kedua kaki yang memaut pada lingkar pinggang tubuhnya, gumaman inkoheren, remasan ruas jari dengan jemari miliknya, tatapan teduh sebagainya adalah bukti nyata bahwa Isagi juga menginginkannya.
Kaiser selalu mencintainya. Dengan harapan, Isagi akan terus membiarkan dirinya menelusup jauh ke ruang hidupnya lebih dalam.
Kaiser benar-benar pria yang payah dalam hal mencintai, begitu payah sehingga hanya bisa menggumamkan permintaan maaf di samping telinga sang kekasih yang kini tak berdaya dalam kukungan. Perayaan ulang tahun ini barangkali lebih menguntungkan dirinya. Namun, itu adalah salah satu kemungkinan dengan ego paling tinggi miliknya. Kaiser mengharapkan Isagi terus berada pada linimasa yang dia buat sendiri. Menggenggam segala bentuk imajiner kebahagiaan untuk terus mengusir seluruh probabilitas terburuk yang mungkin hadir pada malam-malamnya. Kaiser ingin egois, tak mau membiarkan atensi Isagi menyapa siapapun selain dirinya, selain kisah cinta mereka berdua. Sebab Kaiser seperti haus afeksi.
Maka ketika keduanya sampai pada tahap ejakulasi, ketika jemari Isagi mulai kembali meremat ruas jarinya berat, serta erangan yang namanya kini ikut terselipkan. Hal pertama yang Kaiser lakukan adalah membawa kepala itu pada ceruk lehernya, merengkuh tubuh rapuh yang kian bergetar hebat. Membiarkan dirinya keluar pada relung tubuh Isagi. Cara Kaiser memperlakukan Isagi penuh dengan afinitas, lamat, penuh perhatian. Tangannya mengusap kepala Isagi, pening merasuki kala Kaiser mulai membisikkan kembali ucapan yang entah ke berapa kali ia sebutkan; happy birthday, i love you.
Keduanya berbaring pada ranjang dengan cairan lengket yang membasahi pada tubuh masing-masing. Kaiser mengecup keningnya pelan. Selepasnya Isagi berbisik mati-matian, sembari mengatur napasnya yang begitu berantakan.
"Haaa—gak adil. Semua hal tentang kamu emang selalu besar."
Kaiser terkekeh, "Maaf."
"Kamu bilang begitu seribu kali. Aku udah males denger. Mending bilang i love you."
Isagi bergerak, menenggelamkan kepalanya pada potongan leher Kaiser. Mencari-cari kenyamanan kala Kaiser masih memproses ujaran Isagi, lantas rengkuhan Isagi kian menguat. Kaiser tersenyum dalam diam, berbisik lirih.
"I love you."
"I love you too, lagi." Menuntut, Isagi menggesekkan bibir pada bahu Kaiser.
"I love you!"
"Lagi."
Ah, Kaiser senang bukan main. Jika bisa, bolehkah dia menuntut juga, agar Isagi tetap dalam rengkuhannya dalam waktu yang lama. Kaiser dan keegoisannya, mengharap sesuatu untuk bisa menghentikan linimasa. Agar terus tetap seperti ini, bahagia, hanya berdua. Tangannya mengusap kepala sang kekasih, menghantarkan pada kantuknya yang terganggu sebelumnya. Kaiser sungguh ingin meminta maaf kali ini, maka dia lantas menggumam penuh kasih sayang.
"Happy birthday." Kesekian kalinya, Kaiser mengecup kening Isagi pelan. "I love you."
"He-he." Isagi menarik diri. Memberi jarak agar ia bisa leluasa menatap manik kelam tangguh milik kekasihnya. Penuh arti berbisik. "Terima kasih, hadiahnya."
Kaiser terbelalak. Dengan sungguh-sungguh bersikap sewajarnya, melayangkan guyonan sekiranya untuk menutupi kegirangan diri.
"Bilang ke Hiori dong." Isagi mengangguk patuh, tersenyum lalu memeluk Kaiser sepanjang malam.
Kaiser paham. Kaiser menarik kesimpulan nyata. Kaiser tidak perlu lagi mempertanyakan validitasnya dalam sebuah relasi romantis. Hal dasar dalam kausa terjadinya derita kesukaran telah menghilang, sebab Isagi dan segala tindakkannya malam ini telah merubah akal sehat.
Sesuatu terpenting dalam kenyataan yang konkret adalah; Isagi selalu menginginkan raganya.
