Actions

Work Header

menggenggam pecahan kaca dan semangkuk sup hangat

Summary:

Bagi Donghyuck hidup yang ia jalani saat ini seperti menggenggam pecahan kaca di dalam kepalan tangannya, semakin ia genggam dengan erat semakin akan merobek tiap lapisan kulitnya, semakin dalam dan semakin menyakitkan.
Lalu Minhyung hadir di hidupnya seperti semangkuk sup ayam hangat yang ia santap malam itu saat ia dipukuli dan ditendangi di bawah deras hujan—menghangatkan.

Notes:

listen to this while reading

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Suara teriakan ayah dan pekikan ibu, suara piring yang dilempar ke lantai hingga tercerai berai menjadi kepingan-kepingan beling dan suara tangisan kelaparan adik-adiknya dari dalam kamar menggambarkan bagaimana hari-hari yang Donghyuck lalui sepanjang hidupnya. 

"GOBLOK!" teriakan lantang dibarengi dengan tamparan keras mendarat di pipinya yang masih berusia empat belas tahun kala itu. Bukan kali pertama hal ini terjadi padanya, hingga pipi yang memerah dan memanas nyeri menjadi rasa yang tidak lagi asing bagi Donghyuck. 

"Pak!" seru ibu berusaha melindungi Donghyuck di balik tubuhnya yang lebih kecil dibanding anak remaja laki-laki itu. 

"Kamu nyimpen uangnya kan! Ibu mu ini pasti ngasih duitnya ke kamu kan!" teriak Bapak meremas dan mengguncang pundak Donghyuck kencang. Donghyuck memutar matanya malas. Ia pernah sangat menghormati dan menyayangi bapaknya, walau sosoknya yang jauh dari kata sempurna namun ia selalu berusaha untuk memimpin keluarganya dengan baik. Hingga pandemi melanda dan Bapak kehilangan pekerjaannya. Seperti titik balik—Bapak juga kehilangan dirinya. Ia terjerumus ke dalam lingkaran setan; judi dan alkohol. Setiap malam Bapak selalu pulang dengan keadaan mabuk dan berteriak-teriak seakan kesetanan. Kemudian pada satu waktu teriakannya berubah menjadi pukulan dan tonjokan yang ia layangkan kepada Ibu. Donghyuck yang saat itu baru menginjak kelas dua sekolah menengah pertama akan selalu melindungi Ibunya dari tangan dan kaki Bapaknya yang menggila. Tak jarang tindakannya ini dihadiahi dengan badannya yang dilempar dan perutnya yang ditendang. 

Namun, dia tidak mungkin diam saja menyaksikan keluarganya berjalan menuju kehancuran, diam saja menyaksikan Ibunya dihajar menuju kematian. 

Ada kala keinginan untuk mengakhiri semua penderitaan ini terbesit di dalam benaknya dengan menghunuskan pisau yang biasa Ibu gunakan untuk mengupas bawang tepat menuju jantung Bapak. Walau pada akhirnya keinginan itu hanya berakhir menjadi seonggok angan yang terbengkalai di sudut isi kepalanya—tak bernyali untuk ia wujudkan.


Hari itu di pertengahan tahun 2022, Donghyuck baru kembali dari mengambil ijazah—yang menandakan kelulusannya dari sekolah menengah pertama—ketika ia menemukan ibunya di lantai teras kontrakan bersimpuh sambil bercucuran air mata. Sudah hampir satu minggu ibu yang menjadi tulang punggung keluarga ini tergeletak di atas kasur sebab sakit yang tak kunjung sembuh. Tubuh yang ibu gunakan untuk bekerja dari rumah ke rumah mengepel, menyapu, mencuci dan menerima pukulan dari bapak pun kini telah memilih menyerah.

“Ibu kenapa?” tanya Donghyuck khawatir membawa ibu berdiri dan masuk ke dalam. Lantai kontrakan mereka berantakan dipenuhi dengan barang-barang yang berserakan dan pecahan beling dimana-mana, bahkan ada titik-titik genangan darah yang menetes dari telapak kaki ibu.

Donghyuck mendudukkan ibu yang masih menangis di kursi ruang makan. Ia mengambil obat merah dan perban dari kotak obat lalu ia basuh dengan lap basah luka pada telapak kaki ibunya. Ia membersihkan pecahan-pecahan beling yang masih menempel di sana, kemudian diusap dengan kapas dan obat merah luka itu agar tidak terinfeksi dan dibalut dengan perban untuk menutupnya. Donghyuck memberi segelas air kepada ibu yang masih terisak untuk menenangkan diri sedangkan ia pergi memeriksa kedua adiknya—Isa dan Gunwook yang baru berusia lima dan tiga tahun—yang untungnya masih terlelap nyenyak di dalam kamar. Namun, seperti ada yang meremas jantungnya ketika Donghyuck menyadari bahwa bising dari pertikaian terlalu sering terjadi hingga tidak lagi mengganggu tidur mereka.

Donghyuck kembali berjongkok di hadapan ibunya yang sudah lebih tenang, "Bapak ngapain lagi bu?" 

"Dia pergi mas.. pergi ninggalin kita.." tutur ibu masih terpatah-patah. "Nggak akan balik katanya mas."

Donghyuck melihat sekeliling rumahnya yang berada dalam kondisi naas. Mungkin.. mungkin ini waktunya untuk memperbaiki segala yang telah rusak, untuk memulai jalan hidup yang baru. "Nggak apa-apa bu, kita bisa tanpa dia." Donghyuck mengusap kedua tangan ibu yang berada di atas lutut tuanya, memberi kata-kata penenang yang meyakinkan bahwa mereka bisa menghadapi ini bersama. Sebagai anak pertama dan anak laki-laki, perasaan ingin menjadi pelindung tumbuh secara naluriah dari dalam dirinya. 

"Nanti yang ngehidupin siapa mas? Ibu udah sakit-sakitan, adek-adek masih kecil. Gimana mas.." tutur ibu terisak lagi. 

"Ada Donghyuck bu, Donghyuck bisa."


"WOAH MBAK JOY LULUS!" teriak Minhyung ketika kotak tulisan pada layar komputer di hadapannya menampilkan warna hijau yang menandakan kemenangan atas perjuangannya. Joy—kakak perempuan Minhyung—menutup mulutnya terkejut dan terharu akan keberhasilannya mendapat Perguruan Tinggi Negeri yang ia cita-citakan sejak dulu, ia pun langsung memeluk Bunda dan Ayah yang berada di sisinya.

"Selamat mbak," ucap Bunda haru mengecup kening Joy.

"Usaha kamu akhirnya nggak sia-sia ya nduk, akhirnya bisa bernapas lega," tutur Ayah mengusap kepala Joy bangga. 

"Berarti aku jadi ikut mbak Joy pindah sekolah ke Jogja dong?" tanya Minhyung memecah suasana haru. 

"Kamu beneran udah bosen tinggal di rumah toh?" tanya ayah menggoda. 

"Bukan gitu yah! kan aku juga mau kuliah di kampus mbak, katanya kalo SMA nya di sana lebih gampang kesempatan masuknya," jelas Minhyung pada ayahnya. 

"Ya nanti coba dicari, kalo bisa diurus pindahnya kamu pindah."

Jawaban ayah membuat Minhyung berseru girang, sekolah dan tinggal di Yogyakarta adalah salah satu impian Minhyung, orang tuanya berasal dari Jawa tengah dan bertemu di Yogyakarta ketika tengah menuntut ilmu di perguruan tinggi ternama. Mereka lalu pergi merantau ke ibu kota untuk mencari mata pencaharian. Minhyung tumbuh besar mendengar kisah-kisah orang tuanya di Daerah Istimewa itu yang manis dan romantis. 

Call him a hopeless romantic but, Minhyung sangat ingin menjalani kisah milik dirinya sendiri di sana. 


Hari-hari setelah kelulusan sekolah menengah pertama yang seharusnya menjadi waktu berlibur dan beristirahat berubah menjadi hari-hari dimana Donghyuck harus mencari kerja untuk menghidupi keluarganya. 

Ia meminta bantuan tetangga sekitar untuk memberinya pekerjaan apabila mereka membutuhkan tenaga. Mulai dari mencuci kendaraan, menjaga toko, membantu cuci piring di tempat makan, semua ia lakukan dalam satu bulan terakhir. Namun, pundi-pundi yang ia dapat dari semua peluh yang telah ia keluarkan belum cukup untuk memenuhi kehidupan empat kepala di rumahnya. 

Pagi-pagi sekali ia harus bangun memasak sarapan untuk adik-adiknya yang masih kecil, memandikan mereka satu persatu, mempersiapkan Isa untuk pergi berangkat ke TK lalu pergi ke pekerjaan apapun yang tersedia pada hari itu hingga malam hari. Kemudian hari yang sama terulang lagi keesokan harinya sejak ia membuka mata di pagi hari. 

Bagi Donghyuck hidup yang ia jalani saat ini seperti menggenggam pecahan kaca di dalam tangannya, semakin ia genggam dengan erat semakin akan merobek tiap lapisan kulitnya, semakin dalam dan semakin menyakitkan. Namun Donghyuck terlalu takut untuk membuka dan melepas genggaman tangan itu, menyaksikan bagaimana darah mengalir dari luka-luka yang mengoyak telapaknya selama bertahun-tahun. 

Maka Donghyuck memilih bertahan dan terus menggenggamnya erat. Bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk Ibu dan juga kedua adiknya. 


Sudah dua minggu sejak Minhyung menetap di rumah kontrakan yang orang tuanya sewa untuk ia tinggali dengan Mbak Joy. Bahkan sudah satu minggu Minhyung telah mulai bersekolah di SMA barunya. Setelah mengurus kepindahannya dan persiapan Mbak Joy untuk memasuki Perguruan Tinggi, mereka segera berangkat ke Yogyakarta diantar Ayah dan Ibu yang hanya menginap selama satu pekan. Empat belas hari yang ia lalui di kota ini sangat menyenangkan. Terbebas dari carut-marut kehidupan di ibu kota, kehidupan di sini terasa lebih menenangkan. Ia juga tidak mengalami kesulitan untuk berbaur dengan teman-teman di sekolah barunya. Minhyung sangat senang dapat menjalani kisah manis dan romantis di kota yang ia idam-idamkan. 

Sebelum itu, Ibu dan Ayah telah mengajak Minhyung dan Mbak Joy untuk berkenalan dengan tetangga sekitar saat pertama kali mereka menginjakkan kaki di rumah kontrakan ini, tidak terkecuali keluarga yang tinggal di depan rumahnya. Rumah berwarna hijau pucat yang catnya telah mengelupas di banyak bagian, rumah yang lampu terasnya terus berkedap-kedip sepanjang malam, rumah yang selalu terdengar tangisan anak kecil sejak fajar menyingsing hingga kembali tenggelam. Di rumah hijau itu tinggal Bu Yuri, dua balitanya; Isa dan Gunwook, juga anak sulungnya Donghyuck. Minhyung belum pernah bertemu Donghyuck secara langsung—ketika Ayah dan Ibu membawanya ke sana hanya ada Bu Yuri yang berjalan terseok-seok dan Gunwook yang menangis di atas kursi ruang tengah. Yang Minhyung ketahui hanya saat pagi hari ketika ia dengan seragam putih abu-abu yang telah disetrika rapi, ia yang menggendong tas di belakang punggungnya dan bersiap berangkat ke sekolah dengan motor matic yang baru Ayah belikan, di depan sana Donghyuck dengan kaos belel yang berlubang di sekitar lehernya, membawa Isa berangkat ke TK dengan motor bebeknya yang hanya bisa menyala setelah diinjak staternya berkali-kali.

“Mbak emang TK udah masuk ya dari jam segini?” tanya Minhyung suatu pagi ketika ia tengah menyantap nasi goreng yang Mbak Joy masak sebelum ia berangkat ke sekolah. Pandangannya mengarah ke luar jendela menatap Donghyuck yang berusaha keras menyalakan mesin motornya dan Isa yang terduduk di teras memakai sepatu mungilnya.

“Belum sebenernya, cuma kan yang punya TK ada yang tinggal di sana jadi sekalian dititip. Soalnya Donghyuck kan harus kerja, Bu Yuri juga nggak bisa nganter. Kalo sore juga gurunya yang mulangin soalnya Donghyuck pulangnya malem,” jelas Mbak Joy menatap iba keluar sana.

“Ohh..”

“Mereka tuh kasian lho, ditinggal bapaknya udah mau satu tahun. Ibunya yang tadinya kerja sekarang sakit-sakitan. Donghyuck pas lulus SMP akhirnya yang gantiin kerja, mana adek-adeknya masih kecil gitu. Dia pagi tuh masak buat sarapan sama makan siang Ibunya sama Gunwook, pulang malem masak lagi buat makan malem. Bu Yuri udah nggak kuat berdiri lama-lama. Kata ibu-ibu yang lain kalo malem kadang pada suka nganterin makan ke sana biar Donghyuck bisa istirahat. Kita lho bersyukur Minhyung, walau Bapak Ibu nggak kaya tapi masih bisa biayain sekolah sampe segini,” tutur Mbak Joy membuat Minhyung yang mendengarkan cerita hidup Donghyuck bersedih namun juga mengerutkan keningnya, mengapa ia harus bersyukur merayakan hidupnya di atas hidup orang lain yang lebih menderita?

Minhyung tidak pernah mengerti konsep bersyukur di atas penderitaan orang lain, apa yang harus disyukuri dari kenikmatan yang didapat setelah mengetahui bahwa di luar sana banyak orang yang tidak seberuntung hidup yang kita jalani, bahwa syukur bukan Minhyung yang dijatuhi nasib malang tapi Donghyuck begitu? Seakan berdansa gembira di atas tumpukan jasad para korban yang gugur di medan perang. Seakan bersorak riuh kegirangan di atas kubangan darah. 

Yang Minhyung rasakan adalah iba. Iba mengapa Tuhan tega menulis jalan hidup sebegitunya pada sebuah insan. Iba mengapa semesta dibentuk dalam ketidakadilan. Iba mengapa tidak semua manusia bisa merasakan kebahagiaan. 


“Bu ini Donghyuck udah masak sayur asem di atas kompor ya, kalo mau makan tinggal diangetin. Tahu tempe udah digoreng di atas meja,” ucap Donghyuck yang sudah mempersiapkan makanan untuk Ibu dan Gunwook.

Seperti pagi di hari lainnya, Donghyuck menghampiri Isa yang baru selesai mandi dan memakai seragam TK di tubuh kecilnya. Donghyuck menyisir surai panjang dan lebat milik adiknya sambil sesekali melirik jam yang menggantung di dinding kamar yang sudah menunjukkan pukul tujuh kurang.  

“Aw mas sakit!” pekik Isa ketika Donghyuck menarik rambutnya terlalu keras.

Donghyuck memberi usapan lembut pada puncak kepala adiknya meminta maaf, “Maaf maaf, hari ini kuncir satu aja ya Sa, mas udah mau telat ini.” yang dijawab anak perempuan usia lima tahun itu dengan anggukan pasrah.

Sudah hampir dua bulan sejak Donghyuck bekerja sebagai kuli angkut. Salah satu tetangganya membantu ia mendapatkan pekerjaan itu. Sebagian besar pekerjaannya ia lakukan dengan mengangkut karung-karung barang di pasar, sesekali di stasiun atau pelabuhan. Upah yang ia dapatkan sekitar 50 hingga 80 ribu per harinya—tergantung banyaknya barang yang ia angkut hari itu. Uang yang tidak seberapa besar nominalnya tersebut ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya, membayar sewa rumah, membeli obat-obatan ibu dan disimpan sisa-sisa terakhir ke dalam celengan kaleng yang disembunyikan di ujung lemari. 

Dua bulan Donghyuck mengangkat karung-karung berat di atas punggungnya yang dibasahi oleh keringat, di atas punggungnya yang telah remuk—menanggung berat beban keluarganya. Namun Donghyuck tidak bisa memilih, pekerjaan apa yang bisa dilakukan anak lulusan sekolah menengah pertama selain pekerjaan yang menggunakan tubuhnya.

Karena di dalam dunia ini Donghyuck tak lain dari seorang pelacur yang melacurkan tubuhnya untuk bertahan hidup. 

Sepulang dari pekerjaannya malam itu Donghyuck mampir ke warung yang tidak terlalu jauh dari rumahnya untuk membeli beras karena persediaan di rumah yang akan habis. Saat hendak membayar, matanya menatap ke arah roti goreng di dekat kalkulator yang sudah dingin dan mengempis dari bentuk awalnya saat baru digoreng. Ia mempertimbangkannya cukup lama sebelum memutuskan untuk membelinya. 

“Pak sekalian roti goreng ya.”

Bapak penjual warung mengambil plastik bening untuk menyimpan roti goreng yang akan Donghyuck beli, “Abisin semua lima ribu ya dek?’ tawarnya melihat sisa 7 buah roti goreng di dalam kotak yang langsung Donghyuck jawab dengan anggukan pasti. 

Donghyuck berjalan pulang dengan suasana hati yang bahagia. Walau tubuhnya rasanya hampir remuk dan lembab dipenuhi peluh, namun ia dapat membelikan roti goreng kesukaan adik-adiknya dari uang hasil jerih payahnya hari ini. Tidak sabar untuk melihat reaksi bahagia dari kedua adiknya saat melihat bungkusan plastik yang ia bawa nanti saat memasuki rumah—atau mungkin kalau mereka sudah tidur karena malam yang sudah larut, maka akan ia hangatkan untuk sajian esok pagi saat kedua adiknya akan memulai hari yang panjang. 

Namun, seperti keberuntungan tidak pernah berpihak padanya rintik-rintik air tiba-tiba menyambangi tanah dari langit yang gelap sedikit demi sedikit kemudian menjadi lebat. Ia berlari menerjang hujan menenteng beras di tangan kiri dan melindungi sebungkus donat goreng di tangan kanannya. Ketika ia hendak meneduh di bawah atap ruko yang terbengkalai, dunia lagi-lagi mengejek dirinya dengan mempertemukan Donghyuck dengan gerombolan anak punk jalanan yang tengah tertawa-tawa menghisap batangan nikotin dari sela-sela jari mereka.  Donghyuck datang bak bintang tamu utama yang telah mereka nanti-nanti, tujuh orang langsung berjalan mendekat dan mengepung dirinya. Mereka menggeledah tubuh dan barang bawaannya, mencari barang berharga yang bisa mereka ambil. 

Donghyuck tidak punya apa-apa selain nyawa dan isi dompetnya yang tidak seberapa malam itu. Ia memeluk erat sebungkus plastik berisi donat goreng ketika ia dijatuhkan dan ditendangi di atas aspal basah setelah isi dompetnya telah habis mereka kuras. Ia tidak bisa apapun selain bertahan menerima semua tendangan dan kepalan tinju yang mendarat di atas tubuhnya. Namun, ketika satu tangan berusaha meraih bungkusan plastik dari dadanya ia berteriak keras, 

“JANGAN!” 

Donghyuck tidak punya apa-apa selain nyawa dan isi dompetnya yang tidak seberapa malam itu, tapi untuk malam ini sebungkus roti goreng dingin yang ia peluk dengan erat adalah hartanya yang paling berharga. Ia melawan dan menarik balik plastik berisikan roti goreng itu ke dalam rengkuhannya. Ia bertahan menerima kembali pukulan dan tendangan yang dialamatkan padanya hingga terdengar suara mesin motor dan teriakan yang mendekat. 

“Woy woy! Gila ya! Gue laporin ketua RT lo ya!” serunya membuat kumpulan yang sedang sibuk memukuli Donghyuck itu langsung berlarian kabur. 

Pengendara motor itu berhenti dan turun dari motornya mendekati Donghyuck yang terkapar tak berdaya lalu terkesiap kaget, “Donghyuck!” 

Donghyuck dengan pandangan matanya yang kabur mengenali Minhyung sebagai tetangga barunya, Minhyung yang sering ia lihat dengan seragam putih abu-abunya, Minhyung yang membuatnya terkadang merasa iri karena menjalani hidup yang ia impikan. 

Minhyung membopong tubuh lemah Donghyuck dan menaikkannya ke atas motor sebelum kesadaran Donghyuck hilang sepenuhnya. Ia membawa motor menerjang hujan yang sudah lebih reda sebelumnya. Tidak sampai lima menit ia memarkirkan motornya tepat di halaman rumahnya. 

“Minhyung kok baru pulang keman—” ucapan mbak Joy yang baru saja keluar dari rumah dan bersiap mengomeli Minhyung yang pulang terlambat langsung dipotong. 

“Mbak bentar dulu mbak ini tolongin.”

“Ya Tuhan Donghyuck!” seru mbak Joy langsung membantu membopong Donghyuck masuk ke dalam rumahnya. “Kenapa ini?”

“Dikeroyok anak punk yang sering nongkrong di deket pasar itu lho mbak,” jelas Minhyung setelah merebahkan tubuh Donghyuck di atas sofa ruang tamu. 

Mbak Joy melihat kondisi Donghyuck dengan cemas, “Astaga mbak emang udah ngerasa, tiap pulang malem sering ketemu mereka tuh nyeremin. Yaudah kamu ambilin baju ganti terus bersihin obatin lukanya ya. Mbak bikinin teh anget sama angetin sop dulu, ini anak baru pulang kerja pasti belum makan.”

Minhyung pun bergegas untuk mengobati luka Donghyuck dan mengganti bajunya. Mbak Joy kembali dengan segelas teh panas yang ia letakkan di atas meja ruang tengah saat Minhyung kesulitan melepaskan genggaman Donghyuck pada plastik roti goreng. 

“Itu apa?” 

“Nggak tau, kayaknya donat apa roti tapi dari tadi dipelukin nggak mau dilepas.”

Mbak Joy lalu menepuk-nepuk pelan pipi Donghyuck membuatnya mengerjapkan matanya yang berat. Kesadarannya kembali dan ia menemukan dirinya bukan berada di rumahnya karena sofa tempatnya berbaring saat ini terasa empuk, cat di dinding yang terlihat baru dan bersih, serta langit-langit yang tidak ada retakan di permukaannya. 

“Donghyuck bangun sebentar ganti baju dulu ya,” suara perempuan muda memasuki indera pendengarnya membuatnya sadar sepenuhnya.

“Mbak,” ucapnya parau dan langsung bangun dari tidur. Ia melenguh kencang saat gerakannya yang tiba-tiba itu membuat nyeri dari lebam-lebam di tubuhnya terutama pada bagian rusuk terasa ngilu. 

“Eh pelan-pelan aja,” ucap Mbak Joy, “Kamu bersih-bersih dulu ya dibantuin Minhyung, abis itu makan.”

Minhyung membantu Donghyuck melepas kaos yang melekat di tubuhnya, ia lalu membasuh tubuh Donghyuck dengan handuk kecil basah—membersihkan peluh dan darah akibat luka-luka tendangan. Minhyung lalu mengoleskan salep memar dan obat merah pada luka-luka di tubuh Donghyuck. 

“Ini sembuhnya mungkin bakal cukup lama, apa perlu ke rumah sakit ya takut ada yang retak tulangnya?” tanya Minhyung khawatir. 

Donghyuck menggeleng menolak usulan Minhyung. Uang apa yang mau dipakai ketika isi dompetnya sudah kosong hari ini. Lagipula Donghyuck sudah terbiasa dipukul dan ditendang, memang akan sakit di minggu awal tapi pada akhirnya akan sembuh dan terbiasa. 

Setelah selesai mengobati luka dan mengganti pakaiannya, Donghyuck lalu meminum teh hangat yang Mbak Joy buat untuknya. Cairan pertama yang masuk ke tubuhnya dalam beberapa jam terakhir, rasanya melegakan dan seperti kembali bernafas bebas. 

“Minhyung ajak ke sini Donghyucknya, makan dulu sopnya udah anget. Kamu juga ganti baju terus makan,” ucap Mbak Joy dari dapur setelah selesai mempersiapkan sepanci sup hangat di atas meja makan. 

Donghyuck—dengan dibantu Minhyung yang memapahnya dari samping—berjalan ke arah meja makan lalu duduk di salah satu kursinya. Mbak Joy meletakkan mangkuk kaca di hadapannya kemudian menuangkan sup ayam dari panci, ia memasukkan banyak potongan ayam ke dalamnya, wortel, brokoli, kubis, kentang dan dua butir telur puyuh. 

“Dah nih habisin ya, kalo kurang nambah,” ucap Mbak Joy sembari meletakkan segelas air putih di sisi mangkuknya. 

Minhyung yang baru datang setelah mengganti seragam SMA nya dengan baju rumah langsung duduk di kursi tepat di samping Donghyuck. Mbak Joy pun lalu menyiapkan semangkuk sup ayam untuk Minhyung. 

“Makan yang banyak, kalo kamu sakit nanti Mbak yang dimarahin ibu,” titah Mbak Joy kepada Minhyung yang cengengesan di sampingnya, “Makasih mbak ku sayang, ujan-ujan emang enaknya makan sop buatan mbak,” ujar Minhyung memuji kakaknya, “Donghyuck juga makan aja yang banyak sopnya, mbak bikin banyak nanti lo bawa pulang juga buat adek-adek kamu biar bisa buat sarapan besok. Lo pasti capek kalo harus masak,” lanjut Minhyung yang dijawab anggukan canggung Donghyuck tidak terbiasa dengan perhatian seperti itu.

Kepulan asap menguap dari semangkuk sup ayam hangat yang berada di hadapan Donghyuck, ia menatapnya lama sebelum dengan ragu menyendok sup ayam tersebut. Setelah meniupnya beberapa kali agar kuah panasnya tidak membakar lidah, ia lalu menyuapkan sup tersebut ke dalam mulutnya. Dikunyahnya secara perlahan, menikmati rempah-rempah yang menempel di indera perasanya lalu ia telan ke dalam kerongkongannya.

Hangat. Rasanya hangat. Kehangatan yang belum pernah Donghyuck rasakan di dalam hidupnya sebelumnya.

Malam itu Minhyung mengantar Donghyuck pulang ke rumahnya dengan sekotak sup ayam buatan Mbak Joy  dan sebungkus roti goreng yang ia pertahankan dengan nyawanya. Donghyuck memasuki rumahnya yang sudah dalam kondisi hening karena seluruh keluarganya sudah masuk ke dalam dunia mimpi. 

Ia merebahkan diri di atas ranjangnya yang telah reot dan usang. Donghyuck memejamkan matanya—dan mungkin untuk pertama kalinya Donghyuck terlelap dengan nyenyak tanpa takut ada mimpi buruk yang akan menghampirinya.


“Donghyuck liat deh ini lucu banget,” Minhyung menunjukkan video lucu dari layar ponsel genggamnya.

Sejak malam itu ada yang berubah dari hari-hari Donghyuck. Pagi yang biasanya menyesakkan kini terasa menyegarkan setiap kali ia melihat senyuman yang Minhyung berikan kepadanya. Minhyung akan berlari keluar dengan tergesa-gesa sesaat setelah ia mendengar suara mesin motor Donghyuck yang menyala—terkadang ia masih sibuk mengunyah dengan isi mulutnya yang penuh. Ia akan menemani Donghyuck mengantar Isa ke TK nya, lalu mereka akan berkendara beriringan dan berpisah di pertengahan jalan—Minhyung menuju ke SMA nya dan Donghyuck ke tempat ia akan bekerja.

Semangat kerjanya hari ini Donghyuck! ” adalah kata-kata yang Minhyung ucapkan setiap pagi sebelum mereka berpisah dan anehnya berhasil membuat hari yang Donghyuck lalui terasa lebih ringan dari sebelumnya. 

Minhyung akan datang di malam hari membawa masakan Mbak Joy untuk Donghyuck dan keluarganya makan. Kemudian mereka akan berbincang sepanjang malam atau Minhyung akan mengajak adik-adik Donghyuck bermain hingga mereka merasa lelah dan tertidur nyenyak. 

Di akhir pekan jika Donghyuck libur dan Minhyung tidak ada kegiatan lain, mereka akan bertemu di rumah salah satunya seperti hari ini. Mereka akan menonton film dari laptop Minhyung, mendengarkan lagu, membaca buku fiksi yang Minhyung pinjam dari perpustakaan atau bahkan mereka hanya berbaring di atas kasur dalam diam sibuk dengan pikirannya masing-masing. Kehadiran satu sama lain di sisi mereka entah bagaimana sudah cukup terasa menenangkan.

Terkadang juga Donghyuck akan ikut mengerjakan tugas sekolah Minhyung dan ia akan tertawa getir setiap kali Minhyung berucap, “Donghyuck lo pinter banget, pasti kalo di kelas gue lo bakal ranking satu.

Dengan Minhyung, Donghyuck dapat melakukan hal-hal yang ia lewati sebagai seorang remaja, hal-hal yang direnggut dari dirinya beberapa tahun yang lalu.

Dengan Minhyung, Donghyuck merasa ia mendapatkan kesempatan kedua untuk menjalani hidupnya kembali.

Dengan Minhyung, Donghyuck merasa hidup.

“Hahaha nggak jelas banget kenapa deh itu,” Donghyuck tertawa menanggapi video yang Minhyung tunjukkan. 

Minhyung sibuk memakan telur gulung yang mereka beli sebelumnya sambil menonton video di aplikasi ponsel genggamnya ketika Donghyuck tiba-tiba bertanya, “Kamu suka kepikiran kangen Jakarta nggak?”

“Uhm?” Minhyung menolehkan kepalanya menatap Donghyuck, “kenapa tiba-tiba?”

“Gapapa nanya ajaa.. aku nggak tau rasanya pindah tempat tinggal soalnya.”

“Kangen sih pasti, kangen ayah bunda, kangen temen-temen lama, kangen jalan-jalannya juga haha.”

“Ohh.. terus kalo bisa milih kamu mau tinggal di sana lagi apa tetep pindah ke sini?” tanya Donghyuck lagi. 

Minhyung berpikir sesaat lalu tersenyum kecil, “Kalo balik ke sana nggak pengen sih.. mau di sini aja..” tuturnya. 

“Kenapa tuh?”

“Soalnya di Jakarta nggak ada lo,” jawabnya tersenyum menggoda. 

Donghyuck mengerang malas membuat Minhyung terkekeh, “Ahh malesin jawabannya yang seriusss dong.”

“Lah serius, kalo di sana gue nggak bakal ketemu sama lo Donghyuck. Gue juga nyaman di sini kayak lebih tenang aja rasanya nggak semerawut. Tapi poin pentingnya ada lo sih,” jawab Minhyung lagi. 

“Nyenyenye… terserah kamu deh Minhyung,” ejek Donghyuck kesal karena digoda—walau sebenarnya itu hanya upayanya untuk menutupi debaran jantung yang tiba-tiba meningkat dan semburat merah yang muncul di pipinya. 

Btw hyuck, bukannya orang jogja tuh kentel banget ya sopan santun ke orang yang lebih tua?” Donghyuck mengangguk, “tapi kok lo manggil gue pake nama doang sih? Nggak pake kakak atau mas gitu?” lanjut Minhyung bertanya. 

“Kebiasaan dari awal deh kayaknya, soalnya dulu kan nggak tau kalo kamu lebih tua ternyata. Kenapa? Kamu mau aku panggil mas? Mas Minhyung…”

Uhuk uhuk. Minhyung tersedak telur gulung yang sedang ia makan ketika panggilan “Mas Minhyung" keluar dari mulut Donghyuck. Ia segera meminum air mineral di depannya untuk melegakan tenggorokan. 

Ia menggelengkan kepalanya cepat. “Nggak nggak nggak jadi, panggil Minhyung aja biasa,” tolaknya kemudian. 

Donghyuck tergelak, “Haha kenapa tuh kamu salting ya di panggil mas?” ia balas menggoda. 

“Nggak ya!”

“Yaudah kalo gitu aku panggil kamu mas Minhyung, mas Minhyung…” 

Minhyung terdiam pura-pura tidak peduli dan sibuk memainkan ponsel genggamnya membuat Donghyuck kembali tergelak kencang yang anehnya terdengar merdu di telinga Minhyung. 

Selamat ya Minhyung, kisah manis dan romantis yang kamu impikan mulai terajut. 


Hari itu Minhyung pulang dari kegiatan ekstrakurikulernya di sekolah ketika dia mendengar teriakan dari rumah Donghyuck dan seorang laki-laki paruh baya yang keluar tergesa-gesa dari dalam.

Dengan panik ia memarkirkan motornya sembarangan dan langsung berlari ke sana. 

“Donghyuck!” ia berseru kencang saat menemukan Donghyuck yang tergeletak di lantai dengan pandangan matanya yang kosong. Ada sedikit lebam di wajahnya dan darah yang mengalir dari sudut bibirnya. 

Donghyuck terdiam tenggelam dalam pikirannya sendiri. Meratapi nasibnya yang malang. 

Pagi itu dia bangun dengan kondisi hati yang riang. Hari itu hari liburnya setelah sekian lama dan ia berniat untuk membuat masakan kesukaan ibunya yang semakin hari terlihat semakin melemah. Hingga tiba-tiba mereka kedatangan tamu tak diundang yang menerobos masuk ke dalam rumah. 

“Bapak mau apa?” tanya Donghyuck berjalan keluar dari dapur memegang pisau yang ia gunakan untuk memotong sayur. Mungkin ini, mungkin ini waktunya, pikirnya saat itu. “Ibu masuk ke kamar,” pintanya pada ibu dan adiknya Gunwook yang duduk di kursi ruang makan. 

Setelah setahun lebih Bapak tidak pernah menampakkan wajahnya di rumah ini,  tiba-tiba ia datang di suatu pagi yang seharusnya cerah. Tidak perlu dipertanyakan tujuannya, karena apalagi yang ia perlukan dari mereka selain uang. Ia berkeliling rumah mencari uang yang Donghyuck simpan. 

“Kamu udah kerja kan? Pasti ada duit kamu taro mana?” 

“Nggak ada udah dipake semua,” jawab Donghyuck tegas. 

“Masa nggak ada yang disimpen? Mana sih saya ini bapakmu kasih sini,” perintahnya mendekat di hadapan Donghyuck. 

Donghyuck tertawa getir, “Ya terus kenapa, orang nggak ada duitnya. Udah dipake semua emangnya dikira gaji ku gede? Aku lho harus ngidupin istri dan anak-anakmu pak, istri dan anak-anak yang bapak tinggalin!” cecar Donghyuck marah. 

Lagi-lagi telapak tangan mendarat di wajah Donghyuck, “Jangan kurang ajar ngomong teriak-teriak sama bapak ya.”

Bapak masuk ke kamar Donghyuck yang langsung dikejarnya. Donghyuck berusaha menarik tangan Bapak untuk keluar dari kamarnya yang malah ditampik kasar dan membuat tubuh Donghyuck terpelanting ke dinding. Diobrak-abrik isi kamar Donghyuck oleh Bapak, diberantak isi mejanya mencari tempat Donghyuck menyimpan uang. Dibuka semua laci yang ada di dalam kamar, bahkan isi bantal pun di periksanya. Ketika lemari baju Donghyuck dibuka, rasanya seperti jantungnya berhenti berdetak dan ia berhenti bernapas. Bapak melempar semua pakaiannya keluar sampai menemukan kotak tempat Donghyuck menyimpan uang hasil jerih payahnya sedikit demi sedikit. 

Dan di detik itu Donghyuck ingin menyerah. 

Bapak mengambil semua lembaran uang di dalam kotak itu tidak menyisakan sepeserpun lalu pergi keluar dari kamar. Donghyuck berlari keluar mengejar meraih lengan Bapak menahannya pergi, “Bapak jangan diambil semua,” suaranya bergetar melemah hampir menyerah. 

“Pelit amat sih sama bapak sendiri,” cibir Bapak menghempas tangan Donghyuck di lengannya. 

“Bapak kalo diambil semua gimana kami mau hidup..”

“Kan kamu kerja udah ah saya mau pergi.”

Donghyuck menahan lengan Bapak lagi, “Bapak..” rintihnya memohon belas kasihan yang dibalas dengan hardikan kasar dan kepalan tinju di wajahnya yang membuatnya jatuh tersungkur di lantai. 

Bahkan untuk melawan pun Donghyuck tidak sanggup lagi. 

Donghyuck! Donghyuck! ” suara panggilan berkali-kali yang membawanya kembali ke kenyataan. Ia mengerjapkan matanya dan pandangannya yang kabur. Ia menatap Minhyung yang kini berjongkok di hadapannya menatap khawatir. 

“Lo gapapa?” matanya melihat setiap inci tubuh Donghyuck dari kepala hingga ujung kaki memeriksa apa ada luka lain yang harus diobati. 

Donghyuck berdiri dari lantai lalu berjalan duduk di atas kursi ruang tengah. Ia duduk terdiam tidak mengeluarkan sepatah kata pun. 

“Donghyuck tadi siapa yang dateng?” tanya Minhyung lagi. 

“Bapakku,” jawabnya pelan. 

“Hah? Lo gapapa? Diapain tadi?” Minhyung semakin khawatir teringat cerita Mbak Joy tentang Bapak Donghyuck. 

Donghyuck menggeleng, tiba-tiba air mata lolos dari sudut matanya. Ia terisak pelan tanpa suara. 

Donghyuck tidak banyak cerita tentang hidupnya. Selama mereka berteman mereka hanya bersenang-senang dan bermain bersama. Donghyuck tidak pernah mengeluh, tidak pernah bercerita tentang betapa berat hidupnya. Maka ketika Minhyung akhirnya melihat Donghyuck menghancurkan tembok tempatnya bersembunyi dan berpura-pura kuat di hadapannya selama ini, ia lantas membawa Donghyuck masuk ke dalam pelukannya. 

“Minhyung.. kenapa ya kenapa aku nggak boleh bahagia…” ucap Donghyuck dalam isak. 

Minhyung mengusap punggung Donghyuck menenangkan, “Boleh kok hyuck, boleh.”

“Kenapa pas aku udah nggak benci hidupku, pas aku udah nerima dan ngerasa bahagia, dia dateng dan bikin aku marah sama hidupku lagi,” racau Donghyuck dalam tangisnya, “Aku bahkan nggak pernah pengen nyerah sekeras apapun hidupku sebelumnya. Tapi tadi aku kepikiran nyerah buat pertama kalinya.. karena aku ngerasa sekeras apapun aku usaha, sekeras apapun aku berjuang buat ngerasa bahagia, kayaknya emang aku nggak ditakdirin buat itu.”

“Nggak ada yang nggak ditakdirin buat bahagia hyuck,” ucap Minhyung lagi. 

“Tapi aku..”

“Bedanya perjalanan orang buat nyampe bahagia yang beda-beda, mungkin ada yang jalannya mulus, ada juga yang jalannya berkerikil, bahkan ada yang harus ngelewatin banyak batu besar yang menggelinding. Lo hebat dan keren bisa berjalan sejauh ini ngelewatin semua rintangannya hyuck... Gue tau nggak gampang buat lo selama ini, tapi sekarang lo nggak jalan sendirian hyuck. Gue temenin ya? Gue temenin dan bantuin lo ngelewatin jalan yang banyak rintangan. Gue temenin lo cari jalan yang banyak bunganya. Gue temenin lo sampe ketemu kebahagiaan lo... jadi lo jangan nyerah dulu ya...” 

Kehadiran Minhyung di hidupnya sama seperti semangkuk sup ayam hangat yang ia santap malam itu saat ia dipukuli dan ditendangi di bawah deras hujan—menghangatkan. Mungkin Minhyung tidak bisa menghapus rasa sakit dari luka-luka yang ada di tubuhnya, di hatinya, tapi mungkin kehadirannya cukup untuk membuat Donghyuck merasa tenang dan nyaman, cukup untuk membuat Donghyuck merasa tidak sendirian. 

Kepalan tangannya yang berisikan pecahan kaca ia buka untuk pertama kalinya, ia izinkan dirinya terlihat rapuh di hadapan Minhyung, ia izinkan Minhyung melihat dirinya yang berdarah-darah. Luka di telapak tangannya dan darah yang mengalir dari sana sekarang ditutup dengan telapak tangan Minhyung yang menggenggamnya. 

Donghyuck tidak meminta lebih pada dunia, kalau mungkin takdir memang memberinya jalan bebatuan untuk dilalui, izinkan dia melewatinya bersama Minhyung yang menggenggam tangannya erat. 


I thought I’ve suffered more than enough

But it seems like there’s much more left

Will my tiny little world smile at me?

Will this long sadness ever come to an end?


Minhyung meletakkan dua botol minuman dan dua bungkus onigiri di atas meja kasir minimarket.

“Ini aja? Ada tambahan lagi?” tanya pegawai yang melayaninya yang Minhyung jawab dengan gelengan kepala dan senyuman kecil.

“Mau cek promonya kak? Ada ini jadi cuma lima ribu aja?” tawarnya lagi.

“Nggak mas.”

“Pakai kantong plastik atau nggak kak?”

“Nggak usah mas.”

“Baik totalnya empat puluh tiga dua ratus rupiah ya,” ucap pegawai tersebut setelah mentransaksikan barang belanjaan Minhyung. Minhyung lalu menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan kepadanya.

“Ada kartu membernya?”

“Nggak ada mas,” jawab Minhyung lagi.

“Oke uangnya lima puluh ribu ya, kembaliannya jadi enam ribu delapan ratus,” ucap pegawai minimarket itu menyerahkan selembar uang lima ribu rupiah, selembar uang seribu rupiah dan dua buah uang koin bernilai tiga ratus rupiah.

Minhyung mengambil uang kembalian itu dari tangan sang pegawai, lalu mengambil belanjaannya. “Yang itu buat masnya, dimakan ya jangan capek-capek kerjanya sampe lupa makan,” ucap Minhyung sebelum berjalan melangkah keluar dari minimarket meninggalkan sebotol minuman, satu buah onigiri dan merah di pipi Donghyuck yang berdiri di balik meja kasir.

Banyak yang Donghyuck dan Minhyung lalui bersama-sama dalam beberapa tahun terakhir. Seperti Minhyung yang kini menginjak semester tiga di bangku perguruan tinggi yang ia impikan sedari dulu. Donghyuck yang mengambil ujian paket C untuk ijazah SMA dan sekarang sudah bekerja sebagai pegawai minimarket selama empat bulan. Kesehatan Bu Yuri yang semakin membaik dan mendapatkan pengobatan setelah dibantu Mbak Joy mengurus BPJS. Mbak Joy yang sudah lulus dari perguruan tinggi dan kembali ke Jakarta untuk bekerja. Isa yang sudah masuk sekolah dasar dan Gunwook yang masuk Taman Kanak-Kanak. Atau juga seperti Minhyung dan Donghyuck yang melakukan ciuman pertama mereka di balik gerobak bakso saat meneduh dari hujan deras di perjalanan pulang mereka dua bulan yang lalu.

Mereka melalui banyak kerikil dan batu untuk dapat sampai di titik ini. 

Mereka juga melalui penyangkalan yang panjang untuk dapat mengakui perasaan masing-masing.

Sore ini tangan Donghyuck melingkar di pinggang Minhyung yang mengendarai motornya di jalanan kota Yogyakarta. Mereka terkadang pergi dan pulang bersama apabila jadwal kuliah Minhyung dengan shift kerja Donghyuck berdekatan. Minhyung akan mengantar Donghyuck ke minimarket dan menjemputnya kembali setelah ia selesai dengan kelasnya. Donghyuck menyandarkan kepalanya di pundak yang lebih tua menyembunyikan senyumnya yang tidak bisa berhenti mengembang.

“Kamu capek?” tanya Minhyung melihat Donghyuck yang bersandar padanya. 

Donghyuck mengangkat kepalanya lalu menggeleng pelan, “Nggak.” jawabnya dengan tersenyum.

“Terus kenapa?” tanya Minhyung sambil menatap Donghyuck melalui kaca spion.

“Cuma.. bahagia..”


Will the warm sunlight shine down on me for once, someday?

It will.

 

fin—

Notes:

hi! it's been fun working on this fic event and to put this prompt into a writings.
i hope you like it and please leave some of your thoughts in the comment.. i'm looking forward to it!