Actions

Work Header

The Pine Tree (The First Snow)

Summary:

Have you ever felt like your feelings change drastically the next day when the strange freaky tall guy you fought with at your great great great grandmother's farm shows up at your family house with the tree in a pick-up truck in the middle of the first snow?

Notes:

i'm shocked that 2023 is almost over, but i'm proud that i made it through. hope you guys can make it too!

Work Text:

Hampir 12 bulan telah terlalui. Tidak terasa tahun akan bertambah 1 angka lagi di belakang sana. Tahun baru dan segala perayaan penyambutannya yang tidak pernah habis.

 

Harum kue jahe mulai menjadi teman akrab hidung di sepanjang dari cerobong asap toko kue di sudut kota. Lampu kerlap-kerlip, seluruh kota bermandikan warna merah, hijau, dan putih yang dirindukan setiap tahunnya.

 

Gemerlap malam di bulan Desember terasa begitu indah dengan seluruh perayaan ini. Semua orang bahkan sedang sibuk saling berkirim sweater dan berlomba-lomba memesan villa bintang 5 di pinggiran kota untuk menghabiskan liburan natal dan tahun baru bersama orang terkasih. Ada juga yang sibuk menyisihkan uang untuk ikut diskon akhir tahun yang tidak pernah mengecewakan.

 

Ah, kehangatan suasana natal dan tahun baru yang selalu dinantikan.

 

Chenle, yang kini matanya terpejam angin dingin Desember menyapu wajahnya. Ia berdiri di depan pekarangan rumah keluarga besarnya seorang diri, menikmati setiap hembusan angin yang terasa lembut menggelitik. Belum ada tanda-tanda kapan salju pertama akan turun tahun ini. Tapi angin dan suhu di wilayah tempat tinggalnya sudah memaksa Chenle untuk menggunakan baju hangatnya kemanapun ia pergi.

 

Seorang gadis berambut sepinggang berjalan mendekatinya. Ia melemparkan sebuah benda kotak kecil pada Chenle hingga sang pria itu mengaduh.

 

“Ning?!” Protesnya pada perempuan itu.

 

“Nenek minta kamu untuk segera pergi. Takut terlalu malam katanya.”

 

Chenle saat ini sedang menganga melihat pakaian yang dikenakan oleh Ningning. Adik sepupunya itu hanya mengenakan celana pendek yang hampir tidak menutupi setengah pahanya dan sebuah kaos kebesaran berbahan tipis di tengah musim dingin seperti ini. Meskipun ia tahu toleransi dingin anak ajaib itu diluar nalarnya, Chenle tetap terkejut, terlebih Ningning yang terlihat biasa saja dan tidak menunjukkan tanda-tanda kedinginan sama sekali.

 

Chenle kemudian menatap kunci mobil di tangannya, “kenapa nenek tidak beli pohon natal di supermarket terdekat aja sih.”

 

“Ingat tradisi, Chenle. Tradisi. Sudah sana cepat berangkat.”

 

“Loh, kamu kenapa tidak ikut?” tanyanya pada Ningning yang berjalan mendahuluinya masuk kedalam rumah keluarga besar mereka.

 

Gadis itu membalikkan tubuhnya dan mengibaskan rambutnya, “aku sibuk, mau ada kencan. Jadi kamu pergi sendiri, wleee!” ujarnya dengan tawa jahil.

 

“Ya! Kok bisa begitu!?”

 

“Bisa! Makanya cari pacar!”

 

Dan belum sempat Chenle membalas ucapan Ningning, gadis itu sudah terlebih dahulu berlari masuk dan meninggalkan Chenle yang menganga tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

 

***

 

Perjalanannya menuju sebuah kebun yang terletak di pinggir kota memakan waktu kurang lebih 30 menit dari kota. Kebun itu merupakan kebun yang sama yang selalu ia dan keluarganya datangi setiap tahunnya untuk sebuah pohon cemara yang akan mereka bawa ke kota untuk dijadikan pohon natal keluarga.

 

Hal ini sudah menjadi tradisi keluarga Chenle sejak sebelum ia lahir ke dunia. Katanya, nenek buyutnya dahulu merupakan salah satu dari beberapa orang yang menanamkan bibit pohon cemara di wilayah itu. Dan nenek buyutnya itu berjanji akan terus kembali setiap tahunnya ke tempat ini. Namun karena dahulu ia tidak memiliki banyak waktu untuk kembali dan mengurus kebun ini, maka ia memutuskan untuk kembali hanya setiap bulan Desember untuk membawa sebuah pohon untuk dijadikan pohon natal. Dan sekarang, cucu dan cicitnya lah yang meneruskan kegiatannya itu. Pohon cemara yang mereka pilih untuk dijadikan pohon natal merupakan simbol bentuk rasa syukur terhadap jasa nenek buyut mereka di masa lalu.

 

Mendengar kisah ini, Chenle kecil akan senantiasa menatap pohon natal yang berdiri kokoh di ruang keluarganya dengan mata berbinar. Takjub akan keindahan pohon yang konon katanya tumbuh dari tangan sang nenek buyut. Namun kini, Chenle dewasa hanya bisa mendengus geli. Menurutnya semua pohon natal bentuknya sama saja. Tidak ada bedanya selain hiasan yang menggantung di setiap dahan.

 

Bukan apa-apa, ia masih merasakan adanya perasaan hangat ketika matanya menatap keindahan yang dipancarkan oleh pohon natal itu, namun ia malas karena saat ini ia lah yang ditugaskan untuk membawa pohon natal itu pulang ke rumah. Padahal dulu ia merupakan tim hias pohon, dan sekarang semenjak ia beranjak dewasa dan memiliki surat izin mengemudi, tugas kemuliaannya itu dialihkan kepada saudaranya yang lain.

 

Chenle mematikan mesin Toyota Hilux miliknya sesaat setelah ia sampai di perkebunan. Ia memarkirkan mobilnya di sebuah lahan kosong sesuai dengan instruksi dari sang ayah yang sudah biasa menyambangi perkebunan ini.

 

Tubuhnya yang terbalut sweater tebal itu sedikit menggigil saat angin berhembus hebat kearahnya. Buru-buru Chenle berlari ke sebuah bangunan tak jauh dari tempatnya parkir. Menurut penjelasan sang ayah, akan ada penjaga kebun yang nantinya membantu Chenle menebang pohon. Ia cukup mendatangi penjaga kebun itu dan memberitahunya apabila Chenle sudah memiliki pohon yang akan ia bawa pulang.

 

Setelah mendapat persetujuan dari sang penjaga kebun dan diminta untuk mengganti sepatunya menjadi sepasang sepatu boots kebun, Chenle memulai perjalannya menyusuri kebun yang dipenuhi oleh ribuan pohon cemara ini. Ia cukup terkejut saat dirinya baru memasuki bangunan seperti rumah penjaga itu, sang penjaga sudah langsung mengetahui kedatangannya. Pria tambun penjaga kebun itu bahkan mengatakan jika dirinya sangat menunggu-nunggu kehadiran Chenle dan keluarganya disini. Chenle hanya bisa tersenyum kecil mendengarnya.

 

Saat ini dirinya tengah berada di tengah-tengah perkebunan cemara yang tidak tahu akan sampai mana ujungnya. Tidak ada mengenai seberapa luas dan lebar kebun nenek buyutnya ini. 

 

Chenle jadi merasa was-was sendiri, bagaimana jika ia malah nyasar di kebun sebesar ini?

 

Tidak lucu apabila sang nenek berhasil membangun kisah inspiratif di kebun ini sedangkan cicitnya malah membuat kisah konyol karena hilang di tengah-tengah kebun.

 

Sejujurnya, selain merasa was-was, saat ini Chenle sedang bingung. Pohon seperti apa yang biasanya menjadi pilihan seluruh anggota keluarganya yang pernah datang kesini untuk menjalankan tradisi keluarga. Chenle sama sekali tidak memiliki gambaran ciri-ciri pohon natal yang ideal. Seluruh pohon cemara di hadapannya kini tidak terlihat ada bedanya selain ukuran mereka.

 

Setelah beberapa putaran dan semakin bingung dengan pohon mana yang harus ia pilih, pandangannya menangkap sebuah pohon cemara yang hijau sendiri ditengah sekumpulan cemara lain yang berdaun sedikit kemerahan. 

 

Pohon itu terlihat menyedihkan karena berbeda di antara kaumnya. Chenle merasa tertarik, seperti ia mendengar rengekan dari pohon itu yang meminta untuk segera dibawa pulang.

 

Tingginya pas.

 

Daunnya hijau segar.

 

Rantingnya pun cantik, pasti akan mudah untuk menggantungkan hiasan disana nanti.

 

Puncaknya kerucut sempurna.

 

Ini dia pohon yang selalu ia lihat menghiasi rumah keluarganya di bulan natal. Chenle berniat untuk segera membawanya pulang dan menyelesaikan tugas tradisinya hari ini. Ia tidak sabar untuk segera mandi dan menggulingkan tubuhnya di balik selimut hangat kamarnya yang kini sudah memanggilnya untuk segera pulang.

 

Chenle berdiri tepat di hadapan pohon itu. Memandangnya takjub dengan bayangan pohon ini akan terlihat semakin menawan setelah dihias nanti.

 

Oh betapa tidak sabarnya ia untuk melihat, Dami, sang keponakan kecilnya itu digendong oleh sang ayah, kakak Chenle, untuk meletakan bintang di puncak pohon ini. Pekikan khas bayinya pasti akan sangat merdu ditelinganya kala lampu hias mulai dihidupkan untuk semakin mempercantik penampilan pohon natal.

 

Ia baru saja akan memanggil penjaga kebun ini saat ia menyadari ada orang asing dari sisi lain pohon yang juga tengah memperhatikan pohon ini lamat-lamat.

 

“Uhm sorry, apa kamu penjaga kebun disini atau… pengunjung?” tanyanya pelan.

 

Sosok itu, pria itu mengenakan mantel coklat panjang sampai lutut, berdiri tanpa ekspresi dan matanya melirik Chenle singkat. Kemudian terdengar suara bernada rendahnya menjawab pertanyaan Chenle, “pencari pohon.” 

 

Begitu singkat sampai membuat Chenle hampir mendengus. Ia merasa sosok dihadapannya ini adalah orang yang sangat sombong dan tidak tahu sopan santun.

 

“Maaf ya, tapi kalau kamu sedang berpikir untuk mengambil pohon ini silahkan untuk membatalkan niatmu itu karena pohon ini sudah aku pesan dan akan aku bawa pulang.”

 

Pria itu kembali menoleh. Kedua tangannya yang tersembunyi di dalam kantung mantelnya semakin membuat ia terlihat angkuh di mata Chenle.

 

“Ohya? Tapi pohon itu masih disini.” Ucapnya dengan nada yang paling menyebalkan yang Chenle pernah dengar.

 

“Aku sudah memesan pohon ini dan penjaga kebun akan menebangnya untukku. Silahkan cari pohon yang lain saja tuan.”

 

“Tapi penjaga kebun belum datang kesini, tandanya pohon ini belum resmi menjadi milikmu.”

 

Mulut Chenle menganga mendengar ucapan itu. Orang ini, selain tidak punya sopan santun juga sangat keras kepala rupanya. Kasihan sekali kepala besarnya itu harus mengandung otak yang terbuat dari batu sehingga ia sangat sulit untuk diberi tahu.

 

Suasana hatinya yang sejak sebelum perjalannya kesini sudah sedikit buruk jadi semakin panas melihat orang itu mengeluarkan ponsel dan memotret pohon cemara ini. Chenle merasa tidak terima. Ia merasa jika dirinya yang duluan menemukan pohon ini sehingga ia yang lebih berhak untuk memiliki pohon ini terlebih dahulu.

 

“Maaf ya, tapi ada banyak pohon cemara lain disini. Silahkan pilih pohon yang lain dan jangan asal foto sembarangan pohon milikku ini!”

 

Silahkan pilih pohon yang lain juga.”

 

“Hey!”

 

Pria itu menoleh dengan matanya yang senantia memandang sekitarnya malas. Postur tubuhnya sangat tinggi menjulang hampir lebih tinggi dari pohon yang sedang mereka rebutkan. Ia terlihat begitu menyebalkan dengan bahasa tubuhnya saat ini. Chenle terasa seperti diremehkan.

 

Tidak mau kalah, Chenle pun melebarkan pundaknya dan membusungkan dadanya. Dagunya ia angkat tinggi dan kedua mata kucingnya menyalang menatap pria tinggi dihadapannya.

 

“Silahkan pergi dan cari pohon lain sebelum aku akan memaksamu untuk pergi dari sini!”

 

Rupanya ucapan Chenle tidak berefek apapun pada sosok itu. Ia malah tersenyum singkat dan tetap menatap Chenle dengan pandangannya yang sok sayu. Dasar pemalas!

 

“Hey tuan! Apakah kamu mendengarkan ku?!”

 

“Kamu saja yang pergi sana.”

 

“Yah?! Kurang ajar sekali kamu mengusirku seperti itu?!” Chenle berucap tidak terima, “Dengar ya tuan sok paling oke , aku yang sampai duluan disini dan aku yang lebih berhak untuk mendapatkan pohon ini dibandingkan kamu yang baru datang! Dimana-mana tuh, kalo mau beli sesuatu ngantri. Bukannya asal nyerobot gini. Sana! Pergi cari pohon yang lain, dasar tidak tahu malu!”

 

Pria itu menyembunyikan tawanya dibalik telapak tangannya yang begitu besar. Raksasa ini, benar-benar membuat Chenle naik pitam.

 

“Memangnya ada bukti fisik jika kamu sampai disini duluan? Ada tidak rekaman yang menunjukkan waktu kedatangan kamu disini yang lebih dahulu dibandingkan aku? Lagian ya, kebun ini tidak memiliki peraturan yang mengikat. Siapapun bebas memilih pohon yang disukainya, termasuk aku. Toh belum ada tanda kepemilikan kamu kok di pohon ini, jadi pohon ini masih bisa terjual bebas tanpa ada orang yang bisa mengakuisisinya.”

 

Chenle benar-benar panas. Akal sehatnya seperti hilang begitu saja setelah mendengarkan pernyataan dari orang gila di hadapannya ini.

 

Memang betul tidak ada bukti fisik yang menunjukkan jika dirinya lah yang lebih dulu menjatuhkan hatinya pada pohon ini, tapi setidaknya Chenle sudah menyatakan pilihannya terlebih dahulu pada pohon ini. Setidaknya orang gila ini harusnya bisa menghargai pilihan Chenle dan pergi untuk mencari pohon lain. Bukan malah mengajaknya ribut dan beradu argumen dengannya seperti ini.

 

“Setidaknya aku sudah bilang duluan jika aku akan memesan pohon ini untuk ku bawa pulang!”

 

“Oh ya? Lalu bagaimana dengan aku, tadi aku sudah menyentuh pohon ini duluan persis sebelum kamu menyatakan pilihanmu pada pohon ini. Kalau begitu harusnya pohon ini sudah jadi milikku terlebih dahulu.”

 

Chenle menggeram, “dengar ya, tuan! Aku ini adalah cicit dari pemilik kebun cemara ini. Jadi aku punya hak lebih untuk menentukan pohon mana yang akan aku bawa, dan pohon mana yang tidak boleh mendapatkan pemilik tidak waras seperti dirimu!”

 

“Kalau kamu cicit dari pemilik kebun ini, harusnya kamu lebih tahu pohon cemara mana yang kualitasnya lebih bagus dari pohon cemara ini. Jadi, pergi cari pohon yang lain sana, cicit pemilik kebun.”

 

“Dasar gila!”

 

Chenle seolah kehabisan kata berdebat dengan pria yang tidak diketahui namanya itu. Ingin rasanya ia melayangkan tinju pada rahang atau pilipsnya yang begitu tajam. Mungkin ia juga bisa sedikit menjambak rambut hitamnya yang panjang menutupi mata.

 

Dasar laki-laki emo!

 

Maka dengan segenap sisa kewarasannya Chenle berjalan sedikit menjauh dari pohon cemara pilihannya itu menuju pohon lain. Bukan, bukannya ia berganti pilihan. Ia akan membujuk sosok itu untuk memilih pohon lain yang ia pilihkan, well , paksa pilihkan maksudnya.

 

“Yah! Tuan gila!” Teriaknya memanggil pria yang kini tengah asik kembali memotret pohon cemara mereka.

 

Pria itu menoleh bingung. Chenle, dengan senyuman bak kerasukan setan itu melambaikan tangan menunjuk-nunjuk pohon cemara di sampingnya.

 

“Aku sebagai cicit dari pemilik kebun merekomendasikan kamu pohon cemara dengan kualitas terbaik disini. Dan coba lihat pohon ini, kau pasti akan suka dengan pohon ini!”

 

Tidak sampai 5 detik pria itu menatap Chenle dan pohon cemara yang dimaksud, tangannya sudah langsung membentuk tanda X di udara.

 

Meskipun menggeram kesal, Chenle tidak patah semangat. Ia kembali berjalan lagi, berteriak lagi menawarkan, berjalan lagi, memotret dan membawa hasil fotonya untuk ia tawarkan pada pria gila itu, berjalan lagi, menawarkan dan begitu seterusnya. Sayangnya, seluruh penawarannya selalu ditolak mentah-mentah oleh orang ini.

 

“Pohonnya sama semua.”

 

Mendengar komentar dari orang ini membuat Chenle ingin memukul kepalanya dengan batu besar yang ia temukan tadi di jalan.

 

“KALAU MENURUTMU SAMA SEMUA KENAPA KAU BEGITU KERAS KEPALA DAN TETAP MEMILIH POHON YANG INI?!” Chenle berujar murka. Dinginnya angin yang berhembus sudah tidak terasa di kulit Chenle yang kini bermandikan peluh.

 

Semakin mendengar suara pria ini semakin membuat Chenle merasa marah. Apalagi jika jawaban yang dilayangkan olehnya seperti ini, “kan sudah aku bilang, aku maunya yang ini. Ya ini lah pilihanku. Kalau kamu merasa pohon lain kualitasnya lebih baik dari pohon ini, aku akan dengan senang hati mempersilahkan kamu untuk membawa pulang pohon yang lain.”

 

Kesabarannya hanya tersisa sedikit, setipis tisu yang siap robek kapanpun itu. Oh bahkan sudah sedikit koyak sejak awal mereka bertemu. Jika harus menggunakan kekerasan, Chenle sudah siap. Sabuk hitam yang melingkar tak kasat mata di tubuhnya menjadi saksi selincah apa ia dalam membela dirinya dari orang-orang jahat. Tapi Chenle harus tetap tenang – walau sepertinya sudah tidak bisa disebut tenang –, ia harus memenangkan perdebatan ini tanpa menimbulkan kekacauan. Maka ia pun menarik nafasnya dalam-dalam.

 

“Bisakah–bisakah kau membiarkan aku saja yang mendapatkan pohon ini?” pinta Chenle dengan baik, meskipun sekuat tenaga ia menahan sumpah serapah yang sudah bersarang di ujung lidahnya agar tidak lepas.

 

Sorry , tapi tidak.”

 

Hampir, hampir saja seluruh penghuni kebun binatang lepas dari kandangnya.

 

Oh please, orang tua dan kakek nenekku sedang menungguku di rumah. Mereka pasti akan sedih apabila aku tidak berhasil membawa pohon cemara pilihanku untuk dijadikan pohon natal tahun ini. Ini– ini adalah tradisi keluargaku yang tidak bisa aku tinggalkan begitu saja. Nenekku yang memiliki kebun ini berkata, apabila tidak berhasil membawa pohon cemara pilihan maka kehidupanku tahun depan akan dipenuhi kesialan. Oh! Dan siapapun– siapapun yang menghalangi dengan sengaja atau tidak keturunan nenek buyutku dalam membawa pohon ini maka hidupnya akan sial juga! Jadi please , biarkan aku memiliki pohon ini ya, ya, tuan?”

 

Sepatutnya ia dihadiahi piala Grammy atas kebolehan aktingnya ini. Entah hidayah dari mana yang menjadikannya lancar membuat skenario seperti itu. Mungkin peri-peri hari natal yang sedang berpatroli membantunya. Tapi Chenle sangat bangga akan kebolehannya yang sangat mengejutkan ini. Oh, betapa kerennya ia, dengan ekspresi menyedihkan, tatapan memohon, nada bicara yang lesu, orang ini pasti akan memberikan pohon cemara yang mereka rebutkan padanya! Dan ia akan segera pulang dengan titel kemenangan mengekorinya.

 

“Hari gini masih percaya takhayul.” Orang itu berucap di sela tawa remehnya.

 

“...”

 

Chenle sama sekali tidak habis pikir. Ia rasa, aktingnya tadi sudah sangat sempurna. Tapi mengapa manusia menyebalkan ini masih tidak luluh juga?!

 

“Wah… wah.. kamu sungguh–”

 

“Itu urusanmu, bukan urusanku. Apapun yang menjadi tradisimu, hanya berlaku pada kamu. Kamu tidak bisa memaksa aku untuk turut ikut ke dalam tradisi konyolmu itu.”

 

Rasanya seperti ditampar. Sakit sekali padahal tidak ada kontak fisik yang terjadi.

 

Chenle kehilangan semua rencana yang telah ia susun di kepalanya. Semuanya hilang begitu saja. Chenle seperti orang yang tercekat di lehernya dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun selain suara tercekik.

 

Baru kali ini ia menemukan orang yang begitu jahat padanya. Apalagi sampai merendahkan tradisi keluarganya. Ia pun sadar betul jika tradisi ini memang konyol, tapi yang salah jika ia masih menjaga keberlangsungan tradisi dalam keluarganya ini. Toh dengan adanya tradisi keluarga, ia jadi memiliki sebuah rutinitas  istimewa yang bisa ia rayakan dan ia kenang nantinya semasa tua.

 

He crossed the line.

 

Well, they crossed the line.

 

But he pushed the wrong button.

 

H-how dare you… that was the disgusting thing i’ve ever received from someone i don’t even know and someone i just met today. ” Tanpa ia sadari, bibirnya begetar. Nafasnya terasa sedikit berat di dalam sana hingga membuat Chenle harus menarik dalam-dalam agar paru-parunya bisa kembali bekerja dengan normal. “Sadar nggak sih, ucapan lo itu jahat!”

 

“Nggak pernah punya temen ya lo? Makanya lo nggak bisa memperlakukan orang lain dengan baik. Cih, lagian orang mana sih yang mau temenan sama orang modelan kayak lo? Not socially accepted.

 

I know that my family traditions sound silly, and i do think that it was rubbish . Tapi yang boleh ngomong gitu cuma gue, you are not allowed to say nasty things about my family. Fuck you!”

 

Dan setelahnya Chenle berjalan keluar dari perkebunan. Ditengah perjalanannya ia menyempatkan diri untuk berbalik dan melayangkam jari tengahnya. Ia berteriak, “ fuck you!”

 

“Semoga kehidupanmu dipenuhi kesialan!”

 

Ia berjalan meninggalkan perkebunan. Menghiraukan panggilan dari penjaga kebun yang kebingungan sekaligus terkejut mendengarnya berteriak kasar. Masa bodo, ia sungguh sangat tidak peduli lagi dengan pohon natal. Persetan dengan natal, Chenle tidak peduli jika tahun ini tidak ada perayaan natal untuknya. Ia marah, sangat marah seperti seisi kota bisa terbakar apabila terkena percikan api amarahnya.

 

Mobil yang dikemudikannya pun membelah kesunyian pinggir kota dengan kecepatan tinggi. Tanpa ia sadari setetes air mata berhasil membasahi turun pipinya. Ia menyekanya dengan kasar. Tidak akan ia membiarkan sosok pria aneh itu menang atas dirinya. Ia tidak akan terpengaruh dengan tingkah lakunya yang sangat menyebalkan itu.

 

Tapi, ucapan pria tadi begitu menyakitkan sampai-sampai Chenle tidak bisa lagi membendung air mata kesalnya yang semakin membasahi kedua pipinya yang kemerahan. Ia menangis selama perjalanan pulang. Sesak akibat kesal yang terpendam begitu menyakitkan dadanya.

 

Chenle jarang menangis, sampai terkadang ia merasa jika dirinya mati rasa. Tapi kali ini ia merasa begitu kecewa dan sakit hati akibat perkataan sesosok orang yang tidak dikenalinya.

 

Si brengsek itu…

 

***

 

Kedatangannya yang tangan kosong itu jelas membuahkan jutaan pertanyaan dari seluruh anggota keluarga. Tapi Chenle tidak punya tenaga untuk itu. Ia memilih untuk bungkam dan terus berjalan meninggalkan pertanyaan tanpa jawaban itu dan menguncinya agar tidak ikut masuk ke dalam kamar.

 

Bahkan pesan dari Ningning dengan sengaja tidak ia buka hingga menumpuk sebanyak 18 pesan masuk dan 3 panggilan tak terjawab.

 

Chenle hanya ingin sendiri saat ini. Ia hanya ingin tidur, meskipun dirinya tidak akan mandi karena sepertinya ia tidak memiliki energi sisa untuk itu. Yang ada dikepalanya saat ini adalah ia ingin segera terlelap dan bangun keesokan paginya untuk menyiapkan skenario palsu tentang kegagalannya membawa pulang pohon natal.

 

Dan ketika ia bangun keesokan paginya yang terlampau siang, ia merasa sedikit pusing. Mungkin akibat terlalu banyak terkena angin dingin dan ia tidak mandi air hangat semalam jadi kepalanya sedang menunjukkan protes. Maka ia pun memutuskan untuk mandi sebelum turun kebawah dan melancarkan aksinya berakting di hadapan seluruh keluarga besarnya.

 

Saat Chenle sampai di ruang keluarga, ia tidak menemukan satu orang pun keluarganya disana. Di ruang makan pun tidak ada. Alisnya mengerut kebingungan. Tapi ia menangkap pintu yang mengarah ke pekarangan belakang rumah yang terbuka begitu lebar. Ia pun mendekati pintu itu dan mendapati seluruh keluarganya, termasuk kakek dan neneknya yang kini tengah bersenda gurau di pagi hari menjelang siang yang berhiaskan salju pertama.

 

Pagi ini, salju pertama turun. 

 

Chenle bisa melihat semua orang memekik gembira dan mencoba menggapai kepingan kepingan salju yang berlomba turun memenuhi pekarangan belakang rumah. Betapa menghangatkannya pemandangan ini.

 

Ia berniat untuk menyusul kedua orang tuanya yang kini sedang sama-sama mengadah menatap langit menyambut salju turun saat suara klakson mobil begitu keras terdengar di telinganya.

 

Ia berbalik, menebak-nebak siapa yang datang bertamu sepagi ini?

 

Karena tak kunjung menemukan jawaban dan sepertinya diantara seluruh anggota keluarga besarnya hanya ia yang mendengar suara klakson mobil dibunyikan, mau tidak mau ia yang harus pergi keluar dan memeriksa.

 

Saat pintu utama dibuka, tatapannya langsung mencari siapa pelaku yang membunyikan klakson keras sekali. Jika saja nenek dan kakeknya mendengar suara ini, mereka mungkin saja akan terkena serangan jantung mendadak.

 

Ia memandang bingung saat sebuah mobil pickup hitam terparkir persis di depan pintu masuk.

 

Dan ketika si pelaku beserta supir yang membawa masuk pick up itu keluar dari mobil matanya membulat sempurna dan Chenle nyaris jatuh dari tangga saking terkejutnya.

 

Sosok itu, berdiri disamping seorang pria yang lebih tua; sepertinya dia supir dari mobil ini; si pria menyebalkan yang kemarin berdebat dengannya untuk memperebutkan pohon cemara yang ternyata kini juga dibawanya tersembunyi di balik terpal yang menutupi bak terbuka di belakang mobil.

 

Pria jangkung itu melambai kikuk sembari membuka terpal yang menutupi pohon cemara di dalamnya. Pria lainnya mengikuti, berusaha menarik ujung terpal dari atas mobil.

 

Kepingan-kepingan salju pertama terlihat kontras menghiasi rambutnya yang hitam panjang. Pria itu tidak lagi menggunakan mantel selutut, melainkan jaket tebal berwarna hitam yang membalut sweater rajut yang membentuk tubuh kekarnya dari dalam sana. Mungkin pria ini model? Chenle tidak tahu.

 

Sebentar– bagaimana bisa Chenle menyadari itu semua dalam sekali lihat?

 

Oh, salahkan matanya yang sejak tadi tidak bisa berhenti menatap terkejut ke arah tamu tidak diundangnya hari ini.

 

“Tutup mulutmu.” Ujar pria itu, ia terkekeh tanpa suara. Saat ini ia sedang berusaha menurunkan pohon cemara dari atas mobilnya dengan supir pick up yang berlari tergopoh menghampiri setelah menyimpan terpal ke dalam jok mobil.

 

Chenle yang menyadari hal itu buru-buru turun dari teras rumahnya dan membantu mereka menurunkan pohon. “Kok kamu tahu aku ada disini?” tanya Chenle saat ketiganya berhasil menurunkan pohon cemara itu di teras bagian bawah.

 

“Aku bertanya pada penjaga kebun. Karena kamu cicit pemilik kebun harusnya dia tahu dimana tempatmu tinggal. And here i am.

 

Why?”

 

Chenle memperhatikan pria menyebalkan itu merogoh saku dan mengeluarkan dompet dari dalam sana. Ia memberikan beberapa lembar uang; mungkin upah kerja; kepada supir yang kini sudah berjalan kembali ke dalam mobil, kemudian lanjut bertanya “apanya?”

 

“Kenapa kamu nganterin pohon ini? Ngerasa bersalah ya?”

 

Dari posisi sedekat ini Chenle bisa melihat ada tahi lalat kecil yang menempel persis di bawah bibirnya yang tebal. Tahi lalat itu semakin jelas terlihat ketika pria itu tersenyum. Chenle lagi-lagi memandangnya terkejut karena baru kali ini ia melihat pria yang tidak diketahui namanya itu tersenyum yang bukan mengejek.

 

“Aku merasa jika aku sudah melewati batas kemarin. Apalagi setelah melihat wajah kamu yang merah padam selama marah-marah. Selain itu, aku juga tidak mau tahun depan hidupku penuh kesialan. Jadi kubawakan pohon kemarin kesini.”

 

“Katanya nggak percaya takhayul?”

 

“Memang, tapi ucapan orang yang tersakiti akan lebih mudah untuk dikabulkan. Aku nggak mau ambil resiko.”

 

Chenle mendengus geli setelah mendengarkan ucapan itu. Dengan tangan bersedekap, ia kembali menatap pria dihadapannya ini dengan berani, “terus, pohon kamu gimana? Kan katanya kemarin kamu duluan yang pegang pohon ini.”

 

Pria itu mengerjap-ngerjap sebelum menjawab, “aku dapat pohon yang sama bagusnya kok. Rekomendasi terbaik dari cicit pemilik kebun.

 

Tanpa sadar ucapan itu berhasil membuat pipi hingga telinga Chenle terasa hangat. Ia sontak mengalihkan pandangannya dan melepas dekapan tangannya di dada dan beralih untuk berpura-pura memeriksa kondisi pohon cemara. “Oh ya.. hmm nggak lecet ya pohonnya,” gumamnya pada diri sendiri dan tidak jelas.

 

“Jadi pohon ini harus ditaro dimana?”

 

“Huh?” Chenle yang masih dalam kondisi salah tingkah itu bertanya.

 

“Pohonnya, mau dibawa kemana lagi?” ulang pria itu.

 

“Oh– iya dibawa masuk aja. Kita anu– naik ke atas–” ucapannya berhenti tiba-tiba saat menyadari jika dirinya harus membawa – menggotong maksudnya – pohon cemara ini untuk bisa masuk ke dalam rumah. Ia kemudian menatap pria itu dan menghela napas, “nggak apapa nih kalo harus ngangkat-ngangkat gini?” tanyanya memastikan.

 

Pria itu terlihat menimang-nimang. Matanya melirik pekarangan rumah yang tidak lagi berisikan mobil pickup yang semula mengantarnya kesini. Bibirnya sedikit mengerucut selama ia berpikir. “Bapak supirnya sudah pulang. Nggak apa-apa deh, lagian nanggung udah sampe sini masa nggak dibawa masuk ke dalem?”

 

Mendengar itu membuat Chenle mengangguk. Ia pun meletakkan tangannya kembali pada posisi semula dan bersama-sama mengangkut pohon cemara itu untuk masuk ke dalam rumah.

 

Diluar dari prediksinya, karena ia menyangka seluruh anggota keluarganya masih bermain salju di pekarangan belakang, ternyata mereka kini sudah kembali dan terkejut melihat Chenle yang juga terkejut melihat mereka. Keterkejutan itu tidak berhenti sampai disana, setelah menyadari ada sosok asing yang hadir ditengah-tengah mereka, Chenle mulai dihujani dengan tatapan penuh selidik. Bahkan pohon cemara yang mereka bawa tadi seperti tidak terlihat bentuknya karena semua atensi berpusat pada pria tinggi disamping Chenle.

 

“Pagi om, tante, pagi semua. Saya uh– saya Jisung.”

 

Jisung .

 

Namanya Jisung .

 

“Iya deh, tau kok sekarang lagi dingin dan bersalju, sampe udah bawa pacar barunya aja pagi-pagi gini.” Celetukan Ningning berhasil membuat Chenle terkejut bukan main. Kini semua orang melayangkan tatapan menggoda pada dirinya dan pada Jisung Jisung tidak berdosa ini.

 

Ningning sialan!

 

“Eh mak–”

 

“Nak Jisung, nanti setelah pohonnya disimpan di ruang keluarga ikut makan siang dulu ya disini. Chenle, nanti ajak Jisung makan ya.”

 

Matilah aku.

 

Chenle meneguk liurnya kasar mendengar kalimat yang terlontarkan dari mulut neneknya itu. Sudah jelas dan jernih dan paten apabila kalimat itu merupakan pernyataan bukan sebuah pertanyaan. Dan Jisung Jisung ini sialnya malah terlihat baik-baik saja dengan semua itu. Ia bahkan dengan tidak tahu malunya menyetujui ajakan makan siang dari neneknya.

 

“Yah Jisung! Kenapa setuju sih?!” Bisiknya ketus.

 

Jisung meliriknya sebentar sebelum berjalan menjauh untuk membantu paman Chenle mendorong pohon cemara itu ke ruang keluarga. 

 

“Kapan lagi diajak makan sama nenek buyut pemilik kebun cemara?” Ucap Jisung berbisik.

 

Chenle sangat amat tidak menyangka mendengar jawaban itu bisa keluar dengan bebas di dalam rumahnya. Matanya melotot ke arah Jisung dan ia bersiap untuk melayangkan pukulan para pria jangkung itu ketika ia lewat di depannya lagi nanti.

 

Jisung menjulurkan lidahnya, meledek Chenle yang semakin melebarkan matanya menatap Jisung tidak percaya.

 

“Dasar kurang ajar! Bukan yang itu nenek buyutku!”

 

“Biar!”

 

***

 

Jisung cukup terkejut saat mendengar bentakan yang keluar dari kedua belah bibir yang berkilau milik pria yang lebih kecil darinya itu. Matanya bergetar dan sembab, Jisung yakin tak lama dari ini akan ada airmata yang tumpah disana. Semakin dalam ia mengutuk perbuatannya tadi.

 

Bahkan ketika jari tengah itu melayang ke arahnya Jisung merasa ia pantas untuk mendapatkannya. Tapi kalimat terakhir yang ia dengar keluar dari mulut sang pria mungil itu sedikit membuatnya khawatir. Ia memang tengil dan sedikit kesulitan untuk membuka percakapan normal dengan orang baru, tapi ia tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Ia tidak mau jika hidupnya tahun depan harus kembali dipenuhi kesialan seperti tahun ini. Sudah cukup untuknya memikul semua patah hati yang berulang kali terjadi di tahun menyedihkan ini. Ia harus bahagia dan beruntung tahun depan.

 

Maka setelah membulatkan tekad, ia berjalan menuju bangunan yang sempat ia kunjungi begitu sampai disini. Ia akan berbicara pada penjaga kebun, siapa tau ia mengetahui tentang sosok cicit pemilik kebun cemara ini.

 

Tapi sebelum ia pergi kesana, Jisung ingin melihat sesuatu terlebih dahulu. Ia ingin melihat pohon cemara lain yang direkomendasikan oleh si cicit pemilik kebun. Ternyata pohonnya tidak buruk juga. Ia benar-benar menggunakan titelnya sebagai cicit pemilik kebun dengan baik ternyata.

 

“Tuan Chenle belum pernah kesini, jadi sebenarnya dia juga bingung banget pasti. Tapi kalian oke kan?”

 

“Dibilang oke ya nggak oke juga sih pak. Sampe anaknya teriak begitu kok tadi.”

 

Pria tambun itu menggelengkan kepalanya, ia sedang sibuk membuka-buka buku catatannya untuk mencari alamat tempat tinggal si cicit pemilik kebun cemara itu tinggal selama akhir tahun ini, yaitu rumah keluarga besarnya.

 

“Kenapa nggak alamat rumah aslinya aja sih pak?”

 

“Duh, nggak bisa, tuan. Karena selama Desember biasanya mereka sekeluarga besar kumpul di rumah keluarga besar untuk merayakan natal bersama. Makanya hari ini tuan Chenle datang untuk memilih pohon natal– nah ini dia alamatnya!”

 

Jisung menerima selembar kertas yang berisikan salinan alamat rumah keluarga besar tempat cicit pemilik kebun ini tinggal sementara waktu. Ia membacanya dengan seksama kemudian menyimpannya di dalam dompetnya agar mudah dicarinya. Sebuah ilmu yang diturunkan oleh mendiang sang nenek kepadanya dalam keterampilan menyimpan barang.

 

Ilmu yang diturunkan–

 

Tradisi!

 

Tradisi keluarganya yang memiliki keterampilan dalam menyimpan barang.

 

Astaga Jisung bodoh sekali, padahal ia pun juga memiliki tradisi keluarga yang konyol yang juga masih bertahan sampai saat ini. Seharusnya tadi ia lebih bisa mengontrol dirinya dengan baik dan bukannya malah mengejek budaya hidup orang lain, terlebih orang itu adalah orang yang baru ia temui.

 

“Jadinya ambil pohon yang ini?”

 

Jisung yang tertarik kembali sadar dari perilakunya itu mengangguk, kemudian berkata, “Iya ini pohon saya. Yang satu lagi yang itu pohonnya untuk cicit pemilik toko ini saja ya, pak.”

 

Pria penjaga kebun itu mengangguk, mencatat nominal dan memberikan struk pembelian kepada Jisung. “Ini pertama kalinya saya lihat tuan Chenle marah dan berteriak loh, tuan.”

 

“Oh ya?”

 

“Iya, makanya tadi saya sempat kaget dan sedih karena liat dia sedih.”

 

Jisung tersenyum simpul, “sama kok, pak. Berarti saya spesial.”

 

“Kok spesial?

 

“Karena berhasil bikin cicit pemilik kebun marah sampai berteriak. Tandanya saya ngebekas banget itu pak dihatinya.”

 

Pria tambun itu sampai dibuat menganga setelah mendengar jawaban ngawur Jisung. Tidak menyangka jika pelanggannya yang satu ini akan mengeluarkan tingkah ajaib di luar nalarnya. Tidak heran jika Chenle sangat tersulut emosinya tadi.

 

“Terima kasih ya pak!”

 

Jisung meninggalkan perkebunan dan berjalan kaki menuju sebuah rumah yang tak jauh dari perkebunan ini letaknya. Pemilik rumah itu adalah seorang teman yang ia rasa dapat membantunya kali ini.

 

Ia mengetuk pintu rumah dan menunggu beberapa saat sebelum pintu terbuka dan menampilkan sesosok pria bertubuh kurus nan kecil. Pria itu berseru kala menyadari kehadiran sosok Jisung yang tidak ia sangka kedatangannya.

 

“Jisung!”

 

“Hai, hehe. Renjun, boleh aku minta tolong?”

 

“Yaampun! Kita baru ketemu setelah 1 tahun berlalu dan kamu sudah langsung memerasku?!” 

 

“Hehe, aku pinjam supir dan mobil pickup mu boleh? Nanti ku bayar supirmu, aku sedang ada tugas negara.”

 

Pria bernama Renjun itu berucap ketus, “kebiasaan! Tugas negara kepada siapa sih?”

 

“Ah ada,-” belum sempat kalimatnya selesai, Jisung sudah terlebih dahulu cekikikan. Merasa geli dengan pikirannya sendiri. “-tugas negara buat calon pemimpin negaraku.”

 

“Ngeriii!”