Work Text:
Kehidupan itu keras, terlebih lagi jika hidup berdiri pada kaki sendiri tanpa memiliki orang lain sebagai sandaran. Haechan jelas familiar dengan kesendirian, dikelilingi banyak orang dalam bekerja bukan berarti dirinya tidak merasakan kesepian. Terpaksa mengambil pekerjaan menjadi seorang bintang porno membuat dirinya semakin enggan sekadar berpikir untuk mempunyai teman. Terlepas dari rekan kerja sebagai lawan mainnya, memang siapa yang mau berteman dengan bintang porno? Begitu pikirnya.
Merintis karir dari dua tahun lalu pasca ditinggalkan ayah dan ibunya, Haechan yang membutuhkan uang untuk menopang kehidupannya nekat bergabung dengan rumah produksi film biru tersebut yang kini sudah menghasilkan belasan series dan beberapa film pendek yang laku di pasaran.
Jelas. Siapa yang tidak suka dengan hal berbau porno? Terlebih wajah dan nama Haechan sudah tertera pada poster promo yang disebarkan pada laman film biru tersebut sebagai pemeran utama. Dua tahun cukup bagi lelaki kelahiran Juni itu untuk naik daun, didukung dengan wajahnya yang menawan, kemampuan Haechan dalam berakting jelas menarik banyak peminat. Lelaki itu juga piawai dalam memberi kenikmatan untuk lawan mainnya.
Meski kadang kala untuk beberapa film adegan tidak senonoh itu membutuhkan banyak gimmick, namun Haechan dapat dengan lihai dalam aktingnya sehingga penonton terbius pesonanya. Beragam jenis adegan seks sudah ia coba, berperan menjadi lelaki bejat hingga lelaki polos, dengan begitu juga sudah banyak ia meniduri wanita lawan mainnya.
Tenang saja. Mengingat pekerjaannya memang bergelut dalam dunia pornografi dan tidak jauh dari berhubungan badan, Haechan rutin setiap bulannya untuk cek kesehatan juga kebersihan kelaminnya. Begitupun aktor lainnya. Tiap ada adegan penetrasi juga sebagai pihak lelaki, Haechan dibekali kondom ekstra tipis yang tidak tertangkap sorot kamera, kala kebutuhan projek memang diharuskan tidak terlihat memakai kondom.
Saat ini, sang bintang porno itu sedang diam dalam ruang tunggunya sembari memainkan ponsel dalam genggaman. Mengecek portal berita tentang series yang masih dalam proses syuting itu. Fokusnya pecah kala ketukan pintu terdengar, membawa presensi manajer sekaligus asisten pribadinya yang sudah membersamai karirnya selama ini. Namun dahinya mengernyit melihat satu sosok lagi yang memasuki ruang tunggunya.
"Haechan, ini americano kamu ya..." katanya. Menyerahkan gelas dalam genggamannya pada Haechan. Setelahnya lelaki itu berbalik menghampiri Doyoung, sang manajer, dengan menenteng tas hitam milik Haechan yang berisi baju gantinya. Setelah menaruhnya pada tempat yang diinstruksikan, lelaki itu segera keluar dari sana.
Aneh.
"Kenapa kak Mark yang bawa tas baju gue?" Tanya Haechan penasaran. Doyoung mengangkat bahu sambil menggelengkan kepala, tidak tahu, katanya.
"Jangan-jangan dia berniat mau ngelamar jadi asisten lo ya?" Tudingnya tidak suka. Doyoung beralih mendekat pada Haechan yang duduk di depan meja rias. "Lo lebih milih gue apa Mark?" Tanyanya hasilkan tatapan jengah dari Haechan.
"Ya kali gue pilih Mark. Lo kan manajer kesayangan gue, kak Doy ganteng," ucapnya sembari menarik kedua sudut bibirnya lebar.
"Bagus. Tapi gue rasa Mark emang aneh deh. Ga sekali dua kali kan, udah sering dia nyamperin lo buat ngasih americano? Sekarang naik tingkat jadi bawain tas lo juga," katanya bingung.
"Itu tadi dia yang inisiatif bawain tas gue, kak?" Pertanyaan itu dihadiahi anggukan dari Doyoung.
Haechan sebenarnya tidak begitu terkejut menerima perhatian dan perlakuan manis dari rekanan kerjanya. Meskipun mereka semua bekerja di bidang yang sama, tetap saja, Haechan adalah bintangnya disana. Bukan Mark saja yang memperlakukan dirinya dengan baik, namun perhatian yang Mark berikan menimbulkan tanya dibenaknya. Haechan biarkan rasa itu singgah dalam hatinya, walau ia sendiri belum yakin.
He hates to admit it, but Mark has been stuck in his head.
Baru saja ingin tenggelam lebih dalam pada isi kepalanya yang penuh perihal Mark—si juru kamera dari rumah produksi yang menaunginya, ketukan pada pintu kembali terdengar diikuti panggilan agar Haechan segera bersiap untuk kembali pada lokasi syuting.
Hari sudah larut malam, jam sudah menunjukkan pukul satu dan lelaki itu baru saja sampai pada apartemennya setelah diantar oleh Doyoung. Haechan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, walau jiwanya sudah meronta ingin segera bertemu dengan kasurnya. Akhirnya dengan cepat setelah selesai lelaki itu langsung menuju tempat ternyamannya. Merebahkan diri diatas ranjangnya, Haechan memejamkan matanya mencoba terlelap.
Kendati sudah merasa lelah begitu sangat, pikiran lelaki itu mencegahnya untuk langsung menyambangi alam bawah sadarnya. Memori kelam yang terekam jelas pada otaknya kembali terputar. Memaksa Haechan membuka matanya, kembali tersadar. Manik matanya menangkap seisi ruang tidur dengan warna monokrom itu dengan tatapan kosong.
"Mending gue main daripada mikir yang sedih-sedih, ya ga sih?" Katanya bermonolog. Dengan begitu karsanya mendorong Haechan segera bangkit dari kasurnya, melakukan satu-satunya rahasia yang tidak seorangpun tahu.
Mengambil beberapa barang dari dalam kotak yang ada pada sudut ruangan, Haechan kembali duduk di atas kasurnya dengan alat mainannya.
"I did well today. Gue udah bikin mereka puas sama akting gue, udah bikin lawan main gue puas juga sama goyangan gue. Now is the time for me to make myself satisfied.." suaranya mengecil pada kalimat terakhir. Binar matanya menatap senang pada alat di genggamannya.
Itu dildo. Dilengkapi pelumas dan butt plug disana.
Siapa yang sangka? Jangankan penggemarnya, Doyoung, sang manajer pun tidak tahu sisi Haechan yang ini. Haechan yang haus akan sentuhan, yang lebih suka menyentuh lubang analnya dibanding menyentuh klitoris wanita, ia yang lebih suka berbaring dan memompa dildo dalam lubang analnya dibanding menggenjot penisnya dalam vagina lawan mainnya. Haechan lebih suka didominasi oleh lelaki dibanding menjadi pihak yang mendominasi. Haechan suka dimanja.
Hal itu jelas berbanding terbalik dengan citra yang ia tebarkan di dalam pekerjaannya. Haechan sang aktor porno sangat berbeda dengan Haechan yang kini sedang memutarkan dua jarinya yang basah oleh pelumas pada bibir analnya. Sementara itu, tangan lain yang bebas ia bawa untuk mengarahkan dildo pada mulutnya. Ia basahi pucuk penis buatan itu oleh salivanya, memainkan lidahnya dan sesekali mendorong masuk benda itu ke dalam mulutnya.
Dengan tidak sabaran, ia arahkan dildo itu berpindah pada bagian selatan tubuhnya. Peregangan yang dilakukan jemarinya tadi membuat penis buatan itu dengan mudah masuk seluruhnya hasilkan erangan lelaki itu mengudara.
"Nghh..." desahnya lirih saat penis buatan itu menyentuh titik nikmatnya. Mark...
Desahan itu secara tidak sadar terucap dari mulutnya, Haechan sendiri terpaku kaget saat bayangan lelaki si juru kamera itu ada diatas tubuhnya, mengukung tubuh kecil Haechan. Lelaki itu tidak pernah membayangkan seseorang untuk dijadikan objek fantasi demi memuaskan nafsunya, namun melihat bisep pada lengan Mark saat lelaki itu mendorong masuk penisnya buat Haechan kian gencar menggerakkan dildo pada analnya, dalam dan cepat. Entah setan mana yang merasuki dirinya hingga bayang nyata sosok Mark tanpa busana itu ada disana, membangkitkan gairah Haechan dan membantu lelaki itu mendapatkan pelepasannya.
"Hahh... Banyak banget," katanya kala melihat spermanya muncrat hingga ke perutnya. Masih dengan nafas tersengal, Haechan mengeluarkan dildo dari analnya untuk ia ganti dengan jarinya yang membawa masuk cairan ejakulasinya sendiri dan ia kunci disana menggunakan butt plug.
Malam itu Haechan kembali biarkan Mark menginterupsi dirinya untuk memberi makan nafsu birahinya. Sadar bahwa perasaan yang lama menghantui pikirannya perihal lelaki itu memang karena dirinya menginginkan Mark.
Hari sudah siang, Haechan telah rapi dalam balutan pakaian tertutupnya, menunggu Doyoung menjemput dirinya untuk pergi ke tempat pemotretan.
Sesampainya disana, Doyoung yang memiliki urusan lain akhirnya meninggalkan Haechan termenung sendiri. Netranya menatap sembarang ke seluruh penjuru set lokasi pemotretan tersebut, memperhatikan pekerja yang sedang menata beberapa barang keperluan untuk memotret.
Seseorang dengan tiba-tiba berdiri di hadapannya dengan satu gelas americano sembari tersenyum kikuk.
Lagi?
"Semangat hari ini pemotretannya, Haechan," katanya dengan senyum mengembang. Yang diberi semangat tentu balas senyum menanggapi.
"Makasih, Mark. Yang handle kamera lo kan?" Tanyanya pada lelaki yang sedang menyamankan duduknya di samping Haechan.
Ia mengangguk. "Tapi potret individual kamu sama Jaehyun. Aku handle potret couple kamu sama Mina aja.."
Ah.. benar. Haechan hampir lupa bahwa lawan mainnya itu belum terlihat di lokasi.
"Mark" panggil seseorang dari arah belakang mereka. Mark menoleh dan menemukan Jaehyun yang berdiri tidak jauh darinya. "Nanti ikut ya acara abis pemotretan. Awas loh kalau ga ikut," ancamnya, setelahnya ia melanjutkan langkahnya menjauh.
Haechan ingat. Setelah jadwal hari ini memang ada acara after party atas rampungnya film porno yang ia lakoni.
"Kamu mau aku ikut acaranya gak, Chan?" Mendengar itu jelas Haechan menoleh kaget.
Hah? Maksudnya?
"Eh maksud aku.." belum sempat menyelesaikan kalimatnya untuk mengoreksi ucapan sebelumnya, Haechan sudah bersuara untuk menginterupsi.
"Ikut aja, Mark. Sekalian ya, gue minta tolong. Kak Doyoung sama gue tuh toleransi alkoholnya rendah, kalau kita berdua minum dia ga mungkin jagain gue. Lo aja yang jagain gue, ya?" Pertanyaan itu terdengar seperti paksaan, tapi Haechan pikir tidak ada salahnya. Menghabiskan malam berada di satu pesta bersama Mark bukan ide yang terlalu buruk. Dan Mark tanpa pikir panjang mengangguk, mengiyakan permintaan itu.
Untaian saliva keduanya membentang kala Mark memilih menyudahi pagutan mereka. Netranya menatap wajah Haechan dibawahnya penuh kagum. Kulit tan mulusnya dibanjiri keringat hasil ciuman panas tadi, Mark dengan jelas dapat menangkap beberapa moles yang berjejer rapi menghiasi wajah Haechan dari jarak sedekat ini.
God. He's breathtaking.
Haechan menarik tengkuk Mark mendekat untuk kembali menyatukan bilah bibir keduanya, kali ini pagutan tersebut lebih sensual. Keduanya sadar bahwa mereka saling menginginkan satu sama lain. Maka dengan itu, Mark bawa tangannya menggerayangi tubuh Haechan dan mengelus perut ratanya. Kendati sudah sering melihat aktor itu dalam keadaan bertelanjang, Mark tetap terpesona melihat tubuh sang bintang porno itu terekspos bebas di depannya.
"Chan, kamu mau jadi pihak apa? Since earlier you said this is your first time with man, kan?" Tanya Mark. Tangannya yang singgah pada pinggang berikan usapan buat kulit Haechan meremang.
"That's so sweet of you for asking, but I'm a bottom, Mark. You wouldn't imagine how many dildos I have in that box over there.." Jawab Haechan meyakinkan.
Mark terdiam dan mengalihkan fokusnya untuk menatap kotak di sudut ruangan yang lelaki itu sebut tadi. Melihat Mark yang justru tenggelam dalam lamunannya buat Haechan membalikkan posisi mereka. Haechan yang berada diatas tubuh Mark itu mendekatkan wajahnya pada daun telinga Mark, memberikan kecupan lalu mulai menjilat disana hingga turun ke perpotongan lehernya. Dengan piawai meninggalkan bekas kemerahan pada kulit Mark, yang diperlakukan demikian hanya mengerang dalam desahnya. Tubuh Haechan semakin turun melewati tubuh telanjang Mark dari pusat dada, pusar, hingga penisnya.
Mark menggeram rendah saat lidah Haechan menyapa kepala penisnya. Ia meludah di sana, membuat salivanya turun pada batang penis Mark yang sudah berdiri sempurna. Haechan terkekeh dan binar matanya kian senang menyadari kejantanan lelaki itu sangat keras atas perbuatannya.
Lidah Haechan bermain pada kulup penisnya, menggaruk-garuk kepala kejantanannya buat Mark mengerang ngilu merasakan nikmat, dan penis Mark perlahan memasuki rongga mulutnya. Haechan memompanya hingga membuat cekungan pada pipi kala ia ketatkan dinding mulutnya, menjepit penis Mark disana.
"Never in my life i imagine to suck a real dick. Your huge cock is my favorite among all my dildos.." katanya, sengaja mengeluarkan sejenak penis tersebut sebelum akhirnya memasukkannya kembali. Memang tidak keseluruhan, setengah dari batang penis Mark yang tidak masuk Haechan kocok menggunakan tangannya.
"I don't think this is your first time sucking a dick. Ahh..."
"Kamu sering latihan nyepong pake mainan kamu itu ya? Fuck... you're so good, Haech—ahh"
"You taking my dick so well in your damn mouth nghh,"
Haechan menggulirkan matanya saat Mark ikut andil mengangkat pinggulnya, hasilkan penis panjang itu masuk lebih dalam hingga Haechan tersedak. Mark melihat itu akhirnya memberikan kelonggaran dengan mencabut penisnya dari sana. Haechan menjulurkan lidahnya yang membuat cairan pra ejakulasi Mark dan salivanya yang menyatu itu turun membasahi tubuhnya.
Haechan sendiri tidak memikirkan bagaimana kalimat-kalimat kotor itu bisa diucapkan oleh Mark. Ia juga sudah tidak bisa berpikir waras alasan mengapa dari pesta acara minum bersama rekan rumah produksi itu berakhir dengan dirinya yang memberikan oral seks pada Mark di kamar apartemennya.
Satu yang ia pikirkan saat ini, penis Mark. Penis sungguhan dengan panjang dan diameter yang pas, berurat dan sedikit bulu yang menandakan lelaki itu merawat kejantanannya. Persis seperti impiannya, Haechan rasa penis Mark memang tercipta untuk dirinya. Terasa pas dan benar saat penis itu kembali ia masukkan dalam mulutnya.
Kejantanan milik Mark itu kembali menerobos tenggorokannya, menginvasi hingga mentok di dalam sana. Tubuhnya ikut terlonjak mengikuti tempo rojokan penis Mark dalam mulutnya. Tanpa sadar air mata menetes dari sudut matanya.
Ini gila. Haechan bisa gila diberi kenikmatan segini banyaknya.
"Enak banget ngghh.. I want to fuck your mouth, Chan," dengan permintaan itu, Mark membuat tubuh Haechan terlentang di bawahnya.
Kedua pahanya membuka lebar mengangkangi bahu kecil lelaki yang dengan pasrah menganga, menanti sesuatu kembali mengisi lubang mulutnya. Matanya menyayu dan mulutnya terbuka lebar dengan lidah yang terjulur saat Mark memposisikan penisnya di bibir Haechan.
What a beautiful view.
Mark dorong pinggulnya buat penisnya merangsek masuk dan ia dapat merasakan getaran sebab Haechan menggeram. Ia mulai gerakkan pinggul untuk menggenjot penisnya, menggunakan mulut Haechan untuk memuaskannya. Mark dengan jelas merasakan penisnya jauh tertanam didalam sana.
Ini baru permulaan dari mulut sang bintang porno, tapi Mark merasa sudah dekat pada pelepasannya. Dan untuk mencegah itu, Mark tarik keluar penisnya dari mulut becek Haechan oleh liurnya, hasilkan suara tidak senonoh yang menambah gairah keduanya.
Mark kini turun berhadapan mengukung paha lelaki di bawahnya, siapkan lubang senggama Haechan dengan bantuan pelumas, merenggangkan analnya yang mulai berkedut.
"Minta diisi banget ya ini lubangnya?" Satu jari Mark masuk sebagai permulaan. Mengundang desah Haechan yang kaget dengan gerakan tiba-tiba tersebut.
Haechan tidak pernah menyangka bahwa kocokan jemari Mark pada lubangnya terasa lebih nikmat dibanding menggunakan jarinya sendiri. Lelaki itu makin gencar dengan dua jari yang bergerak dengan pola menggunting, buat dinding rektum Haechan memberikan respon pijatan pada jarinya.
"Laper ya lubang kamu? Mau aku isi kontol?" Ujarnya kotor. Haechan hanya mengangguk ribut mendengar tawaran menggiurkan itu.
Mark terkekeh. "Kali ini pake kontol yang asli, bukan mainan. Seneng ga, Chan?" Tanya Mark meledek. Tempo kocokan jemari Mark berantakan buat napas Haechan tersengal, ia hanya mengangguk untuk menjawab.
Tangan Mark yang bebas ayunkan tamparan pada pipi pantat Haechan, buat si empunya mendesah keras. Dengan senang hati mengabulkan, Mark kocok penisnya sebentar sebelum akhirnya mendorong masuk penisnya ke dalam Haechan.
Penuh. Haechan merasa penuh pada analnya. Kepalanya pening, genjotan penis Mark dalam dirinya buat Haechan kehilangan akal sehatnya. Suara penyatuan keduanya terdengar kentara mengisi ruang tidur Haechan yang menjadi saksi bisu bahwa Mark adalah lelaki pertama yang menidurinya.
"Ahh... M-mark please.. i wanna cum," desah Haechan memberi sinyal.
Mendengar itu, Mark mempercepat gerakannya menggenjot lubang anal Haechan yang semakin sempit pada penisnya. Deru nafas keduanya berlomba mengais oksigen sebab pelepasan mereka sudah dekat. Gerakan Mark melambat saat dirinya merebahkan tubuhnya mendekat pada wajah Haechan, membawa lelaki manis itu dalam pagutan, ia hanya menghentak dalam sesekali untuk menanamkan spermanya jauh ke dalam Haechan kala ia menjemput pelepasannya.
Haechan looks messy. His eyes were glazed with his tongue hanging out, releasing saliva that dripped down to his chin. And his sperm all over his abdomen.
Mark tersenyum, puas dengan permainan keduanya. Ia baru saja ingin menarik penisnya keluar sebelum tangan Haechan mencegahnya. Alis camar Mark terangkat bingung, "Kenapa, Haechan?" Tanyanya.
Lelaki itu menggeleng. "Sumpel dulu lubang gue pake butt plug, Mark. Gue mau simpen sperma lo di dalem," katanya menjelaskan dengan suara yang serak. Dan Mark total kaget mendengar jawaban jujur tersebut.
Astaga. This side of Haechan is driving him insane.
Menanggapi permintaan kotor itu, si juru kamera justru merebahkan dirinya di samping Haechan tanpa mengeluarkan penisnya. Ia memeluk perut Haechan dari belakang, buat si empunya bingung.
Belum sempat bertanya, Mark lebih dulu berbisik pada telinganya. "Daripada pake butt plug, mending disumpel kontol aku, kan? From now on, kamu harus terbiasa tanpa mainan-mainan kamu deh, Chan. If you need a cock to fill your hole, minta sama aku aja.." katanya lirih. Haechan merasa geli saat napas Mark kentara jelas pada telinganya.
Sang aktor tidak menjawab dengan vokal, sebagai gantinya ia balas peluk lengan Mark yang mengalungi sekitaran perutnya. Ia sedikitnya merasakan kantuk yang menyergap tubuhnya seusai permainan hebatnya dengan Mark tadi. Tetapi indra pendengarannya samar-samar menangkap suara Mark yang bercerita pelan.
"Haechan.." meski tidak mendapat respon, Mark tetap melanjutkan kalimatnya. "Aku mau kamu tau kalau perhatian kecil yang aku kasih selama ini bukan karena semata-mata kamu itu artis. It's been a while since i have feelings for you,"
Since when?
Keterkejutan Haechan dalam hatinya direspon baik oleh Mark meski tidak ia suarakan. "Sejak kamu ikut casting waktu itu. Little boy Haechan with his big ambitious," jawaban tersebut membuat Haechan hampir saja membalikkan badannya, namun Mark menghadang.
"Sshh... I'll tell you this story of mine to put you sleep. Aku tau kamu ngantuk, kamu denger aja yaa.."
What an attentive man. Dalam hati Haechan mendecak sebal. Semalaman bersama dengan Mark, tidak sekalipun Haechan merasa tidak nyaman. Pria itu bahkan cukup peka untuk mengetahui isi hatinya tanpa perlu ia ekspresikan.
Moreover, this man behind him had fucked him so well that he almost lost his sanity. Mark has all the good things in him. Sifat dan perilakunya yang memperlakukan Haechan dengan baik, tubuh proporsional dilengkapi otot pada bisep dan abdomennya yang tercetak sempurna dengan penis berukuran besar yang bisa memuaskannya.
Dan Haechan bersyukur karena ternyata lelaki itu merasakan hal yang sama dengan yang ia rasakan. Haechan tidak jatuh sendirian, lelaki di belakangnya yang masih setia memeluknya itu ternyata sudah lebih dulu menaruh rasa padanya.
Dengan begitu, Haechan mulai memasuki alam bawah sadarnya saat Mark sudah selesai bercerita. Mark tersenyum mendengar dengkuran halus Haechan dan sekian menit setelahnya dirinya pun ikut terlelap.
Hari demi hari berlalu dengan cepat. Sudah dua bulan berlalu sejak pertama kali Mark juga Haechan menghabiskan malam bersama. Tidak ada ungkapan komitmen yang mereka suarakan langsung, namun keduanya sudah paham dengan gerak tubuh masing-masing yang saling mendamba satu sama lain. Mark untuk Haechan, dan begitu sebaliknya.
Haechan masih disibukkan dengan projek untuk film porno terbarunya. Sementara Mark sudah naik dari jabatan juru kamera menjadi asisten sutradara. Karirnya di rumah produksi itu akhirnya membuahkan hasil setelah tiga tahun bekerja disana.
Selama proses syuting berlangsung, Mark dengan pandangan lurus terpaku pada akting kekasihnya di layar. Sesuatu dalam dirinya berteriak tidak terima kala tubuh tan itu digerayangi tangan lain yang bukan dirinya. Konsekuensi, Mark jauh lebih paham bahwa Haechan disana hanya sedang melakukan pekerjaannya. Lagipula bukan saat ini saja dirinya melihat lelakinya itu berhubungan badan dengan lawan main dalam aktingnya. Mark sendiri tidak mengerti mengapa dirinya dipenuhi rasa cemburu.
"Cut!!" Suara dari sutradara dibelakangnya menggema di lokasi syuting tersebut. Pertanda bahwa adegan terakhir untuk hari itu sudah selesai.
Dengan demikian, Mark tarik tangan Haechan dari sana ke dalam ruang tunggunya hingga lelaki itu memprotes saat sadar dirinya bahkan belum memonitor adegannya tadi.
"Nothing to worry, sayang. Akting kamu selalu bagus," katanya menenangkan. Lantas Haechan diam dan tidak lagi menatap Mark dengan marah. Agaknya sekarang ia bingung mengapa lelakinya itu menarik dirinya ke ruangan yang pintunya sudah dikunci.
Haechan mendelik kaget. "Kenapa dikunci pintunya, Mark?" Tanyanya saat lelaki itu berbalik usai mengunci.
"Kamu emang mau ada yang mergokin kita ngewe disini?" Mark malah balas bertanya. Ia menyunggingkan senyumnya menatap Haechan yang mulai mengerti maksudnya.
Oh, Haechan masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian selatan tubuhnya pasca adegan seks yang disorot tadi. Mark maju mendekat untuk bawa tangannya bermain pada puting kecoklatan Haechan, merangsang tubuh yang lebih kecil darinya.
"Kenapa—ahh.. tiba-tiba mau main, Mark?" Ini bukan kali pertama mereka melakukannya di ruang tunggu itu. Namun Haechan bertanya sebab lelaki itu tidak pernah langsung menyeretnya begitu saja, Mark akan lebih dulu bertanya padanya.
"Aku cemburu," katanya jujur. Mark pilin puting kanannya sambil menghisap kulit tan lelaki itu di perpotongan lehernya. "Cuma aku yang bisa ninggalin bekas di badan kamu,"
Hisapan dari mulutnya turun menyambangi puting kiri Haechan, ia kulum dan memainkan puting itu dalam mulutnya. Menyedotnya kuat seakan ada susu yang keluar dari sana. "Cuma aku yang bisa nenen sama kamu,"
Mark kini berjongkok di hadapan Haechan dan melorotkan handuk yang menjadi penghalang dirinya dengan kejantanan Haechan yang menggantung diantara kedua pahanya. "Cuma aku yang bisa enakin kontol kamu,"
Penisnya dikocok oleh tangan Mark sebelum akhirnya ia kulum penis itu dalam mulutnya. Mark mengoral kejantanan kekasihnya, sesekali ia mainkan zakarnya dengan tangan. Haechan menahan dengan sekuat tenaga untuk tetap tegak berdiri meski dengkulnya sudah lemas. Tangannya dengan segera menjambak surai lelaki di bawahnya saat Haechan rasa putihnya akan tiba.
"Ahh... Fuck.." desahnya lirih agar tidak terdengar keluar ruangan. Lelaki itu menjulurkan lidah memperlihatkan mulutnya yang penuh oleh cairan Haechan. Ia meludah pada telapak tangannya, menumpahkan cairan ejakulasi itu untuk ia bawa pada lubang anal lelakinya. Mark dorong masuk jarinya dengan bantuan cairan itu sebagai pelumas. "Cuma aku yang bisa pake lubang kamu,"
Setelah habis mani Haechan tertelan dalam lubang analnya sendiri, Mark bangkit dari posisinya untuk mendorong tubuh Haechan menghadap pintu sementara dirinya berdiri di belakang lelaki itu. Membuka resleting celana yang ia pakai dan menurunkannya sedikit hanya untuk mengeluarkan penisnya. "Cuma aku yang bisa genjot anal kamu pake kontol aku,"
Desis kesakitan yang Haechan rasakan harus ia bungkam dengan kedua tangannya. Mark tidak sepenuhnya mempersiapkan lubangnya dengan benar, maka itu dirinya merasa sedikit perih saat kejantanan lelakinya menerobos masuk tanpa pelumas. Tubuh atasnya merapat pada bidang pintu sedangkan bokongnya sedikit menungging, mempersilakan lelaki di belakangnya memakai tubuhnya.
Ketukan pada pintu yang terdengar buat jantung Haechan hampir copot. Dirinya merutuk satu orang yang paling mungkin berdiri dibalik pintu tersebut.
"Haechan, lo di dalem? Ayo, pulang," seru Doyoung dari luar ruangan. Ajakan pulang tersebut menyadarkan Haechan bahwa hari sudah semakin larut, dan kekasih gilanya itu masih belum berhenti menghentak penisnya dalam tempo yang kian cepat.
"Jawab," paksa Mark dengan suara rendah. Haechan dibuat merinding, tapi dirinya tidak punya pilihan lain. Ia buka tangan yang membekap mulutnya sendiri.
"Se-sebentar Kak Doy, ahh!" Haechan menoleh pada lelaki dibelakangnya dan menatapnya sebal saat lelaki itu dengan sengaja menggenjot penisnya kencang.
"Atau lo pulang duluan aja.. nghhh, Kak Doy lo balik sendiri aja gapapa.." jawab Haechan lagi. Doyoung tidak bodoh, ia jelas dapat menangkap suara desah artisnya itu dari balik pintu.
Doyoung menggelengkan kepalanya. "Dasar orang gila. Gue ga mau nanggung ya kalau ada yang denger perbuatan jorok lo disini," katanya sarkas, sebelum akhirnya lelaki itu pamit dan pergi dari depan ruang tunggu Haechan.
Semenjak dirinya mengetahui fakta-fakta tentang Haechan yang baru saja diceritakan padanya, Doyoung juga sudah tahu mengenai hubungan artisnya itu dengan Mark. Doyoung tidak sekali dua kali memergoki pasangan itu berbuat hal tidak senonoh.
Dasar pasangan kelebihan hormon, katanya.
