Work Text:
Pada malam hari, setelah ia mematikan pesawat televisi dan lampu, ia secara praktis tidur sendiri, dengan sunyi mengelilinginya. Sunyi tidak seperti suara yang mengudara, melayang, dan bergerak menjalar melalui gelombang-gelombang getaran yang tidak kasat mata. Sebaliknya, sunyi tidak bisa bergerak ke mana-mana, ibaratnya adalah ketika seseorang tengah menunggu-nunggu sesuatu, dan ia hanya bisa diam. Ia, si laki-laki paruh baya, pada saat ini merasa seperti sedang menunggu bunyi benar-benar bergerak—barangkali bunyi jarum jam yang berdetak secara otomatis, bunyi panggilan telepon orang tidak jelas di malam hari, atau entah apa lagi yang tidak terpikirkan olehnya. Ia seakan harus siap-siap berantisipasi.
Ia telah memejamkan mata tetapi gagal terlelap. Ia gagal terlelap, maka matanya ia buka. Ia ingin pejamkan matanya lagi, tetapi ia lelah mencoba memejamkan matanya. Sosok paruh baya itu mencoba mengerjap—cukup lama, mencoba untuk menutup kedua mata hingga rapat-rapat—hingga pada akhirnya ia putuskan bahwa tak mungkin tidak memelekkan kedua matanya. Diulurkan kakinya turun dari ranjang bersama geliat-geliat bagian atas tubuhnya. Laki-laki itu melangkah di dalam ruang gelap yang dipenuhi bayang-bayang memanjang. Bayangannya, bayangan furnitur-furnitur apartemen.
Ia sudah jemu tidur seorang diri.
Digesernya pintu menuju balkon apartemen dengan tenaga yang, bisa ia bilang, ala kadarnya.
Di tengah gulita, ia nyalakan lampu balkonnya sebelum mulai melihat-lihat. Masih ada yang melaju di jalanan-jalanan kota yang bersalju. Masih ada pendaran menyala di bawah sana. Mata telanjangnya melihat semua menjelma buram, pudar seperti foto-foto lusuh di album silam. Yang sedikit membuatnya bertanya, masih ada perempuan muda yang bersiap-siap meloncat dari papan kolam renang outdoor apartemen pada malam musim dingin.
Ia yang dinaungi atap balkon saja bahkan kedinginan. Semilir hangat pemanas ruangan apartemen yang melewati celah pintu balkon terasa seperti basa-basi temperatur saja. Angin musim dingin dari luar berangsur-angsur berpapasan dengan piyama dan kaus kakinya.
"Ada saja orang yang masih ingin berenang," ucapnya.
Dan bukan hanya ia yang tengah bersuara: entah mengapa, entah siapa, ada suara lain, sebuah irama telapak kaki. Jika ia bisa mendengar laju langkah sosok di balkon apartemen sebelah, sosok tersebut juga bisa mendengarkannya mengomentari pemandangan kolam renang di bawah apartemen mereka. Ia tidak ingin ambil pusing atas kehadiran lain selain dirinya; ia membiarkannya saja sosok tersebut mencuri dengar apa yang ia katakan.
"Malam-malam seperti ini," ia terdiam, mencoba melengkapi informasi pernyataannya, lalu menyadari bahwa ia sama sekali tidak tahu pukul berapa pada saat ini. Hal ini membuat dirinya menelan ludah.
Perempuan di kolam renang mengepak-ngepakkan kaki dan tangan di permukaan air pada musim dingin dan ia tidak bisa membiarkannya berlalu tanpa satu pun tanggapan. Kepalanya menggeleng-geleng keras tidak setuju. "Si perempuan itu sungguh-sungguh berenang malam-malam musim dingin begini."
Ia melipat kedua tangannya pada susuran balkon, tidak ubahnya seseorang melipat tangan di atas meja ketika memperhatikan lurus-lurus apa yang ada di depannya. Liukan napasnya memutih di hadapannya.
“Mungkin, Pak, saking dinginnya, si perempuan terlalu mati rasa untuk benar-benar kesakitan,” imbuh sebelahnya. Seorang perempuan tetangganya berdiri di balkon sebelahnya, berbicara menghadapi embusan asap rokok di sela jemari. Ia mendengar warna suaranya untuk pertama kali bahwa kedengarannya seperti nada cempreng para presenter.
Terdengar desah keras dari sosok di balkon sebelah ketika kata-kata selesai diucapkan. Sementara itu, ia mencari-cari apa alasan di balik rasa beku yang menyebabkan sekujur lidahnya sulit untuk berkutik. Ia tidak bisa hanya menuding angin musim dingin yang bersibobok dengan kulitnya. Dilongoki kolam renang untuk mencari-cari. Kolam renang jauh di bawah tidak lebih rinci daripada kubangan air yang membentang biru.
“Itu, besoknya … sakit rematik,” ringisnya, tidak menyukai apa yang ia lihat. Kecipak kaki dan tangan samar-samar dalam resolusi rendah, lebih seperti gestur daripada gambar. Tidak banyak yang bisa ia benar-benar soroti dengan sepasang mata rabun yang telanjang. Ia seharusnya masuk, mencari-cari kacamatanya untuk ia kenakan, tetapi telapak kakinya sukar beranjak. Ingin dirinya seenaknya menuding lantai balkon yang dingin, tetapi ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Diliriknya sosok di balkon sebelah untuk mencari apa yang ingin ia ketahui. “Yang Anda lihat, apakah?”
Kata-katanya tidak terdengar seperti apa yang terpikirkan di kepalanya.
“Kolam renangnya tidak jelas kelihatannya—saya soalnya tidak pakai kacamata, tapi Anda mungkin bisa membantu.” Hanya kata pengantar, tetapi ia perlu meruntut, setidaknya untuk dirinya sendiri, mengapa ia harus mengatakan apa yang akan ia katakan. “Ceritakan saja pada saya apa saja yang sedang ada di kolam renang.”
Ia melihat kepala perempuan itu menengok dari sudut matanya. “Ada perempuan berenang di kolam renang malam-malam,” kata perempuan tersebut, yang tengah mengincar sepasang bola matanya. “Tidak ada apa-apa lagi di kolam renang, sekarang sudah tengah malam.”
Ketika itulah ia menemukan kernyit bibirnya terpantul di sepasang mata tersebut, sehingga ia harus berpaling menjauhi dirinya, bayang-bayang mayanya, yang terlalu dekat dengannya.
“Saya tahu ada perempuan yang berenang di kolam renang malam-malam,” desahnya, agak terperangah harus mengatakan hal yang sudah begitu kentara bisa dilihat mata tuanya. “Tetapi saya sendiri tidak bisa yakin, misal, motif pakaian renangnya sebenarnya polkadot atau mungkin bunga-bunga. Apakah rambutnya sebenarnya bergelombang atau keriting.”
Terdengar tawa perempuan itu setelahnya. “Pertanyaannya … astaga , ada-ada saja.” Ia sendiri baru tersentak setelah kata-kata tersebut selesai diucapkan ketika ia menyadari bahwa ia ditertawakan beberapa detik yang lalu. Ia terdiam, tidak bisa menyela suara si perempuan. “Lagipula, dari balkon begini, mana bisa melihat yang detail-detail begitu. Kalau ingin melihat, lebih baik sekalian turun ke bawah saja.”
Digeleng-gelengkan kepalanya. Mustahil baginya membayangkan dirinya, dengan sehelai piyama garis-garis, berjalan menuju kolam renang apartemen di lantai kedua. Ia membayangkan cara yang lain: ia menggunakan binokuler untuk melihat dari kejauhan sebagaimana apa yang ia lakukan ketika ia berlibur berkemah di tepi sungai bersama keluarganya, ketika ia masih menjadi suami istrinya. Istrinya sudah terlalu lama meninggal. Atau ia yang terlalu lama hidup seorang diri—
Mau tak mau ia harus mendesak napas memasuki dadanya sebelum ia sesak.
“Terima kasih,” ucapnya, hanya mengambil pembendaharaan kata basa-basi di kepalanya. Ia sendiri tidak berselera untuk melanjutkan percakapan sebelumnya atau mengutip deretan pikirannya. Ada hal lain yang bisa ia lakukan. Matanya tidak bisa menyaksikan secara tajam apa yang terjadi di kolam renang, tetapi ia setidaknya bisa melihat sudah sampai manakah perempuan tersebut berenang.
“Seharusnya jam segini kita berdua sudah tidur, atau paling enggak kalau mau begadang, lebih enak di klub-klub minum-minum,” balas dari balkon sebelahnya. “Besok untungnya hari Minggu, tidak perlu bangun pagi.”
Ia melihat si perempuan muda yang tengah berenang telah mencapai separuh jalan.
“Begitu juga dengan perempuan di kolam renang,” gumamnya.
Didiamkannya decak pelan yang terdengar dari balkon sebelah, dan setelahnya ia hanya mendengar suara angin. Angin musim dingin tidak dikenal dengan alunan nadanya yang terlalu banyak merayu, melainkan desis sesenyap bahaya. Angin musim dingin menujah helai pakaian, kulit telanjang, segala benda dan makhluk dalam lintasan geraknya. Perempuan di kolam renang merasakan tujah angin yang sama dengan yang ia rasakan, derajat temperatur yang tidak jauh berbeda dengan yang ia rasakan.
Kakinya sama-sama tidak berkutik ketika tungkai kaki perempuan di kolam renang itu mulai berhenti. Tangannya sama-sama tidak bisa apa-apa ketika tangan perempuan di kolam renang itu tidak lagi bisa mengepak air untuk tetap mengambang. Kepalanya berpaling dari perempuan yang menunggu waktu tenggelam pada perempuan yang berdiri di balkon sebelahnya. Ia menatap perempuan itu menatapnya. Dan ia bisa melihat di mata perempuan apartemen tetangganya bagaimana rasa bersalah mencoret-coret wajahnya.
Dari balkon apartemen, mereka bahkan tidak berani bersaksi detik-detik terakhir sang perempuan tenggelam setelah tengah malam.
