Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-12-27
Words:
815
Chapters:
1/1
Kudos:
5
Bookmarks:
2
Hits:
140

Sorak-Sorai Desperasi

Summary:

Malam itu Seungmin merasa dunia terlalu tidak bersahabat buat ditinggali oleh dia yang cuma mau menggauli laki-laki dan satu-satunya lelaki yang pernah dan masih ada di ranjangnya adalah Minho.

Notes:

Sudah pernah dipublikasikan di Twitter pada 12/8/22. Diarsipkan di laman AO3.

Work Text:

Wajah langit masih dilecak dan kusut oleh tulang pipinya sendiri. Dari garis-garis rambutnya, cuma sedikit sekali cahaya bulan yang bisa ditelusuri. Sisanya cuma gelap yang gegap gempita. Gelap itu memancing Seungmin terbangun di tengah-tengahnya dengan kaki yang sebelah kesemutan karena betis Minho menindih tanpa ampun serta seikat dahaga yang lengket meraung-meraung di leher.

Hendaknya Seungmin bergerak untuk raih segelas air guna lepaskan serak, tetapi baru ia bergerak barang sejengkal, Minho di sebelahnya sudah menggerutu dalam tidur. Mendengus keras seperti seekor lembu, bergerak menggesekan tubuhnya buat cari posisi yang nyaman, tangannya meremas piyama Seungmin seolah mengancam. Bahwa Seungmin tidak boleh beranjak kemana-mana.

Seungmin berhenti mencari segelas air di nakas. Ia menoleh pada Minho, kemudian melirik kasur lipatnya yang digelar di lantai, tapi tidak disambangi sedari pertama mereka menginjakkan kaki di penginapan ini. Kasur lipat itu cuma kedok sandiwara demi meyakinkan si resepsionis bahwa mereka dua pria normal yang tidak berbagi satu petiduran. Dua pria yang tidak saling mendekap dan bercumbu di tengah kegiatan.

Seungmin melirik Minho lagi. Lengan pria itu kini terjulur merambat di pinggang Seungmin, memeluknya erat. Mata Seungmin kembali bergulir dari satu hal ke hal lainnya, dari nakasnya yang menyisakan sebuah telepon kabel dan segelas air, lemari baju di sudut ruangan yang mulai keriput digonggongi senyap, lalu jarum jam yang menyebrang tanpa menunggu. Setelahnya mata Seungmin kembali ke Minho lagi, pusat dari semua benda yang ada di ruangan itu.

Lantas di situlah. Suatu kesadaran memukul Seungmin keras sekali, yang tadinya hanya bergunjing dan sekadar rumor belaka, kini menendang tengkuk dan membasuh kesadarannya dengan darah. Seungmin tidak bisa beranjak kemana-mana, tidak ketika ia punya segenggam hati yang bisa ia belah buat Minho seorang, tidak ketika ia mendamba Minho lebih dari batas yang masyarakat tarik antara dua orang lelaki, tidak ketika Minho mendekapnya seperti ini. Minho dan Seungmin tidak bisa beranjak kemana-mana kecuali berada di perputaran ruang yang lengang ini. Tidak ketika Seungmin adalah kekasih dari pria di sebelahnya dan bukan sekadar teman akrab seperti yang mereka inginkan.

Kesadaran itu berbuah jadi perasaan kalut yang luar biasa, seakan-akan Seungmin hakikatnya segelintir ruang hampa yang tiba-tiba ditumpahi rasa getir yang jumlahnya puluhan kwintal. Seungmin takut sekali. Cintanya kepada Minho harus diremas kuat dan dilesakkan dalam saku, tidak boleh ada yang tahu. Kalau Minho nekat mencintai dengan begitu jujur, akan mujur rentetan aklamasi brutal dan homofobia yang histeris menginjak-injak mereka sebagai respon.

Seungmin membayangkan seluruh hidupnya akan luluh lantak di hari dimana ia blingsatan menaruh hati, sebagai seorang yang identitas gendernya tidak mengikuti kotak-kotak biner perempuan dan pria, dan seseorang yang menyukai laki-laki. Bahwa kawannya yang selalu memanggilnya seorang pria, akan berbalik menjauh ketika tahu Seungmin bukan seorang pria dan sebaliknya, ia bercumbu dengan pria. Bahwa kepala militer akan menjatuhinya hukuman mati. Bahwa para ulama akan meneriakinya pendosa yang melawan ciptaan entitas tertinggi. Bahwa ayah-ibunya yang sudah berbaring di peti mati akan merangkak dari kubur untuk mencaci Seungmin yang mencintai laki-laji; karena menjadi seorang homoseksual jauh lebih memalukan daripada seorang narapidana atau pelaku pelecehan seksual.

Seungmin takut sekali. Isi kepalanya tak lagi rasional. Ia tak bisa membantah dengan segala pernyataan humanis yang biasa berkecamuk akrab. Ia bukan lagi seorang yang punya identitas dan punya integritas, melainkan tereduksi menjadi sepotong rusuk yang kisruh dan gemetar, penuh ketakutan tidak masuk akal dan segala hal yang disembunyikan jadi korosi. Tak berhenti bertanya-tanya, apakah ini yang namanya menjadi bisu karena masyarakat yang tidak mau mendengar? Ketakutan itu mencekiknya dan Seungmin berharap tangan Minholah yang melakukannya.

Air mata Seungmin meleleh. Matanya berjatuhan sebiji-biji kisut dan masam. Seungmin mencoba mengeluarkan suaranya, memanggil Minho bangun, tapi ia tak bisa. Nama Minho dirapalkannya berkali-kali hingga binasa menjemput pikirannya yang satu itu. Minho, Minho. Kasihku, sayang. Bangunlah, Minho.

Seungmin terhenyak, paru-parunya digagahi oleh perangai peradaban yang tidak bersahabat. Kini bukan lagi Minho yang disebutnya, melainkan afirmasi bahwa ia cinta Minho sekali, sampai sakit dan susah berhenti mau bagaimanapun resikonya. Mulut Seungmin membuka kian lebar, bukan dari kejujuran, tapi dari keputusasaan. Sayang Minho. Cinta Minho. Kasihku, Minho, tidak ada yang lain selain kau. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Tidak akan ada cinta yang cukup lantang meluncur dari mulutnya. Tidak akan bisa ia berteriak di penginapan reyot yang sekujurnya disetir homofobia.

Seungmin meremas selimut di atas tubuh Minho. Ia sekali lagi berteriak, di tengah keheningan, tanpa suara, hanya dengan air mata, Aku homoseksual! Aku seorang homoseksual! Aku tidak suka wanita dan kau mau apa? Aku lelah. Aku lelah. Aku lelah. Aku takut. Takut sekali. Takut. Aku seorang homoseksual. Aku mencintai dan aku takut dan aku tak akan pernah setara dengan laki-laki yang mencintai perempuan. Tak ada suara yang keluar dari bibir Seungmin yang menganga terbuka, cuma isak tangis dan bunyi napas yang tertahan. Tapi itu semua cukup untuk mengejutkan Minho. Seketika pria itu terjaga dan duduk tegak, membawa Seungmin ke pelukannya.

Seungmin tidak ingin berada dimana-mana lagi kalau bukan di lengan Minho yang bernubuat soal asmara. Tidak mau berada dimana-mana lagi kalau di sana Minho tidak cinta.