Chapter Text
Penyesalan terbesar dalam hidup Naraga saat ini hanyalah pertemuannya dengan Julian Abirray. Seandainya dulu ia tidak menerima Julian menjadi kekasihnya, ia pasti tidak akan pernah berada dalam posisinyaa saat ini.
Mengangkang lebar di atas sofa, tanpa satu helai pakaian yang menutupinya. Naraga dipaksa menahan kakinya sendiri dengan kedua tangannya. Ia dipaksa pasrah untuk memberikan tubuhnya selama apa pun yang kekasihnya inginkan. Harga diri Naraga seolah dirampas, dibuang dari atas jurang hingga hancur tak bersisa. Nara juga tak bisa membantah. Melawan Julian hanya akan menambah petaka untuk hidupnya beserta orang-orang sekitarnya. Nara tak mau.
Julian keluar dari kamarnya, ia tertawa puas melihat badan Nara yang sudah bergetar. Sudah dua jam kekasih dari Julian Abirray itu dipaksa berdiam mengangkang dengan telanjang badan di tengah ruangan, diabaikan kehadirannya seolah ia hanya pajangan yang tak berharga.
Kotak berwarna merah muda dengan cetakan nama Naraga Toys di sisi depan kotak, kini di simpan di meja kaca di hadapan Nara. Mata sang submisif berair, ia berusaha menggelengkan kepalanya ribut, memohon pada sang dominan untuk tidak memakai apa pun benda yang ada di dalam kotak tersebut. Julian menatapnya remeh.
" Your opinion doesn't matter, doll . Yang berhak menentukan di sini, cuma gua, ngerti?"
Julian menjambak rambut Nara dengan kencang hingga kepala Nara dipaksa menenggak. Nara meringis, tangannya yang sejak tadi kelelahan menahan pergelangan kaki pun tanpa sadar terlepas. Hal itu lantas memantik amarah sang dominan, ditambah lagi, Nara tidak juga menjawabnya.
Plak !
"Answer me, slut! Dan pegang kaki lo yang bener! Gak becus banget jadi lacur!"
Tamparan pada pipi kanan Nara membuat bola matanya membesar karena terkejut, tangan kanannya yang gemetaran dengan panik meraih pergelangan kaki kanannya lagi, melebarkan kedua kakinya hingga mengangkang maksimal. Memamerkan kemaluannya yang tegang, dan lubangnya yang sudah cengap-cengap . Ada banyak lelehan sperma Julian yang keluar dari lubangnya, sisa dari penyiksaan pagi tadi.
"Maaf kak, a-aku ngerti." Nara mencicit ketakutan.
plak!
Julian kembali menampar Nara, kini tanpa alasan, hanya ingin membuat submisifnya kesakitan. Ia kemudian menjauh dari Nara, membuka kotak mainan dan mengeluarkan berbagai alat yang akan menemani Julian bermain dengan boneka hidupnya, Naraga Alvian.
"Liat gua!" Julian membentak Nara dengan lantang.
Dengan rasa takutnya yang menguasai, Nara menatap Julian yang berdiri berkacak pinggang di depannya. Hatinya terasa perih, meskipun Nara sudah sering diperlukan seperti pelacur oleh kekasihnya sendiri, ia juga sering mengharapkan kencan yang normal dengan Julian. Bukan hanya mengangkang, menungging, dan membuka mulutnya lebar-lebar untuk memuaskan sang kekasih. Ia ingin berpacaran dengan normal .
"Kak, can we go on a date, please ?"
Nara tahu jelas, posisinya saat ini sangat tidak normal untuk mengajak sang kekasih pergi berkencan. Orang waras mana yang mengajak pacarnya berkencan dengan posisi mengangkang lebar? Namun, Nara juga ingin mencoba peruntungan, dengan mengajak lelaki yang kini malah menatapnya remeh.
"Oke, we can go on a date, sebanyak yang lo mau."
Mata Nara membulat, berkaca penuh harap, senyumnya ikut mengembang dengan girang.
"Ada syaratnya."
Tentu saja, Nara seharusnya sudah bisa mengira akan hal ini. Meski ada perasaan kecewa yang Nara rasakan, ia tetap menunggu Julian untuk melanjutkan ucapannya.
"Kalau lo bisa tetep sadar sampai gua selesai ngerjain badan lo hari ini, gua turutin mau lo buat ngedate. Kalau lo pingsan sebelum gua selesai, lo harus puasin gua dan temen-temen gua malam minggu ini, deal ?"
Napas Nara tercekat, penawaran dari Julian ini sangat bertolak belakang. Jika Nara menang, ia mungkin akan merasakan berkencan yang *normal* dan menyenangkan. Namun, jika Nara kalah, ia harus membiarkan Julian dan teman-temannya memakai tubuhnya. Teman Julian tak sedikit, dan Nara tahu dengan jelas, seperti apa teman-temannya itu. Mereka tak jauh berbeda dengan Julian. Para sadistic yang begitu ganas menyiksa partner sex mereka tanpa belas kasih. Nara takut.
"Gimana, sayang?"
Mendengar panggilan sayang yang keluar dari mulut Julian, lantas membuat Nara menatap kekasihnya dengan mata berbinar. Otaknya seolah tidak berfungsi dan ia tanpa ragu langsung mengangguk menyetujui. Julian tersenyum puas.
"Good girl." Puji Julian selagi mengelus puncak kepala Nara dan mengecupnya. Nara memaksakan senyumnya terlihat untuk memuaskan sang dominan.
I'm a boy , sanggah Nara dalam hatinya. Yang tentunya, tidak ia suarakan pada lelakinya yang kini sudah memegang tali tambang berwarna merah muda, bersiap mengikat Nara.
Rasanya Nara ingin menangis menjerit. Julian benar-benar mengerjai tubuhnya habis-habisan. Baru dua jam permainan, Nara sudah kewalahan.
Kini, Nara disuruh menungging di atas meja makan dengan kedua tangan yang diikat tali tambang di belakang punggungnya. Ikatannya sangat kencang hingga Nara tak bisa menggerakkan kedua tangannya. Posisi menungging seperti ini memaksa wajah Nara menempel pada meja makan. Kakinya dipaksa terbuka lebar, ada tongkat besi berwarna merah muda di antara pergelangan kaki yang terhubung pada borgol bulu yang Julian pasang di kedua pergelangan kaki Nara. Alat itu menahan kaki Nara untuk tetap terbuka lebar.
Desahan Nara tak pernah berhenti, lubangnya yang penuh terasa sangat menyiksa. Namun, tubuhnya seolah berkhianat dan justru terangsang pada setiap penyiksaan yang Julian berikan. Lima buah es batu besar yang dimasukkan ke dalam analnya sejak puluhan menit lalu, kini sudah mencair, berganti dengan penis Julian yang menusuk tubuh Nara hingga lelehan es batu itu terdorong keluar dari lubangnya.
"Kak, mau pipis!"
Permintaan Nara tak diindahkan, Julian hanya terus memakai tubuh Nara sesuka hati. Mengabaikan penis Nara yang menggantung dan bergoyang kencang di antara kedua kakinya yang mengangkang, lengkap dengan segala jenis alat yang menyiksa penisnya. Nara tidak bisa mendapatkan pelepasannya, ada sounding rod tebal yang Julian paksa masukkan ke dalam lubang kencing Nara, lalu Julian juga memasang cock ring berwarna merah muda untuk menjepit pangkal penis Nara yang sudah membengkak, menahan agar tak ada peju yang bisa keluar dari penis Nara. Di atas lubang kencing Nara, ada sangkar yang mengunci sounding rod dengan sebuah lonceng kecil yang terus berbunyi setiap kali penis Nara bergerak.
Nara terus menerus memohon, mendesah di bawah tubuh Julian yang masih menggagahinya. Matanya berputar ke atas ketika Julian menusuk tepat di prostatnya berkali-kali.
Julian mencapai pelepasannya, memenuhi lubang Nara dengan pejunya, bersatu dengan peju yang sudah ia tumpahkan di dalam tubuh Nara sejak pagi tadi.
Setelah memakai tubuh kekasihnya, Julian langsung pergi dari dapur, meninggalkan Nara yang mengatur napasnya di atas meja tanpa bisa bergerak. Julian kembali dengan tiga alat di tangannya. Nara menggeleng ribut ketika menyadari tiga mainan penyiksa lubangnya.
"Kak, please …. "
Dua buah bullet vibrator kini bersarang di dalam anal Nara. Sang submisif menjerit ketika dua alat itu dinyalakan langsung pada mode tertinggi. Jeritannya, sangat menghibur Julian yang kini terkekeh dan memukul pipi pantat Nara dengan kencang.
"You look like a bitch in heat ." Pukulan pada pantat Nara kali ini kembali membuat Nara menjerit dan menangis.
"Gua suka liat lo nangis, Nara."
Lantas, Julian menambahkan satu buah dildo ke dalam anal Nara, menekan dua vibrator yang masih menyala hingga masuk ke dalam tubuh Nara lebih dalam. Jeritan dari sang submisif menjadi lagu yang membawa senyuman pada wajah tampan Julian. Tubuh Nara bergetar, ia akhirnya mendapatkan pelepasannya, meski terhalang c ock ring dan sounding rod.
"Kontol lo menyedihkan banget, peju yang keluar cuma berapa tetes, ya, ini? Enak gak, sayang, ngeluarin peju tapi ketahan alat kesayangan lo, ini?"
Semua yang menempel pada tubuh Nara, sudah jelas bukan alat kesayangannya, itu alat yang jelas selalu menyiksa Nara. Alat-alat kesukaan Julian.
Nara menggeleng ribut pada posisinya yang masih menungging. Julian mendekat, ia menjambak rambut kekasihnya sebelum menarik Nara mendekat untuk berciuman.
Nara melenguh di antara ciumannya dengan Julian, getaran pada analnya dipermainkan sesuka hati oleh Julian. Nara bisa merasakan bibir Julian tersenyum dalam ciuman mereka. Senyuman itu, setidaknya, membuat Nara merasakan kupu-kupu di perutnya. Ia merasa senang sudah membuat Julian tersenyum, meski senyum itu hadir karena Nara yang merasa sangat tersiksa di tangan Julian.
Setelah permainan mereka di dapur, Julian menyeret Nara untuk berjalan dengan lututnya. Susah payah Nara menyebrangi ruang tengah, lututnya begitu perih. Julian masih terus menarik rantai yang terhubung dengan choker bertuliskan anjing yang melilit di leher Nara, ia terus menarik rantai itu hingga sang submisif berlutut di depan jendela kaca yang berhadapan langsung dengan gedung apartemen lainnya. Jaraknya cukup jauh, namun, kemungkinan penghuni apartemen itu melihat Nara telanjang seperti ini masih ada. Nara menangis lagi, memohon pada sang dominan untuk tidak membuatnya berlutut di depan jendela.
"shut up."
Ctak! Ctak!
Dua pecutan dari ikat pinggang berbahan kulit asli menyapa dada telanjang Nara. Ada dua garis merah yang tercipta melintang dari perut hingga dadanya. Nara meringis.
"It's a pity, you doesn't have a big tits. Tapi setidaknya gua masih punya mereka buat gua mainin, ya, sayang?"
Nara meringis menahan sakit ketika Julian menarik dua pentilnya dengan kencang. Nara bahkan harus kembali berjalan dengan kedua lututnya untuk mengikuti tarikan pentilnya. Julian tertawa, merasa terhibur dengan kondisi kekasihnya saat ini.
"Lo suka, kan, gua kasarin gini?"
Nggak!!
Tetapi Nara tetap mengangguk, ia mengiakan pertanyaan dominannya. Nara tidak mungkin menjawab tidak, karena hukuman akan selalu menyertai setiap kali Nara menentang kekasihnya.
"Good girl. A good whore, my doll."
Nara selalu merasa Julian tengah menghinanya, namun, Julian mengatakannya seolah hinaan itu adalah pujian. Satu tahun berpacaran seperti ini, membuat tubuh Nara merespon hinaan itu sebagai pujian. Karena Julian selalu mengatakan hinaan itu dengan elusan di puncak kepalanya.
"You look so beautiful, kamu cantik banget Nara, kamu itu cantik mau pakai apa pun. Tapi kamu paling cantik kalau jadi anjing penurut kayak sekarang. Telanjang dan berlutut di bawah kaki aku. You look so beautiful. My slut, my good whore, my dirty dog, my doll ."
Tangan Julian mengelus lembut dari puncak kepala, ke pipi, dagu dan hidung Nara. Dua jari melesak masuk ke dalam mulut Nara, yang langsung dihisap patuh oleh sang submisif.
"Open your mouth, slut ."
Nara membuka mulutnya lebar, matanya menatap Julian dengan berbinar. Merasa terbang di awan karena perlakuan lembut kekasihnya. Terlepas dari semua hinaan itu, Nara berpikir bahwa Julian tengah berlaku lembut padanya.
Nara memperhatikan bagaimana Julian mengumpulkan ludah di mulutnya, lalu meludah ke dalam mulut Nara yang terbuka lebar. Belum puas, Julian kembali menambahkan ludah ke dalam mulut Nara.
Nara direndahkan lagi. Namun, penisnya malah bergerak di antara kakinya yang masih berlutut. Julian tersenyum remeh.
"Kamu suka banget ya, sayang, diludahin gini? Suka direndahin sama aku?"
Pipi Nara dielus lembut, berbeda dengan hatinya yang merasa keberatan, kepala Nara bergerak mengangguk. Masih dengan mulutnya yang menganga lebar dengan ludah Julian yang sudah bercampur dengan ludah miliknya sendiri.
*Clochk!!!*
Mata Nara membulat seketika, tangannya mengepal di belakang tubuhnya, ia tak bisa mendorong Julian menjauh. Ia tak bisa menahan Julian untuk tidak memasukkan penis besarnya ke dalam tenggorokannya.
Semakin banyak Nara menolak, semakin kuat jambakan di rambutnya untuk tetap diam menerima seluruh penis Julian di dalam mulutnya.
"Lo diem, kalau lo nggak bisa diem, nggak bakal gua tarik kontol gua dari mulut lo, jalang!"
Nara dipermainkan, baru saja ia merasa Julian memperlakukannya dengan lembut, kini yang Nara dapatkan hanya kasar. Nara berusaha tenang semampunya, beberapa menit kemudian, Nara akhirnya diam dan membiarkan Julian menggerakkan pinggulnya sesuka hati.
Sakit, rahang Nara seolah kaku karena terbuka lebar cukup lama. Matanya sudah bengkak karena terus menangis selagi mulutnya diperkosa oleh kekasihnya sendiri. Sudah dua kali Julian keluar di dalam mulut dan wajahnya, namun kekasihnya belum juga puas. Kepala Nara kembali ditekan, dahinya menempel pada perut kotak Julian, hidungnya juga menempel pada rambut-rambut kemaluan Julian.
Satu tangan Julian yang tidak menahan kepala Nara kini menutup satu-satunya akses Nara bernapas. Lelaki yang masih bersimpuh di depan Julian lantas melotot. Matanya menatap penuh harap pada Julian, berharap agar Julian melepaskan dua jarinya dari hidung Nara. Bukannya dilepas, Julian malah semakin mengencangkan gerakan pinggulnya, memaksa Nara untuk melahap penisnya hingga ke pangkal.
Nara tersedak tak karuan, dan akhirnya Julian kembali menumpahkan pelepasannya di dalam mulut Nara. Nara ingin muntah, ia terbatuk ketika Julian akhirnya melepaskan kepala Nara.
"Telen semuanya, anjing!"
Kepala Nara kembali dipaksa menenggak, peju Julian yang tumpah ruah dari mulut Nara terlihat mengalir dari dua sisi mulut si submisif. Nara buru-buru menelan apa yang masih ada di dalam mulutnya. Ia membuka mulutnya serta menjulurkan lidahnya pada Julian, menunjukkan bahwa ia sudah menelan peju dominannya itu hingga habis.
Julian masih menatap marah, pandangannya kini berfokus pada choker dengan tulisan anjing , sebelum matanya melihat tumpahan peju di lantai yang ada di bawahnya.
"Masih ada peju gua di lantai, lo anjing yang pinter, kan, sayang?" Julian bertanya, tangannya menggenggam rambut Nara dengan kencang, membuat submisifnya meringis sebelum menganggukkan kepalanya.
"Jilat sampe bersih!"
Nara ingin menolak, *aku bukan anjing!* Teriakan itu menggema dalam hati. Matanya menatap banyak cairan putih di lantai, tak sedikit juga cairan itu mengenai kedua kaki Julian. Sebelum matanya kembali menatap Julian untuk memohon, Nara melihat pantulan dirinya sendiri di kaca lemari yang kini berada di belakang tubuh Julian. Nara melihat bagaimana menjijikkan dirinya di bawah Julian. Nara melihat chokernya, seolah menjadi pengingat bahwa Nara harus berlaku seperti apa yang kekasihnya inginkan. Kali ini, Nara harus bersikap seperti anjing peliharaan, bukan?
Nara menunduk, ia melenguh karena dildo dalam lubangnya terasa menekan lebih dalam. Lidah Nara keluar, ia menjilati lantai, menyeruput peju Julian yang sebelumnya Nara muntahkan dari mulutnya. Ini kotor, ini menjijikkan, tapi tetap Nara melakukannya.
Julian berdiri dengan sangat puas di atas Nara, sejak tadi, tangannya sudah memegang sebuah kamera, menyorot submisifnya yang menjilati lantai dengan lihat seperti layaknya seekor anjing.
"Di kaki gua juga ada, sayang."
Julian semakin puas begitu merasakan lidah Nara menyapa jari kakinya.
—
Masih belum berakhir, Nara masih dikerjai habis-habisan oleh Julian. Kedua tangan dan kakinya terikat ke sisi kasur, membentang membentuk huruf X dengan tubuh polosnya yang masih kotor. Sisa peju milik Julian dan Nara masih menempel di banyak bagian tubuh Nara, terutama, lubang pantatnya.
"Ahh!!" Nara menjerit, kedua tangannya mengepal setelah merasakan panas pada puting kirinya.
"Ahhh!!" Nara memekik lebih kencang, penisnya yang berdiri tegak kini menjadi target permainan Julian. Nara tak bisa bicara, karena sebuah cincin besi yang cukup besar kini menahan gerak rahangnya, cincin itu dilengkapi dengan tali berbahan kulit yang Julian ikat ke belakang kepala Nara.
"Aaahhhh!!!" Tetesan lilin merah dari lilin yang Julian pegang kini mendarat bertubi-tubi di atas kedua puting dan penis Nara. Sang submisif hanya bisa menangis dan menggeliat dengan sisa tenaganya. Julian begitu puas hari ini.
Julian really loves torturing his sweet boyfriend so much .
"Lo jangan pingsan dulu, kontol gua masih mau main sama lo, sayang. Lo kuat, kan?"
Nara mengangguk lemah, susah payah matanya ia paksa untuk terbuka. Julian bermaksud baik, ia menampar pipi Nara dengan keras hingga lelaki di bawahnya itu memekik dan menangis.
"Lo mau ngeluarin peju lo yang dari tadi nggak bisa keluar, nggak, sayang?"
Mata lelah Nara sedikit terbuka lebih lebar, masih dengan mulutnya yang menganga lebar, ia mengangguk, mencoba bicara meski hanya suara tak jelas yang berhasil Julian dengar.
"Kasian kontol lo sampe ungu gini. Tenang, abis ini gua bantu kontol lo meler-meler peju, ya, sayang. Gua peres sampe lo nggak bisa lagi keluar."
Nara menggeleng ribut, ia tak mau, badannya jelas kelelahan. Namun, Julian langsung menghajar lubang Nara yang sejak tadi sudah cengap-cengap karena tidak ada kontol yang memenuhinya.
Julian kembali menggagahi Nara tanpa ampun di malam itu, Nara sudah hampir kehilangan kesaradarannya, penisnya benar-benar diperas habis dan perutnya kini semakin kembung terisi peju dari sang kekasih.
"Hhhhh, HAHHHHH" Nara bergerak ribut di bawah Julian yang masih menggempur lubang pantatnya. Pelepasan Nara yang sudah tak terhitung itu kembali membuat lubangnya menyempit, mata Nara bahkan memutih, desahnya begitu kencang karena pelepasannya kali ini tidak mengeluarkan cairan apapun.
"Peju lo abis tuh, yang."
Nara jelas tak akan menjawab, sudah terlalu bodoh saat ini untuk bisa mengerti apa pun yang Julian katakan.
"Udah bego makin bego ya, Naraga. Kayaknya, permainan kita, masih gua yang menangin. Oh, I would love to see you serve me and all my friends , Naraga." Julian tersenyum dan mencium pipi Nara yang akhirnya tak sadarkan diri.
Ketika Nara membuka kedua matanya, ia disapa peluk hangat sang kekasih. Lengan Julian bahkan menjadi bantal untuk Nara. Sang submisif tersenyum, ia mengabaikan seluruh tubuhnya yang terasa sakit tak karuan.
"Good morning , kak sayang." Sapa Nara dengan suaranya yang hampir habis. Efek dari penyiksaan Julian sehari penuh kemarin.
Julian memberi kecupan pada puncak kepala Nara. "Morning, doll ." Tangan Julian bergerak mengelus lengas telanjang Nara.
"Udah siap, dipake rame-rame weekend ini, sayang?"
Nara ingin menangis. Belum habis rasa sakit di tubuhnya, Julian sudah membahas soal rencananya di akhir pekan ini.
"Kak, aku nggak mau dipake sama temen-temen kakak, please ?" Mata Nara membulat dengan binar lucu, ia menatap Julian penuh harap. Yang ditatap hanya tertawa dan menepuk pipi kiri Nara dengan lembut.
"A deal is a deal, my pretty doll ."
Nara kembali bersandar pada dada telanjang Julian, menutupi ekspresi kecewanya yang mungkin sudah tergambar jelas jika Julian menatapnya gamblang.
"Kita nggak pernah, loh, kak, proper date sejak pacaran." Nara memberanikan diri untuk mengeluh, mencoba peruntungan di pagi hari.
Julian menghela napasnya. Jujur, Nara sedikit panik mendengar helaan napas kekasihnya. Takut jika ia kembali membangunkan singa tidur di pagi hari.
"Ok, we'll go on a date ."
Kepala Nara langsung menoleh dengan cepat, matanya kembali berbinar. "Beneran, kak?"
Julian mengangguk, ia menyelipkan rambut lengket Nara ke belakang telinganya. Julian menahan tawanya, merasa lucu karena kekasihnya mungkin belum menyadari bahwa tubuhnya masih kotor, masih dipenuhi peju di wajah dan seluruh tubuhnya.
"We'll go on a date , tapi setelah kamu dipake rame-rame." Julian melanjutkan ucapannya. Raut kecewa Nara jelas tertangkap oleh Julian, dan ia tertawa.
"Aku nggak bakalan bisa jalan, kak. Sekarang aja, main sama kakak seharian, aku lemes banget. Gimana kalau aku dipake sama temen-temen kakak?"
Yang lebih kecil lantas memiringkan tubuhnya, tangannya memeluk tubuh Julian. Mencoba merayu agar rencana ' dipake rame-rame ' itu bisa dibatalkan oleh kekasihnya.
"Take it or leave it, doll ."
Nara mendesah pasrah. Namun, ia masih belum bisa memutuskan.
"Aku mau jalan sama kamu asal perut kamu simpen semua peju yang kamu dapet dari dipake rame-rame. You'll be so cute, walking around with a big belly full of cum. Kita bisa jalan-jalan ke bioskop, makan es krim, apa pun yang kamu mau. Ok, sayang?"
Julian tau betul kelemahan Nara, ia akan bicara dengan lembut dan diakhiri panggilan sayang agar Nara luluh. Caranya cukup berhasil pada banyak kesempatan. Dulu, Nara bahkan menyetujui untuk menjadi peliharaan Julian seharian penuh, hanya karena permintaan Julian yang lembut seperti ini.
Nara terdiam, ia merasa keberatan, apa yang Julian jabarkan, jelas bukan date yang ia bayangkan. Nara merasa tak punya harga diri hanya dengan ucapan ' dipake rame-rame' yang kekasihnya itu gunakan. Tapi, kapan lagi ia akan pergi kencan dengan Julian? Tidak terlalu masalah, kan, jika ia harus berjalan dengan banyak peju di dalam perutnya?
"Iya, aku mau dipake temen-temen kamu. Asal setelahnya kita beneran pergi jalan-jalan ya, kak?"
Julian tersenyum senang.
"Can't wait to see you getting wrecked, doll. "
