Work Text:
Alunan lagu instrumental terdengar memenuhi studio. Bukan, Hyungu bukan sedang melakukan sesi baca bersama dengan WEVE. Tapi lelaki bersuara indah lah yang menemani Hyungu membaca buku. Keduanya duduk nyaman di sofa yang ada di studio.
Hyungu membalik halaman novel, matanya mengikuti deretan kata yang tertuang, berusaha mencerna pikiran sang tokoh utama saat menjelajah semesta. Larut dengan jalan cerita, dia tidak mempedulikan Yonghoon yang mulai gelisah. Lebih tepatnya, berusaha.
Yonghoon sedang memenuhi janji untuk membaca buku yang diberi oleh Hyungu, namun pada dasarnya, lelaki yang lebih tua itu tidak pernah terbiasa membaca terlalu lama. Baginya, ada yang lebih menarik, seperti memainkan handphone atau menatap wajah tampan Hyungu misalnya.
Hampir satu jam berlalu, novel milik Yonghoon kini tergeletak begitu saja di sofa, sementara pembacanya mulai melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian Hyungu.
Awalnya hanya sekedar menarik ringan ujung kaos favorit Hyungu. Lalu berganti strategi. Pingu yang semula tertata manis dengan boneka-boneka lainnya, berpindah tempat menjadi berada di atas pundak Hyungu. Bosan dengan Pingu, giliran tangan Yonghoon perlahan naik, jemarinya mengikuti bentuk logo di celana training Hyungu, sesekali membelai pahanya.
Hyungu sukses terdistraksi, tapi tetap ingin melanjutkan novelnya. Bagian klimaksnya kurang sedikit lagi.
"Hyung."
Mendengar nada peringatan dalam suara Hyungu, Yonghoon merengut. Tapi kalau dia teruskan, bisa-bisa Hyungu akan meninggalkannya dan malah keluar dengan Giuk. Itu berarti makan malam yang sudah Yonghoon rencanakan sejak seminggu lalu terancam batal.
"Lima belas menit lagi, oke?" Hyungu melirik Yonghoon sekilas, dan kembali melanjutkan membaca.
"Benar lima belas menit ya? Jangan ditambahin lho," sungutnya, sedikit merajuk.
Yonghoon tahu, lima belas menit itu bisa bertambah jika Hyungu tak ingin melewatkan bagian yang menarik. 'Padahal kan bukunya tidak akan kemana-mana', batin Yonghoon.
"Hyungu-ya, kalau gitu, pegangin ini dong."
Tidak ada jawaban.
"Hyungu-yaaa." rengek leader ONEWE itu.
Pemilik nama itu mendongak, melihat tangan Yonghoon tersodor di depannya.
"Hyung ingin aku memegang apa?" Tangan Yonghoon kosong, tidak ada benda apapun di situ. Dahi Hyungu berkerenyit, tak paham maksud Yonghoon.
"Pegang inii," Lelaki berambut pink itu kembali menjulurkan tangannya. "Tangan aku."
"Hah? Hyung mau bergandengan?"
"Bukaan, tapi pegangin tangan aku sampai kamu selesai baca," Yonghoon nyengir tanpa rasa berdosa.
"Yonghoon-hyung, itu sama saja." Yonghoon hanya mengedikkan bahu, tetap dengan cengiran yang tidak lepas dari bibirnya.
"Janji aku tidak akan menganggu sampai lima belas menitnya habis."
"Haaah, menyebalkan," Meskipun begitu, Hyungu meraih tangan Yonghoon dan mengaitkan jemari mereka. "Sebagai ganti, hyung harus membalikkan halaman untukku."
"Oke!" sahut Yonghoon bersemangat, sembari mengeratkan genggaman mereka. Ia sudah bersiap menunggu aba-aba dari Hyungu.
Hyungu menghela nafas, bibirnya menyunggingkan senyum kecil. Walaupun kadang (seringkali) menyebalkan, Hyungu tidak pernah bisa benar-benar menolak keinginan seorang Jin Yonghoon.
