Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-04-27
Words:
4,055
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
50
Bookmarks:
7
Hits:
585

Final Call

Summary:

"Wonwoo, kamu tahu tidak apa esensi dari terbang naik pesawat seperti ini?"

*"untuk bepergian capt? Maaf saya kurang paham capt"

"untuk sampai wonwoo, untuk sampai pada tujuan akhir. Entah itu mendarat dengan sempurna, atau pulang pada destinasi lain yang lebih jauh. Semuanya tetap sampai, meski destinasinya berbeda"

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

 

Yang wonwoo tahu kala ia masih kecil dulu, bahwa siapapun yang bisa menerbangkan pesawat itu adalah orang yang sangat hebat. Ayahnya acapkali memberi banyak dongeng tentang si dia, si burung besi yang banyak membawa harap. 

 

Harapan untuk pulang, 

 

Untuk datang, 

 

Untuk temu, 

 

Untuk rindu yang ingin segera tuntas, 

 

Tentang dia yang dengan seruan bangga memegang kendali di balik kemudi yang tuas dari burung besi. Membawa banyak harap dan keyakinan bagi setiap insan yang menumpang. 

 

Wonwoo mau jadi pilot, katanya ketika seisi kelas bertanya apa cita-citanya. Di beri banyak tawa sebab katanya lucu, pilot itu hanya cita-cita anak kecil, angan yang tak pernah bisa sampai pada ujungnya. Ingin yang tak akan pernah bisa di genggam wujud nya. 

 

Maka wonwoo kecil berjanji, bahwa kelak ia bisa memijak luasnya langit hanya dalam satu tarikan tuas pemacu pada si burung besi, yang kelak bisa membuatnya mengantar banyak tujuan dari siapapun yang menumpang pada kemudinya. 

 

Maka wonwoo kini bisa bangga, sebab di beri Tuhan satu kesempatan untuk menjejak pada dinginnya lantai asrama penerbangan. Bagaimana gagahnya seragam akademi nya kala di pakainya sebelum menuju kelas. Atau bagaimana teman sekekamarnya yang bernama hansol, sosok misterius dengan segudang pengetahuan yang kadang-kadang membuat wonwoo takjub. 

 

Ada banyak untaian syukur yang wonwoo selalu panjatkan pada tuhan, sebab diberi ijin untuk membuat ayah dan bundanya bangga, sebab menjadi lulusan seleksi dengan nilai tertinggi di akademi penerbangan ini. Wonwoo berhasil membuktikan bahwa apapun yang dulu menjadi bahan tawaan bagi kawan-kawannya tentang satu mimpi yang wonwoo panjatkan dengan sungguh kini hanya tinggal beberapa langkah lagi. 

 

"nu biasa aja kali" hansol di sampingnya menyenggol pelan rekan satu asramanya yang sudah mereka tinggali selama nyaris 3 tahun. 

 

"sol, itu beneran kok dia masih betah sih di akademi? Capt mingyu? Dia belum mulai terbang?" ada suara yang di pelankan kala wonwoo berujar pada teman di sampingnya itu. 

 

"lo nanya ini udah dari tahun lalu ya nu, dia masuk kelas PPL jadi mentor kita. Yang kasi tanda tangan pengajuan lisensi terbang pesawat pribadi lo tuh literally dia" hansol menggerutu, sebab entah sudah berapa kali sahabatnya itu selalu mempertanyakan tentang eksistensi seorang seniornya yang memang kebetulan sering menjadi bahan omongan di seluruh kelas saat masa pendidikan. 

 

Sebab yang kini berbicara di depan itu adalah sosok yang namanya selalu menempati tahta peringkat tertinggi dalam latihan apapun, bahkan harusnya sosok itu sudah bisa menerbangkan pesawat komersil sebab lisensi terbangnya dan jam terbang yang sudah memenuhi syarat. 

 

Tapi usut punya usut, katanya sosok itu ingin menjadi mentor dalam beberapa tahun, sebelum akhirnya memasang lencana pilot pesawat komersil. Jabatannya, kapten. Pria berusia 24 tahun di depan sana itu seorang kapten. Lulus hanya dalam waktu kurang dari 1 tahun untuk kelas penerbangan, kemudian menambah pengalamannya dengan ikut terbang bersama beberapa instruktur penerbangan sebagai co-pilot. 

 

Dua tahun setelahnya pemuda itu berhasil meraih gelar kapten nya dalam dunia penerbangan. Tapi, hingga saat ini kenapa sosok itu masih betah ada di akademi masih menjadi misteri, jika melihat kecakapan dan hasil akademiknya yang lebih dari sangat memuaskan harusnya pemuda itu akan di terima di maskapai manapun, nilai plusnya adalah wajahnya yang super tampan. 

 

"lo dapet sama capt mingyu won, anjir sumpah jackpot banget gak sih lo?" Ada hansol yang suara langkahnya di terburu masuk ke dalam kamar asrama. 

 

"yang bener lo anjing. Emang jadwal dah keluar?" Wonwoo yang baru saja membaca buku nya itu kontan langsung menatap rekan satu kamarnya itu. 

 

"tmi aja lo bakal jadi orang terakhir yang di tutorin sama capt mingyu, dia abis ini bakal mulai jadi pilot pesawat komersil. Langsung dapet penerbangan antar pulau anjir mantap bener masih 24 lagi nu" hansol dengan celotehnya membagi satu lembar daftar pada sahabatnya itu. 

 

"ini tes terakhir kita juga gak sih sol? Lengkap kan licence kita abis ini? Mau cabut kaga lo?" Sejatinya sekolah pilot nya hanya berlangsung 1.5 tahun, tapi daripada harus mencari lisensi di luar lagi dengan biaya lebih, baik wonwoo dan hansol bertahan di akademi demi menuntaskan seluruh rangkaian lisensi terbang mereka. 

 

"cabut lah, tapi sama aja sih won, masih co-pilot gabisa ujuk-ujuk jadi kapten" 

 

"wah mantep kali ya gue jadi co-pilot nya capt mingyu" ada satu gaduh yang di lepas wonwoo sebab kepalanya di hantam gulungan berkas yang hansol pegang. 

 

"ngaca lo, capt mingyu dah dapet antar pulau, lo paling-paling juga dapetnya jarak dekat, masih untung dapet penerbangan jakarta. Lo kalo dapet di luar Jakarta gimana coba" 

 

"lo harusnya kasi gue amin dong sol, ini proses mengejar jodoh" sekali lagi ada gaduh yang lebih keras di lempar wonwoo sebab lagi-lagi kepalanya di hantam hansol oleh gulungan berkas yang sama. 

 

"halu lo ketinggian, di lirik aja kaga lo sama si kapten. Ada juga selera dia bukan modelan lo kali won. Banyak pramugari yang nganteri pasti" 

 

"dih, belum jadi juga berarti gue masih ada kesempatan dong sol? Tapi sumpah anjir gue kalo sebelahan sama capt mingyu bawaannya grogi. Gue pas ambil private pilot license sama dia sumpah keringet dingin, tapi orangnya mengayomi banget sol, gimana dong, kepala gue di pukpuk terus dia bilang 'kalo pegang tuas jangan tegang ya' gak tau aja dia kalo gue tegang nya ya karena dia anjir" ada tawa yang lambat laun di lepas hansol. 

 

"lo naksir beneran ya won?" Satu tanya di lempar hansol sebelum sosoknya menjatuhkan badan di sisi ranjang miliknya sendiri. 

 

"awalnya cuma kagum sol, orangnya pinter banget, abis gitu dia nya baik, ramah. Eh anjir malah lama-lama pengen jadi jodohnya. Halu banget gue" ada tawa yang di lempar keduanya di penghujung malam itu sebelum menjemput mimpi. Harap-harap cemas menunggu esok. 

 

Tepat pukul 6 pagi, wonwoo dan hansol sudah siap dengan seragam nya masing-masing, ada sebuah tumpukan berkas yang di jiniing di sisi badan. 

 

"aduh gerogi banget gue" wonwoo yang berjalan bersisian dengan hansol mengaduh. 

 

"tenang aja kali won, tee terakhir abis gini bisa daftar pilot komersil. Cita-cita lo bakal terwujud" 

 

Wonwoo memang hidup selalu dalam ketidakmungkinan, tapi ia selalu belajar bagaimana caranya mendapatkan apa yang menurut orang tidak bisa di lakukan. Langkahnya untuk menggenggam nama sebagai seorang pilot sedikit lagi tercapai. 

 

Omong-omong tentang ketidakmungkinan, jika wonwoo boleh menyimpan satu harapannya lagi, maka mengejar seorang kapten muda bernama kim mingyu akan berjejer pada urutan pertama. 

 

Semasa hidupnya wonwoo lebih suka mengejar apapun yang menurut orang tidak bisa ia raih, jika kim mingyu adalah apa-apa yang menurut orang tidak bisa ia gapai, maka ia akan mengejarnya. Wonwoo akan mengejarnya. 

 

Berpisah pada luasnya landasan pacu, wonwoo mengambil arah menuju apron di landasan pacu nomor 3, sedang hansol menuju apron 7. Jantungnya kian berdegup kala kakinya semakin dekat dengan sebuah pesawat latihan dengan jenis cessna 150. 

 

Menarik satu napas dalam-dalam sebelum memberi salam pada seorang mekanik di pintu masuk pesawat, wonwoo lantas di buat terkejut sebab di belakang mekanik tersebut muncul orang lainnya, kapten mingyu di sana. Dengan lengan seragam putihnya yang di gulung satu per empatnya. 

 

"maaf capt, saya terlambat" dengan terburu wonwoo menegakkan tubuhnya, memberi salam hormat pada senior sekaligus mentornya hari ini itu. Disambut satu balasan hormat dengan kekehan sederhana. 

 

"belum terlambat kok wonwoo, saya saja yang tidak ada kerjaan" melongo, hanya itu yang bisa wonwoo lakukan sebelum akhirnya mengikuti langkah sang kapten menuju kokpit pesawat. 

 

"gerogi?" Wonwoo jelas tahu yang di tanya adalah dirinya.

 

"sedikit capt" jawabnya sembari mengenakan sabuk pengaman. Di susul satu suara tawa dari sisi sebelahnya. 

 

"tes sebelumnya kamu sudah bagus wonwoo, nama kamu juga selalu dapet poin paling tinggi. Saya yakin yang sekarang juga kamu bisa lolos" 

 

Wah, boleh tidak wonwoo melebur saja? Sebab entah mengapa, kenyataan bahwa capt mingyu bahkan tahu catatan akademik nya membuat wonwoo terang-terangan di sambut satu euforia yang begitu intens. 

 

"mau di mulai?" 

 

"sebentar capt baca doa dulu" ada tawa mingyu setelahnya kala melihat wonwoo begitu khusyuk masuk kedalam doanya. Menarik satu atensi mingyu untuk sekedar meng amini apa-apa saja yang menjadi doa sosok manis di sisinya itu. 

 

"boleh mulai capt?" Setelah membuang napas yang di tariknya dalam-dalam wonwoo. 

 

"boleh wonwoo, kamu kaptennya hari ini" kemudian di susul satu anggukan yakin sebelum wonwoo memegang kemudi pesawat. Menarik napasnya lagi sebelum berbicara pada menara kontrol. 

 

"jeon wonwoo speaking, id number 172707. Asking permission to take off" 

 

"copy, permission accepted. Jeon wonwoo id number 172707 cessna 150 apron B3 ready to take off"

 

"power on, cessna 150 apron B3, stabilizer engine to take off" beriringan dengan mesin pesawat yang menyala dan mulai melaju wonwoo berujar kembali. 

 

"80 knot" mingyu menyahut, melihat pada detektor di hadapannya, menunjukkan kecepatan pesawat di landasan pacu. 

 

"100 knot" 

 

"gear off" wonwoo menyeru.

 

"gear off" mingyu dengan telaten menerima arahan, sebab hari ini wonwoo lah kapten nya. 

 

"Up to 1000 feet. Asking permission to up to 10.000 feet" pesawat sudah terbang dengan sempurna, dan wonwoo meminta untuk menaikkan ketinggian pesawat. 

 

"copy, permission accepted, cessna 150 up to 10.000 feet" kemudian pesawat di naikkan pada posisi 10.000 kaki. 

 

"Auto flight on" 

 

"auto flight on capt" dan wonwoo kontan menoleh pada mingyu yang ada di sisinya. Hanya untuk mendapat senyum merekah. 

 

"see? You did a great job" katanya, dan wonwoo mau tidak mau kembali menoleh. 

 

"thank you capt

 

"sama-sama soon to be capt wonwoo" entah kenapa candaan yang kelewat garing itu di beri wonwoo satu tawa. 

 

"capt saya boleh tanya?" 

 

"boleh wonwoo, mau bertanya apa?" 

 

"kenapa capt pengen jadi pilot?" Wonwoo selalu penasaran dengan kenapa orang-orang berlomba untuk mendapatkan posisi ini. Kebanyakan yang wonwoo tahu memang selain gajinya yang besar, tapi juga ada pangkat yang membuat orang-orang merasa bangga atas dirinya sendiri. Dan wonwoo kerap kali di rundung pertanyaan yang sama, tapi entah kenapa ia tidak bisa menjawab. 

 

"kalo kamu, kenapa pengen jadi pilot wonwoo?" Nah kan, pertanyaan yang sama. 

 

"saya juga kurang tahu sih capt. Kata ayah saya dulu, pilot itu hebat dia itu di kasih banyak percaya sama orang-orang yang menumpang di pesawatnya untuk di antarkan ke tempat tujuan. Menurut saya sih keren, jadi saya bilang saya pengen jadi pilot" ada tawa pelan yang mingyu usung tepat ketika wonwoo mengakhiri kalimatnya. Jika boleh wonwoo protes maka ia akan meminta tutor nya itu untuk berhenti memburai tawa, sebab jantungnya semakin berdetak tak karuan. 

 

"kurang lebih memang seperti itu wonwoo, saya pengen jadi pilot biar saya bisa bantu banyak orang sampai pada tujuan" selama masa pendidikannya dulu wonwoo nyaris tidak pernah bisa menyapa sosok yang kini duduk di sisinya itu, entah karena mingyu yang sukar di gapai atau wonwoo yang terlalu merasa kecil presensinya. 

 

Yang jelas bagi wonwoo, kim mingyu itu lebih dari sekedar sempurna, maka ia yang tidak menarik itu cukup sadar diri untuk tidak dengan impulsif memperkenalkan diri pada awal kali ketika keduanya berpandangan. Saat penerimaan siswa penerbangan, yang mana untuk pertama kalinya wonwoo memijak di akademi nya itu, untuk pertama kali pula di kenalkan pada seorang senior bernama kim mingyu. 

 

"kenapa masih di akademi capt, padahal saya denger katanya capt sudah punya semua licence jam terbang juga sudah cukup" ada satu ketukan hening yang menyelimuti sebelum mingyu menjawab. 

 

"apa ya wonwoo? Saya juga nggak tahu?" Jawaban yang tidak memuaskan tapu tidak mungkin juga wonwoo menginterupsi. 

 

"capt mingyu asli mana?" Atau hanya wonwoo yang merasa pertanyaannya salah. Pesawat sudah kembali pada mode manual, bersiap pada satu putaran untuk kembali ke landasan pacu. 

 

"maaf capt, kalau terlalu pribadi boleh tidak usah di jawab" kemudian menekan interkom penghubung dengan Flight Center. 

 

"jeon wonwoo speaking, cessna 150 asking permission to come back to the runway" 

 

"permission accepted, please go down to 8.500 feet, please keep on track with 100 miles per hour"

 

"alright copy, go down to 8.500 feet 100 miles per hour speed" 

 

"saya dari bandung wonwoo" kemudian kepalanya menoleh sepersekian detik. 

 

"saya dari bandung, dan saya tahu kamu asli jakarta. Lulusan tes penerbangan terbaik, saya juga tahu" 

 

"ATC speaking, cessna 150 please go down to 7000 feet"

 

"copy, cessna 150 go down to 7000 feet" 

 

Sedikit tidak memperhatikan mingyu di sisinya wonwoo memilih fokus pada kemudi pesawatnya. 

 

"Wonwoo, kamu tahu tidak apa esensi dari terbang naik pesawat seperti ini?" Fokusnya sedikit terkumpul untuk kemudian menjawab pertanyaan sang kapten. 

 

"untuk bepergian capt? Maaf saya kurang paham capt

 

"cessna 150, 5000 feet ready to landing" wonwoo berbicara.

 

"copy, cessna 150 apron B3, landing access accepted"

 

"untuk sampai wonwoo, untuk sampai pada tujuan akhir. Entah itu mendarat dengan sempurna, atau pulang pada destinasi lain yang lebih jauh. Semuanya tetap sampai, meski destinasinya berbeda" meski fokusnya ada pada kemudi, wonwoo bisa dengan jelas menangkap apa yang sang kapten ucapkan. 

 

"stabilizer landing, cessna 150 ready to landed, pulling brake" 

 

"brake pulled" mingyu menyeru. Sebelum akhirnya pesawat mendarat dengan baik. 

 

Butuh waktu sekitar 5 menit sampai pesawat berhenti dengan sempurna. Disambut dengan satu hening yang lagi-lagi menjadi teman. 

 

Mingyu adalah sosok yang pertama kali berdiri, menatap sosok di sampingnya itu.

 

 

 

"you've did a great job today. You've got passed" ada binar bahagia yang wonwoo lempar kala mendengarnya. 

 

"thank you capt" masih dengan wajah berseri yang begitu kentara. 

 

"wonwoo" ada satu sapa yang di lepas mingyu sebelum tubuhnya benar-benar keluar dari kabin pesawat. 

 

"sepertinya ide bagus kalo bisa dapet kamu as my co-pilot buat flight komersil. But, i wish all the best for you. See you on another flight wonwoo" kemudian punggung tegap itu menghilang dari pintu kokpit. 

 


 

"Co-pilot jeon wonwoo speaking, asking permission for landing at Seokarno Hatta airport" 

 

"J7 flight-B127 permission accepted, please landed on apron 177G"

 

"copy, J7 flight-B127 apron 177G ready to landed" 

 

Ada wonwoo yang memegang kemudi untuk menurunkan pesawat. Penerbangan Chicago-jakarta. Memakan waktu yang lumayan panjang, tapi menjadi satu langkah yang wonwoo capai dengan terseok-seok. Sudah 2 tahun memegang kendali pesawat sebagai co-pilot, wonwoo cukup bangga dengan pencapaiannya. 1 tahun pertama ia habiskan untuk terbang melalui sekat-sekat udara langit indonesia. Untuk 1 tahun setelahnya wonwoo dipercaya untuk menjadi co-pilot penerbangan luar negeri. 

 

Banyak euforia yang wonwoo dapatkan banyak kenangan bahagia pula. Tak banyak yang berubah dari dirinya, mungkin hanya tanggung jawabnya saja yang bertambah, banyak nyawa yang ia bawa. Tapi ada satu bait petuah yang hingga hari ini selalu tertanam di kepalanya. Dari seorang kapten yang selalu di kaguminya. 

 

"untuk sampai wonwoo, untuk sampai pada tujuan akhir. Entah itu mendarat dengan sempurna, atau pulang pada destinasi lain yang lebih jauh. Semuanya tetap sampai, meski destinasinya berbeda"

 

Maka dari itu wonwoo selalu percaya, bahwa apapun yang terjadi di atas sana, pilot dan co-pilot sudah menjalankan yang terbaik. Bicara tentang sosok yang memberi petuah itu, wonwoo bwrada di satu maskapai penerbangan yang sama tepat 6 bulan lalu saat ia di pindah tugaskan. 

 

Sosok itu masih sama, masih capt mingyu yang begitu ramah, bahkan pada kali pertama wonwoo akhirnya bisa melihatnya kembali setelah satu setengah tahun di tugaskan untuk penerbangan bali-surabaya. Menyapa dengan hangat dengan senyuman yang begitu merekah.

 

 

 

Tapi sayang, wonwoo masih belum di beri kesempatan tuhan untuk di beri izin kembali menerbangkan pesawat bersama sosok itu. 

 

"good job won" ada tepukan yang di dapatnya dari hansol tepat ketika ia keluar dari kokpit pesawat, membawa serta kopernya. 

 

"lo juga, pas berangkat kan lo yang bawa. Gue tau ya dari capt dika kalo lo pegang kendali. Widihhh keren amat" tak banyak yang berubah, salah satunya kawannya masih tetap hansol. Dan wonwoo boleh tidak mengucap syukur sebab dipertemukan kembali oleh hansol.

 

"lo juga tinggal beberpa kali terbang kan abis itu dapet tambah satu garis tambahan. Ciaaahhh capt wonwoo dong. Mau dong capt jadi co-pilot nya"ada pukulan di kepala belakang hansol yang di beri wonwoo sebagai satu hadiah. 

 

"emang kelakuan lo ya" 

 

"gue salah mulu perasaan, eh won lusa lo katanya dapet flight sama capt mingyu" 

 

"gak lucu candaan lo" 

 

"anjir jadwal dah keluar ya buat quarter tahun ini, lo buka kaga sih anjir" 

 

"seriusan lo sol?" 

 

"serius nu, LA lo dapet satu kokpit sama capt mingyu" 

 

Setelahnya ada satu malam yang wonwoo habiskan untuk berpikir. Tentang perasaannya, tentang degup jantungnya, tentang segala usaha yang ia lakukan demi bisa mencapai tujuannya. Capt, kim mingyu dan singgasananya, satu ruang kokpit dengan dang dambaan hati. Atau wonwoo harusnya menyerah saja? Sebab tidak ada kemungkinan atas status sang kapten apakah masih sendiri atau sudah memiliki seseorang di hati. 

 

Jikapun begitu, wonwoo sudah siap untuk patah. 

 


 

Penerbangan Jakarta Los Angeles pukul 14.30 PM. Wonwoo sudah tiba di bandara tepat pukul 9 pagi dengan seluruh persiapannya. Biasanya meeting sebelum keberangkatan dilakukan 4 jam sebelum keberangkatan. Kakinya menyusuri lorong-lorong kantor maskapai, menyapa satu-persatu orang yang ia temui. Kemudian masuk menuju kantor. 

 

"Flight LA capt kim mingyu" wonwoo menyebutkan penerbangan nya pada resepsionis di depan. 

 

"oh, capt mingyu sudah di ruang meeting mas wonwoo" sang kapten dengan kebiasaannya yang selalu tepat waktu, salah satu poin plus sosok yang wonwoo kagumi itu. 

 

Kakinya kembali berjalan, menyusuri lorong untuk kemudian menuju ruang meeting. Mengetoknya sekilas sebelum suara 'masuk' di lepas dari dalam. Ada napas yang wonwoo tarik begitu dalam sebelum membuka ruangannya. 

 

"pagi capt" sepertinya orang ini tidak mengetahui bahwa wonwoo adalah sosok yang masuk ke dalam ruangan. Kala keduanya berpandangan ada senyum yang di lempar mingyu "nice to see you wonwoo, akhirnya kita dapat satu flight ya?" 

 

Wonwoo tidak bisa membaca apa maksud kalimat barusan, jadi selebihnya ia biarkan waktu yang menjawab. Ada gelanyar aneh kala tubuhnya sudah duduk tenang di dalam kokpit, dengan capt mingyu yang juga tengah mempersiapkan diri. 

 

"mohon kerjasama nya capt" wonwoo berujar sebelum mereka bersiap untuk lepas landas. 

 

"mohon kerjasamanya juga wonwoo"

 

 

 

"Capt kim mingyu speaking. J7 Flight-A260 Asking permission to take off" 

 

"copy, J7 Flight A260 permission accepted"

 

"gear off" 

 

"gear off capt"

 

"ready to take off" 

 

"90 knot capt"

 

"up to 110 knot capt" 

 

"up to 120 capt"

 

"Up to 350 feet" 

 

"up to 6000 feet capt"

 

"kita naik sampai 30.000 ya wonwoo tolong informasikan" 

 

"Jeon wonwoo speaking, J7 Flight-A260 asking permission to go up to 30.000 feet" 

 

"copy, permission accepted please go to 30.000 feet. And see you again J7"

 

"stabile engine, auto flight" 

 

"copy, stabile engine auto flight on capt"

 

Kemudian mingyu melepas interkomnya, mengambil interkom pesawat untuk menginformasikan kepada penumpang.  

 

"Good afternoon passengers. This is your captain speaking. First I'd like to welcome everyone on Rightwing Flight A260. We are currently cruising at an altitude of 30,000 feet at an airspeed of 400 miles per hour. The time is 3:50 pm. The weather looks good and with the tailwind on our side we are expecting to land in London approximately fifteen minutes ahead of schedule. The weather in Jakarta is clear and sunny, with a high of 25 degrees for this afternoon. If the weather cooperates we should get a great view of the city. The cabin crew will be coming around in about twenty minutes time to offer you a light snack and beverage, and the inflight movie will begin shortly after that. I'll talk to you again before we reach our destination. Until then, sit back, relax and enjoy the rest of the flight" 

 

Ada tatap yang diam diam wonwoo lempar dengan kagum. "You are such a good captain" adalah komentar yang wonwoo lepas kala mingyu selesai dengan ucapannya. 

 

"my pleasure. Tapi saya yakin kamu juga akan jadi kapten yang baik wonwoo" 

 

"gimana, asik jadi pilot?" Ada satu tanya yang di lempar mingyu di tengah deru pesawat yang menembus langit. 

 

"asik capt, meski kadang panik kalo dapet turbulence yang cukup berat. Tapi makasih sama kalimat kapten waktu itu, bener-bener bantu saya buat tetep positif, kalo seorang pilot itu gak bisa ngelawan takdir. After all kita sudah berusaha yang terbaik" 

 

"bisa gitu ya? Saya pikir kamu lupa sama saya wonwoo" 

 

"mana ada capt saya lupa sama capt, yang ada saya nunggu satu kokpit lagi sama kapten" ada burai merah yang hinggap di pipi yang lebih muda.

 

"wah, bukan hanya saya ternyata ya yang menunggu satu kokpit sama kamu" 

 

"maaf capt?" Berusaha menghapus terkejut nya wonwoo meminta ulang kalimat yang sebelumnya di lepas sang kapten. 

 

"iya, saya nunggu satu kokpit sama kamu wonwoo" ada jeda setelahnya, awan mulai memunculkan bias jingga sebab hari mulai petang. Tangannya otomatis menekan tombol lampu pesawat. 

 

"wonwoo" 

 

"iya capt?" 

 

"tahu apa itu final call dalam penerbangan?" Alisnya terangkat sebelah sebelum akhirnya menjawab. 

 

"panggilan terakhir capt? Buat Passengers? Sebelum keberangkatan?" 

 

"tapi buat pilot juga ada namanya final call wonwoo" sebentar, tapi selama di akademi sepertinya wonwoo tidak pernah tahu apa itu final call bagi seorang pilot. Atau wonwoo melewatkan materinya? Tapi ia tidak pernah absen kelas. 

 

"final call buat seorang pilot itu laporan perjalanan wonwoo. Laporan sebelum perjalanan dan setelah perjalanan, laporan sebelum take off. Untuk ngasi kabar kalau dia mau berangkat, final call setelah perjalanan, laporan kalo dia sudah landing dengan sempurna" 

 

Ada jeda sebelum sang kapten memutar tubuh, menghadap yang lebih muda. 

 

"kita nggak pernah tahu saat kita naik pesawat ini, apa kita akan sampai di tujuan atau malah pergi ke tujuan yang lebih jauh. Final call di pake pilot sebelum berangkat, buat memastikan bahwa dia pergi dengan satu tanggung jawab wonwoo, kalo nanti dia kasi laporan safely landing dan dia sampai di tujuannya, kalau dia gak kasi laporan lagi setelah itu, maka itu final call nya. Laporan keberangkatan tanpa laporan sampai" 

 

Ada jeda lagi sebelum wonwoo merasakan tangannya di bawa pada satu genggaman hangat. 

 

"saya pernah bilang kan, tujuan kita terbang itu untuk pulang. Wonwoo, kalo saya minta kamu jadi rumah saya untuk pulang dari setiap destinasi yang saya tempuh apa kamu bersedia? Mau nggak jadi tempat buat saya pasang seluruh laporan, jadi orang terakhir yang saya hubungi sebelum saya berangkat dan jadi orang pertama yang saya hubungi ketika saya mendarat?" 

 

Ada satu getar tangis yang wonwoo tahan untuk tidak terjatuh. Langit saat itu begitu indah, dan wonwoo ada tepat di atasnya bersama sosok yang selalu jadi mimpinya itu. 

 

Ada satu tarikan napas sebelum ia mulai berbicara. 

 

"sebagai gantinya, capt mau nggak jadi rumah saya juga buat pulang? Jadi orang yang terima semua laporan perjalanan saya?" 

 

Ada senyum yang di lempar yang lebih tua dengan sebelah tangannya yang mengusap satu bulir air mata yang jatuh dari mata sang co-pilot. 

 

"dengan senang hati wonwoo" 

 

Dan wonwoo rasanya tidak pernah sebahagia ini. Tidak pernah selega ini. 

 

Dan mungkin inilah perhalanan wonwoo dalam mengejar mimpinya. Entah itu cita-citanya menjadi seorang pilot, atau bahkan mimpinya untuk mendampingi seorang kapten bernama kim mingyu. 

 


 

"kamu terbang jam berapa?" Tubuh di balik selimut itu berujar pada sosok yang tengah bersiap dengan seragamnya. 

 

"jam 4 sore sayang. Maaf ya aku gak dapet cuti buat pernikahan, karena kamu sudah cuti. Gabisa cuti 2 pilot sayang. Nanti kita cari waktu lain ya yang bisa kitanya sama-sama cuti"

 

Ada satu kecupan di tanam mingyu pada sosok yang baru kemarin lusa resmi menjadi suaminya itu. 

 

"kita tuu baru nikah 2 hari yang lalu, akunya udah di tinggal" rajuknya, membuat mingyu tertawa terbahak. Dulu di mata mingyu wonwoo adalah sosok siswa penerbangan yang dingin dan penuh ambisi. Pun kala mereka kembali di pertemukan dalam satu maskapai yang sama wonwoo tetap menyandang gelar sebagai sosok yang misterius dan serius. 

 

Tidak bisa dipungkiri bahwa atensi siswa penerbangan satu ini sudah berhasil mencuri perhatiannya tepat saat tubuh nya yang tegap namun tetap terlihat mungil bagi mingyu itu berdiri sebagai penerima skor tertinggi dalam seleksi masuk. 

 

Membuat mingyu yang kala itu masih begitu jaim terus saja menatap parasnya dari jauh, atau bahkan merelakan 1 tahunnya menjadi tutor di sekolah penerbangan hanya demi memastikan bahwa sosok itu dapat lulus dengan baik. 

 

Dan usahanya tidak sia-sia, sebab pujaan hatinya itu kini jari manisnya di lingkari satu cincin yang sama mana nya dengan yang ia miliki. 

 

"penumpang nomor satu sayang. We both know the consequence" kini bibir tipis itu yang menjadi sasaran. 

 

Mau tak mau wonwoo mengangguk, menarik tubuhnya untuk turun dari kasur.

 

 

 

"nanti makan sebelum flight ya capt, jangan ngopi kalo bisa. Tapi bakal gabisa jadi ngopi nya pas sebelum flight aja ya. Semalem aku udah masukin kebutuhan kamu di koper kamu, 2 hari di jepang jangan nakal" sudahkah mingyu mengatakan bahwa ia begitu mencintai sosok ini? Sosok yang kini tengah dengan cerewet menceramahinya sembari menyeret kopernya menuju depan rumah.

 

 

 

"noted sayang, kamu besok flight ke lombok juga hati-hati" satu peluk menjadi stock rindu untuk 3 hari kedepan. Pekerjaan mengharuskan mereka untuk selalu di pisah oleh jarak. Tapi itulah esensinya. Bagaimana menahan rindu, menahan gejolak ingin bertemu, untuk kemudian di beri satu temu di tengah masing-masing kesibukan keduanya sebagai seorang yang di percaya untuk menerbangkan pesawat beserta banyak harap di dalamnya. Itulah esensinya, esensi yang sanggup menambah rekat hubungan keduanya sebab selalu ada rasa seperti letupan jatuh cinta yang berulang kali. 

 

"have a safe flight capt. I love you" 

 

"i love you to capt, have a safe flight for tomorrow" 

 

Kalau terbang itu tujuannya tetap pulang, wonwoo mau tidak kamu jadi rumah saya? Biar seberapa jauh saya terbang, saya akan tetap pulang menuju kamu.

 

 


 

Notes:

I've published the work on my Twitter (@Nyepuniverse)
If you want to take a look of another one tweet based on this story please kindly look after my Twitter account.

Thank you for coming!!