Work Text:
"Mata yang bercahaya itu, tidak jauh beda dengan hidayah Tuhan."
Aster, pemuda bertumbuh jangkung itu menyenderkan beban tubuhnya dipunggung kursi. Dilepasnya kacamata yang membingkai mata tenangnya. Manik indah itu berkilat begitu menatap langit. Cahaya yang ia lihat begitu membutakan matanya, cahaya matahari yang menyinari bumi. Tapi ternyata lensa miliknya begitu membosankan, kadang monokrom, kadang hanya hitam, kadang juga hanya terlihat warna putih. Atau yang paling sering adalah warna yang tidak bisa dideskripsikan sama sekali. Terlalu aneh untuk dikatakan sebagai 'warna yang wajar'. Tapi apapun itu, Aster tidak peduli. Ia berdiri disini, di tanah tempat ia dilahirkan, hanya untuk kepuasan sendiri. Bertahan demi dirinya sendiri. Bukan memacu dirinya untuk melindungi orang lain yang bahkan tidak memiliki kontribusi apa-apa. Kenapa? Wah, tidakkah Anda ingat kematian orang tersayang Aster? Karena mementingkan orang lain, tubuh itu rela memikul sakit dan menumpahkan darahnya sendiri di atas tanah kelahirannya.
Orang-orang bodoh, mau saja bersusah payah karena begitu saja, Aster memaki perjuangan mendiang Ayahnya dan ksatria perak bodoh ini yang mau-maunya bekerja untuk keluarga Lemuria. Tak peduli seberapa keras beliau mencapai pangkat itu, toh, Aster tak pernah tertarik menempuh akhir yang sama dengan mendiang Ayahanda. Meski ia tidak pernah tahu bagaimana ke depannya. Dia terlalu skeptis tentang semua yang ada di muka bumi ini, tanpa mau membuka kedua matanya terlebih dahulu. Melabeli ini-itu dengan paksa. Sehingga ia sendiri tidak tahu betapa indahnya cahaya yang ia lihat. Ia, tidak pernah merasakan betapa cantiknya warna di bumi. Sampai wanita itu mendatanginya, wanita dengan surai cerah memantulkan silau di bawah teriknya matahari. Dengan energik menggembar-gemborkan semangat juang yang tak pernah Aster mau dengar lagi. Tidak, ia sudah cukup muak dengan orang-orang yang berdiri di hadapannya, menarik senyum penuh kepalsuan. Hanya untuk pride, Aster tidak rela berjalan membungkuk sekalipun.
Karena ia sudah 'buta' oleh pemikirannya sendiri, ia tak bisa menikmati kecantikan yang disuguhi dunia.
Atau mungkin ia sengaja mem'buta'kan matanya untuk berpura-pura skeptis terhadap dunia ini?
Tidak tahu, bahkan ia juga masih mencarinya. Mengendus dan memilah setiap opsi yang hadir di dalam pemikirannya, pada akhirnya tak satu pun opsi yang bisa menjadi tampat ia berpijak. Sepertinya ia goyah akan harapan. Entahlah. Kemudian ia bangkit setelah merasa cukup beristirahat, kakinya melangkah ke dalam lorong yang biasa menjadi tempat berkumpulnya para pasukan berpedang. Warna helainya, panah yang ia gantungkan dan anak panah yang tersimpan di balik tubuh membuatnya terlihat mencolok diantara ksatria perak yang menyimpan pedang di pinggang mereka. Sebagian berbisik-bisik, sebagian melirik angkuh, dan sebagian lainnya memalingkan pandangannya ke samping. Seperti warna merah di antara warna putih. Ia menjadi pusat perhatian di lorong. Sampai manik berbingkai itu menangkap sosok yang familier. Sosok dengan mata bercahaya layaknya mentari di pagi hari sekali. Tidak terik tapi menenangkan, masih bisa ditatap tanpa harus menyipitkan kelopak. Mungkin sejak itu, tidak ada yang mencolok dari Aster begitu figur mungil-jika dibandingkan dengan figurnya-lah yang menjadi pusatnya.
Berporos sambil menyinari.
Bukan cahaya yang menyengat, tapi cahaya yang lembut dan hangat.
Seolah ia adalah duplikat Matahari yang lebih baik.
Sudah berapa lama, ya, semenjak pertemuan pertama itu terjadi? Pastinya kau sudah rindu dengan tatapan kasih Ibu itu, ya, Aster? Helai merah muda itu berayun ketika ia melangkah mendekat Aster-begitu ia sadar dengan eksistensi pria jangkung tersebut. Senyum manis dengan tambahan mata berkilau itu menjadi pemandangan yang difokuskan oleh Aster selama menempuh lorong. "Aster!" Lengan kecil itu mengalung di lengan yang lebih besar darinya, menempelkan sisi tubuhnya ke tubuh sang pria. "Waktu pertama kali bertemu rasanya kau tidak setinggi ini, lho." Rossa menyeletuk, mengulas senyum tipis melihat Aster yang sekarang. "Kita bertemu saat aku masih kecil, jadi sudah pasti aku lebih pendek daripadamu," sanggah Aster, lengannya bergerak menyingkirkan tangan Rossa yang mengalung, merasa risih dengan tindakan sang wanita yang jauh lebih tua darinya.
"Aster tidak suka ditempeli, ya?"
"Risih, yang lain melihat ke arah kita. Apa kau tidak malu?" "Aku tidak masalah, tapi lebih baik kita pindah tempat saja."
"Ah, benar juga. Kita pindah saja."
Meski Aster berkata afeksi yang ditujukan Rossa itu risih, tetapi Rossa tidak mengindahkannya, lengan mungil itu tetap mengalung di lengan Aster. Langkah mereka seiringan keluar menuju salah satu sisi luar Istana Lemuria. Terik matahari menyinari taman, menimbulkan kelip cantik. Ia ingat saat bertemu dengannya di Kantor kesatuan Ksatria Perak di Ibu Kota, tempat Aster dan temannya mengunjungi Rossa sewaktu ia masih kecil, sosok wanita itu kerap membagikan gula-gula kepadanya dengan celoteh semanis makanan yang ia berikan. Kadang Aster menyukainya, tapi kadang ia merasa senyum dan rasa gula-gula itu pahit. Satu-satunya ksatria wanita yang ia pernah lihat berkeliling di sekitar Istana Lemuria dan berpatroli di jalan-jalan kota sambil menenteng pedang perak miliknya. Tanpa cemas, tanpa harus getar bahwa ia satu-satunya ksatria wanita. Itu satu hal yang bisa dikagumi oleh Aster mengenai Rossa, wanita jelmaan Matahari yang juga cantik bak mawar segar.
"Aster."
Namun, pria itu tidak membalasnya, hanya diam memandang hamparan rumput hijau di depannya. "Mari berjuang sampai titik darah penghabisan!" serunya, nada mengebu-ngebu. Jangan naif, lihatlah situasi yang lebih realistis, tidak apa yang selalu kau bayangkan itu selalu sama, batin Aster. Jika dikatakan secara jujur, bisa saja Aster menyangga ucapan Rossa. Namun mengingat Rossa tetaplah seorang perempuan, ia tidak ingin membuatnya sakit hati karena ucapannya. "Ya, kapan-kapan saja aku berjuangnya," gumam Aster, suara itu terdengar sedikit bergetar.
"Jangan begitu dong! Mulai sekarang, kau harus semangat, pokoknya semangat!"
"Melihatmu sudah bakal semangat," bisik Aster.
"Eh, kenapa Aster?" Rossa bertanya, suara Aster hanya terdengar sayup-sayup saja.
Dirinya sama sekali tidak tertarik dengan hal yang berbau kepatriotan, lantas mengapa ia menjadi seorang ksatria perak? Ada sosok itu. Sosok yang sedang bersamanya ini menjadi alasan Aster mencalonkan diri menjadi seorang ksatria perak. Dia yang skeptis tentang apa pun di sekitarnya, namun diam-diam ikut mengagumi sesuatu. Apakah dibalik semua ini ada makna tertentu, Aster? Bukankah matamu itu sudah 'buta' akan pemikirannya sendiri? Atau mungkin kau ingin merasakan rasanya bermain-main dengan wanita yang kau kagumi sejak kecil itu?
Licik juga, ya, Aster.
Tapi, kau itu bukan tipikal lelaki bajingan begitu, 'kan? Tidak perlu malu untuk mengungkapkan yang sebenarnya kau incar. Kasih sayang, tatapan layaknya seorang ibu penuh perhatian, sentuhan lembut dari telapak tangannya? Jangan menunggu sampai akhir, lho. Manusia-baik ia lelaki maupun wanita-itu makhluk yang membutuh kepastian jelas.
Aster, ingatlah selalu apa yang kau inginkan, apa yang kau sudah rencanakan.. Tidak selalu berjalan sesuai rencana. Juga, lepas dari hukum alam.
Bukalah matamu yang ter'buta'kan pikiran kolot tak berguna milikmu itu.
Cahaya terik itu akan menghilangkan 'buta'mu, dan kau hanya perlu menunggu waktunya datang.
Malam yang terlihat damai, sinar bulan yang cantik berkilau. Bukan-malam itu janggal jika dikatakan indah dan tenang. Suasanya terlalu sunyi, seperti kota mati. Namun, tampaknya tidak ada yang menyadarinya kemudian beraktivitas dengan normal. Sampai dia datang, barulah para ksatria perak mengerti apa yang sebenarnya janggal dari semua kesunyian itu. Suara panik menggema di penjuru Istana Lemuria, diiringi suara derap langkah di setiap lorong. Aster mau tak mau juga harus turun ke lapangan, menuju barisan paling depan. Lensa yang biasa menangkap warna membosankan itu sekarang bisa melihat apa yang ditakuti semua orang. Kematian. Pada akhirnya, ia juga punya akhir yang sama dengan ayahnya. Sama-sama mati sebagai ksatria perak. Bagaimana yang ada di dalam, bagaimana keadaan Rossa sekarang? pikir Aster. Meski dirinya ditengah situasi yang tak pernah ia harapkan, pikirannya masih tertuju kepada ksatria itu. Segelintir orang yang ia kagumi. Karena orang itu, karena dialah yang akhirnya membuat Aster akhirnya memutar otaknya dan bergabung dengan tentara.
Setidaknya, ia bisa mati bersamaan dengannya.
Itu menjadi sebuah kehormatan bagi Aster.
Tanpa ia sadari, darah merah pekat itu melekat di seragamnya. Mayat segar bergelimpangan dan suara teriakan memekik telinga. "Yang tersisa di barisan depan tetap bertahan!" Bagaimanapun, itu teriakan orang-orang bodoh bagi Aster. Mereka dan dia yang masih berdiri mengarahkan anak panah tidak akan bertahan lama dan akhirnya pun juga akan tumbang dalam waktu dekat. Mati saja, tak ada gunanya bertahan selama itu. Malaikat Maut juga menerobos masuk, tidak ada gunanya, batin Aster. Bagaimana dengan yang di dalam, bagaimana dengan Rossa? Pikirannya tidak bisa lepas dari hal kecil itu. Tapi, bagi Aster, dia-Rossa-cukup penting. Darah yang mengalir tidak berhenti begitu ia tekan. Kepalanya berat, sama halnya dengan tubuhnya yang tidak mampu lagi menahan bebannya sendiri. Napas yang kian melambat, pandangan yang semakin buram, dan air mata yang membasahi pipinya. Bagaimana keadaan Rossa saat ini? pikirnya, sebelum akhirnya benar-benar sekarat.
Mata yang berbinar memantulkan refleksi sinar itu terbayang, mata yang manghadirkan hidayah Tuhan.
"Ksatria wanita yang kupuja. Meski diriku akan lupa di kehidupan selanjutnya."
Lalu ia terbaring dengan anak panah memancap. Sembari memikirkan wanita itu, Rossa.
"Barisan depan sudah diterobos!" Pekik salah satu ksatria yang berlari menuju bagian dalam Istana Lemuria.
Rossa spontan menoleh, pikirannya sudah berantakan karena serangan dadakan ini, lalu ditambah dengan berita buruk. Aster? batinnya bertanya, bagaimana keadaan sang pria. "Rossa!" Seruan keras dari Jade membuatnya kembali sadar, ia tengah menghadapi Malaikat Maut yang tiba-tiba saja ada di hadapannya. Weld dan Jade yang kebetulan berada di lorong yang sama. Entah beruntung atau menjadi sial, Rossa membeku di tempat dengan genggaman pada pedang yang mengerat. "Weld!" Giliran Jade yang berteriak. Tindakan sembrono dan gegabah membuat Weld mendapat luka dalam disepanjang dada sampai pinggangnya akibat tebasan sabit Malaikat Maut. Weld yang hendak menebas Malaikat Maut menggunakan sebuah tombak malah berakhir mendapat luka fatal. Ini bukan pandangan yang Rossa inginkan, dirinya tidak pernah membayangkan kejadian ini sebelumnya. Weld tergeletak, dengan darah muncrat. Darah itu mengotori pipi Rossa.
"Argh!"
Sekuat apapun dia, ia masih belum bisa dan siap untuk menjadi yang paling depan untuk melindungi. Jade melangkahkan kakinya lebar-lebar untuk mengikis jarak antaranya dengan Malaikat Maut, mengenggam erat pedangnya dan mengayunkannya menuju Malaikat Maut. Sayangnya, sekuat apapun mereka, kekuatan yang mereka miliki belum bisa menyaingi kuatnya Malaikat Maut. Dengan begitu, Jade juga berakhir tergeletak tepat di samping Weld setelah berusaha membantu Rossa yang ikut terkena tebasan Malaikat Maut. Karena aku perempuan, karena aku lemah, batinnya. Wajahnya menoleh ke kanan, tempat dimana Weld dan Jade tergeletak. Bagaimana Aster? Apa dia selamat? Atau dia mati? pikirnya, ketika matanya semakin lemah untuk terbuka. Mata itu sembap oleh air mata yang setengah mengering dan darah yang mengenai wajahnya.
"Aku tidak mau melihat yang lain mati.." Suara itu terdengar bergetar dan hanya terdengar sayup-sayup saja.
Tapi, pantaskah dirimu untuk mati demi mereka?
Apakah kalian akan jatuh kekesalahan yang sama di kehidupan selanjutnya?
"Dia tersenyum saat aku menantikannya."
Pagi itu terlalu cerah, awan tampil dalam bentuk semburat tipis. Matahari kembali menampakkan wujudnya, membangunkan insan yang masih nyenyak berada di atas kasur empuk nan dingin. Kening Aster mengerut begitu merasakan mimpi aneh. Mimpi yang terulang-ulang dalam tidurnya, jika dikatakan ia tidak terganggu dengan mimpi absurd itu, tapi ia telah dibingungkan. Sosok tinggi mengenakan pakaian tentara, membawa anak panah di pundaknya, busur yang selalu ia genggam kemana-mana. Figur yang hadir pun, tidak jauh berbeda-bukan, sosok itu adalah dirinya sendiri. Kelopaknya baru terbuka begitu ia menenangkan pikirannya, tapi tanpa sadar air matanya meleleh turun seperti cokelat yang dipanaskan di dalam microwave. Lagi, ini sudah keberapa kalinya? pikir Aster, ia menyeimbangkan tubuhnya kemudian menghampiri kaca. Bagian bawah matanya terlihat agak bengkak. Memangnya apa yang ia tangisi di dalam mimpinya? Wanita itu, wanita dengan rambut merah muda yang senantiasa mengukir senyum cerah. Figur bak duplikat Matahari, sayang ingatan Aster tentangnya samar-samar begitu bangun dari tidurnya. Dalam dirinya ada secuil rasa familiar begitu mengingat sosok wanita yang ia pertanyakan. Sosok itu serupa dengan kekasihnya, hanya saja rambutnya lebih pendek ketimbang wanita di dalam mimpinya.
Namun, ia sedikit yakin, kekasihnya itu dan wanita yang muncul di dalam mimpinya adalah orang yang sama.
Lalu, ia dan laki-laki tentara itu juga orang yang sama.
Jiwa yang bereinkarnasi dari kehidupan sebelumnya, apa itu ada benarnya? Aster tak yakin, tapi itu hal yang bisa ia pikirkan lain kali jika waktu memungkinkan. Ia meneguk segelas air yang diletakkan di nakas. Berusaha menjernihkan pikirannya, mimpi yang terasa nyata dan mengerikan. Seperti lucid dream dan sleep paralysis dalam waktu bersamaan. Bulir keringat turun sedikit demi sedikit karena gelisah. Apa benar.. Apa itu benar? batinnya mengulang ucapan yang sama. Padahal itu hanya mimpi saja, tapi ia malah memikirkannya lebih dalam lagi. Aster mengoperasikan ponselnya, mencari potret kekasihnya-Rossa. Potret yang diambil ketika acara kampus semester lalu berlangsung, saat Rossa menoleh tepat ke arah kamera Aster. Pemandangan yang cantik dan bercahaya. Sama seperti orang dalam mimpi Aster, cahaya mata yang terpantulkan sama persis. Cahaya terang dan teduh, wajah sederhana seperti dewi. Rambut bergelombang dan dihias mawar merah dengan warna senada seperti surainya.
Jika dilihat dari sudut manapun, Rossa dan wanita yang ada dimimpinya adalah sama.
"Haah..."
Aster memijat keningnya, bahkan ini baru awal hari. Lupakan, nanti saja untuk memikirkan hal ganjil seperti ini, batinnya menyanggah pemikirkan tak masuk akal tersebut, kemudian menyuruh raga Aster beranjak dari tempatnya sekarang.
Ia selalu menantikan apa yang ia harapkan.
Termasuk yang satu ini.
Langkah kaki lemah itu membawa Aster menuju kamar mandi, memijakkan kaki telanjangnya ke atas lantai basah. Semua kain yang membalut tubuhnya dilepas perlahan, ia tak suka sensasi suhu dingin menyentuh kulit dan masuk ke dalam pori-pori. Dibalutnya pinggang menggunakan handuk putih, suara air beriak keluar dari keran menggantikan sunyi di dalam kamar mandi. Air yang mengucur dari keran meneteskan air terakhir ke dalam bak mandi begitu Aster memutar keran untuk menghentikan lajunya, ia mencelupkan tangannya perlahan-lahan demi menyesuaikan suhu tubuhnya dengan suhu air. Bayangan wajahnya yang kuyu terpantul tak beraturan di atas air yang bergelombang kecil. Sama, dia dan lelaki tentara itu juga sama. Garis mata, hidung, tindikan, yang membedakannya dengan lelaki tentara itu hanya rambut. Posisi rambut yang ditata terlihat berbeda.
"Bukannya reinkarnasi juga disebabkan dosa masa lalu?" tanya Aster kepada dirinya sendiri.
"Lantas, apa dosa dari tentara itu?"
Ia mengambil setangkup air menggunakan salah satu telapak tangannya. Meneteskan air perlahan-lahan sambil menguras semua pikiran tidak bergunanya itu. Dosa sebesar apa yang orang itu lakukan? Sampai-sampai harus bereinkarnasi untuk menembus dosanya, pikirnya. Dosa yang sulit diampuni pastinya, Aster bukankah ini saat yang tepat untuk mengingatnya? Memutar balik semua perkataan remehmu saat itu, ketika kau pikir itu tidak akan berfungsi. Ia mulai mencelupkan pergelangan kaki, betis, paha, pinggul, perut, dada sampai air merendam sebatas pundaknya.
"Kau baik-baik saja, Aster?"
"Tidak terluka?"
Ingatan tak jelas berbaur dengan ingatannya saat ini. Apa yang terjadi? Kenapa aku yang harus jadi inkarnasinya? Untuk apa aku memperbaiki dosa masa lalu dari orang yang bahkan aku juga tidak tahu asal muasalnya? batinnya sambil memainkan air di bak mandi, berusaha melarutkan ingatannya bersama dengan air. Untuk kedua kalinya ia melihat refleksinya di atas air yang tidak stabil, memerhatikannya lebih teliti lagi. Barangkali dengan ia mengamati wajah kuyunya itu ia bisa mengerti. Kala ia mengamati pupil matanya, akhirnya ia mengerti. Kenapa yang membuatnya harus menanggung beban ini, dan apa yang harus ia lakukan sebagai tembusan dosanya. Senyum yang jarang ia tunjukkan ia ulas tipis.
Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk menyelesaikan kegiatan berendam dan bersiap menuju kampus. Kelas hari ini terbilang santai, jadi ia bisa pulang lebih cepat. Mungkin ada baiknya jika ia mengundang Rossa-kekasihnya-untuk makan malam bersama, sudah jarang ia tak mengajak kekasihnya itu menghabiskan waktu bersama-sama hanya untuk bersantai. Ponsel yang ia letakkan di atas meja makan, ia aktifkan untuk mengirim pesan singkat kepada Rossa.
[Anda]
[Rossa, kau mau kan makan malam bersama di apartemenku?]
[Rossa]
[Boleh, boleh! Tapi kelasku akan selesai agak lama.]
[Anda]
[Bukan masalah, akan ku tunggu jam sembilan malam ini.]
Setelah kelas berakhir, ia hanya tinggal menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Kemudian kembali memikirkan tentang apa yang harus ia lakukan, dan apa yang akan terjadi kedepannya. Persiapan menuju kampus sudah selesai, Aster memasang sepasang sepatu dan mengetuk-ketuk tumitnya begitu selesai memasangnya. Langkah itu menentukan jalannya menuju kampus dan juga menentukan apakah makan malam itu dapat berjalan sesuai rencana Aster, atau malah rencananya berantakan. Tentu, ia menantikan malam romantis bersama Rossa.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan lewat, namun eksistensi Rossa tidak juga muncul di lensanya. Macet di jalan, mungkin? pikir Aster, ia menyibak tirai apartemennya, melihat keadaan jalan raya dari kamarnya. Lampu kendaraa, lalu lintas, toko-toko, tempat bimbel, dan perkatoran menyala-nyala menerangi gelapnya langit malam di musim semi ini. Di antara keramaian itu, adakah eksistensi Rossa yang berjalan menuju tempat Aster berdiri? Ponsel ia keluarkan dari kemeja yang belum ia ganti, melihat riyawat aktif Rossa di aplikasi pesan singkat. Terakhir kali aktif pukul 19.25, begitu yang tertera di profil Rossa. Masih kelas, mungkin.. batinnya, lalu mematikan ponsel itu sambil mengamati ramainya jalan kota dari jendela kamar. Ramai, tapi damai. Angin berhembus kencang, menerpa helai Aster dan mengacak-acaknya sesuka hati.
Derap kaki terburu-buru terdengar menggema di lorong apartemen. Aster mengalihkan atensinya dan melangkah menuju pintu apartemen, menyambut kedatangan Rossa di depan pintu masuk. Aster memutar kenop pintu, menariknya sampai ia melihat eksistensi Rossa yang napasnya terengah-engah. Wanita itu memasang senyum jahil, "Maaf ya, hehehe. Tadi macet di jalan," sambutnya. Kepala Aster terangguk-angguk menanggapi alasan Rossa, dengan lensanya sendiri ia melihat situasi jalan raya, jadi bukan hal yang tak masuk akal jika Rossa berkata demikian. "Tak mengapa, masuklah, aku sudah siapkan makan malamnya." Aster memberi jalan Rossa untuk masuk ke dalam kamar apartemennya, ruangan berukuran sedang yang memuat kapasitas dua sampai tiga orang dewasa dengan interior sederhana menjadi pemandangan Rossa setelah bermenit-menit melihat jalan raya yang padat dari kaca bus. "Cuci tanganmulah dulu, setelah itu baru masuk ke dapur," ingat Aster.
Rossa mengangguk dengan ekspresi polos. Langkahnya menuju arah kamar mandi berada. Ini menjadi kunjungan kedua Rossa ke apartemen Aster, pertama kali Rossa berkunjung kala mengerjakan tugas besar bersama kelompoknya dan Aster. Malam itu, ruangan sedang ini mendadak jadi ramai karena semua basa-basi yang dilempar setiap anggota, hanya sekedar menghilangkan kantuk dan rasa bosan di tengah malam. Kali ini hanya ada ia dan Aster, terlebih lagi ia diajak Aster makan malam bersama di malam ini. Sebuah hal yang patut dirayakan, sebab Aster sendiri bukan tipikal pria yang menunjukkan afeksinya kepada Rossa. Bertemupun itu jika mereka berpas-pasan di lorong kampus. Hal yang tak pernah Rossa lupakan, selamanya.
Di dapur, Aster menuangkan segelas wine dikedua gelas berleher tinggi perlahan-lahan. Mengukur banyaknya cairan yang ia tuang secara seimbang. Cairan ungu gelap turun dengan cantik, warna ungu yang menggoda itu meminta untuk masuk ke kerongkongan secepat mungkin. Makanan yang terlihat seperti masakan mahal tersaji di piring. Acara makan malam ini tersaji dengan tampilan mahal dan klasik. Sayangnya tidak ada alunan musik klasik untuk mendukung suasananya. Hanya ada ramai lalu lintas dari jalanan sebagai ganti alunan musik klasik. Bagi Aster ini sudah cukup. Rencana yang sudah lama ia ingin wujudkan akhirnya terlaksana juga.
"Cantiknya, semua ini Aster yang tata?" tanya Rossa setelah selesai membersihkan kedua tangan dan kakinya.
Kepala Aster mengangguk, lalu menjawab, "Tentu saja, ini semua aku yang merencanakannya. Kalau kau yang merencanakannya tidak mungkin kan akan sebagus ini?"
"Huh, apa-apaan itu?!" Rossa mengerucutkan bibirnya, mengadu kesal dengan ucapan Aster. Tapi ia tahu apa yang diucapkan Aster adalah candaan semata.
"Lebih baik duduk dan nikmati makanannya."
Rossa menarik kursi di hadapan Aster dengan wajah cemberut. "Kalau kau cemberut terus, cantiknya tak terlihat, lho," ucap Aster dengan ringan, itu hanyalah basa-basi belaka agar rencananya bisa berjalan lancar malam ini. Mata berbinar itu muncul begitu Rossa menatap makanan yang tersaji di atas piring, tatapan mata yang ia kenali. Sebuah binar yang ia juga lihat di dalam mimpinya dengan seseorang yang sama dengan Rossa saat ini. Arti dari mimpi itu akan terungkap, sekarang, batin Aster. Tangannya menyuapkan potongan daging ke dalam mulutnya. Begitu menelan potongan makanan yang tadi Rossa kunyah sempurna, ia meraih gelas berleher tinggi berisikan wine ungu tua dan menegaknya. Ia telah meneguk dosa ke dalam kerongkongannya.
"Enak?"
"Sangat! Aku baru tahu kau bisa masak seenak ini!"
Aster mengulas senyum 'tulus'nya. Melanjutkan makannya yang sempat terjeda, kemudian melirik Rossa yang sedikit berkeringat. Wine cantik yang mematikan, layaknya apel segar yang ditawarkan nenek jelek kepada Putri Salju. "Suka dengan winenya?"Pria itu sengaja bertanya, apakah Rossa merasa janggal dengan minuman itu atau tidak. Obat jantung itu larut dalam wine, wanita polos seperti Rossa tidak akan menyadari apa minuman yang ia konsumsi itu berbahaya atau tidak, jadi pasti ia akan minum tanpa pikir panjang. Mudah ditipu dan polos tidak terlalu jauh perbedaanya, itu sebabnya Aster mengambil tindakan samar-samar. Saat ia berendam, tiba-tiba saja ia ingat sesuatu yang dirasaknya ketika memimpikan mimpi itu.
Karena ia sudah 'buta' oleh pemikirannya sendiri, ia tak bisa menikmati kecantikan yang disuguhi dunia.
Atau mungkin ia sengaja mem'buta'kan matanya untuk berpura-pura skeptis terhadap dunia ini?
Pria yang ada di mimpinya-pria yang sama dengannya-itu tidak bisa melihat keindahan dari cahaya Matahari yang menyinari Bumi, tapi wanita yang sama dengan Rossa datang dan menunjukkannya betapa indahnya cahaya itu dalam bentuk dorongan kepadanya. Apa yang pria itu incar dari wanita itu adalah balas dendam yang mana membuat pria itu harus terseret ke dalam lubang dalam. Lubang yang tak mau ia sentuh lagi. Karena takut, karena khawatir, dan karena ia seorang pengecut. Bajingan, sekarang kau hanya perlu lihat aku membalas apa yang kau ingin lakukan itu, lihatlah dari tempat kau berdiri saja, batin Aster mencaci-maki sosok pria dalam mimpinya. Rossa terlihat semakin terdesak setelah meneguk setengah wine di gelasnya. Keringat itu mengucur lebih deras dengan air mata tersiksa menetes. Berkali-kali ia mengusap keningnya dengan punggung tangan.
"Jangan bilang kalau kau baru sadar, Rossa?"
"Hah.. Apa-apaan ini?"
"Kau hanya Merkurius yang terlalu dekat dengan Matahari. Itu sama bunuh diri. Kau yang tidak rela melihat orang lain mati, kalau begitu saksikanlah dirimu mati."
"Di kehidupan yang dulu kau seorang ksatria wanita, ksatria perak. Kau menyeretku dalam lubang dalam itu, kemudian membuatku mati karena perang. Bukan hanya kau, tapi orang bernama Jade dan Weld juga ikut kena imbasnya."
"Karena kau lemah."
Kepala Rossa berputar lebih cepat dibandingkan rotasi Neptunus. Kenapa? Aku ingin menyelamatkan yang lain, aku ingin membuat diriku setidaknya tidak menyesal di kemudian hari, batin Rossa. Kepalanya berantakan, pikirannya kusut, air matanya menggenang separuh kering. "Kenapa? Pasti orang-orang sejenismu akan bertanya demikian," ucap Aster. Laki-laki itu membuang wajah ke samping, merasa muak melihat Rossa. "Di kehidupan sebelumnya, kau yang membuatku harus terseret ke dalam lubang kematian. Sekaranglah waktunya kau merasakan kematian karena terbawa arus oleh orang yang kau sayangi," jelas Aster. Ini akhir hayat yang menyedihkan. Lebih baik ia tertabrak kendaraan ketimbang 'meninggal secara alami' yang disebabkan kekasihnya. Lensa Aster menangkap warna yang dahulu ia sering lihat, warna yang tidak bisa dideskripsikan sebagai 'warna yang wajar', itu adalah warna ketika manusia menuju ajalnya. Warna darah yang mengalir dalam tubuhnya, kemudian warna itu menjadi warna yang abtrak terlihat seperti sebuah glitch bagi Aster. Glitch memuakkan dan memabukkan, tapi Aster menantikannya. Menantikan glitch dari orang yang ia puja.
Sebuah warna yang lama tak dilihatnya, menabur euphoria untuk pria itu.
Ksatria wanita dari kehidupan masa lalunya, berlaga gagah sambil membawa pedang perak.
Mahasiswi idaman dari kehidupan sekarang, wajah manis dan lembut, melelehkan lelaki tulen.
Napas Rossa semakin memburu, keringat bercucuran karena suhu lembap. Ia telah sadar, dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ini balas dendam, terlalu lembut jika dikatakan sebagai balas dendam biasa. Biasanya, orang-orang akan langsung membunuhnya secara brutal jika melakukan balas dendam, tapi ini terlalu mulus dan halus. Sempurna sampai-sampai Rossa terjebak. Tidak, sejak awal ia hanyalah wanita polos yang mau saja dibodohi dan naif. Hanya dengan ia yang menggembar-geborkan semangat, menyebar keramahannya. Tanpa sadar ia telah menjatuhkan dirinya sendiri. Ke dalam neraka berbalut surga yang pernah ia idamkan.
"Rossa, kau tak perlu menunjukkan betapa 'indahnya' cahaya Matahari."
"Karena akulah sang Matahari."
Aster mengulas senyum yang jarang ditunjukkannya kepada orang-orang, senyum cerah layaknya Matahari yang mengejek Bulan.
Kemudian Merkurius meledak, terlalu panas dan tertarik ke arah Matahari.
"Sekarang aku sadar, bahwa ia hanya Merkurius yang terlalu dekat dengan Matahari."
"Tapi apapun dia itu, aku hanyalah Matahari yang membakarnya. Karena itulah tugasku."
"Rossa! Rossa!"
Tepukan di pipinya menggantikan rasa kelu di sekujur tubuhnya, halusinasi yang paling parah ia alami sepanjang hidup. "Pengaruhnya ternyata sekuat ini, ya." Bright bergumam. Benar, mereka tengah mengejar Malaikat Maut dan terjebak oleh Lateo sekarang. Diam-diam Rossa melirik Aster yang tak jauh berada di tempat ia duduk. Mulut itu sedikit terbuka, hendak mengatakan sesuatu dengan suara sayup-sayup.
"Tak perlu takut dengan kegelapan. Kemarilah dan mendekat ke arah cahaya supaya aman."
"Karena akulah sang Matahari, Rossa."
the end.
