Chapter Text
Perampokan terjadi di rumah seorang pejabat bergelar baron tepat saat matahari masih memapar kota London.
Selain harta yang dicuri, juga jatuh korban yang merenggut nyawa dua orang pelayan dan seorang anak bungsu dari sang tuan rumah sendiri. Diduga anak itu sedang menunggu guru pribadinya di ruang musik bersama dengan biola kesayangan sebelum akhirnya ajal menjemput.
Senjata yang digunakan berupa revolver berisi enam peluru. Jumlah pelaku ada dua, satu tertangkap saat melarikan diri dari pintu belakang, sedangkan satunya lagi kini sedang melarikan diri dari kejaran polisi. Tempat mereka berada saat ini adalah kompleks perumahan sempit yang memudahkan pelaku melompati beberapa pagar atau dinding.
Entah apa yang dicuri oleh perampok sekaligus pembunuh itu, bukan seperti sekoper uang atau sekarung berlian, hanya benda yang muat dibawa tas selempang. Penting atau tidaknya barang tersebut, polisi tetap mengejar untuk memberi keadilan bagi keluarga korban.
Beberapa tembakan berhasil peleset dan mengenai dinding saat pelakunya memanjat pohon dan melewati tembok tinggi. Beberapa polisi menyebar ke dua arah untuk menemukan jalan di balik dinding itu, berharap bisa memotong jalan. Tak ada yang berpikir untuk menaiki pohon dan tembok yang sama.
Mungkin ini daya pikir seorang polisi kota yang terlalu dikejar oleh waktu dan kecepatan berlari, tidak bisa berpikir tenang untuk mencari solusi tercepat. Sehingga opsi mengikuti rute sang perampok bukanlah pilihan. Walau sebenarnya jalan-jalan yang mereka lalui malah menciptakan jarak yang lebih banyak untuk sang pelaku.
Itu yang mereka bertiga pikirkan setelah menatap pohon tersebut.
Norton Campbell tanpa berpikir panjang mengikuti rute sang perampok, peta London sudah terbuka lebar di otaknya. Dengan kemampuan otot yang lumayan terlatih, pemuda itu memanjat pohon yang sama dan menghilang dari dinding tinggi.
Ah ya, alasan mengapa detektif satu itu ada di sini karena Norton sudah meninggalkan kasus yang diambilnya sebelumnya.
Detektif lainnya yang hadir di sana hanya menatap dinding tersebut. Cerminan biru pada matanya seolah pergi ke dunia lain, memikirkan prioritas. Beberapa kali berkedip, lalu terdiam.
Seseorang yang mengetahui banyak hal. Siapa kira-kira? Seorang guru, dokter, pelajar? Tapi tidak terikat oleh pembunuhan yang dilakukannya sendiri, itu berarti seseorang yang sampai sekarang masih bersembunyi di balik kejadian yang pernah dilakukannya, seorang ‘pembantu’ jika bisa dikatakan.
Tapi sisanya, kata ‘sisters’ membuatnya kebingungan.
Pagi ini Mr. Inference mendapatkan sebuah kertas dengan tulisan tangan. Menuliskan kode-kode yang membuatnya sakit kepala. Sebenarnya bukan cuma hari ini saja, tapi dimulai dari dua minggu yang lalu. Sekitar lima pembunuhan lainnya yang berhasil dihentikan oleh sang Detektif.
Seolah-olah pengirim surat ini tahu apa yang akan terjadi kelak, memberi tahu sang Detektif lebih awal mengenai pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang yang berbeda, bahkan tidak meninggalkan motif sama sekali, terkesan acak, sampai Inference tak bisa mengaitkan hubungannya.
Dan sebelum Inference bisa berpikir lebih lanjut, seorang pria menepuk bahu dan membangunkan lamunannya.
“Detektif! Ayolah, berpikir! Bagaimana caranya kita bisa menangkap perampok itu?!” Itu adalah Sheriff Jose Baden yang sudah kalang kabut tidak tahu harus melakukan apa, seakan sudah tahu pilihan mana pun tidak ada yang membawakan hasil terbaik. Sang petugas terlihat tidak tenang sampai menggoncangkan bahu pria di sebelahnya.
Inference mengernyit. “Aku bukan polisi, mengapa aku harus mengejarnya?”
“Aku akan membayarmu lebih untuk ini, apa pun yang kau mau, aku bahkan akan membawamu ke semua crime scene yang kau inginkan!”
Sang Detektif langsung mengangguk simpel, kali ini prioritasnya berganti. Beberapa kali melirik ke semua arah untuk menentukan jalan. Pintu rumah di sana terbuka, seorang pria paruh baya dan istrinya yang mengecek apa yang sebenarnya terjadi dengan suara tembakan yang sebelumnya.
Tanpa menunggu Baden memproses apa yang akan dilakukan oleh sang Detektif, Inference langsung masuk ke dalam rumah tersebut, memicu pekik dan teriakan kaget dari pemilik rumah. Sampai-sampai sang petugas tersentak dan meminta maaf pada pasangan suami-istri tersebut. Detektif itu berlari cepat, tapi berhati-hati untuk tak merusak properti rumah.
Matanya mencari pintu keluar yang lain, atau paling tidak jendela. Beberapa kali mencari, menemukan seekor kucing yang tidur di sofa, mencium aroma masakan yang baru saja matang, lalu pakaian kering yang disetrika.
Pikiran sang Detektif sempat terdistorsi saat matanya tak sengaja saling bertemu dengan tatapan manik bulat dua balita perempuan yang kebingungan. Lalu bibir plum mungil di sana tersenyum dan tertawa sampai menjatuhkan liurnya.
Ah, sebuah keluarga bahagia, ya.
Tanpa sadar, kerut di wajah menjadi lebih renggang, membalas senyum tipis saat balita tersebut mencoba meraih-raih. Tapi lengannya direnggut oleh petugas Baden yang kini berlari ke arah pintu keluar, menyadarkan apa yang harus dilakukannya sekarang.
Inference tidak mengeluh, bahkan saat balita-balita manis itu melambaikan tangan ke arahnya. Sang Detektif kembali pada pekerjaannya. Selain itu, beberapa hal sempat hinggap di otaknya.
Sisters ya ....
Kedua pria itu berlari cepat ke jalan kecil yang diperkirakan akan dilewati perampok tersebut. Saling membantu saat melewati pagar. Baden terlihat kebingungan setiap sang Detektif memilih untuk memasuki rumah-rumah lainnya. Tapi tak peduli bagaimana caranya, mereka langsung bisa melihat perampok tersebut yang berlari tepat tak jauh dari mereka.
“Hei! Berhenti!”
Detektif di sampingnya beberapa kali menaruh jari di bibir, menyuruh untuk diam, tapi terlambat karena kini perampok di sana semakin berlari cepat. Mereka pun semakin memacu kaki-kaki mereka. Baden tidak bisa menembak dengan leluasa karena mereka berada di jalan sempit berisi beberapa warga yang sedang beraktivitas.
Mereka berlari sampai perampok itu melewati sebuah jalan memotong. Begitu melewatinya, lima orang pria menghadang. Kemungkinan barang yang dicuri merupakan barang penting sampai mereka melindunginya seperti ini.
“Jangan gunakan pistol,” pinta Inference. Dengan jarak sedekat ini, sebuah pistol bisa membunuh seseorang, dan mereka yang menghalanginya sekarang belum tentu berhak untuk dibunuh. Juga sepertinya pria-pria tersebut cukup sadar sehingga mereka tidak merasa terancam.
Sang Sheriff paham dan menyimpan kembali senjatanya. Langsung menghindar cepat saat mereka mencoba meninju wajah pria tersebut. Di sisi lain, sang Detektif sudah melempar satu tubuh ke arah jemuran pakaian, juga membanting pria lainnya ke tanah. Gerakannya sangat cepat sama seperti matanya yang mengikuti kemana perampok tersebut pergi.
Tongkatnya ditarik, memukul keras di perut dengan ujungnya, walau tumpul tapi rasanya tetap menyakitkan. Inference menunduk saat satu tinju melayang, cepat-cepat membalas dengan sikutnya, mendorong.
Topi sang Detektif sempat terjatuh, terinjak. Tapi Inference tak peduli, tinju didapatkannya di bahu dan dirinya mengerang sakit. Jose di belakangnya mencoba melindungi, tapi sang Sheriff sendiri harus mengurus sisanya. Saat dua orang yang sempat dijatuhkan kini bangkit lagi, di tangan mereka masing-masing memegang pisau tajam yang sempat disembunyikan.
Bilahnya hampir tertanam jika saja Inference tidak menepis cepat dengan tongkatnya. Mereka akan menghabiskan banyak waktu jika hanya mengurus pria-pria ini. Dan untung saja, tepat di saat itu juga beberapa polisi yang memencar sebelumnya kini telah berkumpul di tempat keributan.
Baden menyuruh Inference untuk kembali mengejar perampoknya, pria itu mengatakan akan menyusul setelah menjatuhkan semua penghalang di sini. Sang Detektif sempat berdecak, bukan kala pertama dirinya mendapatkan tugas lapangan seperti ini, tapi tetap saja berhubung dirinya lebih suka bekerja dengan otak dibandingkan dengan otot. Detektif itu mencengkeram tongkatnya kuat-kuat sebelum menghajar sampai sosok yang dihajarnya jatuh pingsan, pria yang malang saat berniat menikamnya lagi.
Secepat mungkin mengira-ngira rute sang perampok, Inference merasa otaknya bekerja jauh lebih cepat mengikuti pacu kakinya. Napasnya terengah saat melompati bak sampah, peluh jatuh begitu memasuki jalan sempit, mata mencari dan kemudian tertutup sesaat.
Seekor anjing berada di pinggir, beberapa pakaian yang berayun tipis, pot bunga yang memiliki sedikit jarak dari yang lainnya, genangan air dan jalan yang menggelap terkena air. Inference mengambil jalan ke kiri setelah menyimpulkan apa yang terjadi beberapa menit yang lalu di tempat ini. Yang mana benar saja mata biru bisa melihat punggung yang sama yang dicari oleh para polisi.
Cengkeraman pada tongkat menguat, berayun saat berlari cepat. Berlari dengan ujung kaki yang menapak tiap langkah, tak membiarkan seluruh sol sepatu menyentuh tanah. Saat sang perampok berlari mengambil jalan lain, Inference mengikuti.
Tapi langkahnya terhenti saat jalan buntu di depannya. Menarik napas cepat-cepat dan terus menyebarkan pandangan. Diri menjadi lebih lengah begitu sebuah lengan tiba-tiba mencekik lehernya dari belakang, kemudian sesuatu yang padat ditodongkan ke arah pelipis, itu adalah revolver sang pembunuh.
“Jangan bergerak,” itu adalah kalimat pertama dalam bentuk perintah. Tekanan pada perpotongan leher semakin kuat dan sesak membuat sang Detektif mengangkat kepalanya sedikit. Ujung pistol terus menekan dan mengancam.
Dari balik ekor mata, Inference menilai. Sosok yang menahannya sekarang berpakaian sangat tertutup dengan jubah menutup kepala, tapi sekilas sempat menemukan garis wajah lembut dan kecil.
Seorang perempuan.
Itu akan menjadikan alasan mengapa mereka bisa mengejar sang perampok dengan mudah. Langkah kaki perempuan jauh lebih kecil dibandingkan laki-laki, tak bisa lebar-lebar seperti para polisi dan detektif.
Juga—Inference mengernyit. Ingatannya dan pengelihatannya disatukan. Jika tidak salah lihat, satu perampok yang mereka tangkap juga seorang perempuan. Dan di sini dirinya berada, hampir mengira apakah yang ditangkap oleh polisi berhasil melarikan diri atau apa karena wajah perempuan satu ini cukup mirip dengan yang lainnya.
Dan untuk sesaat, Inference terdiam cukup lama.
Cukup lama sampai langkah ramai terdengar dari kejauhan, semakin dekat bersamaan dengan cekik yang semakin kuat.
Sisters ya ... entah kebetulan atau apa, lagi-lagi dirinya mendapatkan penjelasan dari kode tersebut. Sempat berpikir sister ini adalah sister yang berada di gereja. Tapi nyatanya sangat simpel ketika diartikan secara harfiah.
Saudara perempuan. Perempuan yang terkait darah?
“Detektif Inference!”
Wajah panik dari semua orang yang baru saja datang. Terutama wajah Sheriff Baden yang kepalang panik. Ketika polisi refleks mengeluarkan senjata mereka, sang Sheriff menahan, memperkecil pergerakan. Lalu beberapa detik kemudian, seorang pemuda baru saja sampai, keringatnya mengucur, itu Norton.
“Jangan melawan atau aku akan menembak kepalanya!” ancam wanita itu, tangannya gemetar dengan degup jantung yang berpacu cepat. Tentu tak akan bisa tenang saat diri terkepung seperti ini. Sampai memanfaatkan tawanan.
Semuanya terlihat panik, tapi Inference cukup tenang, matanya beberapa kali melirik, ke atas, ke bawah, kanan, dan kiri. Alis mengernyit. Saudara perempuan, kode yang baru saja didapatkannya.
Seseorang yang mengetahui banyak, dirinya harus menyeleksi ulang dengan kategori berikutnya, seorang yang membantu pembunuhan, lalu saudara perempuan. Siapa kira-kira yang memenuhi kategori tersebut?
Demi Bourbon? Wanita itu mengetahui banyak hal, melakukan pembunuhan secara tidak langsung karena bawahannya sendiri yang melakukan, tapi—bukan saudara perempuan, seingatnya barmaid itu memiliki saudara laki-laki. Bourbon pernah bercerita saat sang Detektif berkunjung, sekitar beberapa tahun yang lalu.
Beberapa nama bangsawan yang lewat, atau sekadar nama penjaga toko dan pekerja lainnya terpikirkan. Mencari relasi dan pencerahan. Matanya melirik ke arah wanita itu, lalu lurus ke arah Sheriff Baden, kemudian ke arah Norton.
Inference berkedip, teringat kertas surat yang dipakai saat itu masih bersih, tapi tintanya hampir habis, sampai pena ditekan kuat membuat bekas robek. Tapi anehnya, hanya pada penulisan sister di mana tintanya terisi penuh lagi.
Ah. Tunggu sebentar ....
Jika tidak salah mengingat. Wanita itu sempat mengalami insiden besar yang menyangkut keluarganya, memberikan kesedihan yang mendalam saat kehilangan seseorang yang sangat dekat, tapi kesedihan itu surut begitu cepat. Sama seperti surat yang dibacanya, gurat tinta itu memberikan pesan tersirat dengan sebuah kiasan.
Vera Nair.
Inference mencengkeram lengan yang mencekiknya, menariknya kuat, sampai-sampai perampok di belakangnya menekan pistol semakin kuat di pelipis sang Detektif. Wajah mereka di sana semakin ngeri. Kilat mata Inference terlihat panik, tapi itu bukan panik dengan kondisinya yang sekarang.
“Norton, sekarang kasus ini adalah milikmu!” seru Inference, melempar tanggung jawab. “Aku memiliki sesuatu yang lebih penting—”
“Ya, dan itu adalah nyawamu Inference!” Norton terlihat tak senang dengan keputusan sang rekan yang begitu tiba-tiba. Awalnya kasus ini mereka berdua yang mengerjakannya, lalu tiba-tiba dilemparkan begitu saja kepadanya. “Kau bilang aku cukup ikut saja, kenapa sekarang malah aku yang bertanggung jawab?! Kau ingin aku hajar?!” Melawan orang yang lebih tua? Sudah kebiasaan sang pemuda.
Sheriff Baden mengernyit di tempatnya. Entah daya tangkapnya yang lemah atau dirinya terlalu tua untuk mengerti apa yang dibicarakan oleh anak muda ini. Mengapa Norton lebih peduli dengan tanggung jawabnya dibandingkan dengan nyawa Inference?
Saat tawanan dalam cengkeraman terus memberontak, perempuan itu semakin panik, tangannya gemetar dan terus menekan pistol ke pelipis. Untuk taraf tenaga seorang perempuan, Inference mengakui bahwa ia sulit melepaskan diri, terlebih cekik semakin kuat dan dirinya sesak.
Pistol ditekan kuat, para polisi menarik senjata mereka, bahkan Baden tidak bisa menahan dirinya lagi saat jari di sana ikut menekan dan kini menarik pelatuk—
“INFERENCE—!”
Tuk.
Detik berikutnya, satu tubuh terjatuh.
Sheriff membulatkan matanya dan berkedip beberapa kali.
Tubuh sang perampok dibanting ke tanah. Pistol ditendang jauh oleh sang Detektif, tangan mengunci pergerakan, mata biru menatap lurus pada ekspresi terkejut di bawah sana, alis coklat menukik. “Belajar menghitung pelurumu, Nona.” Setelah itu, Inference bangkit dan berlari ke arah lain.
Meninggalkan para polisi yang mencoba memproses apa yang baru saja terjadi, berbeda dengan Norton yang kini langsung menahan perempuan itu.
“Hei, bantu aku di sini!”
Baru tersadar saat Norton berteriak kesal. Pemuda itu tak bisa menahan perempuan ini lebih lama jika mereka semua hanya bengong tak paham dengan apa yang terjadi. Apakah mereka tidak tahu jika pelurunya sudah habis digunakan di crime scene? Mereka tidak mengecek berapa banyak peluru yang menembus dinding dan yang mengenai korban? Kemungkinan memiliki peluru cadangan juga tak mungkin, pelaku yang mereka tangkap pertama kali tak membawa peluru tambahan.
Norton mengerang, seharusnya pemuda itu mengerjakan kasus lain saja bersama Emma.
Jarak antara tempat yang sebelumnya dengan toko parfum Nair tak begitu jauh. Hanya beberapa blok saja jika dilewati jalan utama. Juga beberapa alasan yang memudahkannya untuk berangkat lebih cepat saat seorang kusir yang dikenalnya menawari pekerjaan membantu menahan barang bawaan dengan imbalan perjalanan gratis. Untungnya searah dan dekat dari tempat tujuan.
Itulah mengapa Inference bisa datang tepat waktu saat sudah membaca papan nama toko di sana. Dirinya bisa meyakinkan benar-benar tepat waktu karena dari luar bisa terdengar jelas jeritan wanita di dalamnya.
Hari masih siang dan seseorang nekat melakukan aksi pembunuhan?
Inference mencoba membuka pintu, tapi sulit saat terkunci dari dalam. Pada akhirnya mendobrak menjadi jalan satu-satunya. Saat pintu sudah terbuka, mata biru membelalak dengan apa yang ditemukannya.
Beberapa botol kaca kosong pecah bersamaan dengan lemari simpanan yang terjatuh, gelas-gelas berisi cairan berantakan dan tumpah, bunga yang terkumpul dalam satu buket jatuh berserak di lantai. Tapi abaikan semua kekacauan saat seorang wanita jatuh terduduk, itu Vera Nair.
Di sekeliling tempat wanita itu berada penuh dengan cairan merah, bahkan lantai kayu mulai kotor dengan darah yang menggenang. Wanita itu mencengkeram tangannya erat-erat, luka sayat panjang, bukan hanya satu, tapi tiga—empat, seolah-olah membentuk cakar.
Mata menyebar cepat, berlari ke ruang penyimpanan, membuka tiap pintu, tapi tidak ada, Inference mengecek semua jalan keluar, tapi sosok yang harusnya masih ada di sana kini tiba-tiba lenyap, menghilang. Inference tak bisa fokus karena Vera meringis kesakitan. Nyawa wanita itu lebih penting.
Tubuh sang wanita diangkat dalam gendongan. Inference berlari keluar toko, cukup menimbulkan banyak perhatian karena darah wanita itu terus mengalir. Membuat sang Detektif harus berlari lebih cepat.
Tujuannya adalah klinik Emily.
“Apa itu—apa? Siapa—siapa—” Tubuh Vera bergetar hebat, matanya membulat teror. Bahkan saat berada dalam lindungan sang Detektif, Perfumer ini masih merasa tidak aman. “A-aku—aku, aku terlalu lengah ... a-aku—”
Ini adalah reaksi alami saat seseorang baru saja melewati pengalaman mematikannya. Tapi wanita ini harus berhenti panik atau lukanya akan semakin parah.
Mereka sudah sampai ke klinik saat Emily sedang mengurus pasien yang sedang kontrol, sampai-sampai Dokter itu meminta maaf dan beranjak pada pasien baru yang berada di tingkat darurat. Inference membawa wanita dalam gendongan sesuai arahan sang Dokter. Setelah menaruhnya, ia keluar.
Masih tersisa degup jantung dari rasa panik di dadanya. Inference mencoba menenangkan diri dengan mengambil napas dalam-dalam. Beberapa pasien yang menunggu di ruang tunggu sempat mencuri pandang pada sang Detektif yang keadaannya berantakan. Ah, ya, pakaiannya kotor dengan darah. Melepaskan mantel biru keabu-abuan yang selalu menjadi ciri khasnya, dilipat di tangan sembari memikirkan cara membersihkannya. Detektif itu terdiam, tatapannya lurus pada lukisan buah yang menempel di meja biasanya Emily berada.
Otak diajak bepikir lebih dalam. Entah kenapa Inference bisa mengenal bekas luka itu dengan sangat mudah. Bekas irisan yang berasal dari bilah tajam yang panjang, juga pelakunya yang tiba-tiba menghilang
Mengingatkan pada bilah yang pertama kali dilihatnya saat itu.
Inference mendesis tipis, ingatan-ingatan lama yang hinggap ditepis. Duduk di salah satu bangku, dirinya mengusap dagu dan berpikir. Dengan mata pisau sepanjang dan setajam itu, ia sudah mengira-ngira bentuk dan ukuran luka yang diciptakan. Dan itu mirip—
Ah. Benar-benar sangat mirip dengan yang dilihatnya saat itu. Dan juga bagi Inference yang tengah menangani kasus pembunuhan serial itu sejak lama. Tentu dirinya paham tanpa harus melihat dua kali.
Sosok yang menyerang Vera adalah ... The Ripper.
Kasus yang didapatkannya sangat banyak dan acak, pembunuhan, penculikan, perampokan, tidak menutup kemungkinan jika dirinya suatu hari mendapatkan kasus The Ripper lagi. Hanya saja—mengapa?
Mengapa pria itu menyerang Perfumer itu? Ia paham Ripper memiliki ketertarikan tersendiri—yang kadang membingungkan—pada calon korbannya. Tapi ... bukankah Vera itu orang terdekat sekaligus rekan penting dalam membantu bekerja?
Benar, bukan ... Svengali?
Tak mungkin Svengali akan melukai orang suruhannya atau semacamnya—atau mungkin, itu bukan Ripper? Orang lain? Yang menggunakan senjata yang sama—
Inference tidak tahu, kepalanya terasa sakit. Otaknya terlalu banyak bekerja siang ini, dan sekarang satu hal ini membuat teka-teki baru yang harus dipecahkan, ia kira setelah memecahkan semua kode dan mendapatkan targetnya, semuanya sudah selesai.
Lalu sekarang ....
Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Apa yang sebenarnya diinginkan dari pengirim surat ini?
Inference mengerang tipis begitu tersadar lagi-lagi dirinya tak bisa memahami isi kepala penulis surat itu.
Surat yang didapatkan Inference tidak pernah berhenti. Yang awalnya bisa mendapatkan satu sampai dua kasus dalam seminggu, kini menjadi lima sampai enam kasus. Semuanya tertulis dengan kode-kode yang harus dipecahkan, sampai otak terasa panas untuk mendapatkan jawaban.
Beberapa pesan ada yang tepat sasaran, tapi beberapa juga ada yang salah karena sang Detektif menggunakan persepsi yang berbeda dari sang pengirim surat. Sampai berita kematian atau pencurian tersiar, sang Detektif tak tahu apakah ini kesalahannya atau bukan. Akan mudah menangkap pelakunya saat kejadian sudah berlangsung, tapi jika bisa mengetahui lebih awal, tentu lebih baik, bukan?
Inference dibuat sangat sibuk, bahkan tak ada waktu untuk meneliti dan mengecek siapa pengirimnya. Demi apa pun itu, sang Detektif ingin pengirim surat ini berhenti karena sekarang dirinya sudah mencapai batasnya. Tapi bagaimana caranya menghentikan jika sang Detektif harus dibuat bergerak lebih cepat karena hampir semua kasus dari surat tersebut akan terjadi di hari itu juga?
Tidak seperti tingkat kriminal London yang menjadi sangat tinggi, tapi Inference pun tak mengerti, dan baru disadari akhir-akhir ini.
Dengan mencegah kasus sebelumnya terjadi, itu sama saja menunda bencana sebelum mereka mendapatkan pelakunya. Dan itu berarti Inference tanpa sadar menumpuk jadwal para kriminal sampai dirinya pun tak sanggup.
Sheriff Baden kerap kali bingung saat dipanggil untuk membantu Inference menangani kasus yang belum terjadi. Kadang mereka berhasil datang tepat waktu, kadang terlambat, kadang juga tidak mendapatkan apa-apa. Sheriff sudah diperlakukan seperti polisi pribadi oleh sang Detektif, seakan ingin membalas karena Baden juga sering memperlakukan Inference sebagai detektif pribadinya.
Sheriff Baden kadang tiba-tiba disuruh memasuki hotel, rumah makan, mansion seseorang, bahkan pernah juga ke rumah pelacuran—tapi setidaknya untuk kasus itu mereka berhasil mendapatkan pelaku sebelum publik berkomentar macam-macam.
Semakin banyak surat yang datang membuat Inference harus menyaring mana yang harus dikerjakan dan mana yang tidak. Ia tahu nyawa seseorang berada dalam genggaman kertas itu, tapi nyawanya juga penting. Entah sudah berapa kali dirinya harus meminum segelas air gula agar tidak pingsan karena kelelahan.
Sampai tingkat ini, Inference benar-benar sudah lelah, jika mendapatkan kasus baru, dirinya akan memberikan ekspresi muak.
Juga ... sebenarnya ada satu kasus lain yang entah bagaimana dirinya bisa sesantai ini. Inference membuka laci meja, mendapati amplop dengan segel merah tanpa logo, ini mengingatkannya akan sesuatu.
Di dalamnya ada surat, surat yang sama seperti kasus-kasus yang didapatkannya. Jika boleh jujur, sebenarnya ini adalah surat pertama yang didapatkan sebelum bencana ini terjadi. Surat dengan kasus yang akan terjadi tak lama lagi, berdasarkan tanggal, itu akan terjadi tepat besok hari.
Dan dirinya di sini ... terdiam.
Tangannya menyelusup dan mengambil surat itu lagi. Membuka perlahan dan mengeluarkan isinya.
Surat ini ditulis tangan sama seperti surat lainnya, gurat pena yang rapi dan tegas, Inference mempelajari bagaimana cara membaca dan mengidentifikasi karakter penulis melalui gaya tulis. Tapi dirinya masih tak mendapatkan petunjuk apa pun mengenai siapakah gerangan penulis ini. Mencari pesan tersirat dari balik kertas kulit berwarna krem, juga masih tak mendapatkannya.
Satu-satunya yang bisa dipahaminya hanyalah isi surat.
Naib Subedar
Gedung aula musik London, tanggal 31, pukul 12 malam.
— J■■■
Hanya surat ini yang memiliki pesan yang mudah dipahami, juga memiliki nama pengirim. Walau huruf-huruf terakhir tertimpa oleh tinta yang tebal, seakan penulisnya terlalu lama menekan tiap-tiapnya. Membuat Inference menerka, nama dengan awalan ‘j’ sebanyak empat huruf. John? Jose? Jade? Ja—
Jika diingat-ingat, pertama kali membaca surat ini Inference sempat terkejut dengan nama lengkapnya yang tertulis di pembuka, mayoritas orang-orang lebih senang mengirim surat kepada nama Mr. Inference, bukan dengan nama asli sang pria Nepal.
Mengenai pesannya, ini tidak seperti Inference mengabaikannya begitu saja. Beberapa kali sang Detektif mengecek aula musik itu ... terkadang.
Akhir-akhir ini Inference menjadi lebih berat untuk pergi ke tempat-tempat yang berkaitan dengan ... pria itu, maestro dari London, Svengali.
Saat tidak ada keinginan maupun saat membutuhkan sesuatu, setiap Inference datang ke tempat itu, para pelajar musik yang dibimbing oleh sang maestro sendiri mengatakan bahwa maestro mereka sedang tidak ada di sana. Mungkin sibuk, tapi apakah itu jawaban yang sama ketika dirinya sudah berkunjung lebih dari sepuluh kali? Setiap kali dirinya ingin mencoba mengecek target dari surat yang didapat, sang maestro tidak pernah ada di sana.
Mendadak Inference mengkhawatirkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dikhawatirkannya. Seharusnya dirinya bertindak profesional dan meninggalkan semua masalah pribadi. Tapi ternyata sulit sekali.
Sudah tiga bulan lamanya setelah pertemuan mereka yang terakhir kali. Mestro Svengali tidak ke mana-mana, masih ada di London, tapi keberadaannya benar-benar lenyap dari kota ini, tak jelas ada di mana. Tapi beberapa kerabat masih mengatakan bahwa mereka masih bertemu dan berkomunikasi dengan pria tersebut, bahkan Lady Truth sempat mengatakan gadis itu sering bertemu dengan Svengali di klinik Emily.
Emma bercerita mengenai waktu saat sang Detektif masih dirawat di sana, katanya Svengali lebih banyak terdiam di klinik, tapi kadang pernah meminta pengobatan sang dokter saat pria tersebut merasa badannya terasa lebih berat dan demam yang tak turun-turun. Di luar dari itu, Lady Truth masih sering bertemu secara tidak sengaja di tempat ramai.
Berbeda sekali dengan Inference yang bahkan belum pernah melihat batang hidung Svengali.
Seolah-olah pria Inggris itu ... menjauhinya.
Inference mengangkat bahunya, ia bisa mengerti jika memang Svengali ingin menjauhinya, ia tidak akan bertanya lebih, pertemuan terakhir mereka memang lebih berantakan dari yang biasanya. Apalagi Svengali sudah tahu bahwa Inference memiliki niat untuk melenyapkan pembunuh serial itu demi kemanan kota London.
Siapa kira-kira yang akan mau dekat-dekat dengan sosok pembunuhnya?
Surat ditutup kembali dan dimasukkan ke dalam amplop. Inference bangkit mendekati jendela, melihat keluar sana.
Jika itu besok malam, maka Inference akan mengeceknya nanti.
Itu yang dipikirkannya sekarang.
Inference hendak merapikan kembali kertas-kertas laporannya saat mata tak sengaja menemukan pucuk coklat di seberang sana. Itu adalah Emma, gadis itu mengecek dari jendela, seperti melihat-lihat, beberapa keping kue di dalam mulut itu. Sudah larut malam, sudah waktunya untuk tidur.
Embus napas lelah, Inference melepas monocle miliknya, menaruhnya di samping pena. “Emma?” Bersedekap, raut wajah terlihat siap dengan beberapa omelan yang sudah berada di ujung bibir.
Sang pemilik nama menengok. Raut khawatir tercetak jelas di sana, tak sadar dengan perubahan wajah pria itu. “Tuan, apa kau melihat Norton?” tanya sang Lady Truth. Sekali lagi melihat ke arah jendela, tapi tidak ada apa-apa selain lampu yang terang menyala dan hewan malam yang melintas.
Inference menaikkan satu alisnya. “Norton?” Ia kira anak itu sudah pulang, bukankah kasusnya sudah selesai?
“Ya, dia belum kembali dari pagi ini.”
Mungkinkah masih mengurus laporan? Selarut ini? Atau mungkin terlalu mendalami kasus tersebut? Karena sepertinya benda yang dicuri itu sedikit menarik untuk diulik.
Lagi pula Norton sudah dewasa, tidak perlu mengkhawatirkan anak itu.
Kertas-kertas ditaruh ke dalam laci, mungkin sudah waktunya Inference istirahat. “Kau tidur saja, Norton akan kembali nanti. Juga—” Tatapan itu tajam pada kue yang masih dikunyah. “dari mana kau mendapatkan itu? Sudah malam, jangan makan yang manis-manis atau gigimu nanti sakit.”
Gadis itu tersentak dan langsung menyimpan kembali kuenya. “Ini hanya pemberian, jangan berpikir yang macam-macam. Setelah ini aku akan sikat gigi dan kumur-kumur, tenang saja!” Cengar-cengir, gadis itu melangkah kecil ke kamarnya sendiri. Tapi kembali lagi dengan membawa satu gelas berisi peralatan sikat giginya, menggunakan kamar kecil di sana untuk membersihkan mulut.
Inference mengambil dasi dan lambang di atas meja, sedikit menguap saat beranjak ke kamarnya sendiri. “Apa kau ke klinik dokter Emily lagi? Jangan menyulitkannya, dia tak selalu memiliki kue saat kau berkunjung.”
“Mmm, mmnn, mm!”
Tidak ada yang bisa mengerti jika berbicara dengan mulut penuh seperti itu. Emma langsung membuang semua sisa busa dan berkumur-kumur. “Oh, tadi aku sempat bertemu tuan Svengali, dia yang memberikanku kue.”
Mata biru berkedip beberapa kali.
... Svengali?
Ternyata pria itu memang masih ada di London ya.
“Ya sudah, cepat-cepat kau tidur.”
Jawaban terdengar lagi dengan dengung di dalam kamar mandi. Inference sudah masuk ke kamarnya sendiri dan menaruh barang di tangan ke atas meja. Mengembus napas lelah. Beberapa pemikiran hinggap lagi, tapi kali ini diabaikannya.
Inference harus mengisi energi karena ada pekerjaan penting besok.
Karena pembunuhan berikutnya itu pada malam hari, maka Inference pasti akan bekerja larut sekali nanti. Sehingga tidur yang cukup harus diambilnya sekarang agar tidak mengantuk saat bekerja. Walau kemungkinan besok tak akan mungkin bisa mengantuk karena adrenalin menangani kasus sudah dapat dibayangkan.
Pikirannya begitu sederhana saat melewati malam dengan menarik selimut.
Tak mengira saat pagi tiba dan kembali ke meja kerja, Detektif Inference dibuat lelah dengan kasus baru yang dibawakan oleh Sheriff Baden, tapi rasa lelahnya berganti menjadi kejut saat sang Sheriff mengatakan bahwa telah terjadi pembunuhan di aula musik London.
Aula musik London? Apakah itu berarti—
Seolah mengetahui tuntutan jawaban lebih lengkap, Sheriff Baden mengatakan pembunuhan ini terjadi pada jam sebelas malam sampai jam tiga pagi, untuk lebih pastinya masih belum diketahui. Korban seorang wanita yang kebetulan masih ada di sana walau petugas keamanan di aula beberapa kali menyuruhnya untuk pulang. Beberapa keterangan lainnya tidak ditangkap dengan jelas karena sekarang Inference dibuat tenggelam dengan pikirannya yang sekarang.
Ah, tunggu, bukankah harusnya pembunuhannya hari ini? Mengapa tiba-tiba menjadi lebih cepat? Inference berkedip beberapa kali dan melihat ke arah kalender. Dirinya tidak salah melihat hari, ‘kan? Berdasarkan surat itu tanggal 31, tapi saat Inference menyadarinya—bulan ini berakhir sampai tanggal 30.
Inference benar-benar tak tahu bahkan tak menyadarinya. Jika dirinya tersadar akan hal ini, maka pembunuhannya antara pada tanggal 30 atau tanggal 1 di bulan berikutnya.
Tapi dirinya sudah sangat yakin pembunuhan itu terjadi tanggal 31, sampai otaknya tersistem kalaupun mata melihat kalender dan menemukan bulan ini berakhir di tanggal 30, dirinya tetap dibuat percaya jika tanggal 31 tetap ada.
Mungkinkah Inference terlalu kelelahan sampai daya meresap informasinya menjadi menurun?
Seharusnya Inference memperhatikan surat itu lebih cermat lagi, dirinya terlalu lalai sampai mengiakan sang penulis begitu saja tanpa berpikir dua kali jika pembunuhannya pada tanggal itu—penulis tidak pernah salah dalam menerka waktu, lalu sekarang? Apakah ini eror atau sebuah jebakan?
Inference mengerang pelan. Dirinya sudah memperkirakan waktu dengan baik, selalu mengecek target, tapi kecolongan setelah berminggu-minggu menunggu. Matanya tertutup rapat, tangan mengepal kuat.
Ah, andai saja dirinya tidak melepas pandangan barang sekali saja dari target, semua ini tak akan terjadi.
Hendak mengambil mantelnya, tapi Sheriff Jose menahan dengan melanjutkan beberapa kata, “Tim forensik masih ada di lokasi, kita akan mendatangi tempat itu besok.” Petugas itu juga bersiap-siap untuk ke kantornya hari ini, hanya mampir untuk memberikan laporan kilat tersebut. “Aku membutuhkanmu untuk menanyai Tuan Svengali nanti.”
Mendengar nama itu, Inference terdiam.
Eh ....
Meminta keterangan dari Svengali?
“Dia adalah saksi mata saat pembunuhan terjadi. Jadwal beliau sangat padat hari ini, jadi polisi bisa menanyainya besok. Lalu hari ini aku—”
Mata birunya berkedip beberapa kali. Inference memperhatikan wajah Jose, lalu mengangguk seolah paham, walau sebenarnya tidak menangkap apa yang pria itu katakan. Bahkan saat sang Sheriff sudah pergi setelah menaruh kertas baru di mejanya, Inference masih terdiam bak patung.
Beberapa detik kemudian dirinya tersadar.
Oh ... bukankah itu berarti dirinya akan bertemu Svengali setelah tiga bulan lamanya tak bertemu?
Apakah kali ini pria itu akan ada di sana? Tidak akan lagi menghilang walau Inference datang sesuai jadwal kerja sang maestro?
Memutar pulpen di tangan, membaca kertas-kertas tersebut.
Mungkin tidak masalah, ini semua demi kasus.
Inference akan berusaha melupakan apa yang sudah terjadi di antara mereka. Tentu keduanya harus bertindak profesional dalam bidang masing-masing. Tidak mencampurnya dengan permasalahan pribadi.
Baiklah, waktunya kembali bekerja.
