Actions

Work Header

Niskala

Summary:

Kuroo awalnya adalah malaikat, karena lalai dalam tugasnya, ia akhirnya diturunkan ke bumi dan menjadi manusia. Lelaki itu lalu bertemu dengan Tsukishima, keduanya bekerja di tempat yang sama. Selanjutnya, Kuroo jatuh hati pada Tsukishima yang ia pikir adalah manusia. Tapi sangat disayangkan, Tsukishima adalah demon. Kuroo harus memilih antara kembali ke kehidupannya di surga, tapi melepas Tsukishima atau hidup menjadi iblis bersama Tsukishima tapi hanya sementara. Jika mereka memilih untuk hidup bersama, maka harus ada konsekuensi yang didapat. Keduanya, baik Tsukishima maupun Kuroo akan dihilangkan selamanya dan tidak akan reinkarnasi lagi. Mereka akan dilupakan, tidak pernah ada yang mengetahui siapa itu Kuroo dan siapa itu Tsukishima.

Work Text:

Selama menjadi demon, Tsukishima tidak pernah menginjakkan kaki di bumi. Hari-harinya hanya berada di neraka, menyiksa para manusia yang semasa hidupnya selalu melakukan tindakan tidak terpuji.  Melihat manusia disiksa dengan bebragai cara adalah pemandangan yang biasa. Tsukishima sudah terbiasa melihat mereka berteriak, tersiksa, bahkan meronta-ronta karena tidak ingin diadili.

Tapi kali ini, Tsukishima mau tidak mau harus melihat sebuah pemandangan berbeda. Bukan penyiksaan manusia, melainkan kegiatan manusia sehari-hari. Hal ini disebabkan oleh pemindahan tugasnya.

Tak ada alasan khusus yang membuatnya berpindah, memang masa jabatannya sebagai salah satu demon yang menjaga neraka sudah habis. Pekerjaan demon hanya ada dua. Menyiksa manusia, dan menghasut manusia. Sudah jelas ia wajib melakukan pekerjaan yang kedua.

Berkenan atau tidak, Tsukishima wajib turun ke bumi demi tugas yang dijalaninya itu. Harus berbaur dengan berbagai macam manusia, dan menjadi salah satu di antaranya. Hal itulah yang membuat Tsukishima berada di sini. Salah satu perusahaan buku tulis, menjadi karyawan yang menjabat sebagai analyst.

Tsukishima yang sehari-harinya melihat manusia penuh kedengkian, cukup terkejut kala bertemu dengan  akuntan yang katanya baru diterima di perusahaan ini. Sungguh, Tsukishima tidak bisa melihat aura kedengkian dalam lelaki itu. Secuilpun tak ada. Lelaki itu bening, sebening kristal. Bahkan tatapan matanya bisa membuat hati Tsukishima menghangat.  Tsukishima tidak tahu menahu kenapa perasaan hangat itu bisa muncul. Satu yang ia yakini, bahwa lelaki itu berbeda dari manusia lainnya.

Kuroo Tetsurou.

Itu adalah nama lelaki itu. Atasannya menyebut nama itu.

***

Sebagai malaikat yang sudah bertahun-tahun berugas menghitung dosa-dosa manusia, seharusnya Kuroo paham betul bahwa peraturan dasar dalam menghitung dosa adalah membiarkan dosa itu apa adanya. Tidak boleh dikurangi, tidak boleh juga ditambahkan. Kuroo sudah hapal di luar kepala mengenai peraturan itu. Sudah paham, tapi tetap saja ia melanggar.

Pelanggaran dari peraturan dasar yang ia lakukan diakibatkan oleh seorang anak yang usianya tiga belas tahun. Dengan usia yang cukup belia, anak itu sudah membunuh adik kandungnya sendiri. Lalu dilanjutkan dengan membunuh dirinya sendiri. Kuroo yang merasa bahwa anak itu tidak sepantasnya mendapatkan dosa yang begitu banyak, maka ia menguranginya. Oh, ayolah. Itu anak tiga belas tahun, mana mungkin ia bisa membunuh adik kandungnya sendiri? Sangat tidak masuk akal. Maka Kuroo pikir ada salah perhitungan dan ia dengan impulsif mengurangi dosa yang dimiliki bocah tersebut.

Selain karena usianya yang masih tiga belas tahun, Kuroo juga mempertimbangkan rasa menyesal si bocah dan wajahnya yang polos mengatakan kalau ia tidak sengaja melakukannya. Maka Kuroo percaya dan pelanggaran berat itu terjadi begitu saja. Anak itu lolos dari hukuman, tapi justru kini Kuroo yang dihukum.

Akibat keteledorannya, Kuroo dengan amat sangat terpaksa harus turun ke bumi. Berbaur dengan manusia sampai masa hukumannya habis. Ia tidak boleh bercakap-cakap dengan teman malaikatnya, meskipun ia mampu melihatnya. Sumpah, sepanjang hidup Kuroo menjadi malaikat, ia tidak pernah mendapatkan tugas di bumi. Ia selalu di langit, menghitung dosa-dosa manusia, atau kadang-kadang ia menghitung kebaikan-kebaikan manusia.

Maka ketika Kuroo pertama menginjakan kaki ke bumi, ia bingung setengah mati. Ia tidak paham betul bagaimana hidup menjadi manusia, dan apa yang harus dilakukannya. Ia tidak diberi arahan sama sekali. Ada sih arahan dari Bokuto—kawan malaikatnya yang pernah ditugaskan ke bumi. Bokuto bilang, manusia harus bekerja demi menghasilkan uang. Meskipun asing dengan konsep ini Kuroo mau tidak mau harus bisa menghasilkan uang dengan identitas palsunya yang sekarang.

Lelaki berusia dua puluh lima tahun, lulusan akuntansi, dan sudah pernah bekerja di salah satu perusahaan ternama yang ada di ibukota. Begitulah kira-kira identitas palsu yang Kuroo miliki. Astaga, lelaki bersurai hitam itu bahkan tidak paham akuntansi itu apa. Setelah mencari di ponsel pintar—syukurlah dia mendapatkannya juga. Ia memahami kalau akuntansi itu intinya pekerjaan menghitung, mencatat, dan mengolah data. Yah, mungkin sama dengan pekerjaannya di langit yang menghitung dan mencatat dosa maupun kebaikan. Toh, intinya sama-sama menghitung  dan mencatat kan?

Dengan identitasnya yang sekarang, mudah bagi Kuroo untuk mendapatkan pekerjaan. Baru sekali mendaftar, lelaki itu langsung diterima di Perusahaan Nekoma, yang mengurusi tentang pembuatan sekaligus jual-beli buku tulis.

Memahami sebuah pekerjaan baru tidaklah sulit bagi Kuroo. Lelaki yang kini usianya dua puluh lima tahun—padahal aslinya ratusan tahun—itu sudah mampu bekerja dengan baik dalam kurun waktu seminggu. Yah, kemampuan malaikat tentu saja jauh di atas rata-rata kemampuan manusia.

Seminggu bekerja di perusahaan itu, ia mulai dekat dengan salah satu pekerja lain. Mereka berada di satu lantai yang sama, dan sering bertemu di kantin perusahaan.

Perkenalan mereka terjadi saat Kuroo dengan segala kelalaiannya lupa membawa dompet—demi apapun, ia masih belum terbiasa dengan transaksi jual-beli yang dilakukan manusia—dan Tsukishima dengan baik hati meminjamkan uang padanya, yang langsung diganti Kuroo dua hari berikutnya saat mereka bertemu lagi di kantin. Itu perkenalan. Kalau pertemuan, tentu saja saat Kuroo diperkenalkan pertama kali oleh atasannya, pada rekan-rekan kerja yang satu lantai dengannya. Saat itulah ia melihat Tsukishima.

Entah hanya perasaannya atau apa, tapi ada sesuatu hal yang membuat Tsukishima berbeda dengan yang lain. Sampai sekarang, Kuroo masih mencari tahu apa yang berbeda. Lelaki itu tak bisa menjelaskan, tapi insting malaikatnya—syukurlah masih berfungsi sedikit—bahwa ada yang berbeda dengan Tsukishima dibanding rekan kerjanya yang lain.

Setelah perkenalan itu, mereka jadi lumayan dekat. Keduanya sering makan siang bersama, dan tak jarang bagi mereka untuk makan siang di luar kantor—berdua. Tsukishima juga dengan baik hati mengajaknya makan di tempat makan berbeda, memberi tumpangan mobil saat mereka makan di luar, dan tak jarang juga ikut membayar makanan Kuroo.

Malaikat yang kini menyamar menjadi manusia itu tidak tahu apa motif dari itu semua, tapi Kuroo menyimpulkan bahwa Tsukishima hanyalah orang baik. Tidak ada maksud tertentu, setidaknya begitulah yang Kuroo pikir. Akibat hanya berinteraksi dengan manusia yang telah mati membuat Kuroo tidak tahu menahu dengan maksud-maksud tertentu yang dilakukan manusia. Ini tidak berlaku dengan Tsukishima saja, tapi juga dengan manusia yang lain.

Kuroo pernah disindir oleh atasannya perihal ia absen makan malam dengan teman kantor. Aneh. Padahal lelaki paruh baya itu jelas-jelas bilang kalau makan malam dengan teman kantor itu tidak wajib. Kenapa pula Kuroo harus disindir karena hal itu? Padahal kan ia tidak bersalah.

Aneh sebenarnya. Kuroo juga perlu beberapa kali lembur, selain karena pekerjaannya yang berlebihan, ia juga beberapa kali menggantikan teman kerjanya yang memiliki urusan mendadak. Padahal saat kesepakatan awal, jam kerjanya adalah empat puluh jam seminggu. Namun pada kenyataannya, jam kerjanya lebih dari itu. Seperti hari ini, ia seharusnya sudah pulang lima belas menit yang lalu, tapi pekerjaannya yang belum terselesaikan memaksanya untuk tetap berada di kantor. Membuat dirinya harus mengurangi waktu istirahat yang dimiliki.

“Kau lembur?” tanya Tsukishima. Kuroo yang masih berada di bilik kerjanya, menoleh pada lelaki bersurai pirang itu. Ia hanya mengangguk, lalu melanjutkan kerjanya.

“Ini,” Tsukishima tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya, memberikan sekaleng minuman soda dan meletakannya di meja Kuroo.

“Untukku?” tanya Kuroo memastikan.

Tsukishima mengiyakan, “Aku duluan, ya.” katanya.

***

Ini bukan pertama kalinya Tsukishima memperhatikan lelaki itu. Itu loh, lelaki yang tidak memiliki aura kedengkian sama sekali. Lelaki yang berhasil membuatnya merasakan ketenangan. Kuroo Tetsurou. Saat ini sedang memberi makan kucing-kucing liar yang ada di sekitar kantor. Sungguh, Tsukishima belum pernah melihat ada manusia yang rajin melakukan itu sebelumnya.

Bukan hanya itu saja, Kuroo bahkan tidak jarang mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya bukan kewajibannya—Tsukishima dengar ini dari teman kerjanya—lalu membiarkan rekan kerjanya, yang seharusnya mengerjakan itu, pulang duluan.

Tsukishima tadinya berpikir bahwa Kuroo melakukan itu semata-mata karena ia junior. Lelaki itu baru bekerja di kantor ini, ia tidak ingin mempunyai citra jelek, sehigga mengerjakan pekerjaan yang bukan kewajibannya. Tapi ternyata dugaannya salah total. Kuroo mengerjakan pekerjaan itu karena tidak tega dengan rekan kerjanya—yang sumpah demi apapun, mereka selalu membuat alasan tidak masuk akal agar dikasihani Kuroo.

Tsukishima berulangkali mampir ke meja Kuroo, mengajaknya mengobrol, sekaligus mencari tahu kalau-kalau ada aura kedengkian yang muncul dari wajahnya. Tapi tidak ada. Kuroo tidak memiliki aura negatif itu sedikit pun.

“Kau lembur?” tanya Tsukishima pada suatu hari. Ia mampir ke meja Kuroo, memandangi wajah yang saat ini sedang serius menghadap layar komputer. “Ini,” Tsukishima meletakkan sekaleng minuman soda di meja Kuroo.

“Untukku?” tanya Kuroo, lelaki itu menoleh. Menatap Tsukishima yang saat ini berada di sampingnya. Dalam waktu singkat, Tsukishima bisa melihat kemurnian tatapan Kuroo. Tatapan seorang manusia yang tidak memiliki kedengkian secuil pun—Ah, Tsukishima bosan mengatakan hal ini tapi memang begitulah kenyataannya. Manik berwarna merah kecokelatan itu lagi-lagi berhasil memberinya ketenangan yang sebelumnya tidak pernah dia alami.

Tidak ingin ketenangan itu terus menguasai Tsukishima, lelaki itu mengangguk lalu berujar, “aku duluan, ya.”

Selama perjalanan pulang, dalam otak Tsukishima terputar sebuah memori ketika ia hendak diturunkan ke bumi. Memori di mana ia berbincang dengan Yamaguchi—salah satu teman demonnya. Yamaguchi memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengannya. Lelaki yang usianya lebih tua puluhan tahun darinya itu sudah bolak-balik berpindah tugas. Ia sudah banyak memakan asam garam kehidupan menjadi demon.

“Kau mau diturunkan ke bumi?” Tanya Yamaguchi kala itu.

“Ya, mau bagaimana lagi?”

“Hati-hati. banyak demon yang jatuh cinta saat mereka bertugas di bumi.”

Tsukishima mendengus, “Mana mungkin aku jatuh cinta.”

“Tidak ada yang tidak mungkin, Tsukishima. Di sini, kita selalu melihat manusia jahat, sementara di bumi, masih banyak manusia baik. Kau mungkin jatuh cinta pada salah satu di antara mereka.”

“Tidak mungkin.” Kata Tsukisima yakin. Ia bahkan menggelengkan kepalanya, merasa bahwa perkataan Yamaguchi sangat tidak masuk akal.

“Hati-hati saja. Siapa tahu nanti ada manusia yang bisa memberikanmu ketenangan melalui tatapannya. Kalau sudah begitu, artinya kau sedang jatuh cinta.”

“Cih. Mana ada yang seperti itu. Aneh-aneh saja kau ini.”

Tsukishima merenungi isi pikirannya. Sensasi tenang yang berhasil Kuroo berikan pada Tsukishima, membuat lelaki itu tidak bisa mengusir tatapan merah kecokelatan itu dari pikirannya. Apa ini tandanya ia betulan jatuh cinta?

Tsukishima tentu saja sudah tahu jawaban jelasnya.

***

Ada suara nyaring tawa terdengar—tawa mengejek sekaligus meremehkan—yang membuat si pendengarnya memutar bola mata malas.

Harusnya aku sudah tahu kalau akan ditertawakan begini. Harusnya aku tidak bercerita. Ah, sialan memang. Bukannya mendapat solusi justru menjadi bahan tertawaan.

“Kau? Jatuh cinta? Lawakan macam apalagi ini?” Tanya Kageyama—salah satu demon yang sama-sama ditugaskan di bumi—mengejek.

“Aku serius.” Tsukishima menatap Kageyama, yang saat ini berdiri di sampingnya. Menyandar pada pagar balkon apartemennya.

“Bodoh sekali. Bagaimana bisa seorang Tsukishima jatuh cinta?”

“Aku tidak tahu. Kalau sudah tahu jawabannya, mana mungkin aku bertanya padamu, bodoh.” Tsukishima kesal, berharap mendapat pencerahan, namun yang terjadi justru sebaliknya. Kageyama sialan. Kenapa sih ia harus bersama Kageyama? Bukannya Yamaguchi saja?

“Jangan jatuh cinta.”

Konyol. Jelas-jelas aku sudah jatuh cinta.

“Aku sudah jatuh cinta, Kageyama.”

“Jangan jatuh cinta, Tsukishima.”

“Kau ini tuli atau bagaimana sih. Aku sudah jatuh cinta, tahu.” Sungguh, Tsukishima harus menahan dirinya untuk tidak mendorong Kageyama agar jatuh dari balkon.

 Kageyama menggeleng-gelengkan kepalanya, “Ya sudah, lupakan dia.”

“Caranya?”

“Entahlah. Aku tidak pernah jatuh cinta. Kau cari tahu saja sendiri.”

Sialan. Memang tidak ada gunanya aku menceritakan itu semua pada Kageyama.

***

Setelah kejadian Kuroo lembur dan Tsukishima memberinya minuman bersoda, ia merasa bahwa Tsukishima sulit sekali ditemui. Ia tidak ada di kantin ketika makan siang, dan selalu pulang duluan saat Kuroo baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Tsukishima selalu pulang tepat waktu setelah itu. Padahal sebelumnya mereka akan pulang telat bersama, dan mengobrol sebentar di lift saat keduanya turun dari lantai sepuluh menuju lobi.

“Untukmu,” kata Kuroo di tengah-tengah jam makan siang. Ia kini berdiri di samping meja Tsukishima, setelah meletakkan satu kaleng minuman bersoda yang merk dan ukurannya sama persis dengan yang diberikan Tsukishima kemarin.

“Terimakasih.” Tsukishima menoleh ke arah Kuroo sesaat, lalu menghadap laptopnya lagi. “Aku sedang sibuk,” jelas Tsukishima.

Padahal tanpa menjelaskan pun, Kuroo sudah paham. Lelaki yang harusnya ada di langit itu akhirnya memutuskan untuk kembali ke meja kerjanya. Kembali mengerjakan pekerjaannya setelah meminum setengah botol air mineral yang ia bawa dari tempat tinggalnya.

***

Hari ini, Kuroo dan teman satu kantornya ada makan malam bersama. Hal ini dilakukan untuk merayakan keberhasilan mereka dalam mencapai—bahkan melebihi—target penjualan yang telah ditentukan. Sebenarnya Kuroo tidak merasakan kontribusi apa-apa dalam hal ini. Tapi berhubung dia diajak—dipaksa atasannya sih lebih tepatnya—untuk makan malam bersama, maka ia terpaksa datang.

Ini adalah kali pertama Kuroo mengikuti makan bersama. Biasanya, lelaki itu memilih untuk tidak ikut dengan berbagai macam alasan. Ia malas, karena makan malam bersama hanyalah istilahnya. Faktanya, mereka bukan makan malam bersama, tapi mabuk bersama. Kuroo tidak suka alkohol. Baginya, alkohol merupakan hal paling aneh yang pernah ada.

Untuk apa meminum sesuatu yang membuatmu tak sadarkan diri? Aneh. Manusia memang aneh. Selama hidupnya menjadi malaikat, ia tidak pernah meminum alkohol. Tentu saja, di langit tidak ada minuman seperti itu. Lagipula, alkohol inilah yang membuat manusia banyak melakukan perbuatan dosa.

“Kuroo, kau tidak minum?” Daishou, salah satu temannya bertanya.

Kuroo menggeleng.

“Ayolah, satu gelas saja.” Daishou merayunya.

Kuroo masih menggeleng, “Aku menyetir mobil.”

“Kan bisa panggil supir nanti.”

Kuroo menggeleng lagi, “Tidak.”

Melihat Kuroo yang sepertinya tidak akan berubah pikiran, Daishou akhirnya menyerah. “Ah, baiklah kalau begitu.”

Kuroo hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat teman-temannya mulai tak sadarkan diri. Obrolan mereka mulai melantur, dan perilaku mereka sudah jauh berbeda dari yang biasanya. Memang masih ada yang bicara secara normal, tapi hanya sedikit. Atasannya saja sudah mabuk daritadi.

Ingin rasanya Kuroo pulang saja. Kasur apartemennya seratus kali lebih nyaman dibandingkan dengan tempat makan ini. Bau alkohol di mana-mana, bercampur dengan daging yang dibakar. Belum lagi suara manusia yang bercampur dengan suara denting gelas. Berisik. Kuroo tidak begitu suka.

Kuroo melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Setengah dua belas. Tiga puluh menit lagi waktu sudah menunjukkan tengah malam, tapi sepertinya teman-teman kerjanya tidak memiliki niat untuk menghentikan acara minum-minumnya. Atasannya pun masih duduk di pojok ruangan, dikelilingi oleh rekan-rekannya yang lain. Masih asik minum sambil meracau. Kalau begini caranya, ia tidak bisa pulang. Pantang baginya untuk pergi dari tempat ini jika atasannya masih di sini.

Kuroo menghela napas. Sampai kapan ia harus terjebak di sini?

Ternyata Kuroo tidak perlu menunggu lebih lama. Sepuluh menit setelah tengah malam, atasannya sudah ijin pulang. Hal itu menandakan karyawan lain boleh pulang juga. Tapi sepertinya teman-temannya tidak ada yang memiliki niat untuk pulang. Mereka justru ingin melanjutkan di tempat lain. Ronde dua katanya.

Gila. Padahal kalau dilihat sudah tidak ada satu pun dari mereka yang masih dalam keadaan waras. Bisa-bisanya mereka meminta untuk melanjutkan ronde dua. Kuroo tidak habis pikir.

“Aku mau pulang,” Kuroo pamit dengan Daishou, yang langsung dibalas anggukan oleh teman yang sudah setengah sadar itu.

“Kuroo! Kuroo!” seseorang memanggilnya. Kuroo tidak tahu siapa itu. Maklum saja, Kuroo masih belum hapal nama semua karyawan yang bekerja di kantornya. Kalau wajahnya, tentu saja Kuroo ingat. Kalau namanya, Kuroo agak sulit mengingatnya. Tapi sepertinya itu rekan kerja Tsukishima. Rambutnya yang berwarna jingga itu membuatnya ingat.

“Ada apa?”

“Kau mau pulang kan?” tanya seseorang itu.

Kuroo mengangguk.

“Itu Tsukishima sepertinya mabuk berat. Sebaiknya kau saja yang urus, ya!” katanya. Lelaki itu menunjuk Tsukishima yang sepertinya sudah tidak sadarkan diri. Kepala pirang itu menempel di meja, sementara tangannya menggantung lemas tak ada tenaga. Kalau tidak diberitahu, Kuroo mana  tahu kalau itu Tsukishima.

“Loh?” Kuroo bingung.

“Antarkan pulang, ya? Kau kan yang paling akrab dengannya.”

Bagaimana bisa Kuroo mengantarkannya pulang? Tempat tinggal Tsukishima di mana saja ia tidak tahu.

“Tapi aku—“

“Sudah, antarkan saja, ya.” Lelaki berambut jingga itu terlihat memohon.

Kuroo akhirnya pasrah. Ia mau menolak juga tidak bisa. Lelaki bersurai hitam itu akhirnya menghampiri Tsukishima, menepuk pundaknya beberapa kali, berharap Tsukishima masih memiliki tingkat kesadaran walau sedikit. Tapi sayang usahanya sia-sia, Tsukishima belum sadarkan diri. Tidak ada pergerakan sama sekali.

Dengan terpaksa, Kuroo menggendong Tsukishima di punggungnya. Yah, mau bagaimana lagi? Masa iya ia menggeret Tsukishima? Tidak mungkin. Kuroo tak setega itu.

“Tsukishima,” panggil Kuroo.

Tidak ada jawaban.

“Hei, Tsukishima.” Panggilnya lagi.

Masih tidak ada jawaban.

“Kau tinggal di mana?”

Tidak ada jawaban. Kuroo akhirnya hanya bisa menghela napas, dan membawa Tsukishima ke mobilnya.

Bagaimana aku bisa mengantarnya kalau aku saja tidak tahu di mana rumahnya?

***

Akhirnya Kuroo memutuskan untuk membawa Tsukishima ke apartemennya. Karena hanya ada satu kamar, Kuroo dengan amat sangat terpaksa membawa Tsukishima ke sana. Menidurkan lelaki itu di sana—yah, niatnya begitu, sih. Namun kenyataannya, Tuskishima ini manja bukan main. Lelaki itu tidak henti-hentinya menggesekkan pipinya ke pipi Kuroo.

Belum lagi, Tsukishima juga mengalungkan tangannya di leher Kuroo. Membuat Kuroo berulang kali harus melepasnya. “Kuroo, kau tampan.” Kata Tsukishima sembari memandangi wajah Kuroo. Tangannya kembali bergelayut pada leher Kuroo, sementara Kuroo dengan sekuat tenaga mencoba melepaskannya.

“Jangan dilepaskan.” Kata Tsukishima.

Kini keduanya sedang berada di pinggir tempat tidur, berhadapan, dengan tangan Tsukishima masih melingkar di leher Kuroo. Tsukishima menjatuhkan diri ke kasur, membuat Kuroo mau tak mau ikut terbawa, hingga mereka berdua akhirnya terbaring di atas tempat tidur. Tsukishima di bawah, dan Kuroo dengan segala cara menahan diri agar tidak menjatuhi tubuh Tsukishima.

“Kuroo, aku suka matamu.” Tsukishima berkata lagi.

“Kau mabuk.”

Tsukishima mengangguk, “Aku memang mabuk. Tapi aku jujur. Aku betulan suka dengan matamu.”

“Sebaiknya kau tidur.” Kuroo berusaha melepaskan tangan Tsukishima dari lehernya.

“Kuroo, sepertinya aku tidak hanya menyukai matamu. Tapi aku juga menyukaimu.

“Kau mabuk.” Kuroo mengulangi perkataannya.

“Sudah kubilang kan, aku mungkin mabuk. Tapi aku jujur.”

***

Kejadian Tsukishima mabuk berhasil membuat Kuroo terjaga semalaman. Ia tidak tidur sama sekali, memikirkan perkataan Tsukishima yang benar-benar di luar akal sehatnya. Dia betulan suka atau hanya bohong? Kuroo tidak tahu kebenarannya. Yang jelas, Kuroo paham bahwa ada sesuatu yang menggelitik perutnya ketika Tsukishima mengatakan bahwa lelaki itu menyukainya.

“Ah, sebaiknya aku harus tidur.” kata Kuroo. Namun sayangnya, sedetik kemudian alarm ponselnya berbunyi. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.

Mau tidak mau, Kuroo harus membuatkan sarapan untuk Tsukishima.

***

Tsukishima rasanya ingin kabur saja. Sumpah demi apapun, menghadapi Kuroo sembari mengingat apa yang terjadi semalam membuatnya malu bukan main. Bagaimana bisa ia mengatakan itu? Mengatakan bahwa ia menyukai Kuroo? Tsukishima tidak paham. Ia baru pertama kali mabuk jadi ia tidak tahu kenapa hal-hal aneh di luar kendalinya bisa terjadi.

Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Berpura-pura hilang ingatan soal yang semalam?

Atau sekalian jujur saja kalau ia memang betulan menyukai Kuroo?

Ah, sialan memang. Padahal Tsukishima sudah bersusah payah menjauhi Kuroo akhir-akhir ini. Sengaja tidak mengajaknya berbincang, sengaja tidak makan siang bersama, dan juga sengaja untuk tidak mencuri pandang ketika Kuroo sedang bekerja. Tapi apa gunanya itu semua jika tadi malam ia berkata seperti itu? Sia-sia sudah semua usahanya.

“Hei, kenapa melamun?”

Tsukishima menggeleng.

“Itu sudah aku buatkan sup. Sebaiknya cepat dimakan.” Kata Kuroo, yang dibalas dengan anggukan Tsukishima.

Tsukishima memang sedang memakan sup buatan Kuroo. Tapi pikirannya terus mengingat-ingat kejadian tadi malam. Bagaimana ia selalu menempel pada Kuroo, tidak mau lepas sama sekali, lalu bagaimana ia tiba-tiba mengutarakan perasaannya. Tsukishima memikirkan itu semua, sambil mengingat-ingat bagaimana reaksi Kuroo saat ia melakukan itu semua.

Sial. Tsukishima belum ahli dalam membaca emosi manusia. Dia tidak tahu apakah Kuroo merasa tidak nyaman, atau justru menyukainya. Tsukishima tidak tahu akan hal itu. Mengingat-ingat wajah Kuroo yang semalam, yang Tsukishima dapatkan hanyalah ketenangan dari tatapan matanya. Ekspresinya juga Tsukishima tidak terlalu ingat. Ah, sialan memang. ingatannya seperti tersedot oleh sesuatu. Ternyata begini efek samping dari meminum alkohol. Tsukishima tidak mau melakukannya lagi.

***

Bayangan akan Tsukishima yang sedang mabuk suka muncul di kepalanya. Saat ia sedang makan, tiba-tiba perkataan Tsukishima terdengar di telinganya. Saat ia hendak tidur, ia kembali mengingatnya. Terlebih lagi saat sedang berpapasan dengan Tsukishima. Memori itu makin menempel di otaknya.

Awalnya Kuroo berniat untuk mengabaikannya. Tapi tidak bisa. Bagaimana bisa ia mengabaikan hal itu jika kata-kata Tsukishima selalu muncul dalam pikirannya? Terlebih lagi, sensasi geli dalam perutnya ketika bertemu dengan Tsukishima semakin menjadi-jadi. Bahkan sekarang jantungnya memompa darah lebih cepat dari yang seharusnya, ketika ia sedang berpapasan dengan Tsukishima.

Seperti sekarang ini, Tsukishima tiba-tiba muncul di hadapannya, dan keduanya berujung menggunakan lift yang sama.

“Hai,” sapa Kuroo. Canggung.

“Oh, hai.” Tsukishima menjawab. Sungguh, ini betulan canggung. Bisa-bisanya mereka saling menyapa dengan kata ‘hai?’ padahal mereka sudah sering mengobrol dan bertukar pikiran.

Untung saja kecanggungan tidak terjadi terlalu lama, karena kini lift yang mereka gunakan sudah mengantarkan keduanya ke lantai tempat keduanya bekerja. Tsukishima langsung undur diri begitu lift dibuka, tidak mengucapkan kalimat apa pun pada Kuroo.

***

Tsukishima merasa bahwa setelah kejadian mabuk itu, Kuroo sering sekali mendatangi meja kerjanya. Bukan hanya itu, Kuroo bahkan berulangkali mengajaknya makan di luar. Tsukishima sebenarnya ingin menolak, namun perkataan yang keluar dari mulutnya selalu berlawanan dengan apa yang ia pikirkan. Alih-alh menolak, Tsukishima justru mengiyakan semua ajakan Kuroo.

Kini keduanya sering menghabiskan waktu bersama, jauh lebih sering dari sebelumnya. Bukan hanya obrolan secara langsung, kini mereka juga sering bertukar obrolan via ponsel. Beberapa hari lalu, keduanya bahkan menghabiskan waktu sampai tiga jam untuk mengobrol lewat telepon. Tiga jam, mereka hanya membahas rasi bintang dan mendiskusikan apakah ada manusia lain yang hidup selain di bumi.

Obrolan mereka sangat acak, tapi keduanya sangat menikmati. Kuroo dan Tsukishima bahkan sampai lupa sebuah fakta penting, kalau mereka bukanlah manusia. Keduanya dibuai oleh perasaan nyaman, nyaman berkamuflase menjadi manusia, sampai melupakan jati diri yang sesungguhnya.

Puncaknya hari ini, Kuroo dengan impulsif mengajak Tsukishima untuk berjalan-jalan di Hari Sabtu, sekaligus menggunakan momentum libur kantor pada Hari Senin. Maksudnya, ajakan Kuroo pada Tsukishima pada Hari Sabtu tidak akan mengurangi waktu liburnya. Kuroo mengajak Tsukishima ke sea world, yang tentu saja diiyakan Tsukishima dengan semangat. Kapan lagi jalan-jalan sambil memandangi aquarium besar yang di dalamnya ada ikan-ikan? Di neraka mana ada yang seperti itu.

***

Kuroo senang bukan main ketika Tsukishima mengiyakan tawarannya. Jalan-jalan di sea world, sepertinya sangat menyenangkan. Terlebih lagi Kuroo baru pertama kali ke sana. Lelaki itu bahkan menghabiskan waktu semalaman demi menemukan restoran yang enak, namun lokasinya tidak berjauhan dengan tempat wisata berisi aquarium itu. Agar saat mereka selesai berjalan-jalan, Kuroo bisa langsung mengajak Tsukishima makan.

Sebuah usaha yang tidak mengkhianati hasil, karena Tsukishima menyambut ajakan Kuroo dengan sangat positif. Selain mengiyakan jalan-jalan, Tsukishima juga mengiyakan untuk makan bersama setelahnya. Benar-benar sebuah kencan—itu kalau kata google, Kuroo sendiri sih tidak tahu kencan itu apa.

***

Tsukishima tidak paham kenapa ia menjadi sangat bersemangat menyambut hari ini. Ia bangun lebih pagi, mandi dan memilih baju lebih lama, bahkan repot-repot membuat jus jambu untuk Kuroo. Aneh, sungguh sensasi yang aneh. Tsukishima tidak pernah merasakan rasa antusias ini sebelumnya.

Apa ini efek dari jatuh cinta?

Mungkin saja, Tsukishima tidak tahu jawaban yang tepat itu bagaimana.

Lelaki berkacamata itu belum pernah jatuh cinta. Jadi ia tidak tahu betul efek jatuh cinta itu seperti apa.

***

Kuroo tidak tahu menahu kenapa Tsukishima hari ini terlihat lebih tampan dari biasanya. Selain lebih tampan, Lelaki itu juga lebih banyak tersenyum jika dibandingkan dengan hari-hari biasa. Terlebih lagi ketika Tsukishima memandangi ikan-ikan yang ada di dalam aquarium,  ia terlihat antusias, matanya berbinar, senyumnya mengembang, persis seperti anak kecil yang dihadiahi mainan. Ajakan Kuroo ke sea world memanglah pilihan yang tepat.

Saking antusiasnya, Tsukishima dengan bersemangat menarik Kuroo untuk berpindah tempat—Kuroo terlalu lelet jalannya—membuat lelaki itu menggenggam tangan Kuroo. Sebuah genggaman yang tidak pernah terlepas. Atensinya yang seratus persen mengarah pada aquarium menyebabkan lelaki itu tidak menyadari bahwa sang lelaki bersurai hitam salah tingkah.

Kuroo pikir ini adalah waktu yang tepat. Tsukishima sedang dalam mood yang sangat amat baik. Jadi, apa salahnya jika ia mengatakan tentang perasaannya sekarang?

“Tsukishima,” Kuroo memulai.

Lelaki yang masih menggenggam tangannya itu menoleh, memandangi Kuroo lekat-lekat. Menunggu kalimat yang akan diucapkan selanjutnya.

“Saat kau mabuk,”

“Jangan membahas itu.”

“Tidak, dengarkan dulu.”

Tsukishima kembali mengalihkan pandangannya. Ia kini sedang memandangi ubur-ubur yang berenang ke sana kemari.

“Tsukishima, lihat aku.”

Tsukishima kembali menatap Kuroo, “Apa?”

“Saat kau mabuk, kau bilang bahwa kau menyukaiku,” Kuroo memberi jeda, “Aku juga sama.”

Mendengar itu, Tsukishima mengerjapkan matanya. Ia tidak percaya dengan indra pendengarannya sekarang. Apa tadi katanya? Sama? Sama apa maksudnya? Menyukainya juga, atau sama dalam hal lain?

“Aku juga menyukaimu, Tsukishima.” Kuroo kembali menambahkan kalimatnya.

Kuroo masih menatap Tsukishima lekat-lekat, memandangi netra lelaki berkacamata itu. Mereka hanya saling menatap,  sampai akhirnya Kuroo menyeletuk, “Boleh aku menciummu?

Meskipun terkejut, Tsukishima mengangguk. Lelaki itu memejamkan mata, menunggu sensasi lembut yang mungkin akan menyentuh bibirnya. Tapi ternyata tidak ada. Kala itu, sensasi lembut itu tidak terasa pada bibirnya. Melainkan dahinya, lalu beralih ke kedua pipinya.

“Ayo makan,” kata Kuroo setelah.

Yah, seharusnya ajakan makan sangat kurang tepat untuk momen seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi? Apa yang bisa diharapkan dari seorang Kuroo yang masih sangat amat awam dengan cinta?

***

“Manusia yang kau katakan tempo hari, aku sudah menyelidikinya.” Kata Kageyama sembari membuang puntung rokok ke dalam asbak.

“Untuk apa kau menyeledikinya? Aku tidak memintamu untuk melakukan hal itu.”

Kageyama berdiri dari duduknya, “Asal kau tahu saja. Dia bukan manusia.”

Tsukishima menautkan alisnya, “Maksudmu?”

“Dia malaikat.” Katanya. Jelas.

Mencintai manusia saja merupakan hal terendah yang ia lakukan, tidak menyangka kalau ia bisa melakukannya lebih rendah lagi. Apa tadi katanya? Malaikat, yang benar saja? Hal itu bahkan sejuta kali lebih buruk dibandingkan dengan sebuah fakta bahwa ia jatuh cinta pada manusia.

“Kau jangan bergurau.” Tsukishima tidak percaya.

“Aku serius. Lagipula tidak ada untungnya kalau aku membohongimu.”

Pantas. Pantas saja Kuroo tidak memiliki aura kedengkian sama sekali. Pantas saja Kuroo memiliki jiwa yang sebening kristal. Pantas saja Kuroo memiliki aura berbedan dengan manusia lainnya. Jika ditelisik lebih dalam, sekarang semuanya masuk akal.

***

Setelah mendengar kabar dari Kageyama bahwa Kuroo adalah malaikat, Tsukishima mendapat pesan. Sebenarnya dibanding pesan, ini lebih mirip peringatan. Tsukishima dilarang keras untuk berhubungan dengan Kuroo lagi. Tsukishima bahkan dipaksa untuk kembali ke neraka sekarang juga.

Tsukishima telah melakukan pelanggaran berat, katanya. Meskipun Tsukishima menjalankan tugasnya sebagai demon, tapi ia telah melanggar dua hal. Mencintai malaikat, dan menjalin hubungan dengannya. Sebagai demon, seharusnya Tsukishima tidak boleh menjalin hubungan dengan siapa-siapa. Meskipun ia dan Kuroo belum secara resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, tapi keduanya sudah tahu saling tahu perasaan satu sama lain. Kuroo bahkan sudah menciumnya.

Pesan yang ia dapatkan membuat Tsukishima harus memilih antara dua pilihan. Namun dua-duanya tetap mendapat hukuman. Pilihan pertama, Tsukishima kembali ke neraka, menjalani hukuman ringan dan melanjutkan hidupnya sebagai demon. Pilihan kedua, Tsukishima boleh mengajak Kuroo untuk hidup menjadi demon juga. Mereka boleh hidup bersama, namun setelahnya, keduanya akan dihilangkan. Baik Tsukishima maupun Kuroo, akan dilupakan. Tidak akan ada yang tahu siapa itu Tsukishima, dan tidak akan ada yang tahu siapa itu Kuroo.

Kepala Tsukishima mau pecah rasanya. Dua-duanya sama-sama tidak menguntungkan. Pada akhirnya, ia harus melupakan Kuroo. Tsukishima tidak tahu apakah Kuroo sudah paham mengenai hal ini. Tsukishima tidak tahu apakah Kuroo menyadari bahwa dirinya adalah demon. Tsukishima tidak tahu.

Lelaki itu bingung bukan main. Jujur saja, Kuroo berhasil membuanya merasakan sebuah ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Dan Tsukishima ingin itu lebih lama. Ia tidak apa jika pada akhirnya dilupakan, karena menurutnya kehidupan menjadi demon juga tidak ada istimewanya.

Namun, bagaimana dengan Kuroo? Apakah lelaki itu mau menghilangkan jati dirinya? Membuat dirinya berubah menjadi demon? Tsukishima tidak yakin. Kuroo adalah malaikat, ia pasti akan terus berusaha, bagaimanapun caranya, untuk tetap menjadi malaikat. Yah, pada dasarnya sifat demon dan malaikat sangat berbeda.

Sepertinya Tsukishima harus membicarakan hal ini dengan Kuroo.

***

Padahal baru dua hari lalu Kuroo merasakan kebahagaiaan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. Baru dua hari lalu ia berjalan-jalan dengan Tsukishima, memandangi aquarium besar yang di dalamnya berisi ikan-ikan. Baru dua hari lalu ia bertukar tawa dengan Tsukishima ditemani oleh sushi yang mengisi perutnya.

Baru dua hari lalu. Namun sekarang ia harus mendengar kabar tidak menyenangkan. Sangat amat tidak menyenangkan boleh dibilang. Tsukishima, lelaki berambut pirang itu, yang Kuroo kira adalah manusia, ternyata bukan manusia. Tsukishima adalah demon.

Apalagi yang lebih buruk dari itu?

Kuroo langsung terduduk lemas begitu mendengar kabar itu dari Bokuto.  Kepalanya langsung pusing, dadanya langsung sesak, dan tenaganya seolah disedot oleh angin. Bagaimana bisa, ia jatuh cinta dengan demon? Bagaimana bisa ia tidak menyadari hal itu?

“Kau harus memilih,” kata Bokuto.

Menerima fakta bahwa Tsukishima seorang demon saja sudah sulit. Lalu sekarang apa? ia harus memilih?

“Kau bisa menggadaikan jati dirimu dan berubah menjadi demon, lalu hidup sementara dengan Tsukishima,” Bokuto memberi jeda, “Atau, kau kembali menjadi malaikat dan melupakan Tsukishima.”

“Tapi, jika kau berubah menjadi demon, kau akan dihilangkan selamanya. Tidak bisa reinkarnasi lagi, dan akan dilupakan oleh semuanya. Termasuk aku.” Bokuto masih menjelaskan.

“Kalau kau kembali menjadi malaikat, kau akan tetap dihukum. Tapi kau masih bisa reinkarnasi, dan tidak akan dilupakan. Hukuman yang sama berlaku juga untuk Tsukishima.”

“Jadi, mana yang akan kau pilih?”

***

Tiga jam setelah Bokuto pergi, Kuroo mendapatkan pesan dari Tsukishima. Lelaki itu ingin beremu dengannya. Sekarang.

Kuroo paham betul. Tsukishima pasti ingin membahas hal ini. Lelaki berkacamata itu juga pasti sudah diberikan pilihan yang sama. Maka Kuroo langsung mengiyakan pesan Tsukishima. Kuroo mengijinkan Tsukishima untuk datang ke apartemennya.

Tidak butuh waktu lama bagi Tsukishima untuk sampai. Lelaki bersurai pirang itu langsung memeluk Kuroo, menumpahkan air matanya di sana. Ia tidak paham kenapa semuanya menjadi begitu rumit, padahal yang ia lakukan hanyalah jatuh cinta.

“Kau sudah tahu?” tanya Tsukishima dengan suara bergetar.

“Sudah.” Kuroo berusaha tenang, meskipun hatinya tercabik-cabik.

“Lalu apa?” tanya Tsukishima.

“Aku akan kembali, maka kau juga harus kembali.” Katanya, tegas.

Kalimat yang Kuroo katakan barusan sesuai dengan dugaan Tsukishima. Kuroo tidak mungkin menggadaikan jati dirinya sebagai malaikat dan berubah menjadi demon. Yah, Tsukishima sudah tahu itu. Tapi tetap saja, kalimat yang barusan Kuroo katakan berhasil memberikan hantaman pada dadanya.

Tsukishima langsung melepaskan pelukannya, “Baiklah. Aku akan kembali. Mungkin sebentar lagi aku sudah kembali.” Lelaki berkacamata itu menatap Kuroo lekat-lekat. Ia memandangi wajah Kuroo, berusaha sekuat tenaga untuk merekamnya, dan menyimpannya di memori otaknya. Ia tidak ingin melupakan lelaki itu. Ia ingin selalu merasakan ketenangan, meskipun itu hanya berasal dari memori otaknya.

“Bolehkah aku menciummu?” tanya Kuroo yang saat ini masih menatap Tsukishima. Lelaki bersurai pirang itu mengangguk, padahal seharusnya ia tidak boleh melakukan hal ini. Hukumannya akan makin berat jika begini caranya. Ah, tapi biarlah. Hanya kali ini saja. Begitu Tsukishima memejamkan matanya, Kuroo pelan-pelan menghilangkan jarak antara keduanya, dan pada akhirnya merasakan lembutnya bibir si surai pirang.

Kelembutan itu perlahan-lahan menghilang, yang tersisa hanyalah kekosongan. Kuroo sudah tidak bisa lagi merasakan tubuh Tsukishima di depannya. Yang ia rasakan hanyalah udara, tidak ada wujud apa pun. Kuroo tahu, bahwa tubuh itu sudah menghilang. Kembali ke tempat asalnya.

Kini Kuroo merasakan bahwa pipinya basah, padahal ia sedang berada di dalam ruangan. Lelaki itu tidak ingin membuka mata, meskipun ia tahu bahwa Tsukishima telah pergi. Ia tidak ingin melihat sebuah kenyataan pahit bahwa Tsukishima sudah betulan pergi. Sudah tidak bisa ia dekap, sudah tidak bisa ia ajak berbincang, dan sudah tidak bisa ia pandangi wajahnya.

Kuroo merasakan tusukan-tusukan di jantungnya, suatu hal yang tidak pernah ia rasakan selama ia menjadi malaikat. Kepalanya sakit, seolah ada batu kecil-kecil yang menjatuhinya. Sakit. Sakit. Sakit. Sakit yang berasal dari hatinya itu mulai merambat ke bagian tubuh lain, membuat Kuroo sempoyongan dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Berharap saat ia jatuh, Tsukishima melihatnya, menolongnya, dan membawanya ke sebuah tempat yang indah.

Tapi harapan hanyalah harapan. Tsukishima sudah pergi. Lelaki bersurai pirang itu sudah kembali ke asalnya. Sudah tidak ada lagi Tsukishima, dan sebentar lagi ia juga harus pergi. Kembali ke asalnya, kembali menghitung dosa-dosa para manusia.

“Kuroo?” panggil seseorang.

Kuroo langsung membuka mata. Berharap itu adalah Tsukishima. Tapi saat matanya terbuka, tidak ada siapa-siapa. Tidak ada Tsukishima, ataupun orang lain. Ah, ternyata suara tadi hanyalah imajinasinya.

Kuroo membiarkan dirinya terbaring di lantai apartemennya, membiarkan bulir bening terus mengaliri pipinya, entah sampai kapan. Mungkin sampai ia digeret paksa oleh Bokuto, untuk kembali ke tempat asalnya.

***

“Dasar menyebalkan.” Lelaki bersurai pirang itu melempar kertas pada lelaki bersurai hitam yang duduk di depannya.

“Hei, asal kau tahu saja, ya. Kau jauh lebih menyebalkan, cowok culun sok tahu.” Lelaki bersurai hitam itu balas melempar kertas.

“Tsukishima, Kuroo. Tenanglah, kita ini satu kelompok. Kapan tugasnya selesai kalau kalian ribut melulu?” Perempuan berambut pirang itu menghela napasnya. Kesenangannya satu kelompok dua orang pintar langsung menghilang terbawa angin. Ia pikir tugasnya akan makin mudah. Ternyata ia salah. Dua lelaki ini justru membuatnya kesulitan.