Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2017-10-16
Completed:
2017-11-18
Words:
5,275
Chapters:
3/3
Comments:
4
Kudos:
15
Hits:
443

Akuma to Tenshi

Notes:

Jadi ada yang request FF ini. Saat bingung mau bagaimana FF kali ini, kemudian aku mendapat ilham dari salah satu scene di animenya. Setelah aku nonton scene itu, jadilah pikiran bejad aku membuat FF ini :") langsung baca saja yaa...

btw, nanti di chapter depan bakal ada adegan anunya :")

Chapter Text

Nomura L dan Nomura R adalah sepasang saudara kembar yang memiliki darah keturunan yang berbeda.

Nomura R sebagai anak yang lahir lebih dulu memiliki darah keturunan sang ibu, yaitu Angel. Sedangkan Nomura L sang adik memiliki darah keturunan ayah, yaitu Demon. Orang tua mereka memang berbeda. Ayah mereka berasal dari bangsa Demon yang jatuh cinta pada seorang Angel dan memutuskan untuk menikah walaupun mereka harus dibuang ke Bumi setelah melakukan pernikahan terlarang itu.

Kehidupan Keluarga Nomura di Bumi tidaklah mudah. Kedua orang tua itu mendapatkan berbagai kesulitan selama mereka tinggal di Bumi. Hingga akhirnya mereka bertemu dengan Keluarga Kirihara yang bersedia membantu kehidupan Keluarga Nomura selama mereka tinggal di Bumi.

 

 

Tujuh belas tahun tahun hampir berlalu sejak kehidupan awal Keluarga Nomura di Bumi. L dan R kini tumbuh menjadi remaja laki-laki yang mampu mengikat perhatian orang-orang di sekitar mereka. L yang memiliki sifat mudah bergaul dan percaya diri membuat dirinya mampu mendapatkan teman dalam waktu yang singkat. Berbeda dengan R yang menarik perhatian karena perangainya yang lemah lembut namun bisa tegas, sangat baik kepada siapa saja dan tentu saja karena wajah R yang manis. Meski pun R dan L adalah saudara kembar dan memiliki wajah yang sama, L memiliki wajah dan aura yang lebih manly dari R. Sedangkan wajah R lebih didominasi dengan aura yang lembut dengan wajah yang dominan manis.

Atom Kirihara—putra satu-satunya—dari Keluarga Kirihara sudah mengetahui fakta bahwa sahabatnya yang tak lain adalah R dan L bukanlah manusia biasa, melainkan seorang Angel dan Demon. Meski pun begitu, Atom tetap bersedia bermain bersama R dan L tanpa membocorkan rahasia mereka.

"Ne, ne, L!" seru Atom tiba-tiba ketika mereka berdua berada di kamar L untuk belajar bersama. R tidak bersama mereka karena membantu ibu R untuk berbelanja di swalayan terdekat.

"Hm?" tanya L berdehem tanpa menoleh pada Atom.

"Kau seorang Demon, kan?" tanya Atom. L hanya mengangguk-angguk sebagai jawaban. "Kau juga pernah bilang jika makhluk seperti kalian akan mengetahui siapa mate atau belahan jiwa kalian. Apa kau sudah menemukannya?" tanya Atom kemudian.

L meletakkan pensil yang sebelumnya ia gunakan untuk menulis, kemudian beralih menatap Atom. "Kenapa kau ingin tahu?" tanya L.

Atom mengangkat bahunya. "Hanya penasaran," balas Atom.

"Aku tak bisa menemukan atau tahu siapa mate-ku jika belum berumur tujuh belas tahun," jawab L.

"Bukankah, tidak lama lagi kalian akan berumur tujuh belas tahun?" tanya Atom.

"Kami tinggal di Bumi sejak kami lahir. Aku tak yakin jika hukum tentang mate atau belahan jiwa itu masih berlaku atau tidak jika kami terlalu lama tinggal di Bumi," jawab L.

Atom mengangguk-angguk. "Ne, ne... jikalau itu masih bisa terjadi. Kau ingin mate yang seperti apa?" tanya Atom ingin tahu.

"Aku tidak memiliki kriteria khusus. Pasangan mate sudah digariskan sejak kami masih dalam kandungan oleh para Dewa. Aku tak bisa menolaknya meski pun mate-ku itu bukan tipeku," jelas L.

"Hooo... jadi begitu!?" tukas Atom mengangguk-angguk.

"Kenapa Atom-kun tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya L.

"Hanya penasaran. Bisakah seorang Demon sepertimu mendapatkan mate seorang Angel?" tanya Atom lagi.

"Aku tidak tahu," jawab L.

"L, Atom-kun!" suara panggilan halus dan terdengar merdu itu mengalihkan perhatian dua entitas yang masih berada di kamar. Tak lama kemudian pintu kamar L terbuka dan menampilkan R yang berjalan masuk ke dalam kamar dengan sebuah nampan berisi camilan dan minuman.

"Kau sudah pulang, R," ucap L. R mengangguk setelah meletakkan nampan itu di atas meja bundar tempat L dan Atom belajar.

"Humm! Kaa-san memintaku membawakn camilan dan minuman untuk kalian berdua," jawab R.

"Wahhh... terima kasih camilan dan minumannya, R!" seru Atom yang langsung menyambar camilan yang tersedia dan memakannya.

R hanya tersenyum kecil ketika melihat Atom yang makan cemilan dan berceceran mengotori sekitar mulutnya. Mirip sekali seperti anak kecil.

L melirik R yang tersenyum manis. Sekilas iris matanya berubah menjadi merah semerah darah sebelum kembali normal seperti warna semula.

"L, ada apa?" tanya R yang melihat adik kembarnya hanya diam.

L menggeleng. "Tidak apa-apa," balas L.

R kembali tersenyum. "Kalau begitu ayo dimakan camilannya. Sebelum Atom-kun menghabiskan semuanya!" tukas R memberikan camilan kepada L. L mengangguk, tersenyum kecil ketika menerima uluran camilan dari saudara kembarnya.

 

 

⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐

 

 

Malam harinya, ketika L sedang bersantai dengan membaca komik di atas ranjangnya, suara ketukan pintu kamarnya membuat L mendongak. Tak lama kemudian pintu kamar terbuka dan menampilkan R yang berjalan memasuki kamar L.

"L," panggil R.

L masih menatap R. "Hm? Ada apa?" tanya L kemudian.

"Anoo... L belum tidur?" tanya R kemudian.

"Ini masih jam delapan, R. Ada apa?" tanya L kemudian meletakkan komiknya di atas kasur. Perhatiannya kini tertuju pada saudara kembarnya yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya. "Masuklah!" suruh L kemudian.

Dari posisinya, L bisa melihat R menggigit bagian bawah bibirnya pelan. L menelan ludah susah payah. Melihat R yang melakukan hal itu membuat L tergoda, entah kenapa pikirannya mulai kacau sejak mereka mulai tumbuh menjadi remaja. L mulai melihat R bukan sekedar sebagai saudara kembarnya, namun lebih dari itu.

Dan ketika melihat R menggigit bibir bawahnya tadi, L berpikir jika R sedang menggodanya.

"R?" tanya L yang melihat R sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.

R sedikit terkejut dengan suara L, kemudian dengan cepat menutup pintu kamar L sebelum berjalan mendekati L yang duduk di ranjang.

"Kenapa?" tanya L ketika R saat ini sudah duduk berhadapan dengannya.

"L... apakah mengenai mate itu—benar-benar akan terjadi pada kita?" tanya R.

L mengernyit. "Tadi siang Atom-kun yang bertanya seperti itu, sekarang kau. Sebenarnya kenapa kalian bertanya seperti itu secara tiba-tiba? Sebelumnya kita tak pernah membahas mengenai ini," ucap L.

R melebarkan kelopak matanya. "Tidak! Tidak! Bukan apa-apa! Aku hanya penasaran!" seru R.

L menghembuskan napas pelan. "Aku tidak tahu pastinya. Kau bisa tanyakan hal itu pada kaa-san atau tou-san," ucap L kembali mengambil komik yang ia sempat lupakan dan membacanya lagi.

"L... bagaimana jika aku menyukai orang lain yang bukan mate-ku?" tanya R yang membuat L terdiam menegang. "Aku tidak tahu seperti apa atau bagaimana cara mengenali mate-ku. Tapi saat ini aku sedang menyukai seseorang."

L sedikit meremas komik yang berada di tangannya. R tidak sadar jika L merasa terbakar dan marah ketika mendengar cerita R.

"Siapa?"

"Huh?" tanya R menoleh menatap L yang masih menunduk membaca komiknya.

"Siapa?" ulang L lagi.

"Ohh... ehehe," R tertawa canggung setelahnya. Ia tidak yakin untuk menceritakan siapa yang sedang ia suka pada saat ini. "Itu—"

"Katakan!" tukas L kemudian.

"Ehhh? Tapi, kan—"

"Aku hanya ingin tahu siapa orang yang berhasil mengambil hati kakakku!" tukas L memotong ucapan R.

R terdiam selama beberapa saat. "L, tidak akan marah, kan?" tanya R memastikan.

"Katakan saja siapa!" tukas L.

R menggigit bagian dalam pipinya gugup. Ia bermain-main dengan jemarinya tanda jika ia benar-benar gugup. "Ak-aku menyukai—A-Atom-kun..." bisik R kemudian.

L menegang. Emosi dan rasa cemburu sudah menguasai hatinya secara tiba-tiba.

"Oh!" respon L. "Keluar!" tukas L kemudian.

"Ehh? L?" tanya R bingung. "Ada apa?" tanya R.

"Keluar, R!" suruh L lagi.

"Tapi, L—"

"Keluar sekarang, R!" seru L mendongak. R terperanjat kaget ketika kedua iris mata L sudah berubah warna menjadi semerah darah.

"L—L..." bisik R gugup.

L menatap R tajam. Tidak peduli jika kakak kembarnya itu menggigil ketakutan. R perlahan bangkit dari ranjang L, ia berjalan mundur sebelum akhirnya berlari keluar dari kamar L.

L menatap tajam kepergian R dari kamarnya. Bahkan emosinya semakin memuncak ketika perkataan R yang menyukai Atom terngiang di kepalanya.

"ARRGGHH!" teriak L membuang komik dari tangannya hingga menghantam pintu kamar. "Fuck it!" maki L mengacak-acak rambutnya.

Di dalam kamar R. R memeluk kedua lututnya, ia terisak pelan. L tidak menyadari, jika warna iris mata L telah membuat R sangat ketakutan.

 

 

⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐

 

 

Sejak kejadian malam itu, R selalu menghindar dari L. L yang menyadari jika R mulai menghindar darinya pun tidak berkomentar apa-apa. Meski hatinya terasa sakit ketika R menghindarinya, namun ia juga sadar jika malam itu ia benar-benar membuat R takut. Bahkan di sekolah pun mereka saling menghindar.

"L-kun!" panggil salah satu teman sekelas L.

"Yo, Yoru!" sapa L malas-malasan.

Yoru Nagatsuki—teman sekelas yang cukup dekat dengan R dan memiliki sifat yang hampir mirip dengan R. Dalam artian Yoru juga bersifat sangat baik dan lembut kepada orang-orang yang ia sayangi. Mirip seperti R.

"Di mana You? Aku tidak melihat anak itu mengekorimu," ucap L. Yoru tertawa canggung sebelum duduk di depan L.

"You sedang bersama Rui dan Iku, You bilang ingin membantu mereka berdua mengerjakan tugas," jawab Yoru.

"Hmm... tidak heran mereka meminta bantuan You. You cukup pintar dalam bidang akademik," ucap L.

Yoru mengangguk setuju. "L, aku juga tidak melihat R bersamamu. Di mana R?" tanya Yoru kemudian.

"Entahlah. Bersama Atom mungkin," jawab L malas.

"Atom-kun? Murid kelas sebelah?" tanya Yoru. L mengangguk tanpa minat. Yoru mengernyit. "Kalian berdua mempunyai masalah?" tanya Yoru.

L tidak menjawab pada awalnya, namun kemudian mengangguk. "Hanya masalah kecil," ucap L.

Yoru mengernyit. "Jika L-kun mempunyai masalah dengan R-kun sebaiknya cepat-cepat diselesaikan. Masalah kecil bisa berubah menjadi besar loh," nasehat Yoru.

L mendengus. "Ya, ya, Mom... kau sudah mirip seperti ibuku saja , Yoru!" tukas L.

"L-kun, aku tidak seperti itu!" sangkal Yoru.

L tertawa kecil. "Terserah apa katamu saja, Yoru," ucap L kemudian.

"Tapi aku benar-benar ingin L-kun dan R-kun berbaikan. Kelas ini terasa aneh ketika tidak melihat kalian bersama," ucap Yoru menatap L serius.

L tersenyum samar. Ia terdiam. Yoru mungkin benar, ia pun merasakannya. Dirinya juga merasa aneh ketika tidak mendapati R berada di sampingnya.

Mungkin L harus memperbaiki hubungannya dengan R dan meminta maaf mungkin karena sudah menakuti R.

 

 

⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐

 

 

—tbc—